Jump to ratings and reviews
Rate this book

Orang dan Bambu Jepang

Rate this book
Selama 22 tahun Ajip Rosidi bermukim di Jepang. Sebagai gai-jin (orang asing) disela-sela kesibukannya mengajar di universitas, ia banyak mengamati berbagai segi kehidupan masyarakat Jepang. Buku ini menghimpun 28 esai mengenai kehidupan masyarakat Jepang yang ditulisnya dalam tahun terakhir ia mengajar di Osaka Gaikokugo Daigaku ( Osaka Gaidai )

208 pages, Paperback

First published January 1, 2003

7 people are currently reading
79 people want to read

About the author

Ajip Rosidi

137 books55 followers
Ajip Rosidi (dibaca: Ayip Rosidi) mula-mula menulis karya kreatif dalam bahasa Indonesia, kemudian telaah dan komentar tentang sastera, bahasa dan budaya, baik berupa artikel, buku atau makalah dalam berbagai pertemuan di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Ia banyak melacak jejak dan tonggak alur sejarah sastera Indonesia dan Sunda, menyampaikan pandangan tentang masalah sosial politik, baik berupa artikel dalam majalah, berupa ceramah atau makalah. Dia juga menulis biografi seniman dan tokoh politik. Pendidikan formalnya SD di Jatiwangi (1950), SMP di Jakarta (1953) dan Taman Madya di Jakarta (tidak tamat, 1956), selanjutnya otodidak.

Ia mulai mengumumkan karya sastera tahun 1952, dimuat dalam majalah-majalah terkemuka pada waktu itu seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang/Siasat, Indonesia, Zenith, Kisah dll. Menurut penelitian Dr. Ulrich Kratz (1988), sampai dengan tahun 1983, Ajip adalah pengarang sajak dan cerita pendek yang paling produktif (326 judul karya dimuat dalam 22 majalah).

Bukunya yang pertama, Tahun-tahun Kematian terbit ketika usianya 17 tahun (1955), diikuti oleh kumpulan sajak, kumpulan cerita pendek, roman, drama, kumpulan esai dan kritik, hasil penelitian, dll., baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda, yang jumlahnya kl. seratus judul.

Karyanya banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dimuat dalam bungarampai atau terbit sebagai buku, a.l. dalam bahasa Belanda, Cina, Inggris, Jepang, Perands, Kroatia, Rusia, dll. Bukunya yang dalam bahasa Sunda, a.l. Kanjutkundang (bungarampai sastera setelah perang disusun bersama Rusman Sutiasumarga, 1963), Beber Layar! (1964), Jante Arkidam (1967), DurPanjak! (1967), Ngalanglang K.asusastran Sunda (1983), Dengkleung De’ngde’k (1985), Polemik Undak-usuk Basa Sunda (1987), Haji Hasan Mustapajeung Karya-karyana (1988), Hurip Waras! (1988), Pancakaki (1996), Cupumanik Astagina (1997), Eundeuk-eundeukan (1998), Trang-trang Kolentrang (1999), dll.

Ia juga mengumpulkan dan menyunting tulisan tersebar Sjafruddin Prawiranegara (3 jilid) dan Asrul Sani (Surat-surat Kepercayaan, 1997). Ketika masih duduk di SMP men-jadi redaktur majalah Suluh Pelajar (Suluh Peladjar) (1953-1955) yang tersebar ke seluruh Indonesia. Kemudian men-jadi pemimpin redaksi bulanan Prosa (1955), Mingguan (kemudian Majalah Sunda (1965-1967), bulanan Budaya Jaya (Budaja Djaja, 1968-1979). Mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP-FS) yang banyak merekam Carita Pantun dan mempublikasikannya (1970-1973).

