Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dari Penjara Ke Penjara Bagian Satu

Rate this book
Buku sejarah hidup Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia yang ditulis secara pribadi ketika beliau berada dalam Penjara di tanah airnya sendiri. Buku ini terdiri dari Tiga jilid, dimana jilid pertama ditulis oleh beliau ketika berada di Penjara Magelang. Hampir sebagian hidup Tan Malaka dihabiskannya di dalam penjara, akibat aktifitas politiknya yang anti kolonialisme. Namun pada kenyataannya, Tan Malaka tidak hanya dipenjarakan oleh Pemerintah kolonial, tp juga oleh pemerintahan bangsanya sendiri yang berbeda posisi politik dengan Tan Malaka. Jilid pertama ini mengisahkan kehidupan beliau disekitar masa pemenjaraan oleh pemerintah Hindia Belanda dan pemerintah Filipina.

303 pages, Paperback

First published January 1, 1948

93 people are currently reading
1490 people want to read

About the author

Tan Malaka

23 books334 followers
Tan Malaka (1894 - February 21, 1949) was an Indonesian nationalist activist and communist leader. A staunch critic of both the colonial Dutch East Indies government and the republican Sukarno administration that governed the country after the Indonesian National Revolution, he was also frequently in conflict with the leadership of the Communist Party of Indonesia (PKI), Indonesia's primary radical political party in the 1920s and again in the 1940s.

A political outsider for most of his life, Tan Malaka spent a large part of his life in exile from Indonesia, and was constantly threatened with arrest by the Dutch authorities and their allies. Despite this apparent marginalization, however, he played a key intellectual role in linking the international communist movement to Southeast Asia's anti-colonial movements. He was declared a "hero of the national revolution" by act of Indonesia's parliament in 1963.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
256 (54%)
4 stars
120 (25%)
3 stars
58 (12%)
2 stars
18 (3%)
1 star
17 (3%)
Displaying 1 - 26 of 26 reviews
Profile Image for Lanang.
2 reviews2 followers
June 16, 2009
Membaca Tan Malaka memang tak pernah habis dan membosankan. Khusus untuk dari penjara ke penjara, saya seperti membaca sebuah catatan demonstrannys soe hoe gie, tentunya, dibandingkan dengan CD, dari penjara ke penjara lebih menyenangkan!. Petualangan dari bayah, suatu tempat terkecil di banten pesisir sampai dengan luar negri dan penyamaran demi penyamaran tan malaka, diceritakan dengan sangat mendetail dan sekali lagi : sangat tidak membosankan untuk tidak dibaca.
Profile Image for Wiranggeni.
10 reviews
October 14, 2008
buku ini merupakan otobiografi Tan Malaka yang ditulis sediri. membaca buku ini menambah wawasan kebangsaan, bagaimana seorang anak bangsa dengan gigih memperjuangkan cita-citanya untuk meningkatkan derajat bangsa Indonesia.
1 review1 follower
Read
August 5, 2012
It is a good book to be read for someone who wants to know closer about Tan Malaka and his dream ideology of Marxism and Islamism relationship and its influence towards Indonesian political and revolution development during colonial period in 1945 onward.
Profile Image for Gede Suprayoga.
176 reviews6 followers
May 23, 2018
Membaca buku ini dengan edisi tahun 2014 dari Penerbit Narasi. Sebagai sebuah otobiografi, buku ini terlihat lebih fokus pada perkembangan politik internasional dan masa-masa perubahan cepat geografi politik di dunia saat ini. Dalam perubahan tersebut, Tan Malaka melihat dirinya sebagai bagian dari perubahan. Peran dirinya sebagai agen perubahan, menurut saya, coba diperkecilkan (atau sengaja dikecilkan). Dalam beberapa bab, Tan Malaka justru menujukkan peran yang menonjol sebagai pejuang pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan melalui peran partai-partai sosialis di negara-negara Eropa (Belanda, Jerman) dan Asia (Tiongkok, Filipina)

Melalui buku ini, saya bisa melihat Tan Malaka sebagai individu yang visioner dan intelektual. Visi atas kemerdekaan bangsa Indonesia telah ada dalam benaknya pada masa-masa hidupnya di negara Belanda, jauh sebelum Budi Utomo terbentuk maupun Sumpah Pemuda dideklarasikan. Tan Malaka ikut menggerakkan partai-partai sosialis di dalam negeri dan luar negeri dalam upaya penolakan terhadap implerialisme dan perjuangan kemerdekaan. Otobiografi ini justru menyiratkan perannya yang sentral. Ia memandang perjuangan kemerdekaan atas imperialisme lebih luas lagi sebagai hak segala bangsa yang juga mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang universial, sehingga tidak hanya merupakan nasionalisme sempit.

