Dulu saya sempat ada ketertarikan pada penulisan skenario, tapi hanya sekilas. Saya jauh lebih tertarik pada novel. Tapi toh buku ini juga bisa membantu dalam penulisan novel. Selama entah berapa tahun memiliki buku ini, saya hanya berkisar di bagian paling praktis, yaitu bab 2, "Lima Langkah Proses Adaptasi dari Profesor K", khususnya lagi di Langkah 4: Scene-O-Gram. Bagian ini menjabarkan struktur tiga babak yang konon umum berlaku di film-film Hollywood. Mata saya pun terbukakan. Saya coba menerapkannya dalam merevisi novel, juga ketika hendak membuat yang baru lagi. Memang hasilnya tidak mesti sesuai, tapi bolehlah ini dijadikan pegangan.
Karena lagi-lagi saya ingin bikin yang baru, saya berpikiran: mungkin ini saatnya untuk membaca buku ini dari cover to cover; mengetahui bagaimana struktur tiga babak dan sebagainya itu diterapkan pada berbagai cerita--khususnya dalam bentuk film.
Sebelum sampai pada bagian itu, saya baru menyadari bahwa buku ini diawali dengan penerangan yang bagus sekali, tentang kebutuhan jiwa manusia akan cerita. Menurut Profesor K (begitulah penulis buku ini menyebut dirinya), halaman 5-6, "kebutuhan manusia untuk bercerita berfungsi sebagai fondasi dalam membangun masyarakat, dengan membagi pengalaman agar diketemukan cara-cara baru oleh penerusnya." Malah, pada zaman Yunani kuno, konon cerita juga berfungsi sebagai sarana penyucian jiwa melalui teater (halaman 7). Di samping itu, pada dasarnya manusia selalu menginginkan perubahan. Kehidupan senyatanya boleh jadi terasa stagnan, maka kebutuhan itu pun terpenuhi lewat cerita. Penulis cerita yang ingin membuat karya laku mesti paham ini.
Pada dasarnya, premisnya selalu sederhana saja (halaman 12): Tokoh utama menghadapi pelbagai rintangan berat untuk menggapai cita-cita yang ingin dia raih.
Memang cerita tidak harus selalu berakhir memuaskan. Ada yang menggantung atau menimbulkan pertanyaan, seperti dalam film Rashomon; ada juga yang tidak menampilkan perubahan berarti, seperti Glengarry Glen Ross.
Dibandingkan dengan teater sampai novel, skenario merupakan bentuk penceritaan yang mutakhir. Ada yang pernah bilang pada saya, dia suka menulis skenario karena simpel. Tapi sesungguhnya penulisan skenario memiliki aturan-aturan yang ketat. Penulis mesti menampilkan yang pokok-pokok saja, dan yang terpenting: dramatis. Karena kedisiplinannya itulah, menurut Profesor K, mempelajari penulisan skenario sangat berharga bagi seorang penulis karena dapat mengajarkan aturan-aturan dan struktur bercerita (halaman 13).
Kita bisa saja menulis skenario berdasarkan pada ide kita sendiri. Tapi ada keuntungannya tersendiri menulis skenario berdasarkan karya orang lain, apalagi yang sudah dikenal luas. Secara khusus, buku ini mengajarkan yang belakangan itu, lengkap dengan persoalan hak cipta.
Ada sembilan film yang diangkat dalam buku ini; masing-masing bersumber dari bentuk yang berbeda-beda: Harry Potter and The Sorcerer's Stone dari novel serial J. K. Rowling, The Shawshank Redemption dari novela Stephen King, Rashomon dari dua cerpen Akutagawa Ryunosuke, The Patriot dari sejarah perang revolusi Amerika Serikat yang salah satu sumber utamanya adalah biografi, O Brother, Where Art Thou? dari drama klasik The Odyssey karya Homer, Madison dari sebuah kisah nyata yang antara lain diuraikan secara mendetail dalam suatu artikel majalah, Glengarry Glen Ross dari drama Broadway 1980-an pemenang Pulitzer Prize, X-Men dari komik Marvel, dan Shiloh dari novel trilogi anak-anak pemenang Newberry Medal karya Phyllis Reynolds Naylor.
Proses adaptasi tiap-tiap cerita menjadi skenario merupakan kasus yang khas. Penulis skenario tidak dapat bersetia terhadap karya asli, tapi mesti mampu menangkap dan menghadirkan kembali esensi atau ruh dalam cerita. Satu tokoh dalam skenario bisa merupakan gabungan dari beberapa tokoh dalam karya asli. Ada juga tokoh atau adegan dalam skenario yang tidak terdapat dalam karya asli. Begitupun dengan adegan dalam karya asli, tidak semuanya mesti diangkat ke skenario. Adakalanya penulis mesti memodifikasi detail. Misalkan, dalam novel Harry Potter and The Sorcerer's Stone, ada adegan permainan catur di mana Harry dan kawan-kawan menjadi bidaknya. Dalam filmnya, dibuat perubahan sehingga, alih-alih menggantikan bidak, mereka menungganginya.
Bab 1 dan 2 buku ini mungkin bisa mengena bagi penulis pada umumnya--bukan hanya penulis skenario. Tapi bagian seterusnya sepertinya cenderung pada penulisan skenario adaptasi saja. Paling tidak, paparan tersebut memahamkan saya akan kekhususan genre yang punya keunggulannya masing-masing. Misalnya, dalam skenario segalanya mesti dapat diwujudkan secara visual, sedangkan dalam novel penulis memiliki keleluasaan untuk mengeksplorasi keadaan internal tokoh tanpa terbatasi oleh indra tertentu--it's only words.