Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sott'er Celo de Roma

Rate this book
Bertemu Rama di Roma. Ngobrol banyak sama dia, tentang masa depan, seni, dan arti hidup. Rasanya seperti ditampar bolak-balik. Ditemani indahnya bangunan-bangunan eksotis di Roma, melewati tapak-tapak jalan khas Italia. Perjalanan yang nggak bakal aku lupain seumur hidup.

Zetta.


Kukira dia bakalan asyik banget diajak jalan, daripada gue ngikutin rombongan tante-tante. Eh, tahunya manja banget, anak mami. Tapi tunggu, lama-lama anak ini bikin gue jadi mikir. Apa gue yang kelewat cuek? Liar, mungkin? Apa ini saatnya gue butuh seseorang yang melengkapi gue, ya? Haha, jadi ngarep.

Rama.

236 pages, Paperback

First published January 1, 2013

Loading...
Loading...

About the author

Donna Widjajanto

54 books3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (10%)
4 stars
19 (27%)
3 stars
23 (33%)
2 stars
19 (27%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 23 of 23 reviews
Profile Image for Uci .
623 reviews125 followers
June 7, 2013
Jujur, saya susah banget simpati sama Zetta. Walaupun ada penjelasan kenapa dia begitu tergantung sama orangtuanya dan ketakutan setengah mati waktu sadar dia terpisah dari mamanya, tetap saja saya mangkel. Ni cewek manja banget dan ngerepotin. Untung cakep, jadi Rama sabar-sabar aja ngadepin dia *jahat :D* Kirain Zetta bakal dapat pelajaran dari Mayka, sesama peserta tur yang juga seumuran dengannya, karena dari penggambaran kayaknya Mayka tipe mean girl gitu *pembaca yang sadis*, tapi ternyata karakter Mayka nggak dieksplor lebih jauh.

Di luar kisah kasih di sekolah eh di Roma antara Zetta yang manja dan Rama yang tampan menggoda ini, ada pesan-pesan lebih besar yang tampaknya ingin disampaikan penulis melalui novel ini. Hubungan anak dengan orangtua, kondisi bangsa Indonesia, juga kesadaran generasi muda untuk berbuat sesuatu bagi lingkungannya. Hubungan anak-orangtua yang dipaparkan di sini cukup menarik bagi saya. Apakah orangtua sebaiknya membebaskan atau memproteksi anak mereka? Di pihak anak, apakah sebaiknya manut terus atau memberontak-berontak sedikit guna menemukan jati diri?

Iya, ya, kenapa sebagai anak kita nggak bisa memilih untuk nurut sama orangtua kita? Apakah orangtua kita jahat sama kita? Nggak, kan... (hal. 123)

Nah, pesan-pesan besar ini juga yang membuat saya sempat skeptis. Apa mungkin anak-anak muda yang baru ketemu di tengah perjalanan liburan, tiba-tiba saling berbagi falsafah hidup dan kebijakan dunia? Terutama percakapan-percakapan Andi dengan Rama. Ya mungkin saja sih, kalau semuanya anak-anak baik kayak mereka, saya nggak tahu juga. Walaupun percakapannya berisi dan berbobot, tapi terasa nggak alami aja gitu. Untungnya, di tengah percakapan Andi berkomentar begini, "Maaf deh, Bro, gue jadi sok ceramah gini, hehehe. Lo jangan bete sama gue, ya." sehingga saya pun ikut nyengir, nggak jadi bete hahaha.

Level ngefans saya pada Rama juga agak drop waktu dia ternyata nggak tahu Medecins Sans Frontieres. Bro, katanya mau jadi wartawan Bro, katanya peduli sama keadaan dunia Bro...hiks hiks.

Selain cara bertutur Donna yang asyik, hal lain yang bikin saya betah membaca novel ini adalah penggambaran kota Roma yang sukses membuat saya mupeng kepingin berkunjung ke sana. Ditambah sketsa-sketsa cantik tempat-tempat yang dikunjungi Zetta dan Rama. Salut buat detail yang satu ini.
Profile Image for Christian.
Author 32 books840 followers
June 10, 2013
Sebelum membedah buku ini, bagaimana kalau kita mulai dengan yang 'manis'? Beginilah gue membayangkan tokoh Rama di novel ini. *nyengir babi*

Rama

Oke. Udah puas? Sip.

Back to review.


Membeli buku ini karena seperti familier dengan nama penulisnya *sok kenal*

Secara alur, gue nggak akan protes. Timeline-nya jelas, masuk akal, dan dipikirkan sekali oleh penulisnya. Tapi bagaimana dengan sisanya?

1. Gue menikmati membaca cerita dari bagian tokoh cowok (Rama). Meskipun beberapa kali gue merasa tokoh ini ketuaan daripada umur sebenarnya, sebagai orang yang punya teman yang mengaku punya 'old soul', pembenaran ini gue berlakukan untuk membiarkan perasaan nggak enak itu begitu saja. Tapi begitu pindah ke tokoh cewek, gue kok kurang simpatik ya. Semakin diselami, semakin sulit untuk menyukai tokoh ini.

2. Scene orangtuanya dan semua mbak-mbak, bapak-bapak yang ada di tur itu. YA TUHAN! Annoying banget. Kalo disuruh milih, mana yang mesti dikorbankan: adegan yang ada orangtuanya itu atau yang ada Zetta-nya,gue akan memilih Zetta. period!

3. Misi novel ini sebenarnya terletak di unsur coming of age-nya, membuat orangtua Zetta memberi putrinya itu kebebasan yang dia inginkan. Tapi entah kenapa, karena mesti membangun romantic ambience dengan tokoh cowok yang so-obvi adalah love interest Zetta, yang ini justru nggak kelihatan. Selain itu, menurut gue, berpisah dari orangtua saat liburan agaknya sulit dijadikan base untuk membicarakan isu ini dengan orangtua. Logisnya, ini di negara yang Zetta bahkan nggak ngerti bahasanya. Wajar dong kalodia sebaiknya bersama turnya terus? Ish!

4. Judul. Benar, bukan hak gue sebagai pembaca untuk mengomentari judul. Hanya saja, karena dalam bahasa Italia, gue sempat sulit mencari data buku ini di Goodreads karena bukunya ketinggalan di rumah. Susah sekali diingat! T.T

