The Scent Of Sake:
Novel dengan jalan cerita yang membuat emosi tapi tetap puas dengan endingnya. Kenapa saya bilang bikin emosi? Karena saya benar-benar tidak habis pikir, bagaimana mungkin seorang anak yang terlahir dari seorang Geisha, bisa dijadikan ahli waris dan menerima tongkat estafet kepemimpinan suatu usaha? Adapun alasan yang membuat anak Geisha tersebut jadi ahli waris adalah karena istri sah dari sang suami belum juga melahirkan seorang anak!
Seperti yang kita tahu, Geisha itu berarti "wanita penghibur alias pelacur." Seorang suami yang gemar ke tempat pelacuran, lalu si wanita Geisha itu hamil dan berhubung istri sahnya di rumah belum juga hamil, akhirnya keluarga sepakat untuk membawa bayi si Geisha tersebut ke kediaman mereka. Apalagi kebetulan bayi yang lahir tersebut berjenis kelamin laki-laki! Menurut saya ini keterlaluan banget!
Kalian bayangin aja deh, suami kalian selingkuh, lalu selingkuhannya hamil dan kita malah diminta untuk mengurus anak hasil dari perselingkuhan tersebut, dan kemudian nantinya dijadikan ahli waris pula karena kita sendiri tak kunjung-kunjung hamil! Apa gak nyesek dibuatnya?!
Sungguh saya benar-benar tidak habis pikir dengan "tradisi" orang-orang di zaman dahulu. Di mana ketika pasangan pria-wanita menikah, mereka diharapkan untuk bisa melahirkan anak laki-laki terlebih dahulu, agar garis keturunan keluarga bisa diestafetkan nantinya ke anak tersebut. Dan jika yang dilahirkan perempuan, maka anak tersebut dianggap akan membawa keberuntungan untuk keluarga, tapi sayangnya si anak perempuan tidak mempunyai hak untuk melanjutkan estafet kepemimpinan keluarga. Perempuan benar-benar dianggap lemah pada masa-masa ini!
Maka wajar saja, di beberapa kisah kerajaan yang sering saya tonton, seorang permaisuri bisa melakukan hal-hal ekstrim terhadap anak-anak dari para selir sang kaisar. Apalagi bila si permaisuri tersebut tidak bisa melahirkan seorang anak laki-laki, atau jikapun punya, tapi si anak tidak memiliki cukup bakat dan kepandaian untuk menyandang status sebagai Putra Mahkota. Permaisuri bisa nekat untuk menyakiti anak-anak selir tersebut. Ya sekali lagi, wanita mana sih yang rela bila anak dari seorang selir (alias wanita simpanan) lantas mendapat gelar Putra Mahkota? Tidak ada wanita yang merelakan hal tersebut!
Oke, balik lagi ke The Scent Of Sake!
Di cerita ini, Rie (tokoh utama wanita) terpaksa menikah dengan seorang pria bernama Jihei, yang juga sama-sama anak dari pemilik bisnis sake. Rie tidak bisa menikahi pria lain, karena tongkat estafet bisnis sake keluarga mereka harus tetap dilanjutkan. Jihei di sini berstatus sebagai Mukoyoshi (anak adopsi; yang mana ketika selesai menikah, si pria lah yang masuk ke rumah wanita, bukan wanita yang masuk ke rumah pria, demi melanjutkan kepemimpinan bisnis dikeluarga wanita tersebut). Dikarenakan Rie adalah seorang wanita, jadi otomatis dia tidak akan bisa untuk menggantikan posisi kepemimpinan ayahnya kelak. Maka dari itu Jihei-lah nantinya yang akan menggantikan posisi ayahnya tersebut.
