Jump to ratings and reviews

Cerita tentang Rakyat yang Suka Bertanya: Kumpulan Cerita Pendek

"Sebagai ide demokrasi memiliki pengaruh yang membebaskan, tetapi sekaligus mengikat orang dalam satu tatanan hidup bersama. Kita sering membicarakan hak dasar yang selama ini selalu diabaikan pemerintah melalui penggambaran yang serius dan kaku dalam berbagai konsep politik. Jarang sekali demokrasi dilihat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Kumpulan cerita pendek ini adalah sebuah upaya untuk menghadirkan demokrasi dalam bingkai kehidupan sehari-hari."

Mari berdemokrasi dalam kehidupan masing-masing.

186 pages, Mass Market Paperback

First published January 1, 2010

Loading...
Loading...

About the author

A.S. Laksana

25 books61 followers
AS Laksana (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 25 Desember 1968) adalah seorang sastrawan, pengarang, kritikus sastra, dan wartawan Indonesia yang dikenal aktif menulis cerita pendek di berbagai media cetak nasional di Indonesia. Ia belajar Bahasa Indonesia di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang (kini Universitas Negeri Semarang) dan Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Dia juga menjadi salah satu pendiri majalah Gorong Gorong Budaya.

Laksana pernah menjadi wartawan Detik, Detak, Tabloid Investigasi, dan kemudian mendirikan dan jadi pengajar sekolah penulisan kreatif Jakarta School. Kini dia aktif di bidang penerbitan.

Kumpulan cerita pendeknya, Bidadari yang Mengembara, dipilih oleh Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik 2004.

(wikipedia)

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (28%)
4 stars
5 (23%)
3 stars
10 (47%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for lita.
440 reviews68 followers
February 4, 2010
Apa jadinya penguasa, bila rakyatnya suka bertanya?

Merujuk kejadian-kejadian yang telah terjadi di negara ini, ada tiga kemungkinan yang akan dilakukan penguasa dalam menghadapi rakyat yang suka bertanya:
1. Mendiamkan dan menganggap aneh rakyat yang suka bertanya
2. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh rakyat yang suka bertanya, baik secara bijaksana maupun melalui dagelan semacam pansus atau tim khusus
3. Menghilangkan secara paksa

Ketiga kemungkinan tersebut dialami oleh rakyat-buruh-tani-yang-suka-bertanya, tokoh tanpa nama dalam cerpen ‘Cerita tentang Rakyat yang Suka Bertanya’ karangan FX Rudy Gunawan. Si rakyat-buruh-tani-yang-suka-bertanya ini memang suka bertanya hal sepele, seperti "bolehkah seorang pemimpin tidur siang?" Pertanyaan sepele, tapi sebenarnya sangat mendasar dan menyangkut banyak hal tentang konsep kepemimpinan, kualitas kepemimpinan, dan keharusan-keharusan moral seorang pemimpin (hal. 40).

Dan pertanyaan yang diungkapkan si rakyat-buruh-tani-yang-suka-bertanya ini pun mengundang berbagai reaksi dari penguasa, juga orang-orang yang dekat dengan penguasa, mulai dari hanya memelototinya, mendampratnya, menganggapnya gila, sampai melakukan sesuatu hingga si rakyat-buruh-tani-yang-suka-bertanya ini hilang.

Tapi, apa sebenarnya pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dalam kumpulan cerpen ini?

Irwan Dwi Kustanto, penyair tuna netra ini mempertanyakan hak-hak orang buta dalam Monolog Tongkat: Catatan Harian Seorang Penyair Buta. Ia meminta penguasa untuk memperhatikan, menganggap ada, dan memenuhi hak mereka.

