BERAPA pun bobotnya, nyaris tak ada perjalanan dilakukan tanpa memikirkan bagasi dan muatannya. Perjalanan selalu tentang apa dibawa dan ditinggalkan.
Pulang-Pergi: Yang Dibawa dan Ditinggalkan adalah sehimpun kisah perjalanan Alexander Thian bersama muatannya. Muatan itu menyembunyikan rahasia tentang seorang anak laki-laki kurus yang harus meninggalkan kampung halamannya, Pontianak, sejak kepergian sang ayah. Sendirian, ia menghadapi ketidakadilan dunia dan trauma akibat kehilangan, ditinggalkan, serta ditelantarkan. Alex menyusuri dunia dengan memanggul amarah terpendam, kekecewaan terhadap keadaan, perasaan kecil dan tak berarti akibat perundungan, serta depresi karena kesepian.
Berlatar Pontianak, Malang, Bali, Belanda, Prancis, hingga Islandia, Alex membongkar muatannya satu per satu: memilih apa-apa yang akan terus dibawa hingga ke hari depan dan meninggalkan apa-apa yang memberatkan langkah di perjalanan.
Saya selalu percaya sebuah buku selalu hadir di saat yang tepat. Sama seperti buku ini. Walau sudah beli sejak PO pertama di bulan Mei, baru rasanya terpanggil membaca sekarang karena bisikkan hati yang terus menerus menyuruh membaca.
Dan memang benar, saya sedang perlu diingatkan kalau perjalanan semua orang itu berbeda-beda. Dan kita semua mempunya waktunya sendiri untuk meraih impian-impian yang kita mau. Dan walaupun perjalanannya mungkin lambat, impian itu pasti dapat diraih.
Sebagai memoir, buku ini juga sudah membantuku mengerti siapakah seorang Alexander Thian.
Saya baru pertama mengenal Alex di saat pandemi, melalui Festival Patjar Merah yang tiba-tiba harus dilakukan secara online. Saya tidak tahu siapa beliau di saat itu tapi menjadi tertarik karena mengetahui kalau 1) Alex suka Harry Potter, 2) Punya Tattoo Ghibli 1 lengan, 3) Suka travel - Dan tentu saja mengenal kalau Aleander Thian adalah seorang penulis.
Sejak saat itu saya menjadi followers dan merasa tertarik karena sebagai orang yang sudah sukses, dia selalu ramah dan rendah hati.
Pulang-Pergi adalah kesempatan pertamakalinya membaca tulisannya dan ternyata saya suka oleh bagaimana Alex merangkai dan memilih kata-kata untuk menggambarkan hidupnya. Mungkin buat saya itulah hal yang paling saya suka dari buku ini. Maklum, keindahan rangkaian kata selalu menjadi penentu bagaimana saya menilai sebuah buku. Ya karena dimataku, literasi adalah sebuah seni merangkai kata.
Ketika Alexander Thian alias aMrazing umumin dia mau nulis buku baru, aku nunggu banget POnya. Begitu buka PO, aku langsung beli dan sabar menunggu bukunya dikirim. Penantian terbayar dengan kisah yang menurutku diceritakan dengan indah. Buku ini adalah autobiografi dari Alex, dimulai dari masa kecil di Pontianak hingga bisa jalan-jalan ke luar negeri memenuhi impiannya. Jujur, cara Alex bercerita bisa bawa pembacanya merasakan yang dia rasakan dan membayangkan yang dia alami. Beberapa momen di buku bikin aku ingin menangis dan tertawa bersama Alex. Momen paling kena buat aku adalah proses Alex dan ibunya berekonsiliasi. Aku mempunyai masalah kurang lebih sama dengan Alex dan masih belum bisa ikhlas berekonsiliasi dengan ayah. Membaca buku ini, aku kembali memikirkan untuk mulai berekonsiliasi dengan papa, walau gak tahu kapan memulainya. Terima kasih untuk cerita indah ini. Senang banget bisa baca buku yang menyejukkan hati di cuaca yang mayan panas beberapa bulan terakhir ini.