Sejak 1981 diangkat menjadi gurubesar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daignku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehi-dupan sastera-budaya dan sosial-politik di tanahair dan terus menulis. Tahun 1989 secara pribadi memberikan hadiah sastera tahunan Rancage yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikannya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
13 (21%)
4 stars
21 (35%)
3 stars
21 (35%)
2 stars
4 (6%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
Profile Image for mahatmanto.
545 reviews38 followers
July 3, 2010
dengan cepat saya selesaikan buku ini.
catatan pribadi mengenai hal sehari-hari di jepang yang dilihat dari kacamata orang luar [gaijin:].
caranya melihat adalah dengan membandingkannya dengan situasi di indonesia. dan lebih dari itu, dia membandingkannya dengan cara merendahkan yang terjadi di negerinya sendiri dan menyanjung yang berlangsung di jepang.
"perawat rumah sakit di jepang itu selalu berdiri, siaga, selalu sibuk. berbeda dengan perawat di jakarta yang sempat-sempatnya nonton tivi".
tentang kebersihan dan sampah, tentang orang jepang yang tidak pernah bohong, dsb. ada sekitar 27-an tajuk.

sebagai pengantar okelah,
hanya saja jangan dibikin risih oleh pernyataan-pernyataan personal beliau yang menyisip di sana-sini. seperti ketika berkisah mengenai orang jepang yg tidak pandai bohong, tiba-tiba menyisiplah komentar mengenai presiden amerika yang maniak perang, gemar meneror orang muslim... [h.79:] dan setelah menyanjung kebaikan orang jepang yang menganut nilai-nilai islami, beliau mengakhiri tajuk ini dengan komentar bahwa "sayang sekali mereka tidak mengucapkan sahadat,..mereka minum sake, memuja berhala...dst"
memuja berhala?
ya ampun paak!
Profile Image for ukuklele.
463 reviews20 followers
January 4, 2021
Ajip Rosidi menjadi fellow The Japan Foundation sebagai pengajar bahasa dan kebudayaan Indonesia di Osaka Gaikokugo Daigaku (Osaka Gaidai atau Universitas Bahasa Asing Osaka) sejak 1981, Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996), dan Tenri Daigaku (1982-1994). Disebutkan bahwa ada 22 tahun beliau tinggal di Kyoto, Jepang, berarti kira-kira dari 1981-2003.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan pendek beliau tentang berbagai segi kehidupan di Jepang yang pernah dimuat di Pikiran Rakyat. Setelah Pengantar, ada 27 judul tulisan dan diakhiri dengan Daftar Kata-kata Jepang.

Buku ini niscaya memberikan banyak pengetahuan tentang Jepang. Beberapa informasi telah saya temukan sebelumnya dalam buku lain tentang Jepang dari penulis Indonesia yang baru-baru ini saya tamatkan, All About Japan . Dengan demikian buku ini terasa melengkapi.

Malah kalau buku sebelumnya sekadar kumpulan informasi, buku yang satu ini diperkaya dengan hasil pengamatan, pengalaman, dan pandangan pribadi Pak AR.

Pak AR kerap membandingkan keadaan di Jepang dengan Barat (yang bukan hanya menjadi acuan Jepang melainkan juga mungkin kita semua!) dan Indonesia. Sering kali tertangkap kesan meninggikan Jepang dan merendahkan bangsa sendiri.

Meski begitu, bukan berarti tidak luput kekurangan serta sisi gelap Jepang apalagi dalam pandangan Pak AR yang notabene seorang muslim. Misalnya, orang Jepang ramah, sopan santun, serta rajin bersih-bersih hanya dalam lingkungannya sendiri namun arogan, kasar, dan malas bila tinggal di negara lain. Orang Jepang juga meninggikan bangsa Barat karena pernah mengalahkan mereka, sedangkan bangsa-bangsa yang pernah ditaklukkan dan dijajah mendapat kedudukan yang rendah. Contohnya dalam penerjemahan karya sastra; terjemahan penulis Barat laku keras sedangkan dari negara-negara berkembang seret dan mesti dibantu yayasan.

Sayangnya tidak dicantumkan waktu pemuatan (atau pembuatan) tiap-tiap tulisan. Keadaan Jepang sebagaimana yang digambarkan Pak AR bila tulisannya dibuat pada 1980-an mungkin saja sudah lain daripada sekarang (2020-an). Hanya bila Pak AR mengkritik pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru, maka saya menduga tulisannya mesti dibuat ketika sudah masa Reformasi.

