Jump to ratings and reviews
Rate this book

Cheng Ho and Islam in Southeast Asia

Rate this book
Tan Ta Sen has modestly suggested that, as a book to illustrate the peaceful impact of culture contact, he is concerned to show how such cultural influences not only led to transmissions, conversions and transferences involving Inner Asian Muslims from China and Yunnan Muslims, Chams, Javanese, Malays, Arabs and Indians, but also enabled many Chinese in the Malay world to retain their non-Muslim cultural traits. In placing Cheng Ho's voyages in this context, the author offers a fresh perspective on a momentous set of events in Chinese maritime history. Professor Wang Gungwu, National University of Singapore. Tan Ta Sen's book on Cheng Ho and Islam in Southeast Asia is not the first one on the subject, but it is the first book that puts Cheng Ho's voyages in the larger context of "culture contact" in China and beyond. He has garnered numerous sources, from published documents to architectural sites and buildings, to support his arguments. He has done much more than previous scholars writing on this subject. - Professor Leo Suryadinata, Chinese Heritage Centre (Singapore). This long-awaited book is welcomed by the academic community ... Tan Ta Sen has used historical facts to strengthen the argument on the existence of the "Third Wave", i.e. "the Chinese Wave", in the spread of Islam in the Southeast Asian region. Until now, we only know two major waves, i.e. the India-Gujarat Wave and the Middle East Wave through the development of trade relations. - Professor A. Dahana, University of Indonesia (Jakarta).

330 pages, Paperback

First published June 1, 2009

Loading...
Loading...

About the author

Tan Ta Sen

3 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (46%)
4 stars
2 (15%)
3 stars
5 (38%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Grace Tjan.
187 reviews638 followers
March 11, 2011
Siapakah sebenarnya sosok yang dikenal dengan nama Cheng Ho (pinyin: Zheng He) ini? Apakah ia seorang manusia sakti yang dipuja keturunan China di Asia Tenggara sebagai pelindung mereka? Apakah ia seorang pelaut hebat yang konon berhasil "menemukan" benua Amerika hampir seabad sebelum Columbus? Apakah ia seorang tokoh China muslim sekaligus penyebar agama Islam di nusantara? Apakah misi yang dipimpinnya merupakan misi persahabatan yang damai, atau sebaliknya bersifat imperialis seperti yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Barat? Apakah kontak diantara dua peradaban yang berbeda selalu berujung pada konflik dan eksploitasi, atau sebaliknya dapat menimbulkan pertukaran budaya yang bersifat damai?

Buku yang aslinya merupakan tesis doktoral penulisnya ini mencoba menjawab beberapa pertanyaan diatas. Cukup menarik, walaupun penulis tidak mengungkapkan hal-hal baru tentang Cheng Ho dibandingkan dengan buku-buku sebelumnya seperti Admiral Zheng He & Southeast asia. Bagian kedua dari buku ini menyoroti peranan aktif Cheng Ho dalam mengatur dan membina komunitas-komunitas China perantauan di nusantara, dimana masyarakat China pendatang muslim mendapat perlakuan istimewa. Keturunan mereka kemudian berperan besar dalam syiar Islam di pulau Jawa, termasuk tokoh-tokoh yang dikenal dalam sejarah sebagai Wali Sanga.

