“The sexiest novel I’ve ever read.” Betty W. Kusuma, penulis novel “Aku Seorang Gay”.
“Novelnya bagus, ‘dalem’, dan kehidupan di dalamnya seperti kehidupan yang kita ‘kenal’ banget. Ceritanya juga detail. Seperti membaca pengalaman pribadi seseorang. Anyway…, semoga laris, yaaa…. ” Mia Arsjad, penulis novel “Rona Hidup Rona”.
“Jangan sentuh buku ini jika tidak mau tertampar-tampar oleh makna cinta!!!” Helmy Feriansyah, artis.
“Rangga always do the best! This novel is so deep, mature, and full of surprises. Every scene made by love and lust as simple as beautiful. Best recommend!” Aline Laksmi, model, penulis, art lingerie designer.
“…Bukan cerita yang biasa. Life of gay. Pengetahuan baru buat kita semua.” Avrira Azzahra, penulis serial “Shalikha”.
“Sebuah novel yang menambah kekayaan literatur roman Indonesia. Bertemakan LGBT dan berani mengangkat opera Italia sebagai jiwa dari keseluruhan cerita dengan cukup saksama….” Aditya P. Setiadi, dosen Universitas Indonesia dan pemusik.
“Membaca novel ini membuat saya lebih dalam memaknai cinta. Sungguh, ini adalah novel yang jujur dalam memaparkan arti cinta.” Oka Fahreza, penyiar Radio 89,5 JIZ FM Yogyakarta.
Ketika sang surya pagi menembus sela-sela jendela, aku tersadar, ternyata aku tidur dalam dekapannya. Aku pun merapat sama eratnya. Di sini, di balik dadanya, aku dapat melihat sinar matahari pagi membelai wajahnya yang rupawan dan melukiskan segala keindahan di sana….
Rangga Wirianto Putra, pria kelahiran 30 Oktober 1988 ini sudah akrab dengan tulis-menulis sejak masih duduk di bangku SMP. Ketika SMA, ia aktif menelurkan hasil karyanya berupa cerita pendek yang dimuat di mading sekolah. Cerpennya yang berjudul “Bersamamu Walau Hanya Sekejap” pernah memenangkan Lomba Menulis Cerpen tingkat SMU. Ketika kuliah, cerpennya juga pernah dimuat di majalah kampusnya. Putra tunggal pasangan Mario Antonio dan Wismanelli ini merupakan Alumni Fakultas Psikologi dengan konsentrasi Klinis di salah satu universitas terkemuka di Yogyakarta. Ia lebih memilih menjadi seorang Psikolog daripada ikut terjun ke dunia ekonomi seperti ayahnya yang seorang bankir dan ibunya yang seorang guru ekonomi.
Pria yang mampu berbahasa Inggris, Prancis, dan sedikit Italia ini mengaku bahwa selain menyusun draft buku keduanya, ia juga sibuk sebagai seorang fotografer. Darah fotografi ini ia dapat dari sang kakek yang merupakan seorang fotografer kenamaan.
Kegemarannya selain membaca buku dan menulis adalah mengoleksi lukisan dan mendengarkan serta mempelajari partitur dan libretto opera Eropa. Bahkan, ia bercita-cita ingin menulis sebuah opera dengan libretto lengkap karena obsesinya pada composer kesayangannya, yaitu Mozart. “Mozart aja umur sembilan belas tahun udah menghasilkan sepuluh opera. Nah, elu apa???” Kata-kata itu yang memacu semangatnya untuk terus menjadi lebih baik dari hari ke hari. Novel perdananya ini adalah bentuk lain dari tugas akhirnya yang juga membahas tentang kehidupan homoseksual yang ditinjau dari segi psikologis.
Jika ingin berdiskusi dengan penulis, bisa menghubunginya melalui email: rangga.photography@gmail.com; YM: ranggadek@yahoo.com; Facebook: Rangga Wirianto; juga Twitter: @rangga_putra.
Saya tidak akan me-rating buku ini, karena saya tidak menyelesaikannya. Bukan... bukan karena akhir ceritanya yang membuat saya berhenti membaca ^^
The Story Mengambil setting kota pelajar, buku ini bercerita tentang Reino seorang mahasiswa yang juga berprofesi sebagai gigolo. Dia berasal dari keluarga broken home (sewaktu masih kecil, ayahnya pergi meninggalkan dia dan Ibunya, begitu saja, dengan seorang gadis muda). Reino bersyukur karena mempunyai ibu seorang pekerja keras hingga dia mampu berkuliah di universitas negeri di Yogyakarta. Sayangnya, di kota itu, Reino terjebak dalam pergaulan bebas dan memaksanya untuk melacurkan diri agar tetap bisa memenuhi gaya hidupnya.
Lewat sebuah unfortunate events (Reino digebukin oleh segerombolan pemuda dan ditinggalkan begitu saja di jalan), Reino bertemu dengan Ardo. Ardo adalah sosok pria ideal bagi siapa saja. Sesama pria akan iri dengan pencapaiannya dan para wanita akan mengantri untuk menjadi calon istrinya. Pun demikian dengan Reino. Dia terpesona dengan kedewasaan dan kepandaian Ardo. Tapi lebih dari semua itu, Reino terpikat oleh perhatian tulus yang diberikan Ardo kepadanya.
Keduanya kemudian menjalin cinta. Dalam cinta Ardo, Reino menemukan kedamaian dan ketenangan yang tidak pernah dia temukan. Reino pun kembali fokus dengan kuliahnya. Hingga ujian bagi cinta mereka pun datang.
Bagaimana akhir dari kisah cinta keduanya? hmmm....find out yourself ^^
The Characters Reino >>> is the chick with the dick. Period. Ardo >>> tipikal pria sukses masa kini, berjuang dari nol hingga puncak karirnya Nyta, Maia, Aby >>> trio sahabat Reino
*** Saya senang karena penulisan dan penerbitan novel Indonesia bertema LGBT terus berlanjut, buku ini salah satu buktinya. The Sweet Sins adalah novel Indonesia bertema LGBT ketiga yang saya baca, sebelumnya saya membaca Lelaki Terindah dan antology Rahasia Rembulan. Dan buat saya Rahasia Rembulan-lah yang paling berkesan.
