Inilah hari dengan kesedihan tak berkesudahan. Batinku meraung-raung meratapi ketidakberdayaan. Kami bukan orang asing bagi rasa lapar... Mata berkunang-kunang, keringat bercucuran, lutut gemetaran, telinga mendenging-denging... Sungguh, aku butuh tidur, sejenak pun bolehlah. Tetapi, aku tahu tidak akan bisa tertidur dengan mudah.
***
Kehidupan mendidik Dahlan kecil dengan keras. Baginya, rasa perih karena lapar adalah sahabat baik yang enggan pergi. Luka di kakinya menjadi bukti perjuangan dalam menjalani hidup. Dia harus berjalan puluhan kilometer untuk bersekolah tanpa alas kaki. Sepulang sekolah banyak pekerjaan yang harus dilakoninya demi sesuap tiwul, mulai dari nguli nyeset, nguli nandur sampai melatih tim voli anak-anak juragan tebu.
Dan di usia mudanya, Dahlan sudah banyak merasakan kehilangan. Buku catatan hariannya pun dipenuhi curahan kegalauan hati yang selalu dia alami. Setiap kali terpuruk seringkali dia berkata pada dirinya sendiri, hidup, bagi orang miskin sepertiku, harus dijalani apa adanya. Didikan keras sang Ayah dan kakak-kakak tercintanya serta senyum sang Ibu, selalu bisa membuatnya bertahan dan terus berjuang dalam hidup. Selain itu, di atas segala luka dan kesedihan yang dialaminya dia punya dua cita-cita besar yang membuatnya semakin bekerja keras: sepatu dan sepeda.
Khrisna Pabichara lahir di Borongtammatea—sebuah kampung di Jeneponto, Sulawesi Selatan—pada 10 November 1975. Kumpulan cerpen debutnya, Mengawini Ibu, terbit pada 2010. Novel debutnya, Sepatu Dahlan, terbit pada 2012. Sedangkan kumpulan puisi pertamanya, Pohon Duka Tumbuh di Matamu, terbit pada 2014. Penyair yang kerap diundang sebagai pembicara dan pembaca puisi ini memulai karier kepengarangannya di dunia buku-buku seputar neurologi. Penyuka FC Barcelona ini sekarang bekerja sebagai penyunting lepas dan aktif dalam kegiatan literasi. Bisa diajak berbincang berbagai hal, terutama #bahasaIndonesia, lewat akun twitter @1bichara dan instagramnya @khrisna_marewa.
Kalo bisa, sebenarnya, saya berniat memberi nilai 3,5 skala 5. Nilai 4 untuk materi bacaan yang bagus, apalagi sih materi yang begitu menyentuh selain kemiskinan dan semangat hidup, terlebih lagi pengalaman itu dimiliki seorang Menteri Indonesia. Nilai 3 saya berikan untuk bahasa novel yang biasa-biasa saja, menurut saya.
Tapi tetap, novel ini tetap saya rekomendasikan untuk dibaca. Apalagi untuk Anda yang merasa menjalani rutinitas hidup membosankan, karena, berkaca dari quote yang kerap muncul di novel ini,
"Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya"
Setelah dicermati kembali, ternyata ini bukan biografi si Bapak, tapi sebuah novel yang terinspirasi oleh kisah hidupnya. Dan yang dikatakan kisah hidup, duh... sepanjang baca buku ini tadi malam, saya setengah menahan tangis, dan setelah membaca tidak bisa tidak untuk mensyukuri hidup saya selama ini. Saya tidak pernah kelaparan (siang ini sih memang telat makan, tapi bukan karena tidak ada makanan!). Saya selalu punya sepatu *janji gak akan ngiler lagi liat sepatu yg dipajang di mal*. Saya gak harus jalan kaki berkilo-kilo meter hanya untuk sekolah.
Bersyukur. Itu hikmah yang saya dapatkan dari buku ini.
Sedangkan untuk penulisannya, saya agak kurang nyaman dengan gaya penceritaannya. Kadang-kadang bahasanya terlalu berbunga-bunga dan di beberapa tempat ada perulangan fakta (misalnya, ttg Komariyah yg jd satu-satunya bocah perempuan yang ikut angon). Juga tentang jeda sangat besar antara Bab 29 saat Dahlan akhirnya berhasil membeli sepatu (kelas 3 Tsanawiyah) dengan Bab 30 yang berisi ihwal kelulusan dari Aliyah dan kelanjutannya. Terasa sedikit dipaksakan biar cepet tamat. #eh
Yah, 'it was ok' buat saya. Biarpun demikian, kisahnya sendiri 'was amazing' dan sangat layak diberi bintang 5 setengah. Kapan ya, kisah selanjutnya terbit? Surat Dahlan dan Kursi Dahlan.
Kisah dalam buku ini membuat saya sejenak merenung. Seorang anak dari dusun yang sudah “mentas” tidak malu akan masa lalunya. Dengan santainya beliau mengakui bahwa sepatu kets baru dimiliki saat kelas 3 Aliyah. Kontras sekali dengan kondisi beliau saat ini, jika mau toko sepatu pun bisa dibelinya. Mungkin itu sebabnya beliau lebih sering menggunakan sepatu kets yahh (tebakanku sih). --- --- ---
Masih ada dua buku lagi dalam seri ini. Surat Dahlan mengisahkan bagaimana membangun media serta kegiatan berbisnis. Dalam buku ketiga, Kursi Dahlan mengisahkan kesuksesan memimpin PLN serta kegiatan sebagai menteri BUMN. Tak sabar menanti, jadi kecanduan sepertinya.
Untuk saya yang bukan penggemar autobiografi, bintang 3,5 sepertinya layak. Direkomendasikan untuk dibaca karena mampu membuat pembaca lebih mensyukuri apa yang telah dimiliki selama ini serta berbagi semangat berjuang dalam menjalani hidup ini.
“Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya. Hukum alam. Maka, sebagai orang miskin, aku tidak mau berharap terlalu muluk-muluk. Aku segera menghapus impian yang ketiga, Aisha. Pengalaman mengantar Aisha ke rumahnya, setelah pernah malu bukan kepalang karena terjun bebas ke selokan di depan matanya, adalah anugerah indah bagiku. Cukuplah itu.” (hlm. 322)
Sejak Laskar pelangi, muncul geliat baru dalam dunia literasi Indonesia. Yakni dengan merebaknya novel-novel bergenre inspiratif. Kabar gembira sebenarnya ketika buku-buku itu bertengger di tangga best selling. Hanya saja, bisnis tetap bisnis. Senada dengan fenomena “Ayat-ayat cinta” yang mengundang buku-buku epigon yang tak jelas juntrungannya. Fenomena serupa pun terjadi pada buku dengan genre ini. Dengan embel-embel “novel inspirasi” atau “penggugah jiwa” banyak pembaca yang akhirnya tertipu oleh karya-karya follower tersebut.
Namun, ditengah banjir epigon tersebut. Banyak juga karya berkualitas yang mengokohkan diri. Yang tak hanya memberi hiburan, tapi juga “sesuatu” yang mengendap di alam bawah sadar setelah membacanya. Sebut saja nama-nama seperti Ahmad Fuadi dan Tere Liye. Lalu awal tahun kemarin ramai diperbincangkan di twitter, novel berjudul “anak Sejuta Bintang” terbitan expose (mizan group). Dan masih dari kelompok Mizan Group~kali ini label NouraBooks, mei lalu terbit buku berjudul “Sepatu Dahlan”.
