Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Dance of Change: Menemukan Kearifan Melalui Kisah-Kisah Kebijaksanaan Timur

Rate this book
Krisis finansial, perubahan iklim, terorisme, dan berbagai persoalan global lain sebenarnya muncul karena manusia belum memahami siapa dirinya dan apa makna keberadaannya di Bumi. Manusia belum menyadari bahwa ia bukan pusat dari segalanya. Di tengah alam raya yang maha luas, alih-alih manusia, Bumi planet huniannya ternyata bukan pusat, hanyalah sebutir debu yang tak punya arti.

Sudah saatnya manusia mengubah cara memandang dunia. Nafsu menaklukkan dan mengeksplorasi alam dan sesama manusia harus dikikis habis. Manusia harus berpikir dan bertindak selaras dengan tarian alam yang terus berubah.

Buku ini berisi kisah-kisah yang merefleksikan Kearifan Timur, sebagaimana telah dikisahkan oleh orang-orang bijak pada masa lampau. Cerita-cerita ini diharapkan dapat ikut mengubah paradigma dan cara kita memandang dunia dan sesama.
Setelah membaca karya Jusuf Sutanto - Ahli Filsafat Timur ini - siapa saja, mahasiswa, pemimpin, dan calon pemimpin diharapkan kemudian bermetamorfosa menjadi the dancing leader, pemimpin yang menari mengikuti irama gerak alam yang harmonis.

Soegeng "Buku ini menyadarkan kita bahwa Bumi tempat kita berpijak dan teleskop yang dipakai untuk mengamati galaksi di angkasa luar merupakan satu kesatuan yang kait-mengait dan terus bergerak bersama ..."

Dr. Ir. Siswono Yudo "Rangkaian ceritera pendek dengan benang merah soal pentingnya manusia belajar dari harmoni alam raya ..."

Prof. Dr. Komaruddin "Kita semua hidup dalam kesatuan yang beragam, dan keragaman dalam kesatuan... bhinneka tunggal ika itu tidak saja berlaku dalam kehidupan berbangsa. Secara ontologis semesta ini adalah tunggal, namun sekaligus juga plural..."

Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa "Apa yang dikatakan Kliping ( 1865-1936): East is East, and West is West, and never the twain shall meet, sudah tidak berlaku lagi karena ternyata yang bertentangan saling melengkapi. Unity in diversity..."

308 pages, Paperback

First published December 1, 2009

19 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (7%)
4 stars
3 (21%)
3 stars
6 (42%)
2 stars
3 (21%)
1 star
1 (7%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,438 reviews73 followers
February 19, 2017
Inti buku ini apa ya? Sepenangkapanku, agar bisa beradaptasi terhadap segala perubahan secara positif, kita harus fleksibel dan berdamai dengan alam sekitar. Mengendalikan tarian pemikiran kita, mengendalikan tarian perilaku kita. Dan untuk itu, kita juga perlu bisa memahami dinamika tarian orang lain atau tarian alam di sekeliling kita. Memahami demi mendapatkan harmoni.

Ada komentar ahli di bagian menjelang akhir buku yang mengatakan buku ini memang bukan buku ringan. Sedangkan aku malah berpikir, "Kenapa harus dibuat berat?" Dari awal buku ini mengambil tema-tema besar. Mulai demokrasi, pemilu (mungkin diterbitkan sebelum pemilu beberapa tahun lalu?), kelestarian alam, modernisasi, dan sebagainya. Semua itu sayangnya ditulis dengan gaya bahasa yang menurutku terlalu kaku, berbelit-belit, dan nggak konkrit. Nggak bikin aku sebagai pembaca bisa merasa masuk dalam masalah dan merasa peduli.

Yang aku suka tentu saja kutipan kata-kata bijak dan cuplikan kisah-kisah yang kebanyakan diambil dari cerita Zen, Taoism, dan Confusianism.

Misalnya kutipan: Bacalah 10 ribu buku dan berjalahlah 10 ribu kilometer. Maksudnya dengan membaca buku kita akan banyak tahu, dan dengan melakukan perjalanan kita bisa membuktikan validitas isi buku. Kembali ke soal buku, dia juga mengutip kisah seseorang yang menyindir kaum terpelajar yang tampaknya sangat gemar membaca buku. Orang itu berkata, "Buat apa membaca buku karangan orang bijak dan mengagumi penulisnya. Bukankah itu sama saja dengan memakan pemikiran orang yang sudah mati?" Maksudnya kalau cuma dibaca dan nggak dipraktekkan kita nggak akan pernah sebijak para penulis yang kita kagumi. Karena kita nggak merasakan secara langsung proses pencarian kebijakan itu.

