Jump to ratings and reviews
Rate this book

Fiqh Perempuan: Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender

Rate this book
Melalui buku ini, kita disadarkan betapa luasnya cakrawala lautan ilmu fiqh. Sebagai seorang yang memiliki latar belakang tradisi kitab kuning cukup kuat, Kiai Husein mampu membaca dan memetakan berbagai ketimpangan hubungan laki-laki dan perempuan melalui berbagai referansi secara teliti dan kritis. Bahasan tentang kepemimpinan shalat perempuan, khitan, dan sebagainya yang ada dalam buku ini akan memperluas cakrawala pandang kita tentang betapa utamanya fiqh, yang demikian terbuka memberikan ruang dialog seluas-luasnya bagi berbagai pandangan dan pendapat. (KH. Sahal Mahfudh)

189 pages, Paperback

First published January 1, 2001

17 people are currently reading
180 people want to read

About the author

Husein Muhammad

13 books14 followers
Husein Muhammad earned the name “Kyai” which means “venerated scholar” in Indonesian through his work in education. He is the principal of a large school in Indonesia, but his title comes also from his prolific research on various theological issues as an Imam. Husein studied in Cairo, but came back to Indonesia and took over the family business, a pesantren, which is an Islamic boarding school. His school is located in Cirebon. But not only has he served as the principal of this school, he has also founded several NGOs, including the Fahmina institute which is a faith-based initiative to mobilize civil society in Cirebon, and is a commissioner of the National Commission on Violence Against Women. His wife works in the regional government.

He began to interact with ideas of gender equality in the 1980s, and since has worked tirelessly on gender issues, among other human rights concerns. He has worked with reproductive rights and health, and, sometimes against opposition, empowered communities around Cirebon to fight for their rights. He has argued, in scholarly work, that issues of gender equality and women’s rights are not external to Islam. He was given the Trafficking in Persons Hero award in 2006 for his anti-human trafficking work in Indonesia. These efforts were primarily through a massive media campaign. He passed out over 22,000 leaflets a week in various mosques, and engaged in external programs to teach people about human trafficking. He has written scholarly materials on human trafficking and Islamic law, among various other women’s rights topics. By engaging the schools in his area, he has made some incredible headway in preventing and eradicating human trafficking.

In the 2014 TIP Report, Indonesia was listed as a Tier 2 Country. Indonesia is a source country, primarily, although it also is a destination and transit country. Indonesians are found all over the world in forced and bonded labor situations. There are an estimated 6.5 million Indonesians who are migrant workers abroad. Although the government has made substantial efforts to comply, there is more to be done.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
39 (53%)
4 stars
22 (30%)
3 stars
7 (9%)
2 stars
3 (4%)
1 star
2 (2%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Els~.
29 reviews3 followers
November 11, 2022
Tulisan dalam buku ini cukup membuat terkesan, terutama pada saat menyadari bahwa dalam beberapa kenyataan sosial, perempuan dikonstruksikan sebagai masyarakat kelas dua yang seringkali direduksi peranannya. Belum lagi adanya anggapan (atau kenyataan) dalam perspektif agama Islam yang memperlihatkan inferioritas perempuan yang cenderung diskriminatif sebagai sesuatu hal yang lumrah. Pertanyaannya, apakah menjalani kehidupan sebagai seorang perempuan (muslimah) memang begitu adanya?

Dengan pemikirannya yang progresif, Kiai Husein membawa pembaharuan yang pokok terhadap wacana kesetaraan relasi perempuan dan laki-laki dalam perspektif agama Islam. Bukan hanya soal merekonstruksi peranan perempuan, beliau pun menguliti habis berbagai dasar argumentasi yang seringkali digunakan untuk membenarkan pemikiran tentang superioritas kaum laki-laki.

Mengingat fakta historis sosiologis akan selalu bergerak dinamis, saya pun mengamini bahwa konstruksi sosial tidak selamanya akan selalu dan harus berpijak pada apa yang telah diputuskan bersama di masa lalu, karena mungkin relevansinya akan dipertanyakan di masa kini maupun masa depan, sehingga perubahan secara substantif pun menjadi sesuatu hal yang tidak dapat dihindari lagi. Demikian halnya dengan bagaimana menginterpretasi ayat-ayat dalam al-Qur'an dan Sunnah sebagai pijakan untuk diterapkan dalam kehidupan sosial keagamaan dewasa ini tanpa menihilkan pemikiran sebelumnya. Saya pikir, Kiai Husein sukses menuangkan pemikirannya yang demikian dalam tulisan-tulisannya di buku ini.

Sebagai penutup, perlu saya tegaskan, meskipun buku ini membawa pembaharuan yang tidak umum, tetapi Kiai Husein tidak judgemental atau mencoba memaksakan pemikirannya agar diterima oleh pembaca. Inilah hal lain yang juga membuat saya terkesan setelah menghabiskan buku ini.
Profile Image for Nurul Suhadah.
181 reviews34 followers
April 28, 2020
Sebelum ini rujuk buku ini hanya untuk bab tertentu, tetapi sejak semalam kembali membacanya dan akhirnya menghabiskan pada pagi ini.

