L.S.D.L.F. adalah refleksi dari sisi hidup wartawan-wartawan lifestyle. Mereka berada dalam profesi yang berhadapan langsung dengan berbagai kondisi sosial metropolis. Mereka berinteraksi dengan orang-orang gila brand, social climber, fashion society, ingin jadi model terkenal, intrik agen-agen model, kaum metroseksual, dan orang-orang yang tulus di tengah sekelompok hedonis. Mereka menanggapi kehidupan dengan kritis dan investigatif.
Keempatnya adalah Alif, Raisa, Didi, dan Nisa. Salah satu dari mereka, Alif, menyimpan satu affair dengan seorang staf. Ia menemukan tantangan yang menyenangkan dengan affair ini. Sebagai penulis dengan jam terbang yang tinggi, Alif juga memiliki penggemar gelap yang tak diketahui jenis kelaminnya. Alif menjaga eksistensi penggemarnya ini karena ternyata ia banyak memberikan ide dan kritikan yang memicu cara berpikir Alif jadi semakin kritis. Alif juga berusaha mengorbitkan seorang model pemula yang misterius latar belakang hidupnya.
"Hidup memang selalu melewati pintu-pintu. Meninggalkan satu ruangan menuju ruang yang lain, meninggalkan satu kejadian menuju kejadian yang lain, meninggalkan satu aksi menuju aksi yang lain."
"Lagi pula siapa yang peduli lu gay atau nggak? Lu cukup ganteng untuk dinikmati semua jenis kelamin."
---
Saya bingung mau komentar dari mana, yang jelas novel ini memberikan pandangan berbeda untuk saya. Temanya juga baru, juga cara pendeskripsian Bang Dean yang kadang bikin saya bingung; ini rada aneh tapi saya menikmatinya.
Di antara segala merk-merk dan kehedonan dunia fashion yang dijabarkan di sini, entah kenapa saya malah menangkap kesederhanaan. Saya suka orang-orang yang biasa hidup seperti mereka ternyata lebih suka makan di gerobak lontong sayur dibandingkan restauran mahal. Sisi agamis Alif yang dimunculkan juga membuat saya berpikir realistis.
Duh, kok review saya jadi begini, ya. Mungkin kebawa sama tulisan Bang Dean-_-
Eh iya, saya belum bisa menangkap konflik utamanya, sih. Jalan cerita di buku pertama ini memang agak ruwet, tapi cara penulisannya membuat saya betah membaca sampai akhir. Tentang teka-teki si File Eater itu, saya sudah sempat menebak, kemudian goyah. Dan ternyata tebakan pertama saya benar ^^v
Eh, novel ini terlalu dewasa nggak, sih, untuk saya? :| Karena saya sudah punya buku keduanya, saya memutuskan akan melengkapi buku ketiga dan keempatnya! Cover barunya keren syekali, sebenarnya cover baru inilah yang menarik saya untuk membacanya.
agak ngga begitu suka sama buku ini. endingnya menimbulkan reaksi 'udah gini aja?'. mostly yg diceritain cuma merk atau brand fashion terkenal mungkin maksudnya mau kayak confession of shopaholic ataudevils wears prada kali yah. so what?
tapi masih nerusin di buku lanjutannya j'adore. belum kelar sih baca j'adore tapi cara berceritanya jauh lebih suka j'adore (so far).
ini buku pertama yg ak baca dari mas syahmedi,,sebelum buku kedua nya..keren,ringan untuk dibaca sebagai buku pengantar tidur dan kita bisa tertawa ngakak atas tingkah laku karakerter yg ada di buku ini.
Buku ini semacam menuhin selera saya banget akan novel populer. I don't really care about the plot, but as long as I can gain some new information, I would be satisfied. And I did. Plot romance dan sahabatannya Alif dengan orang-orang dalam kehidupannya ini agak kurang tergali IMO, katanya teman dekat tapi kesannya kayak temen nongkrong biasa aja. Katanya pacar-pacaranan tapi yah... Agak kurang greget sepertinya.
