Jump to ratings and reviews
Rate this book

Back "Europe" Pack: Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar

Rate this book
Perubahannya membawa banyak pengaruh, termasuk untuk dunia traveling. Sekarang, kamu dapat bepergian ke Eropa untuk 6 bulan hanya dengan 1.000 dolar Amerika. Jutaan manusia telah membuka tangan untuk berteman dengan orang-orang berlatar belakang berbeda, dan seluruh penemuan teknologi dan infrastruktur di dunia siap membantumu mewujudkan mimpi. Sambut sebuah kesempatan yang tidak pernah terjadi dalam sejarah muka bumi sebelumnya!

1.000 dolar Amerika untuk 45 kota, 13 negara, 10.600 km, dan pertemanan tak ternilai....

Semuanya kini mungkin.


Sebuah pengamatan yang jeli, menggelitik, sekaligus personal. Mengintip dan mencicip Eropa dari sudut pandang yang unik. Tidak hanya informatif dan menghibur, buku ini juga mampu menginspirasi kita untuk berani merambah dunia, dan percaya pada keindahan hati manusia."
--Dewi Lestari, Penyanyi dan Penulis Novel Trilogi Supernova"

Jika selama ini rencana traveling Anda selalu tertunda atau bahkan batal, bacalah buku ini! Anda akan menemukan trik-trik, tips, bahkan solusi dari tertundanya dan batalnya traveling Anda selama ini, terutama menyangkut pertemanan dengan orang-orang yang ditemui di sana."
--Kamidia Radisti, Miss Indonesia 2007, Duta Pendidikan Luar Sekolah

"Berbagai cerita menarik ditampilkan dari berbagai sudut pandang: budaya, desain, arsitektur, politik, dan ekonomi plus kehidupan sehari-hari--membuat buku ini begitu kaya akan informasi namun tetap ringan untuk dibaca. Saya tidak heran bila setelah membaca buku ini banyak yang akan backpacking ke Eropa atau ke negara lain. Pengalaman yang menunjukkan tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan sepanjang kita menginginkannya dan mengupayakannya sepenuh hati."
--Betti Alisjahbana, Founder and CEO QB Creative, Mantan CEO IBM Indonesia

275 pages, Paperback

First published May 1, 2008

11 people are currently reading
313 people want to read

About the author

Marina Silvia K.

2 books12 followers
Marina Silvia Kusumawardhani, lulus dari jurusan Teknik Industri ITB (Institut Teknologi Bandung) angkatan 2001.

Memulai pengalaman menjadinindependent traveler sejak tahun 2003, ke India setelah "jatuh cinta pada musik tradisionalnya".

Saat penulisan buku Back "Europe" Pack: Keliling Eropa 6 Bulan Hanya dengan 1000 Dolar Lewat Jalur Pertemanan, sedang mengisi waktu menjadi salah satu staf tutor di Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB.

Kegiatan selanjutnya sedang difokuskan untuk membangun sebuah organisasi dan/atau riset mengenai economic development dengan spesialisasi di bidang complementary currency.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
124 (28%)
4 stars
144 (33%)
3 stars
117 (27%)
2 stars
36 (8%)
1 star
7 (1%)
Displaying 1 - 30 of 80 reviews
Profile Image for Bunga Mawar.
1,361 reviews43 followers
March 22, 2009
"God is dead" - Nietszche
"Nietszche is dead" - God


Seorang backpaper yang baru mengunjungi sebuah katedral di Cologne, Jerman, teringat pada berita dari "Bono on Bono" mengenai sebuah tembok di Dublin, Irlandia. Di tembok itu ada grafiti, tulisannya ya seperti yang Anda baca di atas paragraf ini. Saya ulang ya?

"God is dead" - Nietszche
"Nietszche is dead" - God

Anda mungkin lebih kenal Friedrich Nietszche daripada saya. Herr Nietszche asal mulanya dongkol pada komunisme namun kemudian berfilsafat keberadaan Tuhan (dan agama) justru merusak tatanan hidup masyarakat yang wajar di bawah kendali kekuatan seorang penguasa. Pandangan ini masih punya romantisme dan jadi bahan untuk membuat orang nyengir di Eropa sana. Dari sebagian masyarakat Eropa yang bagi kita nampak sekuler abis, rupanya ada juga yang bertahan jadi the defender of God. Apa pun alasannya.

Sewaktu di Finlandia, backpacker kita singgah untuk menjumpai gadis muda riang gembira yang sejak kecil tidak lagi percaya Tuhan atau surga dan neraka. Berbeda dengan ateis Eropa (macam Nietszche) yang mengalami love and hate relationship dengan Tuhan, menurut tokoh pejalan kita itu, orang Finlandia ateis karena mereka tidak pernah mengalami relationship apa pun dengan Tuhan.

Petualang dengan backpack yang menjumpai sekian banyak orang Eropa dengan polah tingkah dan beragam ceritanya itu adalah Marina Silvia. Dia urang Bandung, lulusan ITB yang punya persiapan matang ketika memutuskan berkelana selama enam bulan di benua sebelah timur Atlantik itu. Semua persiapan, alasan-alasan, kelebihan hingga "provokasi" kepada pembaca untuk mengikuti jejaknya menyandang ransel menjelajah Eropa ini dituangkan dalam bagian pertama bukunya, Back "Europe" Pack, Menjelajah Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dolar!

Eropa! Siapa yang tidak bermimpi untuk sekali saja menginjakkan kaki di sana? Sebagai pembuka, bagian pertama ini memang informatif, dan sekali lagi, provokatif. Ditulis dengan gaya yang akrab, semangat anak muda Marina yang belajar untuk menjadi dewasa, sekian hal disebutnya sebagai keuntungan immateriil tidak terkira jika kita berani memantapkan niat menjadi backpacker di Eropa. Tidak hanya "menghasut", Marina juga menunjukkan jalan, memberi informasi urutan langkah yang harus kita telusuri untuk bisa mewujudkan perjalanan tersebut sesuai dengan prinsip "bayar semurah-murahnya dapat sebanyak-banyaknya." Dari cara menghitung waktu perjalanan berikut perkiraan biayanya, kiat memesan tiket serta mengurus visa serta akomodasi, semua dipaparkan di bagian ini (bocoran: sebenarnya biaya total buat jalan-jalan KE Eropa dari Indonesia itu sekitar 2000 dolar ding, yang 1000 dolar itu khusus buat melanglang DI Eropa). Sayangnya setting beberapa halaman agak sulit dibaca karena latarnya dibuat warna abu-abu sementara hurufnya berukuran kecil-kecil.

Selesai dengan urusan persiapan keberangkatan, kita dipersilakan berjalan bersama Marina menyusuri Eropa, dimulai dari Frankfurt, Jerman. Bagian ini merupakan Jurnal yang asalnya adalah blog yang menjadi catatan saat Marina melakukan perjalanan, Juni-Desember 2006. Berbagai kontradiksi dari orang-orang yang berbagi daratan yang sama ini dituangkan Marina dalam bagian kedua yang terpisah-pisah. Pantas saja jika gaya tulisannya sangat personal, alias termasuk berat. Marina menulis bukan sebagai turis yang melihat gedung bersejarah sebagai atraksi wisata, tapi sebagai seorang pencatat percakapan dengan orang-orang yang ditemuinya, berbagai macam orang dengan berbagai pengalaman di benua dengan panjang bentang Timur-Barat hampir sama dengan Indonesia itu.