Penulis memang terkenal sebagai ‘orang pesantren’ yang memang menguasai kitab-kitab kuning turath dengan baik. Justeru, perbahasan dari aspek hukum klasik dalam beberapa bab terasa hidup. Beliau adil mengutip pandangan-pandangan ini.

Hujahan balas terhadap pembaharuan yang diseru dan perlu dibuat berkisar tentang tuntutan masa dan sosiologis yang berubah. Ini adalah seruan umum yang sememangnya menjadi tema kepada gerakan modernis. Juga penekanan kepada mendahulukan maslahah dan prinsip-prinsip universal yang menjadi asas tunjang kepada Islam.

Namun, beberapa bab khusus seperti khitan perempuan, kahwin muda, bekerja dan relasi seksual adalah antara bab yang saya kira penulis mempunyai hujahan yang sangat baik.

Tafsiran dan landas fikir gender yang dimuatkan di awal buku ini juga menarik.

Mungkin saya sudah pernah membaca buku-buku tentang gender dan Al-Quran yang lebih komprehensif perbincangannya seperti buku tulisan Dr Nasaruddin Umar dan Dr Yunahar Ilyas sebelum ini menyebabkan saya seolah-olah sudah pernah membaca beberapa hujah yang dikemukakan dalam buku ini.

Namun, tidak dinafikan ini adalah antara buku yang baik untuk melihat wacana tafsir agama dan gender.
Profile Image for Khurin W. F..
192 reviews9 followers
January 31, 2023
Buku ini adalah buku kedua yang aku baca tentang kajian gender yang ditulis oleh ahli di bidangnya. Aku pribadi sudah beberapa tahun ini tertarik dengan kajian gender. Lalu, menemukan buku yang membahas hal itu dan menggunakan perspektif Islam, rasanya melegakan sekali.

Seperti judulnya, yakni Fiqh, buku ini tentu lebih fokus terhadap hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan keperempuanan serta isu sosial yang melekat di dalamnya. Jika kita berbicara tentang hukum, tentu itu tentang hitam-putih suatu permasalahan. Namun, yang membuatku sangat suka dengan buku ini adalah, Yai Husein menjabarkan asal muasal hukum tersebut muncul. Tentunya dengan merujuk berbagai sumber, baik dari kitab klasik maupun dari para imam atau ulama terdahulu.

Yai Husein tidak serta merta mengklaim hukum suatu hal, tetapi memaparkan dulu perbedaan pendapat dari para ulama, kemudian baru menarik kesimpulan yang dikaitkan dengan ruang dan waktu masa kini. Karena bagaimanapun, sebuah kesimpulan tidak dapat terlepas dari sejarah, yang di dalamnya mencakup aspek kondisi, situasi, dan kausalitas.

“Suatu kasus atau suatu peristiwa sejarah tidak selalu bisa ditarik dengan kesimpulan atau keputusan yang sama untuk ruang dan waktu yang lain.”


“Perlunya suatu keputusan Fiqh merujuk pada realitas yang berkembang; baik sosial, ekonomi, maupun politik.”


Lewat buku ini, aku juga mendapatkan penerangan dan pengetahuan baru. Penerangan lebih jelas terkait aurat perempuan, dan pengetahuan baru terkait khitan perempuan. Ada beberapa bagian dalam buku ini yang juga membuatku sedikit kaget karena dibanjiri lagi oleh fakta bahwa betapa perempuan benar-benar dianggap sebagai manusia kedua dan tidak dipertimbangkan eksistensinya pada zaman dahulu.

Menuju dua bab terakhir, aku menyadari kalau Yai Husein mulai tidak terlalu banyak mengutip dan menguliti permasalahan sedalam dua bab awal. Kemudian, ada beberapa dalil yang ditulis ulang sampai beberapa kali, padahal masih dalam bab yang sama. Menurutku, hal itu bisa dikurangi dengan hanya merujuk pada ayat yang dimaksud saja.

Secara keseluruhan, buku ini sangat informatif, to the extent I feel overwhelmed at some point because there's a lot of information I have to digest. But rest assured, it'll enlight you soooo well. Dan yang terpenting, meskipun membahas tentang fiqh atau hukum, buku ini jauh dari kesan menghakimi.
Profile Image for Rayya Tasanee.
Author 3 books23 followers
April 6, 2025
Aku sangat menyukai cara K.H. Husein Muhammad menulis narasi. Sebelumnya aku pernah membaca Mencintai Tuhan, Mencintai Kesetaraan. Baru kusadari sejak tahun 2017 hingga sekarang, aku masih tertarik membaca buku-buku tentang gender baik itu fiksi maupun nonfiksi.

