Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mata Ketiga Cinta

Rate this book

96 pages, Paperback

First published February 1, 2012

Loading...
Loading...

About the author

Helvy Tiana Rosa

76 books950 followers
Helvy Tiana Rosa is widely recognized for her works in Indonesian literary and for her relentless efforts to encourage people, especially the young, poor and women, to write and publish their own works.

She was born in Medan, 2 April 1970 and had a bachelor and master degree of literature from Letters Faculty of University of Indonesia. She wrote more than 50 books, like Juragan Haji (The Juragan Hajj, 2014), Tanah Perempuan (The Woman’s Land, 2009), Segenggam Gumam (A Graps of Murmur, 2003), Mata Ketiga Cinta (The Third Eyes of Love, 2012) and Ketika Mas Gagah Pergi (When Mas Gagah Leaves, 1997). Some of her works were already translated in English, Japanese, Arabic, Swedish, German, French, and so forth. She was frequently invited to speak and read her works both in Indonesia and abroad, like Malaysia, Brunei, Singapore, Thailand, Hong Kong, Japan, Egypt, Turkey, and USA.

In 1990 she established Teater Bening as a director and script writer for the play performances. She was the former editor and the Chief Editor of Annida Magazine and later she involved intensively to help the emergence of writers from different social backgrounds in many cities in Indonesia and abroad through Forum Lingkar Pena (FLP) which was founded by her in 1997. Koran Tempo named her as Lokomotif Penulis Muda, A Locomotive of Young Writers, and The Straits Times named her as a pioneer for contemporary Indonesia Islamic literature (2003).

Helvy received more than 40 awards of national level in the field of writing and community empowerment, like A Literary Figure from Balai Pustaka and Majalah Sastra Horison (2013), A Figure of Books of IBF Award from IKAPI (2006), A Literary Figure of Nusantara Islamic Literary Festival (2016), A Literary Figure of Eramuslim Award (2006), Ummi Award (2004), Nova Award (2004), Kartini Award as one of The Most Inspiring Women in Indonesia (2009), and SheCAN! Award (2008). Her poem Fisabilillah was The Winner of Iqra Poetry Writing Competition of National Level in 1992, with the juries: HB Jassin, Sutardji Calzoum Bachri and Hamid Jabbar. Her short story Jaring-Jaring Merah was appointed as one of the best short stories of Sastra Horison Magazine in one decade between 1990 and 2000. Bukavu (LPPH 2008) was a nomination of Khatulistiwa Literary Award in 2008 and she became The Most Favourite Poet, and her work Mata Ketiga Cinta was chosen as as The Most Favourite Poetry Book of Indonesian’s Readers from Goodread Indonesia in 2012. She was arwaded an honour of Anugerah Karya Satya Lencana from the President of the Republic of Indonesia (2016).

She became a member of Jakarta Arts Council (2003-2006) and as the Founder and the Advisor of Bengkel Sastra Jakarta and also as a Member of The Southeast Asia Board of Literature (2006-2014). Now, she is a vice chair of Islamic Culture and Art Development Commision, The Council of Islamic Scholars of Indonesia, and a Member Social and Art Commision, The Council of Islamic Women Scholars of Indonesia.

Helvy then was listed in 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia (33 People of The Most Influencial Literary Figures in Indonesia) written by Jamal D. Rahman et al (Gramedia, 2014). For nine years, from 2009 to 2017, She was also chosen out of 20 Indonesian people who were listed in 500 People of The Most Influencial Moslem Figures in the World, as research result conducted by Royal Islamic Strategic Studies Centre, in Jordan with several high rank universities in the world.

