Jump to ratings and reviews
Rate this book

Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung

Rate this book
Buku ini berisi sajak-sajak Joko Pinurbo yang pernah dimuat dalam "Celana", "Di Bawah Kibaran Sarung", dan "Pacarkecilku", trio kumpulan puisi yang telah memperkenalkan penyairnya sebagai salah satu ikon penting dunia perpuisian Indonesia modern. Niscaya buku ini merupakan dokumentasi karya yang sangat berharga dari penyair yang telah menerima berbagai penghargaan sastra ini.

219 pages, Paperback

First published May 1, 2007

8 people are currently reading
309 people want to read

About the author

Joko Pinurbo

43 books363 followers
Joko Pinurbo (jokpin) lahir 11 Mei 1962. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1987). Kemudian mengajar di alma maternya. Sejak 1992 bekerja di Kelompok Gramedia. Gemar mengarang puisi sejak di Sekolah Menengah Atas. Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001; buku puisi ini kemudian terbit dalam bahasa Inggris dengan judul Trouser Doll (2002). Ia juga menerima Sih Award 2001 untuk puisi Celana 1-Celana 2-Celana 3. Buku puisinya Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapat Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2002. Sebelumnya ia dinyatakan sebagai Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001. Tahun 2005 ia menerima Khatulistiwa Literary Award untuk antologi puisi Kekasihku (2004). Buku puisinya yang lain: Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), dan Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007). Selain ke bahasa Inggris, sejumlah sajaknya diterjemahkan ke bahasa Jerman. Sering diundang baca puisi di berbagai forum sastra, antara lain Festival Sastra Winternachten di Belanda (2002). Oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan sejumlah sajaknya digubah menjadi komposisi musik.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
75 (32%)
4 stars
82 (35%)
3 stars
59 (25%)
2 stars
8 (3%)
1 star
4 (1%)
Displaying 1 - 23 of 23 reviews
Profile Image for elfsi.
106 reviews
March 22, 2011
1.
Hujan tumbuh sepanjang malam, tumbuh subur dihalaman

Aku terbangun dari rerimbun ranjang,menyaksikan angin
dan dinding hujan bercinta-cintaan dibawah rerindang hujan

Subuh hari kulihat bunga-bunga hujan dan daun-daun hujan
berguguran di kebun hujan, bertaburan jadi sampah hujan


2.
Kudengar anak-anak hujan bernyanyi riang di taman hujan
dan ibu hujan menyaksikannya dari balik tirai hujan

pagi hari kulihat jasad-jasad hujan berserakan di kebun hujan

Airmataku berkilauan di bangkai-bangkai hujan
dan matahari datang menguburkan mayat-mayat hujan
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
February 20, 2018
Saya menemukan buku ini di rak, setelah tahu bahwa buku puisi Celana Jokpin akan dicetak ulang dengan cover baru. Ingatan saya mengatakan, sepertinya saya punya bukunya. Dan setelah saya tengok deretan buku Jokpin, ternyata yang saya punya justru kompilasi tiga judul buku puisi milik Jokpin ini.

1. Celana (1999)
2. Pacarkecilku(2001)
3. Di bawah Kibaran Sarung(2002)

Dan mungkin nanti ketiganya sama GPU akan dipisahkan kembali. Menyusul Celana yang tercerai di bulan ini. Heeheee. Tapi yaaaa, puisi Jokpin memang begini. Remeh-temeh objeknya, tapi dalam penafsirannya. Idola dan penyair papan atas Indonesia daaaah.
Profile Image for Amanatia Junda.
15 reviews6 followers
March 8, 2013
Mungkin inilah buku kumpulan puisi yang pertama yang dapat saya lahap hingga tuntas. Membaca puisi-puisi Joko Pinurbo dalam paket 3 in 1, membuat saya dapat memahami ke mana arah kegemaran Jokpin saat bertutur sajak. Terdiri dari 125 puisi, yang dimulai pada tahun 1986 sampai 2002, Jokpin serasa sanggup mengikat waktu, kenangan dan pemikirannya dalam satu dimensi ruang yang utuh.

Di kumpulan puisi pertamanya, Celana, saya menemukan dua puisi yang sangat menakjubkan di halaman depan. Saking kagumnya saya dengan pemilihan diksi yang ia gunakan, saya merasa puisi itu tidak ditulis pada tahun di mana saya belum lahir dan baru saja lahir. Puisi berjudul Tengah Malam dan Di Kulkas: Namamu adalah dua puisi yang sangat berkesan bagi saya pribadi.