Pernikahan Rie dan Jihei sama sekali tak bahagia. Jihei bukanlah pria yang bisa diandalkan. Hobinya mabuk-mabukan, main ke tempat pelacuran, dan dia juga bodoh! Iya, bodoh banget! Dia tipe pria yang tidak berani mengambil keputusan dalam kondisi terdesak, terlalu takut ambil resiko dan tidak mempunyai ide-ide cemerlang. Maka wajar jika Rie benar-benar membenci suaminya tersebut dan tak sudi untuk "disentuh"! Pernah suatu hari Rie hamil, tapi sayangnya dia keguguran dan itu membuatnya sedih karena batal memberikan ahli waris untuk keluarganya. Dan disaat yang bersamaan, terdengar kabar seorang geisha hamil dan pelakunya tak lain adalah suaminya sendiri!! Luar biasa kurang ajar!! Dan seperti yang sudah saya sebutkan di atas, anak geisha tersebut (yang kebetulan laki-laki, diberi nama Yoshitaro), akhirnya diadopsi oleh mereka untuk selanjutnya dijadikan calon pemimpin usaha sake mereka dimasa mendatang, -- karena setelah keguguran, Rie tak lagi menunjukkan gejala hamil. (Enak banget yaa si geisha itu! Tidak perlu menikah, tapi anaknya sudah dijamin punya masa depan cerah!).
Waktupun terus bergulir, hingga suatu hari Rie kembali diberi kepercayaan untuk hamil. Tapi anak yang dikandungnya itu bukanlah darah daging Jihei, melainkan hasil perselingkuhan Rie dengan pria yang benar-benar dicintainya. Tak ada satupun yang mengetahui hal ini selain Rie sendiri. Rie benar-benar menyayangi & memanjakan anaknya tersebut (yg lahir perempuan, bernama Fumi). Dan hal ini cukup terlihat mencolok di mata orang-orang yang ada di seputaran keluarga mereka. Di sisi lain, Jihei kembali berulah! 2 geisha dilaporkan sedang mengandung anaknya! Tak tanggung-tanggung, 2 geisha sekaligus!! (Minta dirajam banget laki kayak gini!!) Rie benar-benar murka dibuatnya. Untungnya 2 geisha tersebut melahirkan anak perempuan, jadi sebenarnya mereka tidak punya kewajiban untuk mengadopsi. Namun, demi memikirkan nama baik keluarga (takut si geisha itu buka suara & bisa merusak reputasi bisnis sake mereka), akhirnya anak-anak geisha tersebut tetap diadopsi kembali oleh mereka, untuk nantinya dimasa mendatang, bisa mereka manfaatkan dengan dijodohkan kepada anak-anak dari pebisnis sake lain.
Tongkat estafet kepemimpinan bisnis sake keluarga Rie pun terus berlanjut hingga akhirnya resmi dipegang Yoshitaro (dikarenakan Jihei meninggal). Yoshi dinikahkan dengan perempuan (bernama Tama) anak pebisnis sake juga, tapi sayang Yoshi tidak menyukainya. Yoshi malah mengikuti jejak ayahnya, bermain-main di rumah geisha hingga geisha itu juga hamil!! (Ini yang dinamakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya!). Yoshi yang sama sekali tak sudi menyentuh Tama, maka memutuskan untuk membawa pulang anak dari geisha itu untuk dibesarkan olehnya (anak Yoshi ini perempuan, bernama Ume). Ume ini nantinya akan kembali dicarikan suami mukoyoshi agar estafet bisnis sake keluarga Rie bisa terus dilanjutkan. (Bayangkan coyy!! 2 anak hasil perselingkuhan dengan geisha, Yoshi & Ume, bisa melenggang manja menjadi ahli waris!! Enak banget geisha2 itu ckck!!).