Tapi saya suka banget penggambaran kehidupan wartawan fesyen di sini. Deskripsinya seimbang, sama-sama passionate ketika ngebahas fesyen maupun seluk-beluk jurnalistik. Detil dan asyik disimak. Saya juga merasa atribut fesyen yang bertebaran di sini nggak berkesan asal pamer, gak kayak di beberapa genre metropop lain. Novel yang mengambil latar gaya hidup urban kelas atas lainnya biasanya tebar deskrip merek mahal karena karakternya emang udah kebanyakan duit, they don't essentially need it except to maintain their social status. Sementara bagi karakter wartawan lifestyle di sini, di satu sisi mereka memang menikmati trend, tapi di sisi lain mereka bergelut dengan fashion karena mereka emang peras keringat dan cari duit dari situ. I guess it makes the difference dan bikin karakter-karakter dalam buku ini masih terasa down to earth.
Berhubung buku ini pertama kali ditulis awal tahun 2000-an dan sekarang udah tahun 2017, beberapa detil mungkin sudah terasa ourdated. Masih nenteng-nentang PDA, belum ada smartphone. Ada karakter modis yang masih dideskrip naik bajaj. Kalau di hari gini mana mau, pasti udah prefer pesen taksi online wkwk. Jadi bikin sadar sih betapa cepetnya perubahan lifestyle padahal baru selang belasan tahun haha.
First of all, I impress with how Syahmedi Dean, I guess first Indonesian author who brings any fashion label and lifestyle statement into the novel. And such a great friendship among Alif, Raisa, Didi and Nisa even each of them having different character for example Alif described as religious guy but doesn't mind with Didi which is a gay. Or Raisa, an ambitious and stylish woman that opposite of Nisa who is much more carefree and casual. But anyway main story of this first book is about relationship of Edna and Alif also lucky new model named Ajus..
really reminds me of The Devil Wears Prada and Emily in Paris 🕺🏻💃🏼 with pov of a man? yess
bercerita ttg kehidupan wartawan lifestyle and there are branded stuff everywhere, dealing with famous people, traveling around the world, and many more~
ceritanya dikemas scr renyah dgn beragam candaan lalu uniknya kita bakal dibuat penasaran dgn beberapa kejadian yg muncul
eventho plotnya kurang begitu jelas menurutku tp ttp seru buat diikutin (adanya secret admirer, terjebak affair di kantor, drama dunia kerja, etc) dan endingnya yg tak terduga layaknya khong guan yg suka bikin kejutan di dalamnya haha!!
Setelah sekian lama berangan-angan memiliki tetralogi fashion karya Syahmedi Dean, akhirnya impian saya terwujud setelah Gramedia Pustaka Utama mengeluarkan box-set tetralogi ini, dengan sampul yang didesain ulang. Menurut saya sampul baru lebih menarik dan eye catching. Plus, gambar sampulnya mewakili keempat karakter penting dalam tetralogi ini. Namun saya sempat merasa kecele. Tadinya saya pikir setiap buku diceritakan dari sudut pandang masing-masing karakter, misalnya buku pertama dari sudut pandang Alif, buku kedua dari sudut pandang Didi, dan seterusnya. Ternyata tidak demikian. Tokoh utama tetralogi ini adalah Alif, sementara Didi, Raisa, dan Nisa hanyalah tokoh pendamping (walau mereka tetap memegang peranan penting dalam setiap buku). Saat menulis reviu ini, saya baru membaca buku pertama dan kedua.
Buku pertama ini bertajuk EDNASTORIA: Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion. Alif, Didi, Nisa, Raisa adalah empat sahabat yang berbeda karakter, namun keempatnya memiliki kesamaan yang melekatkan mereka satu sama lain: fashion dan lontong sayur. Alif dan ketiga sahabat kentalnya memang berkerja di bidang yang berhubungan dengan fashion, dan mereka selalu menyempatkan diri untuk makan siang bersama. Meski sering berbalut barang-barang bermerk, ternyata selara makan mereka tidak muluk-muluk. Yap, mereka sama-sama suka lontong sayur!
Alif bekerja sebagai editor pada sebuah majalah fashion terkenal. Alif punya penggemar rahasia yang tidak diketahui jenis kelaminnya. Komunikasi yang mereka lakukan hanya melalui fasilitas email. Alasan mengapa Alif terus mempertahankan komunikasi dengan si penggemar rahasia adalah karena si pengirim email misterius tersebut selalu memberi masukan terhadap Alif terkait pekerjaannya di majalah, baik itu saran maupun kritik yang membangun. Tak jarang mereka terlibat adu argumen, karena Alif ingin mempertahankan pendapatnya.