Aku kenal Alexander Thian lewat tagar yang fenomenal itu, #LetMeTellYouAStory. Nggak inget kapan, tapi itu sudah beberapa tahun silam, jauh sebelum Covid laknat lahir (setidaknya, di Indonesia). Cerita-cerita yang dikemas dengan apik melalui takarir Instagram-nya itu... menyentuh dan ada pesan moral yang bisa didapatkan; kerap kali aku bisa beresonanasi dengan itu. Aku sampai membeli buku pertamanya kala itu, The Not-So Amazing Life-of @aMrazing hanya karena penasaran apa yang ditulis di buku pertamanya.
Tahun lalu, begitu aku mengetahui ada buku baru yang akan di-release, dan waktu itu bertepatan dengan sayembara mencari sukarelawan untuk membaca draft pertamanya, tanpa basa-basi aku langsung daftar. Entah alasan apa yang aku berikan (nggak inget lagi) supaya bisa lolos seleksi, ya pokoknya ikutan dulu. Alhasil nama saya terpampang di lembar ucapan terima kasih untuk 25 pembaca pertama.
Perlu diketahui, aku ini bukan penggemarnya, yang sampai rebutan eksis di tiap postingan Instagram-nya. Satu hal yang pasti, aku suka story-telling-nya, cara dia mengungkapkan sesuatu, entah itu kejadian baik maupun buruk, selalu bagus dan ngalir banget sampai kepada audiensnya. Begitu pula yang aku rasakan ketika membaca buku ini. Gaya bercerita yang disampaikan memang terkesan "sederhana", rasa-rasanya aku tidak (jarang) menemukan bahasan kiasan yang terlampau indah maupun latar belakang cerita yang super duper keren seperti buku yang aku baca pada umumnya. Justru banyak kerentanan, karena Alex benar-benar terbuka; ia menyelami pikiran pembacanya melalui bahasa-bahasa yang kita gunakan sehari-hari, layaknya lagi berkomunikasi dengan teman dan sahabat. Ini yang buat aku sebagai pembaca bisa mencoba untuk bersimpati, meskipun tidak mengalami hal yang sama, dan itu berhasil 'masuk' di relung hatiku. Memilukan.
Perjalanan hidup Alex yang disampaikan melalui buku ini, dari saat kecil sampai dewasa, tidak main-main. Butuh proses yang sangat panjang, sampai sudah melakukan afirmasi ke diri sendiri, "Okey, aku sudah siap. Ini saatnya aku untuk bercerita." Segala permasalahan yang terjadi yang menimpa Alex kecil, berbagai pengalaman pahit yang membentuk mental dia, konflik bersama keluarga dan sekitar, itulah yang membentuknya sampai saat ini. Pesan yang ia dapat selama rekonsiliasi konflik pun berhasil disalurkan. Itu yang menjadi kekuatan buku ini.
Catatan: biasanya aku suka menuliskan cuplikan dan sinopsis ketika review buku, tapi untuk yang satu ini yang kusampaikan reaksiku saja ya.
Buku ini berisi pengalaman hidup seorang aMrazing dari kecil hingga dewasa. Dari bitter memandang hidup sampai berani menghadapi, berdamai dan memaafkan. Ngga heran buku ini butuh waktu 4 tahun terselesaikan.
Dari mulai hantu papa, kasus di Malang, trauma di bab 4 (I'm so sorry you have to go through that damn *** ko 😭), petuah Mak Haji, rekonsiliasi Bali (sumpah ini kayak aku yang ngalamin sendiri 🥲), your dream to see The Queen of Lights (aku nangis hepi akhirnya kamu bisa koohh 😭), berani menghadapi trauma, mengunjungi kediaman Mama. Udah, pokoknya aku nangis terus sepanjang baca 🥲🤌🏻 Ada lucunya sih, apalagi kalo bukan karna kedodolan ko alex 😭👍🏻
Buku ini sampai penuh tab saking banyaknya quotes yang mengena.