Tesis penulis mengenai hal ini sepenuhnya didasarkan pada Malay Annals of Semarang and Cirebon (MASC), naskah misterius yang dikutip oleh M.O. Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao. Menurut Parlindungan, MASC tersebut ditemukan oleh Poortman, seorang Belanda yang bertugas di dinas rahasia pemerintah kolonial, di arsip kelenteng Sam Po Kong di Semarang dan kelenteng Talang di Cirebon pada tahun 1928. Karena isinya yang dianggap kontroversial, pemerintah Belanda memutuskan untuk melakukan supresi terhadap MASC (hal yang sama dilakukan oleh pemerintah Orde Baru yang melarang buku Prof. Slametmulyana yang mengutip Parlindungan). Dr. Tan Ta Sen, seperti H.J de Graaf dan Pigeaud, yakin bahwa naskah tersebut (pernah) eksis dan merupakan cerminan memori kolektif masyarakat China perantauan abad XVI dan XVII. Sebaliknya, berberapa ahli sejarah lain meragukan otentisitas MASC karena naskah aslinya tidak pernah ditemukan. Identitas Poortman sendiri sebagai agen rahasia Belanda juga masih diragukan. Selain itu, menilik tata ruang kelenteng Sam Po Kong lama, apakah mungkin arsip sebanyak tiga pedati disimpan di dalamnya? Dan apakah arsip tersebut bisa bertahan selama 400 tahun di tengah-tengah pergolakan sejarah di pantai utara Jawa?

Sungguh suatu misteri sejarah yang sangat menarik. Dan yang seharusnya wajib hukumnya untuk diselidiki lebih lanjut.

--------------------------------------------------------------------------------------------

Kenang-kenangan ketika mengunjungi Semarang waktu kecil: makan bolang baling dan lumpia di Gang Lombok, dan didongengi orang-orang tua tentang patung naga di atap kelenteng Sam Po Kong, yang konon bisa hidup dan berenang-renang ria kalau Semarang banjir.



Profile Image for Jat Taka.
1 review6 followers
Read
November 14, 2013
Cheng Ho is first Asia see explorer as I think, he who was sail to south east Asia, Africa and America (not for sure). His masterpieces make the people around the world face
Profile Image for Juinita Senduk.
124 reviews3 followers
January 14, 2014
Beberapa waktu lalu, saya terlibat suatu diskusi dengan seorang teman di twitter tentang siapa yang pertamakali menyebarkan agama Islam di Indonesia. Pada saat itu saya baru saja membeli buku Cheng Ho, Penyebar Islam dari China ke Nusantara. Berangkat dari diskusi tersebut, saya pun membaca buku Tan Ta Sen ini. Ternyata selama ini buku sejarah yang memuat tentang Kerajaan Pasai serta penyebaran agama Islam, lupa memasukkan nama Cheng Ho sebagai penyebar agama Islam di kerajaan Melayu. Mungkin, jika Cheng Ho tidak melakukan perjalanan maritimnya ke Asia Tenggara, Indonesia belum tentu menjadi negara dengan pemeluk agama Islam terbesar. Dalam buku ini dijelaskan secara rinci bagaimana orang China kemudian menjadi pemeluk agama Islam serta bagaimana akhirnya Islam itu disebarkan ke negara di luar China. Cheng Ho sendiri adalah utusan dari Dinasti Ming yang ditugaskan untuk menjaga keamanan negara-negara Asia Tenggara, dimana dalam perjalanan maritimnya Cheng Ho pun menjalankan misinya untuk menyebarkan agama Islam. Dalam perjalanannya itulah Cheng Ho mampu menarik perhatian Raja Iskandar Syah dari Kerjaan Malaka menjadi pemeluk agama Islam dimana perkawinannya dengan putri dari Kerajaan Pasai menjadi era penyebaran Islam secara intens di kepulauan Sumatera. Cheng Ho atau Sam Po Kong (Dewa yang dipuja di klenteng-klenteng di Indonesia) adalah seorang muslim yang menghormati kepercayaan orang Cinan non muslim. Klenteng Sam Po Kong di Semarang adalah klenteng yang dikhususkan untuk menghormati Cheng Ho. Klenteng itu sendiri sebenarnya adalah sebuah mesjid yang dibangun oleh Cheng Ho ketika beliau melakukan perjalanan maritimnya ke Indonesia. Sayang sekali nama Cheng Ho tidak seterkenal nama sembilan wali, padahal jika Cheng Ho tidak melakukan perjalanan maritimnya belum tentu para wali itu ada.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews