Jump to ratings and reviews
Rate this book

Jurnalis Berkisah

Rate this book
Jurnalis, Bila melakukan pekerjaannya dengan semestinya, memanglah penjaga gerbang kebenaran, moralitas, dan suara hati nurani dunia.

Simak perjuangan inspiratif kesepuluh jurnalis lokal dalam buku ini. Dengan sajian penuh aura keberanian yang tinggi berbalut dedikasi, totalitas, kecintaan pada profesi, penghormatan kebenaran, serta integritas yang tinggi.

228 pages, Paperback

First published September 1, 2012

4 people are currently reading
69 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
10 (20%)
4 stars
20 (40%)
3 stars
16 (32%)
2 stars
2 (4%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Imam Rahmanto.
149 reviews8 followers
October 16, 2013
Jurnalis dan LIka-Likunya


Judul Buku : Jurnalis Berkisah, Memetik Inspirasi Perjalanan 10 Jurnalis Terkemuka Indonesia
Penulis : Yus Ariyanto
Penerbit : Metagraf, Tiga Serangkai
Tebal buku : 228 halaman
Tahun terbit : 2012

“Jurnalis, bila melakukan pekerjaannya dengan semestinya, menanglah penjaga gerbang kebenaran, moralitas, dan suara hati nurani dunia.”

Jurnalis Berkisah, merupakan buku perdana yang dituliskan oleh Yus Ariyanto selama pencapaian hidupnya sebagai seorang penggiat maupun praktisi media. Ia yang kini bekerja di Liputan6.com SCTV berusaha merangkum kisah 10 jurnalis Indonesia yang dianggapnya telah banyak menjalani pergulatan hidup sebagai seorang jurnalis lokal. Diantaranya, Najwa Shihab, Telni Rusmitantri, Metta Dhamasaputra, Maria Hartiningsih, Tosca Santoso, Muhlis Suhaeri, Mauluddin Anwar, Erwin Arnada, Ramdan Malik, dan Linda Christanty.

Dalam bukunya ini, setelah melalui beberapa proses wawancara langsung dengan masing-masing tokoh, Yus menyajikan kisah-kisah perjuangan para jurnalis dengan cukup lancar. Cerita-cerita di dalamnya digali melalui sudut pandang bercerita penulis, namun tanpa mengesampingkan keterangan-keterangan maupun referensi dari tokoh yang diangkat. Satu hal yang begitu dikedepankan dalam setiap kisahnya, keberanian. Bagaimana sejatinya para jurnalis mempertahankan independensinya dalam peliputan berita untuk kepentingan publik. Bagaimana mereka menjunjung tinggi nilai-nilai moral dalam setiap tugas peliputan. Bagaimana mereka mampu membangun keberanian itu lewat perjalanan di dunia pers yang tidak bisa dikatakan singkat.

Sebagaimana salah satu tokoh yang diceritakan penulis, Najwa Shihab yang kini lebih dikenal masyarakat luas lewat program acaranya “Mata Najwa”. Selain menceritakan perjalanan Najwa Shihab dalam menjajaki dunia pers, penulis juga mengisahkan suka duka yang dialami Najwa selama menjalankan program acaranya.

“Saya sengaja memilih diksi ‘penjahat’… Kita terlalu bermanis-manis dengan pelaku white collar crime. Padahal mereka memang memang melakukan kejahatan anggaran. Angle wawancara juga ingin memperlihatkan betapa bobroknya sistem anggaran di DPR,” salah satu kutipan ucapan Najwa dalam buku tersebut.

Masing-masing tokoh jurnalis dikisahkan dalam tatanan yang berbeda-beda, berdasarkan “genre” yang diusung oleh mereka. Seperti Telni Rusmitantri sebagai redaktur pemberitaan infotainment Cek&Ricek, Metta Dharmasputra yang berhasil membongkar penggelapan dana Asian Agri Group ketika ia menjabat sebagai redaktur desk ekonomi di TEMPO, Maria Hartiningsih sebagai wartawan KOMPAS yang lebih banyak mendedikasikan diri untuk aktivitas-aktivitas kemanusiaan, hingga Erwin Arnada yang sempat masuk penjara selama 2 tahun gara-gara menerbitkan majalah Playboy Indonesia.

Meskipun sekilas buku ini terkesan hambar, karena hanya bercerita kisah para jurnalis, namun teknik penceritaan yang diusung Yus Ariyanto tebrilang unik. Unik, karena proses “pengolahan data”nya terhadap masing-masing tokoh dilakukan pula dengan cara stalker. Sehingga, tak perlu heran ketika menemukan beberapa kutipan-kutipan timeline facebook ataupun twitter di beberapa bagian cerita. Di samping itu, penceritaannya tidak bakal terasa membosankan karena sesekali diselingi oleh penggambaran alias deskripsi pertemuan antara penulis dengan tokoh. (*)


*Imam Rahmanto
Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
September 29, 2020
Buku ini berkisah mengenai sepuluh orang jurnalis dan karya jurnalistik mereka. Latar belakang asal media jurnalis yang diliput juga beragam. Media elektronik, tivi dan radio; media cetak; koran dan majalah. Tema pemberitaan utama juga beragam, termasuk media gaya hidup seperti Play Boy Indonesia.