Seperti yang saya bilang di awal, saya berhenti di halaman 266. Bukan karena endingnya tapi karena:
1. Gaya bahasa yang digunakan Mnejadi jujur dan blak-blakan tidak harus menggunakan short-fast-quick dialog bahasa gaul, bisa juga lewat narasi bahasa Indonesia yang baik dan benar. Siapa bilang Bahasa Indonesia itu kaku? Bahasa Indonesia itu indah dan dalam! Saya kesal, karena kecenderungan di novel-novel yang terbit sekarang ini menggunakan bahasa gaul!
2. The corny, lame, cheesy lines "Sayang, sayangnya aku masih marah?"
"Hey sayang, sayangnya aku kenapa?"
Ardo: Rei, kamu tahu nggak berapa jarak yang ditempuh cahaya bulan hingga sampai ke bumi dan menyinari kita malam ini? Rei: Mana aku tahu. Aku bukan ahli meteorologi. Ardo: Ratusan ribu kilometer. Jauh banget, kan? Rei: He-eh... Ardo: And you know what, lagi-lagi aku adalah orang yang beruntung. Rei: Beruntung kenapa? Ardo: Karena aku tidak perlu menempuh jarak sejauh itu hanya untuk berada di dekatmu
EXCUSE MEEEEE....
3. Pengulangan love -making-seasons Oh c'mon, be creative!
4. Terlalu sering menggunakan kata "sayang" Sadar tidak sih, terlalu sering diucapkan, pada akhirnya kata tersebut akan kehilangan makna?!
5. Humor yang garing Alih-alih menampilkan humor-humor cerdas layaknya mahasiswa dan seorang newscaster, buku ini justru lebih banyak menampilkan humor kelas Olga Syahputra.
Rei:...kira-kira mereka berdua lagi ngapain ya sekarang? Ardo: Nggak tau. Kamu buru-buru nggak? Rei: Enggak. Emang kenapa? Ardo: Mau aku tanyain ke 108?
6. Ardo Bagaimana mungkin, seorang anak tidak mengetahui kondisi keluarganya? Padahal dibilang dia mengorbankan segalanya untuk keluarganya, bagaimana mungkin dia tidak tahu adiknya kerja di pabrik, bapaknya sakit.
Helloooooooooooo...
*breath-in* *breath-out*
Fiuh...
Tapi bagaimana pun juga, saya berharap novel-novel bertema LGBT terus bermunculan di sini, tentu dibarengi dengan peningkatan kualitas.
Love is about YOU and ME, not about THEM.” (hlm 183)
Sebuah kisah jujur tentang mencintai, itulah Sweet Sins. Adalah Reino Regha Prawira, seorang mahasiswa sekaligus merangkap gigolo, dan Ardo Praditya, seorang eksekutif muda kenamaan dengan karir cemerlang. Keduanya sama-sama dipertemukan oleh ikatan takdir untuk saling bertemu, saling merawat, saling menguatkan, saling mencintai. Semua tentang pasangan ini adalah serbasempurna, Rei yang muda dan tampan dan atletis, serta Ardo yang cerdas, dewasa, pengertian, dan kekasih yang hebat. Hanya satu yang tidak sempurna—dan memang tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini—mereka adalah dua lelaki yang saling mencintai satu sama lain.
“Karena setiap orang mempunyai alasan sendiri untuk jatuh cinta.” (hlm 240)
Rei yang kehilangan sosok ayahnya merasa menemukan perlindungan emosional dari sosok Ardo, sementara Ardo dengan orientasi seksualnya yang agak berbeda juga menemukan keindahan dalam diri Rei. Begitu rupa tautan terlarang yang mempersatukan keduanya sehingga cinta sejenis itu bukannya penuh lubang tapi malah saling melengkapi dan menguatkan. Tanpa sadar, hubungan terlarang itulah yang menghebatkan keduanya. Berkat Ardo, Rei mulai meninggalkan dunia gelapnya sebagai gigolo yang setiap malam clubbing dan berakhir di ranjang tante-tante girang. Keduanya sama-sama bertumbuh dewasa dalam cinta itu. Sebagaimana sebuah ungkapan dalam buku ini, cinta itu mendewasakan, cinta itu menghebatkan. Dari Ardo, Rei belajar banyak hal tentang pelajaran kehidupan, tentang pekerjaan, tentang bersyukur, dan tentang cinta itu sendiri. Yang ada di antara Rei dan Ardo bukan semata cinta fisik, tapi keduanya adalah manifestasi cinta murni dalam bentuk yang agak “di luar kebiasaan”.
“Love is about chemistry but sex is about physics. Love is nude but sex is naked. Love is erotic but sex is pornography.” (hlm 187)
“Cinta itu diperjuangkan. Yang datang sendiri itu bukan cinta tapi nafsu.” (216)
Terlepas dari hubungan tidak biasa di antara kedua pria ini, Sweet Sins tidak terlalu menimbulkan rasa mual di perut sebagaimana pembacaan Lelaki Terindah. Ada begitu banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan selain gambaran tentang hubungan fisik dan kasih sayang sesama pria. Sweets Sins mengajak kita untuk memandang orang-orang yang berbeda dengan sudut pandang berbeda. Untuk memandang dari banyak sisi, dan untuk belajar mensyukuri cinta, bagaimanapun cara cinta itu termanifestasi.
"Berterimakasihlah sesering mungkin. Bersyukur atas segala kelebihan, menerima kekurangan, mencari persamaan, dan menghormati perbedaan.” (hlm 156)
“Jangan pernah mengingkari cinta karena cinta adalah salah satu dari rahmat Tuhan yang paling besar yang Dia turunkan ke dunia. Karena cintalah manusia ada sejak dahulu, sekarang, dan untuk masa yang akan datang. (hlm 180)
Keindahan macam apa yang dipandang Ardo dari sosok Rei, saya tidak bisa mengambarkannya. Saya malah terus merasa kalau Rei ini cewek dalm novel Mira W. Tapi. Sebagai mana kata Ardo, tidak semua keindahan itu tampak sama di mata orang. Jika pembaca bertanya keindahan macam apa yang membuat Ardo berani mengandeng tangan Rei di Telaga Sarangan, maka jawabannya mungkin:
"Kadang, keindahan adalah bukan untuk dideskripsikan. Hanya untuk dinikmati.” (hlm 231)
Dan, ketika cinta terlarang di antara keduanya makin kuat, datanglah masa-masa ujian cinta. Setelah mendapatkan, kita harus mempertahankan cinta itu. Masalahnya, cinta Rei dan Ardo sangatlah rumit. Cinta mereka sudah berbeda sejak awal, dan keduanya sama-sama menyadari bahwa cinta mereka tidaklah abadi, walaupun perasaan kasih di antara keduanya tak terhapuskan. Ardo diminta untuk menikah oleh orang tuanya. Sebuah permintaan terakhir seorang ayah yang ingin melihat anaknya bahagia menjelang ajal, sebuah permintaan yang tak kuasa ditolak oleh Ardo. Kegalauan pun melanda. Rei tahu bahwa hubungan nya dengan Ardo tidak akan pernah mulus sejak awal. Terlalu banyak pandangan yang berbeda, norma yang melarang, serta batasan-batasan sosial serta alamiah yang menghalangi keduanya untuk bisa menjadi kekasih abadi. Rei pun sadar, ia harus rela melepaskan untuk mencintai.