Ada juga cerita tentang seorang ibu yang sedang mengamati anaknya bermain dengan katak dan tertawa-tawa. Ternyata si anak memotong kaki katak itu. Ibunya tak marah, tapi berkata, "Bagaimana jika ada orang yang memotong kakimu dan bermain-main dengannya?" Anak itu terdiam dan mulai menangis. Sang ibu melanjutkan, "Kini kamu bisa merasakan kesakitan sang katak."

Cerita soal Lee Kuan Yew pun membuatku terhenyak. Demi menaikkan harga diri warga Singapura sebagai penduduk negara kecil, ia pernah berkata, "Burung pipit kecil pun punya organ lengkap untuk hidup." Begitulah.

Buku ini mengkritik banyak orang yang dididik untuk melakukan hal luar biasa. Sehingga orang-orang pun saling berkompetisi berusaha menjadi yang paling teratas. Padahal, air selalu mengalir ke bawah. Sehingga ambisi untuk saling mengalahkan dan saling mengungguli sebenarnya bertentangan dengan hukum alam.

Penjelasan soal filosofi di balik beberapa huruf kanjinya juga menarik. Ia juga menyisipkan huruf-huruf asing di belakang buku, tapi nggak dijabarkan itu huruf apa dan maksudnya apa. Cuma terjemahan bahasa Jawa yang dicantumkan. Sepertinya berisi nasihat juga. Mungkin ditulis dengan sansekerta.

Begitulah. Aku sempat merasa kelam sejenak setelah membaca buku ini. Bagaimana pun, seharusnya penulis juga menerapkan prinsip "air selalu mengalir ke bawah" dalam penulisan bukunya agar bahasanya jadi lebih ringan dan gampang dicerna. Topik juga sebaiknya tidak dibuat terlalu acak. Melainkan berkesinambungan. Karena pembahasannya seringkali dibuat rumit itulah aku jadi terlalu lelah untuk mencari benang merah tiap babnya.

Tapi yah, kutipan-kutipan kisahnya bagus, sih. Sebagian pernah baca. Sebagian belum.
1 review
March 7, 2010
Mengurai Kembali Sisi Kearifan Timur

kompas cetak,Minggu, 21 Februari 2010 | 03:09 WIB


Kisah-kisah kearifan masa lalu, terutama kisah kearifan Timur, semakin luas digunakan sebagai rujukan dalam setiap persoalan yang muncul. Sejauh mana relevansi filosofi kehidupan itu mampu memaknai kekinian hidup?

Berkat kemajuan teknologi informasi, kejadian di satu tempat bisa disebarluaskan ke seluruh dunia pada saat yang sama. Hal itu dapat dilihat dari reaksi yang muncul di sejumlah tempat. Fenomena inilah yang disebut Jusuf Sutanto sebagai Tarian Perubahan atau The Dance of Change.

Gambaran gajah raksasa liar yang sedang menari diberikan terhadap The Dance of Change yang, menurutnya, tidak dapat diprediksi ke mana arah gerak tariannya. Pun tidak ada yang dapat membendung geraknya. Ketika mencoba menjinakkan gajah melalui kakinya, maka disepaknya. Ketika menjinakkan dengan memegang ekor, akan diseretnya. Ketika menjinakkan melalui belalai, akan diempaskannya. Ketika menjinakkan melalui kepala atau perutnya, tangan tidak bisa menggapai untuk merengkuhnya. Apakah mungkin menjinakkan melalui lututnya?

Jawabnya tidak (hal xvi). Menurut Jusuf, yang dibutuhkan adalah pemimpin yang turut menari bersama. Ia menyebutnya The Dancing Leader. Itulah kearifan yang dibutuhkan.

Kearifan Timur

Melalui cerita-cerita pendek yang sarat hikmah, Jusuf mengajak kita memahami filosofi hidup, here and now. Ia mengajarkan gagasan kemanunggalan antara konsep dan perbuatan. Juga mencoba meracik kearifan-kearifan masa lalu dan mencari relevansinya terhadap masa kini serta ke depannya.

Dalam penulisannya, ia menggunakan simbol-simbol yang sarat makna. Sekejap dari sampul buku, mungkin hanya melihat sekadar huruf Kanji belaka. Akan tetapi, jika ditelisik lebih jauh, huruf Kanji pada sampul adalah gambaran mengenai keharmonisasian yang terjadi pada alam. Secara umum buku ini mencoba mengangkat kembali kearifan Timur, terutama Tai Chi, yaitu mengenai keharmonisan antara unsur feminin (Yin) dan unsur maskulin (Yang). Huruf atas pada sampul depan melambangkan ketegasan karakter unsur maskulin, sedangkan huruf bawah merupakan simbol kemengaliran unsur feminin.

