Siapakah Putri Ong Tien? Dialah Putri Kaisar Hong Gie dari masa Dinasti Ming yang rela menempuh perjalanan panjang melintasi Laut China Selatan dan Laut Jawa demi menjadi istri Sunan Gunung Jati. Ulama besar yang pernah mengunjungi Negeri Tiongkok untuk menyebarkan ajaran Islam lewat tata cara ibadah shalat ini telah membuat sang putri kaisar jatuh cinta. Legenda bokor kuningan di perut sang putri yang menghilang berkat kesaktian sang ulama mampu membuka hati Putri Ong Tien untuk mengikuti ajaran Islam.
Untaian fakta dan fiksi dalam buku ini mengangkat dengan sangat indah suka duka sang putri sebagai putri kaisar, saat-saat perjumpaannya dengan Sunan Gunung Jati, serta perjuangannya meleburkan diri dengan kebudayaan di Cirebon.
Putri Ong Tien memang hanya salah satu putri Tiongkok yang pernah bermukim dan menikah di Tanah Jawa. Namun, yang membedakan dari putri-putri China lainnya, dia menorehkan sejarah sebagai perempuan asing yang berhasil masuk ke lingkaran keluarga Kesultanan Cirebon dan ikut dimakamkan di Kompleks Pemakaman Keramat Sunan Gunung Jati. Banyak barang kerajinan China peninggalannya yang menjadi warisan budaya bernilai tinggi.
Buku ini menarik untuk dibaca karena menyajikan faksi dengan cara yang ringan dan menyenangkan. Bacaan yang mampu mengajak siapa saja lebih memahami sekaligus menghargai warisan sejarah dan budaya bangsa.
Bahagiakan hatimu, Puteri. Temukan perasaan cintamu. Cinta membuat dirimu hidup sebagai seorang perempuan....” bisik Nona Mei Hua pelan.
Sebagai seorang putri kaisar, Putri Ong Tien menyerahkan nasibnya pada sang ayahanda. Dengan siapa ia akan menikah kelak merupakan keputusan sepenuhnya dari sang ayah. Ia tidak mengerti apa itu cinta, apa yang membuat Nona Mei Hua, selir ayahnya bersedia dihukum demi rasa cintanya.
Sosok Putri Ong Tien benar-benar mewakilli sosok perempuan China yang elegan dan cerdas. Ia juga merupakan kesayangan ayahnya. Dibandingkan dengan putra-putri yang lain, Putri Ong Tien terlihat lebih menonjol di bidang ilmu pelajaran dan kesenian. Ia paling senang jika mendapat kesempatan mendengarkan cerita tentang negeri seberang dari para pedagang atau penjelajah samudra yang menghadap kaisar.
Suatu saat, Putri Ong Tien medengarkan cerita mengenai seorang ulama bernama Syarif Hidayatullah . Betapa hebat ilmu yang dimilikinya. Kemampuanya mengobati orang banyak telah telah sampai ke telinga kaisar. Sang Putra langit ingin bertemu untuk mengetahui seberapa besar kemampuannya. Dibuatlah semacam tes guna menguji kemampua Syarif Hidayatullah
Kedatangan Syarif Hidayatullah ke istana ternyata mengakibatkan sebuah peristiwa yang menghebohkan. Peristiwa Putri Ong Tien hamil bokor kuningan! Putra Langit yang marah mengusir Syarif Hidayatullah yang dianggap sebagai penyebab semua malapetaka. Alih-alih mendapat anugrah, Syarif Hidayatullah dipaksa meninggalkan China, juga Putri Ong Tien yang merana merendam rindu. "Aku merindukannya, Nona Shu. Aku sangat merindukannya," kata Putri Ong Tien kepada pengasuhnya.
Walau harus menempuh banyak rintangan dan bahaya serta kondisinya, sang putri sudah berketa akan pergi ke Jawa. Tekatnya sudah bulat. Kelak ini membuahkan banyak hal. Badai laut yang menyebabkan kapal karam penuh muatan keramik dan harta berharga lainnya kelak akan merupakan harta yang tak tenilai. Salah seorang menterinya malah menjadi penguasa disebuah kadipaten.
