Jump to ratings and reviews

Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir: Esei dan Wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer

"Saya berharap bahwa pembaca-pembaca di Indonesia, setelah membaca buku saya, merasa berani, merasa dikuatkan. Dan kalau ini terjadi, saya menganggap tulisan saya berhasil. Itu adalah suatu kehormatan bagi seorang pengarang, terutama bagi saya. Lebih berani. Berani. Lebih berani."

-Pramoedya Ananta Toer

176 pages, Paperback

First published January 1, 2008

Loading...
Loading...

About the author

August Hans den Boef

21 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
30 (26%)
4 stars
51 (44%)
3 stars
29 (25%)
2 stars
3 (2%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 26 of 26 reviews
Profile Image for Arief Bakhtiar D..
137 reviews90 followers
January 28, 2014
FEODAL

SEMENJAK kecil, kita yang sekolah di Yogyakarta atau di Jawa Tengah tidak lepas dari seloka dan peribahasa Jawa. Kita punya kamus kecil khusus tentang itu—yang hanya ditengok kalau akan ulangan bahasa Jawa. Diantaranya, yang tertulis di sana: kriwikan dadi grojokan—perkara sepele jadi besar, crah agawe bubrah, rukun agawe sentosa—rusuh membuat bubar, rukun membuat sentosa, rebut balung tanpa isi—meributkan perkara sepele, sabaya pati, sabaya mukti—rukun sampai mati, kena iwake aja buthek banyune—yang diharapkan tercapai, tapi jangan buat kaget.

Seloka atau peribahasa itu bagi saya, seorang anak keturunan Aceh yang besar di Jawa, mengajarkan untuk menjaga harmoni. Itu berarti mulut dan sikap mesti tertib. Itu berarti jalan kita mesti lurus dan lempang. Bau kita haram untuk tidak harum. Kritik dan protes adalah hal tabu dan merusak, bahkan kalau itu hanya sedikit. Harmoni, dengan kata lain, adalah saat tak ada debur ombak yang berlebihan di samudera. Tak boleh ada pukulan yang telak dari seorang Jawa.

Harmoni itu di masa lalu terwujud di atas sistem feodal kerajaan. Dalam sistem itu rakyat kecil mesti menghamba pada sang raja. Mudah kita temukan, terutama dalam sejarah masa lalu, karakter feodal yang berkembang di setiap kerajaan-kerajaan Jawa. Bentuk yang paling kita kenali, yang kerap tergambar dalam sinetron atau film masa kini yang berbau sejarah era kerajaan, adalah bagaimana rakyat kecil ditempatkan duduk di tanah dan mesti menyembah sebelum berbicara di hadapan raja di singgasana. Dengan karakter itu timbul rasa hormat kepada yang lebih tinggi pangkatnya. Rakyat tergantung, atau mengharapkan selamat, dari tokoh-tokoh kaya dan punya kuasa, meski pada akhirnya rakyat hanya diperas dan diperas, dan tak boleh berontak. Harmoni adalah kata kunci, juga harga mati.

Dengan karakter feodal yang telah mengakar itu Belanda, yang hanya punya sejumlah kecil pasukan untuk menguasai daerah yang sangat luas, berhasil menjalankan pemerintahan di Indonesia. Seperti yang dikatakan Pram dalam interviu dengan Kees Snoek—yang kemudian dibukukan dalam Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir bersama esai dari August Hans den Boef—untuk mendukung bangunan karakter feodal di Jawa, Belanda menjalankan pendidikan yang secara sistematis menanamkan rasa rendah diri kepada para pribumi. Pada masa kolonial Belanda, di dinding-dinding kelas HIS, dipampang gambar seorang Jawa dengan tulisan “De Javaan is lui” (orang Jawa malas) di bawahnya, atau seorang tuan Belanda duduk di kursi dengan tulisan penjelasan “De Holander is knap, de Hollander is goed gekleed” (orang Belanda pintar, orang Belanda berpakaian bagus). Perasaan rendah diri ditumbuhkan agar rakyat kecil menilai orang-orang Belanda atau Eropa sebagai kasta paling tinggi dalam masyarakat, yang harus dipatuhi setiap perintahnya, kalau perlu melebihi derajat raja mereka.

