Bacaan yang cukup berat. Jika biasanya aku bisa melahap satu buku dalam rentang waktu 1-2 minggu sampai 1 bulan, buku ini kurang lebih memakan sekitar 5 bulan! A lot to process, a lot to be angry about, a lot to grief over, and a lot to reflect on.
Sedikit berbeda dengan novel-novel lain yang membahas tentang politisida di Indonesia pada tahun 1965, novel “Merajut Harkat” mengambil keberpihakan yang amat sangat jelas dengan menyuguhkan perspektif dan cerita-cerita dari Mawa dan beberapa teman lainnya selama di tahanan. Sebuah keberpihakan yang menggarisbawahi fakta bahwasanya korban politisida 1965 — yang salah tangkap, yang (bisa jadi secara keliru) terafiliasi dengan aliran/kelompok politik tertentu, dan (ini yang jarang dicamkan di novel-novel lain, bahkan biasanya di-kambinghitam-kan) yang merupakan anggota aktif aliran/kelompok politik tsb — semuanya adalah korban dari pemerintahan dan rezim yang zalim. Ya, semuanya, tanpa adanya hierarki tertentu yang melanggengkan adanya kategori the perfect victim. Kalau kata Toga, “Kita kan tahanan terhormat. Tidak sembarangan orang bisa jadi tahanan politik. Kita bukan maling, bukan koruptor, mengapa malu mengatakan itu.”
Sebuah novel yang sangat penting untuk dibaca. Terima kasih, Bu S, sudah mau meminjamkan buku ini!