Joko Pinurbo rupanya sangat menyukai detail detail benda atau ruang yang sangat intim. Ranjang, kamar mandi, dan celana adalah kata kata yang paling sering muncul di daftar panjang puisi-puisinya. Ranjang, saking seringnya ditulis, ia multi makna dan multi tafsir. Salah satu tempat yang paling sering disebut, kuburan, selalu mengisyaratkan adanya perenungan mendalam penyair dengan hal-hal berbau kematian.

Pada awalnya, saya masih sering tersendat membaca puisi puisinya yang panjang. Saya merasa pusing, karena banyak kata yang perlu dibaca ulang dan ditafsirkan hati hati. Namun semakin tahun, rupanya Joko Pinurbo menuliskan puisi puisi panjang dalam narasi simpel. Saya seperti membaca cerita pendek, atau mungkin Joko sedang mencoba menulis narasi panjang namun gagal di tengah, dan kembali mencintai gaya berpuisinya.

Beberapa puisinya menunjukkan situasi dan pergolakan politik pada masa reformasi. Ia membingkai tragedi treagedi tanpa larut dalam emosi yang berlebihan. Beberapa tokoh yang muncul lebih dari satu kali adalah tukang becak dan veteran. Isu perempuan pun juga termasuk isu yang paling sering dieksplorasi Joko Pinurbo.

Daya tarik yang paling kuat memang berasal dari kumpulan puisi pertamanya, yakni Celana. Hingga pada puisi terakhir, di kumpulan puisi Pacarkecilku, diksi celana masih lekat dan menjadi penutup buku yang sangat mengesankan.

Profile Image for Ziyy.
642 reviews24 followers
February 10, 2012
Bila bukan karena buku ini ada ditumpukan buku-buku yang diobral, mungkin saya tidak akan membelinya. Karena sebelum ini saya tidak berhasil meyakinkan diri bahwa kumpulan puisi itu termasuk ‘worth to buy’. Semoga saya tidak menyinggung para penikmat sajak, karea alasan dibalik itu lebih karena perhitungan biaya dan manfaat.

Ada pun tiga bintang yang saya sematkan pada tiga kumpulan puisi yang disajikan dalam satu buku ini, mungkin kurang. Karena sesungguhnya Joko Pinurbo punya ‘jejak’nya tersendiri didunia sastra, sedang penilaian tiga bintang tadi semata pertama kali saya membacanya.

Dari membaca kumpulan sajak didalamnya, saya suka sajaknya yang selalu bercerita. Diksi-diksi sederhana namun kuat. Tidak membuat pusing, sebenarnya. Tapi tetap saja saya tidak bisa sepenuhnya yakin bahwa saya menangkap apa yang sebenarnya hendak JokPin sampaikan, karena keterbataan saya pribadi dalam persajakan.

Kata-kata adalah kupu-kupu yang berebut bunga,
Adalah bunga-bunga yang berebut warna,
Adalah warna-warna yang berebut cahaya,
Adalah cahaya yang berebut cakrawala
Adalah cakrawala yang berebut saya.


Apa memang, tiap penyair itu mesti memperlihatkan keintimannya dengan kata-kata? Saya menemukan hal itu pada bait diatas dan pada sajak Patroli. Juga pada sajak berjudul Kurcaci ini:

Kata-kata adalah kurcaci yang muncul tengah malam
dan ia bukan pertapa suci yang kebal terhadap godaan.

Kurcaci merubung tubuhnya yang berlumuran darah
sementara pena yang dihunusnya belum mau patah.


Dari tiga kumpulan puisi yang ada, saya menyukai kumpulan puisi yang menjadi bagian ‘di Bawah Kibaran Sarung’. Diawal tidak lagi menceracau tentang celana, dan didalamnya mulai terasa puisi-puisi protes sosialnya. Mulai dari sajak Tubuh Pinjaman yang terasa getir, sajak Perahu yang menceritakan Y.B.M dan sisi humanisnya, hingga sajak Kacamata yang mungkin –bisa jadi- menyindir ia dan penyair-penyair terdekatnya. Tapi, dari bagian ini saya paling suka sajak Surat Malam untuk Paska

Masa kecil kau rayakan dengan membaca.
Kepalamu berambutkan kata-kata.
Pernah aku bertanya: “Kenapa waktumu kau sia-siakan dengan membaca?”
Kau jawab ringan: “Karena aku ingin belajar membaca sebutir kata yang memecahkan diri
menjadi tetes air hujan yang tak terhingga banyaknya.”
Kau memang suka menyimak hujan, bahkan dalam kepalamu
ada hujan yang meracau sepanjang malam.

