“ Saat pertama kali melihatnya, kau akan merasa seolah melihat sebuah peach, dengan warna kulitnya yang cantik, membuat orang pasti tak tahan untuk mengupasnya, dan isi didalamnya juga tak kalah mempesona, tapi disaat kau memakannya, pertama-tama kau akan terkejut, akan rasa asamnya yang sangat, tapi saat kau terus mengunyahnya, kau akan merasakan rasa dan sensasi yang luar biasa, sensasi rasa yang elegan, yang membuat kau tak akan bisa melupakannya.”
Novel: 1. Tarapuccino (bersama Rika Y. Sari, Penerbit Indiva Media Kreasi 2009) 2. Hati Memilih (Bukune 2011) 3. Izmi & Lila (Divapress 2011) 4. Persona Non Grata (Indiva Media Kreasi 2011) 5. Yang Kedua (Bukune 2012) 6. Ping! (bersama Shabrina WS, Bentang Pustaka 2012) 7. The Coffee Memory (Bentang Pustaka 2013) 8. Jasmine (Indiva Media Kreasi 2013) 9. A Cup of Tarapuccino (bersama Rika Y. Sari, Indiva Media Kreasi 2013) 10. First Time in Beijing (#STPC Bukune 2013) 11. Perjalanan Hati (Rak Buku 2013) 12. A Miracle of Touch (GPU, 2013) 13. Dear Bodyguard (Bentang Pustaka, 2013) 14. Gerbang Trinil (duet bersama Syila Fatar, Moka Media) 15. Rahasia Pelangi (duet bersama Shabrina WS, GagasMedia, 2015) 16. The Secret of Room 403 (Indiva Media Kreasi, 2016) 17. Love Catcher (Gagas Media ; 2017)
Non Fiksi : 1. Kitab Sakti Remadja Oenggoel (bersama Oci YM, Indiva Media Kreasi 2013) 2. Sayap-sayap Sakinah (bersama Afifah Afra, Indiva Media Kreasi, 2014) 3. Sayap-sayap Mawaddah (bersama Afifah Afra, Indiva Media Kreasi, 2015) 4. I Will Survive (bersama Oci YM, Indiva Media Kreasi, 2016) 5. Sayap-sayap Rahmah (bersama Afifah Afra, Indiva Media Kreasi, 2017)
Antologi : 1. LDR Crazylove (Bentang Belia, 2012) 2. My Stupid Love (Indiva Media Kreasi, 2013) 3. Jomblo Prinsip Atau Nasib (Indiva Media Kreasi, 2015) 4. Ramadhan in Love (Indiva Media Kreasi, 2015) 5. Jejak Kaki Misterius (Indiva Media Kreasi, 2016)
Beberapa penghargaan lomba menulis : 1. Pemenang I Resensi Indiva (2008) 2. Pemenang II Sayembara Cerber Femina (2008) 3. Pemenang Harapan Sayembara Cerber Femina (2009) 4. Pemenang Hiburan Feature Ufuk Dalam Majalah Ummi (2009) 5. Pemenang II Lomba Novel Inspiratif Indiva (2010) 6. Pemenang I Lomba Novel Remaja Bentang Belia (2011) 7. Pemenang Berbakat Lomba Novel Amore 2012 8. Pemenang 1 Indiva Reading and Review Challenge (2015) 9. Pemenang Harapan Lomba Menulis Novel Indiva (2015) 10. Pemenang 2 Lomba Resensi Novel "Pulang" (2015) 11. Pemenang 1 Lomba Blog StilettoBook (2016) 12. Pemenang 2 Lomba Resensi Novel "Ayat-ayat Cinta 2" (2016) 13. Pemenang 1 Lomba Resensi Buku "Cerdas Mengelola Keuangan Pribadi" (2016)
Tara dan Raffi adalah dua bersepupu yang mempunyai passion yang sama untuk membuka usaha bakery di kawasan Batam yang dipatenkan dengan nama Bread Time. Mereka merintis dari awal hingga usaha tersebut berkembang pesat dan menjadi salah satu toko bakery kenamaan di wilayah tersebut. Terdorong semangat untuk lebih maju, keduanya merekrut Hazel yang bertugas menangani segala pernik publikasi sebagai media promosi Bread Time.
Sejak bergabungnya Hazel, intrik demi intrik mulai mewarnai hari-hari Bread Time. Mulai dari ditemukannya indikasi bahwa pasokan material yang menjadi bahan baku produksi ditengarai berlabel haram sehingga berujung pada pemutusan kerjasama secara sepihak dengan rekanan, sabotase mobil pengiriman furniture pesanan kantor, hingga kasus keracunan makanan yang di-blow up media. Konflik demi konflik misterius tersebut selanjutnya menyulut bara dalam sekam persahabatan Tara-Raffi-Hazel. Sikap saling curiga dan tuduh-menuduh berkhianat siap menghancurkan bukit kepercayaan yang telah tercipta di antara mereka.