Recently, she took charge as a producer for two movies based on her novel 'Ketika Mas Gagah Pergi." The first movie was released in 2016 under the same name. The sequel 'Duka Sedalam Cinta' is planned to be released in 2017.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
82 (45%)
4 stars
55 (30%)
3 stars
29 (16%)
2 stars
7 (3%)
1 star
6 (3%)
Displaying 1 - 26 of 26 reviews
Profile Image for Ar Rifa'ah.
Author 1 book1 follower
January 5, 2013
Sepertinya bukan hal yang ringan untuk menerbitkan buku kumpulan puisi. Sebab, dibandingkan peminat novel atau karya nonfiksi, peminat puisi di negeri ini nampaknya tidak sebanding. Tidak banyak pula yang rela merogoh kocek untuk membeli kumpulan puisi.

Tapi buku puisi yang satu ini memang layak dimiliki oleh siapa saja yang mengaku pencinta puisi! Diksinya kuat, menarik, kadang terasa tegas, terasa pula lembutnya. Lebih dari itu, buku puisi ini bukan hanya sekadar berindah-indah dengan kata-kata. Namun, tiap baitnya memang menyimpang nilai yang disuguhkan oleh penyairnya. Salut!
Profile Image for Abdurahman.
Author 9 books141 followers
April 9, 2012

What a beautiful words! You must read!
Profile Image for Helvy.
Author 76 books950 followers
February 15, 2012

Kalau saya tidak menilai buku saya bagus untuk diterbitkan, bagaimana buku ini bisa sampai ke tangan Anda? :)
Profile Image for Dewayanie prasetio.
151 reviews139 followers
March 5, 2012
Cinta adalah
Seberapa pandai kau memnghapus
arimata :1987 >>>> salah satu puisi faveku dlm buku ini :)
Profile Image for Irna.
5 reviews
April 10, 2012
Diksinya bagus banget. Jadi ikut suka puisi.
Profile Image for Sarah.
6 reviews1 follower
June 18, 2012
sekeranjang cinta...
Aku mendadak puitis... ^^
Profile Image for Allegria Mila.
19 reviews6 followers
February 17, 2013
Mata Ketiga Cinta—kumpulan puisi Helvy Tiana Rosa yang ditulis dalam kurun 1985-2011—merupakan kristalisasi dari sebuah kejadian, peristiwa yang ditangkap oleh batin penulis. Buku yang diterbitkan oleh Asma Nadia Publishing House ini berisi 42 puisi pilihan mengusung tema dari soal cinta remaja, rumah tangga, kerinduan pada Ilahi, keprihatinan terhadap kondisi dalam negeri hingga persoalan Palestina.
Kumpulan puisi ini dibuka dengan puisi Cintamu Padaku yang puitis melankolis.

Cintamu padaku
adalah kerinduan waktu
memeluk bisu di batu-batu
saat gerimis jatuh

Lalu disambung dengan puisi Thawaf yang membuat saya rindu ingin segera menunaikan rukun Islam kelima yakni berhaji ke tanah suci.

Labbaik Allahumma labbaik

Ada yang berjejalan di dalam
Dada. Cahaya. Embun
Terik. Maha. Kau

Puisi favorit saya di sini adalah Sajak Februari yang menyesap semua rasa rinduku menguar ke udara ketika membacanya.

cinta adalah rasa
yang kuucap dalam setiap desah
dan cuaca
tak sampai-sampai getarnya padamu

Berikut puisi Mata Ketiga Cinta yang dijadikan judul dalam kumpulan puisi ini yang menggambarkan perasaan bertanya-tanya siapa gerangan wajah tak bernama itu?

Apakah dua mataku
yang kau larung dalam malam?
lalu hari-hari pun terbenam
dalam secangkir kopi tanpa gula
daun-daun jatuh di luar jendela
dan sunyi menyanyikan lagi
lagu gerjaji

dengan masih terpejam
hanya dengan mata ketiga cinta
kulihat sebuah wajah di jantungmu
: Dia yang kau bilang tak bernama

Setelah puisi-puisi cinta, mari sejenak beralih ke puisi Salam Negeriku, puisi satire yang mendeskripsikan realitas negeri ini, berikut penggalan puisinya:

Aku memeluk merah putih, berdiri di sini, menatap para
pemimpin tercintaku.
Kini kata-kata mereka hampir angina.
Mereka cari nurani di balik kursi.
Aku bertanya-tanya, apa mereka tahu di mana menempatkan
Tuhan dan rakyat dalam diri serta diskusi-diskusi itu.
Bisakah mereka istirah dari perseteruan, karena waktu telah
semakin debu. Kota-kota berteriak parau, merdeka!

