Dalam kenyataan sejarah, agama sama sekali memang tidak dapat steril dari berbagai hasrat dan kepentingan manusiawi, sehingga dalam titik-titik tertentu agama kerap kali ditunggangi, demi interest dari kelompok tertentu. Konteks yang sedemikian lalu menyeret agama ke suatu wilayah yang cukup politis: ia menjadi semacam legitimasi sikap politis dari kepentingan suatu kelompok. Nama Tuhan, yakni “Sang Penguasa Agama”, dibawa-bawa ke sana kemari, mirip sebuah barang dagangan. Kalau sudah demikian kejadiannya, apakah yang terjadi sebenarnya bukan merupakan reduksi terhadap nilai luhur dari misi agama itu sendiri?
Kolom-kolom “klasik” Gus Dur--panggilan akrab Abdurrahman Wahid--yang terkumpul dalam buku ini kurang lebih berusaha menyoroti peranan agama dalam masyarakat yang sedang mengalami berbagai proses perubahan--politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan--, seperti juga sekarang ini. Dalam tulisan-tulisan yang awalnya dimuat di Majalah Tempo ini, tercium kesan yang cukup kuat akan suatu kekhawatiran terjadinya perselingkuhan agama dengan sebuah kepentingan politik kelompok tertentu--yakni dengan mengatasnamakan agama, atau bahkan Tuhan--sehingga akhirnya melahirkan suasana politik kekerasan atau kekerasan politik dengan dalih agama. (rindupulang.blogspot.com)
Kyai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah.
Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, adalah putra pendiri organisasi terbesar Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy`ari. Sedangkan ibunya adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, KH Bisri Syamsuri.
Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenni), Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.
Sebagaimana dikutip dari situs resmi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu, Gus Dur juga aktif berkunjung ke perpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku.
Di samping membaca, Gus Dur dikenal hobi bermain bola, catur dan musik. Bahkan Gus Dur, pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya itu mendapat apresiasi yang mendalam di dunia perfilman sehingga pada 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.
Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir.
Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya yaitu Sinta Nuriyah, putri H Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.
Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, Gus Dur bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang.
Tiga tahun kemudian beliau menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.
Pada 1974, Gus Dur diminta pamannya KH Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris.
Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri.
Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.
Pada 1979, Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai Wakil Katib Syuriah PBNU. Kiprahnya di PBNU semakin menanjak hingga akhirnya terpilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-`aqdi yang diketuai KH As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan Ketua Umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo, pada 1984.
Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada Muktamar NU ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta, 1989, dan Muktamar NU di Cipasung Jawa Barat, pada 1994. Jabatan Ketua Umum PBNU baru ditinggalkannya setelah Gus Dur menjabat Presiden RI keempat pada 20 Oktober 1999.
Guru bangsa, reformis, cendekiawan, pemikir, dan pemimpin politik ini menggantikan BJ Habibie sebagai Presiden RI setelah dipilih MPR hasil Pemilu 1999. Dia menjabat Presiden RI dari 20 Oktober 1999 hingga Sidang Istimewa MPR 2001.
Gus Dur meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, Rabu (30 Des 2009) sekitar pukul 18.45 WIB, karena sakit.
Kebanyakan tulisan Gus Dur di buku ini sudah terbit sejak tahun 1970-an, tetapi relevansinya masih berlanjut hingga sekarang. Sesungguhnya masalah agama, bangsa, dan budaya itu memang berpusar pada satu titik yang sama saja –identitas; maka tak heran kalau masalah yang ia jabarkan masih relevan hingga saat ini.
Perbedaan Gus Dur dengan mayoritas kritikus atau pengamat atau analis atau apalah orang-orang yang suka berpendapat di media sosial itu, adalah dia tidak menyerang. Membacanya sungguh membuat adem, dan saya yakin, ketimbang tersinggung orang-orang bakal justru merasa perlu refleksi diri. Seperti misalkan pada tulisan 'Salahkah Jika Dipribumikan?' yang membahas fenomena Arabisasi beragam hal supaya terkesan Islami. Atau soal kaum-kaum yang merasa perlu membuktikan keimanan mereka dengan cara marah di tulisan 'Mengapa Mereka Marah.' Gus Dur tidak menghakimi fenomena ini sebagai sesuatu yang salah atau keliru atau apalah. Ia lebih mengajak berpikir apakah memang hanya ada satu solusi untuk semuanya dan yang lainnya salah?