Jurnal Marina yang isi dan cara bertutur kontemplatif tersebut bisa jadi menurunkan semangat pembaca yang berharap buku ini mengisahkan jalan-jalan yang asik. Itu bukan pilihan Marina. Kisah yang asik, saya yakin, pasti dialami oleh pelakunya, lihat saja foto-foto yang disertakan. Namun Marina dengan latar belakangnya menyajikan berbagai pertemuan yang dialaminya, percakapan yang dijalaninya seringkali berakhir sebagai retorika.

Dialog sepanjang jalan Marina, sebagian mengenai agama. Seperti ditulisnya masalah sosial utama dalam globalisasi adalah civilization-clash: antara Barat-Islam, ateisme-relijiusitas, dst, membuat tidak sedikit orang di dunia berpendapat bahwa agama adalah penghalang perdamaian nomor satu. Sebagai muslimah berjilbab, perjalanan seorang diri Marina sering juga membuat mereka yang ditemuinya bertanya-tanya banyak. Bahkan, pastinya kita juga: Kok berani amat sih cewek ini?

Namun tak bisa diingkari, Marina termasuk jeli memotret personalitas manusia. Bahwa inti kemanusiaan sebenarnya ada kepercayaan pada satu sama lain, tanpa dibatasi kebangsaan, agama atau ideologi. Saat mengunjungi Storas Festival di Trondelag, Norwegia, yang riuh oleh gelaran musik khas anak muda saat musim panas Eropa, ada sebuah stand memasang isu nan sekilas nggak nyambung: Boikot Israel. Saat ditanya, mengapa stand ini punya kepedulian mengajak massa gaul Norwegia untuk mendukung Palestina, Tomas nyang empunya stand menjawab: Keadilan. Jangan sampai lemparan batu anak-anak Palestina dibalas dengan kekuatan militer 10 kali lipat.

Lalu, lanjut Tomas, "Jika Eropa merasa bersalah atas apa yang terjadi pada bangsa Yahudi selama PD II, berikan mereka tanah di Eropa, bukan sepetak tanah bertuan di Timur Tengah." Hmm... pastinya terasa daleeem... terutama bagi yang terbiasa melihat konflik Palestina-Israel sebagai konflik Islam-Yahudi belaka.

Benar-benar pengalaman yang sangat berharga jika kita bisa melakukan perjalanan dengan mengambil hikmah dan bukan hanya setumpuk foto dan oleh-oleh.

Catatan mengenai bagaimana saya membaca buku ini:

Direkomendasikan oleh Diel, ternyata sudah ada di perpus sekolah. Dipinjam dan dibaca pertama kali (9 Oktober) di ruang tunggu dokter gigi Puskesmas Duren Sawit.

Bab 1-nya seru, 13 alasannya kontemplatif (apa karena suasana ruang tunggu dokter gigi itu memang mendukung, yah?). Sampai halaman 44 mulai agak ga kuat... ngantuk. Terpaksa diloncat, baca jurnal2nya. Lumayan... berat bahasanya, hehehe. Lalu kelar keliling Jerman, jalan ke Rusia, lanjut ke Skandinavia, dan akhirnya dipanggil masuk ke ruang praktek dokter gigi. Akhirnya, setelah diperpanjang untuk satu kali masa peminjaman lagi, lalu baca loncat-loncat, selesailah buku ini dibaca pada tanggal 23 Oktober 2008.

Profile Image for eve.
48 reviews72 followers
January 9, 2009
Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar! oleh Marina Silvia K.
Gramedia Pustaka Utama, 2008, viii + 266 halaman
Resensi oleh Eve Tedja

Saya pernah berpetualang ke Eropa. Saya juga pernah menggunakan fasilitas “tumpang sari” ala couchsurfing dan hospitalityclub yang diceritakan Marina di dalam buku ini. Bedanya saya dengan Marina adalah Marina menuliskan seluruh pengalamannya itu ke dalam buku sementara saya cukup dengan sesekali bernostalgia sendiri bersama folder foto-foto di komputer ditemani sebotol bir dingin. Untuk menjawab judul bertanda seru sekaligus pertanyaan pertama yang terlintas di benak pembaca saat menelaah judul buku ini: keliling eropa 6 bulan hanya dengan 1.000 dolar adalah mungkin.

Pada awal buku, Marina dengan sangat rapi dan terstruktur memberikan penjelasan tentang bagaimana caranya berkeliling dengan “modal minimal, hasil maksimal”. Saya rasa tidak ada buku guide yang dapat dengan lebih jelas menjabarkan betapa pentingnya perencanaan dalam beransel ria di Eropa (perlu disebutkan berapa nilai satu euro sekarang?) sekaligus betapa besar keuntungan yang didapat bila menjadi independent traveler. Persahabatan baru, pengalaman berharga dan kebanggaan setelah berhasil ‘menundukkan’ Eropa hanya beberapa diantaranya.

Seperempat buku kemudian, barulah Marina menceritakan petualangannya mengunjungi tiga belas negara dalam waktu lima bulan. Foto-foto indah karya Marina dengan subyek pemandangan, orang-orang yang ditemuinya serta aktivitas yang dilakukannya makin memperkaya narasi perjalanannya. Seandainya saja buku ini bisa dibuat berwarna!

Sepanjang perjalanan, Marina banyak bertemu dan berdiskusi dengan berbagai karakter orang di Eropa. Dari pengalaman saya, orang-orang di Eropa memang cenderung kritis, vokal dan gemar berdiskusi sehingga diskusi-diskusi Marina dengan orang-orang yang ditemuinya cukup “berat” untuk standar awam. Sebut saja satu diskusinya dengan Dennis dan Axel, dua pria Jerman yang ditemuinya di sebuah café di Munich . Mereka membahas agama, kecenderungan agnostik hingga fenomenologi. Sepotong cerita yang mengejutkan bila saya menilai dari kemasan buku ini yang didesain begitu ‘pop’. Marina sepertinya memang menaruh ketertarikan khusus terhadap aspek religi dan ekonomi di negara-negara yang disinggahinya sehingga banyak diskusinya berkisar pada kedua tema tersebut.

Saya sepaham dengan Marina bahwa pertemuan dan diskusi bersama penduduk lokal saat kita mengunjungi suatu negara adalah hal yang harus dilakukan. Mereka memberikan perspektif baru tentang budaya dan negara mereka, yang tidak mungkin kita dapatkan bila hanya sekedar numpang lewat dalam perjalanan karya biro travel Indonesia . Saya juga iri dengan Marina dalam hal ini karena dia bertemu dengan begitu banyak jenis orang dari beragam latar belakang budaya serta profesi seperti pendeta, imigran, mahasiswa/i, sejarawan hingga Dalai Lama. Disitulah kekayaan independent traveler terletak. Bukan dari berapa negara yang ia berhasil kunjungi, bukan dari foto-foto di depan monumen atau berbaju ala noni Belanda di studio, bukan dari oleh-oleh yang dibawa pulang.