Puisi berikutnya Kepada Tuan Teroris—salah satu puisi favorit saya karena dengan puisi ini membuat masyarakat awam yang mengonsumsi media yang bias tendensius bisa membuka mata mengenai apa yang sesungguhnya terjadi di Afghanistan, Palestina, Irak, Indonesia—ditulis oleh mbak Helvy saat perjalanan dari Cipayung ke Senayan pada tahun 2002.

Kau masih berteriak-teriak gelegar ke setiap penjuru,
menciutkan nyali banyak negeri. “Usamah, Abdullah, Umar,
Muhammad, Ibrahim” itu nama-nama para teroris,
katamu dan kau menyebut penuh prasangka nama-nama
para ulama dalam daftar yang sungguh panjang
Pada saat yang sama, kau sang pemimpin polisi dunia,
menikmati pertunjukan di Palestina sambil memaki para
pejuang kemerdekaan Palestina sebagai teroris serta
bersalaman dengan Sharon sang penjagal
Padahal Palestina berjuang untuk merdeka dari kebiadaban
Zionis Israel

Puisi mbak Helvy yang berjudul Fi Sabilillah ini menjadi Juara III Lomba Cipta Puisi Islami yang diadakan Yayasan Iqra Jakarta tahun 1992 dengan Dewan Juri: HB Jassin, Sutardhi Calzoum Bachri dan Hamid Jabbar.

jangan ditahan
orang yang ingin melemparkan diri
ke sabilillah
: ia sudah tahu ramuan cinta yang firdaus
juga rejam rintangan itu

Kumpulan puisi Mata Ketiga Cinta ditutup dengan puisi yang berjudul Tamat.

Jendela waktu
noktah kecil
debu Januari
dan kopi yang berhenti
mengepulkan
sebuah wajah
: Bagaimana rasanya rindu yang selesai?

Saya memberi rating 5 bagi kumpulan puisi ini karena sajak-sajaknya sangat puitis serta tema yang dipilih variatif, membuat saya merenung dan larut. Lalu, bagaimana denganmu?

Kemang, 17 Februari 2012
Profile Image for Nura.
1,062 reviews30 followers
December 11, 2012
nemu lagi di tumpukan buku puisinya Harun. ternyata mba Helvy romantis banget deh...
karena ini buku puisi tentang cinta maka satu puisi yang paling gue suka di puisi ini adalah

Cinta

Aku mencintaimu sejak waktu, sejak bumi, sejak sukma, sejak bayi
Aku mencintaimu sampai laut, sampai langit, sampai darah, sampai mati
Setiap hari kucatat dan kupotret kau dalam batin
Kau menempel di buku-buku, di televisi, di gedung-gedung dan panggung pertunjukan,
juga pada angin dan debu pada napasku
Aku berjalan tersaruk mengendusi semua jejak
yang kau tinggalkan seperti pemburu yang saru

Panggil aku cinta
Bukan, aku bukan wanita khayalanmu
Aku yang mendambamu hingga ke paling lembah
Apakah kau percaya pada ada dan tiada?
Sebab aku mungkin hanya tiada
Sepotong diam yang tak henti mencinta
hingga penghujung senja

Kemayoran, 1998
(p.11-12)

Profile Image for Athiah Listyowati.
28 reviews1 follower
December 18, 2012
Buku kumpulan puisi yang pertama kali saya beli.
Isinya beragam, mulai dari perasaan cinta kepada Allah, rakyat palestin juga kepada kekasih.

