Di dalam situasi zaman yang ditandai dengan kemajuan besar-besaran di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi ini, ilmu pengetahuan cenderung memisahkan diri dari permasalahan etis praktis dan mengklaim dirinya bebas nilai. Tapi benarkah bahwa tidak ada pertautan antara teori dan praksis kehidupan sosio-politis manusia? Dengan memaparkan kembali secara sistematis pemikiran-pemikiran Habermas, penulis ingin menunjukkan bahwa pertautan teori dan praksis itu ada menurut Habermas, yakni suatu teori yang emansipatoris.
saya banyak membaca buku hardiman, dan untuk yang ini sampai setengah buku, saya kebosanan. ini adalah skripsi, karya awal-awal akademiknya, yang ditulis dengan gaya cukup monoton. namun, sebagai buku pengantar, ia masihlah pengantar yang bagus, gagasanya mudah dipahami dan mengalir mulus. karena itu, layak dibaca bagi yang mau berkenalan dengan habermas. lagi pula, di antara semua pegiat filsafat kita, hardiman adalah paling kalap pada habermas.
The book is very structural and easy to read. It helps us to understand the idea contemplated by Habermas from the ideology brought by Frankfurter schule to contemporary issues. The important of self-consciousness, the critical of reasoning (a priori & a posteriori) and the essence of self reflection from words and works
Dipadukan dengan buku F. Budi Hardiman lainnya yg berjudul Menuju Masyarakat Komunikatif, buku ini merupakan karya terbaik dalam bahasa Indonesia bagi siapapun yg hendak menyelami pemikiran filsafat sosial Juergen Habermas. Urutan pembacaannya sebaiknya Kritik Ideologi ini lebih dahulu, lalu berlanjut ke buku Menuju Masyarakat Komunikatif. Selanjutnya, untuk lebih memperdalam, pembaca bisa pula menyimak karya Franz Magnis-Suseno yang berjudul Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, yang juga berbicara seputar pemikiran Juergen Habermas.
Habermas adalah salah satu filsuf paling terkemuka di dunia yg masih hidup dan masih aktif menulis hingga saat ini (2010). Bahkan, tahun 2009 lalu buku terbarunya masih terbit, Europe: The Faltering Project, yang merupakan terjemahan dari edisi bahasa Jerman yang terbit pada 2008. Dalam buku ini ia antara lain berbicara tentang Derrida, Rorty, tentang Islam dan media.
Lahir tahun 1929, Habermas adalah pewaris tradisi pemikiran Mazhab Frankfurt yang melahirkan para pemikir seperti Theodor Adorno, Max Horkheimer dan Herbert Marcuse.
Mengenai Mazhab Frankfur, selain dijelaskan pula dalam buku F. Budi Hardiman ini, pembaca dapat pula menyimak satu buku utuh tentang kelompok para pemikir ini, yakni karangan Sindhunata berjudul Dilema Manusia Rasional.
Menyibak pertautan pengetahuan dan kepentingan melalui pemikiran Jurgen Habermas, bahwa tindak komunikasi kritis emansipatoris menjadi titik eksistensi manusia di penghujung abad moderen. Buku Kritik Ideologi karya F. Budi Hardiman menjadi pengantar yang baik bagi siapapun yang ingin mempelajari lebih dalam skema pemikiran Habermas. Seingatku, menurut Habermas, bahwa persoalan besar manusia ada di ranah komunikasi, dan salah satu proyeknya adalah mewujudkan masyarakat kritis, menciptakan dialog-dialog emansipatoris menuju masyarakat radikal komunikatif. Selebihnya ada di buku itu, selamat membaca :)