My first ever manga read about bromance. The bromance theme is subtle, and each main male character ended up has a girlfriend. But even as naïve as I was, you could feel the dialogues between these two cousins are much much hotter than any dialogues between heterosexual couples.
Anyway, the fantasy plot is just so-so and the unfortunately has unsatisfactory ending. I see the last arc and the ending as if the author has no idea how to end the conflict. The last antagonists are not interesting.
Dulu saya cukup suka komik ini. Kadar bromance-nya subtil dan saya suka karakter Ogata (si cowok rambut panjang di sampul komik ini). Bisa dibilang inti ceritanya agak rumit, tapi saya menikmatinya. Terutama humor-humornya.
Tadi mendadak teringat dengan komik ini dan memutuskan untuk meratingnya. Syukurlah ada entri Goodreadsnya.
Got to know this series from my friend recommendations. At first what I love about this series is the artwork. The artwork is cute. The story itself is interesting. I love the bromance between Makoto and Sho. But in this volume, the story is bit lacking, and the characters are not developing yet. But, I enjoyed this manga.
Intro: malam musim panas – memperkenalkan Makoto Akitsu, anak indigo yang bisa melihat ‘sesuatu’ (Syahrini banget gak tuh?) yang nggak bisa dilihat sama orang biasa. Dulu waktu kecil dia pernah bertemu ‘dewa’, dan saat festival kembang api dimulai, Makoto ketemu lagi dengan sosok ‘dewa’ itu yang ternyata siluman rubah.
Bertemu lagi – Makoto ketemu lagi dengan sosok ‘dewa’ yang bernama Sogetsu setelah sebuah entitas siluman menyerangnya dan Sho, sepupunya. Ada pertempuran di alam gaib dan Makoto mesti bantu, cuma karena dia ngerasa gak mampu jadi Makoto nolak. Pesan itu disampaikan berupa mimpi sepotong-potong yang bahkan Makoto pun samar-samar ingatnya.
Pertemuan – di kelas ada anak baru bernama Toko Takamura. Makoto ngerasa auranya mirip suatu makhluk. Sho yang penasaran akhirnya mengajak Toko bertemu dan Toko malah membawa kakaknya, Satoru.
Maka, mulailah – Makoto dan Sho mengunjungi Kosuke Sakaki, yang dulu pernah membantu Sho untuk mengendalikan energinya. Sebagian pertanyaan-pertanyaan terjawab ya di part ini, dan di sini juga ada Satoru yang menunjukkan kalo dia ini bukanlah ancaman.
Ketetapan hati – Makoto bertekad untuk ikut dengan Sogetsu, karena dia satu-satunya keturunan keluarga Akitsu laki-laki yang menerima kekuatan abdi kuil (biasanya kekuatan ini diterima oleh keturunan perempuan keluarga Akitsu). Mimpi yang dia terima pun mulai jelas dan menunjukkan ke arah mana dia harus melangkah.
Nyanyian sunyi – cerita tambahan di mana Makoto dan Sho jalan-jalan ke pameran boneka. Salah satu boneka yang menarik perhatian Makoto ternyata menyerap energi manusia di sekitarnya, makanya beberapa pengunjung ada yang hampir pingsan diduga anemia. Cerita yang satu ini formatnya oneshot tapi masih dengan karakter utama di cerita yang utama.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ceritanya cukup menarik, tentang Makoto—keturunan abdi kuil—yang bisa lihat roh dan dilindungi sepupunya, Sho, yang punya kekuatan melawan roh atau siluman jahat.
Gambarnya bagus, lucu, uwu, bikin ketagihan baca sampe akhir. Cuman, ini cenderung plot driven, dan baik Sho sama Makoto belum nunjukin motivasi tokoh yang menggebu-gebu—kayak ngikut aja gitu sama apa yang terjadi di hidup mereka.
Makanya, pas Makoto pengen hidup normal kayak remaja lainnya, aku kurang bisa bersimpati karena yaa dia belum seberjuang itu buat dapetin keinginannya. Pengen apa juga masih belum jelas 🥺🥲
Tapiiii yang paling bikin semangat baca komik ini ya interaksi Sho sama Makoto. Tiap kali ada sesuatu yang terjadi, terus mereka mengkhawatirkan satu sama lain, I instantly went: ( ✧≖ ͜ʖ≖)
Looking forward to reading the rest of the series ( ✧≖ ͜ʖ≖)