Emma percaya Hayden pernah terbang di langit itu. Langit yang selalu ia pandangi setiap kali rindu mendera. Hayden meninggalkan Oak Ridge demi menggapai cita-citanya sebagai pilot pesawat tempur Angkatan Udara.
Enam tahun menjalani hubungan jarak jauh tidak membuat cinta mereka memudar. Namun ketika baru saja bertemu sejenak untuk melepas rindu, cinta mereka kembali diuji.
And life has never been so easy after...
Ini bukan kisah yang ingin kau alami. Sebuah cerita tentang betapa pentingnya arti cinta, kepercayaan, pengorbanan dan kesetiaan.
Okay, jadi review ini akan subjektif banget ya.. Jangan protes!
Kiss the sky bercerita tentang Emma dan Hayden, sepasang kekasih yang harus menjalani Lelah Doank Relationshit alias hubungan jarak jauh. Hayden harus meninggalkan Emma demi menggapai cita-citanya sebagai pilot pesawat tempur Angkatan Udara Amerika Serikat.
Oiya pasti tidak akan menyangka bahwa novel ini ditulis oleh orang Indonesia. Penulis novel ini bener-bener berani, bukan hanya temanya yang tidak biasa, tapi unsur-unsur dalam novel ini juga sangat asing. Karena setting dalam novel ini sangat detail, amerika banget lah. Aku sempat mikir ya, kenapa nggak ngambil setting di militer di Indonesia aja. Kenapa nggak langsung ke Akademi Angkatan Udara di Jogja sono. Mungkin suasananya akan terasa lebih familiar, hahaha. Modus aja sih, if you know what I mean. Hahaha. Tapi setelah membaca novel ini akhirnya aku tau kenapa AAU dan kehidupan para karbol gak cocok dijadiin setting dalam novel ini. Ntar ya aku jelaskan...
Cerita diawali dengan berbagai email yang dikirimkan Hayden kepada Emma. Ya, jarak tidak membuat cinta mereka memudar. Mereka masih tetap berkomunikasi lewat email. Karena penggunaan handphone sangat restricted disana. Haha masih mending karbol dunk ya, boleh pegang hape walaupun cuma di hari-hari tertentu.
Menurut penelitian, (ntah siapa yang meneliti).. 70% hubungan jarak jauh tidak berhasil
Selama Hayden mengikuti pendidikan di AAU Amerika sono, dia tidak pernah pulang. Hayden juga melarang Emma untuk menemuinya. Ini yang dikatakan Hayden, "Dalam kondisi yang berjauhan seperti ini, seorang prialah yang harus berkunjung ke tempat kekasihnya, bukan sebaliknya. Itu menurutku. Sabar ya, kita pasti bertemu."
Haha still remember those words? Iya itu yang pernah aku kutip di statusku, yang membuat para pelaku LDR ngamuk termasuk Mr. Ex, lalu mereka beramai-ramai nge-bash aku.. Hahahaha
"Saat kau memandang langit, ingatlah bahwa aku pernah ada disana, terbang disana, melintasi langit itu. Langit yang sama seperti yang kau pandangi. Dan saat aku terbang, aku akan melihat ke bawah sana, yakin bahwa kau terus memandang langit dan mengingatku.."
Skip time.. Sudah dua tahun Emma dan Hayden tidak lagi berkomunikasi. Emma masih mengirimi Hayden email, tapi tak pernah dibalas. Mengirim surat, juga tak dibalas. Menelepon ke akademi, tapi tidak berhasil disambungkan ke Hayden. Hingga sahabat Emma mengatakan, "Seharusnya kau move on. Bagaimana kalau dia sudah move on, sementara kau membuang waktumu dengan sia-sia, menanti seseorang yang sudah mengkhinatimu?". Tapi Emma hanya bisa bergumam, "Hayd, aku mohon, berilah kabar padaku. Yakinkan aku untuk terus menantimu".