Profile Image for Ifnur Hikmah.
Author 5 books13 followers
July 23, 2013
Buku ini bercerita tentang Zetta yang ikut mamanya dan rombongan arisan si mama liburan ke Roma dan kota lain di Eropa. Namanya juga geng arisan ibu-ibu, tujuan utama mereka, ya, belanja. Karena keasyikan melihat keindahan Pantheon, Zetta enggak sengaja terpisah dari rombongan. Di saat dia sedang panik, dia bertemu Rama, cowok seumurannya yang juga ikut rombongan bersama tantenya. Berbeda dengan Zetta, Rama memang sengaja ingin jalan sendiri karena males barengan ibu-ibu itu.
Masalahnya, Zetta ini selalu bareng orangtuanya dan enggak pernah kemana-mana sendiri. Paniklah dia. Rama yang niatnya ingin jalan-jalan malah membantu Zetta menyusuri Piazza di Spagna karena yang dia tahu ibu-ibu itu ingin belanja. Tapi enggak ketemu, tuh. Akhirnya mereka mutusin untuk pulang ke hotel.
Di lain pihak, Bu Sisil, ibunya Zetta, akhirnya menyadari kalau anaknya hilang. Untung ada Bu Yasmin dan Pak Totok yang udah sahabatan lama dengan keluarga Bu Sisil yang menenangkannya. Mereka kembali ke Pantheon tapi enggak menemukan Zetta. Akhirnya mereka pulang ke hotel. Ketika bertemu Zetta di hotel—dengan semua kelebayan Bu Sisil yang bikin ngakak—terjadi kesalahpahaman antara Bu Sisil, Rama dan Tante Rita—tantenya Rama. Zetta pun ikut melawan mamanya dan kabur. Akhirnya Zetta menghabiskan hari itu dengan Rama. Juga besoknya. Malah, besoknya dia bertemu dua cowok Indonesia yang sedang backpacker keliling Eropa, Andi dan Arya.
Ceritanya simple? Memang. Tanpa konflik yang wah? Ember. Sederhana? Banget. Tapi seru. Ini, nih, yang ngebuktiin teori kalau ide sesederhana apa pun asalkan diolah dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang bagus.
I love this book. Baca buku ini feel-nya kayak nonton Before Sunrise. Ngomong ngalor ngidul, jalan enggak jelas mau ke mana, tapi nendang. I love that film, salah satu film tercerdas yang dari ngobrol bisa membangkitkan chemistry dan bikin kita mikir. Buku ini juga gitu. Gue suka chemistry Zetta dan Rama. Dari obrolan-obrolan itu mereka saling mengenal dan menumbuhkan percikan-percikan cinta. Tsahh….
Ada satu hal yang gue pengin tulis yaitu menulis cerita sederhana dan membangkitkan chemistry perlahan-lahan dari obrolan ngalor ngidul kayak gini. Donna sukses menuliskannya. Two thumbs up. Dan gaya menulisnya pun asyik. Ada Zetta dan Rama masing-masing PoV 1 dan PoV 3 menyoroti kerempongan ibu-ibu arisan ini. Karakter Zetta yang manja tapi sebenernya kuat dapet banget. Rama yang slengean, cuek, dan apa adanya juga berasa real banget. Dan, yang bikin ngakak, ya ibu-ibu rempong ini. Persis ibu-ibu sosialita banget, hihihi. Selain chemistry Rama dan Zetta, gue juga suka perubahan sikap bu Sisil dan hubungan ibu-anak di sini. Keren.
Kehadiran dua tokoh sampingan, Andi dan Arya, juga pas. Enggak maksa. Obrolan mereka juga seru. Gue suka dengan semangat youth movement yang diusung keempat remaja ini. Momennya pas juga, sih, kareena gue abis dateng ke acara sharing session bareng mas Safiq Pontoh yang ngomongin Youth Movement dan gue emang lagi concern aja sama isu yang kebetulan emang lagi hype ini. Obrolan mereka menyentil gitu, tapi enggak menggurui. Enggak hanya Rama yang mengangguk-angguk, tapi gue juga.
Dilihat dari judulnya, pasti ada unsur travelingnya dong. Ketika membaca cerita travel-love gini, gue dihinggapi kekhawatiran. Takut enggak akan berimbang. Pasti ada satu yang keteteran. Di novel ini gue rasa udah cukup pas porsinya. Karena memang tujuan awal mereka ke sana adalah liburan, jadi unsur travelingnya lebih berasa. Unsur cinta itu cuma bonus tapi gue suka hubungan sweet cute kayak gini. Pertemuan Rama-Zetta gue rasa cocok dengan definisi meet cute. Sebagai orang yang terobsesi meet cute, gue suka dengan adegan ini.
Dan bahasanya, remaja banget. Gue suka. No typo juga. Perfect. Cuma dua kali gue menghitung Donna kecele membahasakan Rama dengan aku karena seharusnya Rama dibahasakan dengan gue, but nevermind. Apalagi sekarang gue sedang nulis novel remaja juga, jadi gue belajar banyak dari novel ini.
Ketika gue baca identitas penulisnya, ternyata dia pernah ke Roma. No wonder berasa real dan detail gini. Oh ya, gue juga suka ilustrasi dan layoutnya. Keren.
Apa lagi ya? Oh ya, sedikit gangguan, nih, dalam keasyikan gue membaca. Ini kan terbagi atas beberapa PoV. Masalahnya enggak ada pembeda antara PoV Rama dan Zetta, juga Bu Sisil. Memang, sih, di awal bab dikasih ilustrasi clutch—nunjukin Zetta—kamera—nunjukin Rama—dan bulpen—nunjukin Bu Sisil. Tapi, ada beberapa bab yang di dalamnya ada subbab dengan PoV beda dan enggak ada penanda ini. Cuma di bab-bab akhir aja penandanya jelas banget. Sebenernya, sih, enggak masalah karena masing-masing tokoh punya ciri khas, tapi ada baiknya penandanya diberikan dengan jelas.
Karakter? I love all of them, especially Rama. Sayangnya Rama ini baru 20 tahun, masih kecil, bo haha. Kegamangan Rama soal masa depannya itu wajar, sih, buat seusia segitu. Dan benar banget kalau perjalanan itu membuka mata kita. Sekarang kita memang bisa jadi couch traveler, bisa kemana aja dengan diam di tempat, tapi menjejakkan kaki di luar comfort zone kita, tuh, penting banget. Bukan buat hura-hura dan senang-senang aja—unsur itu juga pasti ada, sih—tapi untuk membuka wawasan kita. Gue, sih, masih dalam tahap pengin aja jalan-jalan gini. Sama seperti Rama, tahap pertama dan paling utama, yaitu nabung, itu susah banget *curcol*. Novel ini cuma menceritakan kejadian selama dua hari, tapi padet banget, dan enggak lebay. Gue suka, deh, pokoknya.
Hal yang paling gue suka dari cerita ini adalah: obrolan ngalor ngidul mereka yang nendang dengan semangat youth movement.
I love it. Gue mau baca buku-buku Mbak Donna yang lainnya.
Profile Image for ASHa.
9 reviews
November 26, 2023
SERUUUUU!! Tapi ada ada beberapa kosa kata yang kurang sreg menurut ku, tapi tetep seru kok! Konfliknya ringan and I like it💓 bagian terseru tuh pas Rama dan zetta ketemu sama Andi dan Arya, lalu mereka keliling barenggg😍 seru banget! Sampe ga sadar aku udah baca sampe tamat
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Muhammad Ridwan.
193 reviews25 followers
August 6, 2013
Zetta, seorang gadis remaja tanggung yang belum pernah berpisah dari ibunya, tiba-tiba harus tersesat/terlepas dari ibunya di Roma. Kenapa bisa sampai di Roma? Karena Zetta harus menemani ibunya mengikuti tour belanja ibu-ibu arisan.
Nah, saat tertinggal itulah, Zetta bertemu Rama yang ternyata ikut rombongan tur yang sama dengannya. Rama sendiri memang sudah izin untuk berpisah dari rombongan dan memilih untuk berkeliling Roma sendirian. Karena Zetta ketakutan, ia pun mengikuti Rama.
Jeng! Jeng! Cerita pun dimulai... :/