Itulah sebabnya, kalau aku pergi belanja dan bertanya minta oleh-oleh apa,
kau Cuma bilang: “Kasih saja saya beragam bacaan, yang serius maupun yang ringan .
Jangan bawakan saya rencana-rencana besar masa depan.
Jangan bawakan saya kecemasan.”

Kumengerti kini: masa kanak adalah bab pertama sebuah roman yang sering luput dan tak terkisahkan, kosong tak terisi, tak terjamah oleh pembaca, bahkan tak tersentuh,
Oleh penulinya sendiri.

Sesungguhnya aku lebih senang kau tidur di tempat yang bersih dan tenang. Tapi kau lebih suka tidur diantara buku-buku, berkas-berkas, yang berantakan. Seakan mereka mau bicara:
“Bukan kau yang membaca kami, tapi kami yang membaca kau.”

Kau pun pulas. Seperti halaman buku yang luas.
Dalam kepalamu ada air terjun, sungai deras di tengah hutan.
Aku gelisah saja sepanjang malam, mudah terganggu suara hujan.

-1999

Mungkin saya suka sajak ini karena iri dengan Paska atau karena sajak ini tentang tergila-gila oleh buku? Entah.

Lebih dari itu, sajak-sajak lain tak kalah asyik buat saya, kecuali sajak-sajak yang melulu menghadirkan celana, ranjang, dan kamar mandi. :-)
Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
November 4, 2007
saya paling ingat dengan "celana", buku Jokpin pertama yang gue punya. Pertamanya pula sering liat di Palasari Bandung. Sering pegang bulak-balik tidak tertarik.
Selepas itu ada dua orang yang rekomen. Pertama orang yang cukup sering mengisi media di tanah air karena ke-"liberal"-annya. Yang kedua yang mendorong saya untuk segera ke Palasari. Orang kedua ini yang penting, seorang kawan yang pernah dalam sebuah milis begitu anti dengan puisi.
Namun, komentarnya tentang buku puisi Jokpin, "Celana" menjadikan saya penasaran. Katanya,"ada suara lain ketika saya membaca puisinya, lepas dari yang tetulis, ada makna yang berbunyi selain makna yang biasanya dari kata yang digunakan Jokpin." Wah!!! Apa pula ini?!?!?!?!
Segera saya ke Palasari. waktu itu, jauh setelah buku beredar di toko buku. Pertama saya beli, dan berlanjut hingga kini untuk setiap buku Jokpin.
Thx to Jokpin and si Bapak Satu itu.

Nant'S
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
August 25, 2016
"Bertahun-tahun kita mengembara mencari wajah asli kita,
padahal kita dapat dengan mudah menemukannya,
yakni saat bertahta di atas lubang toilet."

(Toilet, 1999, hal.115)

Ehhm... aku bukan pembaca dan penikmat puisi (dari sekian banyak novel yang kubaca, aku hanya punya 2 buku kumpulan puisi, Aku-nya CA, dan Hujan di Bulan Juni-nya SJD. Menulis review buku kumpulan puisi? Ya baru postingan ini. #wkwkwkw). Nama JokPin baru kutahu setelah beberapa tahun yang lalu teman-teman GR mengutip dan menulis ulang puisi-puisinya di salah satu thread, dan dari situ ada beberapa puisi yang aku suka gara-gara 'kenakalan' penulisnya mengungkapkan satu hal di atas hal yang lainnya. Seperti puisi yang kukutip di atas itu. =))

review lengkap di
http://readbetweenpages.blogspot.com/...
Profile Image for Rose Gold Unicorn.
Author 1 book143 followers
September 19, 2014
Menggunakan bahasa yang nyastra sekali membuat saya kerap kesulitan memahami isi dari puisi ini. Oh iya, buku ini adalah kumpulan puisi dua buku sebenarnya. Jadi, membaca satu buku ini, sama saja dengan membaca 2 buah kumpulan puisi.