Judul novel ini mengingatkan saya pada novel chicklit fenomenal karya Nisha “Icha” Rahmanti, Cintapuccino, terkait unsur puccino yang menyambungkan kata pertamanya. Dari segi judul, sampai tuntas membaca saya tidak bisa menangkap maksudnya apa selain bahwa Tara adalah salah satu tokoh sentral dan (cinnamon) cappucino (btw, kata wikipedia yang benar menulisnya adalah double p dan double c: cappuccino, baru tahu) merupakan salah satu sajian istimewa dari Bread Time. Lagipula judul tersebut ditulis Tarapuccino (dengan dua c) bukan Tarappuccino (dengan dua p dan dua c). Tanya kenapa? Secara filosofis saya tak dapat merangkumnya dari keseluruhan lembarannya. Saya memang lagi dodol!
Terkhusus, saya suka pada selipan-selipan unsur tindak-tanduk Islami pada tokoh-tokohnya, terutama pada singgungan soal say no to pacarannya dan pengenalan pada proses taaruf, meskipun tidak sampai mendalam. Namun, sayang sekali, selipan tersebut terasa janggal ketika tokoh Tara yang suatu ketika digambarkan begitu sangat muslimah, ternyata “sempat-jelalatan” menatap dan mengagumi salah satu tokoh laki-lakinya. Wajar sih, sebagai seorang perempuan hetero yang dikurniai nafsu, ketertarikan (fantasi) pada lawan jenis bisa saja terjadi. Hanya saja, bagi saya itu agak bertolak belakang dengan part lain dimana si tokoh perempuan ini beretika lebih hati-hati.
Novel ini dibuka dengan adegan misterius yang cukup menjanjikan dan nuansa itu terus dibangun hingga akhir dengan intrik-intrik menarik seputar bisnis roti dan kue. Konflik susul menyusul pada waktu yang tepat meskipun tahapan timbulnya masalah dan pemecahannya tidak semengagumkan karya-karya Agatha Christie atau Dan Brown. Tetapi cukuplah untuk bisa menciptakan suasana tegang di waktu-waktu tertentu dan keinginan untuk berspekulasi mengenai kejadian demi kejadian yang dirangkai oleh kedua penulis.
Sebagai sebuah hasil kerjasama dari dua penulis, novel ini hampir bisa menyatu meskipun secara tersurat saya merasakan sentuhan yang berbeda yang cukup jelas untuk menandai mana tulisan Riawani dan mana tulisan Rika (walaupun saya tak dapat menebaknya, karena novel ini adalah novel pertama dari masing-masing mereka yang saya baca sehingga belum bisa memetakan kekhasan secara pribadi). Adalah kata “secara” (hlm: 36, 129) yang menurut saya tidak disepakati oleh dua penulis ini sehingga manimbulkan keyakinan bahwa persekutuan dua penulis ini masih perlu untuk dikuatkan lagi.
Isi cerita, tebaran konflik, dan ending-nya cukup memuaskan. Sayang sekali, kualitas cerita tersebut tidak dibarengi dengan kualitas teknik percetakannya. Entah karena lalai atau sengaja disesuaikan dengan kondisi asli kota Batam, novel ini berusaha keras meleburkan kosakata bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, yang nyatanya menjadi bumerang karena banyaknya inkonsistensi penulisannya (kadang miring kadang tidak). Termasuk pula pada beberapa kata tertentu penulis menggunakan padanan kata Indonesia-nya ketimbang bahasa aslinya atau sebaliknya. Misalnya, alih-alih menggunakan kata “screen handphone” penulis lebih memilih “skrin handphone” (hlm: 169) dan kata “pintu depan” dibanding kata “front door” (hal: 183). Khusus frasa front door ini penulis menggunakannya dengan “front door bakery” yang kurang pas. Bukankah seharusnya ditulis bakery’s front door? (Jujur, kemampuan bahasa Inggris saya masih kacau). Bagi saya, usaha mencampur dua bahasa ini kurang efektif (dan efisien) dan terbaca hanya sebagai upaya penulis agar novel ini terlihat modern dan bergaya (penilaian subjektif saya).
Saya juga agak terganggu dengan banyaknya kata yang diberikan tanda petik tunggal untuk memberi tekanan pada kata tersebut (beberapa tidak masalah, terlampau sering membosankan) dan komitmen penulis yang menggunakan kata ganti orang ketiga (ia, dia) pada awal bab/paragraf meskipun sejatinya aktor/aktris yang bermain sudah jelas (telah diperkenalkan di depan).