Sott'er Celo De Roma. Judul yang sangat susah diingat. Entahlah, agak gak enak juga baca novel dengan pemilihan judul yang susah dibaca atau diingat. Tapi, bikin penasaran sih :D . Okelah, lagian ngapain aku mengomentari judulnya ya? :D

Desain sampulnya menarik. Ilustrasi di dalam novel pun bagus, hanya saja aku lebih suka foto asli daripada gambar gambar tempat wisata doang. Kurang afdol :D

Novel ini pakai POV 1 dan POV 3. POV 1 dari segi pandang Rama (gue) dan Zetta (aku). POV 3 untuk menceritakan adegan-adegan Bu Sisil (Ibu Zetta) dan kawan-kawan rempongnya. Jujur saja, walaupun total ada 3 POV, tapi gak bikin bingung buat dibaca kok :) . Hanya saja, jadi sedikit gak sinkron aja.

Alur cerita gak masalah, aku suka. Begitu pula nama-nama tokoh yang dipakai, it's no problem. Gak bikin susah buat baca. Latar pun diceritakan cukup detail walau membingungkan.

Sayangnya... gaya penceritaan Tante Donna seperti Ibu-Ibu. Gak cocok buat novel remaja seperti ini. Apalagi pas pakai POV 3. Duh!

Yang paling tidak aku suka adalah POV 1 tokoh Rama yang terlalu tidak menceritakan kalau dia cowok yang tipe pemberontak. Dia seperti remaja putri yang alay dan lebay. Bisa-bisanya dia tahu merk-merk tas dan sebagainya. Ckckck. Rama juga diceritakan lebih dewasa daripada Zetta. Tapi, aku menangkapnya kok malah Zetta yang kelewat lebih dewasa ya cara berpikirnya dibanding Rama yang labil.

Satu lagi, banyak banget 'pelajaran' yang bisa diambil dari dialog-dialog dalam novel ini. Yang parahnya, benar-benar membuat novel ini cocok bagi ibu-ibu. Bukan remaja. Why? Ceritanya lebih fokus ke cara mengasuh anak daripada kisah romantis Rama dan Zetta. Ckckckck...

Semoga novel Mbak Donna berikutnya khusus buat ibu-ibu, pasti bagus :)
Profile Image for Dian Putu.
232 reviews9 followers
June 3, 2013
RESENSI – COTT’ER CELO DE ROMA : Biarkan Aku Bebas!!!