Beberapa buku yang beliau rujuk:

- Mengenal Jepang, Ajip Rosidi
- Japanese Society, Chie Nakane
- The Chrysanthemum and the Sword, Ruth Bennedict
- Chimmoku (Sunyi) dan Umi to Dokuyaku (Laut dan Racun), Endo Shusaku
- The Lords of the Rim, Sterling Seagrave
Profile Image for Sukmawati ~.
79 reviews34 followers
December 28, 2018
Buku ini berisi catatan pengalaman sekaligus pengamatan Ajib Rosidi selama 22 tahun bermukim di Jepang sebagai gai-jin (orang asing, pendatang). Membaca buku ini bagaikan melihat Islam dalam 'tubuh' Jepang. Bahasa yang digunakan begitu sederhana, tidak bertele-tele. Cuplikan-cuplikan kejadian yang disuguhkan pun memang terbilang zaman bareto alias jadul, namun pada hakikatnya sarat makna dan pembelajaran bagi bersama. Salut!
Profile Image for Nadya Putri.
63 reviews4 followers
January 4, 2020
Buku ORANG DAN BAMBU JEPANG ini ditulis oleh AJIP ROSIDI pada tahun 2003 dan diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka Jaya. Buku milik Pakde Hada ini cetakan kedua, terbitan tahun 2009. Buku ini menceritakan tentang pengalaman hidup yang dialami Pak Ajip Rosidi saat menjadi pengajar di sebuah universitas di Jepang pada tahun 1981. Buku ini menceritakan tentang pengamatan Pak Ajip Rosidi sebagai Gai-jin (orang asing) yang tinggal di Jepang, pengamatan tersebut tentang berbagai hal yang terjadi di Jepang secara menyeluruh di semua bidang, dan juga terdapat banyak perbedaan dengan Indonesia.

Yang menarik dalam buku ini menurutku ada beberapa hal, yaitu:
- misalnya tentang naik kereta api di Jepang, yang bila kereta mengalami keterlambatan, pihak kereta akan memberikan pengumuman dan meminta maaf pada penumpang karena terlambat (di Jepang ini soal disiplin waktu sangat baik, beda dengan di Indonesia yang terbiasa terlambat/ngaret dan tak meminta maaf atas keterlambatannya).

- tentang orang Jepang yang tak pandai berbohong. Bila mereka terlambat, akan memberitahukan keterlambatannya. Bila menjual barang terdapat cacat, mereka akan langsung memberitahukan kecacatan barangnya. Rosidi, A. (2009: hlm. 83) mengungkapkan bahwa "Bagaimanapun menurut salah satu Hadis Rasulullah saw, berbohong itu merupakan salah satu dari tiga ciri orang munafik. Dua yang lain ialah tidak amanah dan ingkar janji. Anehnya ketiga hal itu, tidak bohong, tidak ingkar janji dan harus amanah merupakan nilai-nilai yang dapat kita temukan dalam kehidupan orang Jepang sehari-hari."

- tentang pekerjaan sebagai pilihan hidup. Di Jepang apabila memilih satu pekerjaan di sebuah perusahaan, selamanya akan seperti itu. Lalu apabila ingin mencalonkan diri sebagai calon pemimpin daerah (gubernur), harus mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya.

Buku ini mempunyai banyak istilah Jepang, namun jangan khawatir karena di bagian akhir ada daftar kata-kata Jepang. Buku ini enak dibaca karena diksi yang digunakan tidak susah dipahami, apalagi untuk istilah-istilah Jepang ada penjelasannya. Buku ini cocok dibaca bagi yang menyukai tentang Jepang.
Profile Image for Sagara.
74 reviews
April 8, 2023
Catatan seorang Gaijin karya Bapak Ajip Rosidi seorang akademisi yang mengajar bahasa dan kebudayaan Indonesia di Osaka Gaidai sejak tahun 1981 sampai tahun diterbitkan buku ini yaitu tahun 2003 persis 20 tahun lalu, saya tertarik dengan buku ini karna saya tertarik dengan budaya, tradisi serta SDM jepang serta bagaimana mereka bisa Semaju sekarang setidaknya sampai tahun 2003. Saya membeli buku di toko buku yang akan tutup sekitar tahun 2021 di @bukuintuisi tentunya dengan diskon saat itu.