Mengambil tema yang agak mirip dengan Lelaki Terindah, novel Sweet Sins adalah sebuah kisah tentang pertemuan, perjuangan cinta, dan kemudian kerelaan untuk melepaskan. Namun, saya kurang menyukai ending Lelaki Terindah yang masih galau. Sweet Sins diakhiri dengan manis, dengan penutup yang indah layaknya opera aria yang dilantunkan dengan mempesona oleh sang diva. Dalam bab terakhir, berderet-deret makna dan petuah kehidupan yang dipaparkan dengan begitu lembutnya. Tentang kerelaan berkorban dan tentang melepaskan sebagai bentuk tertinggi dari mencintai.
Memang, beberapa bagian dalam novel ini cukup erotis, cukup vulgar dalam menggambarkan adegan seksual antar sesama pria. Tapi, kevulgarannya merupakan cerminan dari kejujuran buku ini. Bahwa Sweet Sins bukan sekadar cerita yang terlihat pura-pura, jelas sekali tidak muncul kemunafikan dalam ceritanya. Rei dan Ardo memang saling mencintai dan mereka melakukan hubungan yang terlarang, tetapi pada akhirnya, keduanya akan menemui ujung kehidupan cinta yang paling indah dengan sangat manisnya.
Siang dan malam, panas dan dingin, tambah dan kurang, hitam dan putih, materi dan non materi, fisik dan jiwa, yin dan yang, begitulah alam semesta ini bekerja. Semuanya saling berpasangan, saling melengkapi, saling menguatkan. Cinta itu, sekali lagi, memang menghebatkan.
1 bintang untuk temanya. 1 bintang lagi untuk semangat menulis novel setebal 400+ halaman ini.
Ada beberapa hal yang mengganggu dan mengurangi kenikmatan membacaku.
1. latar belakang cerita pertemanan Rei dan siapa itu temen cowoknya yang akhirnya jadian sama temen ceweknya Rei. Ya masa dia fine-fine aja digodain cowok dan dituduh gay sampe kemudian diputusin ceweknya? Kecuali kalo dijelasin si cowok udah bosen sama ceweknya itu.
2. metamorfosis Rei dari seorang cowok straight bahkan gigolo sampe akhirnya dia menjadi seorang gay, menurutku terlalu... mudah. oke, Rei punya latar belakang kehidupan yang--secara klise berpotensi menjadikan seseorang menjadi gay. Tapi.. ya masa semudah itu? Apa karena Ardo terlalu sempurna dan menggiurkan untuk ditolak? Tapi ya masa segitunya? oke, cukup vinny.
3. penempatan pengetahuan2 umum ke dalam cerita yang terkesan tempelan banget, kurang smooth, kayak: hei ini loh gue tahu tentang ini, tentang itu, tentang a, b, c, d... dst... gue pinter kan! novel gue berbobot kan! oh, well, aku akui penulis punya wawasan dan pengetahuan yg luas, juga riset yg lumayan. tapi, come on, ini karya fiksi. ada unsur intrinsik yang mau ngga mau tetep harus penulis penuhi.
4. ada adegan2 yang menurutku kurang penting dan akan lebih baik kalau dipadetin aja. kayak soal kentut apa lah... mau bikin humor? err... mungkin cari alternatif lain. yang paling ngganggu itu waktu kejadian mereka lagi piknik, si Rei duduk di atas batu, terus tiba2 dia ngeluh pantatnya sakit, terus diajak Ardo ke hotel, diliat penyakitnya apa, terus suasananya seolah2 genting gitu, tapi kemudian udah... antiklimaks gitu aja... :| dan cara penceritaannya pun nggak elegan. masa sih segitunya?
5. karakter Rei ini membingungkan. aku sendiri sulit ngebayanginnya. antara macho tapi manja. atau entahlah, mungkin di kehidupan nyata sendiri, sesosok cowok yg digambarkan dg karakterisasi fisik yg macho sekalipun punya sisi manja. ya walaupun nggak seabsurd rei.
Oke, kayaknya cukup segitu keluhanku selama membaca ini. No hard feeling ya buat penulisnya. :) keep on writing.
Kenapa ya kalo pembacanya cewek cenderung me-rating buku ini dgn bintang yg kecil? Seleranya masih rendah kali ya? Gue aja yg straight setuju kalau buku ini berhak mendapat bintang 5, Teknik penulisan yang ringan,sederhana tetapi sangat menusuk jarang dimiliki oleh penulis yang masih muda. Sastra klasik-romantis biasanya didominasi oleh penulis" angktan atas,knp nggak support penulis muda sih? Gue juga follow twitter dan FB penulisnya,dari situ gue tahu kalo the sweet sins dijadikan salah satu bahan kajian sastra di universitas, dibuat penelitian sebagai tesis magister gitu. Dan The Sweet Sins juga masuk kategori best seller lho. Nah looo........ Comeooonnnnn guys...... support penulis muda berkualitas indonesia!!! Semangat utk mas rangga
Jujur ini buku pertama saya yang cerita cintanya agak berbeda. Kenapa? Karena kisah cinta dibuku terlalu kompleks, antara 2 pria yang saling mencintai. Wow,,,, Yup,,,saya tidak berbohong, ini kisah 2 pria, kisah cinta yang tidak biasa. So bagaimana kisah ini bisa terjadi?
