Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kaki yang Terhormat

Rate this book
Menurut Anda, bagian tubuh manakah yang paling penting? Saya yakin, tak mudah untuk langsung menjawab. Tetapi, bila hal itu ditanyakan kepada nenek saya, serta-merta ia akan bilang, “Kaki!” seraya mengangkat sebelah kaki, dengan telunjuk menukik lurus ke bawah, dalam hitungan yang tak mencapai detik.
….

Sebetulnya, kalau mau jujur, bukan hanya Nenek yang bangga. Banyak dari keluarga kami, yang bila ngobrol, tak bisa menyembunyikan perasaan bangga kepada keluarga lain. Bahkan, bukan hanya keluarga kami. Banyak dari penduduk kampung, yang bila ngobrol, juga tak bisa menyembunyikan bangga kepada penduduk kampung lain. Maka, keyakinan Nenek pada kaki, berkembang bagai tak terbantahkan. Seperti tak cukup kalau kaki hanya dikatakan penting. Kaki adalah sesuatu yang terhormat.
….

Kaki yang Terhormat adalah kumpulan cerpen yang memuat cerpen-cerpen realis Gus tf Sakai dalam masa 25 tahun kepengarangannya, mulai dari “Bulan Setempayan” yang ia tulis saat berusia 19 tahun dan memenangi sayembara menulis cerpen di sebuah majalah, sampai “Kaki yang Terhormat” yang terpilih sebagai salah satu Cerpen Pilihan Kompas 2009. Merupakan kumpulan cerpennya yang ke-5 setelah Istana Ketirisan (Balai Pustaka, 1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (Gramedia, 1999), Laba-Laba (Gramedia, 2003), dan Perantau (Gramedia, 2007). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta menerima Penghargaan Sastra Lontar 2001 dan Penghargaan Sastra Pusat Bahasa 2002. Perantau terpilih sebagai fiksi terbaik pilihan pembaca Ruang Baca Koran Tempo 2007 dan meraih Penghargaan Sastra Khatulistiwa 2007. Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta telah diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber and Other Short Stories (2002) dan menerima SEA Write Award dari Kerajaan Thailand (2004).

132 pages, Paperback

First published July 1, 2012

Loading...
Loading...

About the author

Gus tf Sakai

36 books19 followers
Gus tf Sakai, lahir pada tanggal 13 Agustus 1965 di Payakumbuh Sumatera Barat. Ia menamatkan studinya di Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang. Mulai menulis prosa pada usia 13 tahun sejak sebuah cerpennya memenangkan hadiah pertama pada sebuah lomba penulisan cerpen. Hingga sekarang ia telah menyelesaikan 2 novel, 7 novelet, dan 18 cerpennya memperoleh penghargaan yang diselenggarakan oleh berbagai media seperti majalah Anita, Femina, Gadis, Hai, Kartini, Matra dan harian Kompas.

Karya-karyanya:

* Segi Empat Patah Sisi (novel remaja, 1990
* Segitiga Lepas Kaki (novel remaja, Gramedia, 1991)
* Ben (novel remaja, 1992)
* Istana Ketirisan (kumpulan cerpen, 1996)
* Sangkar Daging (kumpulan sajak, 1997)
* Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (kumpulan cerpen, 1999), diterbitkan The Lontar Foundation dalam bahasa Inggris dengan judul The Barber and Other Short Stories 2002)
* Tambo, Sebuah Pertemuan (novel, 2000)
* Tiga Cinta, Ibu (novel, 2002)
* Laba-Laba (kumpulan cerpen, 2003)
* Ular Keempat (novel, 2005)
* Daging Akar (kumpulan sajak, 2005)
* Perantau (kumpulan cerpen, 2007)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
14 (16%)
4 stars
27 (32%)
3 stars
34 (40%)
2 stars
6 (7%)
1 star
2 (2%)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews
Profile Image for Muhajjah Saratini.
289 reviews10 followers
October 12, 2017
Kelewat kental aroma kedaerahan.

"Sastra itu dunia kreatif, dunia melakukan. Maka yang paling penting ya menulis, bukan berkumpul-kumpul membuat rumusan. Ah. penyair. Kau mestinya tahu: betapa indah yang diungkapkan kata, dan betapa buruk pengarangnya."--(Cerpen "Kak Ros")

Cerpen "Kak Ros" sudah pernah saya baca di kumpulan cerpen Kompas. Efeknya tentu sudah berbeda, tergerus waktu--dulu saya masih lugu tapi tidak lucu.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 25 books198 followers
December 20, 2020
Cerpen dengan kisah sederhana, tidak terlalu rumit saat dibaca, diksi juga masih standar aman; tetapi membuat pembaca tercenung-cenung dalam setiap akhir tuturannya.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews160 followers
July 8, 2015
Masih dalam rangka 100 hari membaca sastra indonesia, buku ketiga yang kubaca.