Bab 5, halaman 39 Ia datang agak kesiangan pagi ini. Hm, kacanya sudah diganti dengan yang lebih bening, sesuai dengan keinginan gadis itu tempo hari, gumamnya dalam hati. Dengan kaca yang…dan seterusnya.
Bab 7, halaman 51 Tinggal selangkah lagi dari depan pintu ruko, ia berhenti sejenak. Untuk sekadar menarik napas dalam-dalam dan meredakan gelisah yang mulai berdentum. Karena dalam jarak beberapa langkah lagi ia harus menghadapi sesuatu…dan seterusnya
Saya hanya penasaran, mengapa masih harus menggunakan kata ganti “ia” jika tokoh yang beradegan sudah jelas (Diaz) dan tak lagi memerlukan space untuk deskripsi karakter. Dan, contoh seperti ini ada di beberapa tempat. Inilah yang saya sebut sebagai kekurangefektif-efisienan.
Kunci utama dari buraian beragam konflik dalam novel ini sejatinya ada pada tokoh Hazel dan Diaz. Awalnya saya sempat kebingungan dengan dua tokoh tersebut, namun seiring halaman demi halaman saya tuntaskan semakin benderanglah siapa mereka. Dan jujur, saya kurang sreg dengan teknik penulis untuk mengaburkan tokoh tersebut. Agak mengada-ada saja dengan penggunaan sudut pandang orang ketiga jika tokoh tersebut diberi “nyawa” dengan teknik seperti itu. Aalsan saya membingungkan? Iya, mohon maaf, saya tidak bisa membuatnya lebih terang lagi karena saya menangkap justru kehidupan tokoh Hazel dan Diaz ini yang menjadi mantra penjaga agar novel ini terasa misterius, kalau saya bongkar berarti itu spoiler dan novel ini menjadi kehilangan sisi misteriusnya. Maka, untuk mengetahui siapakah Hazel dan Diaz, silakan comot novel ini dari toko buku dan mulai membacanya. Dan, tentu saja, untuk mengetahui pula pada siapakah Tara akhirnya melabuhkan bahtera cintanya, Raffi atau Hazel?
Beberapa hal janggal yang seharusnya tertangkap pada proses editing:
(hlm: 16) …dengan intonasi yang tak kalah firmnya, sedikit pun tak bergeming. Harusnya tidak perlu ditambahkan kata tak sebelum kata bergeming. Yang lucu, pada halaman 133, penggunaan kata ini benar. Inkonsistensi.
(hlm: 20) …launching bulletin. Lagi dan lagi, masalah konsistensi. Pertanyaan: mengapa pada halaman yang sama kata ini digunakan dalam bahasa Inggris sekaligus bahasa Indonesia secara berbarengan. Opini: variasi diksi yang kurang oke.
(hlm: 41) …came corder. Apa itu, apakah maksudnya camcorder (video camera recorder)?
Gigabyte (hlm: 61), display (hlm: 91), Home (hlm: 92), shift (hlm: 83, 111), dan masih banyak lagi yang lain. Harusnya dicetak miring?
(hlm: 70-71) korsvet ditulis dengan dua tampilan berbeda, miring dan tidak. Lagi-lagi masalah inkonsistensi.
(hlm: 89) …ice green tea atau iced green tea. Inkonsisten.
(hlm: 138) IP Adress. Harusnya IP Address.
(hlm: 216) di dapatnya harusnya digabung, didapatnya. Dimata harusnya dipisah, di mata.
Kata yang paling sering inkonsisten: cappuccino (kadang miring, kadang tidak)
Overused: penggambaran karakter Tara yang langsing (gadis langsing tersebut..bla..bla..bla), Hazel yang jangkung (sosok jangkung tersebut…bla…bla…bla…). Apa tidak bisa mencari citra diri lain untuk menjelaskan dua tokoh tersebut?
A cappuccino is an Italian coffee drink prepared with espresso, hot milk, and steamed-milk foam.
The name cappuccino comes from the Capuchin friars, possibly referring to the colour of their habits or to the aspect of their tonsured (white) heads, surrounded by a ring of brown hair.
A cappuccino is traditionally served in a porcelain cup, which has far better heat-retention characteristics than glass or paper. The foam on top of the cappuccino acts as an insulator and helps retain the heat of the liquid, allowing it to stay hot longer. The foam may optionally have powder (commonly cocoa, cinnamon or nutmeg) sprinkled on top.
bukannya narsis lho, tp sbg bentuk apresiasi trhadap jerih payah, juga niat tulus utk memberi informasi berguna kpd pembaca dan memperkaya khasanah fiksi Indonesia dgn genre yg sdikit berbeda, gak ada salahnya kan ?