Sementara itu di kehidupan nyata, Alif bertemu dengan perempuan cantik yang belakangan menjadi rekan sekerjanya. Namanya Edna. Memiliki wajah menarik, berpenampilan trendi, berkepribadian ceria dan agak manja, membuat gadis ini mendapatkan perhatian khusus dari Alif. Gayung bersambut, Enda pun menaruh minat terhadap Alif. Mereka pun memutuskan untuk menjalin hubungan rahasia. Mereka bertaruh, untuk sama-sama menjaga kerahasiaan hubungan mereka, jangan sampai ketahuan orang lain. Sekali hubungan mereka ketahuan oleh rekan kerja atau kenalan mereka, maka usailah hubungan kucing-kucingan tersebut.
Inti cerita buku pertama ini sebenarnya berkutat pada hubungan rahasia Alif-Edna, serta hubungan unik Alif dan si pengirim email yang berjenis kelamin tidak jelas. Memang ada kisah-kisah selingan yang menyangkut masa lalu Alif yang ternyata pernah menikah tapi kemudian bercerai, juga tentang seorang model misterius bernama Ajus. Tapi secara keseluruhan saya merasa alur cerita novel ini cenderung datar. Untungnya penulis mampu memikat pembaca melalui gaya berceritanya yang menarik. Penulis juga menggambarkan dunia kerja di majalah fashion dengan begitu detail sehingga membaca dapat memperoleh gambaran seperti apa bekerja di majalah fashion (latar belakang penulis memang dari dunia tersebut). Bisa jadi, pembaca akan tertarik untuk bekerja di majalah fashion. Pokoknya pembaca yang fashion freak akan benar-benar terpuaskan bila membaca novel ini. Sementara pembaca yang benci dengan barang-barang branded, mending jauh-jauh deh dari novel ini, karena barang-barang branded memang bertebaran di mana-mana.
Alasan saya ‘hanya’ memberi bintang 3 terhadap novel ini lebih karena plot ceritanya yang datar. Di luar itu, saya sangat menyukai buku ini. Dunia fashion memang cukup menarik bagi saya (walau di dunia nyata saya sama sekali tidak fashionable *ngakak*). Karakter-karakter dalam buku ini juga menarik. Oh ya, meski plot ceritanya cerderung datar, novel ini memiliki kejutan-kejutan yang tak terduga, terutama endingnya yang bikin syok. Twistnya benar-benar mantap. Saya sampai melongo dibuatnya. Good job, Mr. Dean! >.
It’s a super duper lame story. Seperti layaknya novel populer pada umumnya novel ini klise, mudah ditebak, dan penyebutan merk secara berlebihan (if the author is a brand whore he could keep it for himself, duh). Namun yang lebih parah adalah novel ini mempunyai plot twist yang dipaksakan, tidak ada character development, dan tidak ada eksplorasi terhadap perasaan tokoh. Penulis terus membocorkan seperti apa karakter tokoh dengan penjelasan monoton yang tidak penting. Kenapa tidak pakai konsep "Show, not tell" saja? Jadi pembaca bisa menilai seperti apa sesungguhnya karakter tokoh novel ini. Menilai dari dialognya saja, karakter tokoh sangat-sangat flat, membosankan, datar (kecuali Didi yang centil). Saya melihat banyak potensi yang kalau dikembangkan, bisa menyentuh weak spot para pembaca. Contohnya tentang hubungan Alif dan mantan istrinya, Idah. It was so painful yet he talks about it like it was nothing. Really? Really? Padahal bagian itu sangat mungkin untuk membuat pembaca menangis, tetapi penulis hanya membahasnya secara sekilas seakan-akan itu bukan merupakan suatu peristiwa yang penting dalam hidup Alif. Penulis bisa saja membahas bagaimana keadaan Alif yang miserable setelah cerai, untuk menambah simpati pembaca kepada karakter. Tak ada simpati tentu cerita tak jadi berkesan, bukan? Instead, penulis sibuk mendikte semua merk yang dipakai tokoh, padahal tokoh tersebut hanya tirtagonis yang tak sering bertemu dengan protagonis. Apa mungkin karena ceritanya tidak berkualitas, jadi penulis berusaha mendongkrak kualitasnya dengan penyebutan nama merk yang berlebihan? Kalau ya, well, usahanya gagal. Sebagus apapun penulisnya mendadani novel ini, tetap saja isinya dangkal. It is so obvious. Pendapat saya yang lain, judulnya tidak relevan. ‘Lontong Sayur Dalam Lembaran Fashion’? What the hell? Heck, lontong sayur saja tidak pernah menjadi spotlight dalam cerita ini, kenapa bisa sampai menjadi judul? Kalau misalnya penulis memberikan analogi lontong sayur yang dikaitkan dengan kehidupan, fashion, atau cinta, saya bisa mengerti. Tetapi penulis hanya menyebut lontong sayur sekali dua kali. So people, don’t waste your money to buy this crap. It is so light that you won’t get anything by it. It’s really worthless and useless to read. Kalau anda membaca buku ini hanya untuk menambah referensi fashion, well, I must say this; that is so freakin’ weird. Apa internet tidak ada di Indonesia? Bahkan internet lebih kaya referensi dibanding novel ini.