Pendidikan dengan karakter feodal itu diperkuat dengan kisah wayang Mahabarata yang merakyat di kalangan masyarakat Jawa. Bagi Pram, Mahabarata adalah cerita omong kosong. Hanya kasta ksatria—atau dalam masyarakat setara dengan orang-orang punya pangkat dan jabatan tinggi—yang diceritakan di sana. Para ksatria itu “tidak tahu dari mana makanan mereka berasal”, dan sibuk berperang dengan cara membantai saudara mereka sendiri demi kekuasaan. Rakyat kecil seakan tidak penting, hanya senyap, dan dengan begitu tidak perlu hadir dalam cerita.

Maka, di masa lalu, tema pemberontakan terhadap karakter feodal punya daya memikat: pada tahun 1914 Sarekat Islam melakukan demo di Semarang dengan tema “orang Jawa tak mau lagi jongkok kayak kodok”. Di Surabaya, di rumah bola Sarekat Islam, orang dilarang duduk di tanah.

Sistem feodal itulah, dan bukan orang-orangnya (juga bukan orang Belanda), yang disalahkan oleh Pramoedya. Berangkat dari semangat berontak itu ia menulis karakter tokoh yang menolak feodalisme dalam diri Minke agar “memberikan kekuatan untuk tepat berpihak pada yang benar, pada yang adil, pada yang indah”. Ia berhadap orang yang membaca tulisan-tulisannya “merasa dikuatkan” dalam keadilan. Lebih berani, berani, dan berani, kata Pram. Mungkin itu sebabnya Pramoedya dianggap berpihak pada golongan dan pemikiran kiri, meski ia mengaku tak pernah mempelajari Marx. Memang menurut Pram kemudian, masih dalam Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir, komunisme atau sosialisme punya sifat membebaskan. Termasuk di sana dalam kerangka keberanian melawan penjajah. Kita ingat bagaimana Moh. Hatta pada tahun 1925 berani mengangkat jati diri baru: “Aku orang Indonesia”. Padahal situasinya tidak gampang: di Belanda orang-orang mengenal Hatta dan lain-lain sebagai inlander atau bumiputera—negeri yang hartanya dikeruk, orangnya pendek-pendek dan sikapnya bisa diperintah sekehendak hati. Kali itu orang-orang Belanda gentar: Indonesia dalam diri Hatta berarti otak yang begitu gemilang dan hati yang berani. Barangkali ideologi sosialis yang ia pelajari di Eropa berperan di situ.

Toh, mental merendah yang tertanam dalam diri masyarakat Jawa bukan hanya kelemahan. Ia punya kelebihan. Manusia Jawa tidak menjadi makhluk yang sombong. Manusia Jawa tahan banting terhadap segala penderitaan. Manusia Jawa memiliki sikap untuk menerima (yang dalam bahasa Jawa ada dalam ungkapan nrimo).

Di Yogyakarta, tempat di mana kerajaan masih dihormati dan dijunjung tinggi, saya kira karakter itu masih muncul dalam keseharian, dan punya pengaruh yang tidak sedikit pada suasana yang bagus buat mencari ilmu. Barangkali karena sikap untuk menerima—sikap yang dibutuhkan untuk menyerap segala pengetahuan—masih berkeliaran bebas di udara Yogyakarta. Dari sikap itulah pintu ilmu terbuka sebelum berkembang.
Profile Image for Willy Alfarius.
111 reviews11 followers
June 24, 2024
Bagian paling menarik dari buku ini tentu saja wawancara yang dilakukan oleh Kees Snoek terhadap Pram di kediamannya di Utan Kayu, Jakarta. Oleh karena ada rekaman videonya, rasanya jadi mudah bagi saya membayangkan betapa "keras kepala" dan tahan bantingnya sosok yang belasan tahun dinistakan dalam semesta penjara yang begitu biadab bikinan Orde Baru ini. Satu hal yang saya garisbawahi adalah Pram yang menyoroti hilangnya usia untuk kerja kreatifnya sepanjang 1965–1979, yang bagaimanapun tidak akan pernah bisa dikembalikan oleh mereka yang telah merampasnya.

