Jump to ratings and reviews
Rate this book

Anak Tanah Air: Sebuah Novel

Rate this book

378 pages, Paperback

First published January 1, 2008

14 people are currently reading
151 people want to read

About the author

Ajip Rosidi

137 books55 followers
Ajip Rosidi (dibaca: Ayip Rosidi) mula-mula menulis karya kreatif dalam bahasa Indonesia, kemudian telaah dan komentar tentang sastera, bahasa dan budaya, baik berupa artikel, buku atau makalah dalam berbagai pertemuan di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Ia banyak melacak jejak dan tonggak alur sejarah sastera Indonesia dan Sunda, menyampaikan pandangan tentang masalah sosial politik, baik berupa artikel dalam majalah, berupa ceramah atau makalah. Dia juga menulis biografi seniman dan tokoh politik. Pendidikan formalnya SD di Jatiwangi (1950), SMP di Jakarta (1953) dan Taman Madya di Jakarta (tidak tamat, 1956), selanjutnya otodidak.

Ia mulai mengumumkan karya sastera tahun 1952, dimuat dalam majalah-majalah terkemuka pada waktu itu seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang/Siasat, Indonesia, Zenith, Kisah dll. Menurut penelitian Dr. Ulrich Kratz (1988), sampai dengan tahun 1983, Ajip adalah pengarang sajak dan cerita pendek yang paling produktif (326 judul karya dimuat dalam 22 majalah).

Bukunya yang pertama, Tahun-tahun Kematian terbit ketika usianya 17 tahun (1955), diikuti oleh kumpulan sajak, kumpulan cerita pendek, roman, drama, kumpulan esai dan kritik, hasil penelitian, dll., baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda, yang jumlahnya kl. seratus judul.

Karyanya banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dimuat dalam bungarampai atau terbit sebagai buku, a.l. dalam bahasa Belanda, Cina, Inggris, Jepang, Perands, Kroatia, Rusia, dll. Bukunya yang dalam bahasa Sunda, a.l. Kanjutkundang (bungarampai sastera setelah perang disusun bersama Rusman Sutiasumarga, 1963), Beber Layar! (1964), Jante Arkidam (1967), DurPanjak! (1967), Ngalanglang K.asusastran Sunda (1983), Dengkleung De’ngde’k (1985), Polemik Undak-usuk Basa Sunda (1987), Haji Hasan Mustapajeung Karya-karyana (1988), Hurip Waras! (1988), Pancakaki (1996), Cupumanik Astagina (1997), Eundeuk-eundeukan (1998), Trang-trang Kolentrang (1999), dll.

Ia juga mengumpulkan dan menyunting tulisan tersebar Sjafruddin Prawiranegara (3 jilid) dan Asrul Sani (Surat-surat Kepercayaan, 1997). Ketika masih duduk di SMP men-jadi redaktur majalah Suluh Pelajar (Suluh Peladjar) (1953-1955) yang tersebar ke seluruh Indonesia. Kemudian men-jadi pemimpin redaksi bulanan Prosa (1955), Mingguan (kemudian Majalah Sunda (1965-1967), bulanan Budaya Jaya (Budaja Djaja, 1968-1979). Mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP-FS) yang banyak merekam Carita Pantun dan mempublikasikannya (1970-1973).

Sejak 1981 diangkat menjadi gurubesar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daignku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehi-dupan sastera-budaya dan sosial-politik di tanahair dan terus menulis. Tahun 1989 secara pribadi memberikan hadiah sastera tahunan Rancage yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikannya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
22 (31%)
4 stars
26 (37%)
3 stars
15 (21%)
2 stars
2 (2%)
1 star
5 (7%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Dewi.
177 reviews67 followers
February 27, 2012
Saya dibesarkan dengan pemahaman PKI itu kejam. Lihat saja kelakuan mereka pada 7 pahlawan revolusi. Lihat saja bekas kekejaman mereka di Lubang Buaya. Tak banyak cerita yang saya ketahui tentang PKI selain prinsip "Sama Rata Sama Rasa"nya itu.

Karenanya saya tertarik membaca novel ini, yang menyinggung tentang partai yang pernah berjaya di dunia politik Indonesia tersebut.

Adalah Ardi yang dibesarkan di komunitas yang kental suasana Islamnya. Namun bahkan sejak kecil pun Ardi sudah melihat kejanggalan yang tak disetujuinya. Seperti bahwa Allah itu wujud, tapi seperti apa wujud Allah? Kenapa tak ada orang yang bisa menjawabnya?

Lalu guru mengajinya, Haji Raup, mengapa tiap lebaran mendapat sumbangan zakat yang paling besar? Bukankah dia seorang haji, hidup berkecukupan, kenapa pula masih harus disumbang? Dan uang sumbangan itu dipakai Pak Haji untuk membeli tanah pula. Kenapa Tuhan membiarkan ketakadilan seperti ini? Apa benar Tuhan itu ada?