Benar. Novel ini berkisah tentang Dahlan iskan, menteri BUMN yang belakangan ini sangat ramai diperbincangkan. Dahlan Iskan dikenal sebagai pribadi bersahaja dan sangat pro rakyat. Sepak terjangnya di PLN sebelum menjadi BUMN juga sudah mencuri perhatian banyak orang. Tentu saja, kisah mengenai Dahlan iskan sudah sangat menjual. Sekarang semuanya tergantung dari bagaimana sang penulis meramunya. Apakah akan menajdi semakin luar biasa, atau malah menjadi kurang daya tariknya. Beruntungnya, di tangan khrisna Pabichara pertanyaan pertama yang mendapat jawaban “YA”.
Melalui narasi pak khrisna, kisah masa kecil Dahlan terasa makin mengena di hati kita, para pembaca. Rasanya ingin mengquote semua paragraf dalam buku ini.
***
Cerita bermula dari seorang pria paruh baya yang bersiap-siap menjalani operasi liver. Pria ini, Dahlan Iskan kemudian teringat bahwa dulu Almarhumah ibunya juga meninggal karena penyakit sama.
“...Sekonyong-konyong aku berada di halaman depan sebuah rumah, masa lalu“
Dan kisah mengalami flashback ke sebuah desa terpencil tempat Dahlan kecil dibesarkan. Di sini, Dahlan menjalani kehidupan yang sangat keras hingga membentuknya menjadi pribadi yang tegar dan pantang menyerah. Selain keprihatinan demi keprihatinan yang menjadi teman hidup Dahlan, cerita tetap menjadi logis dengan penceritaan masa kanak-kanak Dahlan yang menyenangkan bersama sahabat-sahabatnya di kampung kecil itu. Seperti saat mereka mencoba menyelidiki misteri sumur tua yang menjadi tempat paling di hindari. Masa-masa sekolahnya di pesantren sampai saat pertama kali Dahlan merasakan cinta.
“Di jantung rinduku kamu adalah keabadian, yang mengenalkan dan mengekalkan kehilangan.”
***
Secara keseluruhan Khrisna Pabichara telah berhasil menjadikan kisah ini sebanding dengan Laskar pelangi ataupun Negeri Lima Menara. Bukan tak mungkin buku ini nantinya berpotensi difilmkan juga. Dan yang pasti sudah banyak orang yang menantikan buku keduanya, Surat Dahlan. (Buku ini dipersiapkan untuk menjadi sebuah trilogy) review lainnya di : http://bugot.wordpress.com
novel yang bikin saya terharu-biru.... sumpah, perjuangan dahlan kecil di masa anak-anak sampai remaja bikin saya terkesan. perjuangannya dari membantu ortunya, semangat belajar, persahabatan, dan juga saat lomba voli, wahh... benar-benar bikin kita merasa terdorong untuk menjadi terbaik juga. kemiskinan tidak menghalangi kita untuk menjadi yang terbaik, bahkan kemiskinan tidak membuat kita jatuh dan sedih, malah kemiskinan dapat dinikmati dengan cara tersendiri. semuanya diceritakan di novel ini dengan baik. cerita keluarga dan cerita pendidikan anak-anak kemiskinan selalu bikin saya terharu, dan novel ini juga demikian :') hehe... saya termasuk jarang membaca novel-novel inspirasi karena kebanyakan novel jenis ini bikin saya berhenti membacanya ditengah jalan, tp novel ini tidak demikian... saya ikut terlarut dalam cerita yang disajikan karena memang benar-benar inspiratif. yah.. walaupun ada beberapa adegan yang menurut saya kurang dieksplor lagi tp tetap gak mengurangi inti dari novel ini. paling saya agak gak paham dengan beberapa bahasa jawa yg gak ada catatan kakinya. intinya novel ini bagus banget buat dibaca siapa saja untuk mengingatkan kita agar selalu bersyukur terhadap apa yang kita miliki :)
A book by @1bichara, inspired from Dahlan Iskan's childhood. :))
Masa kecil yang inspiring banget, aku nggak tau apa ini semua emang ada yang pernah dialami pak Dahlan sendiri. Karena dilihat dari segi manapun, kehidupannya yang dulu dan sekarang aja bertolak belakang banget, but this book's really great :) gak sabar nunggu kelanjutannya : #SuratDahlan dan #KursiDahlan
Bahasa yang mudah dipahami, ngebuat novel ini serasa kita langsung berada di kebon dalem itu, inspiring banget, yang baca nggak bakal rela berhenti gitu aja di tengah-tengah, pasti lanjuttt :))
Kukasih 4, soalnya ngebuat book-inspired-by itu susah, and this book really inspiring me!! Dan banyak hikmah dari setiap cerita yang bisa diambil disini, dari kesehariannya sampai pengalaman-pengalamannya yang 'gak terencana', bacanya bikin semangat, cara 'menjabarkan'nya juga enaakk banget :)) gak berat dan gak ada kesan 'maksa banget' top banget dehh. must-read! #recommended :'))
Membaca buku ini seakan juga membaca sedikit sebanyak kisah sendiri. Walau tetap banyak bezanya. Kesusahan. Keinginan memiliki. Rasa terpaksa untuk mendahulukan yang lebih utama. Menyerahkan wang kepada ibu dan bapa. Itu cerita kami adik-beradik. Walaupun kami tidak diuji seberat Dahlan. Menginginkan cuma sepatu dan sepeda.
Dahlan punya ibu dan bapa yang istimewa. Hidup apa adanya bagi orang miskin terdengar mudah bagi orang yang cukup. Bagi yang pernah merasa, kekurangan, keputusasaan, kerendahan, semua itu menyakitkan.
Sekurangnya Dahlan punya potensi. Kepimpinan dan olahraga yang telah dia buktikan sepanjang belajar di Pesantren. Cuma apa yang mengagumkan adalah kerja keras. Biarlah kurang harta jangan kamu kurang semangat untuk terus berjuang hidup.
Dan aku lihat, kekurangan itu menjadikan Dahlan seorang lelaki. Yang sinonim dengan kerja keras dan kesungguhan. Semakin hilang dalam masyarakat Melayu kita hari ini. Kisah Sepatu Dahlan ini cukup mengesankan!
Sebuah buku yang mengajarkan kepada kita betapa pentingnya fondasi pendidikan dalam keluarga. betapa ayah dan ibu Dahlan mengajarkan kepadanya untuk selalu tidak meminta kepada orang betapapun miskinnya mereka. Lapar selalu datang dalam kehidupannya sampai-sampai perutnya dan perut adiknya selalu terlilit sarung untuk menahan lapar.Berusahallah sengan sekuat kemampuan. Disertai dengan doa yakinlah semua yang diimpikan akan tercapai. Mewujudkan mimpi mimpinya untuk sekolah,membeli sepatu,membeli sepeda dan kuliah. Ada kegetiran disana ada kepedihan disana,ada keriangan,keharuan,keteguhan dan persahabatan yang manis. Cerita yang mengambil seting di desa Takeran Magetan mengisahkan masa 6 tahun Dahlan Iskan menghabiskan waktunya di pesantren Tsanawiyah dan Aliyah Takeran. Banyak kisah mengejutkan disana......Baca deh pasti seruuu
Buku-buku inspiratif begini semakin rancak diterbitkan di Indonesia. Buku ini mengangkat tema pendidikan bagi orang yang tak berkemampuan.
Sepatu, adalah barang mewah bagi sebahagian orang. Kaki Dahlan melecet dan membengkak kerana setiap hari berjalan kaki tanpa alas sejauh 5 km ke sekolah.
Hidup dijalani dengan apa yang ada, dan kerja keras dalam mendapatkan apa yang diinginkan. Ini nasihat yang diberi oleh ayah Dahlan. Saya belajar banyak dari buku ini. Betapa banyak hal yang seharusnya kita syukuri.