Buku ini sesuai untuk mereka yang ingin mengalami pencerahan, kebebasan dan keindahan Eropa. Beransel ria adalah satu cara yang efisien untuk berpetualang dan dengan bantuan Marina , hal itu jadi lebih mudah lagi. Tentu saja dengan catatan, bahwa sebelum berangkat, kita harus mewanti-wanti para Om dan Tante bahwa ada kemungkinan besar titipan cokelat mereka tidak dapat dibawakan.
Profile Image for Jan.
21 reviews6 followers
April 3, 2009
Keputusan untuk akhirnya membeli buku ini diawali dilema besar. Di tanganku saat itu sudah ada dua buah buku dengan genre yang tadinya kupikir sangat berbeda. Sebagai pecinta karya Jostein Gaarder yang masih pemula karena baru membaca salah satu karyanya, The Solitaire Mystery, rasa penasaranku untuk mencicipi ramuan fantasi, spiritualitas, dan filsafat di karyanya yang lain sedang menggebu-gebu. Cecilia dan Malaikat Ariel sudah di tangan dan hampir kuserahkan ke kasir ketika mataku menangkap sebuah judul yang cukup eye catching. Buku bersampul dasar putih dengan gambar backpack dan bendera-bendera negara Eropa ini pun kuambil. Judulnya cukup panjang, “ Back “Europe” Pack; Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar! “

Buku tersebut sekonyong-konyong membangkitkan mimpi lama yang sedang lesu dan malas kubahas, keliling dunia. Karena aku berada di toko kecil, jadi mustahil mengharapkan sampel buku yang terbuka. Aku pun cukup membaca tulisan-tulisan yang ada di sampul depan dan belakang. Selain tulisan “1.000 dolar untuk 45 kota, 13 negara, 10.600 km, dan pertemanan tak ternilai “ yang terdapat di sampul belakang, ternyata ada komentar dari seorang penulis Indonesia favoritku, Dewi Lestari, di bagian sampul depan. Dengan segala hal ‘menjual’ sekaligus memikatku yang ditawarkan buku itu, mau tidak mau membuatku berada pada tekanan dilematis. Setelah perang sengit di benak, akhirnya kuambil buku berjudul super panjang itu sembari mengembalikan karya Jostein Gaarder ke raknya.

Lembar-lembar awal berisi tentang sejarah pencetakan buku yang bermula dari jurnal perjalanan penulis di blog. Hal unik pertama yang kutemui di buku yang tadinya kupikir berisi tips-tips aneh dan nyeleneh ini adalah ide besar perjalanan nekat keliling Eropa dengan modal sangat minim dan ditempuh sendiri (apalagi sang Penulis adalah wanita). Ide apakah gerangan? Yaitu dari segala hal yang penulis alami di Eropa, semua pengalaman travelling, sight seeing, culinary, hingga perjalanan spiritual yang kaya pelajaran hidup, diperoleh penulis bukan melalui jalur eksekutif apalagi illegal, melainkan jalur pertemanan.

Bab pertama berisi tentang uraian alasan mengapa kita ‘harus’ melakukan travelling. Ada tiga belas alasan yang diuraikan dengan segar dan menarik didasarkan pada pengalaman pribadi penulis. Dimulai dari alasan paling mendasar ‘menyenangkan’, hingga alasan mendalam dan cenderung teoritis tapi sangat relevan ‘teori fitrah’.

Dilanjutkan bab berikutnya yang berisi tentang 13 langkah yang perlu dilakukan sebelum berangkat. Boleh dikatakan, bab kedualah yang menjadi modal pemasaran utama buku ini. Selain menjadi bab yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika membaca judul buku, bab ini sekaligus menjadi semacam panduan praktis bagi siapapun yang hendak mengaplikasikan saran-saran di dalamnya. Dilengkapi dengan space-space kosong untuk diisi pembaca saat merencanakan perjalanan mereka seperti uang yang harus dikeluarkan di tempat ini, untuk keperluan ini, karena alasan ini, makin menjadikannya menarik karena memudahkan pembaca tanpa harus membuat dari nol rencana perjalanan mereka.

Sampai titik ini, apresiasiku terhadap buku ini tak lebih atas ide besar jalur pertemanan yang diusung. Apalagi dijelaskan dalam bab dua tentang jalur pertemanan macam apa yang dimaksud penulis, bagaimana untuk bisa masuk ke dalam jalur tersebut, serta tips-tips agar bisa enjoy selama berada di jalur tersebut. Dan tentunya, seperti yang ditulis Mbak Dewi Lestari di sampul depan buku, bahwa buku ini merupakan hasil pengamatan jeli penulis setelah mengalami perjalanannya yang akan mampu menginspirasi siapa pun untuk berani merambah dunia, dan mempercayai keindahan hati manusia.

Ketika hendak break membaca karena merasa telah mendapat intisari buku, lagi-lagi aku dibuat penasaran dengan sub judul ketiga “13 Negara”. Selain rasa penasaran kenapa penulis cinta sekali angka tiga belas, sebenarnya aku lebih ingin tahu apakah Inggris menjadi salah satu Negara yang penulis kunjungi (karena nama tersebut telah lama mengendap dalam dimensi mimpiku). Akhirnya kubuka halaman selanjutnya.

Dimulai dengan pengantar bab tiga, penulis menggambarkan bahwa selain modal yang tersedia di bab pertama dan kedua, ada satu lagi hal yang sangat diperlukan dalam rangka melakukan perjalanan cross culture apalagi melalui jalur pertemanan. Bukan hanya cuaca, tempat, dan bahasa, tapi juga tentang orang-orang yang akan kita temui yang menjadi partner di jalur pertemanan tadi. Tantangan terbesar yang jika dilalui akan menghasilkan keajaiban-keajaiban perjalanan tak ternilai adalah seberapa terbukanya kita. Seberapa besar kesediaan untuk saling bertukar, berdialog, dn memahami, yang seringkali dituntut dari kita dalam isu-isu terringan hingga terberat seperti agama (hal 77).

Pada awalnya tulisan tersebut tak begitu membekas di benak, hingga akhirnya aku berlalu dan membuka halaman selanjutnya. Satu halaman penuh foto-foto dan beberapa spot untuk tulisan-tulisan yang melaporkan keadaan di negara yang sedang dibahas. Negara pertama adalah Jerman dengan kota pertama Frankfurt yang memiliki bandara internasional terbesar di Eropa. Di sanalah Marina Silvia Kusumawardhani memulai perjalanannya dengan seorang host bernama Okan, yang merupakan kenalannya ketika Okan menjadi exchange student di kampusnya, ITB. Penulis berhasil mendapatkan akomodasi pertama yang sangat memuaskan berupa tumpangan di flat sang Host yang tentunya tak menarik biaya sedikitpun. Di sinilah mulai jelas, kenapa dengan uang 1.000 dolar, penulis dapat menjelajahi 45 kota di 13 negara. Jalur pertemanan jawabannya.

