Akhirnya selesai juga baca buku ini. Mulainya bulan November tahun kemarin, tetapi karena ini merupakan karya ilmiah yang dibukukan jadi butuh usaha lebih buat konsentrasi dan terbiasa membaca.
Inggris di Jawa adalah buku yang memaparkan isi Babad Ngengreng, yaitu sebuah karya sastra Jawa berformat sajak macapat dari abad ke 19. Disusun oleh sejarawan Inggris yang bernama Peter Carey, buku ini ditujukan sebagai pembanding sumber primer sejarah kolonialisme Inggris di Jawa dari sudut pandang orang Jawa. Carey menilai bahwa narasi sejarah kolonialisme Inggris di Jawa kebanyakan berasal dari sumber-sumber Inggris, yang mana interpretasi realita sejarah yang telah dilakukan mungkin menjadi timpang tanpa adanya perbandingan dokumen sejarah dari pihak lain. Dan dari semua sumber sejarah yang berasal dari Hindia Timur, Babad Ngengreng lah yang dinilai sebagai dokumen pembanding paling layak dalam hal waktu penulisan yang dekat dengan waktu terjadinya peristiwa Sejarah.
Babad Ngengreng ditulis oleh Pangeran Panular, seorang bangsawan Yogyakarta yang bergaris keturunan dari Sultan Hamengkubuwono I. Babad Ngengreng dimulai dari jatuhnya keraton Yogyakarta akibat serangan Inggris. Inggris bermaksud menjatuhkan kekuasaan HB II yang telah melakukan pembunuhan terhadap patihnya (Danurejan). Keadaan waktu itu kacau balau, dengan putra mahkota dan para punggawanya yang harus mengungsi ke tempat aman. Pangeran Panular lah yang mendampingi pengungsian itu, bahkan ia mengajukan dirinya sebagai tameng terhadap tembakan senapan pasukan Inggris. Setelah keraton menjadi porak-poranda dan harta-benda para bangsawan dijarah oleh gabungan pasukan Inggris dan Sepoy, HB II dan punggawanya menyerahkan diri dengan mengibarkan bendera putih.
Penyerahan diri HB II kemudian diikuti pengasingannya di luar Pulai Jawa dan diangkatnya putra mahkota sebagai HB III. Mulai dari sinilah Panular menceritakan tentang keadaan keraton, pemerintahan negeri Yogyakarta dan para bangsawan yang menjalankannya, berbagai upacara dan resepsi yang dilakukan antara keraton dan residen Inggris, jatuh sakitnya HB III, hingga diangkatnya sultan bocah HB IV.
Sebagai bangsawan senior yang setia pada kesultanan dan selalu menjunjung etika keraton, Panular juga dihadapkan pada perubahan tata krama yang dilakukan para bangsawan muda, masalahnya tentang tanah apanase sebagai hak bangsawannya, hingga perolehan kemurahan hati sang raja yang sempat salah memahami maksudnya. Dari cerita-cerita Panular ini, sesuatu yang bisa saya tangkap adalah ia selalu berusaha menjalankan kewajibannya sebagai punggawa kesultanan dan mengharapkan timbal balik yang baik dan layak dari semua upayanya. Namun terkadang timbal balik yang diharapkan tidak kunjung ia terima dan berada di luar jangkauannya. Pada situasi semacam itu Panular hanya bisa mundur dengan sopan dan menyerahkan diri dan takdirnya kepada Yang Maha Kuasa, seperti halnya masyarakat Yogyakarta yang menerima kejatuhan keraton oleh serangan Inggris sebagai nasib yang tak terelakkan.
Bicara tentang kejatuhan keraton, Panular tampak sebagai seorang moralis dan mengedepankan sifat ksatria. Ia mengkritik punggawa-punggawa lain yang malah melarikan diri saat serangan Inggris terjadi. Menurut Panular, menurunnya moralitas dari sebagian bangsawan Yogyakarta inilah yang menyebabkan kejatuhan keraton. Pada kesempatan lain, Panular juga menilai karakter putra HB III, Raden Mas Ontowiryo (kelak disebut dengan Diponegoro), sebagai seorang yang kena pengaduning blis (terkena guna-guna setan). Mulanya saya menganggap penilaian Panular ini mengada-ada saja karena bagaimana mungkin seorang pahlawan Nusantara di masa kecilnya bisa disebut demikian? Namun saya dapat menerka dari cerita babad itu bahwa Diponegoro muda tidak terlalu jeli dalam menjalankan tugas kenegaraan sehingga ia mengabaikan hal-hal yang penting menurut Panular. Selain itu, ia juga melakukan penilaian terhadap watak bangsawan lain, seperti kakaknya Pakualam I yang ambisius dalam politik kerajaan dan Prangwedono (pemimpin pasukan Mangkunegaran yang berpartisipasi dalam serangan Inggris) yang selalu berbangga atas kecakapan dirinya.
Kemenarikan buku ini bagi saya adalah aspek sikap kebangsawanan dalam masyarakat Jawa. Ada tuntutan peran bangsawan yang harus dilakukan seperti memahami tata krama dan kesetiaan terhadap sultan. Kemudian sikap Panular untuk pasrah (pada asrahing) kepada Yang Maha Kuasa sebagai bagian dari ikhtiarnya dalam mempertahankan hak bangsawan. Dan beberapa istilah Jawa yang disebutkan dalam buku, baik istilah kuno maupun yang masih digunakan sampai saat ini.
Penting untuk dicatat bahwa buku setebal 300+ halaman ini hanya menyajikan ringkasan isi Babad Ngengreng beserta foto-foto dan ilustrasi pendukung. Untuk isi Babad Ngengreng yang lebih lengkap dan berbahasa Jawa dapat diakses dalam cakram digital pendamping buku. Tetapi sayang sekali saya tidak memperoleh CD itu.