"Salah satu hal yang paling menyedihkan adalah ketika wajah dan suara orang yang kita sayang dan sudah meninggal, hilang dari ingatan. Kita tak mampu mengingatnya sekeras apapun kita berusaha." - hlm 50
"Sebenarnya aku takut mati, atau terlalu mencintai hidup, atau malah terlalu pengecut untuk mengakhiri semua?" - hlm 128
"Lu itu kebanyakan mikirin masa depan, jadi lupa nikmatin hari ini." - hlm 133
"Ternyata ketika fokus ke perkembangan diri sendiri, kita tak lagi memusingkan apalagi dengki atas pencapaian orang lain." - hlm 141
"Kita tak bisa mengontrol reaksi orang-orang, kita hanya bisa mengontrol reaksi diri sendiri." - hlm 185
"Kapankah terakhir bertemu dengan seseorang dan mengobrol ngalur ngidul tanpa pretensi apa-apa?" - hlm 279
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sebuah buku yang mengingatkanku pada rasanya kehilangan untuk selama-lamanya.. yang rasanya seperti patah hati namun tak kunjung sembuh hingga 4 tahun berlalu..
Sebuah buku yang mengajarkan kita, memberikan inspirasi, untuk berdamai dengan diri sendiri, pantang menyerah dalam hidup.. dan terpenting.. “jangan compare dirimu dengan orang lain”. Sebuah hal yang tanpa kita sadari masih sering kita lakukan dan hal tersebut bisa membuat hidupmu tak bahagia dan berkekurangan.
Tanpa kita sadari kita seringkali kurang bersyukur atas pencapaian kita, atas hidup dan berkah karunia yang sudah Tuhan kasih ke kita.
Baca buku ini bisa membangkitkan semangat hidupmu untuk menggapai mimpi setelah semua permasalahan hidup yang kamu hadapi, kamu berhak berbahagia. Semua orang berhak bahagia dan meraih mimpinya.
Oh ya kalau ditanya, “nangis ga?”, nangis di rute-1 aja koq. Selebihnya tidak. Malah ikut happy atas segala yang terjadi. :)
Tapi aku rasa buku ini bagus untuk mendidik anak muda saat ini bahwa dibalik kesuksesan seseorang, ada kerja keras untuk meraihnya. Jadi mereka ga gampang menyerah dan hidup hanya mau enaknya. Padahal ada kerja keras dan perjuangan dibaliknya.
Setelah penantian 3 tahun sejak buku Zodiac, akhirnya Koh Alex merilis buku baru. Kalau di buku sebelumnya Koh Lexy menceritakan kisah hidupnya bagian komedinya, buku yang ini justru menceritakan sisi gelap kehidupan yang dialaminya. Menghadapi kehilangan, kesendirian, kesepian, amarah, kekecewaan, perundungan, hingga trauma yang sangat mendalam. Buku ini terasa lebih personal, berasa diajak untuk mengenal Koh Alex dengan lebih dalam. Turut merasakan dan membayangkan perasaan Koh Alex kala itu, sakit hati, sedih, kecewa, marah semua campur aduk jadi satu. Kalau untukku, bab tentang kegalauan di usia 20-an terasa sangat mengena di hati, berasa ditampar sekaligus diingatkan dan dipeluk dalam waktu bersamaan. Meski banyak menceritakan tentang sisi gelap kehidupan, cara bercerita Koh Alex masih sama, mengalir dan menyenangkan untuk dibaca seperti biasanya. Salah satu buku memoar yang paling banyak kutandai dengan penanda warna-warni, karena banyak kalimat yang relate dan bisa jadi pengingat 🤍
This book is not a typical self-development book filled with catchy quotes meant to jolt your mind awake. It’s also not a work of fiction with beautiful stories that only live in the realm of imagination.
Instead, this book allowed me to feel emotions I had never experienced before — not even when reading books packed with inspiring quotes or fairytale romances. The quotes inside may sound familiar, things we’ve probably heard, read, or even thought of at some point. But the way the author writes their stories — leading up to those quotes — gives the words a deeper weight. You don’t just read the quotes, you feel them.