Pemikiran seperti ini membuat Ardi kecil yang kritis mulai meragukan keberadaan-NYA.

Sewaktu SMU (atau Taman Siswa menurut novel ini), Ardi pindah ke ibu kota. Di tengah kesemrawutan situasi politik, Ardi menjalin persahabatan akrab dengan seniman-seniman di Taman Madya (setingkat universitas). Ardi menemukan passion-nya adalah melukis. Namun dia juga berhadapam dengan kenyataan, seniman itu hidupnya susah. Lihat saja Afandi yang sampai harus hidup menumpang. Belum lagi kenyataan bahwa tak semua orang menghargai bakatnya.

Di saat itu, Ardi bertemu dengan Lekra, organisasi seniman golongan komunis, yang justru sangat menghargai bakatnya bahkan bersedia menyelenggarakan pameran tunggal. Sedari awal, para sahabat sudah memperingatkan Ardi bahwa tak ada yang gratis di dunia ini. Apalagi Lekra sudah terkenal dengan sifatnya yang pamrih.

Ardi tak mengindahkan nasihat sahabat-sahabatnya dan tetap bersikeras mengikuti organisasi tersebut. Selain karena organisasi itu memberinya hidup yang lebih baik dan pekerjaan tetap, juga karena dia merasa ideologinya sepaham dengan organisasi tersebut.

Untuk sesaat, pilihan Ardi tampak benar walau pun dia mesti kehilangan rekan dan sahabatnya. Lekra (dengan dukungan PKI) berubah menjadi partai dengan kekuatan politik yang besar saat itu. Bahkan Presiden Sukarno pun mengandalkan partai tersebut.

Namun roda revolusi mulai bergulir. Masyarakat dan militer tak tinggal diam pada komunis yang menguasai negeri. Dan saat paham komunis diberantas dari negeri ini, bagaimanakah nasib Ardi?

"Keindahan itu tidak hanya terdapat pada hal-hal yang bagus saja. Tidak hanya terdapat pada hal yang menyenangkan saja. Keindahan itu terdapat pula pada hal sehari-hari yang biasanya tidak dianggap indah. Keindahan itu terdapat dalam kejujuran."
-Ardi-


Saat membaca beberapa halaman awal buku ini, saya langsung bersyukur gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa 70an walau pun buku ini bersetting tahun 1960an. Seandainya penulis menggunakan gaya bahasa 60an, kayaknya saya bakal butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan :D

Berhubung saya bakal banyak membahas sisi menarik buku ini, maka biarlah saya katakan sekarang tentang rating.

Saya kasih rating 4 bintang saja, dikurangi 1 bintang karena bab-bab awal yang sungguh bertele-tele. Ajip Rosidi berlama-lama dengan masa lalu dan latar belakang Ardi juga masa-masa bersekolah Ardi di Taman Siswa yang sebenarnya bukan konflik utama.

Nah yang saya anggap menarik dari buku ini adalah gaya penceritaan yang terbagi dalam 3 bagian.

Bagian pertama saat Ardi datang ke Jakarta hingga akhir masa sekolahnya diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga. Bagian kedua dimulai saat Ardi merintis karir sebagai pelukis hingga bergabungnya dia ke organisasi kiri, diceritakan dengan sudut pandang Ardi.

Namun bagian ketiga lah yang paling menarik. Bagian ketiga merupakan curahan hati Hasan (rekan seniman dan sahabat Ardi sejak sekolah) terhadap situasi politik Indonesia saat itu.

Setelah kita diberi tahu mengenai sisi positif Lekra (dan PKI) dari kacamata Ardi di buku kedua, maka catatan Hasan memberi kesan sebaliknya.

Hasan bercerita bagaimana kebebasan seni dan berpendapat sangat dikekang saat itu. Semua yang mengancam keberlangsungan paham komunis dianggap sebagai pemberontakan. Pada catatannya, Hasan mencurahkan kegelisahan dan idealismenya untuk tidak terikat pada organisasi mana pun karena berpendapat seni haruslah bebas.

Bab ketiga juga memberitahukan nasib para pendukung Lekra (dan PKI) juga Ardi secara tersirat. Dan ini yang menarik, karena nasib Ardi tak pernah jelas dan membuat saya penasaran.

Tapi yang jauh lebih menarik buat saya, di luar segala cerita buku ini, adalah penggambaran situasi jaman dulu.

Ternyata Jakarta itu sudah semrawut sejak dulu, dan ternyata mental bangsa ini yang mau gampangnya saja (seperti keberadaan calo di terminal atau stasiun) juga merupakan penyakit kronis.