Jika ada yang perlu diperbaiki, terutama sekali pada beberapa detail wawancara yang nampaknya luput diterjemahkan/disunting dengan tepat. Misal, Eureka (hlm.139) yang seharusnya adalah Ureca (Universitas Res Publica). Selebihnya, sebagaimana garapan Komunitas Bambu lainnya, selalu kagum dengan kover dan perwajahan fisik buku-buku mereka, termasuk edisi cetak ulang ini.
Profile Image for Edwin Setiadi.
443 reviews18 followers
February 27, 2025
The story behind Pramoedya's books

This is a condensed book that provides a thorough biography of Pramoedya Ananta Toer in the first half of the book, and an intimate conversation with the great man himself in the other half that dived deeper into his past.

What stands out about this book compared to other Pramoedya biographies is that this book focuses on some of his selected books alongside the story of the man, which gives a more complete picture about his journey as a writer.

The book reveals, for example, the raw chaos in the transition period between Revolution and Independence, Pramoedya's conversation with Soekarno, addressing his encounter with PKI (and his argument with D. N. Aidit), his role in nation building as a writer, how he sees his books as an individual with its own life, how he never reads his finished works, his favourite writers (John Steinbeck, William Saroyan, Antoine de Saint-Exupery, Lode Zielens, Maxim Gorki, Multatuli), and his hope for his readers.

The book also blatantly shows the criticisms, the imprisonments, the book banning (and destroying), his hunger in exile, and multiple tortures launched against him after Suharto took over power, including the financial difficulties during the many arrests where he's unable to sell any of his work and had to live from honorarium grant from overseas. All of them give an added weigh to the title of the book, that comes from his expression "I want to see all of this to end."

You know that phrase by Ernest Hemingway "In order to write about life first you need to live it"? It is only after reading this book that it becomes clear where his brilliant writing comes from, how the struggles contributed to his way of thinking, how the mood of the stories reflected the mood of his own circumstance during the time of writing, how the harsh occurrences in the books were the same occasions that he experienced or witnessed, and how the characters in the stories reflect his personal opinion.

This added a more complete picture towards Pramoedya, which complements the brilliant biographies by his English translator Max Lane (about the making of the Buru Quartet), and a close family account by his brother Koesalah Soebagyo Toer (which provide an angle on his human side from the family perspective).

And if I learn anything from this book it is that ideas are powerful, ideas are feared by the status quo wanting to preserve a propaganda. That's why Pramoedya was grossly mistreated due to his nature as truth-teller. And as much as I want to see justice served to those who tortured him, Pramoedya eventually got the last laugh when he got his revenge through what he knows best: by writing about them through his fictionalized stories, and let the world knows.

Because bones can break and heal, criminals can even get killed and still amount to nothing, but revealing the truth is much more dangerous for the perpetrators, because it can enlighten the masses and create a spark of change.
Profile Image for Ataventis.
8 reviews15 followers
April 27, 2010
Bagi semua yang belum pernah berkenalan sekalipun dengan seorang Pramoedya Ananta Toer, buku ini awal yang paling tepat untuk Anda!

Walalupun berukuran kecil dengan tulisan yang singkat, buku ini mampu memberikan penjelasan padat tentang karya-karya PAT serta hal-hal yang mendasari penokohan atau penulisan setiap karyanya secara kronologis. Memuat sebuah esei August Hans den Boef dan wawancara Kees Snoek*, buku ini mampu memberikan gambaran jelas –sedikit subyektif- tentang keterkaitan Pram dengan Lekra, perseteruannya dalam Manikebu, hingga impresinya dengan para perempuan yang menjadi inspirasi dalam beberapa karyanya.

Membaca skrip wawancaranya dengan Snoek, saya hanya mampu membayangkan, sambil tersenyum-senyum tentunya, sorot mata dan raut wajah PAT ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menyentil. Memang, jelas sekali sifat defensifnya tergambar dari beberapa jawaban serta pernyataanya.