Diksi yang digunakan, seperti layaknya sastra pada umumnya, menggunakan bahasa yang agak jarang ditemui. Tapi tetap terbaca indah. Beberapa puisi membuat saya trenyuh dan ber-aaaaakkk-bagus-banget-sih... Hehe

Buat yang doyan rangkaian kata-kata indah, wajib baca karya sastrawan yang satu ini!
Rate 3/5 karena beberapa puisi yang ada yang terlalu panjang dan saya terganggu. Dan... entah karena saya beli di bazaar diskon toko buku atau memang dari sananya, bahwa beberapa halaman di buku ini hilang tuisannya -_- mengganggu kenikmatan membaca. Saya kecewa. Saya gak ngerti! Hahahaha!

In the end, quite recommended to read!
Profile Image for Hippo dari Hongkong.
357 reviews197 followers
June 14, 2010
yak, dipindahin dari wishlist karena udah dapet bukuna :D

salah satu "resolusi" 2010 yang niatna pengen menjajal buku puisi
buku ini termasuk yang di rekomendasikan seorang rekan durjana, tp susah sekali nyarina di Bandung, ampe bosen sendiri nyarina. Kmaran pas Citywalk sempet liat Femmy megang2 buku ini.

eh, ternyata ada yang ngirim bukuna. horeeeeeeeee...

tengkyu buat yang ngirim :D
Profile Image for Fitria Mayrani.
522 reviews25 followers
September 15, 2013
''Bertahun-tahun kita mengembara mencari wajah asli kita,
padahal kita dapat dengan mudah menemukannya,yakni saat bertahta di atas lubang toilet.
karena itulah, barangkali, kita mudah merasa waswas
dan terancam bila melihat atau mendengar kelebat orang
dekat toilet, karena kita memang tidak ingin ada orang lain
mengintip wajah kita yang sebenarnya.''

Toilet (1999)

Cuplikan puisi yang menjadi bagian paling favorit.
Profile Image for anis Ahmad.
47 reviews13 followers
February 15, 2009
dengan membacabuku ini saya juga sekaligus membaca tiga buku. karena buku ini sejatinya kumpulan dari tiga antologi jokpin. baguuuuus pokoke, juga lucu, romantis, komplet lah
Profile Image for Diana Hade.
11 reviews1 follower
December 8, 2010
wonderful world is in this book..
semua kata dan kalimat jokpin,, oh my, ampe nangis saking seneng dan bagusnya ia merangkai kata-kata.
Profile Image for heri.
288 reviews
January 23, 2013
penulis berhasil memberikan dunia lain ketika membaca tiap-tiap puisinya. banyak ironi yang dituliskan dengan cara yang jenaka. bagus, menyenangkan dan luar biasa.
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
October 7, 2014
Judul: Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung
Penulis: Joko Pinurbo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 219 halaman
Terbitan: Mei 2007

Buku ini berisi sajak-sajak Joko Pinurbo yang pernah dimuat dalam "Celana", "Di Bawah Kibaran Sarung", dan "Pacarkecilku", trio kumpulan puisi yang telah memperkenalkan penyairnya sebagai salah satu ikon penting dunia perpuisian Indonesia modern. Niscaya buku ini merupakan dokumentasi karya yang sangat berharga dari penyair yang telah menerima berbagai penghargaan sastra ini.

Review

Nama Joko Pinurbo sebenarnya sudah pernah saya dengar beberapa kali dari pembicaraan tentang sastra Indonesia. Kebetulan karena nemu salah satu bukunya di perpustakaan, jadi saya pinjam.

Puisinya banyak yang lucu :)). Ada kesan humoris yang kuat dari puisi-puisinya Joko Pinurbo. Buat saya yang awam soal puisi, ini adalah sesuatu yang baru dan menyegarkan.

Jujur membaca bagian awal buku ini, saya merasa agak bosan. Entah kenapa, tema dan pemilihan katanya terkesan... repetitif. *lari ngumpet. Cuma semakin ke belakang, semakin bagus. Khususnya puisi-puisi tahun 2000-an. Saya suka banget.

Beberapa puisi yang saya suka:

Uban

Pasukan uban telah datang memasuki wilayah hitam.
Hitam merasa terancam dan segera merapatkan barisan.
"Putih lambang kematangan, hitam harus kita lumpuhkan."
"Hitam lambang kesuburan, putih harus kita enyahkan."

Tiap malam pasukan putih dan pasukan hitam bertempur
memperebutkan daerah kekuasaan sampai akhirnya
seluruh dataran kepala berhasil dikuasai masyarakat uban.
"Hore, kita menang. Kita penguasa masa depan."

Tapi uban jelek di lubang hidungmu memperingatkan:
"Jangan salah paham. Putih adalah hitam yang telah luluh
dalam derita dan lebur dalam pertobatan."