Serombongan orang buta bernyanyi sepanjang jalan
Mereka berbisik-bisik saat musim merintih perlahan
Langit senyap seketika
Kembali sunyi dalam pesona
Kita dengar sayup-sayup ketukan tongkat mereka
Jejak terbaca, kita pun sedia mendengarkannya,
Setia membuka mata
Dunia bicara, kita pun mengerti
Tiba-tiba segala menjadi terbuka
Tatkala malam tak lagi ada suara
Tatkala tak ada lagi yang bersedia menukar mata dengan cinta
Dan, tatkala tak ada lagi yang terbata-bata
Membuka mata
(hal 60)

Gelutan hati Irwan D. Kustanto tersebut merefleksikan pertanyaannya, akan hak seorang buta yang menginginkan aksesibilitas lingkungan untuk memperoleh pendidikan, mengembangkan sumber daya mereka untuk berkarya, dan memiliki wakil-wakil yang menyuarakan kepentingan mereka di parlemen.

Sementara, Martin Aleida dalam cerpennya Wasiat untuk Cucuku mempertanyakan hak anak sekolah atas transportasi yang bisa melindungi mereka dalam perjalanan menuju dan dari sekolah.

”Janganlah kau tumbuh dan menjadi besar di ibukota ini. Membayangkannya saja aku menangis. Tak tahu aku apa yang akan terjadi padamu nanti kalau kau dibawa ke sini. Di sini anak-anaknya bukan dimanja dengan lagu-lagu yang lembut. Bukannya dikasihi. Mereka dizalimi, malah. Mungkin kau tak percaya. Tapi, mata kepalaku sendiri yang melihat bagaimana mereka diadu domba pemerintah dengan para supir bus. Pemerintah menetapkan anak-anak sekolah membayar ongkos cuma setengah dari tarif umum. Memang, seperti angin surga kedengarannya. Tapi, apa yang terjadi? Para supir bus, karena mengejar setoran untuk pemilik kendaraan, menolak anak-anak naik. Kondektur memalangkan kaki di pintu, supaya kawan-kawanmu tak bisa masuk. Mereka hanya memberikan jalan untukorang dewasa yang membayar penuh. Anak-anak menangis. Bukan karena perlakuan sekasar itu, tapi karena kehilangan kesempatan belajar.” (hal 107)

Keran demokrasi yang dianggap telah terbuka saat Reformasi 1998 meletus, nyatanya cuma berlaku bagi segelintir orang yang mengatasnamakan kepentingan rakyat demi kepentingannya sendiri. Tapi bagi mayoritas rakyat negara ini, demokrasi masih sebatas mimpi.

Randu, misalnya. Tokoh dalam cerpen Menjadi Anjing karangan Miranda Harlan ini tak punya kesempatan untuk bertanya, mengapa ia – yang bersemangat membangun negara dengan menjadi guru honorer di daerah terpencil di Kalimantan sana – hanya mendapatkan gaji yang tak pernah cukup untuk hidup lebih dari satu minggu. Gaji yang harus dirapel setiap tiga bulan dan diambil sendiri dengan menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan. Atau tokoh yang menjadi judul cerpen karangan Oka Rusmini: Grubug, yang tak pernah bisa bertanya mengapa ayahnya hilang, dan ibunya dibakar setelah diperkosa beramai-ramai saat ia masih kecil. Di masa tuanya, Grubug pun masih harus berurusan dengan hukum, akibat tiga butir cocoa yang ia pungut di jalan, tanpa sempat bertanya apakah tindakannya itu salah.

Represi negara agaknya masih membungkam rakyat negara ini, membuat demokrasi yang selalu diusung saat pemilihan umum terasa semu. Represi yang semakin lama semakin kuat, meski cara yang dipilih kian halus. Sebut saja UU Informasi dan Transaksi Elektronik, Rancangan Peraturan Menkominfo tentang konten multimedia, dan yang marak jadi perdebatan: pelarangan buku. Agaknya, penguasa lebih memilih rakyatnya untuk jadi apatis, sehingga jadi malas untuk bertanya. (lits)
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books308 followers
October 21, 2011
#2011-53

Malam ini jam 22.05.