Tekat sang putri untuk menjadi bagian dari Kesultanan Cirebon membuatnya diterima baik di lingkungan kerajaan. Ia tidak saja membawa suasana baru bagi lingkungan, namun juga bagi perkembangan kehidupan bermasyarakat disana. Wujud penerimaan pihak kerabat bisa dilihat dari adanya makam sang putri di Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati. Tidak semua istri Sunan Gunung Jati dimakamkan disana.
Kisah ini menurut pembuatnya Hj Winny Gunarti merupakan sebuah faksi, fakta dan fiksi. Kisah seorang putri Cina yang mengandung bokor kuningan sudah cukup dikenal dimasyarakat. Kegemaran membatik sang putri dengan gambar dan warna cerah juga dikenal sebagai batik Cirebonan. Sebuah kisah yang didasari fakta sejarah yang dibalut fantasi, sebuah faksi.
Sang tukang cerita berharap bisa mempersembahkan karya sejarah yang ringan dan menyenangkan untuk dibaca oleh siapa saja. Bahkan mereka yang mungkin tidak menyukai sejarah. Untuk saya, itu betul. Saya yang tak begitu menyukai sejarah, bisa menikmati buku ini.
Dari sisi fisik, buku ini menarik untuk dilihat. Mulai dari covernya yang menarik, ilustrasi di dalam yang indah. Saya seakan membuka buku lama. Benar-benar buku yang indah untuk diletakkan diantara koleksi buku yang lain.
Disekian banyak cerita serius, ada bagian yang membuat saya tertawa lepas. Ada cerita mengenai kejernihan Sungai Ciliwung. Sang putri dalam perjalannya mampir sebentar ke Sunda Kelapa dan menikmati pemandangan di sekitar sungai. Waduh...... seperti apa yah jika sungai itu benar-benar bersih. Pasti sangat indah dilihat seperti yang digambarkan dalam buku ini.
Namun ada hal kecil yang mengganggu kenikmatan saya membaca. Ada pemenggalan kata yang salah serta paragraf yang kehilangan beberapa kata. Jika pemenggalan bisa dimaklumi, namun jika kata yang hilang, jelas mengurangi kenikmatan membaca. Misalnya pada halaman 30, saat Ma Huan bercerita tentang kerjaaan Jawa. Ada kalimat yang tertulis, ” ..., setelah tiga hari menikah, pengantin perempuan akan d.... bunyikan berrbagai alat musik,....” apa maksud akan d ? Dan hal tersebut berulang di bagian belakang.
Sosok Hj Winny Gunarti lahir di Jakarta, 6 Mei 1967. Sarjana Komunikasi dari FISIP Universitas Indonesia, meraih diploma Special Needs Management dari Council of Allied Educators, dan kini tengah menyelesaikan Program Magister Desain di FSRD Universitas Trisakti. Dua karya yang bertema Islam adalah Anak Punya Masalah, Al-Qur`an Menjawab dan 40 Keajaiban Naik Haji: Kisah Nyata Para Tamu Allah Di Tanah Suci
Saya memang tidak suka pelajaran sejarah. Jadinya kalau dengar kata-kata sejarah jadi lemes duluan. Sayangnya buku ini terlanjur mengatakan kalau isinya adalah tentang sejarah. Jadi pikiran saya langsung mengatakan kalau saya bakalan membaca buku sejarah.
Terus kenapa saya ingin membaca buku ini? Yaah, jujur, awalnya saya kira buku ini adalah buku novel fiksi sejarah. Ternyata sedikit beda. Buku ini lebih banyak memuat unsur sejarahnya daripada fiksinya. Kalau menurut istilah penulis, buku ini adalah sebuah faksi, fakta sejarah yang dibalut fantasi. Fantasinya sengaja dimasukkan agar pembaca tidak bosan. Tapi untuk saya, tetap tidak mempan. Saya tetap bosan membacanya karena seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, saya terlanjur me-mindset kalau buku ini adalah buku sejarah.
Untungnya penampilan fisik buku ini banyak membantu. Covernya indah dan ilustrasi bagian dalamnya keren. Kalau saya mulai bosan, saya akan mengelus-ngelus covernya dan membolak-balik ilustrasi halaman-halamannya biar kembali semangat :D
Ceritanya sendiri tentang Putri Ong Tien, putri dari Kerajaan Tiongkok yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Nah, saya belum pernah membaca atau mendengar sekalipun tentang putri ini. Saya bahkan tidak terlalu banyak tahu tentang Sunan Gunung Jati. Jadi saya menelan bulat-bulat saja informasi yang ada di buku ini, tidak yakin yang mana yang fiksi dan yang mana yang fakta.
