Namaku Higashida Takashi. Di liburan musim panas kali ini, teman masa kecilku yang bernama Souma Akari, mendadak memaksaku untuk pergi bersamanya ke "Gunung Shirokobe" demi mendalami legenda kota kami, yaitu "Kubinashi-sama". Akan tetapi... Ada organisasi rahasia "Kelompok Topeng Merah" yang beraksi diam-diam di kota. Ada juga rumor tentang harta terpendam yang ada di gunung Shirokobe. Lalu, ada penguin juga... Semuanya itu saling terjalin menjadi satu dan bergerak menuju akhir yang tidak terduga.
Benar-benar sebuah cerita musim panas yang aneh...
Ada suatu masa, mungkin sekitar 10 tahunan lalu, ketika Elex menerjemahkan dan menerbitkan light novel. Barangkali ada yang ingat?
Saat itu saya cuma sempat baca yang judulnya Stratos 4, lalu menyesal karena kayaknya Gun Princess juga menarik (tapi gak 1 buku tamat, Stratos 4 itu 1 buku tamat).
Hnaah, suatu ketika bermula dari obrolan di topik salah satu grup yang saya ikuti, ada yang menanyakan buku ini (biasa, tipe kebetulan liat di toko buku).
Saya sempat ragu2:
1. Satu buku tamat gak ya? Lemari penuh nih beli novelnya bersekuel semua.
2. Penerbitnya baru denger sekarang ... Agak ragu ama kualitasnya ...
3. ... Ini beneran light novel diterjemahin kan? Bukan fiksi-fantasi lokal "sok-light-novel-Jejepangan" kan? (maaf, no offense, tapi saya agak gimana kalo fiksi-fantasi lokal jatuhnya Jejepangan kurang dapet ke-Jepang-annya)
Ternyata ini 100% light novel terjemahan, jadi akhirnya saya beli.
Di awal, saya sempat krik2 mendapati SFX aja dituliskan di dalam cerita. Dan itu SFXnya juga bukan sesuatu yg beneran kedengeran (kasih tahu saya kalo ada yg pernah menjadi saksi hidup bahwa mengacungkan jempol itu SFXnya adalah "gyut"). Udah gitu penempatannya diapit tanda bintang, yang mana buat saya jadi terasa aneh.
Tapi ya udah, lanjut lagi.
Tengah jalan ...
... cara nulisnya ganti format dong jadi karya ilmiah telaah cerita rakyat setempat. :O
Lalu ...
... cara nulisnya ganti format juga dong jadi ala naskah drama pake karakter+titik dua+ucapan.
Itu jujur saja mengejutkan untuk saya. Memang pernah ada teman saya yang biasanya baca light novel mengatakan bahwa light novel itu dibilang "light" memang karena ada faktor format penulisan yang kadang nyleneh (dia menyebutkan ttg satu halaman hitam semua selain satu kata doang di tengahnya), selain mayoritas ukurannya juga "light" (ini tidak sepenuhnya benar, saya pernah dikasih liat light novel tapi ukurannya segede buku telepon), tapi saya sama sekali tidak sampai kepikiran untuk ganti format penulisan seperti di Summer Penguin ini.
Berita bagusnya, perubahan format itu, terutama yang mendadak karya ilmiah, sangat relevan dengan ceritanya yang berkisar di cerita rakyat setempat dan ... seekor penguin.
Di akhir cerita, saya benar-benar terkesima mendapati bahwa cerita rakyat, yang seolah-olah cuma cerita rakyat begitu aja dan jadi bahan iseng teman si protagonis yang gak tau mau ngapain selama libur musim panas, ternyata berkaitan sangat erat dengan semua hal lain yang disebutkan di blurb di kover belakang.
Saya kayaknya suka banget tipe cerita yang menguak kebenaran suatu legenda atau cerita turun temurun di daerah setempat, terutama yang rada mistis2 berkaitan ama ritual tertentu di daerah tertentu.
Memang bagi beberapa orang, apa yang dimunculkan dalam cerita terlalu absurd dan terlalu random.
(Novel ini termasuk genre fiksi-fantasi, tapi tolong jangan inget2 HarPot apalagi LoTR kalo kita lagi ngomongin fiksi-fantasi dan hendak membaca buku ini, tidak, Mortal Instruments juga nggak, it's a whole different level)
Tapi, sama seperti saya akhirnya menolerir acungan jempol dikasih SFX, segala kerandoman dan keabsurdan itu menghasilkan cerita yang oke.