Melalui filosofi seni kaligrafi, Jusuf mencoba mendobrak pola tulis manusia modern yang hanya terpaku pada tetikus dan keyboard. Dalam sebuah perkuliahan, dengan logatnya yang kental khas Jawa, ia berkata: ”Anak-anak zaman sekarang mulai dikungkung daya kreativitasnya dengan mouse dan keyboard yang kaku dan monoton. Mereka tidak lagi diajarkan bagaimana tangan menari di udara ketika menulis kaligrafi. Mereka tidak diajarkan bagaimana tangan menyatu dengan kuas membentuk guratan tulisan yang indah.... The Creator melukis alam.”

Layaknya kearifan Timur lainnya—Yahudi, Kristen, Islam, Kejawen, Zoroaster, dan lain-lain—melalui Tai Chi, Jusuf menekankan adanya hubungan harmonis antara manusia dan alam. Juga bagaimana alam mengajarkan manusia untuk mengenal Tuhan-nya. Jusuf mengutarakan kritik halus terhadap modernisme yang melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap alam. Misalnya, kritik atas paradigma scientism yang memandang bahwa segala sesuatu dikatakan ilmiah jika dapat diukur melalui indera, yang berujung pada nihilisme. Tampaknya, Jusuf menapaki jejak pemikiran Fritjof Capra yang banyak melakukan kritik terhadap ketimpangan yang terjadi dalam pola hidup manusia modern dan tradisi. Dalam hal ini, tentu saja Tai Chi adalah solusi yang ia tawarkan.

Pemahaman filosofis

The Dance of Change tergolong buku yang memberikan pencerahan. Hampir semua cerita yang disampaikan diberi catatan penjelas walau sebagian tidak. Jusuf masih memberikan ruang bebas kepada pembaca untuk melakukan kontemplasi demi memperoleh kesadaran dengan sendirinya. Ini dilakukan agar cerita yang disajikan tidak hanya bersifat informatif belaka, tetapi mampu mendarah-daging dalam diri pembaca.

Jangan pernah mengaku sebagai pencinta alam dan jangan pernah bicara bagaimana mengatasi krisis ekologi jika belum pernah membaca buku ini. Menjadi pencinta alam bukanlah sebuah tren atau gaya hidup yang harus diikuti. Jika menjadi pencinta alam hanya karena tren, akan luluh-lantak digilas tren yang datang dari efek The Dance of Change.

Seperti banyak dikisahkan, cinta terhadap alam adalah buah dari kesadaran mengenai Tuhan, diri, dan alam. Wuwei adalah istilah yang memiliki banyak makna, yang digunakan dalam ajaran Tao mengenai hubungan antara manusia dan alam. (Xiaogan Liu. ”Non-Action and the Environment Today: A Conceptual and Applied Study of Laozi’s Philosophy’)

Di luar persoalan itu, ada beberapa kesalahan kecil berkenaan dengan teknik penulisan. Penempatan tanda baca yang kurang tepat serta kalimat-kalimat panjang memiliki dampak terhadap pemahaman si pembaca. Alih-alih hanya satu-dua kalimat saja, hampir setiap cerita kerap kali kita temukan.

Selain itu, ketika menjelaskan istilah dalam kaligrafi, baiknya diikuti dengan simbolnya. Seperti pada bagian pengantar, sewaktu menjelaskan bagaimana terbentuknya kata sabar. Jusuf tidak memberikan simbol untuk kata pisau, hati, dan kata sabar itu sendiri sehingga pembaca yang tidak mengenal huruf tersebut akan kesulitan memahami sisi filosofis dari huruf dalam sampul depan.

Buku ini sungguh tepat diapresiasi sebagai referensi untuk mengenal filosofi kehidupan dari kearifan Timur. Jusuf cukup luas mengurai betapa pentingnya menguak kembali kearifan Timur dan mencari relevansinya untuk kehidupan kekinian. Meski demikian, kita boleh juga menyampaikan catatan kritis tentang sejauh mana dan atas dasar apa kearifan Timur layak untuk dikaji ulang.

Ngabdulloh Akrom, Mahasiswa Program Studi Islamic Studies di Islamic College for Advanced Studies (ICAS), Jakarta
Profile Image for Paiman Chen.
321 reviews8 followers
November 3, 2019
Biarkan ratusan sungai menuju samudera.
Tujuan kaligrafi adalah membjna mentalitas, bukan belajar bahasa.
Profile Image for Nadya Uli.
18 reviews
January 13, 2023
rasanya sulit untuk dipahami, meskipun banyak kisah-kisah menarik tapi butuh waktu cukup lama & re-reading untuk tau maksud penulis. Terlalu kompleks jg. hehe
Profile Image for Anne Chasny.
1 review1 follower
June 15, 2015
Manusia harus berpikir dan bertindak selaras dengan tarian alam yang terus berubah.
Profile Image for Rininta.
18 reviews49 followers
January 12, 2018
Pesan-pesan disampaikan lewat cerita-cerita pendek yang mengena.. Menggunakan metafora dari alam yang menggugah kita untuk lebih memperhatikan sekitar :) nice!
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.