In 1990, John Major hailed 'the classless society'; in 1997, New Labour announced that 'we're all middle class now', yet we live in an age where food banks, pay day lenders and zero-hour contracts proliferate: it's clear that class matters.
Foregrounding the economic nature of class, Split challenges the idea that class can be reduced to the cultural. From precarious labour to rising debt; from the housing crisis to environmental catastrophe; from an inflated prison population to the welfare state; Ben Tippet traces the class divide at the heart of all exploitation. Myth-busting meritocracy, he exposes the role that tax havens, colonialism and inheritance play in the wealth of the elite.
Split highlights the potential for a diverse and eclectic working-class bloc to fight back in an age of austerity and uncertainty.
Berdasarkan wawancara Warren Buffet dengan New York Times tahun 2019. "Saya takut sistem kapitalis akan menyakiti banyak orang." Jika tujuan kapitalisme adalah untuk menghasilkan kelas pekerja yang produktif sepanjang waktu, maka orang-orang di dunia ini hanya terbagi ke dalam dua golongan, produktif dan kurang produktif. Hal ini selaras dengan apa yang penulis kemukakan di awal: biarkan miliarder menciptakan kekayaan terlebih dahulu dan setelah mereka melakukan keajaiban mereka, kita dapat menggunakan kebijakan, perpajakan dan pemberian amal untuk memastikan bahwa kekayaan ini didistribusikan kembali kepada mereka yang kalah.
Pekerjaan adalah pertukaran. Pekerja menukar waktu mereka guna mendapat upah. Menukar waktu pun tidak terjadi begitu saja. Ada keahlian dan usaha yang dikerahkan. Kelas pekerja, sebagai namanya, adalah orang-orang yang perlu bekerja untuk hidup. Tidak bekerja, ya tidak hidup. Pengertian seperti ini tidak keliru, tapi terlalu tumpul.
Sisi positifnya, kita akan melihat kelas pekerja sebagai jantung perekonomian negara. Makin terorganisir kelas pekerja ini, jantung perekonomian negara semakin stabil. Namun, jika melihat golongan kelas pekerja yang tidak bisa disamaratakan, bisa dipecah ke dalam beberapa tingkatan lagi, rasanya konteks seperti ini kurang tepat. Belum lagi jika memecahnya berdasarkan ras, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan.
Bintang empat untuk studi kasus yang digali secara dalam.
Begini, buku ini sebenernya menarik tapi insight yang dikasih sama penulisnya itu menurut gue bukan hal-hal baru yang selama ini ga kita ketahui. Gender pay gap, racism, dan hal-hal lainnya menyangkut perekonomian yang terlihat sama mata kita.
Tapi ilmu yang gue ambil dari buku ini adalah soal situasi kelas dan ekonomi di Britania Raya. Kalau gue ambil kesimpulan nih, di Inggris sana sepertinya agak lebih berat mengenai perbedaan gaji antara perempuna dan laki-laki, apalagi kalau udah bawa-bawa ras. Gue masih kurang pengetahuan soal suku/ras ini di Indonesia situasinya gimana sih, tapi selama ini jarang lihat/denger berita-berita penangkapan kejahatan atau perbedaan gaji karena suku/ras.
Mungkin kalau kalian ada yang punya rekomendasi soal suku/ras di Indonesia, boleh info-info ya hihi kepo juga...
Ada beberapa point yang sebenernya gue ga setuju di buku ini. Tapi ga besar banget sih, jadi yaudah ya ga perlu di bagi-bagi :"
Anyway, Gue suka banget sama seri buku ini. Setelah sebelumnya gue menghabiskan Mask Off, gue sekarang mau lanjut baca Behind Closed Doors. Cussss~