Berawal dari seorang pria bernama Reino Regha Prawira yang ternyata adalah seorang gigolo untuk wanita2 kesepian.... (upsh salah,,,,ngarang doang...:D) intinya gitu lah,,,,gak perlu deskripsi panjang ya... Reino ini memiliki 3 sahabat dan pastinya sahabatnya ini juga memiliki kebiasaan yang sedikit 'nakal'
Karena kebiasaan mereka yang sedikit nakal ini lah,,, awal pertemuan Reino dengan Ardo Praditya, seorang cowok sukses dalam karier tp tidak dalam soal percintaan.
Pertemuan mereka disaat Reino yang jatuh tergelak dalam keadaan yang sangat menderita dan Ardo yang merasa kasihan denganya dan menolongnya bahkan merawatnya. Hingga pertemuan tidak hanya sekali tetapi cukup sering terjadi. Sampai akhirnya mereka menyadari dalam hati mereka masing-masing ada rasa suka dan cinta yang begitu mendalam. Cinta antara keduanya pun terjalin, terasa begitu mendalam (ampe merasa geli sendiri, membayangkan bagaimana mereka pacaran...:D) ditambah panggilan sayang antara keduanya (jujur ya,,,aku kok merasa ini agak aneh ya...:D)
Tapi, bagaimanapun cinta mereka yang TIDAK WAJAR ini pasti akhirnya akan menimbulkan masalah untuk keduanya. Reino yang hanya memiliki seorang ibu yang begitu dia sayangin dan Ardo yang memiliki orang tua dan orang tuanya sendiri sudah memiliki perempuan yang cocok untuk dirinya.
So, bagaimana akhir kisah cinta ini?
Apakah Reino dan Ardo bisa bersatu demi cinta mereka yang begitu dalam? atau Reino dan Ardo harus melepaskan Cinta yang Tidak Wajar ini?
Untuk mengetahui akhir cerita ini, baiklah dibaca saja bukunya.
Karena bukan hak aku untuk menulis akhir cerita ini tapi aku merasa Wajib memberitahukan kepada para pembaca yang belum membaca buku ini untuk cepat-cepat membaca kisah cinta yang Tidak Wajar ini, Tapi plx, jangan mikir yang aneh-aneh dulu sebelum membacanya ya...:D
Untuk buku ini sendiri, selain aku menikmati jalan ceritanya, aku juga menikmati semua ungkapan2 dari Ardo yang begitu dewasa. Seandainya, sosok Ardo benar-benar ada didunia ini, pengen deh curhat soal kehidupan sama tuh orang...:D
Novel ini adalah novel kedua yang saya baca dengan tema serupa. Entahlah, ada saatnya saya tertarik untuk membaca tema yang berbeda. Kadang saya bosan dengan tema yang terlalu mainstream. Jadi, saya memutuskan membaca novel ini, walaupun dengan waktu yang sangatttt lama. :D
Pertama,saya bisa dikatakan tidak terlalu suka dengan cover novel yang menampilkan ilustrasi wajah, mungkin karena kadang saya tidak bisa berimajinasi tokohnya akan seperti apa, dan selalu mengkaitkannya dengan ilustrasi novel tersebut.
Banyak hal dalam novel ini yang saya rasa hanya sekedar tempelan dan memberikan kesan bahwa novel ini 'berisi'. Saran saya kalau pun ingin memasukkannya ke dalam plot, lebih baik dipikirkan lebih dulu kaitannya apa atau pengaruhnya apa. Karena saya pikir, kalau pun hal itu dihilangkan, bagi saya tidak akan berpengaruh pada jalan cerita yang sudah ada.
Dialog-nya ada beberapa yang cheesy banget. Proses jatuh cinta Rei ke Ardo, saya rasa terlalu cepat dan sepertinya pembaca tidak diberi kesempatan untuk menikmati pertemuan demi pertemuan keduanya hingga mereka jatuh cinta. Dan proses itu yang kadang lebih menarik daripada setelah jatuh cintanya. Lebihnya dari novel ini adalah ending. Saya sangat suka ending-nya. Aman, dieksekusi dengan sangat baik, tanpa membuat pembaca benci dengan ending seperti itu.
Saya dan co-author saya (juga adik dan teman co-author saya), menyatakan bahwa novel ini adalah novel brengsek dengan karakter utama paling brengsek di seluruh jagat novel M/M romance. Brengsek.
Tadinya saya tidak ingin merating novelnya, yang masuk kategori menggunakan tema LGBT hanya karena popularitasnya saja, tapi lalu saya pikir kalau saya tidak memberikan rating, novel ini akan tetap punya rating yang (setidaknya) lebih tingi dari apa yang saya harapkan. Jadi, saya menyumbang satu bintang untuk menurunkan average rating novel ini. >D *villain laugh*
this gets 4+ stars? what the hell? are you high, people? jangan2 banyak reviewer 'siluman' yg akunnya baru dibikin *nuduh* (insting detektif gara2 kebanyakan nonton serial procedural :D) review to come.
Sekilas dari cover dan judulnya udah ketebak ‘kan novel ini tentang apa? Yap, sejenis sama ‘Lelaki Terindah’ milik Andrei Aksana. Novel ini bercerita tentang percintaan antara dua lelaki. Harus diakui, penyajiannya nggak ‘seberani’ novelnya Andrei Aksana (yang cetakan pertama, tentu. Karena cover terbaru sudah lebih sopan). Tapi bukankah ada ungkapan ‘jangan menilai buku dari sampulnya’? Karena novel ini dalamnya lebih berani dan bisa dibilang vulgar.
Mengambil setting di Yogyakarta, novel ini bercerita seputar kehidupan seorang Reino Regha Prawira. Mahasiswa teknik sipil, berotak encer, dengan fisik yang enak dipandang, hobi clubbing, dan menyambi jadi gigolo. Rei yang kehilangan figur ayah di usia muda, menemukan sosok yang selama ini dicarinya dalam Ardo Praditya. Seorang newscaster terkenal, sukses, dewasa, dan luar biasa pengertian. Mereka berdua saling menguatkan, saling melengkapi, dan tentu saling mencintai.
