Sejak hidup memisahkan diri, Dini sudah bermaksud tidak akan tinggal di Prancis untuk selamanya. Lalu disebabkan oleh kondisi kesehatannya yang semakin rentan, dia memutuskan mempercepat kepulangannya ke Tanah Air.
Saudara-saudara, teman-teman, dan relasinya menyambut kedatangannya dengan hangat. Mereka sangat penuh perhatian, sehingga Dini tidak merasa kehilangan tatacara kehidupan di Eropa yang serba teratur, bersih, dan disiplin. Dunia pendidikan-sosal-budaya di Tanah Air langsung dia tekuni. Berbagai kesempatan tersuguh dalam urusan ecology atau lingkungan hidup. Dini tidak hanya sebagai penonton yang berdiri di luar garis. Berkat bantuan dan perhatian beberapa tokoh tertentu, dia terjun langsung ke lapangan. Pengetahuannya mengenai kekayaan alam yang selama itu dia temukan dalam bacaan, kini langsung dia serap di hutan dan belantara Tanah Air.
Dan ketika dia pikir saatnya tiba untuk pulang kandang, hanya kota Semarang dan kampung Sekayu-lah yang akan menjadi tujuan kepindahannya...
Nh. Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin) started writing since 1951. In 1953, her short stories can be found in most of national magazines like Kisah, Mimbar Indonesia, and Siasat. She also writes poems, radio play, and novel.
Bibliography: * Padang Ilalang di Belakang Rumah * Dari Parangakik ke Kampuchea * Sebuah Lorong di Kotaku * Jepun Negerinya Hiroko * Langit dan Bumi Sahabat Kami * Namaku Hiroko * Tirai Menurun * Pertemuan Dua Hati * Sekayu * Pada Sebuah Kapal * Kemayoran * Keberangkatan * Kuncup Berseri * Dari Fontenay Ke Magallianes * La Grande Borne
Buku pertama NH.Dini yang kubaca. Bagus banget. Buku ini salah satu dari seri kenangan. buku ini tentang persiapan kepulangannya ke indonesia dan masa-masa tahun awal pengarang di İndonesia.
masih penasaran sebenernya dengan 'rahasia' Nh. Dini. tapi, buku ini isinya cukup untuk mengenal seperti apa dan bagaimana Mba Dini melakukan ritual sebelum menulis.
Seorang pengarang berbakat dan memiliki mutu, jenis tulisan apapun yang ia hasilkan juga demikian memiliki mutu dan menarik untuk diketahui. Nh. Dini satu termasyur yang Indonesia miliki. Dari Rue Saint-Simon ke Jalan Lembang satu dari seri cerita kenangan yang beliau tulis. Tersebut pada halaman sekian bahwa beliau terinspirasi seorang pengarang Prancis yang telah lebih dulu menerbitkan cerita kenangan dan dengan dalih tidak membuat autobiografi yang kelewat tebal dan akan membosankan dibaca.
"Mendengarkan" pengalaman Nh. Dini, khususnya kisah kepindahan dari Prancis kembali pulang ke negeri (lebih lanjut baca deskripsi buku), selain memperkaya wawasan, rasanya juga mampu memperkaya rasa. Pembaca, khususnya saya yang kalau dikotak-kotakkan termasuk anak milenial jadi tahu seperti apa zaman berlangsung pada saat pengalaman-pengalaman tertulis ini berlangsung (periode akhir 1970-an sampai pertengahan 1980-an). Tersebut nama-nama pengarang, seniman, dan tokoh-tokoh masyarakat pada masa tersebut, keunikan-keunikan dari tempat-tempat yang beliau kunjungi, kekayaan khazanah nusantara yang patut disyukuri, dan yang tak kalah menarik atau justru yang paling penting beliau membagikan pengalaman di balik proses kepengarangannya, proses kerja kreatif dan kerja menerjemahkan karya Prancis, meski dengan porsi yang kurang memuaskan. Bagian lain yang menarik bagi saya adalah relasi Nh. Dini dengan nama-nama yang bukan sembarang, kepedulian beliau terhadap lingkungan dan aksi nyata beliau dalam upaya menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya ecology, serta pengalaman beliau ketika menghabiskan waktu bersama masing-masing kedua anaknya, Lintang dan Padang. Saya seperti turut menyaksikan masa kecil Pierre-Louis Padang ketika bersama ibunya. Zaman kini kita mengenal anak bungsu Nh. Dini tersebut sebagai kreator tokoh animasi menggemaskan Minions. Beliau bercerita bahwa Padang sudah sedari kecil gemar dan berbakat menggambar.