Within its pages, you’ll find everything: deeply sad moments, silly ones, inspiring stories, happiness, and touching reflections. It truly feels like life itself — colorful and layered.
Among the many beautiful lines, one stood out to me the most: “Berpeganglah pada harapan itu walau putus asa akan selalu menyerang. Jangan lepaskan.”
Ada satu quote yang aku suka banget, "don't stop roaming the world, you are not meant to stay where you are for the rest of your life."
Aku salut sama Alex. Despite his hardships during his childhood, dia bisa bangkit waktu dia dewasa, bisa mewujudkan mimpinya, bisa memaafkan dirinya sendiri, bisa menghadapi traumanya, dan memilih berdamai. Hidup ini dinamis, dan ada beberapa pelajaran dari hidupnya Alex yang bisa aku terapkan ke hidupku juga.
Di awal2 menurutku terlalu banyak conversation halu antara Alex dan hantu mendiang papanya. Papanya udah meninggal tapi Alex merasa dia bisa ngobrol sama hantu Papanya. Aku lebih menikmati buku ini setelah setengah kebelakang hantu Papanya udah gak muncul lagi.
untuk buku 1 ini aku tidak bisa berkata apa-apa, wow banget untuk buku 1 ini aku kasih buku ini 5/5⭐, buku ini dalam bentuk essay, dan bagi yang membacanya siap-siap hati tersentuh banget astaga... aku ampe nangis berapa x selama membaca buku ini, silahkan mengatakan aku lebay tapi emank bener-bener isi dalam buku ini .... aku ga bisa berkata apa-apa lagi silahkan baca sendiri.
Kalo baca buku ini pasti lagu 'Breath' Ost dari film Dr. Cha terngiang-ngiang bener ga sh? ada yang sama ga hehehe...
My first finished book of 2024. Ringan tapi dalem, sempet bikin nangis di beberapa titik. Apalagi scene di pantai sama mamanya... I wept for 10 whole minutes because my brain went for a tour to many places at the time. My question is, andaikata mamanya ga pernah mengucap kata "maaf" apakah kak alex akan tetap bisa memaafkan dan berdamai dengan beliau? Karena menurutku sekuat itu impact dari kata-kata seperti 'maaf', 'tolong', dan 'terima kasih'. For someone who is currently struggling with acceptance, resentment, etc buku ini jadi pengingat untukku di beberapa bagiannya.
Tidak pernah meragukan kemampuan Alexander Thian sebagai seorang penutur cerita. Setiap bab walaupun terpaut jarak beberapa tahun tidak terasa ada jeda yang mengganjal, semuanya mengalir seperti kita bertumbuh bersama ceritanya.
Bintang lima untuk penulis yg berani menulis-dan berdamai- dengan trauma dan kejadian tidak menyenangkan yg pernah dialami. Seperti salah satu kalimat di halaman awal buku ini, "Semoga kita bisa merayakan hidup, langkah demi langkah dengan senyum di wajah".
tulisan tentang perjalanan hidup yang ditulis sangat menyenangkan dan menyentuh hati.
dari judulnya saya kira akan menjadi bacaan yang mellow sepanjang cerita, tapi surprisingly tidak. justru gaya cerita penulis membuat saya bisa menamatkan buku ini.
selain memang kisah hidup yang tidak biasa dan menarik sekali, tapi gaya penulisan nya fresh dan tetap memberikan kesan yang hangat untuk setiap pesan dari cerita.
as a mid twenties, this book is a 💎
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sebuah wishlist buku yg sudah lama aku nantikan ada di rak bukuku. Yg entah gimana caranya aku bisa dapat versi secondhandnya dengan tandatangan si penulis di halaman terdepan. I AM AMAZEDDD... selalu suka dengan gaya ceritanya Lexi dan selalu impressed dengan isi ceritanya yg selalu berbeda. dari rute pertama sampai ketigabelas, semuanya penuh petualangan dan punya daya tarik yg berbeda. lavv sekali pokoknya..