Tapi dari analisis sementara saya, halah analisis :D , saya rasa hampir semua informasi di buku ini adalah fakta kecuali bagian-bagian yang tampaknya sengaja didramatisir.
Saya baru tahu kalau Sunan Gunung Jati ternyata mempunyai darah Mesir, bahwa nama beliau adalah Syarif Hidayatullah, dan beliau pernah tinggal di Tiongkok dan menjadi tabib ternama. Karena ketenarannya sebagai tabib inilah, maka Kaisar yang berkuasa saat itu memanggil beliau ke istana. Disanalah beliau bertemu dengan Putri Ong Tien yang sengaja disuruhnya ayahandanya untuk berpura-pura hamil dengan mengikat bokor kuningan di perutnya. Hal itu dilakukan untuk menguji kesaktian sang tabib.
Tapi yang terjadi adalah bokor kuningan sang putri tiba-tiba menghilang dan sang putri jadi hamil betulan. Kaisar murka dan Syarif Hidayatullah pun diusir dari Tiongkok.
Namun, sang putri sudah terlanjur jatuh cinta dengan sang ulama. Belum lagi dengan keadaannya yang hamil tanpa suami. Hal ini membuat sang putri bertekad untuk menyusul sang ulama ke tanah Jawa. Maka perjalanan laut yang berbahaya pun ditempuh sang putri. Setelah mengalami banyak perpisahan dan pengorbanan, sang putri akhirnya berhasil sampai ke tanah Jawa dan bertemu dengan Sunan Gunung Jati. Mereka akhirnya menikah dan sang putri masuk dalam keluarga besar Kesultanan Cirebon. Lalu bagaimana dengan bokor kuningannya? Yah silahkan baca sendiri bukunya :D
At last, saya suka dengan pesan-pesan moral yang disampaikan oleh cerita ini. 3 dari 5 bintang deh. I liked it ^_^
Putri Ong Tien, salah satu putri kesayangan Kaisar Hong Gie dari masa Dinasti Ming yang perasaannya halus; tiba-tiba oleh Kaisar diajak melakukan tipu daya untuk membuktikan kesaktian Sunan Gunung Jati.
Putri Ong Tien, buku ini dikatakan noleh penulisnya adalah buku Faksi, Fakta - Fiksi. Tokoh di dalamnya memang fakta, kemungkinan detil kisahnya ada penyempurnaan dengan Fiksi. Dimulai dari tokoh Putri Ong Tien itu sendiri kemudian Syarif Hidayatullah yang sekarang dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati; salah satu dari 9 Ulama Penyebar Islam yang dikenal dengan sebutan Wali Songo, lalu Kaisar Hong Gie, Nona Shu sang pengasuh, Panglima Lie Guan Chang, Nakhoda Lie Guan Hien hingga Menteri Negara Pai Li Bang yang pada akhirnya memimpin Kadipaten Sriwijaya atas usulan Syarif Hidayatullah menggantikan Ario Damar; hingga sekarang dikenal dengan daerah Palembang.
Alur yang agak lambat dan detil di awal seperti umumnya buku sejarah membuat buku ini tidak begitu cocok untuk menjadi bacaan selingan. Di tengah buku alurnya mulai menemui klimaks dan lebih pasti kemudian ditutup dengan bab '5 tahun terakhir' yang membuat berpikir; inikah akhir dari sebuah kisah nyata? Perjuangan seluruh hidup seseorang pada akhirnya berujung pada kematian.
Ada 3 bagian aku menangis ketika membaca buku ini. Pertama ketika mengkisahkan tentang damainya pribadi Syarif Hidayatullah, kemudian 2 lainnya adalah ketikaaa rahasia ahaha maaf Entahlah... Mungkin sebab aku tumbuh besar dalam dongeng ini, bukan Cinderella atau Belle yang mengantar tidur gadis kecil desa sepertiku tapi dongeng Si Kancil, Abu Nawas, hingga Walisongo; yang membuatku merasa sangat haru karena aku merasa sudah lama mengenal tokoh ini dan akhirnya aku menemukan pov lain dari dunia 'Walisongo' yang sedari kecil aku pahami. Dan iya, seperti halnya sejarah kerajaan yang ada di Indonesia dari masa lalu, aku masih terpesona dengan pengaruhnya yang mendunia.