Oke banget malah buat saya.
Mudah2an penerbitnya tidak bangkrut dan masih bisa menerjemahkan light novel lainnya.
This is one strange and funny story. The format is unique; each chapter provides a different point of view (like the movie Vantage Point). The story is fun to follow, but I don't really care about any of the characters.
Pertama kali membeli ini dengan niat mendukung kemajuan light novel di Indonesia. Dan memang, cara penyajian novel ini lumayan.... light. Ceritanya sebenarnya tipikal anime/ manga santai dengan tokoh utama cewek yang periang dan serba ingin tahu, dan seorang cowok yang... berusaha meredam keriangan dan rasa ingin tahu si cewek. Dipadu dengan urban legend daerah setempat, pinguin, kelompok teroris aneh, dan setting waktu yang maju mundur dari berbagai sudut pandang. Jadilah light novel yang cukup santai dinikmati, dengan plot, karakterisasi, dan misteri yang terjaga rapi.
Satu yang mungkin patut diacungi jempol *gyut* adalah kemampuan penulis menulis dengan berbagai gaya yang berbeda. Mulai dari gaya novel populer, penulisan ala nonfiksi, buku diari, hingga penulisan ala dialog skenario drama. Biasanya penulis yang sudah terbiasa menulis dengan satu gaya akan kagok ketika menulis dengan gaya yang lain, tapi di sini semua gaya penulisan itu terasa tertulis dengan rapi.
Dan seperti light novel pada umumnya, novel ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang lumayan enak dipandang. Tentunya dengan gaya ala manga juga. Aku suka dengan ilustrasi2 di buku ini, tidak terlalu banyak dengan pose2 yang pas di tiap adegannya. Yang paling pas tentunya adalah ilustrasi terakhir, dan pose si profesor sedang tertawa. *walau mungkin itu gara2 dia kebanyakan makan sup garam.
Ah, hampir lupa, aku juga suka dengan cara penulis menghubungkan antara satu sudut pandang dengan yang lain. Sederhana, tapi bisa membuat kita bergumam "Oh, yang ini itu yang diambil sama tokoh lain di situ." Little touch that I like.
Novel yang aneh, begitu yang ada di pikiran saya sejak pertama membaca. Pikiran itu nggak hilang-hilang juga bahkan ketika sudah mencapai setengah lebih. Betapapun saya tahu bahwa gaya literatur Asia Timur memang beda dengan literatur Indonesia dan Barat yang sudah lebih akrab dengan saya, tetap saja rasanya sulit untuk terbiasa.
Anyway, waktu udah nyampe belakang-belakang, saya mulai berusaha mengubah mindset: "Novel ini bukan aneh, melainkan unik."
Seaneh itukah? Haha. Memang aneh, tapi kreatif. "Aneh"-nya itu karena semua gaya penyampaian kayak ditumplekin ke sini, mulai dari penuturan ala novel biasa, diari, dialog ala skenario, penjelasan ala nonfiksi populer, pertarungan ala komik yang disampaikan secara naratif .... Semuanya ada di sini. Hampir tiap bab beda gaya penyampaian. Timeline-nya juga lompat-lompat, tapi hebatnya yang lompat-lompat itu bisa sinkron semua dengan gaya penyampaian yang beda-beda.
Awal-awal bacanya terasa membosankan, membingungkan, bertele-tele. Saya sempat nggak yakin tahan menyelesaikan sampai akhir atau tidak. Apalagi merasa ceritanya semakin lama semakin aneh. Tapi ya sayang juga kalo nggak diselesaikan, jadi saya berusaha bertahan.