Kemudian lembar-lembar berikutnya pun tak jauh berbeda. Satu lembar penuh foto-foto, nama negara, tanggal kunjungan, nama kota, host, dan laporan keuangan. Yang terakhir adalah yang paling tidak masuk akal. Bayangkan saja, laporan keuangan ketika berada di St.Petersburg, Rusia adalah 1 Euro, bahkan laporan keuangan di Roma pun hanya 1,5 Euro, sama seperti kota-kota lain yang rata-rata tak lebih dari 5 Euro. Kalaupun ada yang cukup besar, pastilah untuk biaya transportasi antar-negara itu pun berkisar 5-10 Euro dan sekonyong-konyong tergantikan dengn cara-cara yang tak terduga. Seperti bekerja part-time ‘illegal’ karena sang Host di Stocholm ternyata seorang atasan sebuah rumah makan atau menjadi volounteer membersihkan area konser di Trondelag yang menggantikan uang tiket. Bahkan beberapa kali penulis mendapat uang cuma-cuma dari orang tak dikenal hanya karena menanyakan tempat penukaran uang. Woww!

Di antara lembaran-lembaran laporan perjalanan dengan konsep seperti di atas, ada berlembar-lembar jurnal perjalanan yang ditulis penulis atas dasar pengalaman pribadi di tiap kota atau (kebanyakan) hasil perbincangan dengan orang-orang yang ditemuinya di sana. Jurnal perjalanan inilah yang menarik perhatianku begitu mendalam. Selain berisi pengalaman-pengalaman unik, perbincangan yang terjadi antara penulis dan orang-orang di berbagai belahan Eropa pun terbilang dalam dan jarang (hampir tidak mungkin) diperbincangkan pemuda-pemuda di Indonesia. Tentang kehidupan, pengalaman spiritual, agama dan kepercayaan, hingga masalah ekonomi, sosial, dan politik.

Perbincangan serius, santai, hingga penuh canda yang terjadi tak hanya kaya akan makna, tapi juga membuka cakrawala penulis tentang satu tema besar kehidupan, perbedaan. Betapa sebuah perbedaan, entah perbedaan keyakinan ataupun perbedaan sudut pandang, dapat memberikan arti yang begitu mendalam tentang apa yang di’perbedakan’. Sebagai seorang muslimah berjilbab, penulis justru sering mendapati host yang tak hanya berbeda keyakinan, tapi bahkan ‘tak berkeyakinan’ alias atheis. Tapi itu tak membuat penulis menutup diri dan hanya menjadikan teman baru yang telah dengan baik hati menampung bahkan mentraktirnya selama di Eropa hanyalah alat melancarkan perjalanan efisien. Justru dari perbedaan yang sangat mencolok seperti penampilan, penulis bisa berbagi pengalaman dan pikiran tentang konsep kehidupan, konsep Tuhan, keyakinan, kebahagiaan, keikhlasan, cinta. Ya, aku sama sekali tidak mengada-ada atau melebih-lebihkan. Inilah yang membuatku berani member bintang lima untuk buku berjudul panjang dan cenderung komersil ini di goodreads.com. Sampai di sini, aku baru menyadari arti kata ‘seberapa terbuka kita dalam bertukar pikiran’ di pembuka bab.

Akhirnya, sebagaimana sebuah review buku, harus ada keseimbangan di dalamnya. Setelah aku menguraikan ‘sedikit’ kelebihan buku yang bagiku tak terduga berada di balik judul buku itu sendiri, sekarang tiba saatnya kita memasuki bagian kekurangan.

Secara kebahasaan, aku sangat memahami jika penulis tak terlalu formal alias lebih menyegarkan tiap kata yang digunakan. Karena pada dasarnya buku ini memang diperuntukkan untuk menyegarkan bukan menyuramkan. Satu-satunya kekurangan buku ini adalah penataan perpaduan antara foto dan tulisan yang seringkali mengganggu mata saat membaca. Foto yang diperbesar atau dijadikan dasar halaman, terkadang membuat kabur tulisan yang ada di atasnya. Dan mungkin, seandainya buku ini dibuat full colour akan lebih menarik karena visualisasi kota-kota dan aktivitas yang terjadi semakin hidup. (Meskipun pastinya berdampak pada harga yang akan melambung tinggi mengingat porsi fotonya lebih dari setengah tebal buku).

Well, di luar segala kekurangannya, aku tetap berpegang teguh pada prinsipku ketika menikmati sebuah karya. Bahwa seburuk apa komentar orang tentang buku ini karena kekurangan yang mencolok atau kesalahan-kesalahan teknis, bahkan ketidakcocokkan selera, porsi penilaianku biasanya lebih dipengaruhi bagaimana buku tersebut bisa menimbulkan kesan, efek, atau mungkin candu yang tidak ditimbulkan oleh buku lain. Dalam hal ini, buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini telah memberi warna dan sensasi tersendiri saat ku membacanya. Sangat direkomendasikan pada mereka yang haus akan warna lain kehidupan di samping tentunya, para back packer atau yang bercita-cita menjadi back packer. Akhir kata, difference is beauty.


P.S. : Ternyata Inggris tak masuk daftar 13 Negara yang dikunjungi penulis T_T


http://diantaranya.blogspot.com/2009/...
3 reviews1 follower
September 8, 2008
Satu lagi buku yang aku baca karena seorang teman yang bilang buku ini 'lebih cocok buat elo'. Tapi asli buku ini memang bagus banget, bukan cuma menginspirasi untuk ikutan jadi backpacker atau karena jurnal-jurnal dan foto-foto perjalanan yang keren banget, tapi juga mengajarkan kepada kita bahwa gak ada yang gak mungkin selama kita yakin dan percaya kalau kita bisa. Mengutip komentarnya Dewi Lestari untuk buku ini : "Sebuah pengamatan yang jeli, menggelitik, sekaligus personal. Tidak hanya informatif dan menghibur, buku ini juga mampu menginspirasi kita untuk berani merambah dunia, dan percaya pada keindahan hati manusia."
Profile Image for Ra.
29 reviews12 followers
Want to read
September 18, 2012
Apakah buku ini masih diterbit ulang dan dijual?? Beberapa waktu lalu sempat menelusuri Gramedia tapi nggak nemu. Aku mau nanya, dari judul 'keliling Eropa 6 bulan'