Buku ini membahas hukum fiqih terhadap perempuan, dari pemahaman ulama zaman dahulu kemudian berkembang pada masa sekarang. Misalnya dulu perempuan tidak boleh bekerja di bidang hukum, tidak boleh berkecimpung di dunia politik. Ternyata memang penafsiran hukum terhadap perempuan zaman dulu sangat mendiskreditkan perempuan. Maka ijtihad terus dilakukan oleh ulama cendekia.

Ada satu hal yang cukup membuatku kaget. Ternyata skincare istri itu bukan tanggung jawab suami. Yang menjadi tanggung jawab suamia adalah kebutuhan pokok/primer. Bersyukur sekali jika suami Anda mau memberi dana untuk perawatan wajah. :D

Memang masih ada sisi lain hukum Islam yang membuat perempuan tetaplah makhluk kedua. Perempuan adalah makmumnya laki-laki dalam urusan shalat dan berumah tangga. Kalau ada banyak lelaki patriarki tentu tidak heran. Mereka kurang belajar fiqih apalagi buku kajian gender. Buku ini menurutku perlu juga dibaca lelaki terutama yang berniat menjadi imam, ya.

Aku baru menyelesaikannya hari ini padahal tinggal belasan halaman saja. Bagian akhir memuat isu yang sensitif dan menyesakkan. Huhuhu.

Semoga ada lagi kajian terbaru yang lebih relevan sejalan dengan perkembangan teknologi yang begitu masif.
Profile Image for Obik.
8 reviews
October 6, 2020
8/10

Karya buya husein yang satu ini menjelaskan mengenai fiqh perempuan. Fiqh yang selalu bergerak dinamis dan tentunya kontekstual dari masa ke masa. Isu mengenai perempuan memang sangat sering diperdebatkan. Bahkan hingga sekarang mungkin masih ada yang menganggap bahwa perempuan 'bukanlah manusia'.

Agama adalah satu 'pihak' yang juga membahas mengenai perempuan. Dalam Islam sebenarnya telah dijelaskan dalam Al-Quran, tetapi penafsirannya akan tidak selalu sama pada banyak tokoh ulama dan zamannya.

Buku ini hadir memaparkan pandangan ulama-ulama klasik maupun kontemporer dalam menyikapi isu dan persoalan mengenai perempuan.

Pembahasannya meliputi perpektif Islam perihal Gender, tafsir ibadah perempuan, tafsir kepemimpinan perempuan, tafsir pernikahan dan beberapa pembahasan polemik lainnya.

Sangat cukup menjelaskan dan mencerahkan saya perihal polemik yang terus terjadi mengenai perempuan.Tetapi mungkin ada beberapa hal yang memang masih mengambang dalam otak saya, yang tidak dijelaskan secara gamblang di buku ini.
96 reviews1 follower
Read
March 15, 2024
[I don’t rate nonfiction books]

Menurutku, buku ini cocok untuk pembuka diskusi dan dialog tentang interpretasi teks kitab suci untuk menjabarkan hukumnya atas eksistensi perempuan. Dibuka dengan penegasan bahwa interpretasi itu berat pada kondisi sosial di masa tertentu, ide bahwa “kitab suci itu maknanya kontekstual” musti diamini sampai akhir. Ada tiga bagian besar buku ini: terkait perempuan dan ibadah, pernikahan, dan hukum negara. Sebagai esai refleksi, buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang informatif namun tidak menggurui. Bab yang menurutku paling relevan dan perlu dikaji lebih lanjut dalam lingkup masif adalah: Khitan Perempuan, Bekerja dan Relasi Seksual, serta Kepemimpinan Perempuan.
Profile Image for Cep Subhan KM.
343 reviews27 followers
November 22, 2020
Reread. I read the book first during the time in Pesantren, reread and used it as my reference when I composed my analysis of the Book of Uqudulujjayn, and now reread it again for checking several points in my memory for my new writing. As interesting as my first reading since deep discussion about women in Islam needs more careful inquiries and the honorable KH Husein Muhammad actually presented that in his books including this one. Well, yesterday I bought several his new books but unfortunately they do not yet available in Goodreads, I think I'll input it later.
Profile Image for Nava.
52 reviews
January 29, 2022
Menerima buku ini sebagai hadiah dari seorang teman yang sepertinya tahu jika saya tertarik dengan kajian-kajian gender dalam perspektif Islam. Membacanya dengan pelan-pelan, berusaha memahaminya dengan baik dan mendapatkan banyak pencerahan melalui buku ini.
Profile Image for Meutia Faradilla.
26 reviews4 followers
December 16, 2023
Saya senang berjumpa dengan buku ini, karena pembahasannya lengkap dan disertai pandangan Kyai Husein untuk situasi masa kini. Pembaca buku ini harus melanjutkan bacaan ke buku Qira'ah Mubādalah, karena kedua buku ini saling melengkapi
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.