Aku tau amRazing dari social media sebelumnya, gak pernah tau kalo ko Alex pernah ngalamin hal-hal seperti ini, yang hidupnya pindah kesana-kemari tanpa orang tua dan saudara-saudara kandungnya. Udah ngikutin Ko Alex dari jaman masih di twitter (sekarang harus X ya ngomongnya?), sampai sekarang ngeliat Ko Alex lagi bangun dan design rumahnya sendiri, yang yaoloh megahnya. Membaca cerita yang ditulis Ko Alex, pasti ga mudah untuk Ko Alex menuangkan semua trauma nya dulu di masa kecil, terlihat sesuatu yang cukup pribadi untuk dituliskan ke umum. Makin kagum sama Ko Alex karena sudah bisa membuka cerita ini, karena sampai sekarang aku masih belum berani untuk ceritain hal-hal masa kecil yang bisa dibilang sekarang itu childhood trauma.
Sebagai anak rantau yang membaca buku ini di hari Natal, karena aku ga pulang ke rumah ke keluarga di hari raya ini, jadi bikin mellow. Tapi terimakasih Ko Alex udah menulis buku ini.
aku orang awam dan sebelumnya gak tau siapa mas alex. aku kira ini novel fiksi biasa, hahaha. ternyata isinya luar biasa, sangat memotivasi aku untuk jangan pernah takut bermimpi, karena mimpi itu gratis. juga buku ini mengingatkanku agar tidak perlu membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang hidupnya "keliatan" udah mapan di banding kita. inget kata mak haji "lu terlalu mikirin masa depan sampe lupa nikmatin hari ini".
This book is a gift from my best friend. When i told her how much i struggled lately, she said she's gonna buy me a book (that she has read) telling about the journey of forgiving. I really appreciated and feeling so grateful to her. This book give me some fresh perspective and warm story, but somehow... it didnt quite reach me. Maybe that because every condition of struggling is different. And it's not valid if i think "gue juga harusnya bisa kayak gitu lah. Dia aja bisa masa gue engga", because our path is different, and our mothers too. I love my mom, i really do. The question now is maybe I was the one whom myself cannot forgive all this time. Haha. Punch reality.
But, really. Thank you for sharing your journey, Koh Alex.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sudah cukup lama menjadi wish list, akhirnya kesampaian juga membaca buku karya Koh Alexander Thian, atau lebih sering disapa Koh Alex. Walaupun belum mampu untuk membeli buku ini, membaca buku ini dan meminjamnya dari Perpustakaan Jakarta, tetap tidak mengurangi kepuasan dalam membaca buku ini.
Buku ini banyak mengajarkan kita untuk tidak pernah lelah berusaha dan bermimpi, bersyukur akan segala hal yang terjadi, memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri. Sudah nggak perlu diragukan lagi kalau Koh Alex sudah mulai bercerita. Setiap bab dikemas dengan baik, walupun secara timeline kejadian tidak berdekatan. Paling mengena adalah ketika Koh Alex mampu untuk memaafkan dan berdamai dengan gejolak batin dalam dirinya, bahkan mampu untuk akhirnya menceritakan kisahnya melalui buku ini. Koh Alex juga mengingatkan kita melalui kisahnya ini untuk selalu bersyukur tanpa perlu membandingkan apa yang terjadi pada diri kita dengan orang lain.
Memang Koh Alex ini nggak pernah main-main kalau soal karya. Sembari membaca buku ini, koh Alex pun menyisipkan playlist lagu yang mengena dan sesuai banget sama suasana kisah dalam buku ini.
Sebuah harapan bagi pembaca buku ini dari Koh Alex, yang tertulis di halaman depan buku, "Membicarakan kehilangan dengan rasa sayang. Mengenang yang pergi tanpa rasa perih. Merayakan hidup, langkah demi langkah, dengan senyum di wajah". Selamat membaca.