Dari Rue Saint-Simon ke Jalan Lembang buku Nh. Dini yang pertama saya baca. Pengalaman berharga, kekayaan batin yang tertuang dengan rapi. Dari seri cerita kenangan kedua belas ini dapat ditarik gambaran bahwa Nh. Dini adalah pribadi yang unik, serta cukup bijak menyikapi perihal yang terjadi dalam kehidupannya. Selanjutnya, timbul rasa keingintahuan membaca karya-karya Nh. Dini lain yang terbilang tidak sedikit, baik novel, cerpen, maupun seri cerita kenangan lainnya. Barangkali kelewat terlambat untuk mengagumi, namun semoga doa yang terpancar oleh terpetiknya pelajaran dari karya selalu mengalir.
“Kau pandai menulis. Ceritakan peristiwa masa lampau, karena apa yang sudah kau alami akan menjadi sesuatu yang klasik. Zaman berubah begitu cepat, pasti empat tahun lagi semuanya akan berbeda. Lihat sungai di belakang kampung kita! Dulu kelihatan bagus, bersih. Sekarang kotor, tanpa daya tarik. Itu hanya satu contoh.” hlm.8
“Seorang sahabat berkebangsaan Prancis pernah berkata kepadaku, bahwa jika aku menulis dalam bahasa Prancis, Indonesia akan kehilangan seorang pengarangnya. Sudah banyak wanita pengarang Prancis. Tapi pengarang Indonesia hanya sedikit. Apalagi pengarang wanita.” hlm.11
“Pikiran manusia bisa membentuk berbagai macam prasangka, baik maupun buruk. Jika berhubungan dengan orang-orang dekatku, aku tidak ingin membiarkan lamunanku melantur terlalu panjang. Biarlah saudara-saudaraku atau teman-temanku itu menjalani hidup sebagaimana yang mereka kehendaki. Aku, meski sedekat apapun, tetaplah orang luar. Bila tidak diminta pendapat atau gagasan, aku tetap harus berdiri di luar!” hlm.32
“...Karena kuingat kata ibuku, bagaikan batu permata yang menerima asahan satu kali, ditambah kali-kali lain, jiwa manusia semakin peka dan berkualitas berkat cobaan hidup. Seperti kilauan permata setelah melewati proses penggosokkan berulang kali, jiwa manusia bisa diharapkan mendekati kesempurnaan dalam menjalani kehidupan sebaik mungkin bagi diri dan sekitarnya.” hlm.22
Membaca buku ini dengan meminjam dari Perpumda DKI Jakarta (dikenal juga dengan Perpustakaan Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan).
Bu Dini melanjutkan menjalani hidup mandirinya, berpisah dari suami dan anak-anaknya. Sesekali saja Lintang atau Padang mengunjungi mamanya. Berniat untuk sementara waktu bekerja di Perancis sembari menabung untuk biaya hidup ketika kembali ke tanah air, serta menunggu proses perceraian selesai, Bu Dini ternyata harus mempercepat rencananya untuk pulang. Pertama, karena dia mengalami perdarahan terus menerus sehingga sistem reproduksinya harus segera ditangani. Kedua, majikannya mulai cunihin dan suka ngompol. Di Indonesia, Bu Dini tinggal di rumah istri pak liknya di Jl Lembang. Setelah menjalani perawatan medis, Bu Dini melakukan berbagai macam proyek penulisan sembari menjelajah ke beberapa pelosok Indonesia. Hingga akhirnya Bu Dini memutuskan, sudah waktunya Bu Dini kembali ke Sekayu, Semarang, tanah kelahirannya. Di buku ini, Bu Dini banyak menyebut soal tokoh-tokoh di Indonesia yang menjadi sahabat-sahabatnya, seperti Mochtar Lubis (dan nyerempet ke Todung Mulya Lubis), Pramoedya Ananta Toer, Bagong Kussudiardja, dan lain-lain.
Warna kisah manis-pahit penulis yang hidup dalam perantauan di luar negeri bersama keluarga kecilnya, hingga memutuskan kembali ke kampung halaman, mengumpulkan puing-puing cerita lama yang sempat tercerai berai. Seperti membaca diari dengan kisah hidup yang ringan dinikmati. Dipenuhi nilai-nilai tentang mimpi dan keluarga.
Meski ini seri cerita kenangan, tapi pembaca turut merasakan gejolak yang dialami penulis dalam buku ini. Walaupun nampak berjalan baik dan banyak ucapan syukur yang ia panjatkan, itu tidak serta-merta menghilangkan cobaan hidup yang beliau alami.
Sungguh bacaan yang menarik untuk menyerap perjalanan hidup.
Lupa kapan tepatnya selesai membaca buku ini. Anggaplah baru dibaca he he he. Pada halaman 32, tertulis bahwa Padang suka menggambar, berusaha binatang atau manusia dengan Gaya kartun menurut imajinasinya. Pantas lag jika Sekarang menjadi sosok yang terkenal.
