Ketika ada krisis, kelompok buruh akan mengambil alih. Namun, terkadang perjuangan politik buruh sering mengalami flop bahkan ketika berhadapan dengan krisis. Immanuel Ness dan Azzelini menguraikan secara historis bagaimana buruh bekerja sebagai aktor penggerak ekonomi pasca krisis kapitalisme dan juga relevansinya. Pada fase pertama awal abad ke 20, kontrol buruh masih pada batas-batasan mempolitisasi hak-hak yang mereka coba untuk perjuangkan seperti misalnya pengurangan jam kerja, jaminan kesehatan, tunjangan bahkan hak mereka secara ekstra ekonomi. Bahkan di beberapa negara di Eropa, praktik ini diakomodir dalam bentuk partai buruh yang semangat dan strukturnya masih bisa kita lihat sekarang.
Yang menarik adalah eksperimentasi gerakan buruh di negara-negara sosialis seperti Uni Soviet, Yugoslavia dan beberapa negara-negara Amerika Latin. Pergantian rezim dari negara feodal ke negara bangsa mengubah mode produksi namun tidak pada tataran elit-elit yang bermain di dalamnya. Merujuk kepada pola kediktatoran personal maupun non personal yang menggurita di negara-negara sosialis, kontrol terhadap buruh dipindahtangankan dari borjuis menjadi borjuis sisipan negara. Bahasa gampangnya, cuma ganti majikan doang. Ditambah lagi dengan kebijakan negara yang birokratis, yang membuat buruh belum bisa bernapas lega.
Hal kedua yang menarik dari buku ini pada bab-bab perluasan perjuangan anti kapitalisme. Jika pada mulanya gerakan buruh cuma berurusan sama besok mau makan apa, maka di banyak negara - negara dengan perjuangan buruh yang demokratis, terjadi perubahan paradigma yang berbeda. Mereka memperjuangkan anti kapitalisme diselimuti dengan anti rasisme, anti kolonialisme, feminisme dan isu-isu lingkungan. Tentu dengan elan vital yang sama yaitu tercapainya hak untuk bisa setara.
Catatan kritis untuk buku ini adalah sejauh mana secara ontologi kelas bisa memiliki peranan dalam revolusi. Apakah kesadaran kelas cuma sampai pada level buruh atau kelas menengah bisa dikatakan juga sebagai buruh? Jika iya, pada level apa kesadaran kelas itu bisa ditimbulkan dan seberapa urgensinya keberadaan kelas menengah dalam perjuangan? Jika tidak, apakah mereka berlawan atau bisa dianggap sebagai korban belaka?
Kedua, sejauh mana gerakan buruh yang memenangkan pertarungan kelas ini tidak ikut masuk ke pusaran logika kapital itu sendiri? Karena berbahaya sekali jika gerakan buruh akhirnya kalah dengan aliran modal yang lebih besar.
Pertanyaan masih bisa didiskusikan oleh banyak pemikir antikapitalisme di belahan dunia ini.