Kalau aku nggak salah, Maksimum visa Schengen untuk 90 hari, kecuali ada sponsor. 6 bulan berarti lebih dari 90 hari, belum lagi asuransi kesehatan bakalan tambah mahal kalau semakin lama.. jadi, apa pengarang ke Eropanya punya sponsor atau visa Schengen atau gimana, mohon pencerahan. Trimakasih.
Profile Image for Fadilah.
300 reviews69 followers
September 12, 2008
Kalo baca buku ini bakal bikin bercita-cita travelling keliling eropa. Apalagi ada kata-kata cuma 1000 dolar (emang, sih, total sebenernya 1800 dolar), ngebikin ga lebih tinggi dari awan. Mulai dari persiapan sampai jurnalnya selama di eropa ada di sini. Foto-fotonya juga banyak. Gile, nih cewek ampe ketemu Dalai Lama!!
Profile Image for Dian Fitria.
69 reviews28 followers
August 25, 2009
buat bukunya aku kasih dua bintang...
buat penulisnya takkasih 5 bintang..
aku suka cara berpikir marina s.k, she's absolutely thinking..
smart girl.. really smart girl...
aku malah lebih suka kata pengantarnya...( yang 13 alasan travelling dan semacamnya itu)
Profile Image for Inggita.
Author 1 book22 followers
November 17, 2021
Another victim to my "tsundoku" self (buying book and let it sit unread), I've only begun to read this book years after it's published and of course its value plummeted because as a guidebook, the information it touted no longer holds and after the pandemic, traveling will not be the same. But this guide is about travelling on the cheap, relying on a network of hosts who let the travellers stay for free and sometime sacrifice their time to show the guests around their hometowns, so it will always have this value despite its outdated information. What i love about this book is that it's full with intercultural conversations and through the personalities of the hosts do we learn about Europe, 'cultural listening', even excerpts from a peace conference that adds value to the inter-cultural understanding side of the book. I also find value in the arguments she had with the hosts because that's just how we end up with deeper understanding of intercultural relations and its complexities. I think she asked great questions, and feel lucky that the writer ran into all these interesting individuals who volunteered to be her hosts, and getting to know their (strong and sometimes insightful) opinions. And, wow, she met the Dalai Lama! Overall, I wish for young people to have the courage to pack up and travel, see the world, before they enter the rat race, and this book is making it easier to do by helping them plan the trip.
19 reviews
June 21, 2023
Buku ini sangat bagus untuk orang yang mempunyai jiwa traveling tinggi, sangat menginspirasi. Dan dari buku ini saya juga baru mengetahui bahwa ada sebuah website yaitu HospitalityClub.com yang menjadi wadah untuk traveller yang sedang mengelilingi dunia. Setiap anggota dari website ini akan menjadi host untuk anggota lain yang sedang berkunjung ke negaranya. Ini juga yang membuat si penulis bisa menghemat biaya selama traveling karena tidak perlu membayar sewa penginapan, makan, bahkan transportasi sudah disediakan oleh host mereka. Ini adalah rahasia mengapa penulis bisa keliling Eropa selama 6 bulan namun hanya menghabiskan 1000 dolar, bahkan masih tersisa 200 dolar saat pulang ke Indonesia.
Menarik, karena buku disajikan dengan foto-foto tempat yang dikunjungi selama di Eropa, sehingga kesannya tidak membosankan, walaupun hanya dalam potret hitam putih.
Bagus, namun saya berharap lebih untuk tips-tips traveling hemat lainnya. Sebagian besar buku ini malah menceritakan profile dan culture tiap negara yang dikunjungi yang saya rasa bisa mendapatkan informasi yang sama dengan cara Googling.
Namun buku ini menginspirasi untuk lebih bekerja keras dan perbanyak tabungan agar bisa keliling dunia.
Profile Image for Sirjon.
48 reviews1 follower
December 19, 2024
Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar" adalah buku panduan wisata yang memberikan tips dan strategi untuk menjelajahi Eropa selama enam bulan dengan anggaran yang terbatas. Buku ini ditujukan bagi para traveler yang ingin merasakan pengalaman backpacking di Eropa tanpa harus mengeluarkan biaya yang mahal.

Berikut adalah beberapa poin penting dari buku ini:

- Menentukan Budget
- Memilih Destinasi
- Mencari Tiket Penerbangan Murah
- Mencari Akomodasi Murah
- Memasak Sendiri
- Menggunakan Transportasi Umum
- Menjelajahi Destinasi Secara Gratis

Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar" adalah buku yang praktis dan informatif untuk para traveler yang ingin menjelajahi Eropa dengan anggaran yang terbatas. Buku ini memberikan panduan yang komprehensif untuk merencanakan perjalanan yang hemat dan menyenangkan.
Profile Image for Juwita Sari.
37 reviews3 followers
July 31, 2017
Seperti biasa, klo baca buku pengalaman traveling orang tuh selalu bikin gregetan: Pengen kesana juga!😂 Penulis ini keren loh bisa jalan2 keliling eropa cuma dg US$1.000 di tahun 2006 selama 6 bulanan 😱. Yaa klo skrg mgkin bs 2x lipatnya. Beberapa penulis buku traveling hanya menceritakan ttg tempat2 yg dia kunjungi. Nah, buku ini beda! Dikemas dalam beberapa jurnal di tiap negara yg berbeda dan isinya ngena bgt! Dari mulai kemanusiaan, ideologis, agama, toleransi, persahabatan, dll. Tapi sayang, keindahan arsitektur Eropa hanya disajikan dalam bentuk foto2 hitam putih (tapi klo full colour susah jg yaa😂).
12 reviews1 follower
March 25, 2024
Marina memberikan kita motivasi yang ampuh buat siapa saja yang ingin melakukan perjalanan ke eropa namun masih ragu ini itu. Dia hanya bilang “Apapun dapat terjadi di depan rumahmu sendiri!" Tidak usah di eropa, tidak usah di pusat kota yang berjarak 1 kilo darirumah... di depan rumah sendiri!..

Di setiap catatan perjalanan, Marina juga menjelaskan mengenai pengeluaran selama di eropa (yang kata beliau benua teraman di dunia), "Eropa itu jauh lebih aman dari indonesia, jumlah kasus kriminal dapat di hitung jari dalam satu tahun, jumlah kasus kematian kriminal di tiap negara pun di bawah lima setiap tahun nya"


10 reviews
November 24, 2025
Buku ini sangat bagus dan cara berpikir penulis itu sangat saya kagumi. Bagaimana dia menghadapi berbagai macam perbedaan budaya maupun agama. Bisa mendengar orang lain dan dapat menjelaskan pilihan dia sendiri. Dengan penulis jalan-jalan saya sampai lupa fokus judul buku ini yang menyebuatkan pengeluaran untuk jalan-jalan. Malah saya sangat menikmati kisah perjalanannya, sangat banyak pelajaran yang bisa saya ambil. Sangat disarankan untuk membaca buku ini. Membuka pikiran saya untuk menjadi yang lebih baik lagi dalam menanggapi suatu hal.
Profile Image for Romi Zandra.
26 reviews
July 23, 2024
Inspirasi buku ini berdasarkan pengalaman dari si penulis sendiri dalam perjalanannya. Tips dan trik serta catatan penting dalam perjalanan di jelaskan pada buku ini. Dari cara mempersiapkan rencana, tujuan, keuangan dan negosiasi untuk tempat menginap di negara yang akan di kunjungi. Tetapi ada beberapa hal yang tidak relevan bagi setiap orang dengan tips yang di berikan. Secara keseluruhan isi buku ini cukup bagus menurut saya.
23 reviews
August 22, 2024
Dari cerita penulis, kita bisa tahu bahwa masyarakat Uni Eropa sangat ramah dan terbuka, baik kepada turis atau sesama warga. Sangat sedikit ditemui diskriminasi ras dan agama. Kebebasan berpendapat dan toleransi sudah mendarah daging. Mereka berprinsip : “wajar berbeda pendapat, tapi kalau ada yang menyerangmu karena pendapatmu aku akan membelamu”. Kelemahan buku ini adalah gambarnya yang terlalu banyak tapi dipaksa masuk menjadi gambar kecil-kecil dan dicetak monokrom.
Profile Image for Tezar Yulianto.
392 reviews38 followers
February 3, 2018
"God is dead." -Nietszche
"Nietszche's dead." -God

Sebuah perjalanan panjang. Mengelilingi benua biru. Untuk mendapatkan sebuah perenungan yang kaya. Meski lebih banyak berisi "west-thinking."