❝Segala sesuatu memang ada akibatnya. Ada sebab, ada akibat, satu hukum alam yang mutlak.❞ —Page 64
❝Hidup memang selalu melewati pintu-pintu. Meninggalkan satu ruangan menuju ruangan yang lain, meninggalkan satu kejadian menuju kejadian yang lain, meninggalkan satu aksi menuju menuju aksi yang lain.❞ —Page 118
❝Semua memang harus kembali ke asalnya. Dari tiada kembali ke tiada.❞ —Page 271
•••
Ednastoria ini merupakan wajah baru dari L.S.D.L.F. karya Syahmedi Dean. Buku L.S.D.L.F. yang edisi lama merupakan buku pertama Kak Dean yang aku baca dan tergolong buku yang aku koleksi paling awal—sekitar tahun 2011, hampir 9 tahun yang lalu.
Awalnya pengen koleksi yang edisi lama, tapi zaman itu agak susah carinya. Jadi, pas dateng ke Hutan Gramedia di Jogja tahun 2017 dan lihat edisi baru dari tetralogi 4 Wartawan Lifestyle ini, langsung aku beli. Sayangnya, buku kedua dari seri ini gak ada. Baru awal Oktober dapet bukunya setelah lama cari. Nah, karena seri ini udah lengkap, aku jadi tergoda buat baca.
Ednastoria bercerita tentang Alif Afrizal, seorang executive editor dari sebuah majalah ternama, beserta para sahabatnya—Raisa, Didi, dan Nisa. Keempatnya memiliki karakter yang berbeda namun memiliki profesi yang sama, seorang wartawan. Melalui sudut pandang Alif, kita diajak untuk menelusuri kehidupan wartawan lifestyle dan bagaimana dinamika kerja di sebuah industri media. Cerita akan lebih terpaku pada kisah Alif yang memiliki affair dengan staff-nya, Edna, dan penggemar rahasia dengan julukan File Eater.
Jujur, aku sangat menikmati tulisan Kak Dean yang sangat mengalir dengan selingan humornya yang pas. Buku ini pun memberikan banyak wawasan baru tentang dunia wartawan dan fashion. Penjelasannya begitu mendetail hingga kadang malah membosankan. Konflik cerita terasa datar dan kurang dalam, namun tetap membuat penasaran.
Oh iya, meski dipenuhi dengan brand-brand high end, namun masih ada realitas dalam cerita Alif dan para sahabatnya. Siapa sangka mereka sangat menyukai lontong sayur? Didi bahkan kerap membungkusnya dan dimasukkan ke dalam tas Louis Vuitton miliknya!
Mungkin untuk yang gak terlalu suka novel 'mewah' bakalan kurang suka sama novel ini. Maksud 'mewah' disini adalah cerita yang ditulis gak jauh dari kehidupan seorang sosialita Jakarta yang bekerja di bidang fashion sehingga ya, cerita yang disampaikan gak jauh dari bumbu-bumbu berbau fashion semacam Louis Vuitton, Fendi, Channel, daaaan masih banyak lagi. Berhubung saya sendiri kurang mengikuti perkembangan Fashion, terkadang banyak branded yang saya baru dengar namanya. Tapi, saya sendiri termasuk orang yang selalu terbuka untuk informasi baru, jadi membaca buku ini sedikit banyak menambah pengetahuan saya di bidang fashion dan bagaimana orang-orang sosialita melihat fashion di kehidupan mereka. Novel ini tidak hanya menceritakan tentang fashion, tapi tetep pada cerita intinya yaitu tentang persahabatan 2 lelaki dan 2 perempuan yang, tentu saja, diwarnai oleh cinta segitiga, cinta pada sahabat, bahkan di novel ini diceritakan tentang salah satu karakternya yang, maaf, menyukai sesama jenis. Cerita yang diangkat mengenai 4 sahabat ini disajikan juga dalam 4 novel. Namun saya sendiri baru baca sampai novel kedua. Tapi setelah saya amati, kita tidak harus membaca dari yang pertama untuk dapat memahami novel lainnya.
