One of the decisive battles of World War II (1939-1945) in the Pacific, Iwo Jima was described by Lieutenant-General Holland Smith, Commander Fleet Marine Forces Pacific, as "The most savage and most costly battle in the history of the Marine Corps" - a titanic struggle that eclipsed all that had gone before. Situated halfway along the B-29 Superfortress route to the Japanese mainland, the island was of major strategic importance to the US Air Force, but also to the Japanese, 20,000 of whom were deeply entrenched in the island. This book provides a definitive account of the battle, from its origins to its hard-fought conclusion.
Sebetulnya saya tidak menyukai apa pun tentang peperangan. Kalau kebetulan melewati TV dan sedang ada tayangan dokumenter tentang perang (ibu saya menggemari tontonan sejarah), saya lebih suka menghindar. Maka membaca buku ini merupakan tantangan.
Kesulitannya bukan hanya dalam membayangkan adegan-adegannya di samping tidak familier dengan istilah-istilah militer, melainkan juga dari segi emosinya--terutama yang disajikan secara visual dalam bentuk foto. Misalnya, ada beberapa foto yang menunjukkan sosok-sosok yang tidak akan selamat dalam pertempuran, mulai dari para pejabat militer Jepang sampai anjing doberman/herder yang seusai perang segera dimusnahkan karena dianggap tidak bisa dilatih lagi untuk kehidupan sipil. Saya membacanya pelan-pelan sambil sesekali mendesah bila menemukan hal-hal yang bikin perih, ngilu, lemes, apalah yang semacamnya. Ada banyak kilasan cerita kematian dan kecelakaan tragis.
Membaca buku mungkin cenderung merepotkan karena mesti memvisualisasikan sendiri dalam kepala. Namun dalam hal ini membaca buku terasa mending daripada menonton film; bentuknya yang audio visual itu tentu lebih berefek padahal saya tidak menyukai kengerian.
Menurut saya, penulis buku ini telah berusaha menjabarkan peristiwa Iwo Jima 1945 secara menyeluruh (paling tidak, ada narasi yang kronologis) tapi ringkas--cocok bagi orang awam seperti saya. Saya dibuat mafhum bahwa peristiwa Iwo Jima merupakan pertempuran paling berdarah-darah dalam Perang Dunia II, menghasilkan di antaranya sebuah foto epic yang telah begitu sering direproduksi dengan gambar sekelompok tentara mendirikan bendera Amerika Serikat di puncak Gunung Suribachi.
Di bagian tengah buku terdapat ilustrasi dan peta. Ilustrasinya cukup menyegarkan mata dari penatnya menggeluti teks, sedangkan petanya terus terang cukup memusingkan dengan keterangan-keterangannya yang mengelilingi gambar (bingung mau baca yang mana dulu!) serta huruf-huruf yang berukuran sangat kecil.
Buku ini cenderung pada perspektif Amerika Serikat. Bila diibaratkan dengan sebuah cerita, protagonisnya adalah Amerika Serikat sedangkan antagonisnya adalah Jepang. Saya menduga itu karena penulis yang berasal dari Britania Raya lebih mudah atau lebih banyak mendapatkan akses kepada sumber-sumber yang berbahasa Inggris ketimbang bahasa Jepang.
Tentunya penulis tidak meluputkan sumber berbahasa Jepang sama sekali. Paling tidak, beliau berhubungan dengan Taro Kuribayashi, putra dari Letjen Tadamichi Kuribayashi yang bisa dibilang merupakan aktor antagonis utama dalam peperangan ini.
Semakin menyedihkan ketika mengetahui, lewat foto-foto yang disajikan, betapa tentara Amerika Serikat yang tewas dalam pertempuran ini dikuburkan dengan begitu rapi sedangkan korban dari tentara Jepang--yang jumlahnya lebih banyak--dikumpulkan dengan traktor lalu dimasukkan begitu saja ke dalam lubang seadanya secara massal.
Bahkan para pemimpinnya pun tidak mendapatkan penguburan secara layak. Tapi ini lebih karena jasad mereka tidak teridentifikasi. Konon haram hukumnya jika jasad mereka sampai ditemukan oleh pihak musuh. Misteri ini pun menimbulkan berbagai dugaan. Somehow, saya lebih suka membayangkan mereka moksa begitu saja ke nirwana :v Fakta yang ada ini lebih terasa menakjubkan ketimbang menyedihkan.
