The Invention of Primitive Society , Adam Kuper’s best selling critique of ideas about the origins of society and religion that have been much debated since Darwin, has been hugely influential in anthropology and post-colonial studies. This topical new edition, entitled The Reinvention of Primitive Society , has been thoroughly revised and updated to take account of new research in the field. It coincides with a revival of the myth of primitive society by the ‘indigenous peoples’ movement’, which taps into a widespread popular belief about the noble savage and reflects a romantic reaction against ‘civilisation’ and ‘science’. By way of fascinating accounts of classic texts in anthropology, classical studies and law, the book reveals how wholly mistaken theories can become the basis for academic research and political programmes. In new chapters, Kuper challenges this most recent version of the myth of primitive society and traces conceptions of the barbarian, savage and primitive back through the centuries to ancient Greece. Lucidly written and student friendly, this is the must-have text for those interested in anthropological theory and current post-colonial debates.
Pernahkah anda mendengar mengenai sosok aktivis yang menyerukan "Hak" bagi kategori kelompok baru? Ya, selain terhadap etnis, ras, agama, seks, gender, dan sebagainya, kini terdapat kelompok "Masyarakat Adat" atau "Penduduk Asli". Anda mungkin juga pernah mendengarnya dari berita-berita, mengenai Penduduk Asli Amerika di Amerika Serikat, Aborigin di Australia, atau Maori di Selandia Baru.
Buku ini menjelaskan kronologi mengenai wacana intelektual yang memunculkan politik "Masyarakat Adat" tersebut, setidaknya di dalam disiplin Antropologi. Wacana ini dimulai dari ide mengenai "Barbarisme" hingga"Primitivisme", dan di dalam arus sejarah berjalan dinamis, dimulai dari hubungan Romawi dengan kelompok lain, masa Penjelajahan Bangsa Eropa, dan masa "Imperialisme Baru" Abad 19. Pada abad 19 juga mulai bermunculan disiplin-disiplin ilmiah yang salah satunya Antropologi. Disiplin inilah yang, pada mulanya, mengambil "Masyarakat Primitif" (Non-Eropa) sebagai objek kajiannya.
Meski begitu, beberapa antropolog mulai mewacanakan bahwa alih-alih Masyarakat Non-Eropa diatribusikan sebagai "Primitif", justru mereka lah yang perlu direkognisi gaya hidup mereka, terlebih di tengah arus modernisasi dan globalisasi. Mayoritas dari antropolog baru ini berafiliasi dengan politik sayap kiri.
Nah, sampai sini, politik "Masyarakat Adat" lahir. Namun, Adam Kuper memberikan kritik bahwa logika yang menjustifikasi politik masyarakat "Adat" ini, serupa dengan politik sayap kanan yang juga menolak modernisasi (konservatif). Bahkan diwanti-wanti bahwa politik masyarakat "Adat" ini dapat terjatuh ke nativisme, dimana menjadi pandangan yang kerap diatribusikan ke politik sayap kanan.