Lalu, di hari kelulusan Hayden ketika dia resmi menyandang pangkat Lieutenant, Hayden baru menyadari bahwa kesalahpahaman diantara dirinya dan Emma. Ada seorang staff di United States Air Force Academy (USAFA) bernama Denise yang cinta setengah mati pada Hayden. Denise menyembunyikan semua surat dari Emma juga memblokir emailnya. Jadi sebenarnya selama bertahun-tahun ini Hayden dan Emma masih berkomunikasi tapi tak pernah tersampaikan. Email Hayden terblokir karena lama tidak dibuka, jadi dia membuat email baru dan tetap mengirim email pada Emma. Handphone Hayden juga hilang, dan bodohnya dia tidak menghapal nomor ponsel Emma. Sedangkan Emma masih mengirim ke email Hayden dari emailnya yang baru. Ruwet kan??
Tapi akhirnya Hayden bisa menghubungi Emma lagi dan mengabarkan bahwa dia akan pulang. Akhirnya setelah 6 tahun berpisah, Emma dan Hayden dapat berjumpa lagi..
Oiya lagu yang tepat untuk mengiringi scene ini adalah Love Story nya Taylor Swift..
I've got tired waiting.. wondering if you ever coming around.. My faith in you was fading, when I met you on the outside the town..
Seorang pria dengan jas seragam militer Angkatan Udara berdiri di hadapannya. Emma kenal sekali dengan mata biru dan hidung mancung itu. Hanya saja, rambut coklatnya kini cepat dan tubuhnya lebih kekar. Pria itu sangat tampan dan gagah dengan seragam militernya. Okay anggaplah yang jadi Hayden ini adalah Ashton Kutcher di film The Guardian, atau Choi Siwon di drama Poseidon, atau Leeteuk dalam seragam militernya selama menjalani wamil ini. Atau Ronny beberapa bulan lagi di hari kelulusannya dari AAU.
"Suatu saat aku akan mengajakmu terbang bersamaku. Berdua. Ke langit kita. Kau akan selalu menungguku kan?"
Oiya masih ingat dengan Denise kan? Ketika Emma menelepon Hayden, Denise lah yang mengangkat telepon itu sehingga membuat Emma salah paham. Satu konflik dimulai.
Lalu Hayden ditugaskan untuk ikut dalam misi di wilayah yang sedang berperang. Ya, secara Hayden kan pilot pesawat tempur gitu loh. Mungkin dia akan ditugaskan di Skadron 11 kalo Hayden adalah orang Indonesia, haha.
Sementara Hayden sedang bertempur, orangtua Emma ingin menjodohkannya dengan Frederick Fontana, kakak Hayden. Haha konflik baru dimulai. Jadi hubungan Hayden dan keluarganya ini tidak baik. Orangtua Hayden lebih berpihak pada kakaknya yang dianggap lebih pintar. Hayden juga pintar, namun karena merasa tersisih akhirnya Hayden menjadi nakal. Hanya hasratnya untuk bisa menjadi seorang pilot pesawat tempur yang membuatnya harus berjuang keras di sekolah untuk bisa masuk ke Akademi Angkatan Udara. Heuheuheu I miss that place..
Frederick itu adalah seorang pengacara hebat yang akan mencalonkan diri jadi senator, tapi dia licik, sangat licik. Fred mengancam Emma dengan mengatakan bahwa dia memiliki koneksi petinggi militer AS sehingga dia bisa saja membuat Hayden kembali atau tetap bertempur. Melihat keadaan perang yang semakin buruk, akhirnya Emma menyetujui untuk menikahi Fred agar Hayden bisa pulang dengan selamat.
Hah sinetron banget! Emma juga terlalu naif, meninggal dalam pertempuran adalah resiko menjadi seseorang tentara. Bahkan bagi sebagian tentara, meninggal dalam perang adalah suatu kehormatan.
Ya, Hayden memang selamat dari misi tersebut, tapi pulang dengan mendapati kabar bahwa sang kekasih tercinta akan menikah dengan kakaknya sendiri membuat Hayden patah hati. Dalam kekalutan hatinya, Hayden nekat menggantikan temannya untuk ikut dalam misi selanjutnya.
Scene peperangan antar pesawat tempur dimulai.. dengan istilah-istilah penerbangan yang pasti dimengerti oleh papah, Angga, dan Rasen. Okay, I skip this scene.