Salut buat Marina yang berhasil mengapresiatifkan sebuah perjalanan dalqm wujud tulisan yang kaya meski dalam jumlah tulisan yang minim.
Profile Image for Fendy F Akbar.
6 reviews
July 28, 2020
The book contains full of tips and tricks. This is my leading book inspiration. I practised some of the tips.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
January 22, 2009
Judul buku emang suka menipu. Dulu aku sempat beli buku mengenai tips-tips kuliah di luar negeri, namun ternyata isinya sangat jauh dengan yang diharapkan. Begitupula dengan buku ini. 6 Bulan, 1000 dolar? Apa iya? *maklum judul kerap menipu.

Dan benar saja, ternyata $1000 dolar itu hanya untuk biaya ’hidup’ disana, sedangkan biaya mengurus paspor, visa, dan tiket perjalanan, terpisah dari biaya 1000 dolar ini. Namun, untung saja hal ini dari halaman-halaman awal sudah disampaikan, karena jika hal ini disampaikan di bagian belakang, maka pembaca akan kecewa dengan kenyataan ini.

Buku ini mengisahkan kisah perjalanan Marina Silvia, seorang cewek lulusan ITB akan perjalanannya mengarungi eropa selama 6 bulan. Waaaw, hebat banget nih orang. Aku yang dari kecil ngebet pengen nginjakin kaki di luar negeri (entah dimana aja, di Irakpun aku mau! Sueeer!) apalagi jepang! Bener-bener iri dengan keberhasilannya menaklukkan eropa, seorang diri! Catat: cewek berjilbab sendirian mengarungi eropa! Ck.ck.ck.ck.

Ternyata hal ini bisa dilakukan dengan jalur pertemanan, *yah semacam di MP inilah, dimana Mpers banyak yang bertebaran negeri seberang.

Marina sendiri, banyak mengenal para host -orang yang bersedia menampung para backpackers seperti Marina, dari sebuah situs –yang menurutnya harta karun host yang baek-baek, yakni Hospitalclub.

Selain itu juga di buku ini diceritakan secara detail bagaimana persiapannya mengarungi Eropa. Dari mengumpulkan uang, membuat paspor, visa, membeli tiket perjalanan, menghubungi host yang ingin dimintai tumpangannya :D, sampe urusan bawaan perjalanan. Rasanya rasa penasaran dan rasa tanya aku selama ini mengenai bagaimana caranya untuk melakukan perjalanan keluar negeri hampir semuanya terjawab di buku ini.

Marina juga memberikan kita motivasi yang ampuh buat siapa saja yang ingin melakukan perjalanan ke eropa namun masih ragu ini itu. Tipsnya ternyata simple sekali. Dia hanya bilang “Apapun dapat terjadi di depan rumahmu sendiri!“ (Hal.73), jadi jika begitu kenyataannya, mengapa sekalian kita tidak pergi jauh, toh resikonya sama saja, bahkan jika kita berani mengambil resiko itu, pengalaman indah yang tak bakal terlupakan seumur hidup sudah menjadi sebuah jaminan!

Untuk buku seharga 50 ribu, aku pikir sudah sangat..sangat..sangat pantas. Karena buku ini juga dilengkapi foto-foto yang buanyaak banget (setiap negara atau kota ada fotonya), walau tidak ditampilkan dengan full color, tapi sudah lumayan banget.

Marina juga sepertinya pawai untuk menulis, jadi ini bukan seperti catatan perjalanan biasa, karena ia juga menulis hal-hal yang jarang ditulis oleh seorang backpackers, *lebih jelasnya beli buku ini dan baca sendiri, agar kalian tahu bahwa ini buku catatan perjalanan yang betul-betul berbeda dan komplit! insyaAllah.

Di setiap catatan perjalanan, Marina juga menjelaskan mengenai pengeluaran selama di eropa (yang kata beliau benua teraman di dunia), di eropa jika ada kasus kriminal (paling banter 5 kasus pertahun), maka akan langsung jadi headline, beda dengan koran-koran di Indonesia, yang biasanya ditempatkan dibagian belakang (saking banyak dan seringnya kasus kriminal terjadi)....

Pokoknya, komplit deeeh...
Buku ini, sejauh ini aku bisa katakan sebagai buku nonfiksi terbaik yang pernah aku baca (hmm, jangan protes, hal ini mungkin karena aku sudah lama mengidamkan buku seperti ini ada! Maklum cita-cita untuk keluar negeri masih menggebu-gebu nih) *untuk fiksi : trilogi laskar pelangi.
Profile Image for Nunik Kartikarini.
352 reviews3 followers
April 15, 2014
Kumpulan tulisan karya Marina Silvia ini berisi kombinasi antara perencanaan perjalanan (trip planner) dan cerita petualangan penulis di Eropa, terutama tentang manusia-manusianya. Suatu pendekatan yang sedikit berbeda dimana buku-buku travelling saat ini kebanyakan berfokus pada bagaimana dan apa yang harus dikunjungi. Sedikit sekali penulis yang mengulas manusia dan penduduk lokal yang mereka temui.

Ada 3 bagian utama dalam Keliling Eropa, antara lain: Mengapa kita harus traveeling, Langkah-langkah teknis yang harus dipersiapkan sebelum dan sepanjang perjalanan, dan Petualangan Marina di Eropa. Bagian kedua inilah yang menjadi pembeda antara buku Marina dengan buku-buku bertema perjalanan lain.

Langkah teknis yang Marina sarankan untuk mencapai Eropa sangat lengkap dan mendetail, mulai dari membuat rencana perjalanan, izin dan surat-surat yang harus dilengkapi, akomodasi dan dimana saja kita bisa memperoleh surat undangan (bisa melalui HospitalityClub.org, couchsurfing.com, freeloaders.com, dan stay4free.com), komunikasi, transportasi, sampai keamanan. Saking lengkapnya, saya sampai berpikir kalau buku ini wajib dimiliki semua travel agent yang menyediakan rute ke Eropa.

Cerita petualangan Marina di Eropa mayoritas berisi tentang dialog dan kesan hubungan antar manusia. Jarang yang berkisah tentang tempat yang dikunjunginya. Lebih spesifik lagi : hal-hal yang dibicarakan orang-orang yang ditemuinya biasanya tentang isu-isu sosial dan politik. Entah karena penulis lebih tertarik pada kedua isu tersebut atau warga Uni Eropa sana memang sangat sadar politik.

Dari cerita penulis, kita bisa tahu bahwa masyarakat Uni Eropa sangat ramah dan terbuka, baik kepada turis atau sesama warga. Sangat sedikit ditemui diskriminasi ras dan agama. Kebebasan berpendapat dan toleransi sudah mendarah daging. Mereka berprinsip : “wajar berbeda pendapat, tapi kalau ada yang menyerangmu karena pendapatmu aku akan membelamu”.

Warga Uni Eropa pun punya masalah tersendiri, seperti love-hate relationship dengan Amerika Serikat soal Timur Tengah, Imigrasi, dan kesenjangan taraf hidup (warga Skandinavia sangat kaya, tapi warga Mediterania sangat miskin). Namun mereka bersemangat mengatasinya dan membuat Eropa menjadi lebih baik.

Kelemahan buku ini adalah gambarnya yang terlalu banyak tapi dipaksa masuk menjadi gambar kecil-kecil dan dicetak monokrom. Akibatnya keindahan panorama dan lokasi sering terlewat mata. Akan lebih baik bila penerbit hanya memilih 20an foto terbaik yang dicetak di kertas glossy dan diselipkan di tengah buku. Seperti Garis Batas atau Ciao Italia.