"Kita dapat menjadi orang yang merasa tidak beruntung karena lahir di tengah-tengah keluarga miskin, bermimpi ketiban rezeki semacam “durian runtuh” agar bisa membeli benda-benda idaman, atau membayangkan hal-hal lain yang menggiurkan seperti nasib baik anak-anak orang kaya. Tapi, kita juga dapat memilih menjalani hidup dengan wajar dan penuh keriangan, berusaha membantu orangtua sedapat mungkin, meraih segala yang didamba dengan keringat sendiri, dan tetap antusias memandang masa depan."
Novel Sepatu Dahlan yang merupakan bagian pertama dari Trilogi Novel inspirasi Dahlan Iskan ini mengisahkan kehidupan Dahlan Iskan saat remaja. Melalui novel ini terungkap bahwa Dahlan Iskan dibesarkan dalam keluarga miskin di desa Kebon Dalem, Magetan, Jawa Tengah yang harus berjuang guna memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Namun sedari kecil kedua orang tuanya selalu menekankan bahwa hidup miskin bukan berarti harus meminta-minta untuk dikasihani melainkan harus dihadapi dengan bekerjadan berusaha.
Kehidupan mendidik Dahlan kecil dengan keras. Perih karena rasa lapar tak jarang harus dialaminya, sampai-sampai ia dan adiknya harus melilitkan sarung di perutnya untuk menahan perih lambungnya karena lapar. Meskipun hidup dalam kekurangan keluarganya tetap mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya. Walau tak memiliki sepatu Dahlan rela berjalan kaki puluhan kilometer untuk bersekolah tanpa alas kaki. Perih karena lecet pada kakinya yang tak bersepatu tak membuatnya malas bersekolah. Alih-alih malas ia menyimpan dua impian besar di masa kecilnya yaitu memiliki sepatu dan sepeda.
Impian itu terus membayangi kehidupan masa kecil hingga remajanya, ia terus berusaha mengejar impiannya. Walau kehidupannya semakin sulit ditambah kesedihannya ditinggal oleh orang-orang yang disayanginya mimpinya memiliki sepatu dan sepeda tak pernah hilang hingga akhirnya ketika Dahlan telah berhasil meraih mimpinya itu ia sadar bahwa ada mimpi lain yang harus ia raih, mimpi besar untuk melawan kemiskinan yang mendera keluargaya yang harus diikhiarkannya dengan bekerja kerjas.
Novel ini menginspirasi pembacanya untuk tidak menyerah oleh keadaan. Kehidupan Dahlan kecil yang serba kekurangan terkisahkan dengan sangat baik sehingga menyentuh nurani kita yang mungkin lebih beruntung dibanding Dahlan kecil. Novel ini juga menyadarkan kita bahwa kemiskinan bukanlah akhir dari segala-galanya malahan dalam sebuah petuahnya, ayah Dahlan berkata bahwa “Kemiskinan yang dijalani dengan tepat akan mematangkan jiwa”.
Sejarah hidup Dahlan telah membuktikan petuah ayahnya ini, Dahlan kecil memang terlihat lebih matang dibanding anak seusianya dan kematangan jiwanya itulah yang juga menghantarnya hingga bisa menjadi seorang menteri yang disgani. Masa kanak-kanaknya harus dilalui dengan keras, ketika anak-anak lain beria-ria bermain atau beristirahat sepulang sekolah, Dahlan harus menyabit rumput, mengangon domba, menjadi kuli seset di kebun tebu, dll untuk membantu keluarganya. Walau hidupnya sulit Dahlan tak lantas kehilangan keceriaannya, novel ini menceritakan dengan jelas bagaimana anak-anak miskin seperti Dahlan tetap memiliki keceriaan masa kanak-kanak dengan caranya sendiri.
Selain menceritakan perjuangan Dahlan mengejar mimpinya memiliki sepatu, pahitnya kehidupan yang dihadapinya, dan juga persahabatannya dengan teman-temannya, novel ini juga mengungkap sejarah pembantaian masal di sumusr-sumur tua di Sococ, Cogrok, dan Dusun Dadapan, Magetan terhadap anggota atau simpatisan PKI
Seluruh kisah Dahlan dan mimpinya dalam novel ini memang patut untuk diapresiasi dengan baik. Penulis mampu merangkai sebuah kisah yang menarik dari awal hingga akhir dengan nuansa sastrawi yang menarik sehinga novel yang diawali saat Dahlan Iskan hendak dioperasi cangkok liver di tahun 2007 lalu flash back ke masa kecil Dahlan ini tak hanya enak dibaca melainkan mampu melibatkan emosi pembacanya dan menginpirasi pembacanya untuk tidak menyerah oleh keterbatasan.
Bersyukur walau yang dikisahkan dalam novel ini adalah sosok seorang tokoh terkenal namun penulis tak terjebak dalam menulis hal-hal yang baiknya saja. Dahlan dalam novel ini tidak digambarkan sebagai sosok yang sempurna, sama seperti anak-anak lainnya Dahlan juga dikisahkan melakukan kenakalan seperti anak-anak lainnya seperti mencuri tebu, mencoba membongkar lemari ayahnya agar bisa mendapat uang untuk membeli sepatu, memiliki nilai merah di raportnya, dan sebagainya.
Sepatu yang menjadi impian Dahlan kecil mengikat keseluruhan kisah dalam novel ini sehingga pembaca dibuat ikut merasakan bagaimana besarnya keinginan Dahlan untuk memiliki sepatu. Sayangnya penulis tidak menceritakan seperti yang diungkap Dahlan Iskan dalam pengantar novel ini, yaitu ketika akhirnya ia berhasil memiliki sepatu ia tetap nyeker sambil menenteng sepatu agar sepatunya itu tetap awet. Tentunya ada banyak sisi-sisi menarik yang bisa digali dan dikisahkan saat Dahlan untuk pertama kalinya memiliki sepatunya hasil dari jerih upayanya sendiri.
Terlepas dari hal di atas dengan segala kelebihan dan kelemahannya novel ini sepatutnya dibaca oleh siapa saja dengan range usia yang cukup panjang, mulai dari anak remaja hingga para orang tua. Ada banyak nilai-nilai kekeluargaan, kedisiplinan, ketekunan, perjuangan, persahabatan, plus romansa remaja yang tercemin dalam kisah Dahlan dan sepatunya ini.
Selain itu melalui novel ini pula kita bisa memahami apa yang melatari sosok Dahlan Iskan seperti yang kini dikenal dengan kenyentrikan, kesederhanaan, dan kerja kerasnya. Seperti apa kata Panda Nababan (Wakil Pemred RCTI) dalam komentarnya di novel ini :
"Kesederhanaan, rendah hati dan kerja keras yang dibarengi keteguhan hari, bukanlah sekedar gerbakan. Tapi itu semua adalah bentuk ucapan syukur Pak Dahlan terhadap apa yang pernah dilaluinya dan sudah dicapai”
Seperti yang sudah diduga karena novel ini hadir di tengah popularitas Dahlan Iskan, novel ini segera mendapat sambutan yang sangat positif dari masyarakat Indonesia. Terbukti hanya dalam waktu empat hari setelah terbit, novel ini telah terjual sebanyak 12 ribu ekslempar. Semoga dengan semakin banyak orang yang membaca novel ini semakin banyak pula orang yang terinpirasi dari kisah kehidupan Dahlan Iskan.
Thanks untuk orang yang telah merekomendasikan buku ini. Ceritanya, terfokus kehidupan seorang Dahlan sebagai seorang anak yang lahir dari keluarga serba kekurangan, selalu dilanda kesedihan entah berasal dari luar atau dalam dirinya...
