What do you think?
Rate this book


Hardcover
First published May 13, 2014
Pada 12 Juni 2005, Steve Jobs memberikan sambutan wisudanya yang pertama dan satu-satunya di hadapan para mahasiswa Standford University angkatan ke-114. Sesudah standford menggunggah video dan teksnya, sambutan Jobs jadi begitu terkenal. Videonya menjadi video sambutan wisuda yang paling banyak ditonton sepanjang sejarah, Pidato itu berisi tiga tema utama-kehidupan, cinta, dan kematian-bersesuaian dengan awal, pertengahan, dan akhir hidupnya.
Jobs meroket sepanjang hidup karena tahu hidup itu pendek; ia sering berkata ingin "meninggalkan jejak di alam semesta". Ia pun merancang hidupnya sesuai dengan niat itu; dan begitu melihatnya ia juga mengubah dunia kita.
Membaca buku ini sebenarnya bagi saya adalah semacam pelengkap setelah saya menonton sebuah film dokumenter keluaran tahun 2015 -which is adalah tahun yang sama buku ini diterbitkan (fyi saya membaca versi Bahasa Indonesia)- berjudul "Steve Jobs: Man in the Machine" yang merupakan suatu footage mengenai perjalanan hidup seorang Jobs mulai dari permulaan hidupnya yang memang tidak biasa hingga menjadi begitu luar biasanya hingga membuatnya mampu merubah dunia. Buku ini bagi saya merupakan suatu penerjemah dari banyak informasi mentah yang saya dapatkan ketika menonton film dokumenter yang saya ceritakan tadi. Ya, saya mungkin mengenal Jobs tapi tak begitu geeky sampai membuat saya mengerti mengenai dunia teknologi yang digelutinya, sekalipun saya tetap dibuat kagum akan filosofi hidupnya baik lewat film maupun buku yang menceritakan tentang sosoknya.
Diawal buku Anda akan disuguhi suatu "pengantar" apik yang akan membuat Anda semakin penasaran untuk melanjutkan:
"Jobs bukan orator yang membuat hadirin bergelora. Dia tampak gelisah selagi mendekati podium. Namun, selagi berpidato, suaranya menjadi makin bertenaga, seperti seseorang yang tahu bahwa apa yang dikatakannya itu benar dan sangat penting. Lalu terjadi sesuatu yang tak biasa: kami semua mulai memperhatikan."-Sheena Chesnut Greitens, lulusan Standford 2005
Seperti disampaikan Jobs pada pidatonya di depan lulusan Standford University, ia menekankan tiga hal yang akan berusaha diceritakannya yaitu
Cerita pertama ini merupakan suatu awal perjalanan Jobs sejak ia dilahirkan, mengenai bagaimana ibu biologisnya memutuskan untuk mencarikan orangtua adopsi bagi anaknya tersebut, alasannya bukan apa-apa, ia justru hanya akan memperbolehkan putranya ini diadopsi oleh orangtua berpendidikan karena ia ingin putranya dijamin hidup dan pendidikannya hingga ia besar nanti. Cerita ini menjadi menarik karena ia mengisahkan bahwa ia ditolak oleh keluarga pengacara yang akan mengadopsinya karena mereka menginginkan seorang anak perempuan. Jobs akhirnya diadopsi oleh keluarga yang menjadi tempat bernaungnya hingga ia besar kelak. Keluarga sederhana yang hanya mampu memberikan kehangatan dan kasih sayang untuknya, yang dengan lantang menjanjikan pendidikan yang layak bagi bayi laki-laki yang saat itu mereka belum tahu bahwa berdekade-dekade kedepan akan mampu merubah dunia itu. Ibu angkatnya tidak pernah kuliah bahkan Ayah angkatnya ternyata tidak lulus SMA, namun mereka menepati janjinya pada ibu Jobs dengan memberikan akses pendidikan yang layak dengan memasukkan Jobs ke Reed College. Titik-titik ini terus berlanjut dengan keputusan Jobs untuk drop out karena katanya ia tidak mendapatkan nilai dari apa yang dipelajari selama enam bulan awal ia belajar disana. Ada banyak cerita bermula dari sini, mulai bagaimana Jobs sempat ketakutan dengan jalan yang diambilnya, hingga keputusan-keputusan hidup yang diambil setelahnya.
