A technological revolution is unfolding that promises, in the words of its creators, to redefine what it means to be human. Face-to-face communication (“F2F” to those in the know) is quickly becoming obsolete; already we turn to computers for information, entertainment, companionship—even love. Science fiction? Hardly. This is the brave new vision of the digital avant-garde, computer crusaders leading a high-tech assault on what was once known as reality. Sophisticated, well-funded, unabashedly messianic, they have the power, the technological know-how, and the marketplace savvy to make good on many of their wildest prophecies. With War of the Worlds, Mark Slouka gives us a funny, but eerily disturbing, humanist's look at the culture of cyberspace.
Mark Slouka most recent books are the story collection All That Is Left Is All That Matters, the memoir Nobody’s Son, and the award-winning novel Brewster. His work has appeared in The Best American Short Stories, The Best American Essays, and the PEN / O. Henry Prize Stories. He lives in Prague.
Ruang yang Hilang: Pandangan Humanis tentang Budaya Cyberspace yang Merisaukan (selanjutnya Ruang yang Hilang saja) mengingatkan saya akan pengaruh media terhadap realitas yang senyatanya. Media merupakan “representasi realitas” atau penerimaan “salinan” sebagai “sesuatu yang asli”. (halaman 40-41)
Ruang yang Hilang mengajukan cyberspace sebagai terdakwa, namun juga mengungkapkan bahwa sebelum cyberspace tercipta manusia sudah tertipu oleh media. Ingat kepanikan massal yang dialami penduduk sepanjang pantai timur Amerika Serikat pada tahun 1938 akibat kisah sandiwara radio Orson Wells “War of the Worlds”.
Realitas buatan tidak hanya disajikan oleh cyberspace. Sebelumnya, novel, film, TV, radio, dan berbagai media lain telah berjasa. Cyberspace adalah corong yang kian menggaungkan kekuatan media. Dampak yang ditimbulkan pun menjadi lebih besar. Ingat iklan Goyang Gayung-nya XL—lebay sih, tapi cukup merepresentasikan hebatnya kecepatan media di era kini.
Ruang yang Hilang merupakan kekhawatiran berlebihan akan dampak cyberspace, atau memang kita yang sudah terlampau apatis. Kita dapat mereguk sebanyak mungkin realitas tanpa harus sungguhan mengalaminya. Itu sudah cukup untuk membuat kita dapat mengambil hikmah akan sesuatu. Namun tidakkah itu hanya mengembangkan aspek kognitif saja?
Kita memang tidak mungkin dapat mencerap segala realitas, maka peran media menjadi penting. Namun sebagaimana sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, maka Ruang yang Hilang hendak mengingatkan pembacanya agar tetap mengindahkan realitas yang senyatanya.
Cukuplah media sebagai referensi kita dalam mengenali, memahami, lantas memperbaiki realitas yang senyatanya.
Jadi, mari kita singkirkan sejenak realitas dalam kepala kita masing-masing dan mulai mengenali, memahami, lantas memperbaiki realitas yang senyatanya. Gunakan bantuan media seperlunya, selebihnya kita dapat menggunakan cara yang lebih sehat. Misalnya dengan berjalan kaki. :p
Kita semua tentu paham bahwa ketidaknyataan meningkat seiring dengan bertambahnya kecepatan. Saat berjalan kaki dengan kecepatan 10 km per jam, kita akan memperoleh pengalaman yang khas di tiap-tiap tempat: baunya, suaranya, warnanya, teksturnya, dan sebagainya. Akan tetapi, bermobil dengan kecepatan 120 km per jam, pengalamannya jauh berbeda. Mobil mengisolasi kita, menciptakan jarak; dunia yang berbeda di balik kaca jendela—apakah itu padang rumput ataukah ladang pertanian—tampak tak nyata. (halaman 41)
Ruang yang Hilang bukan buku yang secara khusus menyorot hal berjalan kaki atau lanskap alam. Ini hanyalah sebuah buku setebal 195 halaman yang memaparkan kekhawatiran akan dampak cyberspace bagi kehidupan manusia. Diterbitkan pada tahun 1995, sedang di Indonesia tahun 1999, masihkah konteks buku ini relevan di era Twitter sekarang ini? Toh sudah satu setengah dekade berselang.
Mungkin tidak. Namun bukan berarti hal-hal yang penulis ungkapkan tidak ada benarnya sama sekali. Ya. Itu terjadi.
Kita dapat menikmati berjam-jam acara TV tentang alam. Akan tetapi, begitu kita di tengah hutan atau padang rumput, kita gamang terhadap hal yang mesti kita lakukan. Kita selalu menanti untuk melewatkan waktu bersama Chris The Brick dalam film seri Northern Exposure, tetapi takut bertemu tetangga saat membuang sampah di bak sampah depan rumah. “Peristiwa tanpa perantara” hampir menjadi sesuatu yang memalukan: seseorang di sebuah pesta yang menawarkan diri untuk memainkan alat musik yang dibawanya, akan membuat setiap orang merasa risi. Bagaimanapun, itu saru. Kita lebih merasa nyaman dengan representasi: Aerosmith di MTV, Isaac Stern atau Eric Clapton di CD. (halaman 41-42)
…suatu saat nanti representasi kehidupan yang tampak dalam layar kaca, radio, dan film, di mata kita justru akan lebih terasa sebagai “kehidupan” dibandingkan dengan kehidupan itu sendiri. (halaman 43)
Dan di kehidupan lain tersebut, kita bisa menjadi apapun yang kita mau. Kita bisa menjadi apa yang kita tidak bisa capai di realitas yang senyatanya.
Ketika Bob menggunakan Internet, dia akan menyandangkan sebuah nama untuk dirinya sendiri. Dia dapat menamai dirinya Bob, atau memerankan dirinya sebagai apapun atau siapapun yang dia inginkan: manusia, binatang, tumbuhan, mineral… (halaman 33-34)
Pustaka rujukan:
Mark Slouka. 1999. Ruang yang Hilang: Pandangan Humanis tentang Budaya Cyberspace yang Merisaukan. Bandung: Penerbit Mizan.
Because I enjoyed Slouka's much more recent book of essays, I read this book, first published in 1995. That date is important because Slouka perceptively critiqued the techno-enthusiasts of his day (many of them still around, like Kevin Kelly)at a time when the Internet was still relatively young and primitive. For example, when he discusses virtual reality, he is talking about the old text-based worlds created by users back in the first half of the nineties; still his perceptive comments apply as well to today's much more fully realized virtual worlds. Still worth reading, I'm adding this book to my shelf of critical books along side Jaron Lanier's and Eli Pariser's critiques.