Judul : Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang Pengarang : Nh. Dini Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Cetakan : Pertama, Februari 2012 Tebal : vi + 218 halaman Harga : Rp 45.000,00 ISBN : 978-979-22-7975-7 Peresensi : Thomas Utomo
Karya Nh. Dini memukau tidak hanya dari segi jumlah, tapi juga karena mutunya yang tidak bisa disangsikan lagi. Selain karyanya banyak dijadikan kajian skripsi, tesis, dan disertasi—baik oleh orang Indonesia maupun manca, nama Nh. Dini juga pernah diajukan sebagai penerima hadiah nobel sastra. Sekadar pengetahuan, selain Nh. Dini, pengarang lain asal Indonesia yang berkali-kali diajukan sebagai penerima hadiah nobel sastra adalah Pramoedya Ananta Toer, yang populer—terutama—dengan Tetralogi Pulau Buru-nya. Buku ini merupakan Seri Cerita Kenangan kedua belas yang memaparkan pengalaman Nh. Dini—terutama—saat bermukim di Rue Saint Simon, Paris, Prancis dan di Jalan Lembang, Jakarta, Indonesia. Buku ini memaparkan periode kehidupan Nh. Dini saat dan setelah bercerai dengan sang suami; Yves Coffin, seorang diplomat berkewarganegaraan Prancis. Sambil menunggu perceraiannya diumumkan oleh pengadilan, Nh. Dini bekerja sebagai dame de compagnie; wanita pendamping bagi Tuan Jouffroi. Sehari-hari Nh. Dini bertugas merawat, menjadi teman berbincang, melayani makan-minum, dan membereskan rumah lelaki berumur 76 tahun tersebut. Dari pekerjaan tersebut, Nh. Dini mendapatkan gaji yang lumayan, yang kemudian ditabung sebagai bekal untuk hidup di Indonesia kelak. Namun kondisi kesehatan yang memburuk, termasuk perdarahan organ vital yang terus-menerus, membuat Nh. Dini memutuskan keluar dari pekerjaannya. Di saat itulah, Nh. Dini merasa, “Ini adalah isyarat dari Yang Maha Esa bahwa saat meninggalkan negeri adopsiku (Prancis—pen) telah tiba.” (halaman 8). Pada 23 Februari 1980, Nh. Dini pulang ke Indonesia dengan naik pesawat GIA. Di Indonesia, usai mengurusi kesehatannya, ialah operasi pengangkatan rahim, Nh. Dini langsung menerjunkan diri dalam dunia pendidikan-sosial-budaya berkat namanya yang sudah dikenal, juga karena kedermawanan sejumlah relasi baru. Bagian berikutnya yang menjadi fragmen kehidupan Nh. Dini yang paling menarik dalam buku ini, ialah saat Nh. Dini berkesempatan melancong dan melawat ke pelbagai daerah di Indonesia atas biaya sejumlah instansi atau relasi. Memadailah disebut beberapa di sini, seperti Pulau Perca di Sumatra guna keperluan penyusunan buku biografi Amir Hamzah pesanan majalah Femina, Air Sugihan di Palembang; guna menyertai rombongan Kementerian Lingkungan Hidup yang akan menggiring kawanan gajah ke Lebong Hitam, dan ke belantara hutan Kalimantan guna menemani sejumlah pematung yang membuat kaligrafi raksasa pesanan Kerajaan Arab Saudi. Selain itu, Nh. Dini juga berkesempatan melawat ke berbagai kawasan di Sulawesi atas biaya koran Sinar Harapan, kawasan Meru Betiri, dan masih banyak lagi. Membaca buku ini pembaca seperti diajak melancong ke pelbagai daerah eksotik di Indonesia. Seperti karya-karya yang lain, Nh. Dini menulis buku ini dengan gaya bahasa yang lembut dan pemaparan deskripsi yang detail, seolah-olah pembaca bisa melihat dan turut mengalami hal yang diceritakan sang pengarang. Apalagi karena Nh. Dini menggunakan gaya cerita “akuan”. Tak heran, banyak kritikus sastra zaman kiwari yang menjuluki rangkaian Seri Cerita Kenangan Nh. Dini sebagai otobiografi fotografis, lantaran saking kaya dan detailnya gaya penceritaan sang pengarang. Selain itu, ada dugaan Nh. Dini “sengaja” memasukkan dan memaparkan banyak tempat di Indonesia secara detail sebagai ajang promosi, ialah untuk memaparkan keeksotikan dan keberagaman kawasan di Indonesia, dan selanjutnya mengajak pembaca mengunjungi tempat-tempat tersebut. Sudah mafhum bahwa karya-karya Nh. Dini beredar dan dibaca tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di sejumlah negara, seperti Australia, Jepang, Belanda, dan Prancis. Tentu saja kalau promosi ini berhasil, maka bisa sangat menguntungkan Indonesia. Di luar substansi cerita, kemasan buku ini terbilang menarik. Kemolekan buku ini terutama karena sampul yang digarap oleh perupa sekaligus cerpenis Iksaka Banu ini, merupakan lukisan dengan rajutan warna-warna yang lembut lagi pas, sehingga mampu menjerat pandang mata para calon pembaca.