Waktu terus bergulir. Usaha sake keluarga Rie terus berkembang pesat meski beberapa kali ditimpa musibah. Rie pun sudah menikahkan semua anak-anaknya, baik anak kandung (Fumi & Seisaburo), maupun anak dari perselingkuhan Jihei & para geisha (Yoshitaro, Kazu & Teru). Hingga suatu hari Yoshi tertimpa penyakit yang cukup parah. Anak Yoshi, Ume, sudah tiba diwaktu untuk menikah. Rie berniat menjodohkan Ume dengan Hirokuchi (anak dari Fumi), karena Hiro dianggap paling potensial untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bisnis sake keluarga Rie. Tapiiii, niat Rie ini mengalami kendala karena Hiro menolak untuk menikah dengan Ume. Hiro ternyata jatuh cinta pada seorang geisha & itu benar-benar membuat keluarga besar marah. Rie bersikeras agar Hiro lah yang jadi pemimpin selanjutnya, tidak mau pria yang lain. Hal ini sempat membuat Yoshi geram. Maka diambillah kesepakatan antara Rie dan Yoshi (meski Yoshi terpaksa menyetujuinya); Ume dinikahkan dengan pria lain, lalu nantinya Ume akan keluar dari rumah tersebut & bekerja di cabang sake mereka yang lain (ini artinya suami Ume bukanlah mukoyoshi & tidak bisa dijadikan pemimpin selanjutnya). Karena Rie bersikeras apapun yang terjadi harus Hiro-lah yang jadi pemimpin selanjutnya (btw, Hiro ini benar-benar cucu kandung Rie yaa, karena Hiro adalah anak Fumi. Rie juga ternyata memang diam-diam bertekad ingin menghabiskan jejak keturunan geisha di keluarga mereka, makanya Rie "nekat mendepak" Ume & suaminya untuk kerja di kantor cabang saja.)
Usaha & niat Rie ini akhirnya membuahkan hasil, meski harus bertahun-tahun merayu Hiro agar mau dijodohkan dengan wanita-wanita yang sudah Rie siapkan. Hiro akhirnya menikah dengan Naoko (wanita pilihannya sendiri) yang nerupakan anak dari seorang bangsawan besar dan hal ini benar-benar membuat Rie bangga, karena bangsawan tersebut bisa membawa dampak yang sangat baik untuk bisnis sake mereka nantinya. Bisnis sake Rie pun akhirnya sukses menjadi sake nomor 1 di Jepang. Rie benar-benar puas & bangga dengan usahanya selama ini, dan tentunya juga berkat usaha dari cucu kesayangannya, Hiro, yang ternyata berhasil membawa pengaruh positif bagi bisnis keluarga mereka. (**ini yang saya maksud saya puas dengan endingnya, karena keturunan resmi Rie-lah yang akhirnya kembali mengambil alih kuasa atas bisnis sake turun-temurun ini, bukan dari keturunan geisha lagi).
Inti dari cerita ini adalah, meskipun kehidupan Rie benar-benar menyesakkan akibat ulah suaminya, tapi Rie tetap bertanggung jawab & penuh kasih sayang merawat anak-anak tersebut (meski "berat sebelahnya" tetap nampak). Rie juga berhasil membuktikan kepada semua orang, bahwa perempuan yang selama ini dicap sebagai makhluk yang paling lemah, tapi diam-diam memiliki kekuatan yang patut diacungi jempol dalam mengurus sebuah bisnis. Bahkan para lelaki yang ada di sekitarnya pun terlihat kalah saing dengan otak Rie yang luar biasa cerdas. Ini mengajarkan pada kita bahwa sebagai perempuan, kita harus berani dan tegas untuk menunjukkan pada dunia bahwa kita ini kuat dan bisa diandalkan! Jadi perempuan jangan mau ditindas dan tertindas. Apapun yang terjadi, kita harus tetap bangkit dengan api semangat yang tak boleh padam.
Di cerita ini juga, kita jadi belajar mengenai tradisi Jepang kuno, bagaimana proses pembuatan sake, bagaimana perempuan-perempuan di masa itu harus kuat, sabar & ikhlas dalam menghadapi berbagai badai rumah tangga (**meski menurut pendapat saya pribadi, hal itu tetap saja "kurang ajar & tak beradab"!), bagaimana cara menghadapi dan bertahan dari berbagai ancaman persaingan bisnis, serta bagaimana bangsa asing (re: bangsa Eropa) akhirnya mempengaruhi berbagai sektor yang ada di Jepang secara positif. Ya, banyak pelajaran berharga dari novel karya Joyce Lebra ini.