Hidup akan lebih baik jika menggunakan kaki sendiri untuk melangkah, mata sendiri untuk melihat, dan hati sendiri untuk menentukan cintanya. Memang terkesan mudah untuk yang terbiasa menapaki sendiri hidupnya. Tapi, jika hidup yang harusnya bisa berdiri sendiri itu terlalu tak dipercaya, dan banyak tangan terlalu ikut campur menyangga hidupnya, apa yang akan terjadi?
Inilah yang dirasakan Zetta, seorang gadis yang tak pernah lepas dari pengawasan orang tuanya, membuatnya selalu takut sendiri dan terkesan tidak mandiri.
Cerita diawali dengan tragedi hilangnya Zetta di Phanteon. Untung dia bertemu Rama, salah satu anggota tour yang memang memutuskan untuk jalan sendiri tidak ikut rombongan tour yang lebih sibuk ke tempat-tempat belanja, karena tour ini memang bertujuan untuk shopping ala ibu-ibu arisan
Hilangnya Zetta bikin acara Shopping ibu-ibu jadi berantakan karena mama Zetta, Bu Sisil terlalu khawatir sama putrinya yang memang nggak pernah jauh darinya. Jadilah, Pak Totok dan Bu Jasmine mengorbankan acara belanja mereka dan menemani Bu Sisil mencari Zetta.
Karena nggak ketemu juga dengan Zetta, akhirnya mereka memutuskan kembali ke hotel, berharap mereka bertemu orang yang dicarinya.
Zetta yang bersama Rama tak bisa menikmati pemandangan Kota Roma yang exsotis, dan itu bikin Rama juga nggak bisa menikmatinya. Akhirnya, Rama menuruti permintaan Zetta untuk kembali ke hotel walaupun dengan setengah hati.
Sampai di hotel, Zetta berhasil bertemu dengan mamanya. Pertama bertemu, Bu Sisil bukannya menanyakan keadaan anaknya, malah memarahinya karena nggak mikirin mamanya yang cemas setengah mati. Dan, parahnya Bu Sisil juga memarahi Rama yang sebenarnya udah jadi penyelamat Zetta. Alhasil Bu Rita, Bibirnya Rama nggak terima keponakannya di tuduh ingin menculik Zetta.

Baca selengkapnya disini >> http://dianputu26.blogspot.com/2013/0...
Profile Image for Wardah.
965 reviews173 followers
February 20, 2014
Saya dapat novel ini sudah lama, dari Mba Donna yang ngadain giveaway.

Yah, awalnya begitu saya dapat, saya sudah pernah membaca, tapi tidak selesai karena novel ini terlalu... teenlit untuk saya. Belum lama ini, ketika saya sedang ingin membaca sesuatu yang ringan, saya akhirnya menamatkan novel ini. Akhirnya satu buku tidak lagi teranggurkan di rak buku saya. :"D

Novel ini bercerita tentang sesuatu yang simpel. Khas teenlit sebenarnya. Ringan. Gaya berceritanya lumayan menyenangkan, meski saya tidak suka ketika bagian "teen romance"-nya keluar, haha. Ketika Rama atau Zetta mulai galau itu rasanya, "aww, udah bukan zaman saya lagi nih kayak gini", yah kurang lebih gitu sih.

Cerita utama soal Zetta yang tidak biasa dilepas sama orang tua dan keluarganya itu juga, well, konflik remaja banget, buat saya. Intinya novel ini novel teenlit.

Tapi, sumpah, deskripsi Roma-nya detail. Kadang malah kayak bukan bagian dari menceritakan setting di novel ini begitu saya baca. Mungkin hanya perasaan saya? Well, Roma dalam novel ini terbayang. Tidak heran sih, Mbak Donna ternyata pernah tinggal di sana (jika saya tidak salah).

Selain itu, ada bagian yang bikin saya mikir. Iya, di novel teenlit ini ada bagian yang bikin saya mikir. Ketika Zetta sama Rama ketemu Andi dan Arya, lalu mereka mulai ngomongin sesuatu yang "berat". Yah, tidak berat-berat banget, tapi itu topiknya Indonesia. Ahhh... isinya tidak cuma perkara cinta, kegalauan remaja, dan khas novel teenlit lainnya.

Saya awalnya memberikan 2 bintang, akan tetapi untuk topik pembicaraan Arya dengan Zetta soal museum dan topik pembicaraan Rama dengan Andi soal pemuda dan masa depan Indonesia... saya berikan satu bintang tambahan. Topik pembicaraan mereka itu harusnay lebih sering dibicarakan, menurut saya.
76 reviews
January 24, 2015
Di bawah langit Roma kita bercerita...