Saat mengulas kebudayaan pun ia mengambil sikap yang sama. Seperti misalkan pada tulisan '"Kwitang! Kwitang!"' yang mengulas penduniawian agama. Dari hal sederhana seperti seruan bis kota yang pada hari tertentu mengubah jalur untuk menarik 'mereka yang memakai baju serba putih dengan mahkota peci haji' dan 'penumpang perempuan memakai tutup kepala bulat dan kain kebaya warna pengajian.' Inti tulisannya adalah orang-orang yang memanfaatkan kebutuhan seseorang untuk bertemu dengan sang 'pemilik teguh' demi kepentingan ekonomi. Proses ini menunjukkan bagaimana agama telah begitu berkelindan dengan sektor lain kehidupan bermasyarakat sehingga tidak lagi sepenuhnya murni sebagai suatu ajaran. Mulai muncul industri, lembaga, ataupun aktor-aktor kecil seperti kenek bus itu yang memakainya sebagai selubung atas motif lain.
"Akibatnya, bukan ajaran agamanya yang disucikan, diagungkan, dan disyahdukan, tetapi upacara-upacara yang mendukungnya itulah yang diagungkan," tulis dia.
Sementara untuk bagian terakhir, politik luar negeri, Gus Dur menunjukkan kepiawaiannya mengulas politik Timur Tengah. Ia memberikan perspektif tentang sosok Ayatullah Komeini, Sadat, dan lain-lain serta relevansi atau pelajaran yang dapat diambil untuk Indonesia. Sejujurnya tak begitu menarik, tapi bisa lain cerita bagi yang paham dan memang menggeluti persoalan Mesir, Lebanon, dan lain-lain.
Kalau boleh mengibaratkan, buku ini seperti air kolam yang jernih dan tenang; bila dinikmati terasa damai, namun juga bisa untuk refleksi.
Bila engkau menganggap Allah itu ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau Dia menyulitkan kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikatnya.” (Al-Hujwiri)
Memahami Abdurrahman Wahid alias Gus Dur tak hanya cukup dengan melihat sepak terjang dan maneuver politiknya yang kontroversial. Akan tetapi, perlu juga melihat jejak-jejaknya di masa lalu melalui goresan tulisannya yang sungguh mencengangkan. Buku Tuhan tidak perlu di bela merupakan kumpulan tulisan Gus Dur di Majalah Tempo dasawarsa 1970-an dan 1980-an. Sikapnya yang nyeleh dan apa adanya membuat beberapa tulisannya membuat beberapa orang berdecak kagum. Salah satunya, saya.
Judul kumpulan esai Gus Dur ini sebenarnya diambil dari salah satu esai di dalamnya. Sekilas, judul ini bisa jadi "trigger" untuk tahu lebih jauh isi dalamnya atau membayangkan bahwa isi buku ini akan penuh dengan isu agama dan toleransi. Ternyata isinya tidak sepenuhnya tentang itu, tapi esai "Tuhan Tidak Perlu Dibela" memang menyinggung soal bagaimana menyikapi beda pandangan dalam Islam.
Ada 3 bagian dalam buku: "Refleksi Kritis Pemikiran Islam", "Intensitas Kebangsaan dan Kebudayaan", dan "Demokrasi, Ideologi, dan Politik: Pengalaman Luar Negeri".
Saya cukup menikmati 2 bagian pertama, karena Gus Dur berusaha memberi pandangan tidak hanya soal Islam, tapi juga soal budaya dan hubungan budaya dengan agama. Tidak melulu pula menjelaskan soal toleransi, Gus Dur juga berusaha memberikan pandangan bagaimana agama bisa berjalan beriringan dengan modernisasi dan menjawab persoalan kemiskinan.
Saya kurang bisa menikmati esai-esai beliau di bagian akhir, karena tidak begitu mengikuti isu Timur Tengah, tapi paling tidak ini bisa mendorong saya untuk mengulik lebih jauh isu yang beliau tulis.
Jujur, bagi saya buku ini lumayan "berat", karena mungkin bekal pengetahuan saya belum cukup untuk paham sepenuhnya isi esai beliau.