Terakhir tidak ada kritik dan saran atau sekedar komentar tentang yang seharusnya atau tidak seharusnya ada dariku untuk buku ini, karena sekali lagi aku berada dalam posisi yang tidak objektif.
Semoga ini termasuk review ya, bukan bualan abis baca buku semata ehehe sebab ini pertama kali bikin review yang agak serius Terimakasih sudah membaca tulisan saya Sampai jumpa kembali direview-review selanjutnya, InsyaAllah
Kisah tentang Putri Ong Tien yang merupakan putri kaisar pada masa dinasti ming. Pertemuan pertamanya dengan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah yang begitu di luar nalar orang awam membawanya kepada perjalanan jauh nan berbahaya untuk bertemu lagi dengan sang ulama. Di sini kita diceritakan betapa tinggi ilmu dan iman sang ulama besar. Dakwahnya begitu luas bahkan hingga ke negeri tiongkok. Pun kita disuguhkan sedikit gambaran betapa maju peradaban tiongkok saat itu. Buku ini merupakan faksi, jadi walaupun tentang sejarah, bahasanya tetap enak, nyaman dan seru dibaca.
Sejarah, sejujurnya terdengar membosankan dan terimakasih untuk illustrator, kalau saja cover buku tidak secantik itu mungkin saya akan meletakkannya kembali ke rak toko.
saya menyukai novel ini, saya merasa lebih mengenal putri lebih dekat dari sebelumnya, tetapi keintiman antara putri dan sang wali disajikan tidak terlalu baik. padahal narasi yang cukup intim cukup mengumpulkan kupu kupu di perut tetapi suasana yang di sajikan tidak terlalu mendukung sehingga bagian yang seharusnya mendebarkan hanya lewat begitu saja, flat
Novel tulisan Winny Gunarti ini tidak banyak berbeda dari cerita asmara antara Putri Ong Tien dan Sunan Gunung Jati yang telah umumnya diketahui. Padahal cerita mengenai Ong Tien sangatlah menarik. Jika saja penulis buku ini berani melakukan reinterpretasi fakta sejarah seputar kisah Ong Tien, niscaya novel ini akan lebih mengasyikkan. Sebut saja dengan memperdalam intrik politik dalam istana terkait hukuman yang dijatuhkan kepada selir kaisar, ataupun konflik batin istri-istri Sunan Gunung Jati ketika Ong Tien masuk dalam kehidupan mereka. Pendalaman ini pasti akan membuat novel ini tampil lebih menarik lagi.
Dan satu lagi mengenai fakta sejarah, terdapat ketidakcocokan antara yang dituliskan dengan cerita dari saudara2ku yang berdarah Cirebon. Hm...jadi bingung:)
buku yang lumayan seru, seandainya saya tidak merasa sedikit kejanggalan di dalam ceritanya. merasa adanya ketidakcocokan dengan sejarah aslinya (yang diceritakan oleh guru pelajaran sejarah di SMA saya).
buku yg menarik untuk dibaca, karena mengandung fakta-fakta menarik di dalamnya, dan jika menyukai sejarah, buku ini menambah wawasan kita mengenai jaman wali songo, walaupun yang diceritakan disini lebih banyak terkait dengan kerajaan Cina-nya. buku inipun mengandung unsur budaya, yang memotivasi saya untuk menyarankan orang-orang menjaga dan melestarikan budaya asli kita. sulit sekali untuk menjaga budaya asli jika kita sendiri mengabaikannya.
akhir-akhir ini sebenarnya aku tidak terlalu suka buku sejarah yg berbalut fiksi. kadang dialognya terlalu menye-menye, selain itu banyak detail yang sepertinya dipaksakan. yah buku ini agak berhasil menghindar dari 2 hal itu. aku suka bab terakhir saat Syarif Hidayatullah menasehati sang putri. agak menye-menye memang, tp karena isinya bagus jadi termaafkan.
bentuknya mirip novel tapi bukan novel. kebanyakan menceritakan tentang kehidupan sang putri. cuma... aku rada bingung. ini beneran sang putri ndak punya anak? :s