Kumcer ini peraih longlist KLA 2013, dan kumpulan cerita pendek di sini memberiku pengalaman baru. Pertama karena pengarangnya baru kali ini kubaca karyanya, dan kedua karena setting ceritanya yang banyak mengangkat budaya dan kehidupan tradisional Sumatra Barat, selain kritik-kritik sosial yang tersampaikan melalui kisah-kisah ini.

Dari cerpen pertama di kumcer ini, Kulah, aku sudah dikejutkan dengan endingnya. Awalnya kukira ini akan jadi cerita seram penuh dengan kepercayaan kuno yang tidak logis. Lalu tiba-tiba, dalam dua paragraf terakhir, kisah diputar balikkan menjadi masalah lingkungan hidup, tentang kondisi alam dan masyarakat desa yang tercemari.

Meskipun demikian, ada juga cerpen-cerpen yang benar-benar bernuansa mistik. Orang Bunian mengisahkan pengalaman seseorang yang memasuki alam "sumangaik" dan melihat perwujudan binatang buruannya yang hampir mati meraung tak ingin meninggalkan anaknya. Dalam Liang Harimau yang menceritakan tentang seorang "urang Rawayan" yang meninggalkan kewajibannya dalam upacara tradisional dan berakhir tragis dikejar-kejar Maung (Harimau) dalam bayangan rasa bersalahnya (cerpen ini sedikit mengingatkan pada novel Lelaki Harimau-nya Eka Kurniawan, meskipun hanya dalam setting dan latarnya).

Tema hormat dan kewajiban pada orang tua beberapa kali diangkat. Selain dalam Melihat Ibu, ada pula Bulan Setempayan. Kisah ini unik dan sedikit ironis, karena pada akhirnya sikap yang dimaksud penuh penghormatan malah berbalik menjadi rasa kesia-siaan di mata sang Ibu. Cerpen Kaki yang Terhormat yang menjadi judul kumcer ini juga menyoal tentang seorang Ibu yang tak pernah ditengok oleh anak bungsunya yang merantau dan sukses besar di Ibukota, namun akhirnya ditimpa celaka. Di sini sang Ibu menyalahkan sang putra karena tidak lagi menggunakan 'Kaki yang Terhormat'.
"Kau tahu apa sebenarnya yang membuat Mak Etek-mu celaka?"
"Karena ia tak lagi menggunakan kakinya. Karena ke mana-mana hanya mau dengan kendaraan, di atas helikopter itu saja."

Sebuah metafora kaya makna, saat pembaca kemudian disadarkan bahwa di sini "kaki" ini bersinonim dengan "ibu". Saat si anak sudah tak menghormati kakinya (ibunya) ia pun menjadi celaka. Aihh... kisah Malin Kundang versi kontemporer ini.

Satu cerpen favoritku, adalah Kak Ros. Tema cerita ini unik sekali, tentang seorang perempuan yang dari luar tampak lemah lembut dan keibuan.... tapi ternyata.... psikopat! Nggak nyangka... XD

Sebuah kumpulan cerpen yang mengulik berbagai tema, semuanya disajikan dengan cermat, kadang dengan ending yang tak terduga, kadang seluruh ceritanya adalah metafora tak terduga. Sayang kumcer ini hanya berisi 12 cerpen saja. Aku masih belum puas menikmatinya dan jadi pengin baca kumcer-kumcer Gus tf Sakai yang lain.
Profile Image for Abi Ghifari.
112 reviews6 followers
February 19, 2015
"Kaki yang Terhormat" merupakan kumpulan cerita pendek karya Gus tf Sakai yang pernah dimuat di berbagai media cetak nasional. Secara umum, kisah-kisah yang termuat dalam kumpulan ini merupakan kisah-kisah dengan sudut pandang yang unik dan segar, kental akan nuansa khas kedaerahan, serta menampilkan karakter utama sebagai manusia utuh apa adanya dilengkapi dengan berbagai konflik batin, konflik antar-sesama, maupun konflik dengan tradisi dan norma sosial-kemasyarakatan.