Let's be real here: this novel was poorly-written. When I read the synopsis for the first time, I thought the novel was going to be intense, since it informed me that a lot of things were going to happen...but nah.
Semuanya berlalu terlalu cepat, tidak meninggalkan kesan apapun. Padahal menurut saya, alur ceritanya benar-benar unik, dan jarang sekali penulis novel 'mewah' (you know, fictions about rich Jakartans and their life...) memiliki cerita yang menarik hati saya seperti ini. Sayang, bagi saya, dengan cara penceritaan yang demikian adanya, saya yakin sekali akan melupakan keseluruhan jalan cerita dalam waktu beberapa waktu saja setelah saya selesai membaca. I'm so mad. A story line this good but gave me no feels at all at the end? You gotta be kidding me.
Mungkin itu saja yang kurang dari novel ini; penceritaannya yang terlalu terburu-buru. Sebuah kesalahan, yang, sayangnya, bisa merusak keseluruhan mood pembaca ketika berusaha menyelesaikan novel ini.
(P.S. The guy on the newest cover of JPVFK is so hot. Is that supposed to be Alif? Or Didi?)
iri banget! pernah jadi wartawan, tapi kehidupanku seperti bumi & langit dibandingin dg yg ada di buku ini. benarkah para wartawan lifestyle di Ibukota hidup seperti itu? pake barang2 branded, enak aja ngabur ke London, Paris, dan ke Singapore cuman seperti "sik tak nang Alfamart tuku tusuk gigi!". berapa gaji wartawan lifestyle Jakarta? apakah mereka juga anggota PWI atau AJI? ato mereka ikutan anggota kelompok jet set hedonistis? pas buku ini terbit (2004), aku juga jadi wartawan, dan gajiku cuman 1 juta rupiyah perbulan. kalo Alif (baca: Syahmedi Dean) cs bisa beli Cartier, Dolce Gabanna, aku juga bisa beli Indomi, kecap ABC, DVD bajakan 10 ribuan, Paramex, hahahihi...! ato keglamoran itu hanya sindiran seperti di Metamorforlove-nya Nora Umres?? dan btw, kenapa Edna dimatiin? jadi berasa kayak nonton pelem melodrama 70-an. untung matinya bukan karna tumor otak...!
mungkin inilah salah satu dari berjuta-juta keuntungan suka baca buku (apa aja): saya yang bener-bener gak ngerti soal fashion, dari baca buku ini, jadi dapet informasi lah seputar fashion. Terlebih, penulis memang bekerja di dunia fashion as a journalist, jadi lengkaplah sudah. Walau masih gak habis pikir dengan gaya hidup seseorang yang cinta fashion, tapi dari novel ini saya jadi bisa mengerti : mungkin fashion jadi tuntutan hidup seseorang, fashion bikin ketagihan, dsb... tapi di sisi lain, seseorang yang cinta fashion pun punya kehidupan yang normal, juga sederhana : digambarkan di sini para wartawan fashion-nya suka nongkrong di pinggiran jalan , tempat jualan lontong sayur dan di situ mereka saling bercerita.
Untuk buku yang saya dapat dengan harga miring di bazar buku, buku ini sedap untuk dibaca, sesedap lontong sayur! :)
Pertama liat novel ini: "Lucu sampulnya. Beli ga ya? Ah entar aja deh, beli yang lain dulu aja."
And now i succesfully find this book on my hand.
beli juga.
Bagus sih ceritanya. Ada bagian cerita yang sok-sok ngecoh gitu. Tapi gue kaga ketipu. Dari awal emang udah nyangka kalo si itu ya itu. Halah.
Alif Afrizal, ya? Tapi kurang jatuh cinta sama si Alif. Mungkin karena si Alif hafal nama-nama brand stuff terkenal sejagat raya itu, gue jadi ngerasa si Alif kurang 'jantan'. Walaupun si Alif sendiri jelas-jelas cowo tulen bukan kayak Didi. Tapi tetep aja, gue jadi agak ilfeel sama si Alif. Yah, namanya juga tuntutan pekerjaan sih ya. Kasian juga si Alif kalo semua pembaca mikirnya kayak gue.