Karena kesalahannya, that sexy eagle (begitu Hayden menyebut pesawat tempur itu) mengalami crash dan hilang ntah dimana. Tapi beberapa hari kemudian Hayden ditemukan walaupun mengalami luka yang cukup parah. Sementara di negara bagian lain, Emma dan Frederick telah melaksanakan pernikahannya.
Sudah jatuh, diturunkan pangkatnya pula. Iya itu yang dialami Hayden. Dia memang salah satu pilot yang handal, tapi melakukan sesuatu tanpa perintah dianggap sebagai suatu pelanggaran dalam dunia militer. Dan sanksinya adalah pangkat Hayden diturunkan menjadi Lieutenant II. Haha sumpah aku ngakak di bagian ini. Beda banget ya.. Kalo disini, pangkat Letnan satu lebih tinggi dari letnan dua, haha beda negara beda sistemlah. Selain itu ijin terbang Hayden dicabut dan dia dipindahtugaskan ke bagian admistrasi di negara bagian lain.
Denise yang sudah cinta mati pada Hayden rupanya masih tidak menyerah. Ketika Hayden sedang mabuk, they do this and that. What a smart woman, huh? Beberapa bulan kemudian Denise pun hamil anak Hayden. Hahay sinetrooonnnn! Ya dengan terpaksa Hayden bertanggung jawab dan menikahi Denise.
Beberapa bulan/tahun kemudian, scene beralih pada keluarga kecil Hayden-Denise dan bayi cantik mereka. Penulis novel ini hebat banget dalam memilih kata-kata sehingga aku yang awalnya kesel banget ma Denise jadi berubah simpati ke dia, malah berbalik kesel ma Hayden. Okelah Denise memang licik dengan membuat Hayden meniduri dia. Okelah Hayden tidak mencintai Denise. Tapi Hayden juga ga berhak dunk bersikap kasar pada Denise apalagi pada bayinya. Toh Denise adalah istri dan ibu dari Hayden. Mereka sudah menikah, jadi seharusnya Hayden bertanggung jawab pada keluarganya, bukan hanya mementingkan perasaannya sendiri. Denise juga sudah banyak berubah, dia menjadi istri yang baik dan Hayden, juga ibu yang baik bagi putri mereka.
Sementara itu kehidupan Emma juga jauh dari bahagia. Ternyata Fred terlibat dengan mafia pengedar narkoba. Aku gak begitu detail baca scene ini. Tau-tau si Fred tertangkap dan meninggal di penjara. Emma jadi janda deh, moga ga bertemu dengan Raffi'ah ya.. #PrayForEmma #JauhkanEmmaDariRafifiah
Balik ke Hayden. Sikap Hayden pada Denise dan bayinya ya gitu-gitu aja, dingin. Tapi ada satu scene yang bikin agak terharu juga. Ketika bayinya menangis dan Denise tertidur lelap, mau tidak mau Hayden yang menggendong anaknya. Pada saat itu barulah Hayden sadar betapa cantiknya malaikat kecilnya. Bayi itu tidak bersalah apa-apa dan tidak pantas mendapatkan sikap dinginnya.
Lalu ketika Denise masuk rumah sakit karena mengalami serangan jantung. Denise selalu hidup sehat, pola makannya teratur, jadi dokter menyimpulkan bahwa penyakit jantung Denise disebabkan oleh depresi dan tekanan psikis. Yah siapa lagi yang bisa membuat Denise seperti itu selain sang suami tercinta, Letnan Hayden Fantona.
Hayden pun sadar. Dia berjanji akan mengubah sikapnya menjadi lebih baik. Dia ingin Denise sembuh dan kembali merawat putri mereka. Hayden juga berjanji akan membuka lembaran hidup yang baru bersama Denise.