Namun hal ini tidak menutupi kesan yang memang ingin ditonjolkan dalam buku ini. Untuk saya yang tidak pernah beruntung mendapat kesempatan untuk bertemu langsung atau sekadar melihat PAT berbicara, tulisan-tulisan di dalamnya berhasil memuaskan keinginantahuan saya yang paling mendasar tentang PAT: keterkaitannya dengan komunisme.

Potongan 1:

S: Apa Pak Pram tidak mempertahankan ide-ide Marx?

P: Saya tidak pernah memmpelajari ajaran Marx, jadi say atidak kenal betul Marx itu. Saya dalam pandangan saya hanya berpihak pada yang adil, benar, dan berperikemanusiaan. Itu saja. Jika ada partai yang lebih adil, saya bantu, saya sokong dia. Lebih dari itu tidak.

S : Tapi Anda pada tahun 50an mulai bersimpati kepada komunisme, apakah itu benar?

P: Tidak, saya hanya mendukung partai yang berpihak pada keadilan dan kemanusiaan, hanya itu.
Hal.135-36


Potongan 2:
Pram kemudian menceritakan kronologis penangkapan dirinya setelah kejadian G 30 S. Dalam salah satu interogasi, Pram menjawab pertanyaan interogatornya dengan jelas tentang pendapatnya terhadap komunisme.

“Saya diinterogasi oleh seorang letnan tingkat dua yang bernama Musyriwan Adil. Untungnya dia sangat sopan. Dia menginterogasi saya mengenai pemberontakan 30 September. Saya mengatakan, “Saya tidak punya pendapat mengenai kejadian itu. Berikan saya waktu lima tahun dan dokumennya, baru saya akan memberi reaksi saya”. Saya benar-benar tidak tahu apa-apa. Lalu dia menanyakan “Apakah Anda percaya bahwa komunis akan berkuasa di Indonesia?”. Saya menjawab, “Tidak, tidak dalam empat puluh tahun ke depan”. Itu saja. Saya tidak ditanyai lagi. “ Hal. 154


* keduanya berkebangsaan Belanda.

Profile Image for Avif Aulia.
88 reviews3 followers
May 15, 2025
Sebelum membaca buku ini, saya terlebih dahulu membaca wawancara dengan Pak Pram yang lebih panjang dan fenomenal; yang dibukukan dengan judul "Saya Terbakar Amarah Sendirian" (KPG). Wawancara itu memang lebih komprehensif dan pertanyaan-pertanyaannya sangat tajam sehingga di banyak bagian, emosi Pak Pram terasa meledak-ledak.

Di buku "Saya Ingin Melihat Semua Ini Berakhir" (Komunitas Bambu) ini, memang wawancaranya lebih pendek, dengan topik yang terbatas pula. Namun, di beberapa bagian saya rasakan lebih intim, terutama ketika Pak Pram membahas orang tuanya. Ketimbang di buku pertama yang saya sebutkan di atas, Pak Pram di sini terasa lebih relaks. Masuk akal memang jika melihat hubungan Kees Snock, sang pewawancara, yang menurut ceritanya, akrab dengan Pak Pram.

Buku tipis ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama adalah esai panjang August Hans den Boef—rekan Kees Snock—yang membahas karya-karya Pak Pram sepanjang hidupnya. Dan bahasan itu, yah, ternyata spoiler. Lumayan, saya jadi tahu premis bahkan ending dari sejumlah karya Pak Pram yang langka seperti Korupsi, Tjerita dari Djakarta, Mereka jang Dilumpuhkan, dst. Buat saya yang tidak pernah keberatan dengan spoiler, hal ini bukan masalah.

Bagian kedua adalah wawancara dengan Pak Pram yang membahas masa kecil dan remaja beliau di Blora; hubungan dengan orang tua; pandangan soal kolonialisme dan budaya Jawa; klarifikasi Pak Pram soal komunisme (ya!); dan pengalaman-pengalaman di masa lalu yang belum pernah diungkap media.