Dari dulu udah pengen baca buku ini tapi baru kesampean setelah dicetak ulang. Yah, lumayan lah, buat hiburan. Saya agak bias sama cerita-cerita yang berlatarbelakang kehidupan wartawan. Dan membaca buku ini jadi ingat masa-masa jadi wartawan di kampus. Cuma bedanya sama Alif dkk, saya makannya di pantry redaksi aja, syukur-syukur ada dosen yang baik nganterin makanan. Pas magang juga saya paling mewah makan di hotel berbintang atau di restoran menara ibukota. Gak sampek ke Paris, London atau Milan. *_*
Gaya penceritaan Syahmedi Dean juga asik. Ceritanya ringan dan mengalir. Cuma perlu beberapa jam menghabiskan baca buku ini. Saya penasaran sama tiga sekuelnya juga sih, dan novel terbaru beliau juga, Surga Retak.
kisah awal dari tetralogi buku syahmedi dean, mengisahkan 4 tokoh utama yang terlibat dengan dunia fashion. Dimana kisah kehidupan mereka yang twisty juga ikut digambarkan disini, alif, sebagai salah satu tokoh bermain2 dengan "api" dengan selingkuh dan menyimpan rapat-rapat cheating nya tersebut. didi, sahabat alif, sibuk berkutat dengan cwo2 gay nya, begitupun raisa dan nisa. Bagaimana dunia fashion pun bisa dihubungkan dengan lontong sayur, anda bisa menemukannya disini :)
Secara keseluruhan, tetralogi buku2 syahmedi dean terasa tak lengkap jika anda belum baca buku yang ini. jadi, selamat membaca!!!
Beli buku ini gara2 harganya murah banget 10.000 bekas sih... belum pernah punya novel bekas hi hi hi
ceritanya tentang Alif yang kerja di dunia majalah fashion.. jadi bikin ngiler aja ngomongin ke paris milan london ngeliput fashion week.. hi hi apa hubungannya sama lontong sayur ?? alif dan genk ternyata suka lontong sayur .. nah ini juga bikin ngiler lontong sayur di mayestik itu dimana sih ?? gw taunya cuma ketupat gloria di petak 9 hahaha
ada penggemar misterius, yang ternyata anak buahnya alif merangkap pacar rahasia juga..
Akhirnya baca juga nih novel. :) Di sini lumayan ringan bahasannya seputer agensi sama gimana seorang model biasa bisa jadi model top. Aku kan baca novel keduanya dulu nih. nah di novel ini baru tau kalo ajus itu perempuan. hohoho tak kira cowok. Di novel ini paling suka sama kisah cintanya si Edna sama Alif. cerita-cerita FE alias Edna di email lucu banget. pengen deh punya temen email kayak gitu. Aku hapir aja nangis pas baca kalo Edna meningggal. Trus pas bagian Alif tau siapa FE dan apa yang udah silakukan Edna buat Alif (beli spatu Prada mansudnya). Over all keren. Bagian lucunya pas Didi masukin lontong sayur ke tas Louis Vuittonnya. Hm Lontong Sayur Dalam Lembaran Fashion. GOOD. :)
Aku gak beres. Bukan karena ceritanya gak bagus kok, tapi karena aku gk bisa masuk aja ke ceritanya. Not my cup of tea aja sih ini.
Deskripsi yang terlalu detail. Misalnya ngejelasin setiap agensi, sifat2 mereka kayak gimana. Kebnyakan telling gtu, trus deskripsi kegiatan gang terlalu detail. Dan yang bikin cape, beberapa halaman itu bisa cuman bahas Hermes, LV, dkk.
Tapi emang bagus, sih. Maksudnya banyak informasi. Bagus kok kalau mau dijadiin bajan riset.
Walaupun ku penasaran sama File Eater, tapi aku kayaknya tahu itu siapa. Edna bukan, sih?
SALUT!!! salut untuk Syahmedi Dean yang bisa mengusung tema yang lain daripada yang lain untuk memperkaya refrensi buku di indonesia.