Tentu tidak mudah merangkum gambaran utuh siapa saja jurnalis yang harus masuk dalam buku ini. Meski begitu, saya mengakui penulis menentukan pilihan yang membuat pembaca berkesimpulan pada tahun 2012 (saat buku ini diterbitkan) kita masih punya cukup stok jurnalistik dengan karya yang menginspirasi. Penulis cukup metodik dalam menguraikannya dalam tulisan khas feature. Detil informasi dan kepekaan perasaan secara rapih tertuang dalam 10 bab yang ada di buku ini. Capaian karya-karya 10 jurnalis yang menjadi pilihan narasumber Yus Arianto membuat kita bisa sejenak menepis "senja kala jurnalisme" dan sesungguhnya di luar sana banyak orang yang bisa kita belajar tentang apa itu jurnalisme yang baik. Merayakan prestasi jurnalis dan capaian jurnalisme Indonesia bisa dilakukan dengan publikasi semacam ini.

Buku ini penting dibaca oleh orang-orang yang percaya jurnalisme itu penting dan lahir dari kerja keras para pekerjanya. Kesanggupan mereka penting untuk dicatat dan menjadi referensi bagi pembaca hingga kini; saat berita hadir lebih cepat lewat di layar telepon pintar dan komputer kita.

Sebagai pekerja yang sedikit banyak beririsan dengan jurnalisme, dan mengagumi seni wawancara yang harus dikuasai, saya membayangkan kelanjutan buku ini adalah menemui pewawancara ulung seperti Soleh Solihun. Sosok yang belakangan sering saya tonton chanel youtubenya itu buat saya menggambarkan versi Indonesia dari Studs Terkel, oral historian, dari Amerika yang mahir mengangkat narasumbernya menjadi narator utama dalam setiap karyanya. Alih-alih banyak berita lebih kuat framing daripada narasi sumber beritanya, saya melihat sejumlah wawancara Soleh Solihun cukup mampu menjadi "anonim" dan lebih dari sekedar informatif. Bahkan sejumlah narasumber itu bisa menjadi sisi yang selama ini tidak terduga kita sebagai subyek yang membutuhkan informasi. Kualitas wawancara semacam ini bukan saja penting bagi jurnalisme, tetapi bagi banyak orang di era "maha benar netizen" dengan segala komentarnya.

Eh ini mah cuma harapan pribadi bukan "saran lanjutan" dink hihihi
Profile Image for Muhamad Septiawan.
2 reviews
April 18, 2013
Wartawan adalah profesi yang memiliki risiko tinggi. Intimidasi serta ancaman kekerasan adalah hal yang mengintipnya setiap saat. Hanya idealisme dan keterpanggilan yang membuat seorang juru berita bertahan dengan profesi itu.
Itulah yang membuat buku ini menarik disimak sebagai sebuah teks yang menggambarkan jagat jurnalistik, khususnya di Indonesia. Dari sini pembaca akan mengetahui berbagai dinamika yang terjadi di dalamnya.
Buku yang menceritakan kembali pengalaman para wartawan memang bukan barang baru. Namun yang membedakan Jurnalis Berkisah dengan buku-buku lainnya ialah disertakannya satu ataupun dua kasus, berkenaan dengan profesi yang mereka jalani. Inilah yang membuat cerita mengenai para wartawan ini semakin menarik.
Misalnya saja Mauluddin Anwar yang terbang ke Lebanon untuk meliput perang yang terjadi di Beirut. Petikan kisah mereka saat berada di medan pertempuran akan menjadi hal menarik tersendiri bagi pembaca.
Satu hal yang mengikat kesepuluh jurnalis dalam buku ini, yakni kesetiaan pada profesi dan kebenaran. Memang ada petikan kisah-kisah heroik dari para wartawan tersebut. Namun itu bukan titik sentral, namun sebagai pintu masuk pada persoalan yang lebih besar.
Memang, juru berita adalah manusia biasa. Mereka memiliki ketakutan, mereka sempat gentar, pernah terpojokkan. Sebut saja kutipan kisah Linda Christanty yang sempat merasa ragu ketika mendapat tawaran untuk untuk tinggal di Aceh. Memang, Aceh sebagai medan konflik bukanlah tempat yang dimimpikan banyak orang. Tapi toh semua itu ditepisnya. Kepedulianlah yang membawanya terbang ke Aceh.
Benar saja, ketika tiba di Serambi Mekkah, banyak hal yang dapat dilakukan oleh Linda. Memberikan penyadaran melalui berbagai medium adalah hal yang diupayakannnya. Termasuk memberdayakan banyak orang muda untuk berbuat lebih banyak bagi Aceh lewat dunia jurnalistik.
Buku ini membeberkan beberapa cerita beberapa jurnalis Indonesia dengan sangat jelas dan menarik. Banyak sekali hal yang dapat kita raih untuk kita jadikan pengalaman hidup.
Lewat buku ini pembaca tidak hanya akan menjumpai keindahan pada dunia jurnalistik, melainkan juga kompleksnya dunia jurnalistik terutama ketika ia berbenturan dengan berbagai kepentingan dan permasalahan. Buku ini jelas sangat bermanfaat bagi para kaum muda yang ingin terjun pada dunia jurnalistik. Buku ini memberi pendidikan kepada pembaca. Selain itu, bahasa yanhg digunakan pada buku ini juga komunikatif, sehingga kita tidak akan sulit untuk memahami isi buku tersebut.
Profile Image for Anita Shella Shufa.
15 reviews7 followers
November 10, 2018
Butuh waktu lama untuk akhirnya memutuskan membeli buku setebal 227 halaman ini. Satu cacat kecil yang sangat disayangkan adalah pemilihan judul terlalu gamblang yang kurang menimbulkan rasa penasaran pada isi buku.