Simpulan: novel ini lebih cocok jadi komik atau anime, meskipun saya pasti bakal semakin nggak suka melihat visualisasi Gugigi yang kesannya kok hebat dan kuat banget -__-
Lite Novel, seperti namanya novel ini memiliki ukuran yang kecil pas sebagai novel saku, dan cerita yang ringan. Lite Novel indentik dengan Novel terjemahan dari negeri sakura Jepang. Walau tidak telalu banyak Lite Novel yang beredar di Indonesia. Beberapa seperti Penguin Summer ini bisa anda temukan di toko buku. Penguin Summer karya Matsuduka Akira bercerita tentang dua remaja Akari dan Takashi yang ingin mengetahui kebenaran tentang legenda Kubinashi-sama yang beredar di desa mereka, pada akhirnya membuat mereka bertemu dengan seekor penguin (yang jelas desa mereka bukan habitat yang cocok untuk penguin). Sehingga mereka berjuang untuk melawan kelompok penjahat topeng merah yang mengamcam keselamatan desa mereka. Yup, aroma anime dan manga sudah terasa kuat di sini. Dialog tokoh begitu kental, hampir terasa seperti skrip skenario film, juga banyak istilah khas jepang yang dipertahankan oleh penerjemah, namun penerjemah menyediakan catatan kaki agar kita memahami apa yang ingin disampaikan. Alur cerita yang disajikan menarik, dan ending yang tidak terduga. Cerita dibawakan dengan sudut pandang yang beragam, mulai dari takashi, akari, bahkan rekaman suara, juga ada makalah tentang legenda kubinashi, menjadi nilai plus dari Penguin Summer. Secara keseluruhan Penguin Summer menjadi bacaan ringan yang menghibur, tak perlu mengeryitkan dahi untuk menbaca penguin summer.
Sebenernya udah baca ini dari lama, kira-kira 2013. Dikasih pinjem sama gebetan tanpa diminta xD
Penguin Summer ini termasuk jenis buku yg disebut Light Novel (di sampulnya tertulis Lyte Novel, entah mana yg benar ._.a) Light novel sendiri merupakan jenis novel ringan dari Jepang yang terdapat beberapa ilustrasi di dalamnya, namun tanpa disertai balon komik. LN ini biasanya adaptasi dari komik atau anime yg udah ada sebelumnya.
Terbitan LN di Indonesia sendiri cukup langka. Penguin Summer ini setahu saya LN pertama yg terbit di Indo, tapi awal 2015 kemarin udah ada 3 LN baru (https://japanesia.co.id/3-light-novel...)
Harganya emang cukup mahal kalo liat bentuk fisiknya yg mini. Tapi nggak apa lah buat nambah pengalaman baca :D
Bab pertama Penguin Summer menurut saya agak membingungkan dan chapter-chapter selanjutnya pun tetep nggak ngerti, sebenernya cerita ini mau dibawa kemana. Pas saya nanya sama si doi, katanya baca dulu aja semua sampe selesai. Abis itu baru komen.
Ternyata emang baru bisa ngerti secara utuh setelah baca sampe selesai -______-"
Untunglah saya hobi baca, untunglah LN ini punya dia #plaak xD Tapi ilustrasinya bagus banget kok. Kertasnya juga keliatan lebih eksklusif.
- Penuh "tabu" teknik menulis cerita. (seperti sfx, info dump, dan penjelasan yang memakai alur maju mundur). - Gara-gara itu, kepalaku sakit selama membaca sepertiga awal buku ini. - Para antagonisnya ... astaga.
Positif:
+ Analisa urban legend-nya menarik. + Misteri tetap terjaga sampai 3/5 cerita. + Gaya menulis yang tidak umum membuatku harus instropeksi diri sendiri untuk menulis review lain. + Twist yang oke. + Pinguin.
LN pertama yang aku baca, dan aku sukaa~ Awalnya tertarik liat ukuran sama covernya. Eh ini buku imut amat yak. Ternyata ini LN. Aku baru tau ada LN yang diterjemahin dan diterbitin di Indonesia. Setelah aku cari-cari infonya ini memang LN pertama yang diterbitin sama Shining Rose.
Ini LN keren loh, tiap chapter gaya nulisnya beda-beda. Salut *gyut*. Untuk bisa bener-bener memahami ceritanya mesti rada mikir dulu sih. Di situ serunya, kebenaran mulai terkuak sedikit demi sedikit dan itu bikin gereget!
Bagus! Pertama baca LN ini saya kira biasa saja dan standar sci-fi. Tapi setelah dbaca terus, hingga sampai pada bagan lumayan tengah baru penasaran itu muncul dan ga mau berhenti. Oke, endingnya beneran bikin "OH". Ini dia yang paling saya suka kalau baca manga/LN/anime Jepang, mereka pintar sekali membuat pemutarbalikan!
Ini Light Novel terjemahan pertama yang saya beli. Tiap chapternya, sudut pandang cerita berubah. Multi POV. Sayangnya ceritanya kurang greget untuk saya selesaikan. Tiap tokoh punya kontribusi sendiri-sendiri dengan si penguin, tidak ada 'sama-samanya'. Males jadinya~