"Demikian sabda uban," sindir uban-uban pengecut
yang tiap hari minta didandani dengan semir hitam.

(1999)

Pengamen

Sepuluh orang pengamen menyerbu bus yang sedang lapar
karena hanya diisi seorang penumpang.
Ia orang bingung, duduk gelisah di pojok belakang
membaca peta yang sudah kumal dan penuh coretan.

Para pengamen yang tampak necis dan gagah bergiliran
memetik gitar dan menyanyi lantang kemudian
memungut uang dari penumpang lalu duduk berurutan.
Setelah semua mendapat bagian, gantian si penupang berdiri
di depan lantas bernyanyi dan bergoyang.

Bahkan para pengamen berwajah seram terheran-heran
lantas bertepuk tangan karena penumpang itu
ternyata dapat menyanyi lebih merdu dan menghanyutkan.
Selesai melantunkan beberapa tembang, ia memungut uang
dari para pengamen lalu berteriak stop kepada sopir kemudian
melompat turun sambil melepaskan pekik kemenagan:
"Hidup rakyat! Hidup penumpang!"

(2001)

Aku Tidur Berselimutkan Uang

Aku tidur berselimutkan uang.
Ketika bangun, tahu-tahu tubuhku sudah telanjang.

2002

Mampir

Tadi aku mampir ke tubuhmu
tapi tubuhmu sedang sepi
dan aku tidak berani mengetuk pintunya.
Jendela di luka lambungmu masih terbuka
dan aku tidak berani melongoknya.

(2002)

Tanpa Celana Aku Datang Menjemputmu

untuk Wibi

Empat puluh tahun yang lampau kutinggalkan kau
di kamar mandi, dan aku pun pergi merantau
di saat kau masih hijau.
Kau menangis: “Pergilah kau, kembalilah kau!”

Kini, tanpa celana, aku datang menjemputmu
di kamar mandi yang bertahun-tahun mengasuhmu.
Seperti pernah kaukatakan dalam suratmu:
“Jemputlah aku malam Minggu,
bawakan aku celana baru.”

Di kamar mandi yang remang-remang itu
kau masih suntuk membaca buku.
Kaulepas kacamatamu dan kau terpana
melihatku tanpa celana. Sebab celanaku tinggal satu
dan seluruhnya kurelakan untukmu.
“Hore, aku punya celana baru!” kau berseru.
Kupeluk tubuhmu yang penuh goresan waktu.

(2002)
Profile Image for Sutresna.
225 reviews14 followers
August 7, 2014
"Aku tidur berselimutkan uang
Ketika bangun, tahu-tahu tubuhku sudah telanjang"

Salah satu puisi yang saya ambil dari kumpulan puisi ini, yang rasanya mewakili. Puisi2 yang semacam ingin melucu tetapi selalu menaruh 'niat baik' di dalamnya.

Kadang puisi2nya menjadi cerita yang menyindir, kadang bikin haru. Uh keren.

Yang kerennya lagi keintiman yang dia bikin buat beberapa kata yang sering keluar dalam puisinya, seperti Celana dan juga Ranjang. Membuat seolah mereka adalah teman seperjuangan si manusia.

Saya jatuh cinta pada ketulusan tulisannya.
Profile Image for Elyza.
61 reviews
May 9, 2015
Demikianlah musafir: kita takut menjadi tua
Namun juga tak pernah bisa kembali menjadi bayi,
menjadi kanak-kanak
Kecuali bila kita ciptakan lagi kelahiran
di saaat halte membimbing kita ke peristirahatan

-Perjalanan Pulang-
Profile Image for Hadi Wibisono.
1 review
January 12, 2017
nyentil....

ternyata orang sukabumi ya? tanggal bulan lahir sama cuma beda tahun doang hehe
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
April 25, 2017
Dangdut
 
(1)

Sesungguhnya kita ini penggemar dangdut.
Kita suka menggoyang-goyang memabuk-mabukkan kata
memburu dang dang dang dan ah susah benar mencapai dut.

(2)

Para pejoget dangdut sudah tumbang dan terkulai satu demi satu
kemudian tertidur di baris-baris sajakmu.
Malam sudah lunglai, pagi sebentar lagi sampai, tapi kau tahan
menyanyi dan bergoyang terus di celah-celah sajakmu.
Kau tampak sempoyongan, tapi kau bilang: “Aku tidak mabuk.”
Mungkin aku harus lebih sabar menemanimu.

2001
Displaying 1 - 23 of 23 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.