Judul buku ini memang cukup provokatif. Di antara ingar bingar seruan untuk terus membela agama Allah di luar sana, judul ini semacam antitesis yang bisa bikin murka sebagian pemeluk. Mengapa kita tidak perlu membela-Nya? Bukankah kewajiban kita sebagai umat yang bertakwa untuk membela ajaranNya. Nah, coba kalau pertanyaannya dijawab dengan kutipan halaman 67 di buku ini.
"Allah itu Maha Besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada, apa pun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya."
kemudian, di halaman 68
"Islam perlu dikembangkan, tidak untuk dihadapkan pada serangann orang. Kebesaran Allah tidak berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Maka ia pun tenteram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri. Tuhan tidak perlu dibela, walaupun tidak juga menolak dibela."
Membutuhkan banyak kejernihan dan keterbukaan pemikiran untuk bisa mencerna pesan-pesan Gusdur. Tidak hanya seputar agama, tetapi juga banyak hal lain terkait pandangan beliau atas isu-isu sosial-kemasyarakatan. Seperti saya yang membutuhkan waktu hampir satu tahun untuk merampungkan membaca buku ini. Artikel-artikel di buku ini dulu pernah dimuat di majalah Tempo pada kurunmasa tahun 1970 hingga 1980-an. Beberapa bagian mungkin sudah tidak relevan lagi karena peristiwanya telah lewat (seperti Perang Iran - Irak) tetapi banyak juga pemikiran beliau yang saya kira masih dapat diterapkan di kurun masa milenial ini. Orang-orang jenius sering kali memang terlihat nyleneh dalam pandangan kebanyakan orang umum. Buku ini cukup lengkap merekam jejak pemikiran Gus Dur yang sering dikira nyleneh itu.
Buku ini merupakan kumpulan esai K.H Abdurrahman Wahid atau Gusdur yang pernah beredar di berbagai media dalam kurun waktu 1980-1990an. Terbagi dalam tiga bagian dengan tema yang berbeda-beda yang diulas dengan lugas. Bagian pertama: Refleksi Kritis Pemikiran Islam, bagian kedua: Intensitas Kebangsaan dan Kebudayaan, dan bagian ketiga: Demokrasi, Ideologi dan Politik. Meskipun tulisan lama, namun tema yang diusung Gusdur rasanya masih relevan hingga kini, berbagai persoalan yang dikemukan masih saja kita jumpai dewasa ini, seperti dalam tulisan yang menjadi judul buku ini, disaat orang banyak yang mati-matian membela atas nama agama dan Tuhan, Gusdur sudah jauh hari memperingatkan kita. “Allah itu Maha Besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada, apa pun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruh atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.” Meskipun pada bagian ketiga buku ini saya kurang bisa memahai dengan baik (barangkali karena pengetahuan saya yang kurang terhadap perpolitikan di Timur tengah) namun hal itu tak lantas menyurutkan saya untuk menyelami pemikiran Gusdur. Dengan kepiawaiannya merangkai kata-kata yang berisi dan sedikir parodi, membaca tulisan Gusdur selalu membuat perasaan adem dan menyejukkan, alih-alih menjatuhkan atau menyudutkan sasarannya, tulisan Gusdur memaksa kita merenung dan melakukan refleksi.
“Allah itu Maha Besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada, apapun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya. Bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau “Ia menyulitkan” kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya”
Paragraf diataslah yang membuat saya langsung merinding ketika pertama kali membaca buku ini. Seperti tersadar, kadang kita lupa bahwa Allah itu Maha Besar, perdebatan tak berujung kita atas hakikat-Nya sesungguhnya tidak ada gunanya, yang perlu kita yakinkan hanya diri kita sendiri, itu saja. Tidak perlu memaksakan pemahaman kita kepada orang lain.
Namun diluar paragraf diatas, buku ini sangat sulit untuk diikuti karena merupakan kumpulan tulisan-tulisan Gus Dur di majalah tempo sekitar tahun 1970-1990 sehingga kita perlu paham akan kondisi di masa itu agar bisa mengerti apa yang ingin coba disampaikan oleh Gus Dur melalui tulisannya. Jika tidak paham ya seperti saya, menghabiskan 2 bulan untuk menamatkan buku ini dan masih tidak mengerti juga.