Buku ini dengan sangat menarik dan kaya akan pengetahuan tentang dunia fashion dijabarkan sangat detail oleh Syahmedi Dean (background profesional dari dunia fashion sudah menjadi CV dari syahmedi dean).
bagi pecinta dan pengamat dunia fashion, buku ini boleh menjadi "BIBLE" serta "Ensiklopedi"" bagi kalian semua untuk menambah wawasan dunia fashion serta seluk beluknya.
ini adalah rekomendasi dari temen gw yang katanya sih bagus...well... selama beberapa chapter gw agak jenuh banget karena mungkin gw gak terlalu familiar dengan dunia fashion, but mas Syahmedi Dean ini bisa membuat pembaca dari yang gak tau soal fashion sama sekali jadi bisa punya gambaran sedikit tentang fashion..
suka banget cerita Hidden lovenya Edna dan Alif, and persahabatan di antara Raisa, Nisa, Didi and Alif juga seru and kompak banget deh!. unexpected ending story, hehehe...ini juga yang bikin seru. oke deh, di tunggu karya-karya selanjutnya yaa...(RAN)
Chanel, Prada, Jimmy Choo, Armani, Dior, LV, Hermes!!! oh-so-branded aren’t, it? Ngiler dan melotot pasti nih mata kalau ngebayangin cewek-cewek bertubuh tinggi dengan kaki jenjang dan sempurna ‘menghidupkan’ karya-karya masterpiece para designer dunia. Sungguh sangat fashionable!!! Dan saya begitu menikmati tiap detil kata di buku yang ditulis mas De ini. Yapz, bahkan sampai berhasil membordir pertahanan alam bawah sadar saya untuk memimpikannya. Zupeeerrrr!!!
Hasil asal minjem di perpustakaan kota. Baru baca buku sekitar jam empat sore ini dan langsung hop-hop-hop... baca-baca-baca... lompatin semua nonsense explanations-nya... dan selesai! Haha! Sesungguhnya, novel ini nonsense, tapi dulu banget terlanjur baca JPVFK dan terusannya sampe tamat. Makanya, jadi kebeban baca ini buku. Untung sekali duduk anteng langsung selesai. Sekarang, tuntas deh ngebaca semua serinya... Yang jelas, ending serialnya pakai mati-matian, tokoh-tokoh utamanya pula (iya, ini cruel spoiler. Hehe). *senyum malaikat maut*
Judulnya Salah tuw.... Mestinya Lontong Sayur Dalam Lembaran Fashion (LSDLF).. Gwe iseng aja beli ini buku..gara2 obralan gitu dikampus...10 ribu doang (pdh harga aslinya sampe 50rb gitu:p)..Taunya isinya Oksss banget.. Cerita dunia fashion yg glamour plus pengarang yg gaul abis bikin ni novel luar biasa bagus...Udah gitu gwe suka banget kisah persahabatan yg unik antara Alif, Raisa, Didi dan Nissa..gud..gud...para fashion freak, must read this book and the sekuel!!
Setelah menghabiskan novel ini selama mmm... 5 hari (yes, 5 days..) akhirnya gw menyimpulkan well, it's related with the Syahmedi Dean's world.. So, he could explain those fashion things well... All those real life, scandal, competition, lifestyle in fashion world are explained briefly in his book. Yang mengecewakan adalah, karena judulnya ada Lontong Sayur-nya, gw berharap ada connection between lontong dan fashion. Hahahaha... Kind of weird but it would be interesting, but I didnt find it.
“Orang-orang fashion membuat mereka ‘gatel’, mereka beranggapan fashion people penuh kebebasan, bebas sex life dan bebas sex orientation. Entah dari mana datangnya anggapan mereka ini, apakah mereka melakukan survey sebelumnya, apakah mereka mengalami sendiri, atau apakah ada pihak-pihak tertentu yang memberi data secara umum” [h.232]
yea, kelar bacanya.. bisa dibilang cuma 1.5 hari. karena alurnya memang cepet dan jalinan kalimatnya bikin pengin terus lanjut!! hehe. cerita tentang warna warni kehidupan wartawan pria di majalah lifestyle. seru! tentang cinta, dinamika dunia kerja dan sosialita yg menarik! resensi lengkap menyusul yaa :)
I read some reviews about this tetralogy and they all said that it was good so i decided to buy the 1st book "EDNASTORIA - Lontong Sayur Dalam Lembaran Fashion". Actually I categorized this book as light reading to fill your free time. In my opinion the storyline is a little bit slow. This book contains so many unfinished story so we have to read the next book to uncover the secret in this 1st book of this Syahmedi Dean's tetralogy.