Dan layaknya percintaan yang lain, ketika cinta itu makin kuat ujian pun datang bertubi-tubi. Keduanya sadar betul, bahwa cinta mereka berdua bukanlah cinta yang bisa berlangsung selamanya. Cinta mereka terlalu berbeda dan—bagi banyak orang—hanya akan mengundang cibiran dan hujatan. Tak peduli sedalam apapun kasih sayang yang terjalin di antara mereka. Sebuah permintaan dari seorang ayah yang sekarat, tak kuasa ditolak oleh Ardo. Ayahnya yang ingin putranya bahagia, menjodohkannya dengan seorang wanita terpandang. Tentu Ardo tak bisa menolak permintaan terakhir itu.
Dan di sinilah Rei belajar, bahwa melepaskan adalah bentuk mencintai yang paling tinggi dan mulia.
Sekilas, novel ini memiliki sedikit kesamaan dengan ‘Lelaki Terindah’. Tema yang diangkat: pertemuan, penghayatan cinta, perjuangan, dan kemudian kerelaan untuk melepaskan. Lalu, sosok Rei yang kehilangan figur ayah dan mencarinya lewat lelaki lain yang kemudian menjadi kekasihnya, mirip dengan sosok Valent yang mendekati Rafky demi merasakan dekapan kokoh penuh perlindungan seorang pria. Endingnya pun sama. Kedua lelaki tersebut tak bisa bersatu. Meski begitu, ending dari novel ini lebih manis dan memuaskan. Jika ‘Lelaki Terindah’ membuat pembacanya menutup buku sambil berlinangan airmata dan memendam hasrat untuk melempar sesuatu, ‘The Sweet Sins’ dapat membuat para pembacanya menutup buku sambil menghela nafas puas.
Hal yang paling membedakan ‘The Sweet Sins’ dengan ‘Lelaki Terindah’ adalah penggunaan bahasanya. Jika di ‘Lelaki Terindah’ kita disuguhi susunan kata yang (kadang kelewat) melankolis, di ‘The Sweet Sins’ bahasanya lebih vulgar dan akrab di telinga sehari-hari. Meski ada beberapa bagian yang agak canggung, novel ini lebih ramah untuk mereka yang tidak tahan gaya bahasa melankolis yang mendayu-dayu. However, novel ini mungkin akan membuat mereka yang tidak terbiasa dengan makian risih. Anjing, babik dan segala macamnya itu, rajin muncul di beberapa potongan dialog antara Rei dan teman-temannya.
Filosofi-filosofi kehidupan disajikan di buku ini dengan sederhana dan ungkapan yang mudah dipahami. Penyajiannya yang mengikuti pentunjuk manual booklet opera pun menjadi daya tarik tersendiri (meski mungkin jika anda tak terlalu akrab dengan pertunjukan opera, akan sedikit kesulitan menemukan daya tariknya dimana).
Pertama kali melihat buku ini adalah pada saat launching perdana di Pesta Buku Jogjakarta tahun kemarin. Karena mengangkat tema LGBT, saya jadi penasaran dan menyimak talkshow dengan penulisnya saat itu. Sayangnya, uraian penulis saat itu tidak membuat saya lantas ingin langsung membeli bukunya. Tapi saya masih penasaran, apalagi melihat ratingnya di Goodreads yang lumayan tinggi, 4.27. Dan memang berjodoh, saya akhirnya mendapatkan bukunya karena menang kuis yang diselenggarakan oleh penerbitnya.
Reino, seorang mahasiswa di universitas Jogjakarta jatuh cinta pada Ardo, seorang newscaster TV lokal yang menolongnya dalam sebuah kecelakaan. Awalnya Reino sempat ragu dengan perasaannya ketika berada di dekat Ardo. Ardo begitu pengertian, lembut dan menyayangi dia. Reino yang tadinya berprofesi sebagai seorang gigolo tidak yakin orientasi seksualnya mengatakan bahwa dia mencintai seorang laki-laki. Tetapi perasaannya tidak bisa berbohong. Kebersamaannya dengan Ardo adalah hal yang membuat dirinya menjadi utuh.
“Tubuhmu adalah tubuhku. Aku milikmu. Kamu milikku. Tidak ada rahasia lagi. Tidak ada penghalang lagi. Sakitmu adalah sakitku. Tawamu, air matamu, marahmu, semuanya adalah tanggung jawabku”
Kalimat di atas adalah janji setia antara Aldo dan Reino. Walaupun cinta mereka sedemikian besarnya, tidak semua orang bisa menerima kenyataan bahwa Reino adalah gay. Termasuk juga sahabatnya, Nyta dan Maia, yang awalnya kecewa dengan perubahan pada diri Reino. Tapi hal itu tidak lantas merusak persahabatan mereka. Nyta dan Maia tetap menghargai Reino sebagai seorang individu. Ujian terberat justru datang dari pihak Ardo sendiri. Ketika dia dijodohkan dengan seorang gadis oleh keluarganya, Ardo berada di dalam dilema. Dia tidak ingin melepas Reino, namun tentu tidak mampu membuat orang tuanya kecewa. Dosa termanis yang dinikmati oleh Reino dan Ardo justru menjadi bumerang bagi mereka.
Tema LGBT termasuk jarang disentuh dalam novel romance Indonesia. Saya senang bisa menemukan satu lagi buku yang “tidak biasa”. Apalagi mendengar pengakuan penulis yang mengatakan dia melakukan riset atas apa yang dituliskannya di dalam buku ini. Latar belakang pendidikan psikologi tentunya menjadi faktor penunjang untuk penulis. Seperti ketika penulis berusaha menceritakan bagaimana Reino menjadi gay karena kerinduannya akan sosok ayah yang hilang dari dalam hidupnya ditemukan pada diri Ardo.
Hanya saja saya ternyata tidak menikmati membaca buku ini. Gaya bahasa yang gaul dan blak-blakan ala ABG baru pertama kali pacaran membuat saya berpikir ulang tentang kedewasaan tokoh Reino dan Ardo. Belum lagi panggilan cheesy antara Reino dan Ardo seperti “sayangnya aku udah bangun, ya?” atau “pacarnya aku kenapa?“. Adegan peluk-cium-bangun dengan tubuh basah dan lengket juga sering sekali diulang-ulang sehingga akhirnya malah tidak menjadi romantis. Kemudian cerita dalam cerita, teori fisika, perwayangan, opera, sampai segala maca filosofinya Ardo membuat saya bosan sampai akhirnya saya skip saja. Terakhir, ada banyak ruang kosong dalam buku ini. Satu atau dua kalimat saja untuk satu halaman penuh. Saya pikir itu adalah pengantar antar bab, ternyata bukan. Dan itu terjadi dalam beberapa halaman. *sigh*. Dua bintang cukuplah untuk dosa yang manis ini.