Beberapa kisah saya amati cukup unik dan sangat berkesan, baik dari segi alur cerita, penokohan, maupun penuturannya. Seperti misalnya kisah bernuansa mistik 'Orang Bunian' yang mengisahkan pengalaman si protagonis ketika memasuki dunia para 'sumangaik' (spirits, arwah). Ada juga cerita tentang 'Pakiah dari Pariangan', asal-usul 'pakiah', murid silat yang diharuskan untuk mengemis agar dapat menemukan jati-diri dan kerendah-hatian hingga akhirnya ia dapat menjadi seorang 'pandeka' (pendekar). Atau kisah menarik tentang seorang warga Baduy Luar yang melanggar upacara adat karena dilarang atasan tempat ia bekerja, hingga akhirnya peristiwa metafisik supranatural terjadi. Ia yang tengah bekerja di sebuah tempat keramat 'Liang Harimau' didatangi oleh seekor 'maung' (harimau), yang entah asli atau makhluk astral dan tiba-tiba esoknya ia dituduh telah menikam atasannya dengan belati.

Ada pula kisah filosofis yang dituturkan selayaknya sebuah dongeng pengantar tidur, yaitu 'Kaki yang Terhormat' yang juga sekaligus menjadi judul kumpulan cerpen ini. Nenek sang pencerita selalu berkisah dan bertutur bahwa kaki adalah organ tubuh yang paling penting dan segala hal yang terjadi pada dirinya atau keluarganya semata-mata karena mereka melangkahkan kakinya. Si Nenek tetap memegang teguh prinsip ini sampai pada suatu saat anaknya yang telah sukses di kota besar dan memiliki helikopter ditangkap dan diadili karena kasus korupsi. Ia hanya berkata pada si protagonis: 'Pamanmuu celaka karena ia tak lagi menggunakan kaki!"

Seluruh kisah dalam kumpulan ini dapat dimaknai sebagai realitas sosial, pun juga dapat bermakna metaforik filosofis yang menjentik pikiran kita untuk dapat menggali makna lain yang terpendam. Kisah-kisah ini memiliki gaya penuturan yang unik dan khas, begitu terasa seperti tradisi penuturan lisan (folklore), ditambah dengan nuansa kedaerahan yang kuat. Kumpulan cerpen ini sekaligus menjadi bukti bahwa Gus tf Sakai merupakan seorang cerpenis yang piawai.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books347 followers
November 28, 2013
Gus Tf Sakai memang memiliki kepiawaian tersendiri dalam bertutur. Kumulai mencintai cerpen-cerpenya usai membaca buku kumcer sebelumnya "Laba-laba".
Buku Kaki Yang Terhormat memang berbeda (minimal dari genre dan kecenderungan gaya penceritaan)dengan Laba-laba. Dalam Laba-laba Gus Tf Sakai menggunakan banyak sekali metafora yang dalam dan mikir. Sedang dalam buku ini terkesan realis dan minim metafora.

Kebanyakan tema dalam cerpen-cerpen dalam buku ini adalah kehidupan teritorial sekitar Gus Tf Sakai (red:Padang).

Menurutku yang terbaik adalah "Pakiah Dari Pariangan", yang bercerita tentang para pakiah yang meminta-minta sedekah menjelang lebarang. Tetapi di akhir justru paradigma itu dibantah dengan sebuah paragraf

seorang pengemis datang entah dari mana, masuk ke toilet umum atau mengendap-endap menyelinap ke dalam belukar, sejenak kemudian muncul dengan pakaian berbeda: bercelana dasar dengan baju koko, berpeci dengan buntalan dijinjing atau disampir di pundaknya....

So siapa yang jadi pakiah? Pakiah betulan atau sekadar orang-orang yang menyaru?

Dan aku paling tidak suka adalah Melihat Ibu, aaah ini paling tidak pas dimasukkan dalam buku. Kurang nendang.

Profile Image for Aprijanti.
139 reviews22 followers
October 5, 2014
Yang buat saya penasaran dari kumcer ini adalah nama pengarangnya. Pada halaman biografinya ternyata tidak dijelaskan juga itu nama asli atau nama penanya, unik bukan?

Ternyata pada buku kumcernya ini ada satu cerita yang pernah saya baca di kumcer pilihan kompas. Ceritanya bukan soal cerita kehidupan sosial biasa, imajinasi Gus jarang ditulis oleh pengarang sastra lainnya. Gus tf mampu menuliskan soal nurani manusia yang kadang berbenturan. Dalam judul "Kak Ros" yang menceritakan seorang wanita lembut penyayang tumbuhan, tetapi bisa sangat kejam kepada hewan yang merusak tumbuhannya.

Atau dalam cerita "Kaki yang Terhormat" di mana keyakinan sang nenek mengenai langkah kaki akan selalu membawamu menuju kebaikan. Maka organ yang paling penting adalah kaki. Ketika cucunya merantau dan jadi orang sukses, nenek berkata itu buah dari kaki yang berani melangkah. Tetapi ketika cucunya melangkah terlalu jauh dan dipenjara karena kasus korupsi sang nenenk kemudian berkata, "karena ia sudah tidak lagi menggunakan kakinya. Karena ke mana-mana hanya dengan kendaraan itu saja."