Sungguh terasa berkesan ketika mengetahui bahwa pandangan Pak Pram soal kemuliaan bekerja atau produktivitas ternyata ditanamkan oleh sang ibu; bahwa Pak Pram ternyata sangat terbuka dan mengakui banyaknya sisi positif dari penjajahan Belanda; bahwa ia ternyata tidak kenal betul dengan ajaran Marx dan menurutnya, komunisme itu ideal untuk menjadi ideologi individu, tetapi kacau untuk menjadi sistem politik; bahwa ia ternyata anti membaca kembali karya-karya yang dihasilkannya; bahwa ia ternyata menolak wayang dan mengkritisi cerita-cerita seperti Mahabharata; serta bahwa penulis favoritnya yang pertama-tama adalah John Steinbeck.

Akhir kata, ini buku yang bagus untuk mengenal sedikit pribadi Pram dan prinsip hidupnya yang memegang teguh keadilan dan kemanusiaan.
Profile Image for Anggid Primastiti.
66 reviews
June 28, 2026
"Saya berharap bahwa pembaca-pembaca di Indonesia, setelah membaca buku saya, merasa berani, merasa dikuatkan. Dan kalau ini terjadi, saya menganggap tulisan saya berhasil. Itu adalah suatu kehormatan bagi seorang pengarang, terutama bagi saya. Lebih berani. Berani. Lebih berani." - Pramoedya Ananta Toer

Berawal dari kunjunganku ke Toko Buku Komunitas Bambu di daerah Dukuh Atas ternyata memperkenalkan aku kepada (sebagian) isi kepala Pramoedya Ananta Toer lewat buku ini!

Aku belum pernah baca buku beliau sebelumnya. Waktu beli pun tidak langsung kubaca karena ternyata belum terlalu tertarik (pada saat itu). Laluuu bedah rak buku lagi dan nemu buku ini, eh kok penasaran! Ternyata AH BAGUS SEKALI banyak yang aku highlight dari buku ini dan jadi penyemangat diri.

Buku ini diawali dengan esai August Hans den Boef tentang tulisan-tulisan Pram, lalu dilanjutkan dgn wawancara Kees Snoek di kediaman Pram. Dan ini malah jadi buku yg TEPAT untuk aku yg belum pernah baca buku Pram sama sekali (hehe). Esainya banyak menjelaskan buku-buku Pram dan keterkaitannya satu sama lain, tokoh-tokohnya, dan nilai yang ingin disampaikan. Selanjutnya ada wawancara Pram juga yang banyak bercerita kisah kehidupan Pram (berat banget kisah hidupnya, banyak yg inspiratif meskipun ada yang aku juga ga telan semuanya karena krg sejalan). Ah tapi bener-bener daaaah buku ini bikin aku pengen baca karya-karya beliau! 4/5

TERIMA KASIH KOMUNITAS BAMBU 🎋🎋🎋🎋
Profile Image for Fikra Fadilla.
7 reviews
September 10, 2024
Sebagai pembaca yang belum pernah membaca tulisannya Pram, ternyata buku ini tetap memikat saya. Menelusuri perjalanan menulis Pram ikut membuat saya merefleksikan diri, khususnya di tahun 2024 ketika pemerintah makin menggila dan tidak tahu malu. Kadang membaca ini membuat saya marah dan malu pada situasi sekarang yang mengkhianati pejuang dahulu.

Dalam angan saya Pram hanya saya kenal sebagai seorang nasionalis, membaca pemikiran Pram lewat sesi wawancara membawa saya ke sisi lain Pram sebagai manusia tanpa identitas, bukan penulis, bukan aktivis, hanya seorang Pram yang berpihak pada keadilan dan suka minum air putih.

Banyak kesadaran baru yang membuat saya merasa buku ini penting untuk dibaca untuk warga Indonesia yang punya panggilan untuk berkarya (apapun mediumnya). Di sini perjalanan Pram membedah esensi dari berani yang mana menurut saya sangat penting dipahami untuk setiap generasi agar bergerak.
Profile Image for Rina.
38 reviews2 followers
December 11, 2025
Buku yang menggugah jejak pemikiran pembaca atas karya-karya paripurnanya dari seorang yg terlahir di Kota Blora, Pramoedya Ananta Toer.