Tan Malaka adalah salah satu tokoh bangsa yang jarang disebut dalam pergerakan kebangsaan, meskipun pemikirannya diakui berpengaruh besar oleh sebagian pihak. Barangkali, pandangan politiknya yang sedikit berseberangan dengan Soekarno dan Hatta pada saat itu menjadikannya agak terpinggirkan. Berbeda dengan Soekarno, Tan Malaka menganut politik "garis keras" karena ia menentang segala bentuk penindasan dan kerap tidak mengenal kompromi untuk berjuang ke arah yang lebih konfrontatif. Melalui otobiografi ini, gagasan dan tindakan Tan Malaka adalah wujud kejujuran dan hati nurani dari seseorang yang mampu memahami kondisi bangsanya yang tertindas dan menderita karena penjajahan.
Profile Image for Day Nella.
248 reviews5 followers
June 10, 2025
Bila kalian pernah membaca The Nightingale. Perjuangan Isabelle dari penjara satu ke penjara lainnya yang membuatnya kehilangan jati dirinya, kematian jauh lebih diharapkan, agar tubuh dan jiwanya tidak semakin hancur. Nyatanya dia tetap hidup sebagai pengingat bahwa dia pejuang perempuan yang rela berkorban meski perjalanannya hanya setengah dari perjuangan Tan Malaka, tapi entah mengapa aku merasa semua memiliki kesamaan, adanya Hitler yang merupakan motivasi bagi penjajah berada di balik semua peperangan yang terjadi di hampir penjuru dunia. Setiap kekejian yang terjadi begitu terbuka dan diceritakan amat detail. Dan para penjajah berkedok para pribumi yang melakukan ATM akan apa yang dilakukan Hitler kepada mereka yang dianggap pemberontak.
-
Tan Malaka yang awalnya diberikan tugas untuk memberikan pendidikan kepada para buruh atau kuli di Deli, dibuat tercengang karena jauh dari realita. Pihak penjajah tidak menyukai pendidikan tulis menulis. Mereka menginginkan para pribumi yang terjajah diajari mencakul atau kerja di lapangan dengan imbalan untuk para buruh yang amat kecil. Tan Malaka terpatik, tidak bisa membiarkan penjajahan terjadi, dan tidak ingin mengkhianati para pribumi. Alhasil semua yang dilakukannya dianggap melanggar dan dirinya menjadi buronan, ditangkap dan dibuang jauh dari Hindia Belanda. Menyerah? Tidak, Tan Malaka bergabung dengan partai komunis lainnya di hampir beberapa negara yang memiliki idealisme yang sama.
-
Membaca buku ini banyak hal yang pada akhirnya aku ketahui. Menyangkan buku pelajaran sejarah di sekolah tidak mengungkap banyak hal yang sebenarnya terjadi pada masa Hindia Belanda seolah ditutupi, tapi dari apa dan untuk apa? Kekecewaanku sebagai pembaca juga ikut hadir pada Soekarno, Bung Hatta dan lainnya. Ikut sedih karena bisa melenceng saat itu. Meskipun pada akhirnya merdeka.

Profile Image for Friska Titi Nova.
96 reviews6 followers
June 30, 2021
Entah mau berapa sering ia berganti nama, Ilyas Hussein dan Hasan Gozali di Indonesia, Ong Song Lee di China, Burma (Myanmar) Singapura, Elias Fuentes di Filipina, Tan Malaka selalu "ditemukan" berbeda, dan secara natural selalu diminta pendapatnya dan memimpin kaum pergerakan kemerdekaan.

Cita-citanya mulia dan sederhana saja, Tan Malaka yang awalnya adalah seorang guru lulusan perguruan tinggi di Belanda, berpikir bahwa mendidik anak-anak Indonesia sebagai pekerjaan tersuci dan terpenting sampai di saat terakhir bukunya rampung ditulis.

Alas, cara berpikirnya yang kritis dan "berfilsafat" dianggap visioner dan sering kali ia ditodong untuk berbicara di forum pemuda yang lantas membuat ia ditangkap dan dibuang dari Indonesia oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada masa itu. Petualangannya pun berlanjut dari Filipina, China, Singapura, Burma, Malaya (Malaysia). Bahkan sempat pula ia berjumpa dengan Sun Yat Sen dan bercakap-cakap dengan tokoh pergerakan nasional China tersebut.

Dua puluh tahun mengembara di luar negeri, Tan Malaka kembali ke Jakarta, Indonesia. Ia tidak mencari popularitas, bahkan ia merasa lebih baik bersembunyi dan tidak dikenal. Tan Malaka ingin hidup dekat dengan rakyat. Ia menangis, tertawa, menderita, susah dan senang bersama kaum romusha di Bajah Kozan (Banten).

Jika Tan Malaka bicara tentang rakyat, tentulah ia seseorang yang punya hak untuk bicara mewakili mereka. Ia bukan seorang politisi "wangi" yang sekadar memoles kata-kata indah, dan menggunakan perbedaan (suku, agama, ras) untuk memecah belah bangsa. Nama seorang Tan Malaka adalah sebuah kehormatan. Ia adalah seorang bapak bangsa.