Gaijin dalam bahasa Jepang artinya orang asing, bapak Ajip Rosidi menceritakan pengalamannya mengamati orang dan budaya Jepang dan membandingkannya dengan yang ada di Indonesia tentunya membandingkan dalam hal positif disertai dengan kritik dan keresahannya dengan keadaan Indonesia saat itu ketika dia masih ada di Jepang. Tentu ada saja positif dan negatif ketika penulis tinggal di sana namun setelah membacanya sepertinya lebih banyak positifnya.

Buku ini juga menceritakan bambu Jepang itu tumbuh terpisah-pisah berbeda dengan bambu Indonesia yang tumbuh berkelompok namun masyarakat Indonesia cenderung individualis (slide 2-3). Diceritakan juga bagaimana pelayanan rumah sakit yang harus ada asuransi, hukum ditegakkan, Agama dipisah dalam tatanan pemerintahan dan perayaan-perayaan yang ada di sana sungguh sangat menarik dan menambah wawasan bagaimana Jepang setidaknya menurutku masih banyak relate sampai sekarang mengingat orang Jepang itu sangat konsisten baik profesi maupun budayanya.

Terima kasih sudah membaca.
Profile Image for Ayu Novita.
80 reviews1 follower
May 2, 2023
Memahami kehidupan dan kebudayaan di Jepang dengan bahasa yang ringan dan reflektif. Salut untuk Pak Ajip!
224 reviews
November 14, 2011
Ajip Rosidi, bermukim selama 22 tahun di Jepang sebagai gai-jin (orang asing). Ia mengamati keseharian orang-orang jepang lalu menuangkannya dalam 28 esai yang dimuat dalam berbagai surat kabar lalu kemudian dibukukan ini.

Banyak kisah-kisah menarik yang diceritakan oleh Ajip Rosidi tentang Jepang, seperti sistem pemerintahan, sistem perkerataapian, perayaan-perayaan, dan sifat-sifat serta budaya orang Jepang yang menjadi wacana baru bagi saya.

Misalnya saja, dalam esai Perkertaapian, hlm 27, "...dalam sebuah kompleks stasiun kita dapat menemukan beberapa stasiun kereta api dari berbagai macam perusahaan yang mempunyai berbagai macam tujuan pula." yang merupakan sebuah pengetahuan baru bagi saya karena selama ini saya pikir lumrah dimana-mana perusahaan Kereta Api dimonopoli satu lembaga, seperti di Indonesia.

Dalam esai Berobat, hlm.88, "...Di Jepang, setiap orang (juru rawat dan juga dokter) seperti selalu berlari-lari."dan bahkan Ajip Rosidi menambahkan bahwa ruang jaga perawat disana tidak ada kursi sehingga saat bekerja mereka benar-benar total. Sebagai perbandingan dari kinerja juru rawat di RS Indonesia yang belum setotal perawat-perawat Jepang--yang saya amini, tentunya.

Meskipun begitu, Ajip Rosidi dengan sukses menggambarkan kearifan dan kesederhanaan budaya Jepang yang sampai sekarang masih dianut dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari oleh orang Jepang. Seperti yang digambarkan dalam esai berjudul Hanami dan Tahun Baru, bahwa orang Jepang tahu cara berpesta dan bersenang-senang. Kearifan dalam budaya berkata jujur dan mengembalikan barang yang bukan hak milik ke kantor polisi. Sebagaimana juga rasa tanggung jawab tinggi yang tercermin dalam pelayanan pegawai negeri di sektor publik dan pemerintahan yang patut kita teladani.