*Thomas Utomo bekerja sebagai guru SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Telepon/SMS 02815730489. E-mail totokutomo@ymail.com.
Buku ini lebih menarik dari buku Bu Dini yang sebelumnya saya baca yaitu Pondok Baca Kembali Ke Semarang (secara kronologis buku Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang ini memang mendahului buku Pondok Baca Kembali Ke Semarang namun saya berkesempatan membacanya secara terbalik). Kebetulan memang secara umur Bu Dini saat itu lebih muda, lebih aktif, banyak bergaul dengan orang-orang penting yang berusia produktif sehingga aktivitas yang dijalani pin lebih banyak dibandingkan periode setelah beliau kembali ke rumah Sekayu di Semarang.
Beberapa asosiasi yang diceritakan di buku ini adalah relasi Bu Dini dengan Bapak Emil Salim, Bapak Amrus Natalsya, pelukis cilik Lini, di antara banyak cerita yang lain. Aktivitas yang dijalani pun sangat beragam mulai dari menggiring gajah di Sumatera, menjadi induk semang mess di hutan Kalimantan, bepergian ke Sulawesi, dsb.
Penggalan cerita mengenai masa remaja/dewasa Lintang dan Padang pun disajikan secara singkat namun mengharukan.
buku Nh Dini ini lebih pantas disebut otobiografi dari Nh Dini dan juga kisah traveling beliau mulai dari paris ke wilayah2 di indonesia (sumatera, palembang, makassar dan kalimantan). buku ini juga menceritakan tentang putra putri dari Nh Dini, Lintang dan Padang yang mulai beranjak dewasa..
salah satu kisah yang saya sukai ketika beliau mendapat undangan di kalimantan untuk menggiring gajah yg masuk ke daerah transmigrasi.. ada juga yang disuru memasak untuk sekelompok orang di makassar..banyak kisah2 dari ibu Nh Dini yang bisa kita ambil hiknahnya
hmm untuk buku ini saya berikan rating 2,7 dari 5 bintang.. :)
Selesaaaaiii! Ternyata ini termasuk buku baru ya. Saya gak inget pernah baca serius karya Nh. Dini pas masih sekolah dulu, jadi gak bisa ngebandingin. Hehe
Seru sih semacam biografi yang ditulis sendiri, dan beberapa keberuntungan dalam hidupnya karena kuasa tuhan itu bikin iri sih, tapi beliau emang orang yang berjuang keras kok jadi lumrah laah. :)
Saya suka bagian2 di mana Dini bercerita soal kawan2 penulisnya yang beberapa saya kenal namanya meski belum saya baca karyanya. Saya suka relasi dia dengan mereka-mereka itu.
Bagian2 "kedongkolan hati wanita" yang ia tulis terasa ringan dan lucu, mungkin ini daya tarik tulisannya bagi saya. Terasa jujur.
Plg seru ktk Ibu Dini menceritakan pengalaman mengikuti temannya yg seorang pematung untuk menyelesaikan banyak patung besar pesanan dr luar negeri, untuk langsung dikerjakan di hutan kalimantan. Seru membayangkan suasana dan atmosfir hutan lebat kalimantan, menanam kangkung dekat sungai, membuat dendeng daging rusa kiriman musafir yg berterimakasih disediakan air minum. Seperti pertama kali membaca karya Ibu Dini ketika SD "Langit dan Bumi Sahabat Kami". Membayangkan sayur krokot, keju goreng, sayur dr batang pepaya, dan lodeh dr gedebok pisang.
Sekedar merapikan daftar bacaan di goodreads yg lama tidak terurus.
Buku Dini yang ini lebih masuk dalam kategori: travel. Dari Perancis ke Indonesia, Kalimantan, Jawa Timur. Bercerita tentang alam dan banyak orang baru.
Tulisan Nh. Din selalu luwes, apa adanya, tidak meggebu-gebu, mudah dimengerti dan tidak membosankan. Walaupun buku ini merupakan kisah Nh. Dini secara singkat mengenai kepindahannya dari Perancis ke Indonesia, dan bagaimana pengalamannya menjajal kehidupan di pedalaman Kalimantan.