Melalui jawaban-jawaban atas wawancara dua orang Belanda; Boef & Snoek, menjadikan saya ketagihan mempelajari sejarah Indonesia, baik masyarakatnya maupun tokoh-tokoh lainnya.

Buku yang kiranya penting dibaca sebelum mulai menyelami karya-karya Sang Maestro yang dipuja-puja Belanda dan banyak negara. Yang walaupun kertas-kertas tulisannya dirampas dan disita negara, namun ia tetap berjuang untuk bangsanya sendiri. Melalui jejak pemikiran dan keberanian yang tidak pernah padam. Badannya renta, namun gigih cita dan cintanya pada Indonesia. Hormat saya Pak Pram! 🫡🇮🇩🔥
Profile Image for An Nasaie.
31 reviews27 followers
March 14, 2018
Pada bahagian esei banyak diceritakan tentang penulisannya dan latar tempat semasa beliau menulis dan bahagian wawancara menampakkan sisi seorang Pram dalam bersikap terhadap ketidakadilan. Nyata Pram seorang begitu tegas dan tidak berkompromi terhada sesiapa pun yang cuba menindas. Cuma rasanya buku ini terlalu nipis untuk diceritakan lebih dalam tentang Pram (saya begitu ingin tahu sikapnya terhadap LEKRA dan komunisme dengan lebih lanjut, juga semasa beliau di dalam penjara dan rupanya banyak sekali karya Pram yang tidak diterbitkan!). Sekadar perkenalan yang bagus untuk mengenali sosok penulis hebat bernama Pram.

Sebuah buku yang patut dibaca sebelum membaca karya-karyanya.
Profile Image for sekar banjaran aji.
165 reviews15 followers
March 29, 2025
Ini buku pertama tentang Pram yang saya baca, biasanya saya hanya membaca karya beliau. Walau pertujukan secara buku, saya merasa buku ini kurang serius digarap dan bisa lebih banyak wawancara dilakukan dengan Pram tetapi membaca buku ini mengingatkan saya siapa Pram.

Pram adalah anak pertama laki-laki jawa yang menjadi tentara di awal kemerdekaan. Lalu berubah menjadi juru ketik dan penulis hingga Ketua Lekra. Pram adalah ayah yang menghabiskan hidupnya di penjara. Dia menikah dua kali. Sungguh tidak ada alur yang sempurna dari hidupnya tapi karyanya mendunia.

Pram, terima kasih 100 tahun yang kau warnai. Kami tumbuh semakin berani!
Profile Image for Tyas.
Author 40 books94 followers
July 25, 2025
Buku tipis yang kaya informasi dan menyentuh, meskipun di beberapa bagian agak sulit saya pahami (sepertinya karena terjemahannya). Selain pembahasan karya-karya Pram yang tidak pelak berkelindan dengan kisah hidupnya, buku ini juga memuat teks wawancara dengan Pram. Dalam wawancara tersebut, Pram menuturkan berbagai hal dari sudut pandang dan pengalamannya, membela diri, sekaligus mungkin juga meruntuhkan 'mitos-mitos' yang dipercaya orang tentangnya.