Sebuah buku yang menarik. Tetapi cukuplah tiga bintang untuk itu. Kerana buku ini adalah kompilasi esei, dan tidak begitu banyak menyentuh atau memfokuskan tentang "Tuhan Tidak Perlu Dibela". Saya fikir saya kena membaca buku-buku lain oleh Gus Dur untuk memahami lebih dalam tentang pemikiran bekas presiden Republik Indonesia ini. Buku ini membahaskan banyak benda (adakalanya eseinya tak cukup difahami, kerana begitu tebal bahasa Indonesia atau situasi Indonesianya untuk kita fahami dan praktis atau kaitkan dengan budaya kita di Malaysia), dan melalui tulisan-tulisan Gusdur yang dikumpulkan ini, kita akan mendapati Gus Dur memang seorang ulat buku yang serius dan lahap membaca. Khazanah pemikirannya begitu luas. Dan dia kelihatan "tidak serius" ketika mengobarkan sesuatu permasalahan dan tidak berusaha menekankan pandangannya, meskipun dia punyai pandangan tersendiri dalam sesuatu isu. Dia boleh berbicara soal komunis, Kristian, Syi'ah, tanpa sekalipun menekankan anutannya atau melepaskan anutannya. Itu yang menarik pada pak kiai dari Nahdathul Ulama' ini.
Akan dibaca lagi di hari kemudian (mungkin diselak-selak sahaja selepas ini), tetapi cukup dulu sampai di sini, sampai jumpa lagi!
Tulisan Mbak Kalis Mardiasih membawa pembaca kepada buku ini, ingin mengenal tulisan Gus Dur.
Buku ini cukup merangkum tulisan-tulisan Gus Dur sehingga pembaca mengerti bagaimana pola pikir beliau. Mengingat pembaca lahir di tahun 90-an, surprisingly, buku ini mampu membawa tulisan-tulisan beliau kepada relevansi masalah di zaman ini, terutama pada bagian Refleksi Kritis Pemikiran Islam. Pembaca rasa buku ini bisa menjadi gerbang untuk mengenal tulisan Gus Dur 🙂.
Kutipan paling menarik: "Moralitas Islam adalah moralitas yang merasa terlibat dengan penderitaan sesama manusia, bukannya yang justru menghukumi mereka yang menderita itu."
Kumpulan tulisan Gus Dur di Majalah Tempo dasawarsa 1970-an dan 1980-an.
Kalau dilihat dari judulnya emang lumayan provokatif banget, maksudnya apa tuhan tidak perlu dibela sedangkan bukankah kewajiban kita sebagai umat-Nya untuk membela ajaran ajaran-Nya? Nah itu akan dijawab dalam buku ini.
Karena saya baru membaca buku ini tahun 2022 jadi ada beberapa permasalah yang susah diikuti, tapi biar begitu dalam buku ini pun masih ada beberapa hal relevan yang bahkan masih dibahas hingga saat ini.
Setiap buku berhak diberikan rating yang bagus. Namun untuk buku ini meskipun saya kasih lima bintang, saya masih gagal paham. Bukan bukunya yang salah melainkan saya yang kurang paham dengan temanya. Tema yang cukup berat karena butuh 3 tahun saya menyelesaikan buku dengan ketebalan 300 lebih. Apresiasi yang tinggi saya berikan kepada beliau alm. Gus Dur karena dapat menulis dengan sangat cakap mengenai dunia politik dan agama di Indonesia. Beliau menulisnya dengan sangat intelek.
sekarang tahun 2025 dan tulisan dalam buku ini masih relevan!!😭😭😭
tuhan tidak perlu dibela, pemerintah gak mendengarkan rakyat, dwifungsi abri, budaya korupsi, kemiskinan struktural, rakyat vs rakyat, nasi padang masih dan akan selalu menjadi makanan top tier KARENA ENAKKKK, iran, palestina, dan lain-lain. — so, i guess.. as a country WE GO NOWHERE!!😭😭😭
berarti selama ini, indonesia jalan di tempat doang???😭😭😭
Dari buku ini sebenarnya kita bisa lihat pemikiran Gusdur itu seperti apa, meskipun ada bab bab yang menurut saya, kurang saya mengerti. Tetapi buku ini mengajarkan juga tentang keanekaragaman budaya yg terjadi di Indonesia, serta kita diajarkan tentang bagaimana kita bisa melihat suatu masalah dsri berbagai sudut pandang yang menarik.