Pendapatnya tak lepas dari prinsip, pandangan, dan kebudayaan orang-orang Jepang yang familiar sekali bagi saya karena saya sering sekali baca komik-komik jepang sejak kecil. Hanya saja Ajip Rosidi terlalu berat sebelah dalam menceritakan sudut pandanganya. Menjelekkan negara sendiri disaat yang sama memuja negara lain terasa tidak pas. Maksudnya baik sih, demi membangun negeri yang masih carut marut karena pemerintahan yang buruk. Tapi lama-lama jadi terasa mengganggu. Mungkin sekali dua kali menyindir tidak masalah, tapi kalau terlalu sering bisa membuat pembaca risih. Malah terkesan kurang bijaksana dalam berpendapat. Walau beberapa esai terakhir orang Jepang itu sendiri pun lebih banyak disindir karena kekurangannya. Tapi, menurut saya, sindiran yang overlapping terhadap negeri sendiri dalam setiap esai justru mengurangi keindahan Jepang secara keseluruhan. Saya memang tidak pernah cocok dengan gaya bertutur dan kritik nyinyir meski beberapa orang menyukainya.

Sayang sekali buku ini terlalu tipis untuk diceritakan semuanya, jadi biarlah sepenggal saja yang saya ungkap. Sisanya bisa dilanjut baca sendiri. Hehe. Yang jelas, bagi pecinta Jepang, tak ada salahnya melengkapi koleksi bacaan dengan buku ini, lumayan buat pendalaman saat nanti baca komik, jadi bisa lebih memahami sistem keseharian yang akrab ditampilkan dalam keseharian karakter komik. Kumpulan esai Orang dan Bambu Jepang karya Ajip Rosidi dan buku-buku klasik terbitan Pustaka Jaya lainnya sekarang ini sudah bisa dipesan disini lho dan dapatkan discount 30% all itemnya. Akhir kata, selamat membaca :D

--review selengkapnya di http://sinopsisuntukmu.blogspot.com/2...
Profile Image for Astari Masitha.
53 reviews4 followers
February 13, 2015
Buku ini sengaja dipersiapkan guru saya untuk didiskusikan bersama, sebelum saya pergi ke jepang september mendatang.

Tanpa banyak basa-basi, saya membaca seluruh kompilasi esai yang ditulis oleh Ajip Rosidi dan saya cukup 'tertampar' oleh beberapa pernyataan dan fakta tentang jepang yang diutarakan, apalagi Ajip banyak membandingkan jepang dengan indonesia di dalam bukunya (meskipun tidak semua). Saya tidak merasa risih atau semacamnya, justru saya menyukai buku-buku yang sarkastik. Toh dia tidak hanya mengungkit indonesia, tetapi juga ada beberapa analisis tentang sistem manajemen barat yang terlalu kapitalis. Selain itu , buku ini juga meluruskan beberapa kesalahpahaman orang barat tentang kebudayaan jepang yang terkadang lebih mendudukkan pria di atas khususnya dalam berumah tangga, akan tetapi nyatanya kedudukan wanita tidak seutuhnya direndahkan, terkadang justru lebih omnipotent (terutama masalah siapa yang mengatur uang)–di bukunya lebih dijelaskan.

Ajip Rosidi mengutarakan fakta-fakta tentang jepang yang baik dicontohkan kepada Indonesia, dan saya tidak memandangnya sebagai sebuah pandangan orang asing yang mengalami polarisasi budaya. Di dalam buku ini Ajip mengingatkan kita, bahwa pada dasarnya kita memiliki nilai-nilai baik yang itu belum dipraktekkan secara menyeluruh dan mendalam, sedangkan di negara lain sudah menjadi kebiasaan. Padahal belum tentu di dalam masyarakat tersebut, khususnya dalam agama mereka diajarkan nilai-nilai baik tersebut.

Daripada saya kebanyakan cing-cong, sebaiknya Anda baca sendiri, buktikan sensitivitas budaya penulis dan orisinalitasnya dalam beropini! Selamat membaca
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
September 18, 2010
Memang tidak fair rasanya bila membandingkan Indonesia yang hanya berstatus sebagai negara berkembang dengan Jepang yang sudah duluan sebagai negara maju. Akan tetapi ada beberapa kesamaan antara keduanya sebagai bangsa yang berakar dari nilai-nilai budaya kehidupan masyarakat tradisional. Hanya saja, Jepang lebih dahulu mengadopsi segala pengaruh dari Barat sejak Restorasi Meiji tahun 1868 yang menandai berakhirnya kekuasaan Shogunal.

