The book is a grateful effort to show the similarities between the Jewish religion and the Muslim religion. I love the field of comparative religions. Rabbi Reuven Firestone set the book comparing similarities rather than differences, it calms down the reader and points the humane nature in all of us. The problem unsolved remains the radicals, not only in both religions but in any movement.
Mr. Firestone has a few lectures that are as charming on Youtube. I wish I can study at his institution.
Sekali-kali, bolehlah kiranya baca buku tentang agama Yahudi yang dikarang oleh insider, oleh orang Yahudi sendiri. Sederhana saja, tujuannya agar dapat perspektif yang berbeda dari biasanya. Jadi, jika maunya seperti itu, buku ini bisa jadi pilihan yang bagus untuk dibaca.
Tuan Firestone membuat buku ini memang untuk dibaca orang Muslim. Barangkali dia jengah melihat banyak buku yang menyoroti agama Yahudi dengan penuh curiga. Mau balas bikin buku bernada curiga juga rasanya tidak akan selesaikan masalah. Mending membuat buku yang menempatkan agamanya dalam tempat yang terhormat saja—lebih elegan, bersahabat, dan menumbuhkan rasa saling percaya. Itu lebih penting.
Berhubung ditulis untuk umat Muslim, buku ini menyoroti banyak kesamaan, atau setidaknya paralelitas, agama Yahudi dengan agama Islam. Memiliki wawasan yang lumayan tentang agama Islam, Tuan Firestone lihai membiarkan umat Muslim menggunakan lensanya sendiri dalam melihat umat Yahudi. Sebutlah misalnya kisah Iblis dan nabi Adam (hlm. 98) kisah Nabi Ibrahim menghancurkan berhala (hlm. 7-8), Kan’an sebagai Tanah yang Dijanjikan (hlm. 10), kisah Nabi Yusuf (hlm. 11), kisah Nabi Musa (hlm. 14-17) dan beberapa nabi lain sesudahnya. Ini tidaklah aneh, sebab nabi-nabi itu sama-sama diakui sebagai utusan Tuhan oleh kedua agama. Paling-paling perbedaannya cuma dalam beberapa detilnya saja.
Ada juga kemiripan soal memahami ekspresi-ekspresi Antropomorfis dalam kitab suci (hlm. 92). Yang menarik, penulisnya mengakui bahwa umat Yahudi tidak meyakini otoritas Perjanjian Baru dan Al-Qur’an, sebagaimana umat Kristiani tidak meyakini Al-Qur’an, dan Umat Islam terhadap kitab sucinya Baha’i dan Ahmadiyyah.
Doa umat Yahudi disebut Selota dan dilakukan 3 kali sehari, sebagaimana Shalat dikerjakan 5 kali sehari bagi Umat Muslim (hlm. 145). Sinagog mereka menghadap reruntuhan kuil Isma’il, sebagaimana masjid-masjid menghadap Ka’bah (153-156). Ada makanan atau minuman yang tak boleh dikonsumsi, sebagaimana ide halalan thoyyiban dalam Islam (hlm. 159-162). Umat Yahudi juga punya system kalender sendiri, selayaknya kalender Masehi dalam umat Kristiani dan Hijriyah dalam umat Muslim (hlm. 163). Dalam setahun, mereka diharuskan ziarah ke Yarussalem sebanyak 3 kali, layaknya umat Muslim melakukan haji ke Mekkah sekali setahun (175). Dan kalau mau disebut semua, daftarnya bisa panjang sekali.
Sekali lagi, buku ini ditulis terutama agar dibaca oleh umat Muslim, sehingga tak heran kalau penulisnya merasa perlu melakukan beberapa klarifikasi. Dia memulainya dengan kecaman Al-Qur’an bahwa umat Yahudi menganggap Uzair (Ezra) adalah anak Tuhan, sebagaimana umat Nashrani menganggap Yesus (At-Taubah 9:30). Di tempat lain, umat Yahudi menganggap bahwa “tangan” Tuhan telah dibelenggu (Al-Mâ’idah 5:64). Soal klarifikasi ini, Tuan Firestone kasih penjelasan agak panjang melebihi porsi yang biasanya, lengkap dengan kutipan kitab-kitab tarikh semacam Ibn Ishaq dan Ibn Katsîr.
Di penghujung acara, Tuan Firestone menutup bukunya dengan kutipan ayat-ayat Al-Qur’an yang amat banyak, melebihi bab-bab sebelumnya. dia akhiri ceritanya tentang agama Yahudi dengan sebuah ajakan untuk berkompetisi secara sehat di hadapan Tuhan: berbuat baik.[look also at curusetra.wordpress.com]
An excellent introduction to Judaism, aimed at the Muslims. It is written from a compassionate perspective that seeks to portray all perspectives (within the Jewish spectrum and among Muslims) fairly and to put down nobody.