Hmm.. pada scene ini, berharap banget kalo pada akhirnya Hayden end up with Denise. Yang berlalu biarlah berlalu. Hayden memang tidak mencintai Denise, tapi mereka memiliki seorang putri yang butuh kasih sayang orang tuanya. Tidak bisakah itu menjadi alasan agar Hayden berusaha melupakan Emma dan belajar mencintai Emma? Hah.. Aku jadi lebay lagi ya.. Hahaha sorry sorry.. Aku terlalu mengerti perasaannya Denise.. Haha
Tapi seperti dalam kisah novel lainnya, dia yang cintanya paling tulus harus disingkirkan karena mencintai sang tokoh utama. Jacob Black, Severus Snape, Dan Morgan, lalu sekarang Denise. Huhuhuhu... Yah pada akhirnya Denise meninggal dunia.. Dan Hayden harus membesarkan putrinya seorang diri..
Beberapa tahun kemudian, Hayden kembali bertemu Emma. Ketika Hayden menanyakan kenapa Emma masih sendiri, Emma menjawab, "Karena aku masih melihat langit,"
Lalu, selesai. Iya selesai. Endingnya menggantung ya.. Tapi aku ga berharap Hayden & Emma balikan lagi.. Move on euy move on.. Hahaha
Wow.. Ini adalah review yang cukup panjang untuk buku yang tebalnya tidak sampai 200 halaman.. :)
Emma dan Hayden bertetangga dan bersahabat sejak kecil. Maka, benih cinta pun bermekaran di kebun hati masing-masing. Namun, takdir mengisahkan cerita yang lain. Hayden yang mencoba merengkuh cita-citanya menjadi seorang penerbang pesawat tempur harus menempuh akademi militer selama empat tahun, terpisah dari Emma yang tinggal dan bekerja di New York. Keduanya mencoba menjaga keutuhan cinta yang terpisah jarak, tapi jarak dan keadaan lah yang kemudian menumbuhkan benih keraguan di hati masing-masing.
Seteguh apa pun tekad dan setegar apa pun perasaan, gelombang cobaan demi cobaan yang menghantam biduk cinta mereka akhirnya menggoyahkan semuanya. Kelopak bunga asmara itu luruh satu demi satu. Mengguratkan luka pada sanubari terdalam. Mereka berjanji kepada langit. Hayden menjanjikan akan mengajak Emma terbang berdua. Di langit mereka. Masihkah janji itu merekatkan pondasi cinta mereka? Bagaimana dengan bangunan lain di sekitar mereka? Haruskah mereka tak mengacuhkannya?
Simak perjuangan Hayden dan Emma untuk menyatukan janji mereka untuk terbang di langit yang sama dalam novel duet karya Liz Lavender dan Raziel Raddian bertajuk Kiss the Sky ini.
Ketika membeli novel ini bersama beberapa novel terbitan Elf Books yang lain, saya menduga novel ini pun tak jauh dari negeri ginseng, Korea, nyatanya saya salah sangka. Korea hanya disebut sekali ketika terdapat adegan sarapan di sebuah restoran Korea. Selebihnya, novel ini bernuansa novel impor Amerika. Bahkan, seperti novel terjemahan. Tak hanya setting lokasi, karakternya pun asli mancanegara. Tak setitik pun unsur Indonesia ada di dalam novel ini. No problem sih..., meskipun saya tetap mengharapkan bahwa novel tulisan orang Indonesia harus tetap mengalirkan denyut lokalitas di dalamnya, meskipun lokasi ada di Kutub Utara sana, misalnya. Haha, just my subjectivity.
Kisahnya sungguh romantis. Kekasih tentara, bertempur di medan laga, sang pujaan hati setia menanti. Lalu kesepian, masuklah laki-laki sipil yang menggoda iman. Selintas pikir, saya mengasosiasikan novel ini dengan Dear John-nya Nicholas Sparks atau serial drama Army Wive’s meskipun dua-duanya saya sama sekali belum baca dan menontonnya. Jadi, tidak tahu, apakah benar ada kemiripan di sini. Saya hanya menduga. Maklum, kisah tentara-perempuan biasa ini rasa-rasanya menjadi kisah yang sudah sering diulas di Amerika sana, menurut saya. Hal tersebut, lagi-lagi membuat saya sedikit meragukan keaslian kisah cinta Emma-Hayden ini. Tapi, untunglah, saya belum membaca satu pun karya tulis berkisah hal itu sehingga saya membaca novel ini dengan lancar dan tanpa terganggu kilasan gambaran kisah yang lain.