Pas awal saya buka, ngeliat not-not baloknya aja saya udah merinding! pas halaman2 awal saya baca, wuih bukunya 'telanjang' bgt niy,mksudnya jujur dan apa adanya dalam menceritakan setiap adegan. ok,The sweet sins sendiri bercerita ttg kisah tokoh utama, seorang lelaki bernama Reino,yg di dalam benak saya,dia itu sudah tergambar di cover buku ini,berhidung mancung dengan tatapan yg melankolis. Reino awalnya adalah seorang gigolo,simpenan tante" girang,lalu secara tidak sengaja bertemu dengan Ardo, sosok lelaki tampan, muda dan berkarisma seorg pembawa berita. Ketika membaca the sweet sins, tokoh Ardo ini dalam imajinasi saya seperti Tommy Tjokro (dlm bayangan gue aja sih). Pertemuan mereka seakan membalikkan kehidupan Reino dari yang awalnya 'pekerja' malam mendadak beubah menjadi seorang 'penghamba cinta' kepada Ardo, cintanya begitu dalam. saya suka banget ketika penulisnya, Rangga menulis adegan ketika Reino berkata kepada Ardo: "ardo,aku tidak meminta banyak padamu, aku tidak akan meminta uangmu, tidak waktumu dan tidak nyawamu, aku hanya minta tetaplah menjadi seperti Ardo yg aku kenal, tidak hanya hari ini, tetapi juga esok dan seterusnya". Gila.... itu kata" paling tulus yang pernah gue baca!
Kisah percintaan mereka digambarkan dengan begitu romantis oleh Rangga,saya sendiri menjadi larut, mulai dari tertawa hingga meneteskan air mata. Saya semakin kagum dengan the sweet sins ketika Rangga membalikkan buku ini dengan teori" ilmiah, terutama di bidang" fisika. Novel romantis, cerdas, bermusik, berteori, berfilosofi, bermakna, berurai air mata, so??? Lengkap!!! Satu"nya Novel paling lengkap yang pernah saya baca! Sampai2 saya harus baca ulang kata pengantarnya utk yakinin diri kalau ini cuma cerita fiksi.
Ujian cinta mereka pun datang. Ardo tak kuasa menolak perjodohan oleh orang tuanya, akhirnya Reino memutuskan untuk melepaskan Ardo. Dinamika bagian ini jujur, saya harus menutup buku ini karena saya nggak sanggup membacanya! Dan esoknya baru saya berani lanjutkan! REINO hebat! Lelaki tangguh!!! Satu hal yang saya benci dari Novel ini, kenapa Ayah Ardo harus meninggal di menit-menit terakhir pernikahan Ardo dan Rezta??? HEY... itu-lah bagian yang menurut saya paling nyesek! air mata saya tak berhenti mengalir! Kasihan Reino... jujur pengen peluk Reino.......!!! apalagi ketika Maia mengatakan bahwa, 'lo sudah membuat sesuatu yang benar, sayang' IYA, akhirnya Reino dan Ardo memutuskan untuk berpisah, dan itu adalah sesuatu yang benar dari Novel the sweet sins ini.
recommended, lebih lebih lebih dari lelaki terindah, krena klo mau dibanding2in, mending jangan sama "lelaki terindah", karna menurut saya tuh novel kata2 romantisnya lebay banget.
Setelah sekian lama, baru hari ini aku membaca sebuah novel yang dapat membuatku meneteskan air mata.
Reino bertemu dengan Ardo dalam kondisi yang menyedihkan. Reino babak belur dan Ardo yang kebetulan melihatnya, merawat mahasiswa itu. Reino mendapatkan kebersamaannya dengan Ardo membuatnya utuh. Hatinya yang kosong, terisi dengan penuh saat bersama pria pembawa acara tersebut.
Dan ketika keduanya menyadari penyimpangan dan perasaan mereka dan berusaha untuk menjalaninya bersama, sebuah rintangan menghalangi usaha mereka.
Penulis cerita LGBT yang aku tahu di Indonesia adalah Andrei Aksana dengan Lelaki Terindah-nya. Namun, kini bertambah lagi penulis yang aku tahu yang menceritakan penyimpangan seksualitas manusia, yaitu Rangga Wirianto Putra.
Menurutku sepertiga bagian pertama agak sedikit membosankan. Cerita mengenai pertemuan Rei dan Ardo, dan bagaimana mereka akhirnya menyatakan perasaan masing-masing. Namun setelah kebersamaan mereka, di situ lah ceritanya mulai mencabik-cabik dan air mataku pun menetes. Cinta bukan hanya mengenai perjuangan dan mempertahankan, tapi juga mengenai melepaskan.
Hati manusia mana yang tidak terluka ketika mereka diminta untuk memilih antara kebahagiaannya atau permintaan orang tua yang sudah sekarat? Hati pasangan mana yang tidak ikut terluka melihat pasangannya sengsara? Dan hanya ada satu pilihan, melepaskannya.
Melepaskan orang yang kita cintai adalah memang bukti dan pengorbanan yang paling besar bahwa kita mencintainya. Baca cerita The Sweet Sins ini membuatku memahami banyak perspektif mengenai mencintai dan hidup.
Menutup buku ini rasanya masih sakit, tapi sakit yang bisa dipahami. Aku suka dengan endingnya yang bisa dibilang adil bagi kedua belah pihak walaupun aku berharap keduanya dapat menemukan kebahagiaan di masa mendatang. So, two thumbs up untuk Rangga yang berhasil merangkum cerita dengan emosi yang menghanyutkan.
Oh ya, novel ini cukup vulgar ya buatku. Ada beberapa penggambaran adegan seksual. Terus percakapannya juga cukup blak-blakan dan mungkin bagi beberapa orang agak kasar. Lalu ada satu hal yang mengganggu aku, yaitu kata-kata "Sayangnya aku sedang apa?" Kata 'sayangnya aku' itu kenapa gak pakai kata 'sayangku' aja ya? Heheheheheh...