Buku yang sangat inspiratif dengan sudut pandang dan alur menarik membuat candu. Mengisahkan tentang seorang anak desa, Dahlan. Namun, siapa sangka kini dia tumbuh menjadi pengusaha sukses, mantan menteri, inovator sekaligus sosok inspiratif
Siapa yang tekenal Dahlan Iskan? Menteri BUMN sekaligus CEO Jawa Pos ini kerap menyedot perhatian publik dengan aksi-aksinya yang terbilang ‘nyentrik’. Tentu masih hangat di ingatan kala Dahlan Iskan geram dan membuka sendiri pintu tol dalam kota yang masih ditutup, atau saat beliau diam-diam ikut berdesak-desakan dalam KRL, atau juga saat beliau memilih untuk menginap di rumah seorang petani dengan hanya beralaskan tikar. Penampilannya yang bersahaja—kemeja putih, celana bahan serta sepatu kets yang menjadi ciri khasnya—Nampak kontras dengan pejabat-pejabat tinggi di negeri ini.
Sepatu Dahlan merupakan buku pertama dari rangkaian trilogi Novel Inspirasi Dahlan Iskan karya Khrisna Pabichara. Novel ini menceritakan kisah hidup Dahlan kecil yang penuh semangat dalam mengejar impian-impiannya meski berteman akrab dengan kemiskinan. Impiannya sangat sederhana: sepatu dan sepeda. Mungkin bagi sebagian orang impian tersebut remeh, namun bagi Dahlan kecil yang kerap melingkarkan sarung untuk menahan rasa lapar, kedua impian tersebut sangatlah mewah. Ia sering membayangkan betapa nikmatnya bila ia memiliki sepatu dan sepeda: tak perlu ia pergi terlalu pagi untuk mencapai sekolah yang jaraknya berkilo-kilo, tak perlu ia merasakan panasnya sengatan aspal di siang hari, tak perlu juga ia merasakan perihnya luka-luka lecet di telapak kakinya.
Rupanya bukan hanya kemiskinan dan kelaparan yang mesti dihadapi Dahlan kecil, ada yang lebih memilukan lagi dari itu semua: kehilangan. Di usianya yang masih belia, Dahlan harus kehilangan ibunya—sosok yang selama ini selalu memberikan kehangatan di rumahnya yang sederhana. Saat ditinggal ibunya, kini Dahlan juga harus mengurusi adiknya yang masih kecil: Zein. Hal ini ia emban karena ayahnya bekerja serabutan dan kerap keluar kampung, sementara kedua kakak perempuannya tinggal di luar kota.
Buku ini juga hadir bukan untuk mengelu-elukan sosok Dahlan. Dahlan kecil juga digambarkan bukan tanpa cela. Diceritakan bagaimana Dahlan kecil terpaksa mencuri tebu untuk menebus rasa lapar. Bagaimana Dahlan kecil juga sempat berniat mencuri uang simpanan ayahnya untuk membeli sepatu. Atau Dahlan yang terampil di kelas, organisasi dan lapangan voli justru ciut dan kikuk di hadapan Aisha—gadis pujaan hatinya.
Penulis juga dengan apik menggambarkan persahabatan Dahlan dengan sahabat-sahabatnya: Kodir, Imran, Komariyah, Maryanti dan Arif. Jalinan persahabatan yang penuh kasih tanpa memandang latar sosial masing-masing. Persahabatan yang memberi gairah serta semangat tersendiri bagi Dahlan.
Kisah Dahlan kecil seperti sebuah tamparan bagi kita, bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi kita untuk meraih impian. Bahwa kemiskinan tak layak dijadikan alasan untuk mengeluh dan meminta-minta. Bahwa kebahagiaan itu sangatlah sederhana.
1. Judul : Sepatu Dahlan 2. Pengarang : Khrisna Pabichara 3. Penerbit : Noura Books 4. Tahun terbit : 2012 5. Cetakan ke : VIII, September 2012 6. Jumlah Hlm : Xiii + 369 Novel ini menceritakan tentang perjuangan hidup seorang remaja miskin di sebuah desa bernama Kebon Dalem yang bernama Muhammad Dahlan yang kini menjadi menteri BUMN. Dahlan merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Kehidupan yang keras karena kemiskinan mengajarinya untuk tetap bertahan hidup. Rasa perih karena lapar adalah sahabat baik yang enggan pergi. Dia juga tak pernah lupa akan dua cita-cita besarnya yaitu sepeda dan sepatu sebagai bukti perjuangan dalam meraih ilmu. Namun, bukan berarti ia kehilangan keriangan masa kecilnya, karena ia memiliki sebuah persahabatan murni yang begitu indah. Ketegasan Ayah dan kelembutan hati sang Ibu selalu menyemangatinya untuk terus berjuang. Sewaktu menerima ijazah SD, Dahlan sangat takut pulang ke rumah, karena ada 2 angka merah di ijazahnya. Sebenarnya, Dahlan berencana untuk masuk ke sekolah favorit yaitu SMP Magetan, namun karena pertimbangan nilai, biaya serta tenaga yang harus dikuras setiap harinya untuk berjalan 30 km pulang-balik tanpa sepatu, akhirnya Dahlan pun bersekolah di sekolah pilihan orang tuanya yaitu Pesanteran Sabilil Muttaqien atau yang lebih dikenal dengan Tsanawiyah Takeran. Setiap hari sebelum berangkat sekolah, Dahlan menyabit rumput, setelah itu ia langsung sekolah, terkadang Dahlan tanpa sarapan. Dengan pekerjaannya itu, Dahlan mendapat upah untuk ditabung dan dapat membeli sepatu dan sepeda yang merupakan impian terbesarnya. Di MTs inilah, Dahlan memulai karirnya sebagai pemain volly. Suatu hari, ibunya meninggal karena penyakit yang juga menelan jiwa pamannya. Hal tersebut sangat membuat Dahlan terpukul. Namun, tak lama kemudian ia mulai bangkit kembali, karena ada Zain, adiknya yang masih membutuhkannya. Sampai akhirnya Dahlan dapat membeli sepatu 2 pasang sekaligus. Satu untuk Zain, dan satu untuk dirinya sendiri. Kelebihan novel ini adalah sangat inspiratif. Dapat menginspirasi semua kalangan, terutama generasi muda untuk tidak pantang menyerah meraih cita-cita dan yakin bahwa kekurangan bukanlah halangi, namun dapat dijadikan sebagai batu loncatan untuk meraih sukses. Selalu optimis dalam menjalani hidup. Namun, kekurangan novel ini yaitu terdapat kata-kata yang berbahasa Jawa, yang tidak setiap pembaca dapat memahaminya dan bahasa yang digunakan kurang menarik.
buku ini sukses menceritakan kehidupan dahlan sejak kecil (meskipun kata pak dahlan pada halaman pertama bahwa beberapa (ingat, beberapa, tidak semua) adegan dan tokoh tersebut adalah fiktif). saya suka sekali 3 nasehat dari buku ini :
1. ojo kepingin sugih, lan ojo wedi mlarat 2. sumber bening ora bakal nggolek timbo 3. pilih ngendi, sugih tanpa iman opo mlarat anangin iman?
buku ini sukses menerjemahkan ketiga nasehat diatas melalui berbagai kejadian yang terjadi pada diri dahlan.. selain itu, buku ini emang jenis buku yang bikin candu, saya selalu penasaran untuk membaca halaman berikutnya (seperti kata A. fuadi, penulis Negeri 5 Menara). sampai tak terasa, halaman buku tersebut pun habis ku baca, namun rasa penasaranku masih terasa, tentang dimana akhirnya pak dahlan kuliah, dan apakah aisha akan menjadi istrinya...