Somehow again, saya mengaitkan keadaan menyedihkan tersebut dengan keadaan orang-orang Jepang pada masa kiwari--yang tetap saja menyedihkan. Maklum, saya tertarik menonton video-video YouTube yang mengungkapkan berbagai sisi gelap Jepang. Ketika membaca komentar-komentarnya yang berbahasa Inggris (karena itu satu-satunya bahasa asing yang saya cukup mengerti), banyak yang bernada mencela, mendikte, melemparkan stigma. Kalaupun ada komentar berbahasa Inggris yang dibuat oleh orang Jepang (paling tidak, dia mengaku begitu), isinya bernada pembelaan.
Ada pengetahuan dan nilai yang saya ambil dari buku ini. Yang menarik di antaranya tentang para tentara yang sengaja menjatuhkan diri di atas granat untuk melindungi rekan-rekannya. Buku ini tidak menjelaskan tentang cara kerja granat, sehingga saya hanya bisa menduga-duga bahwa dengan menjatuhkan diri begitu berarti dia meredam efek ledakan agar hanya mengenai dirinya sendiri sehingga rekan-rekannya pun terhindarkan. Ada juga perawat-perawat yang terus menolong para korban padahal dirinya sendiri kena tembak. Mereka menolak untuk beristirahat dan baru berhenti ketika pingsan atau mati karena luka yang tidak terobati. Dan, katanya, itu merupakan hal yang biasa dalam situasi seperti itu. Kilasan-kilasan cerita tersebut menunjukkan besarnya pengorbanan diri yang sampai menghilangkan nyawa sendiri, mementingkan kepentingan orang lain di atas diri sendiri.
I've read this book twice. I liked it less the second time, perhaps because I've read better and more detailed books, and also perhaps this time I caught two really sloppy mistakes.
The author had the Medal of Honor winner Tony Stein using a customized "Stinger" machine gun on Iwo, but for some reason decided to make it a .50 caliber instead of the .30 caliber aircraft mounted gun that Stein actually had. A .50 would have weighed over eighty pounds, not including the brutally heavy ammunition.
As with most Osprey's I've encountered as of late, the graphics were beautiful, but the maps were lacking in detail sufficient to give a sense of the flow of the battle.
Another complaint is that the author spelled "lose" as "loose". This was a professionally published piece, and an editor should have caught the error.
All that said, it wouldn't be a bad primer on the battle for someone looking for a quick overview.
La batalla de Iwo Jima fue quizá una de las mayores carnicerías de la SGM. A principios de 1945 en una isla de 12km2 21.000 japoneses y 60.0000 Marines lucharon encarnizadamente y cuerpo a cuerpo. La batalla ha sido reproducida en varias películas (la última vez por Clint Eastwood en "Banderas de nuestros padres" y "Cartas desde Iwo JIma").
El comandante japonés, Tadamichi Kuribayashi, era probablemente el mejor estratega japonés después del fallecido almirante Yamamoto. Sabía que no podía detener la maquinaria de guerra estadounidense, así que su objetivo fue hacer pagar un alto precio a los Marines. Y lo consiguió gracias a una estrategia de fortines individuales, un sistema de túneles y una resistencia fanática:de 21.000 japoneses, los Marines solo hicieron 271 prisioneros. Los Marines sufrieron un 50% de bajas entre muertos y heridos. En el libro se explica que esto se debió no solo a la resistencia japonesa, sino que los reemplazos estaban mal entrenados y preparados. Lo que no se puede dudar es de que los Marines lo dieron todo: se concedieron 27 Medallas de Honor, un tercio de todas las Medallas de Honor otorgadas a los Marines en TODA la SGM. Una barbaridad.
Este libro de Osprey es muy útil para conocer la batalla de una manera rápida y clara. No tiene la profundidad de un volumen de 600 páginas pero es mucho más ameno e instructivo que leer sobre Iwo Jima en la wikipedia. Muy recomendable.
Like all the Osprey books this one is outstanding when it comes to photos and artwork. The maps are adequate, and the text is a solid general survey of the battle. None of the Osprey books are intended to be in-depth microworks. I consider the Osprey books to be the cliff notes of military history. I like them for just that reason. One doesn't always need an in-depth work. There are several excellent appendices listing the 27 Marines and Navy Corpsmen who earned the Medal of Honor, the organization of the opposing forces and so on. However, after saying that I recommend Richard Wheeler's excellent account "Iwo" and Bill Ross's "Iwo Jima - Legacy of Valor", Both men were there as young Marines, and their books will satisfy those who are looking for more details.
Short but concise read about the U S. Marines taking Iwo Jima in WWII, a bloody and fierce battle with heavy casualties on both sides. A few interesting details were the Seebees' and Navy's contributions to the battle, as well the bit about how the famous flag-raising photo on Mt. Suribachi was not staged, as was believed by many for a long time.