Well, saya rasa ini pas banget sih untuk menggambarkan isi novel ini sendiri. Dan ya, cerita antara Zetta dan Rama di tengah indahnya kota Roma benar-benar menghipnotis saya dan membuat saya jatuh cinta.

Saya beli buku ini karena kepincut sama cover-nya, err sama blurb-nya juga sih sebenernya. Dan, saya beneran nggak nyesel udah beli novel ini (apalagi kebetulan saya belinya pake diskon hehehe). Kenapa? Karena novel ini 'saya banget'.

Jadi, novel ini nyeritain tentang Zetta dan Rama, dua orang muda yang kebetulan sama-sama ikut rombongan tur arisan ibu-ibu. Zetta dengan ibunya, Rama dengan tantenya. Pas itu, si Zettanya kayak ketinggalan rombongan gitu, trus dia ketemu Rama, dan setelah beberapa kejadian, akhirnya mereka pun mutusin buat jalan-jalan sendiri. Nah, seiring perjalanan itulah, perasaan diantara keduanya mulai tumbuh...

Ya, jadi begitu. Saya sih cukup menikmati jalan ceritanya. Apalagi dengan latarnya. WIHH, KEREN ABIS. Ditambah lagi ada beberapa sketsa kota Roma yang bertebaran di novel ini, bikin yang ngebayangin jadi makin senyam-senyum sendiri. Gaya bahasanya juga enak banget. Dan banyak momen yang sweet antara Rama dan Zetta. So lovely...

Intinya sih, saya suka banget. Nggak peduli kesannya si Zetta sama Rama ini kok cepet banget jatuh cintanya. Tapi ya sudahlah, namanya juga fiksi.

Pokoknya saya tetap suka. Pake banget. Dan saya mau kasih 5/5 buat novel yang udah bikin saya nambahin Roma ke dalam list tempat yang harus saya kunjungi sebelum mati.
Profile Image for ima.
102 reviews3 followers
April 15, 2015
Review:

Whoaa, dapet novel ini dari temen (thanks to @ainongg) hihi.

Sudah jelas kalau kedua tokoh utama di novel ini bertemu di Roma, tepatnya baru menyadari ketika di Pantheon, karena Zetta berpisah dari mamanya dan Rama memutuskan untuk berjalan-jalan seorang diri.
Akhirnya Rama pun membantu Zetta untuk mencari rombongan tur mereka. Mereka keliling Piazza di Spagna. Tetapi akhirnya mereka memutuskan untuk balik ke hotel.

Zetta, yang notabene nya tidak pernah berpisah dari orang tuanya, mendapatkan omelan dari mamanya. Sampai akhirnya kalimat itu pun meluncur dari bibir mamanya. Zetta merasa ia bisa mandiri, tetapi kenapa mamanya malah meragukan itu.

Dan keputusan Zetta sudah bulat, ia akan kembali mengelilingi Roma bersama Rama.


Yah, inti ceritanya begitu lah. Novelnya sendiri banyak sekali kutipan-kutipan bernada sindiran terhadap kehidupan. Lalu ada juga mengulik sejarah suatu tempat wisata yang mereka kunjungi.

Kesan pertamanya nih ini novel kiyuut banget, covernya cantik sekali. Bernuansa pastel, hehe. Awalnya aku engga tahu novel ini tuh apa, isinya kayak gimana. Karena enggak pernah menginginkan novel ini. Tapi, karena dikasih ya alhamdulillah, dibaca deh dan ceritanya enggak membosankan. Cukup mengasyikkan malah.