Plotnya rapi. Jalan cerita juga mengalun sempurna. Saya bahkan sulit mengenali mana bagian yang ditulis oleh Liz dan mana bagian yang ditulis oleh Raziel. Itu bagus. Separuhnya karena belum mengenal gaya menulis keduanya dan baru novel inilah karya mereka yang saya baca, separuhnya lagi karena memang begitulah adanya novel ini. Sangat mudah dibaca dan dicerna. Meski tanda waktu sering melombat-lompat tak keruan, alur majunya membuat membaca novel ini menjadi nikmat. Haha, saya bukan pencinta alur mundur, soalnya.
Selain drama romantis nan mengharukan, novel ini juga mencoba memasukkan unsur laga melalui drama perang-udara, intrik politik, dan bisnis kotor. Namun sayang, menurut saya agak nanggung dan kurang kuat. Semacam tempelan biar kesannya novel ini kompleks. Saya masih butuh diyakinkan bagaimana gembong narkoba yang sedemikian kesohor bisa roboh oleh tiga orang biasa saja. Saya pun masih butuh diyakinkan bagaimana seorang calon senator tak memiliki tim kampanye yang solid. Maklum, saya penyuka serial Brothers and Sisters yang mana dalam satu penggal kisahnya ada yang bercerita soal itu, dan di serial itu saya benar-benar terkesima melihat perjuangan mencapai kursi senator. Di novel ini, hmmm, sedikit pun saya tak merasakan gegap gempitanya seseorang yang mencalonkan diri sebagai seorang senator.
Atau, lagi-lagi, kisah itu sekadar tempelan, karena toh yang ditonjolkan dalam novel ini adalah liku-liku asmara Emma-Hayden? Nah, kalau itu alasannya ya lain soal berarti. Tempelan ya tempelan, memang mudah lepas dan tak meninggalkan kesan. Weits, itu hanya menurut saya ya.
Terkhusus, saya suka gaya penulisan keduanya. Banyak kata-kata bagus yang bertebaran hampir di seluruh halaman. Ending-nya juga bikin surprise meski sudah bisa ditebak. Yang sedikit saya sesalkan juga adalah mudahnya semua penyelesaian bagi permasalahan Emma-Hayden. Tapi, lagi-lagi saya ragu, jangan-jangan saya nih yang belum percaya pada pepatah ini, “Kalau bisa dipermudah kenapa harus dipersulit?” Yah, well, sesuatu yang begitu dramatis seharusnya mendapatkan kejutan-kejutan yang lebih dramatis lagi, bukan hal-hal yang so predictable begitu.
Oiya, ini contoh kalimat yang saya suka. Sudah pernah saya tweet juga sih.
“Suatu saat aku akan mengajakmu terbang bersamaku, Em.” “Hanya berdua?” “Iya. Berdua. Ke langit kita.” (hlm. 31)
Atau yang ini:
Hayden... masihkah kau tiupkan ciuman-ciumanmu di ranting-ranting udara saat kau terbang? Agar aku bisa memetiknya, ketika langit yang kau lalui kini berada di atasku. (hlm. 161)
Hmm, namun demikian, typo masih bertebaran di beberapa bagian novel ini. bahkan, menuju bagian akhir, makin sering typo-nya, entah yang meriksa sudah tak sabar menunggu ending-nya atau geregetan karena bosan, sehingga tak lagi awas? Entahlah. Berikut beberapa di antaranya:
(hlm. 40) mempercayai = memercayai = kata ini digunakan secara tidak konsisten. (hlm. 43) penasehat = penasihat (hlm. 46) orangtua = orang tua = kata ini digunakan secara tidak konsisten. (hlm. 80) disaat = di saat (dipisah). (hlm. 82) resiko = risiko (hlm. 93) disampingnya = di sampingnya (dipisah). (hlm. 102, 126) apapun = apa pun (hlm. 124) = kata ini digunakan secara tidak konsisten. (hlm. 106) becanda = bercanda. (hlm. 123) disitu = di situ (dipisah). (hlm. 129) disini = di sini (dipisah). (hlm. 139) di masukkan = dimasukkan (digabung). (hlm. 164) anggota keluarga keluarga Fontana = duplikasi kata ‘keluarga’ (hlm. 183) cafetaria = cafeteria.