Kereta api ekonomi dari Tanah Abang menuju Depok-Bogor. Kereta terakhir malam itu. Kelas tiga, isinya rakyat jelata. Hujan deras di luar, walau tidak diiringi petir bertalu-talu , membasahi kursi-kursi fiberglas warna oranye. Jendela tidak bisa ditutup, sehingga percikan air masuk melaluinya. Layak? Yah, namanya rakyat, cuma bisa menerima, sudah kebawa saja untung, tidak ketinggalan dan tidak harus berganti-ganti kendaraan sampai tujuan. Sampai Depok hanya 1500 rupiah. Sampai Bogor hanya 2500 rupiah. Murah, hanya seharga sebotol air mineral 600 ml kios pinggir jalan, sudah bisa memindahkan rakyat sejauh 80 km.

Kereta ini kosong. Bisa dibilang kosong, karena hanya ada sekitar 30-an orang di dalam gerbong. Semuanya duduk. Hanya ada dua perempuan di situ. Aku dan seorang perempuan berperawakan sedang berambut keriting yang sedang menggunakan ponselnya. Ia tidak takut dirampas ponselnya. Aku takut. Maka ponsel kutaruh di dalam tas yang kupeluk di dada. Dan aku memilih membaca buku ini. Buku Cerita tentang Rakyat yang Suka bertanya. Kumpulan cerpen yang bisa diputus-putus membacanya tiap satu cerita. Tak ada petugas keamanan yang tampak di kereta. Tak ada petugas pemeriksa karcis. Mungkin kereta ini bebas, mengangkut siapa saja yang butuh tumpangan ke Bogor. Disubsidi, untuk membawa rakyat bolak balik dari Jakarta ke Bogor.

Tadi pagi, aku sampai bagian cerpen Para Pencerita oleh Linda Christanty. Di sebelahku, seorang bapak-bapak tua dengan ransel jambon lusuh tidur selonjoran di bangku kereta yang kosong.Ia mengambil empat lima bangku sekaligus. Kepalanya beralaskan seikat karung plastik, entah isinya apa. Sebatang tongkat bambu diletakkan di sebelahnya. Di kananku, seorang bapak-bapak yang mengenakan kaos polo dan selalu mengamati stasiun-stasiun yang dilewati. Ia seperti tidak ingin kelewatan stasiun tujuannya (seharusnya memang semua penumpang tak ingin terlewat tujuannya). Mungkin bapak ini tak terbiasa naik kereta. Lalu lewat seorang pemuda ke arah gerbong belakang. Pemuda itu berperawakan bersih, namun bertato. Aku agak takut. Tapi toh, pemuda itu lewat saja tanpa mengusik orang-orang yang dilaluinya. Depan aku duduk, ada seorang bapak tertidur. Kemeja rapi, celana bahan, sepatu kulit, dan memeluk tas ransel. Naik dari stasiun Sudirman. Mungkin ia lelah bekerja setelah seharian memeras otak di gedung-gedung pencakar langit itu. Sampai pulang semalam ini pula. Mungkin ia memimpikan cepat sampai bertemu keluarganya di rumah. Mungkin juga ia memikirkan anaknya yang masuk SMP tahun ini. Di depan bapak berkaos polo ada anak muda membawa gitar. Mungkin ia habis main ke rumah temannya. Mungkin juga salah satu yang menjajakan suara di warung-warung makan di Tanah Abang ditemani gitarnya. Ia hanya mengenakan celana pendek, kaos oblong dan sandal jepit. Hujan belum berhenti. Melanjutkan dengan Menjadi Anjing dari Miranda Harlan.

Pedagang bebas mondar mandir di dalam gerbong kereta ini. Penjual tahu, penjual jeruk, pedagang jepit dan peniti. Penjual jeruk mengobral dagangannnya yang hampir habis. Sepuluh ribu saja, teriaknya, untuk empat kantong jeruk mini. Penghabisan, katanya. Penjual tahu dan jeruk memakai gerobak beroda yang diluncurkan di dalam gerbong. Bagaimana pengelola kereta mau melarang berjualan? Kita sama-sama cari makan. Ini cara yang halal daripada meminta-minta. Tak perlu dituntut hukum seperti yang dialami Grubug dalam cerpen Oka Rusmini.