Membaca buku ini selain memberikan wawasan seputar kehidupan dan budaya dalam keseharian masyarakat Jepang berarti juga berkaca pada dinamika kehidupan masyarakat Indonesia. Maka, sangat dimungkinkan untuk melakukan semacam perbandingan singkat antara masyarakat kedua negara yang secara kasat mata memulai kembali pranata kehidupannya medio abad ke-20. Dari mulai urusan tetek bengek sampah, lalu-lintas kereta, hingga urusan Yakuza. Selain itu, beberapa esai juga kerap membuat kita tertawa sendiri (mungkin sambil tersenyum getir dan miris) menghadapi perilaku sebagian pengurus negeri ini yang masih berkutat dengan keruwetan birokrasi demi mengurusi rakyatnya.

Kumpulan esai ini ditulis dan dihimpun oleh Ajip Rosidi di sela-sela kesibukannya mengajar di Osaka Gaidai (Osaka University). Kesemuanya merupakan hasil-hasil pengamatan yang merupakan perspektif pribadi dan berasal dari rutinitas dan dinamika keseharian masyarakat di negerinya Toyota itu. Sehingga, walaupun nuansa subjektivitas terasa kental namun tidak mengurangi esensi objektivitas dan orisinalitasnya.


Pharmindo-Teluk Buyung, 15 September 2010. 12.03
Profile Image for Nara.
23 reviews3 followers
March 21, 2014
Buku yang cukup menarik buat selingan di tengah kesibukan. Bahasanya lancar, gurih, dan mudah dicerna. Sesekali Ajip Rosidi menyelipkan sarkasme yang membanding-bandingkan keadaan Jepang dengan Indonesia. Yah, tipikal Gaijin (orang asing) sebenarnya. Tapi mau apa lagi??

Buku ini, apabila dibandingkan dengan kumpulan tulisan di "Mengenang Hidup Orang Lain", tentunya masih kalah jauh. Mungkin karena peruntukannya pun berbeda. "Mengenang Hidup Orang Lain" ditujukan sebagai penghormatan, sedangkan buku ini lebih kental dengan unsur kenangan.


Terlepas dari itu, saya lumayan mendapatkan gambaran tentang detil-detil kecil dari orang jepang. Salah satu metafora paling menarik tentu saja yang akhirnya menjadi judul buku ini. Ajip menulis bahwa bambu Indonesia tumbuh bergerumbul dalam sebuah rumpun, tapi dalam kenyataannya orang-orangnya cenderug individualis.
Sebaliknya, rumpun bambu di Jepang tumbuh menyendiri, sedangkan orang-orangnya mampu bersikap kompak apabila menghadapi persaingan.
Terutama dengan para Gaijin.
1 review
June 10, 2011
sebagai orang yang sangat suka dengan Jepang, buku ini memberikan pengetahuan yang lebih mengenai jepang. namun memang ada beberapa kesalahan dalam penulisan. but overall, bagi yang suka jepang, this book is good
Profile Image for Echa.
48 reviews2 followers
September 10, 2012
Selalu ingin tau ttg kehidupan sehari-hari di Jepang dan selalu kagum dgn Kang Ajip. Bisa membaca perihal jepang yg ditulis Kang Ajip adalah hal yg tak permah disangka.

Profile Image for Ahmad Rajiv.
120 reviews2 followers
July 23, 2014
Buku yang sangat ringan dibaca namun mengandung informasi-informasi yang sangat berbobot.
Profile Image for Alfin Syah Putra.
5 reviews8 followers
November 7, 2016
Bapak Ajip sebagai Imigran di Jepang menguraikan dengan baik dan cekatan terhadap budaya dan perilaku orang Jepang. Bagus untuk mengisi waktu luang !
83 reviews2 followers
August 3, 2011
a memoar of an Indonesian, a gai-jin, in Japan. insightful.
Displaying 1 - 15 of 15 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.