Overall, it's a nice story dan emosi karakternya benar-benar terasa :)
P.S.: Terima kasih kepada Mas Dion dan Diva Press yang telah memberikan aku kesempatan untuk membaca dan mereview novel ini :)
Beberapa kali saya membaca buku yang bertema LGBT dan kalau ditanya buku mana yang cukup berkesan adalah Un Soir du Paris, kumpulan cerpen yang mempunyai gaya bercerita unik-unik yang menitik beratkan pada issue lesbian. Singkat saja tentang buku ini karena diburu review yang lain, jadi mari kita mulai Rapid Review :D
Reino Regha Prawira, seorang mahasiswa yang mempunyai pekerjaan sampingan menjadi gigolo, suatu malam ketika dia dikeroyok oleh orang yang gagal 'manawarnya' dia diselamatkan oleh Ardo Praditya, seorang pembawa acara berita yang cukup terkenal di Jogja. Sejak malam itu semuanya berubah. Ardo sangat memperhatikan Reino, belum pernah ada orang yang memperlakukannya seperti yang dilakukan Ardo, menginggatkannya untuk tepat makan, istirahat yang cukup, jangan clubbing lagi. Lama-lama dia merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Awalnya dia hanya memendam, tapi dia tidak bisa mengelak ketika Ardo jujur akan perasaannya, di mana perasaan mereka saling bersambut. Tidak mudah menyembunyikan hubungan mereka, sahabat Reino yang sudah mengenal luar dalam diri mereka lama-lama tercium juga, belum lagi orangtua Ardo yang ingin menjodohkan dia dengan perempuan cantik.
Denger-denger buku ini tercipta dari skripsi penulis, yang terinspirasi dari kisah nyata. Kakak saya pernah kuliah di Jogja dan dulu dia sering menceritakan pergaulan bebas yang sudah tidak asing di sana, khususnya para mahasiswa. Jadi ketika saya membaca buku ini, saya seperti mendapat cerita nyata dari sisi mahasiswa yang kerap clubbing dan seorang gigolo demi mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemudian dia bertemu sosok yang tidak pernah ditemuinya, sosok yang selalu dirindukannya, yaitu ayahnya. Latar belakang broken home mungkin menjadi salah satu pemicu Reino mencintai jenis kelamin yang sama, karena dialah yang mampu memberikan kasih sayang yang selalu dia rindukan.
Untuk gaya berceritanya saya tidak terlalu terganggu, mungkin penulis hanya ingin membuat ceritanya yang sedikit berat menjadi lebih santai dengan mengunakan bahasa sehari-hari. Yang membuat saya terganggu adalah not-not lagu dan bahasa asing yang saya kira tidak ada hubungan sama sekali dengan novel ini.
Tidak banyak penulis yang berani mengangkat tema LGBT mengingat tema ini seringkali kontroversial. Untuk menuliskannya juga tidak mudah karena roman fiksi LGBT adalah roman yang tidak biasa. Tidak heran kalau di Indonesia novel roman sejenis ini masih bisa dihitung jari sebelah tangan. Dimulai dari Lelaki Terindah, kemudian Dikejar Joe ( Karya Alberthiene Endah), Sanubari Jakarta yang kemudian difilmkan, 20.30.40 Club Camilan adalah beberapa karya LGBT yang dipublikasikan oleh penerbit mayor. Tidak seperti di negara-negara yang sudah maju, karya-karya LGBT malah menjamur dan tema LGBT lebih bervariasi daripada teman LGBT yang diangkat oleh penulis lokal.
Saya mengetahui buku "The Sweet Sins' ketika iseng-iseng browsing di internet, dan membaca kalau karya Rangga Wirianto Putra ini banyak di-review dalam blog-blog dan banyak mendapatkan komen positif.
Saya pun penasaran dan membelinya. Memang, ketika membaca novel ini, terasa begitu berbeda dengan novel kebanyakan, bahkan novel yang biasa sekalipun. The Sweet Sins seperti sebuah opera lengkap dengan tokoh-tokoh pemeran opera di dalamnya.
Meskipun agak sedikit cepat -- menurut saya -- proses Rei yang terpikat dengan Ardo dan menyerahkan hatinya secara utuh kepada Ardo, secara keseluruhan novel ini sangat indah, dan sangat patut dijadikan koleksi.
Apalagi Rangga Wirianto Putra berani mendobrak kesusastraan Indonesia dengan menghadirkan teman kontroversial seperti ini dengan penggambaran yang kadang-kadang menurut saya cukup berani untuk ukuran novel Indonesia.
Untuk karya pertama yang diterbitkan secara nasional oleh penerbit sekelas DIVA, saya acungkan dua jempol untuk Rangga Wirianto Putra. Bravo, Rangga! Saya tunggu karya jempolan Anda selanjutnya !
Sebuah buku yang jarang dimiliki oleh penulis-penulis di Indonesia. Sejak membaca buku ini, saya jadi ingin tahu tentang musik-musik klasik. Cerita di dalam buku ini juga keren, Gan.............. Banyak pembelajaran tentang hidup yang bisa kita petik. Tidak hanya tentang gay. Ada dinamikanya,musiknya,naskah skenario,opera,filosofi hidupnya juga sangat inspiring. Terimakasih telah membuat novel sehebat ini. Saya yakin bahwa buku ini setanding dengan karya-karya Dewi Lestari dan penulis" sastra kontemporer.
Buku ini salah satu buku terbaik yang saya baca. selain 2 buku dengan tema yang sama. dari buku ini sungguh menggugah imajinasi. selain karena setting tempatnya di jogja dan sekitarnya, sehingga mudah mengimajinasikannya, ceritanya pun penuh haru.
Kisah cinta yang 'berbeda' itu mengajarkan arti memiliki, menjaga, mempertahankan, memperjuangkan dan melepas. Alurnya yang indah, membuat semua terbawa didalamnya. ditambah dengan nuasansa opera di setiap baitnya, membuatnya menjadi berbeda.
sungguh sangat rekomen juga untuk dibaca. Sukses buat mas Rangga.