Tak seperti biasanya, tak ada anak-anak kecil yang menyapu lantai gerbong sambil berjongkok, dan menengadahkan tangan meminta imbalan dan belas kasihan orang-orang yang duduk sepanjang gerbong. Tak ada juga pengamen dengan kotak musik tergantung di dada mengiringi suara nyanyian lagu dangdutnya. Mungkin karena hujan sehingga mereka malas keluar. Atau mungkin karena sudah malam dan anak-anak kecil penyapu itu sudah belajar di rumah. Mungkin pengamen tadi juga sedang mengajari anak-anaknya menyanyi di rumah.

Inilah rakyat sebenarnya. Yang berjuang untuk keluarganya dan tidak diperhatikan oleh empunya negara di mana mereka tinggal. Yang kemarin ditemui Dahlan Iskan ketika ia naik kereta sejenis ini untuk pergi rapat ke Bogor. Kereta yang kalau pagi ke arah Jakarta terisi hingga satu setengah kali lipatnya kapasitas gerbong. Satu kapasitas gerbong, setengahnya lagi di atap kereta. Penumpang atap bodoh bernyawa tujuh. Tidak penting keselamatan, yang penting bisa duduk dengan berangin daripada berdesakan dalam gerbong. Inilah rakyat yang berpeluh keringat dalam satu kotak benda transportasi yang akan membawa mereka sampai tujuan. Dan mereka hanya bisa pasrah ketika jumlah kereta ekonomi dikurangi dan diganti dengan kereta AC yang lebih mahal ongkosnya. Mereka bertanya tapi tidak didengar. Maka semakin sempitlah kotak gerbong diisi oleh wajah-wajah rakyat yang jujur lelah.

Cerpen terakhir tamat. Juru Runding oleh Puthut EA. Tentang seorang lulusan SD yang karena ketekunannya bisa menjadi orang berpengaruh. Sehingga banyak orang-orang yang membutuhkan jasa dia untuk menegosiasikan sesuatu. Mungkin perlu seorang Mbarno sebagai Juru Runding antara rakyat dan pengelola kereta?

Kereta masuk stasiun UI. Bapak berkaos polo itu bertanya, sudah sampai mana? UI, jawabku. Ia tidak percaya, ia berjalan ke pintu kereta untuk melihat keadaan sekeliling, lalu kembali duduk di sebelahku. Benar UI, mbak. Di stasiun berikutnya ia turun. Masuk stasiun Depok Baru bapak dengan ransel jambon lusuh berdiri dan beranjak turun. Sekarang di deretku tinggal aku dan dua anak muda yang mendengarkan earphone dari ponsel yang digenggamnya. Di luar terdengar suara ting tong ting tong tanda kereta melintasi jalan raya dan palang persimpangan ditutup. Aku berdiri. Lantai gerbong masih basah terkena terpaan hujan dari luar akibat pintu dan jendela yang tak bisa menutup. Kereta berhenti di stasiun Depok Lama. Aku turun. Kupandangi kereta rakyat itu. Orang-orang yang beragam. Sama, aku juga rakyat. Lalu aku bergegas berlari supaya tak kehabisan ojek.

Aku bertanya, kenapa sarana untuk rakyat keadaannya demikian menyedihkan ya? Mungkin juga bukan pengelola kereta yang salah. Pengguna yang merusakkannya juga. Pengelola berulang kali memperbaiki. Hujan belum berhenti. Untung tidak ada gangguan sinyal. Untung tidak ada kabel listrik tersambar petir, langganan penyebab keterlambatan kereta kalau hujan. Terima kasih, kereta rakyat.

Depok lama. 23.10.
27.12.2011

Displaying 1 - 3 of 3 reviews