Buku ini bercerita tentang kisah-kisah inspiratif yang dialami oleh 10 jurnalis terkemuka. Berbagai bidang diangkat dan disuguhkan dalam buku ini merupakan satu dari sekian hal yang membuat buku ini menarik, mengulas kisah dari reporter TV, jurnalis infotainment, jurnalis bidang kemanusiaan, hingga kisah mengenai mantan pimred majalah Playboy Indonesia. Varian cerita yang disuguhkan memperluas wawasan pembaca terhadap bidang-bidang yang ada dalam dunia jurnalistik.

Meski beberapa kisah yang terkesan tak 'rampung', membingungkan akibat pengenalan tokohnya yang terkesan terlalu dipaksakan, bahkan sempat hambar di beberapa bagian karena kisah yang meluas dan ke mana-mana; namun kepiawaian Yus Ariyanto dalam mengolah kisah-kisah tersebut patut diajungi jempol. Pesannya untuk menyakinkan pembaca bahwa di luar sana masih ada jurnalis 'berhati nurani' disampaikan dengan begitu memukau. Buku ini mengajarkan tentang integritas, kegigihan, dan kecintaan pada profesi.

"Aku bisa saja menjadi kaya dengan menjadi wartawan. Aku tahu caranya. Tapi, aku tidak mau karena ini profesi yang aku cintai"

"Kami tak ingin mengeluh lagi tentang mutu program televisi, Tetapi menyumbangkan apa yang bisa untuk memperbaiki kualitas jurnalisme televisi"

"Banyak kawan kami yang terkubur. Tapi, kami akan jalan terus karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak"

"Jurnalis, bila melakukan pekerjaannya dengan semestinya, memanglah penjaga gerbang kebenaran, moralitas, dan suara hati nurani dunia"
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
September 15, 2013
aku belajar banyak di sini, lewat buku ini. masing-masing jurnalis (10 jurnalis) yang direcap oleh Yus Arianto dalam buku ini punya kisahnya sendiri-sendiri. kisah yang tidak sederhana tentunya, yang membuat mereka sampai pada titik di mana mereka berada saat ini, tapi yang pasti mereka punya semangat dan keberanian yang sama untuk senantiasa berjuang di jalur jurnalistik. luar biasa.... bisa dipake sebagai bahan ajar nih. recomended banget.
Profile Image for Yasdong.
47 reviews3 followers
April 13, 2014
10 jurnalis terkemuka dari lintas media seperti televisi, radio, dan cetak. Semua dengan cerita mengapa mereka menggeluti dunia jurnalisme dan apa yang telah mereka lakukan untuk terus bergelora di dalam bidang pekerjaan yang tak mudah ini. Dituliskan secara lugas dan mudah dipahami. Yus Arianto telah melakukan pekerjaan baik menyebarkan hasrat jurnalistik kepada khalayak melalui buku ini.
Profile Image for Rusyda  Fauzana.
20 reviews6 followers
April 24, 2013
Kisah perjalanan karier jurnalis2nya keren. Benar-benar perjalanan yang mengesankan. Menjadi jurnalis bukan sekadar karier tapi perjalanan hidup.
Profile Image for Renova Sitorus.
28 reviews6 followers
June 16, 2016
"And i believe that good journalism can make our world a better place."
~Christiane Amanpour
(So, do i)

Mereka menjadi sosok di balik layar bagi suara-suara yang terbungkam.
Displaying 1 - 8 of 8 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.