Kumpulan esai dari Gus Dur ini membuat saya jadi tambah memahami bahwa agama itu tidak sempit, melainkan banyak aspek yang bisa dipahami melalui sosial dan budaya. Selain itu, ia juga menulis tentang peristiwa politik di Timur Tengah pada 1980-an silam, sehingga membuat saya jadi mencari informasi lebih dalam tentang pemimpin Mesir, Iran, dan Irak.
I once found this book on my father’s bookshelf, picked it up out if curiosity and skepticism, ended up confused bcs i’m too young to understand it back then. Now that i’m grown up, i finally understand : god never needs our defense, what trully needs defending are humanity, justice, and compassion.
Banyak belajar dari buku ini. Serius. Pemikiran Gus Dur yang luas juga luwes dalam menghadapi persoalan yang masih relevan hingga kini. Buku Tuhan Tidak Perlu Dibela adalah pemikiran pemikiran Gus Dur yang akan hidup hingga ratusan tahun ke depan
Tulisan beliau pada tahun 70an ternyata masih sangat relevan dengan keadaan masa kini. Entah keadaan rakyat dan negara ini yang tidak berubah atau memang sejarah selalu berulang tiap masanya.
Berisi kumpulan tulisan Gus Dur di tahun 1970an hingga 1980an, beberapa ada tulisan di taun 1990an. Terbagi ke dalam tiga kelompok tulisan yang memperlihatkan pandangan Gus Dur terkait kritik keislaman di Indonesia, kenegaraan, serta pandangan terhadap situasi politik luar negeri pada tahun-tahun tersebut.
Tulisan "Tuhan Tidak Perlu Dibela" diangkat menjadi judul buku dan menjadi perhatian tersendiri. Judul tulisan ini tidak jarang digaungkan ketika ada aksi atau demonstrasi yang dilakukan sebagian masyarakat dengan maksud membela agama. Kalimat itu tentu menjadi pro-kontra, meski saya tidak yakin sebagian orang di kedua kelompok tersebut telah membaca tulisan Gus Dur, tulisan Gus Dur tersebut memang membuka mata namun sepemahaman saya tidak berarti menolak mentah-mentah aksi-aksi, melainkan menyadarkan bahwa Allah itu Maha Besar, maha segalanya, sehingga mau dibela atau pun tidak, tidak berkurang sesuatu apapun dari Allah, pun sebaliknya. Allah tidak menjadi lemah ketika tidak dibela atau tidak disembah sekalipun, ini yang mesti menjadi pengingat bagi sebagian masyarakat yang gemar beraksi dengan maksud membela Allah / membela Islam.
Kutipan dari Al-Hujwiri menjadi kunci, “Bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ‘Ia menyulitkan’ kita. Juga tak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya”
Buku ini bagus untuk membaca pemikiran Gus Dur terkait berbagai hal, juga menyentil apakah ada konsep "Negara" dalam Islam yang sering menjadi perdebatan. Khusus untuk tulisan "Tuhan Tidak Perlu Dibela", tulisan itu sangat cocok untuk dibaca mereka yang gemar melakukan aksi ini-itu dengan dalih agama.
i cannot rate this book bcs i haven't read the entire book yet. let me tell you one thing that you cannot claim your faith as personal. you don't even know what kind of language your god actually speak. as the led zep song goes, "crying won't help you. praying won't do you no good." but if you'd like to talk abt it in person, just let me know. that would be great!
Kumpulan tulisan dari kolom-kolom Gus Dur di majalah Tempo antara thn 1970 - 1980 an. Tulisannya banyak yang masih relevan sepertinya menggambarkan visinya yang jauh ke depan. Banyak tulisan yang bagus tapi ada juga yang kurang menarik (bagiku).
Buku ini awal "perkenalan" saya dengan Gus Dur pd thn 2001,Berisi kumpulan tulisan dari kolom-kolom Gus Dur di majalah. Sosok yang selalu kontroversi semasa hidup, namun dengan visi yang jauh ke depan dan membuat saya kagum dengan beliau sejak itu :)