Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perjuangan Kebudayaan Indonesia 1908 - 1994

Rate this book
Biografi singkat Sutan Takdir Alisjahbana: Kelahiran dan masa kecil hingga memiliki putra-putri. Juga dilengkapi dengan karya-karyanya

136 pages, Paperback

First published January 1, 1999

4 people are currently reading
29 people want to read

About the author

Sutan Takdir Alisjahbana

33 books73 followers
Sutan Takdir Alisjahbana (STA) menamatkan HKS di Bandung (1928), meraih Mr. dari Sekolah Tinggi di Jakarta (1942), dan menerima Dr. Honoris Causa dari UI (1979) dan Universiti Sains, Penang, Malaysia (1987). Diberi nama Takdir karena jari tangannya hanya ada 4.

Pernah menjadi redaktur Panji Pustaka dan Balai Pustaka (1930-1933), kemudian mendirikan dan memimpin majalah Pujangga Baru (1933-1942 dan 1948-1953), Pembina Bahasa Indonesia (1947-1952), dan Konfrontasi (1954-1962). Pernah menjadi guru HKS di Palembang (1928-1929), dosen Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Kebudayaan di UI (1946-1948), guru besar Bahasa Indonesia, Filsafat Kesusastraan dan Kebudayaan di Universitas Nasional, Jakarta (1950-1958), guru besar Tata Bahasa Indonesia di Universitas Andalas, Padang (1956-1958), dan guru besar & Ketua Departemen Studi Melayu Universitas Malaya, Kuala Lumpur (1963-1968).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (22%)
4 stars
2 (22%)
3 stars
3 (33%)
2 stars
0 (0%)
1 star
2 (22%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Yanet.
62 reviews
December 2, 2025
Buku ini membawa kita lebih mengenal sosok Sutan Takdir Alisjahbana dan pemikiran-pemikiran beliau. Ini semacam biografi. Sayang, typo bertebaran di sepanjang buku.
Profile Image for Awanama.
85 reviews6 followers
October 17, 2016
Buku ini menunjukkan bahwa Sutan Takdir Alisjahbana adalah seorang pelajar sepanjang hayat. Bahasa Indonesa adalah proyek kajiannya yang pertama-tama. Ini dipengaruhi juga oleh keadaan sosialnya (pendudukan Jepang dan semangat kebangsaan Indonesia). Sementara itu, sedikit demi sedikit filsafat menarik minatnya. Pada akhirnya dia sepenuhnya menenggelamkan diri dalam kajian filsafat. Wajar saja kecenderungan ini bisa berakhir demikian. Filsafat cenderung lebih mudah untuk menjadi sesuatu yang personal ketimbang ilmu bahasa, walaupun motif kajian filsafat STA lebih dari sekadar perkara personal.

Kegandrungannya untuk menjadi pelajar membuat Sutan Takdir Alisjahbana meyakini bahwa jalan untuk memajukan manusia adalah pendidikan. Inilah dasar pemikiran di balik keterlibatannya dalam institusi-institus pendidikan formal. Dalam pengelolaan institusi ini dia berpijak pada falsafahnya, walaupun beberapa penerapan falsafahnya ini dianggap kurang tepat di beberapa institusi. Selain melalui institusi pendidikan formal, STA mewujudkan visinya ini lewat penerbitan. Karya sastranya –hal yang kurang dalam digali dalam buku ini— pun diusahakannya untuk menjadi pengejawantahan falsafahnya. Hal ini makin eksplisit sejak Layar Terkembang.

Falsafah Sutan Takdir Alisjahbana Eropa-sentris. Hal ini tampak pada pemikirannya tentang bahasa Indonesia, arah yang harus dituju bangsa Indonesia, bahkan oleh bangsa serumpun. Baru pada usia tuanya dia mulai menunjukkan perubahan haluan ke Islam, walaupun bersamaan dengan itu ada juga kecenderungan-kecenderungan ‘satu umat manusia satu negara dunia’ dalam gagasannya.

Buku ini berisi peristiwa-peristiwa yang menunjukkan bahwa Sutan Takdir Alisjahbana ‘tidak tahan’ menghadapi pergolakan politik di sekitarnya. Barangkali inilah yang membuat pembahasan tentang kiprah politik praktis STA pasca-kemerdekaan Indonesia –misalnya, kiprahnya di PSI— hanya dibahas sedikit, padahal kiprahnya pra-kemerdekaan lumayan banyak dibahas. Barangkali ‘ketidaktahanan’ inilah yang pada akhirnya membuatnya memilih untuk meninggalkan politik praktis dan menekuni kegiatan ilmiah, sebagaimana yang pernah dinyatakannya. Meskipun demikian, ketika dia meninggalkan ranah politik praktis, dia tetap memanfaatkan relasi politiknya untuk mendukung usaha-usahanya dalam kegiatan ilmiah.

Semua kiprah Sutan Takdir Alisjahbana di ranah publik berkaitan erat juga dengan hidupnya di ranah privat. Hal ini tampak, misalnya, dalam selera perempuannya, cara dia mendidik anak, dan karir anak-anaknya.

Berkali-kali dalam buku ini dikesankan bahwa Sutan Takdir Alisjahbana adalah seorang yang optimis. Meskipun demikian, pesimismenya tidak bisa tidak terasa di sana-sini. Di balik keputusannya untuk berhenti mengkaji bahasa Indonesia terdapat keputusasaan tentang rendahnya kepedulian orang-orang atas pengembangan bahasa Indonesia. Di balik perubahan kecenderungan filsafatnya ke Islam ada kekecewaan atas keruntuhan Eropa pasca-Perang-Dunia. Pengunduran dirinya dari kancah politik praktis Indonesia pun menyiratkan pesimisme.

STA & Perjuangan Kebudayaan Indonesia (1908-1994) adalah biografi tentang seseorang yang berusaha untuk tetap optimis dalam menjunjung pendidikan sebagai sarana untuk memajukan manusia, walaupun di baliknya pesimisme tetap membayangi saat dia dihadapkan pada persoalan-persoalan yang lebih praktis.

Ulasan lebih lengkap bisa dibaca di http://al-ulas.blogspot.co.id/2016/10...
Profile Image for Giyanto.
22 reviews14 followers
August 1, 2011
Membaca buku ini seperti disuguhi tentang sosok ‘tipe ideal’ seorang pejuang kebudayaan. STA yang dibesarkan dan dididik di wilayah Sumatera ternyata mampu menjadi tokoh pemikir dan aktivis kebudayaan yang sangat radikal. Pandangannya yang berada diluar zamannya, sangat berapi-api dalam memimpikan zaman renaisance di nusantara. Dampaknya, pemikiran dan gayanya menjadi pemicu polemik serta debat kusir di kalangan tokoh cendekiawan.

Perjuangan baginya adalah perjuangan kebudayaan. Kebudayaan terkait erat dengan cara berfikir dan bagaimana bahasa menjadi sarana untuk menggerakan perubahan dalam suatu masyarakat. Stigma yang selama ini dilabelkan padanya sebagai sosok yang terlalu berkiblat ke barat barangkali memang benar. Tapi tanpa memahami alasan dibalik pemikiran itu, akan sangat rawan bagi generasi setelahnya mengabaikan pemikirannya, yang sebenarnya, menurutku, sangat brilian.

Setelah membaca buku ini, kita akan menyadari bahwa gagasan baru bisa jadi tidak nampak baru jika kita mampu menggali pemikiran lama. Salah satunya adalah pemikiran-pemikiran STA.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.