Hahaha.. karena dialog itu saya jadi makin menyenangi berjalan, berkendara lewat kaki. Tapi tentu saja tetap berkeyakinan: hal yang paling penting adalah nurani. Cieeile..
Profile Image for Darnia.
769 reviews115 followers
August 29, 2015
3,5/5 bintang

Buku kedua dari Gus Tf Sakai setelah Ular Keempat yg gw baca (meski di beberapa Kumcer Pilihan Kompas nama beliau ini dengan mudah ditemukan juga sih). Dan gw menikmati sekali membaca kumcer ini. Ada kisah-kisah yg sangat membumi (Upit, Melihat Ibu, Bulan Setempayan) hingga yg agak-agak beraroma mistis (Orang Bunian, Liang Harimau). Dengan sangat pawai, Gus tf Sakai juga membumbui kisah-kisahnya dengan beberapa istilah-istilah dan tradisi lokal yg nantinya digunakan sebagai pondasi dalam membangun kisah di dalamnya. Memang pantas jika cerpen-cerpen beliau banyak mendapat penghargaan baik level lokal hingga kancah internasional.

Semoga sastra Indonesia semacam ini akan terus lekang abadi selamanya :)
Profile Image for Adek.
196 reviews4 followers
January 6, 2014
Saya yakin ketika bicara tentang penulis cerpen Kompas, kebanyakan orang mungkin hanya mengingat SGA atau Agus Noor. Mungkin. Saya pun mungkin demikian jika saya tidak berada di kota ini, kota kelahiran penulis cerpen ini. Payakumbuh.

Juga nyaris di setiap cerpen kompas pilihan namanya selalu ada. Saya tak pernah lupa judul cerpen ini yang juga menjadi alasan saya membeli ini, Kaki yang Terhormat, begitu mengena di saya ketika saya baca di cerpen pilihan kompas tahun 2009. Recommended.
Profile Image for Ira Booklover.
708 reviews47 followers
May 10, 2014
Mantap deh cerpen-cerpennya. Baru tahu (ingat) jenis-jenis cerpen setelah membaca buku ini. Ternyata cerpen realis itu yang model ceritanya begini ya.

Cerpen yang paling memorable adalah Bulan Setempayan. Paling ngeri sama cerpen Kak Ros.

Semua cerpen memberikan ending yang punya efek kayak balon meletus bagi saya.

Sayang cuma ada 12 cerpen dibuku ini. Jadi mau nambah lagi. Suka deh pokoknya :D
Profile Image for Sutresna.
225 reviews14 followers
January 3, 2017
Ini cerpen2nya bergenre apa sih? Kok keren sekali! Harusnya saya baca dari dulu buku ini!
Teknik bercerita yang dipakai Gus tf juga macam-macam, dan karya2nya ini entah kenapa membuat saya merasa ceritanya sungguh berada di depan mata, dekat sekali. Seperti sihir, tapi sihir yang nyata. Entah karena tanpa sadar emosi saya sebagai pembaca ikut larut dalam cerita, tapi jelas ini karya bagus sekali, tanpa mengada-ada!
Profile Image for Akbar.
44 reviews
January 28, 2013
Bagi yang senang dengan sastra realis, buku Gus TF Sakai ini adalah salah satunya.

Buku ini merupakan buku kumpulan cerpen yang di dalamnya memuat fragmen kisah dalam kehidupan yang terjadi di masyarakat, (umumnya) di daerah Sumatera Barat, walaupun ada juga dari daerah lain...

Gaya penulisannya sangat kuat, layak dibaca oleh para pecinta sastra Indonesia...
Profile Image for Fhia.
538 reviews18 followers
November 9, 2014
Pernah nyari buku ini online tapi ga dapet. Danl setahun setelah itu malah dipertemukan dlm obral gramedia. Alhamdulillah.
Well..terdiri dari cerpen" yang nendang dgn question ending. Hal itu juga yg bikin ada kesan yg tertinggal setelah nyelesaiin bacanya.
Profile Image for Yusardi Reska.
10 reviews1 follower
July 31, 2012
Gaya bahasa, alur, dan eksekusi twisted ending yang menarik. Takkan bosan membacanya. tak ada komentar selain bahwa 'Ini bacaan yang bagus!"
Profile Image for Sarah Shadiqa.
2 reviews86 followers
September 1, 2012
Bukan hanya pikiran, hati dan mulut..kaki juga penting. karena dia yang membawa kita ke mana.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
April 17, 2017
Saya suka cara Gus Sakai menyembunyikan pesan atau pelajaran yang ingin disampaikannya.
Displaying 1 - 17 of 17 reviews