Semoga buku ini ada yang menerjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Kemarin udah ada temanku nanyain soalnya. Sudah ada belum yaa?
Profile Image for Muhammad Shadr.
13 reviews
December 31, 2023
Tan Malaka adalah nama yang sepatutnya tidak dilupakan dalam catatan bangsa. Sulit bagi kita untuk menemukan sosok seperti beliau: pintar, cerdik, dan punya tujuan mulia sebaik-baiknya demi rakyat Indonesia. Buku ini merupakan autobiografi yang sangat relevan untuk dibaca anak-anak di sekolah maupun kaum cendekia di universitas.

Bagi sebagian orang, kisah Tan Malaka seolah-olah terlalu "main character", dan memang begitulah adanya. Kesan yang sama mungkin akan diperoleh ketika kita membaca kisah pahlawan nasional lainnya. Namun, dalam buku ini, Tan Malaka melukiskan bagaimana ia, sama seperti rakyat kebanyakan. Masa kecilnya dipenuhi dengan kenakalan, ada banyak orang di sekelilingnya yang membantu dalam banyak hal, serta ada momen ketika uang terpaksa mesti dihemat. Ia tidak menggambarkan dirinya seperti pahlawan yang sulit dijangkau. Sebaliknya, Tan melalui tulisannya justru menggambarkan bahwa manusia biasa yang punya tekad kuat dan mau berjuang demi tujuan mulia kelak akan dikenang.
Profile Image for Andika Fernando.
7 reviews
October 6, 2021
Membaca buku ini laksana membaca sebuah novel kehidupan seorang pelarian. Dicari, diburu, kesepian, berpindah-pindah, berganti identitas mejadi hal yang jamak ditemui. Tidak terbayangkan bagaimana jika hal ini dialami oleh manusia di era saat ini. Namun semua hal ini dilakukan demi satu tujuan mulai, kemerdekaan republik Indonesia, terlepas dari belenggu imperialisme, merdeka 100 persen merujuk istilah dan salah satu karya tulis Tan Malaka.
8 reviews
May 31, 2020
Buku ini membuka wawasan kebangsaan kita, bagaimana para founding father bangsa kita dengan berbeda ideologi mewujudkan kemerdekaan itu., Tan Malaka sendiri dengan komunisme. Jujur buku ini membuka pandangan saya tentang apa itu Komunis yang diperjuangkan oleh Tan Malaka, ternyata sangat berbeda dengan pandangan umum tengtang komunis saat ini. Buku ini aditulis oleh beliau Tan Malaka sendiri.
Profile Image for Sintesarasa.
8 reviews
September 26, 2020
Membaca perjuangan guru yang baru saya tau dia dasarnya adalah guru. Saya juga baru tahu, zaman dulu ternyata untuk bisa membeli buku Tan Malaka bersedia mengencangkan sabuk dan mengurangi makan. Ditambah lagi di masa serba kekurangan, beliau mampu menguasai banyak bahasa seperti Inggris, Perancis, Belanda, Tagalog dan Tiongkok.
4 reviews
February 5, 2020
Menceritakan kondisi negara yang ditinggali Tan Malaka selama masa pelariannya. Konflik antara komunis dengan nasionalis di China, kondisi perjuangan revolusioner di Filipina. Selain itu buku ini juga menguraikan cara pikir Tan Malaka terhadap persoalan yang ia hadapi.
1 review
January 8, 2020
Bagus
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Amarilldo Rizkia.
17 reviews
August 25, 2008
Tan Malaka, mungkin dia adalah orang nomor 1 di Indonesia, kisah perjalanannya ini memberikan gambaran tentang apa itu kemerdekaan, tapi kenapa namanya selalu dipendam, apakah hanya karena dia seorang komunis???
Profile Image for bukan saya.
11 reviews
January 29, 2014
Bahasa yang digunakan masih agak-agak gaya bahasa lampau dan kemelayu-melayuan, tapi membaca buku ini kita seakan dibawa ikut ke perjuangan Tan Malaka saat itu serta diajak ikut serta merasakan apa yang dirasakan oleh beliau. Bacanya harus cukup pelan biar ga bingung :D
Profile Image for Abieffendi.
65 reviews9 followers
April 20, 2014
5-stars for its historical value, it's autobiographical perspective, and story's that's at least as interesting as fiction novel-book.
Profile Image for Didi Agus.
2 reviews
Read
November 12, 2015
ok
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
Read
December 29, 2022
This book are very great and emotional
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Rhea.
263 reviews73 followers
Want to read
May 27, 2011
bang Gieb punya nih dari 1-3, sayang sekali tak dijual.
Displaying 1 - 26 of 26 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.