Gak biasa baca buku berbahasa Indonesia, tapi ini tentang gay dan di rekomen temanku. I love gay love stories. Don't get me wrong, I'm a straight...but gay stories that I had read and still reading few of it,more awesome that straight love story (for me). So let's check this one if this book can stole my attention to write a review when I have the copy. Anyone? Send me a copy? *grinning*
Perjuangan untuk baca Novel ini. Novelnya sulit dicari. Ada juga banyak yang fake. Untung masih ada yang jual di bukalapak walau dengan harga cukup mahal. Singkat cerita, pada halaman 214 gue sempat stop membaca karena nggak kuat menahan keromantisan antara dua laki-laki ini. Bukan karena geli apalagi jijik tetapi karena komen di belakang buku ini, jangan sentuh buku ini jika tidak mau tertampar-tampar oleh makna cinta!!! Itu benar!!! Ini buku tentang cinta,bukan tentang seksual semata. Cinta itu aspeknya luas,perasaan,emosi,seksual, kenangan dll. Beberapa lama buku itu gue simpan dilemari karena sibuk dengan urusan kerjaan karena kemarin gue lagi banyak orderan design (skip bagian ini malah curhat wkwkwkkw). Trus kemarin malam gue lanjut baca ampe halaman 305. Anjiiirrrr gue nangis semewek-meweknya ngeliat Reino ditinggal. Gue tahu banget perjuangan orang macam Reino itu,mendapatkan cinta dari kehidupan malam itu tak mudah. Nggak ada yang benar-benar mencintai lo ditengah kehidupan jedug2 dimana alkohol menjadi minuman sehari-hari. Tetapi,ketika lo menemui orang yang menutup mata dari itu semua, orang yang menginginkan lo lebih dari apapun, orang yang mencintai lo dengan seluruh bau tubuh lo itu nggak mudah!! Tu buku gue skip lagi ampe malam ini gue selesai baca bukunya sambil pengen nendang pintu (halah lebay!) Kenapaaaa!!!! Kenapa Reino harus menghadapi kenyataan taik yang harusnya bisa diubah??? Nggak adil banget!!!
Buku pertama yang kuselesaikan tahun ini. Another romance novel yang kubaca, yang sebenarnya sudah sangat lama ingin kubaca.
I'm lack of word to describe about my feeling after I read this book. I never feel more related than anything beside the story of this book.
Sejujurnya aku sangat tak suka dengan 200-an halaman pertamanya. Ceritanya sangat terburu-buru, terkesan memaksa, tak rasional, dan aku seperti membaca sebuah Thread di Twitter yang dibuat oleh amatiran. Sungguh sangat tak nyaman dibaca.
Aku awalnya hanya akan memberi 3 bintang. Namun setelah aku bertahan untuk membacanya hingga selesai. Maka harus kutambahkan satu bintang lagi.
Pada halaman setelah 200-an tersebut. Ada keindahan yang ditulis. Semuanya sangat menyentuh, bisa kurasakan bagaimana setiap kata-kata yang ditulis di bagian tersebut, seperti suara yang dibisikan oleh angin ditengah alam luas. Sangat indah dan menenangkan.
Aku tak akan berkilah bahwa menurutku, kata-kata tersebut terasa indah, karena aku pun pernah mengalami hal yang sama, bahkan sangat persis.
Entahlah, aku tak biasanya kebingungan menuliskan review. Tapi untuk satu ini, aku seperti terhipnotis meratapi kesedihan yang pernah kualami dahulunya...
Terima kasih Rangga Wirianto sudah menuliskan kisah seperti ini.
tidak ada usaha yang akan mengkhianati hasil... pertama itu yg mau saya sampaikan... karena apa?? karena sumpah demi apapun, mau baca novel ini di tahun sekarang itu ribet banget. saya gak suka ribet sejujurnya. tapi saya lakukan. saya hubungi pengarangnya langsung, dan syukurlah pengarangnya dokter. kamu tau kan kalau dokter sudah bersabda. pasti ademmm dan hangat. kayak karakter ardo di novel ini. dan singkat ceritanya, saya dapet novelnya. thanks dok...
terimakasih buat dokter rangga wirianto putra, untuk keberaniannya menulis novel ini. mengangkat tema minoritas di negara mayoritas. sebuah tindakan kecil yg berani dan patut di apresiasi. pasti tidak mudah bagi penulis untuk menerbitkan novel ini. รักคุณเทียบท่า.
tentu tidak semua orang menyukai novel ini. ada pro dan kontra. ada suka dan benci. ada perasaan senang dan jijik. tapi untuk seorang yang awam seperti saya. ini novel yg menginspirasi. jangan menolak lupa, suka tidak suka, faktanya percintaan seperti ini ada di negara indonesia. dan melalui novel ini, penulis menginspirasi banyak org, bahwa cinta, tidak harus memiliki.
terus berkarya dok. ditunggu tulisan tulisan selanjutnya
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ah, semangat banget baca buku ini, 3 hari habis deh keknya, setiap ada waktu senggang tangan selalu menggerayangi buku ini dah intinya wkwkwk. Harganya mahal uy buat kantong pelajar! But puas banget baca ini. Aku sih gk terlalu mikir ya buat si rei yang secepat kilat belok ngebanting stir, but oh well, they’re cute so I wont even complain lmao.
And especially banget aku seneng banget banget ama kata-katanya. Kata-katanya nyelekit.
Tapi Ardo tolol ah! Itu aja aku mau bilang! Masih kesel, ngajak misuh! Plin-plan! Udah ah bodo amat!
Tapi aku cinta mereka :(
Kok aku yang plin-plan???
Ah, pokoknya buku ini seru dan aku nikmatin dan dalem in banget. Dan re-read lagi rencananya untuk menyerapi kata-kata dalem nyes nya itu wkwkw.
membaca novel ini semacam berwisata kebanyak tempat sekaligus belajar tentang makna hidup sesungguhnya dari sudut pandang yang berbeda, membuat berfikir itulah yang saya alami ketika menyelesaikan novel ini, walaupun bukan happy ending untuk sebuah kisah cinta namun bukankah kisah cinta juga tidak harus happy ending dengan cara yang biasa.
Transphobia, The constant switching from bahasa baku to bahasa gaul is soooo😭😭😭, Mereka pacarannya kayak anak smp geli bgt, Homophobia, Stereotyping, The relationship was based off of daddy issues, “Sapiosexual, no bachelor degree dni vibes”, “People are gay just because they havent tasted how it is with women”.
Cukup menggelikan di awal2, dan oleh karena part2 menggelikan di awal itulah yg membuat aku merasakan nyesek di bagian part2 terakhir. Penulis menurutku bagus banget dalam mnyusun plot2 cerita sehingga enak dibaca dan mudah di ikuti jalan ceritanya sekligus plot twist nya dapet bgt.