Cerita pertama ini ditutup Beahm dengan mengutip kiranya satu paragraf pidato Jobs mengenai titik-titik yang terhubung, dengan versi aslinya kira-kira seperti ini
"you can't connect the dots looking forward; you can only connect them looking backward. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future."
"Woz dan saya memulai Apple di garasi rumah orangtua saya ketika kami berusia 20."
Memulai dengan memberikan nama aneh yang mereka tujukan bukan untuk apa-apa, katanya hanya sekedar nama pertama yang muncul ketika mereka memikirkan sebuah nama untuk perusahaan impian yang mereka mulai dengan ekspektasi yang tidak begitu tinggi awalnya. Hingga akhirnya Jobs dan Woz berhasil mengukuhkan perusahaan tersebut dalam jajaran aset dengan nilai tertinggi di dunia, dengan produk-produk handal revolusioner yang mengguncang dunia. Bagian ini pula menceritakan mengenai bahwa kegagalan nampaknya memang sebuah keharusan untuk kelak akan membuahkan kesuksesan. Bahwa Jobs menghadapi banyak hal untuk menjadi Jobs yang kita kenal, untuk selanjutnya menjadi Jobs yang kita kenang hingga hari ini. Puncaknya adalah ketika ia dipecat dari perusahaan yang didirikannya sendiri, tentang konflik yang ada dan bagaimana akhirnya masalah tersebut memberikan challenge baru baginya untuk melakukan hal lain yang ia pikir mampu dilakukannya. Hingga akhirnya mendirikan perusahaan baru bertajuk NeXT, melanjutkan kecintaannya pada usaha pembuatan video game, bekerja pada perusahaan Walt Disney hingga Pixar. Yang terpenting bagi Jobs adalah mencintai apa yang dikerjakan, maka tidak akan masalah seberapapun halangan besar menghadang, kita tahu akan melaluinya selama kita percaya bahwa apa yang kita kerjakan adalah berharga. Segalanya itu bagi Jobs merupakan hal tak ternilai yang kelak amat disyukurinya, yang membuatnya dengan bangga menceritakan kegagalan demi kegagalan yang dihadapinya untuk kemudian membayar mutlak dengan keberhasilan yang mengagumkan.
Bagian terakhir dari buku ini sebagaimana disampaikan Jobs dalam pidato aslinya di Stanford University kala itu adalah mengenai kematian. Ia menceritakan bagaimana ia terdiagnosis kanker pankreas dan bahwa ia bahkan tidak tahu pankreas itu apa dan ada dibagian mana dalam tubuhnya. Pada bagian ini ia mengejutkan wisudawan Standford untuk merenungkan kematiannya sendiri. Bukan untuk memohon simpati, justru Jobs disini dengan bijak mengingatkan bahwa waktu kita di dunia ini tidak banyak, jadi kelak terimalah kematian jika memang sudah saatnya datang. Terimalah kematian dengan lapang karena kita tahu telah melakukan apa yang kita mau, bahwa kita telah meninggalkan jejak pada dunia.
"Waktu kita terbatas. Jadi, jangan menjalani hidup orang lain, jangan hidup dalam pemikiran orang lain. Yang terpenting, beranilah mengikuti hati dan intuisi kita karena mereka tahu apa yang kita inginkan. Yang lainnya? tidak terlalu penting."
Pada akhirnya saya memberikan empat bintang untuk buku ini, rasanya versi Bahasa Indonesia yang saya baca cukup rapi dan tidak menghilangkan esensi dari bahasa aslinya. Terlepas dari beberapa bahasan yang mungkin saya sendiri juga kurang paham maknanya karena kaitannya dengan bahasa teknologi yang awam bagi saya, saya menyukai cara penulis bercerita. Serta penggalan-penggalan kisah hidup Jobs yang dipilih penulis dalam buku ini seakan pas untuk melengkapi tiga poin-poin besar bahasan yang berusaha disampaikan Jobs dalam pidatonya. Bagi saya buku ini cocok bagi mereka yang tidak terlalu menyukai bahasan biografi atau autobiografi yang terlalu panjang dan bertele-tele. Buku setebal 245 halaman ini rasanya bisa dibaca sekali duduk karena bahasanya ringan dan tidak berat. Namun bagi penyuka biografi atau autobiografi lengkap mungkin buku ini akan terasa kurang karena bahasannya yang terlalu superfisial. Bagaimanapun, bagi saya buku ini tetap cukup berhasil pada tujuannya untuk menggugah dan menginspirasi.