Cerita dalam buku ini membuat kita seperti ikut terlibat dalam kisah si dahlan ini. bagaimana si dahlan kecil berkali-kali membuat suatu keputusan salah yang terkadang harus dibayar mahal untuk memperbaiki keadaannya. apa adanya. ya buku ini menceritakan tanpa berbelit-belit kehidupan miskin yang dihadapinya. Kejadian-kejadian yang dengan tabah di terimanya yang akhirnya membentuk karakter dirinya. Dalam buku ini, Dahlan kecil mengajarkan untuk melihat dan menjalani secara jujur keadaan kondisi kehidupannya, tapi tidak melupakan mimpi yang dimiliknya berusaha untuk mencapainya. Buku yang sangat meng-inspirasi..
buku yang suangat keren , baru membaca setengah saja sudah bisa menggugah saya untuk melakukan sesuatu yang hebat. saya merasa takjub kepada dahlan kecil yang dalam segi ekonomi kurang mampu , tetapi masih bisa bersenang2 dengan kegiatan mandi di sungainya , lomba balap kerbaunya , 'pertunjukan wayang'-nya , dsb. Seolah olah , dia sangat menikmati kemiskinannya.
Setiap saya ingin mengeluh karna suatu hal sepele , pagi pagi belum tersedia sarapan contohnya ,saya langsung teringat kepada kisah dahlan kecil ini.. Mungkin saat saya menulis review ini , di luar sana ada yang sedang mengikat sarung pada perutnya erat erat. Menahan Lapar. #SuratDahlan dan #KursiDahlan Sangat Ditunggu ! :D
Semacam novelisasi...jadi waswas tergelincir vickinisasi...kisah kehidupan masa kecil Dahlan Iskan, pengusaha media, Dirut BUMN, dan kemudian Menteri. Masa kecil yang penuh lika-liku, penderitaan karena kondisi ekonomi.Selalu kagum dan terinspirasi dengan ketegaran dan keinginan kuat untuk merubah kehidupan.
Bagi sebagian orang mungkin keinginan untuk memiliki sesuatu tidak sampai memotivasi untuk bekerja keras mati-matian untuk memperolehnya, apalagi hanya untuk sepasang sepatu.Motivasi, sesuatu yang sangat sulit saat ini, terbukti orang-orang berbondong-bondong mengikuit pidato motivasi atau pelatihan motivasi diri.
Mungkin saja rating yang kuberikan bisa lain kalau gaya penulisannya mirip gaya penulisan Pak Dahlan Iskan sendiri. Karena ini novel, bukan biografi, seharusnya wajar toh kalau gaya penulis novelnya yang bicara. Tapi tetap saja rasanya kurang sreg, seolah si "aku" malah orang lain -.-
Eniwei meski beberapa adegan dan tokoh yang ditulis fiktif, seperti kata Pak Dahlan Iskan sendiri, yang penting semangatnya tetap sama.
Kumasukkan rak biografi apa nggak ya...? *teringat laskar pelangi yang sebenarnya novel juga masuk rak biografi*
Pertama beli buku ini sih penasaran aja sama isinya! ehh, pas aku baca .. YOU MUST READ THIS BOOK! bagus, menceritakan kehidupan bapak menteri favorit saya Bpk Dahlan Iskan. yang menghabiskan masa kecil hingga remaja di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Memang sangat sulit kehidupan dahlan kala itu dengan kemiskinan dan tentu rasa lapar yang selalu menemani dahlan iskan. Membaca novel ini seolah-olah saya terbawa oleh lorong waktu di masa2 itu.
buku yg sangat menginspirasi. Melihat kisah masa kecil pak DIS, saya tidak berhenti menangis sampai bab terakhir. Benar-benar menghanyutkan ketika dibaca. Must read!
Judul : Sepatu Dahlan Penulis : Khrisna Pabichara Penerbit : Noura Books Cetakan : I, Mei 2012 Tebal : 369 hlm
Dahlan Iskan bisa dikatakan sebagai sosok menteri di jajaran Kabinet Indonesia Bersatu jilid 2 yang paling dikenal oleh rakyat Indonesia. Menteri yang dikenal disiplin dalam tugasnya, temperamental namun murah senyum ini sering dianggap kontroversial baik dari kiprahnya maupun keputusan-keputusan yang diambilnya, namun Presiden SBY memujinya sebagai menteri yang cekatan dan responsif Disamping itu Dahlan Iskan juga dikenal sebagai sosok yang bersahaja, dalam menjalankan tugasnya Dahlan Iskan rela berkeringat ikut naik KRL, menyantap soto di pinggir jalan, menginap di rumah petani miskin dan tidur terlelap hanya dengan beralas tikar, dan sebagainya. Dari segi berpakaikan pun ia pun sangat sederhana, sementara menteri lain mengenakan jas atau batik ia lebih suka mengenakan baju putih lengan panjang yang digulung dan sepatu kets sebagai alas kakinya kemanapun ia pergi. Siapa sebenarnya Dahlan Iskan, mengapa ia begitu disiplin, tidak canggung bergaul dengan rakyat dan selalu menggunakan sepatu kets? Jawabannya mungkin bisa kita peroleh melalui novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara yang kisahnya terinspirasi dari masa remaja Dahlan Iskan. Novel Sepatu Dahlan yang merupakan bagian pertama dari Trilogi Novel inspirasi Dahlan Iskan ini mengisahkan kehidupan Dahlan Iskan saat remaja. Melalui novel ini terungkap bahwa Dahlan Iskan dibesarkan dalam keluarga miskin di desa Kebon Dalem, Magetan, Jawa Tengah yang harus berjuang guna memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Namun sedari kecil kedua orang tuanya selalu menekankan bahwa hidup miskin bukan berarti harus meminta-minta untuk dikasihani melainkan harus dihadapi dengan bekerjadan berusaha. Kehidupan mendidik Dahlan kecil dengan keras. Perih karena rasa lapar tak jarang harus dialaminya, sampai-sampai ia dan adiknya harus melilitkan sarung di perutnya untuk menahan perih lambungnya karena lapar. Meskipun hidup dalam kekurangan keluarganya tetap mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya. Walau tak memiliki sepatu Dahlan rela berjalan kaki puluhan kilometer untuk bersekolah tanpa alas kaki. Perih karena lecet pada kakinya yang tak bersepatu tak membuatnya malas bersekolah. Alih-alih malas ia menyimpan dua impian besar di masa kecilnya yaitu memiliki sepatu dan sepeda. Impian itu terus membayangi kehidupan masa kecil hingga remajanya, ia terus berusaha mengejar impiannya. Walau kehidupannya semakin sulit ditambah kesedihannya ditinggal oleh orang-orang yang disayanginya mimpinya memiliki sepatu dan sepeda tak pernah hilang hingga akhirnya ketika Dahlan telah berhasil meraih mimpinya itu ia sadar bahwa ada mimpi lain yang harus ia raih, mimpi besar untuk melawan kemiskinan yang mendera keluargaya yang harus diikhiarkannya dengan bekerja kerjas.
Dahlan Iskan di Istana Negara dengan kemeja putih dan sepatu ketsnya.
Novel ini menginspirasi pembacanya untuk tidak menyerah oleh keadaan. Kehidupan Dahlan kecil yang serba kekurangan terkisahkan dengan sangat baik sehingga menyentuh nurani kita yang mungkin lebih beruntung dibanding Dahlan kecil. Novel ini juga menyadarkan kita bahwa kemiskinan bukanlah akhir dari segala-galanya malahan dalam sebuah petuahnya, ayah Dahlan berkata bahwa “Kemiskinan yang dijalani dengan tepat akan mematangkan jiwa”. Sejarah hidup Dahlan telah membuktikan petuah ayahnya ini, Dahlan kecil memang terlihat lebih matang dibanding anak seusianya dan kematangan jiwanya itulah yang juga menghantarnya hingga bisa menjadi seorang menteri yang disgani. Masa kanak-kanaknya harus dilalui dengan keras, ketika anak-anak lain beria-ria bermain atau beristirahat sepulang sekolah, Dahlan harus menyabit rumput, mengangon domba, menjadi kuli seset di kebun tebu, dll untuk membantu keluarganya. Walau hidupnya sulit Dahlan tak lantas kehilangan keceriaannya, novel ini menceritakan dengan jelas bagaimana anak-anak miskin seperti Dahlan tetap memiliki keceriaan masa kanak-kanak dengan caranya sendiri. Selain menceritakan perjuangan Dahlan mengejar mimpinya memiliki sepatu, pahitnya kehidupan yang dihadapinya, dan juga persahabatannya dengan teman-temannya, novel ini juga mengungkap sejarah pembantaian masal di sumusr-sumur tua di Sococ, Cogrok, dan Dusun Dadapan, Magetan terhadap anggota atau simpatisan PKI Seluruh kisah Dahlan dan mimpinya dalam novel ini memang patut untuk diapresiasi dengan baik. Penulis mampu merangkai sebuah kisah yang menarik dari awal hingga akhir dengan nuansa sastrawi yang menarik sehinga novel yang diawali saat Dahlan Iskan hendak dioperasi cangkok liver di tahun 2007 lalu flash back ke masa kecil Dahlan ini tak hanya enak dibaca melainkan mampu melibatkan emosi pembacanya dan menginpirasi pembacanya untuk tidak menyerah oleh keterbatasan. Bersyukur walau yang dikisahkan dalam novel ini adalah sosok seorang tokoh terkenal namun penulis tak terjebak dalam menulis hal-hal yang baiknya saja. Dahlan dalam novel ini tidak digambarkan sebagai sosok yang sempurna, sama seperti anak-anak lainnya Dahlan juga dikisahkan melakukan kenakalan seperti anak-anak lainnya seperti mencuri tebu, mencoba membongkar lemari ayahnya agar bisa mendapat uang untuk membeli sepatu, memiliki nilai merah di raportnya, dan sebagainya. Sepatu yang menjadi impian Dahlan kecil mengikat keseluruhan kisah dalam novel ini sehingga pembaca dibuat ikut merasakan bagaimana besarnya keinginan Dahlan untuk memiliki sepatu. Sayangnya penulis tidak menceritakan seperti yang diungkap Dahlan Iskan dalam pengantar novel ini, yaitu ketika akhirnya ia berhasil memiliki sepatu ia tetap nyeker sambil menenteng sepatu agar sepatunya itu tetap awet. Tentunya ada banyak sisi-sisi menarik yang bisa digali dan dikisahkan saat Dahlan untuk pertama kalinya memiliki sepatunya hasil dari jerih upayanya sendiri. Terlepas dari hal di atas dengan segala kelebihan dan kelemahannya novel ini sepatutnya dibaca oleh siapa saja dengan range usia yang cukup panjang, mulai dari anak remaja hingga para orang tua. Ada banyak nilai-nilai kekeluargaan, kedisiplinan, ketekunan, perjuangan, persahabatan, plus romansa remaja yang tercemin dalam kisah Dahlan dan sepatunya ini. Selain itu melalui novel ini pula kita bisa memahami apa yang melatari sosok Dahlan Iskan seperti yang kini dikenal dengan kenyentrikan, kesederhanaan, dan kerja kerasnya. Seperti apa kata Panda Nababan (Wakil Pemred RCTI) dalam komentarnya di novel ini : "Kesederhanaan, rendah hati dan kerja keras yang dibarengi keteguhan hari, bukanlah sekedar gerbakan. Tapi itu semua adalah bentuk ucapan syukur Pak Dahlan terhadap apa yang pernah dilaluinya dan sudah dicapai”
Seperti yang sudah diduga karena novel ini hadir di tengah popularitas Dahlan Iskan yang tengah meroket, novel ini segera mendapat sambutan yang sangat positif dari masyarakat Indonesia. Terbukti hanya dalam waktu empat hari setelah terbit, novel ini telah terjual sebanyak 12 ribu ekslempar. Semoga dengan semakin banyak orang yang membaca novel ini semakin banyak pula orang yang terinpirasi dari kisah kehidupan Dahlan Iskan.
"Kalaupun aku tidak menemukan apa-apa, setidaknya aku telah berusaha. Itu saja"-page 94 "Hidup ini keras, kamu harus berjuang sendiri"-page 40 "Kami bukan orang asing bagi rasa lapar"-page 81 ------------------------------------------------------------------------- Ini adalah buku pertama yang aku baca setelah vakum beberapa tahun yang lalu. buku ini memiliki bawang merah di dalamnya yang membuat air mataku tak henti mengalir. Buku ini menceritakan kehidupan Bapak Dahlan Iskan sejak kecil. bagaimana beliau menghadapi kerasnya hidup, menghadapi kemiskinan, kehilangan, dan juga meraih mimpi dan masih banyak lagi. mungkin bagi kita memiliki sepatu baru sudah sangat biasa bagi kita. Tahukah Kamu? hal ini malah jauh berbeda dengan masa kecil Dahlan. Kehidupan masa kecil Dahlan yang sangat keras sungguh suatu kehidupan yang sangat mendidik. Rasa lapar bukanlah hal yang asing baginya. usaha dan kerja keras untuk meraih mimpi dia lakukan dengan cara apapun asalkan belum melanggar aturan dari yang Mahapasti. berjalan berkilo-kilo meter tanpa memiliki pelindung kaki dia lakukan demi meraih mimpi. tidak seperti anak-anak pada umumnya yang sepulang sekolah langsung makan, tidur siang, main-main bersama kawan kompleks. sepulang sekolah, Dahlan harus bekerja keras lagi demi sesuap nasi dan tiwul. tapi perlu kamu ketahui kawan, hal itu bukan berarti masa kecil Dahlan suram ya. Justru karna kerasnya hiduplah membuat nya semakin bersemangat dan tak pernah putus asa. Dia juga memiliki kawan yang selalu mendukungnya dan setia membantunya. Mulai dari mencari sepatu bekas untuk main voli dan membawa makanan ketika ibu nya sakit dan juga ketika bapaknya tidak ada dirumah. Yang paling penting, Dahlan terus berusaha mengejar cita-citanya : Sepatu dan sepeda. Cita-cita yang sederhana memang bagi kita. Dengan cita-cita kecil itulah, Dahlan menjadi seorang yang besar hingga saat ini. Kamu harus baca buku ini jika ingin melihat bagaimana kerasnya hidup yang belum pernah kamu alami. Bagaimana rasanya kehilangan dan di tingggalkan oleh orang yang paling kamu sayangi. Kamu pasti akan menangis baca cerita ini.
Jadi, itu novel terinspirasi kisah kecilnya Pak Dahlan Iskan (dan di novelnya emang bercerita tentang beliau cuman dengan tambahan disana-sini) yang sangat melarat waktu itu. Disitu lebih memfokuskan pada perjuangan Pak Menteri BUMN untuk membeli sepasang sepatu dengan jerih payahnya sendiri.
Cukup menginspirasi, mengharu biru. Apalagi saat Dahlan kecil ditinggal mati ibunya dan kembali kehilangan sosok yang dia cintai, mbak Atun, yang ikut pamannya merantau ke Kalimantan. Pokoknya menyentuh dan terlihat sangat menyedihkan bangetlah. Nggak kebayang, seharian gak makan, atau paling cuma minum air kelapa. Jadi, kita harus terus-terusan bersyukur atas kondisi kita yang serba kecukupan sekarang ini.
Pernah baca novelnya Andrea Hirata kan? Atau Negeri 5 Menara-nya A. Fuadi? Kira-kira semacam itulah. Kisah masa kecil, arti persahabatan, perjuangan melawan kemelaratan, kerja keras pantang menyerah, dan tekad menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh meski keadaan serba kekurangan.
Kita dapat menjadi orang yang merasa tidak beruntung karena lahir di tengah-tengah keluarga miskin. Tapi kita juga dapat memilih menjalani hidup dengan wajar dan penuh keriangan, berusaha membantu orang tua sedapat mungkin, meraih segala yang didamba dengan keringat sendiri, dan tetap antusias memandang masa depan.