Aku pribadi sih, suka sama ceritanya. Tapi tetep ngerasa ada sesuatu yang kurang. Romansanya mungkin? Haha. Well, aku suka karakter Rama di sini, yang ngejaga Zetta banget.
Profile Image for Anastasia.
23 reviews
June 15, 2013
Covernya, menarik. Bikin aku langsung beli *kebiasaan* Plus nama pengarangnya yang familiar --> sok kenal , makanya mantepbuat beli nih buku. Alur? Oke. Konflik antara orang tua yang over protektif sama anak gadis satu-satunya, ditambah sama bumbu penyedap, si Rama. nggaktau kenapa pas baca buku ini, aku ngerasa penulisnya curcol tentang Roma deh. kayak jurnal harian gitu. kayak suasana di colosseum, piazza viona.. dll.
yang bikin rada illfeel nih ya, konflik internalnya sendiri. Zetta, kesan pertama nih anak kok manja banget. Bawaannya ngerepotin Rama. Untung Rama baik. Trus, bayangin aja ya. Tour Arisan ke Roma. Ada bapak-bapaknya -_- mikir apa. Rada nggak sreg.
Trus juga pas mereka berdua (Zetta dan Rama) ketemu sama Andi + Arya. Percakapan mereka terlalu 'berisi' buat novel kayak gini. Emang sih si Andi minta maaf gara-gara ceramah.. Tapi ini mau bikin novel remaja atau chicken soup? *plak*
Ceramah-ceramah disini emang bagus sih. kayak berbakti sama orang tua, masa depan... Keren lah. Tapi ya itu..
Kejanggalan lain, mamanya Zetta kenapa cepet banget maafin Zetta? Kok langsung nerima kalo Zetta jalan sama Rama? Kok malah ndukung Zetta dan Rama di depan papanya Zetta? ehm, biarkan saya sendiri yang menyimpan pertanyaanya... *nox
This entire review has been hidden because of spoilers.
122 reviews2 followers
May 19, 2015
baca buku ini mengingatkan aku sama sebuah buku berjudul Arigatou, Nippon. yang juga punya latar cerita di tur liburan ke luar negeri. di sott'er cello de roma ini, jelas setting tempatnya di Roma.


menarik. Zetta yang anak baik dan penurut yang nggak pernah jauh dari ibu atau bapaknya. hampir tersesat di patheon. untung aja ketemu sama Rama, teman satu turnya.

eh, pas balik ke hotel. mamanya malah ngamuk dan marah-marah sama semua orang. termasuk Rama, Tante Rita (tantenya Rama), juga si Zetta sendiri. nggak terima dibilang nggak mikirin orangtua. Zetta memutuskan untuk keliling Roma terpisah dari mamanya. yang ketiban sial, Rama, dengan enggan mau dikintilin Zetta. Jalan bareng Rama membuat pikiran Zetta semakin terbuka. begitu juga sebaliknya. di sana mereka juga ketemu dua backpacker dari indonesia, Arya dan Andi.



menyenangkan. ringan. meski beberapa tokoh kayak Mayka, Agus, nggak terlalu digali. jadi cuma sebagai kembangan saja.
Entah, di bayanganku, Rama ini terkesan alay ya.. padahal ekspektasiku tokoh utama cowok di buku ini rada ketus. haha.
kalau Zetta sih... aku juga males banget kalau jalan sama anak model gini. nggak mandiri, bla bla bla.. nggak asyik..
Profile Image for Erin  06.
25 reviews
May 15, 2013
Buku ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Zetta yang sangat disayang dan juga dikekang oleh kedua orang tuanya. Suatu ketika dia pergi ke Roma bersama mamanya dan teman-teman mamanya. Ketika ia berada di Patheon, Zetta yang tidak terbiasa sendiri terpisah dengan rombongan tur. Kebetulan saat itu ada seseorang yang ternyata juga ikut rombongan yang sama bernama Rama yang ternyata sengaja memisahkab diri dari rombongan. Bertolak belakang dengan Zetta, Rama sangat bebas.

Hilangnya Zetta dari rombongan memicu pertengkaran antara Zetta dan mamanya. Mamanya belum dapat melepaskan Zetta, sedangkan Zetta berusaha untuk belajar mandiri. Zetta pun mengikuti Rama yang memisahkan diri dari rombongan tur dan berdua, mereka berpetualang mengelilingi Roma.
Profile Image for Monica Riska Riana Dewi.
26 reviews1 follower
August 3, 2013
Pertama kali tertarik buku ini karena judulnya ya, saya suka Roma, dan judul ini terdapat di lagu Dean Martin, On an Evening in Roma "Sott'er cielo di Roma.."

Ceritanya ringan, ABG banget dari bahasa yg digunakan dan jalan ceritanya juga. Tp satu pertanyaan saya, ini latar waktu ceritanya kapan ya? Sebab dengan gambaran Zetta dan Rama yg anak kelas ekonomi atas, akrab dgn smartphone yg berarti generasi 2010-an, sepertinya mereka harusnya bukan tipe yg sering menyebut kawan seusianya dgn "Jek" atau "Bro", hehehe.. Tapi di samping itu semua, saya suka penggambaran landmark kota Roma yg bervariasi dari Forum Romanum, Pantheon, Spanish Steps, sampai Fontana di Trevi.
Saya sendiri sambil membayangkan betapa indah nyasar si Roma, smoga bisa kesampean kayak Zetta deh. :)
Profile Image for Ayu Fitri.
Author 8 books13 followers
January 29, 2015
Aku kasih 3.5 bintang.
Ih, seru banget deh perjalanannya Rama dan Zetta keliling Roma :D

Novel ini dilabeli novel remaja, tapi obrolan dan konflik karakter-karakternya kok menurutku dewasa banget ya?
Udah mikirin kehidupan aja gitu, beh..
Seharusnya para remaja zaman sekarang emang harus mulai mikirin kehidupan kali ya?
Biar nggak jadi remaja alay yang sering galau nggak penting.
Biar generasi muda Indonesia tuh sedikit lebih bermutu gitu :p

Cerita di novel ini seru banget!
Temanya bagus, aku suka banget.
Temanya juga gampang di-relate ke kehidupan nyata.
Dan aku suka gaya penulisan mbak Donna.
Menurutku mbak Donna keren banget bisa nempatin diri sebagai anak sekaligus orang tua di novel ini.
Porsinya pas, nggak cenderung membela salah satu pihak.
Keren!
Profile Image for Alifiana Nufi.
Author 5 books16 followers
January 29, 2015
hihihi..akhirnya selesai juga..baca novel ini sering mandeg karena teralih novel lain yang lebih asik..tp bukan berarti novel ini gak asik ya..novel ini asik kok (dari td saya nyebutnya 'novel ini' soalnya nulis judulnya susah hihihi)
cuma kadang agak ngebosenin di tengah..bayangan saya, si Rama, Arya, Andi ni lebih tua dr umurnya..soalnya kadang bijak banget kalo ngomongin soal kehidupan..soal Zetta, saya suka namanya hihihi..kadang senyum sendiri ngerasa pernah ngalamin yang dirasain Zetta, tp gak separah itu sih..satu lagi, kirain Mayka bakal jadi saingan Zetta, atau Arya bakal jadi saingan Rama, taunya sepintas lalu aja..ya udah, good job mba Donna :)
Profile Image for Putri Ananta.
Author 1 book12 followers
June 17, 2015
Aku demen banget sama tokoh Rama yang di pikiranku ganteng, cool, dan jengkelin. Waktu baca ini bener-bener terpesona berat sama Rama dan aku bela-belain baca novel ini demi Rama, meskipun aku jengkel sama Zetta yang rewel banget.
Aku suka banget dengan bagian jalan-jalan mereka berdua, sederhana dan bikin ngiri -___-
Sayangnya, maksud novel ini lebih ke penjelasan bagaimana cara mengasuh anak yang baik dan terkesan kaya novel untuk ibu-ibu.
Tapi, ini udah keren kok! :D

Profile Image for Camila Nadia.
10 reviews
May 11, 2013
a really fun to read page turner. Membuat ingin pergi ke Roma, lebih lagi kalau bisa sama-sama cowok kece seperti Rama. :p sayang karakter Mayka nggak di eksplor lebih. she seems interesting. over all it's a fun book to read. Terutama buat yang punya hasrat terhadap Roma. hihi.
Profile Image for Hanifa Aulia.
4 reviews
October 5, 2013
This book make me wanna go there but i dont get it how they look like (Zetta and Rama)
Profile Image for Ashley.
895 reviews8 followers
October 11, 2013
A really interesting book. Basically about what's life about and how you have to do what you want to do instead of people dictating your life. I enjoyed it. Makes me REALLY want to visit Rome!
Profile Image for Yessyka Widy.
221 reviews19 followers
January 26, 2016
Rama dan Zetta yang melakukan perjalanan terpaksa mereka di Roma, bener2 pure travelling yaa… dan ada sisipan romansa pada bagian akhirnya.. Saya menikmati detail tempat-tempat wisata di sana... :D
Displaying 1 - 23 of 23 reviews