Selain itu, ada juga adegan yang agak mengganggu yaitu ketika flashback masa kecil Hayden dan kakaknya Frederick. Tak ada tokoh masa kini yang meminta suguhan rekaman itu, tiba-tiba saja adegan itu ditampilkan, sepertinya sih untuk mendukung gagasan mengapa hubungan kakak-beradik itu bisa sampai seperti sekarang ini. Namun, saya butuh sebab mengapa gambaran itu ditayangkan. Tidak sekonyong-konyong ditampilkan terus selesai begitu saja. Sudah begitu ada adegan seorang ibu yang memarahi anaknya dengan menggunakan kata “fitnah”. Hmm, menurut saya sih kata itu tidak cocok untuk anak-anak. Kata “menuduh” cenderung lebih gampang.
Baiklah, dengan dua sisi tersebut, baik dan kurang, saya tetap memberikan tiga bintang untuk novel ini. Pada suatu ketika saya benar-benar dibawa hanyut kisahnya, meski kemudian saya sadar airnya hanya selutut sehingga saya sampai tak larut.
An interesting just because it reads the title of the book. A wish for two people who love each other, but something happens that makes one of them question the decision it will make.
Well, saya dapat buku ini jam 5 sore dan selesai membaca jam 11 malam. Enam jam hanya berhenti beberapa menit untuk mandi dan lanjut lagi. Satu hal, novel ini keren. Mungkin karena cerita yang diangkat seputar angkatan udara. Berbau laga yang sudah jadi poin tambahan bagi saya.
Diceritakan Hayden yang menjadi tentara angkatan udara jatuh cinta dengan seorang gadis biasa bernama Emma. Seems usual story, but ...the great is Denise.
Ceritanya beralur cepat. Kedua penulis terlihat berusaha untuk menyamakan tulisan agar terlihat satu penulis. And they did. Saya masih belum bisa memastikan mana yang ditulis oleh Raddian dan mana yang ditulis oleh Lavender. Baru bisa menduga.
Ada beberapa typo yang saya temukan tapi itu tidak mengganggu. Ketegangan dalam cerita didapat dari dialog yang lebih mendominasi ketimbang narasi. Deskripsi narasi mengenai situasi dan keadaan sekitar menjadi kelemahan di novel ini. Saya hanya bermodal imajinasi saat mengingat film Air FOrces dipadu Dear Jhon.
Ada yang membuat saya bertanya-tanya. Cerita ini adalah cerita bersetting luar negeri, tapi masih saya temukan bahkan nyaris di setiap bab kalimat yang menggunakan bahasa inggris. Mungkin, agar terlihat lebih 'greget'? Secara subyektif, ini tidak mengganggu sama sekali. Hanya ada beberapa idiom yang membuat bingung saya harus membacanya bagaimana.
Overall, selamat. Sukses membuat hati saya jumpalitan karena tokoh favorit saya harus menghadapi nestapa.
Emma dan Hayden sepasang kekasih jarak jauh yang hubungannya baik-baik saja - menurut mereka pada awalnya. Kemudian muncul masalah-masalah tidak terduga. Pengorbanan demi pengorbanan dilakukan, semua tidak menghapus rasa cinta dan kesetiaan mereka. Akhirnya semua tak lagi berjalan lancar.
Plot pada novel ini tersusun sangat rapi dan berkesinambungan yang seakan terpikir dengan cerdas. Salut juga informasi-informasi mengenai pilot pesawat tempur yang membuat pembaca kagum. Seakan penulis berperan langsung di dalamnya.
Sayangnya, ceritanya agak flat namun tidak membuatku menutup novel dan tak lagi melanjutkan. Hanya saja perasaanku belum dibuat kacau oleh gambaran perasaan tokoh.
Dalam hal kelogisan, tidak perlu dipertanyakan lagi!
Bahasanya gak bertele-tele, ringan dan pas. Meskipun menurutku gak ada kalimat-kalimat yang nylekit tapi overall Kiss The Sky bagus banget!! And I wished, I could have a nice story likes Emma-Hayden someday :)