Rasa-rasanya saya tidak akan lupa kata-kata beliau berikut ini: "Saya berharap bahwa pembaca di Indonesia, setelah membaca buku saya, merasa berani, merasa dikuatkan. ...Berani. Lebih berani."
Profile Image for Ahmad Kurnia.
62 reviews
February 17, 2025
Menarik untuk disimak. Salah satunya ialah fakta Pram muda pernah menghampiri dukun untuk suatu ilmu kebal. Ia diminta untuk menelan kertas merah agar badannya tahan dari tebasan pedang, tusukan sangkur, dan lainnya. :D
Profile Image for Andi Bintang Kurniady.
6 reviews
February 18, 2026
Lebih dari sekadar bacaan—buku ini penuh dengan insight yang memukau berkenaan dengan ideologi dan praktis baiknya ditinjau dari kacamata Pak Pram. Semoga Tuhan memberi tempat berehat terbaik bagi beliau di sisi-Nya. 🙏🏼
Profile Image for Iren Gian.
36 reviews
July 9, 2023
Overview suka bagian wawancara karna mungkin memang berisikan murni pendapat pak Pram
Profile Image for hana.
46 reviews
February 12, 2025
selamat ulang tahun pram! rasanya gamang setelg membaca buku ini.
Profile Image for Norziati.
Author 10 books84 followers
April 3, 2013
Buku ini terbahagi kepada dua bahagian. Pertama, esei mengenai karya Pramoedya. Penulis mengupas dengan ringkas karya-karya yang dihasilkan dan cabaran yang dihadapi sewaktu dan selepas penghasilan karya tersebut, misalnya rampasan manuskrip sehingga tidak lagi ditemui. Dapatlah kita tahu bahawa masih banyak karya Pram yang tidak ditemui, dirampas, hilang dan tidak dipulangkan hingga kewafatannya.

Bahagian kedua merupakan wawancara penulis dengan Pram ketika beliau menjadi dosen (pensyarah) di sebuah universiti di Jakarta. Menerusi wawancara ini, kita dapat melihat pandangan Pram yang kukuh terhadap satu-satu perkara serta menafikan keterlibatannya dengan fahaman. Malah takrifan komunis / sosialis dan demokrasi padanya cukup memikat. Beliau percaya komunis / sosialis bagus sebagai sebuah ideologi tetapi tidak cukup ampuh menjadi satu pergerakan politik yang sehingga kini dibuktikan menindas dan mendera. Oleh itu beliau percaya kepada demokrasi untuk dijadikan landasan berpolitik.
Profile Image for ibnumaroghi.
124 reviews3 followers
July 4, 2011
Banyak naskah-naskah Pram yang tidak sempat dipublikasikan, baik karena dirusak, dirampas, maupun dihilangkan oleh orang-orang yang menganggap dirinya berbahaya. Wawancara penulis dengan Pram mengupas banyak hal yang tak tertulis secara implisit di dalam karya-karyanya.
Profile Image for Tri.
52 reviews3 followers
November 2, 2009
ngenes jg ngeliat nama pengarang/penyusunnya..
ternyata yang me-wawancara Pak Pram seorang Londo ya.. bukan inlander..

reviewnya belum disusun ni..
Profile Image for tika.
5 reviews1 follower
January 9, 2015
I got some information about Pramoedya Ananta Toer from this book. it is the memoir of him that was writen by August Hans den Boef.
Profile Image for Gloria Fransisca Katharina.
209 reviews6 followers
October 12, 2016
Bentuknya hanya seperti buku saku. Percayalah, cukup keren untuk melihat perspektif Pramoedya pasca kehidupannya di Pulau Buru.
Profile Image for Dewi Wardani.
78 reviews3 followers
March 2, 2014
wisdom comes from anyone,anywhere grab it.. its urs which is lost ...
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book50 followers
Read
March 9, 2017
Buku ini terbitan 2008, terbagi dalam dua bagian di aman bagian pertama adalah sebuah esai yang menarik atas Pramoedya Ananta Toer dan karya-karyanya. Bagian kedua adalah wawancara penulis dengan Pramoedya yang dari sini kita bisa melihat bagaimana kejamnya rezim yang Orde Baru terhadapa hidup penulis satu ini. Yang karena itu membuat Pramoedya menjadi seorang penulis yang paling berpengaruh dalam dunia literasi bangsa ini. Rasa-rasanya seperti kisah itu dekat sekali ketika membaca buku ini.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
April 7, 2017
Buku tipis yang ditulis oleh Guru Besar Sastra Belanda ini berisi esai mengenai sejarah dan tinjauan karya-karya Pram, serta wawancara penulis dengan Pram.
Displaying 1 - 26 of 26 reviews