Tarapuccino bercerita tentang Bread Time, sebuah toko bakery yang terletak di salah satu sudut kota Batam. Pemiliknya adalah sepasang sepupu bernama Tara dan Raffi, yang sukses menjadikan bakery tersebut sebagai toko kue paling berkembang di kota mereka tersebut.
Satu hari, setelah melalui diskusi panjang lebar, Tara dan Raffi memutuskan untuk meningkatkan keistimewaan bakery milik mereka dengan menerbitkan buletin setiap bulannya. Untuk itu, Tara dan Raffi memerlukan seseorang yang bisa membantu mereka dalam hal desain buletin tersebut. Saat itulah hadir sosok Hazel, seorang lelaki yang juga merupakan pelanggan tetap Bread Time.
Entah kebetulan atau tidak, hadirnya Hazel di Bread Time menjadi awal dari kekacauan yang menimpa Bread Time. Bermula dari penemuan Tara akan status bahan makanan yang mereka gunakan saat membuat kue, yang menyebabkan Bread Time harus menghentikan kerja sama dengan pemasok langganan mereka. Sesudah pemutusan hubungan kerja tersebut, silih berganti masalah menimpa Bread Time.
Di lain pihak, ada juga sosok Diaz, seorang pemuda yang terlibat hutang dan harus membayarnya terlibat dalam dunia perdagangan gelap. Apakah hubungan antara Bread Time, Hazel dan Diaz?
*** Bentuk buku yang unik jelas menjadi salah satu daya tarik utama dari novel duet ini. Ukurannya yang mungil, serta desain cover yang menawarkan pemandangan sebuah laut mau tak mau membuat mata saya terpaku sesaat saat melihatnya di rak buku. Itu soal penampilan luar. Lalu bagaimana dengan isi buku ini sendiri?
Secara ide, novel Tarapuccino menawarkan cerita yang cukup berbeda dari seri metropop (?) biasanya. Adanya unsur perdagangan gelap, serta setting kota Batam yang digunakan memberikan warna tersendiri dalam novel ini. Sayangnya, ide-ide yang menarik tersebut tidak diringi dengan eksekusi yang baik.
Misteri tentang sosok Hazel dan Diaz misalnya, keduanya tidak diceritakan dengan jelas. Juga tentang masalah-masalah yang menimpa Bread Time, yang secara tiba-tiba selesai dengan sendirinya, membuat pembaca merasa ada ruang kosong dalam penyelesaian masalah tersebut.
Pemilihan judul juga menjadi salah satu catatan dari novel ini. Ketika mengeja kata Tarapuccino, hal pertama yang muncul di benak pembaca mungkin adalah kisah yang berhubungan dengan kopi. Sayangnya dalam kenyataannya isi dari novel ini tak menggambarkan judulnya. Selain itu saya masih agak rancu dengan penggunaan kata "secara" yang digunakan salah satu penulis.
Terlepas dari beberapa catatan atas novel tersebut, Tarapuccino merupakan sebuah novel yang mudah dinikmati.
Lama banget aku nyelesein ni buku. Dulu beli karena lagi hari terakhir diskon gede. Bentuknya pun kecil dan imut. Kertasnya lemes, enak buat dibaca dan dibawa. Dan keliatannya romantis. Tapi nggak juga ternyata, hihi. Masalah hati Tara yang mencintai Hazel atau Diaz, huummm.. kurang mak nyos. Maksudku, cuma begitu kok sampai jatuh cinta ya? Tara nggak kenal Hazel banyak, nggak banyak tahu kelebihannya. Bukannya perempuan jatuh cinta kalau banyak tahu kelebihan laki2? Trus di akhir, kalau Diaz ini buron, kenapa dia bisa bikin usaha yang cukup sukses ya? Atau aku mungkin yang kelewat bacanya ya?
romancenya kurang dieksplor karena porsi konspirasi bisnis disini lebih banyak. trus kenapa namanya tarapuccino? yg suka capucinno cinnamon itu bukannya si hazel a.k.a diaz itu? tara sendiri kurang memiliki sesuatu yang menciri kecuali peach itu tadi. kirain Bread Time menyimpan histori Tara, maksudku aku bahkan ga tau roti apa yang sangat disukai Tara. atau memang Bread Time tidak dimaksudkan menjadi bisnis yang berfilosofi.
duh, apa deh komennya ziyy ini. -.-a apa karena skimming bacanya ya sampe direview malah keluar pertanyaan2?
wow... membaca novel ini sanagt menyenangkan. sukaaaa sekali. karena topik utama bukan tentang cinta,menjadikan novel ini keren banget (ada hubungannya nggak ya?)
Novel ke-2 dari Mba Lyta yang saya baca. Suka dengan gaya bahasanya :) Ukuran buku yang lumayan mini tambah bikin jatuh hati. Tetapi, temanya biasa sih :D