“Keliling Eropa” berhasil naik cetak 4 kali sampai 2008 oleh Penerbit Grqmedia yang membuatnya layak diberi label National Best Seller. Walau tulisan di dalamnya tidak informatif dan menghibur seperti Naked Traveller, menurut saya buku ini layak dikoleksi. Terutama bagi kita yang berencana berpetualang keliling Eropa. Saya sendiri lebih suka meminjam di perpustakaan, hemat dan tidak memakan tempat di rumah :-)

Profile Image for Andi Purwanto.
21 reviews4 followers
August 23, 2008
Buku ini memberi wacana dan harapan untuk berpetualang bagi seorang "backpacker wannabe", seperti saya hehe.Buku ini sangat informatif dan inspiratif meskipun akhirnya saya kecewa karena pada kenyataannya keliling Eropa memang tidak "semurah" itu. Perlu diingat bahwa 1000 dollar di sini adalah biaya selama di Eropa, jadi belum termasuk biaya ke sana yang mencapai (menurut buku ini) minimal 800 dollar.

Lalu bagaimana perjalanan di benua paling mahal bisa "semurah" itu? Rahasianya adalah penulis benar-benar memanfaatkan social networking yang ada di internet untuk sesuatu yang profitable, dalam hal ini adalah hospitalityclub.org

Buku ini terdiri dari 3 Bab. Bab 1 berisi tentang alasan-alasan kenapa kita harus travelling, yang intinya adalah MENYENANGKAN.

Bab kedua berisi tips-tips praktis dan informatif tentang backpacking dan segala persiapannya.

Bab ketiga berisi cerita-cerita penulis selama di Eropa yang diambil langsung dari blog-nya. Sayang, cerita-cerita ini kebanykan justru diisi dengan percakapan-percakapan "berat" tentang agama, politik, ekonomi, dan budaya yang seolah-olah ingin menunjukkan kalo penulis mempunyai jawaban cerdas untuk setiap pertanyaan.

Bab 3 juga berisi banyak foto yang (sekali lagi) sayangnya selain tidak berwarna tapi juga terlalu banyak foto arsitektur-nya. Ada baiknya kalo ada foto Eurail itu kayak apa biar kita gak salah jurusan kalo ke sana hehe.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Muhammad Aziz.
15 reviews1 follower
November 26, 2013
Marina Silvia is absolutely wonderful !
wanita, muslim, berjilbab, sendirian mengelilingi Eropa, tepatnya 14 negara yang dicakup oleh visa Schengen. 6 bulan !
sedikit tidak percaya ketika apa mungkin sih $1000 bisa untuk hidup 6 bulan di Eropa. Tapi Marina Silvia membuktikan bahwa itu mungkin.
Jalur pertemanan memang luar biasa.

Buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian yang pertama adalah tentang segala yang harus dipersiapkan untuk menuju Eropa. Bagian yang kedua berisi jurnal-jurnal perjalanan serta foto-foto Silvia Marina di Eropa.
Untuk bagian pertama, kamu akan sulit mendapatkan buku sejenis yang memberikan gambaran selengkap buku ini. Sedangkan untuk bagian kedua, well, topik pembicaraan favorit Marina Silvia agak berat ternyata, hehe. Di sisi lain, lewat jurnal perjalanannya, kita harus akui kalau dia sukses menyatu dengan masyarakat disana. Sayangnya di dalam jurnal tersebut Marina Silvia lebih banyak bercerita tentang apa yang dirasakannya terkait interaksinya dengan host selama di Eropa. Padahal saya lebih berharap jika dia menjelaskan pula tentang objek-objek di Eropa yang dia lihat, kehidupan disana seperti apa, dan yang terpenting penjelasan detail transportasi dan makanan dia selama disana. Sedikit disesalkan memang. Selain itu, mungkin ada baiknya Marina Silvia memerhatikan terkait tanggal jurnal. Terlalu banyak jurnal yang lompat-lompat tanggal dan tidak terurut. Mungkin ada baiknya juga jurnal Marina dibuat lebih bercerita.
Profile Image for Meinar.
48 reviews4 followers
June 5, 2016
This book is so wonderful !!!

Buku ini sudah lama ada di library kantor saya sejak pertengahan 2008 lalu. Tapi entah kenapa saya belum tertarik untuk membacanya. Sempat saya melirik sekilas ke dalam buku ini saat sedang dipinjam oleh teman di samping meja saya. Tapi, saya juga belum tertarik, karena saya pikir buku ini 'cuma' buku jurnal perjalanan biasa yang isinya tidak jauh beda dengan artikel perjalanan yang ada di koran atau majalah.

Saya baru mulai tertarik membaca buku ini 5 Januari kemarin, saat saya main ke library dan entah kenapa tiba-tiba saya meminjamnya, padahal saat itu saya baru mulai membaca The Time Traveler's Wife. Dan setelah saya membaca kata pengantar, sejak itu saya tidak bisa berhenti membacanya.

Di luar dugaan, buku ini membuat saya jatuh cinta. Alih-alih seperti jurnal biasa, buku ini ternyata memuat lebih daripada itu. Selain (memang) memuat tips & trick traveling ke Eropa, buku ini juga menyajikan cerita yang menurut saya sangat indah, lengkap dengan foto-foto yang memukau.

Membaca buku ini membuat pandangan saya semakin terbuka mengenai dunia luar. Ternyata perbedaan yang ada di dunia ini bisa begitu indahya bila kita bisa menjalaninya dengan komunikasi dan saling mengerti.

Sebuah cerita petualangan yang sangat berharga dan membuat saya ingin sekali melakukannya sendiri.
Profile Image for rifki.
6 reviews4 followers
August 4, 2010
satu lagi buku inspiratif mengenai traveler”backpacker” untuk orang-orang yang baru ingin mencoba ber-traveler”backpacker” ria seperti saya.

Buku ini berisi tentang pengalaman si pengarang “Marina Silvia K.” berkeliling eropa cuma dengan 1000 dollar ditangan untuk bertahan hidup disana.

Ada 2 topik utama yang dibahas didalam buku ini.
yang pertama adalah bagaimana persiapan-persiapan yang dia lakukan sebelum pergi ke eropa. disini dibahas tentang perencanaan apa saja yang dibutuhkan supaya bisa pergi ke eropa serta biaya nya dan juga cara mengumpulkan biaya tersebut, negara-negara mana saja yang akan dikunjungi, membangun “networking” terhadap relasi(kenalan, teman, dan juga sesama traveler di eropa) supaya bisa dapet “homestay” gratis(bahasa jelek nya sih dapet tempat nginep gratisan). Disini dia tidak hanya menceritakan hal-hal tesebut saja, tapi juga mencoba membantu para pembaca untuk bisa merencanakan perjalanan nya sendiri dengan metode yang pengarang lalukan.