Secara keseluruhan, kisahnya menarik dan cukup menggugah. Hanya saja, hehehe, menurut saya Khrisna Pabichara tidak begitu baik dalam menuliskannya. Eh, baik sih. Tapi masih ada kekurangan disana-sini. Ada beberapa pertentangan dan ketidakjelasan.
Pertama, disitu diceritakan bahwa semenjak tragedi "sepeda ringsek" ayah Dahlan jadi jarang bicara padanya. Paling hanya tersenyum saat ia berpamitan ke sekolah. Tapi anehnya pada bagian selenjutnya, dikatakan bahwa ayahnya baru mau tersenyum lagi saat Dahlan dikukuhkan sebagai pengurus ikatan santri.
Pertentangan kedua. Saat ibu Dahlan sakit, ayahnya harus menunggui ibunya di rumah sakit. Sehingga di rumah hanya ada Dahlan dan adiknya, sama-sama kelaparan, tak ada makanan. Seharian itu mereka nggak makan, nggak ada tetangga yang datang membawa makanan. Pokoknya dikisahkan seakan-akan nggak ada yang peduli. Nah, pada bagian selanjutnya saat adik Dahlan, Zain, sakit panas, Dahlan berani meninggalkannya di rumah sendirian karena menurutnya tetangganya baik-baik dan akan memperhatikan Zain. Nah lho? Bikin bingung orang-orang yang kritis seperti saya. Hehe.
Oiya, disini menurut saya ada juga ketidakjelasan karakter. Jadi awalnya seseorang dideskripsikan memiliki karakter tertentu, tapi di bagian selanjutnya sikap dan tuturkatanya tidak mencerminkan demikian. Lagi, saat mbak Atun (kakak pertama Dahlan) pamit ikut merantau ke Kalimantan bersama pamannya, disitu tidak dijelaskan ke Kalimantan-nya itu mau ngapain. Asumsi saya sih kayaknya bekerja sama pamannya. Haha.
Satu lagi, bagian yang paling mengganjal di novel ini, bagian yang entah mengapa saya tidak suka. Haha. Dahlan senang mendengarkan ayahnya bercerita tentang suatu kisah. Saat itu, Dahlan dan teman-temannya sedang mendengarkan ayahnya berkisah tentang murid guru Zen.
Jadi ceritanya begini. Dua murid Guru Zen, setelah sekian lama melakukan perjalanan untuk mempraktikkan ajaran gurunya, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke pertapaan guru mereka. Nah, ditengah perjalanan pulang itu mereka mendapati sebuah kampung yang dilanda banjir dan banyak korbannya telah mati, kecuali seorang gadis yang berteriak minta tolong kepada mereka.
Menurut murid kesatu, gadis itu harus ditolong, paling tidak dibopong sampai ke desa sebelah dan meminta orang-orang di desa itu merawatnya. Sedangkan murid kedua tetap bersikukuh untuk membiarkan gadis itu sendiri karena tidak mau melanggar larangan Guru Zen. Nggak jelas disitu larangannya apa sih, tapi ya yang pasti membopong seorang gadis jadi pantangan bagi mereka. Nah, singkat cerita setelah melalui perdebatan akhirnya murid kesatu tetap membopong gadis itu selama di perjalanan ke desa sebelah, sedangkan murid kedua tetap berjalan disampingnya sambil mulutnya komat-kamit memohonkan ampunan bagi temannya yang melanggar larangan itu.
Berikut saya kutipkan percakapan mereka sewaktu mereka meneruskan perjalanan dari desa sebelah dan hari mulai gelap :
"Bertobatlah, saudaraku!" kata murid kedua. "Karena kesalahan apa?" "Kamu telah melakukan perbuatan maksiat." "Aku cuma menggendong gadis itu sepanjang 70 meter, adapun kamu menggendongnya dalam pikiranmu sepanjang tujuh kilometer. Siapa yang mestinya bertobat?" kata murid kesatu.
Sekarang perhatikan bagaimana ayah Dahlan mengakhiri ceritanya :
"Anak-anak, kisah diatas hanyalah tamsil belaka. Banyak diantara kita, saat ini tau agama dari kulitnya saja, dan gagal menyelam lebih dalam untuk mencari makna ajaran agama yang tersirat. Sekarang, kita begitu mudah menuduh orang lain salah dan hanya kita yang benar. Setiap ada yang berbeda paham, dengan gampang kita menuding mereka murtad, ingkar, kafir, atau sesat. Padahal, belum tentu. Mungkin saja tafsir dan pemahaman kita berbeda."
Sekilas baik sih, bijaksana sekali. Tapi menurut saya, untuk hal yang menyangkut akidah (ingkar, kafir, mutad, sesat) koq ya rasanya nggak pas kalau diibaratkan dengan kisah dua murid guru Zen tadi. Masalah akidah kan krusial sekali, sedangkan cerita murid guru Zen itu jelas-jelas bukan cerita islam, entah latar belakangnya apa. Jujur saja, saya agak janggal dengan bagian ini. Mungkin saja tafsir dan pemahaman kita berbeda. Saat pertama kali membacanya, saya sempat berpikiran macam-macam. Tentang kebebasan berpikir, tentang liberalisme. Haha. Semoga itu hanya perasaan saya saja. Mari kita saling berbaik sangka. ^_^
Oh iya, walaupun di novel ini tokoh-tokohnya religius, tapi ini bukan novel islam lho ya. Bukan. Menurut saya bukan. Satu lagi bagian yang kurang pas yaitu cara Dahlan mendeskripsikan gadis yang ditaksirnya, Aisha. Masa Dahlan mendeskripsikan Aisha sampai ke matanya, bibirnya. Wew. Menurut saya itu terlalu dewasa untuk sudut pandang seorang anak SMP. Anak SMP jaman dahulu yang dihimpit kemiskinan tentu saja. Kalau anak SMP jaman sekarang?
Well, itu saja ya sekilas tentang novel Sepatu Dahlan. Masih ada buku kedua dan ketiga. Surat Dahlan dan Kursi Dahlan. Nantikan saja. Semoga lebih baik. Terimakasih sudah membaca. ^_^
"Ternyata aku lebih siap menghadapi kesenangan daripada kehilangan, maka lahirlah kesedihan." -hlm. 196
Aku tertarik untuk pinjam dan baca buku ini karena judulnya yang memasukkan nama Dahlan. Tadinya kupikir buku ini adalah biografi dari Dahlan Iskan yang riil (nonfiksi), namun ternyata ini adalah sebuah novel, yang secara teknis memang based on true story, yang kalau otakku tebak ya inspired dari cerita Dahlan Iskan.
Novel ini bercerita tentang kehidupan Dahlan di kampungnya, Kebon Dalem, dan bagaimana kehidupannya di sekolah dan kehidupan pertemanannya. Dahlan yang notabenenya lahir dalam keluarga yang serbakekurangan, mempunyai sebuah mimpi sederhana: sepeda dan sepatu. Dan dengan segala upaya yang diusahakannya, dia hendak memiliki kedua benda yang diidam-idamkannya itu.
Ceritanya sederhana dan khas seperti novel-novel inspiratif lainnya yang pernah kubaca. Alurnya khas gitu. Jadi seperti membaca novel lain dengan perubahan sedikit di sana-sini.
Sayangnya di beberapa bagian tuh aku merasa terlalu repetitif bahkan ada kalimat yang plek sama copy-paste. Namun meski begitu novel ini kuat sama makna tersirat dan tersuratnya.