Beberapa diantaranya menggelitik saya untuk menjadikannya sebuah lagu, sayang saya bukan musisi T,T
Oiya, di dalamnya termasuk sebuah puisi yang juga sangat saya sukai, Perempuan Cahaya.
nasyidnya pernah saya bawakan di sebuah acara dan penonton tersentuh.
Terima kasih Bunda Helvy untuk buku manis ini :)
Profile Image for Rahmadiyanti.
Author 15 books176 followers
May 14, 2012
Tanpa menafikan puisi lain, selalu dan akan selalu cinta dengan dua puisi ini: Fi Sabilillah dan Aku Abu Dzar yang tertinggal.
Profile Image for Afifah.
Author 62 books223 followers
January 22, 2013
Yang saya sayangkan dari buku ini adalah kemasannya. Mengapa tidak dibikin ukuran yang lebih kecil, sehingga terlihat lebih tebal dan enak dipandang?
Profile Image for Hadiyatussalamah Pusfa.
109 reviews11 followers
August 18, 2013
Saya bukan orang yang terlalu suka puisi, sampai akhirnya saya bertemu puisi karya Faiz. Yang ada di buku KKCK (Kecil-kecil punya karya). Puitiiis banget, puitisnya bukan puitis duniawi lagi. Sejak saat itu saya punya feel yang agak beda sama puisi, kalau bukan dibilang suka. Kadang ga ngerti, kadang ya dingerti-ngertiin aja. Tapi kalau udah baca yang menyentuh, aaaa ga bisa banget.

Yah, dan Faiz ini adalah anaknya Bunda Helvy. Sekarang Faiz-nya udah gede. Tapi saya masih ngefans sama puisi-puisinya. Meski sekarang puisinya Faiz itu angka-angka (soal matematika maksudnya).

Terus saya ketemu sama buku ini. Suka banget sama kumpulan puisi ini. Khas Bunda Helvy, terutama kalau awal kalimat diawali ":". hehe.

Puitis banget sampe ga ngerti lagi, pantesan Faiz puitis. Terus temanya macem-macem: cinta, perjuangan, kemanusiaan, dan yang ga bisa saya tebak. Favorit saya: Januari Cinta. Rasanya itu menggambarkan bunda Helvy sekali. Jadi terharu. *padahal puisinya bukan buat saya. tapi gapapa*

Silakan dinikmati.

Tapi buku saya 83 halaman. kok bisa ya...
Profile Image for Ummi Citrayani.
4 reviews7 followers
May 18, 2013
setuju sama komentar mbak Afifah Afra, karena memang bukunya tipis banget. lebih tipis dari yang saya duga.

tapi terbayar lunas sama puisi-puisi cantik yang diabadikan dari 1985-2011 ini

"Dalam kerumunan fana
yang terus berputar
menyebut namaMu
Waktu pun retak di detakku
dan segalanya menjelma bening

Kuputuskan membangun kakbah
sepanjang masa
dalam dada"

Puisi Thawaf, November 2010
salah satu yang saya suka :)
Profile Image for Merulalia.
21 reviews
August 30, 2012
Satu Lagi Tambahan koleksi terbaru kado milad ke 25 dari ANS :)
Profile Image for Faj.
238 reviews
September 1, 2023
Aku buta, nir rasa
bahkan tak ingat pada suatu masa
aku pernah mengenalmu.
Profile Image for Hidya Nuralfi Mentari.
149 reviews15 followers
April 22, 2014
Paling suka dengan 'Cinta'. Salah satu puisi Bunda yang paling terkenal juga se-JBSI UNJ ;p hampir satu semester diajar Bunda tapi kelas kami belum pernah melihat Bunda baca puisi pakai puisi karyanya sendiri. Semoga nanti ada kesempatan untuk kami melihat :)

Btw, covernya Bunda banget. Ungu everywhere xP
3 reviews
February 9, 2014
salah satu buku puisi terbaik yang pernah saya baca. Luar biasa..
Profile Image for Nanaku.
155 reviews9 followers
July 27, 2013
puisinya kereeen, sekeren novel2 & cerpen2 Bunda Helvy
Displaying 1 - 26 of 26 reviews