Bagian yang kedua adalah berisi jurnal pejalanan dia selama di eropa. termasuk foto-foto, profil “Host” tempat dia ber homestay di setiap negara, realisasi biaya yang dia keluarkan tiap negara, dan pengalaman-pengalaman menarik serta pelajaran-pelajaran yang dia dapat selama di eropa.
Profile Image for Azka.
68 reviews92 followers
November 5, 2018
(Review Mar 2009)

buku ini kayanya kalo dibaca dari judulnya aja ngemaparin gimana caranya biar kita bisa keliling eropa dengan berbekal duit hanya segitu.

tapi sebenernya kalo dibaca-baca lagi, inti dari buku ini menurutku bukan gimana bisa mendapatkan hasil maksimal dengan pengorbanan yang minimal. bukan kaya buku2 marketing gitu.

tapi adalah bagaimana kita bisa ngedapetin banyak temen, pengalaman, dan berbagai hal menarik lainnya dari perjalanan ke eropa tsb. tentang budaya2 orang eropa yang aneh sekaligus lucu dan friendly. dan berbekal itu semua kita bisa menghemat pengeluaran kita selama di eropa sana.

bab 1 memaparkan alasan2 kita harus traveling. bab 2 adalah tentang hal2 yang harus dilakuin dan disiapin sebelum keberangkatan menuju eropa sana. kaya ngurus visa, tiket, travel, barang2, info yang sebanyak-banyaknya tentang tempat tujuan, dan mencari kenalan2 sebanyak2nya disamping sebagai teman jalan2 juga sebagai tempat umpang makan dan nginep.

terus di bab 3 nya tentang jurnal pengalaman2 si penulis selama di eropa sana. wah, orang2 sana ternyata ga kaya bayanganku selama ini, yang kukira individualis.

yaaa intinya buku ini patut dibaca buat yang pengen merencanakan liburan atau traveling ke eropa
Profile Image for Sally.
204 reviews1 follower
October 6, 2008
Gue rada bingung sama buku ini, judulnya kan Back Europe pack keliling eropa 6 bulan hanya 1000 dollar, menitik beratkan pada 1000 dollarnya dan eropa jadi gue pikir isinya tentang tips2 back packer biar irit, dan tempat-tempat unik yang bisa dikunjungin dengan harga semurah-murahnya.

Ternyata tips2nya cuma ada di chapter pertama doang, selanjutnya isinya ttg debat filsafat, komunis, demokrasi, agama dan ekonomi.

Gue ga keberatan sih baca buku seperti itu cuma seharusnya judulnya ga kayak gitu kali. Apa yah? Back Europe Pack: Filosofi Eropa. Haiyah... garing.. hehhehee...

Positifnya sih lumayan buku ini ngasih tau alternatif travelling yang beda tapi bagi pekerja kayak gue, lebih prefer style travelling yang maunya leye-leye nyantai, ga perlu basa basi dan yang pasti mau wisata kuliner. Udah sampai di Eropa kok makannya cuma roti sih? Kalo ga cukup duit yah cari dulu sampai dapet. Ga sanggup ke eropa yah ke bangkok aja.

Untunglah yang pergi ke eropa lulusan ITB, mudah-mudahan bisa nunjukin kalo orang indonesia juga bisa pinter, bukan cuma bisa dikasih stereotype penduduk dari negara dunia ke 3
Profile Image for Helman Taofani.
Author 1 book2 followers
August 5, 2010
Struktur buku ini cukup membingungkan, dan kurang terpola dengan baik. Grafis dan layoutnya juga sangat tidak membantu, atau malah menambah unsur bingung tersebut. Mestinya bisa dikomposisi sedikit lebih enak.

Sebagai travelogue, konten "Jurnal" sedikit kurang menonjolkan aspek travelog, lebih ke dialog-dialog dengan host dan event setempat. Menurut pendapat saya, buku ini sebaiknya di-split menjadi dua. Sesuai judulnya, bagi yang berekspektasi untuk bisa backpacking ke Eropa, bagian awal akan sangat berguna dengan aneka tips dan "to dos" yang membantu planning travelling.

Sementara bagian kedua adalah catatan tentang pertemuan Marina dengan orang-orang di perjalanan, terutama host, dan bagaimana mereka bertukar pendapat tentang isu-isu yang banyak bertema benturan budaya/religi. Sebagai catatan, sebetulnya bagian ini cukup menarik dan banyak kisah yang "mencerahkan", namun memang sedikit membelok dari citarasa travelog.
Profile Image for Nurul Aeni.
15 reviews
August 10, 2025
Baca buku ini waktu zaman masih kuliah. Pinjem dari temen satu jurusan. Ini buku traveling pertama yang saya baca sebelum Naked Traveler. This is also the first book that inspires me to get out of my comfort zone. I'm not a traveler, but reading this book makes me wanna be one. The idea of having new friends from different background of cultures is absolutely fascinating. Terus numpang nginep and dikasih makan gratis sama Host. Selain ga ngeluarin biaya, dapet kenalan baru juga. Overall, lumayan banyak tips di buku ini yang boleh dicoba untuk orang-orang yang mau nekat traveling dengan budget pas-pasan tapi dengan waktu yang cukup lama. Seperti kata penulis, modalnya cuma berani dan nekat. Ada beberapa website juga yang bisa dijadikan referensi untuk traveling.
Profile Image for Arya Nasoetion.
Author 2 books2 followers
Read
June 6, 2008
Pertama, perlu ditekankan bahwa 1.000 dolar di sini artinya biaya SELAMA di Eropa. Nah, untuk ke Eropanya sisihkan uang untuk membeli tiket kira-kira 800-900 dolar.

Nah, kalau itu sudah paham, barulah masuk ke isi bukunya. Isinya kereeen! Well, saya belum benar-benar menghitung sih, tapi di bukunya ini, Marina, memang menjabarkan langkah demi langkah cara backpacking ke Eropa. Mantabh!

Satu lagi yang saya suka adalah cerita pengalamannya melakukan perjalan ke Eropa dengan 1000 dolar-nya itu. Ada beberapa cerita yang membawa inspirasi.

Buat yang mau ke Eropa, atau mencicipi sedikit watak dan perilaku European, silakan baca buku ini.
Profile Image for tnty.
124 reviews2 followers
May 4, 2009
Buku ini benar-benar bukan hanya buku perjalanan seorang backpacker. Malah, penulisnya nggak menekankan tempat-tempat yang dia kunjungi, tapi apa yang dia rasakan dan 'temukan'. Seperti banyak dialog tentang agama dan keyakinan orang-orang Eropa. Saya jadi menemukan banyak sudut pandang baru setelah membaca buku ini. Kerasa bangetlah perjuangan dan kehidupan seorang backpacker dalam buku ini.
Selain lay out yang ditata dengan komposisi yang apik, buku ini juga berisikan tips perjalanan dan alasan-alasan travelling menurut penulis yang isinya bagus sekali.
Yang kurang dari buku ini, menurutku adalah dari gaya bahasa penulis yang kaku, serasa baca buku terjemahan...
Profile Image for Rizky Akita.
29 reviews9 followers
September 16, 2011
My friend lent me this book and saying "You should read this book. It suits you." So i start reading it, and by the time i put this book down i found myself googling countries in Europe i want to visit.

Although the title is somewhat misleading, i really enjoy Marina's stories and her perspective on dealing with cultural gap. She also purveys the book with photos she's taken in her journey. My favorite part is "Ground Zero" where she introduces Al-Fatihah, one of Muslim pray, to a Catholic woman.

However, i think the book will be more interesting and enjoyable if she puts the article in order of time. But still, it's a fine book to read, Kudos for Marina :D

Displaying 1 - 30 of 80 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.