Karena ini adalah buku pertama, memang cerita di sini masih seperti pembukaan sih. Mungkin di buku kedua dan ketiga aku akan menemukan cerita yang lebih padat, kompleks, dan inspiratif~
Novel ini disusun mendasarkan pada true story kehidupan Dahlan Iskan sewaktu remaja yang duduk di bangku madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah pada sekitar tahun 1960an. Sebagai sebuah novel, true story tersebut kemudian dikembangkan dan dibumbui beberapa adegan fiktif. Karena penulisan yang cukup runtut dan mengalir, saya kesulitan untuk menelaah mana kejadian yang riil dan mana yang fiktif...
Buku ini mengisahkan kehidupan Dahlan yang hidup bersama ayah ibunya beserta kakaknya Mbak Atun yang menjadi guru, Mbak Sofiawati yang kuliah, Dahlan yang mulai masuk madrasah Tsanawiyah/MTs (setingkat SMP) dan adiknya, Zain. Keluarga Dahlan hidup di desa miskin di pinggiran perkebunan tebu di daerah Magetan- Jawa Timur. Di kampung Kebon Adem tersebut, Dahlan tinggal bersama ayah, ibu dan adiknya. Sedangkan Mbak Atun bekerja dan Mbak Sofiawati kuliah di kota Madiun. Ayah Dahlan seorang ustadz kampung yang bekerja keras sebagai buruh serabutan (misal buruh tani dan bertukang), untuk memenuhi kehidupan keluarganya. Ibunya Dahlan yang dibesarkan di pesantren, mencari tambahan penghasilan dengan membatik. Kehidupan yang miskin membuat Dahlan dan Zain terbiasa dengan kehidupan sederhana seperti makan nasi thiwul (dari gaplek singkong). Dahlan dan Zain juga dilatih untuk bekerja keras dengan mencari rumput dan menggembalakan domba mereka yang berjumlah 28 ekor, dan bekerja sebagai kuli di perkebunan tebu yang ada di lingkungannya.
Saat bersekolah di MTs pesantren Takeran yang dikelola oleh keluarga ibunya, Dahlan mengalami ujian dengan meninggalnya ibunda Dahlan yang sangat dicintainya. Meninggalnya ibunda membawa banyak perubahan dalam keluarga itu karena ayah Dahlan menjadi “shock” dan semakin banyak menghabiskan waktu di sawah garapan (termasuk di malam hari) untuk mencangkul dan mencari nafkah buat kebutuhan keluarga. Dahlan sendiri harus mengambil alih peran ibundanya untuk menyiapkan makanan buat dirinya sendiri dan adiknya. Kondisi keluarga yang sangat miskin, membuat Dahlan dan Zain akrab dengan kelaparan. Sepotong buah pisang ataupun lauk ikan teri plus sambel terasi-pun sudah merupakan makanan yang mewah bagi mereka. Zain pun sempat beberapa kali mengalami pingsan karena tidak kuat menahan kelaparan yang menderanya. Dahlanpun sempat dihukum oleh mandor perkebunan karena ketahuan mencuri tebu untuk menolong adiknya yang sedang kelaparan.
Kondisi keluarga yang miskin dan Dahlan harus menangani urusan masak memasak serta harus menggembalakan domba, tidak membuat Dahlan minder. Di sekolah dia ikut aktif dalam kegiatan organisasi Ikatan Santri dan juga aktif dalam kegiatan bola voli. Dahlan juga rajin belajar sehingga mampu berprestasi di sekolah walaupun hari-hari dia harus berjalan berkilo-kilo tanpa sepatu (nyeker) untuk menjangkau sekolah. Sepatu merupakan suatu benda yang sangat “bernilai” atau mewah bagi Dahlan. Dahlan sangat puas dengan prestasi di sekolah maupun di ekstra kurikuler karena dengan prestasinya itu Dahlan bisa membuat ayahnya bangga dan bahagia. Di balik sikap ayahnya yang pendiam dan penuh disiplin, Dahlan menemukan bahwa ayahnya sangat menyayangi anak-anaknya. Di balik kehidupan di desa yang bergelimang kemiskinan, Dahlan menemukan berkah berupa ketulusan dan kebersamaan dari teman sepermainanya seperti kebersamaan saat menggembala kambing, mencari ikan, mandi di kali dll.Dahlan menjadi semakin kuat dengan adanya dukungan teman2 sekolah dan teman mainnya.
Sepatu dan sepeda dari hari ke hari merupakan obsesi Dahlan. Sepatu pertama akhirnya diperoleh ketika teman-teman kelasnya membelikan sepatu bekas untuk bermain dalam turnamen bola voli. Walaupun kesempitan dan kakinya lecet-lecet, Dahlan dan timnya bisa memenangi turnamen voli itu. Turnamen ini membawa berkah karena Dahlan kemudian diminta menjadi pelatih tim bola voli pabrik gula dengan gaji yang lumayan. Dengan gaji itu, dia bisa membeli sepeda bekas dan sepatu bekas untuk dirinya sendiri dan untuk adik yang dikasihinya. Di tempat berlatih voli, kisah cinta Dahlan dan rekannya bernama Aisha mulai bersemi. Namun cinta tersebut akhirnya tertunda karena Aisha dan Dahlan harus berpisah sementara waktu karena Dahlan harus pergi ke samarinda untuk mencari peluang kuliah di sana, sedangkan Aisha pergi kuliah ke Jogja.
Beberapa pesan moral yang terkandung dalam novel ini, antara lain: • Kemiskinan yang dijalani secara tepat akan mematangkan jiwa. Kemiskinan hendaknya jangan dihadapi dengan dendam. Kemiskinan hendaknya disikapi dengan kerja keras, ulet, tanggung jawab dan sabar agar seseorang mampu keluar dari lingkaran kemiskinan itu sendiri. Dalam jangka panjang, kehidupan masa kecil yang miskin akan dapat menumbuhkan jiwa emphaty terhadap orang miskin, mampu menghargai uang, tidak boros dll ketika orang tersebut dewasa • Kemiskinan hendaknya jangan sampai membuat seeseorang kehilangan jati diri moralnya. Kemiskinan hendaknya jangan dijadikan alasan untuk melakukan perbuatan yang menghalalkan segala cara. • Ilmu, Amal dan Takwa, Ilmu merupakan pijakan untuk bertindak dan beribadah, Ilmu yang dimiliki harus diamalkan untuk kemaslahatan umat dan semuanya berujung pada ketakwaan terhadap Allah s.w.t • Ora kepengin sugih, ora wedi mlarat. Janganlah kau memburu harta/jabatan, dan janganlah kamu takut dengan kemiskinan dan kemelaratan. • Sumber bening ora golek timbo. Bila dirimu memang mempunyai kualitas yang bagus, kamu tidakperlu memngemis-ngemis jabatan. Jabatan atau amanahlah yang akan datang padamu dan harus kamu tunaikan dengan sebaik-baiknya. • Pendidikan moral agama dan kasih sayang dalam keluarga menjadi satu pondasi yang sangat penting untuk membangun karakter jiwa yang tangguh, bertanggung jawab, sabar dan kerja keras. • Dimana ada kemauan, disitu ada jalan...ketika kita mempunya cita-cita dan berupaya keras untuk menggapainya, maka sukses akan menanti.....
Novel ini sangat inspiratif dan dituturkan dengan mengalir......so, ENAK DIBACA DAN PERLU!!!
Berkisah tentang Impian seorang anak desa yang ingin mempunyai sepatu dan sepeda. Dia bersekolah di madrasah milik keluarga ibunya. Ibunya meninggal saat ia baru dimadrasah Tsanawiyah,ia harus membantu ayahnya mencari rezeki setiap hari. Menyabit rumput,mengembala domba domba,dan melatih anak anak pekerja pabrik gula di gorang goreng untuk bermain bola voli.
Pada perjalanan hidupnya yang berliku liku,ia bertemu dengan seorang gadis bernama aisyah, gadis yang manis dan cantik.
This entire review has been hidden because of spoilers.