Situasi pemilu jaman dulu dan sekarang pun sama, contohnya : di waktu dulu para partai saling menjatuhkan lawan politiknya dengan segala cara termasuk fitnah. Sounds familiar, isn't it? ;)

Dari segi seni pun tak berubah. Simak keluhan seniman-seniman dahulu tentang bangsa kita yang belum bisa menghargai seni teater secara khusus dan seni lain secara umum. Contohnya dari penonton yang masih merokok atau ngobrol bahkan berteriak-teriak saat pertunjukan sedang berlangsung. Betapa masih relevannya keluhan tersebut dengan suasana sekarang.

Simak pula pendapat Hasan tentang kelemahan pimpinan Presiden Sukarno kala itu dan betapa miripnya dengan situasi kepemimpinan di Indonesia belakang ini :

"Dia tak mau mengakui kenyataan yang berkembang di depan matanya. Dia tetap tak mau menerima tuntutan masyarakat yang meminta keadilan. Dia tetap ingin hidup dalam mimpi-mimpinya yang penuh gemerlapan, tanpa menyadari realitas yang ada. Dia ingin membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, yang dimalui bangsa-bangsa lain, tetapi yang ditumbuhkannya adalah manusia-manusia kerdil yang hanya boleh membebek kepadanya saja."

(Note : Dia mengacu kepada Presiden Sukarno. Tapi boleh coba ganti dengan nama Presiden mana pun dan hasilnya kurang lebih sama)

Buat saya ini menyedihkan. Karena bahkan 40 tahun setelah peristiwa di buku ini pun, (mental) bangsa ini belum banyak berubah dan kita belum banyak belajar.

Dan pertanyaan Hasan tentang Indonesia yang tertulis di akhir buku ini pun :

--"Dapatkah negaraku mencapai keadaan demikian? Keadaan yang disebut murah sandang murah pangan, aman tentram kerta raharja, gemah ripah loh jinawi."--

terasa sebagai satu pertanyaan yang absurd.

also posted at : http://4urfun.blogspot.com/2012/02/an...
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
December 25, 2012
“Karena itu, lebih baik jangan ikut-ikutan politik. Yang penting bagi seniman....”
“Mencipta!”


Tidak banyak roman yang berlatar sejarah perjalanan bangsa. Apalagi sampai harus menceritakan segala persoalan yang menyangkut kesenian. Perkembangan kesenian di Indonesia mengalami pasang surut pada masa-masa awal kemerdekaan. Pergolakan ideologis antara kaum nasionalis, agamis, dan komunis menjadikan kesenian sebagai peluru bagi perjuangan ideologis mereka.

Pergulatan antar wacana kesenian dari masing-masing golongan menyebabkan para seniman yang berkecimpung di dalamnya harus menentukan sikap. Sebuah pilihan atas keberpihakan pada tujuan kesenian itu sendiri. Tak pelak, kenyataan tersebut menjadi duduk persoalan yang menarik untuk dibahas.

Roman ini dengan jenius mengangkat problematikan kesenian di masa itu. Lukisan sebagai objek dari kesenian yang menginduk pada seni lukis telah lebih dulu mendapat tempat bila dibandingkan dengan khazanah seni lainnya di negeri kita.

Tersebutlah, Ardi, seorang anak muda yang rela meninggalkan kampungnya untuk menempuh kehidupan barunya di kota bersama pamannya. Di kota itu, Ardi tumbuh sebagai pemuda yang mencintai seni terutama seni lukis. Dengan bakatnya itu, tidak terlalu sulit bagi kawan-kawan di sekelilingnya untuk menemukan mutiara yang terpendam. Kelak, Ardi pun mendapati jalannya sendiri untuk menjadi seorang pelukis.

Kehidupan sekolah yang dijalaninya tidak menghalangi upayanya. Bersama komunitas pelukis, Ardi mengembangkan bakatnya. Tahun demi tahun berlalu. Ardi telah mengalami metamorfosa. Impian untuk sekolah lebih tinggi ditinggalkannya. Ia hanya mau melukis dan jadi pelukis saja. Sebuah pilihan yang sampai saat ini masih dipandang sebelah mata.
Tekad kuatnya itu lantas menjadikannya seorang ilustrator handal. Walau begitu, Ardi tetap ingin mendapat pengakuan dan apresiasi terhadap dirinya sebagai pelukis. Lika-liku perjalanan hidup mengantarkan dirinya pada Hermin. Seorang gadis penikmat seni yang tahu betul menghargai sebuah karya seni lukis. Setelah mengenal beberapa lama, mereka menjalin suatu hubungan tanpa status (mengikuti istilah keren ABG saat ini). Pergumulan cinta dan perasaanya dengan Hermin tidak berlangsung lama. Hermin lantas mencampakkan Ardi karena ia sendiri telah terikat pada pria yang lain. Seseorang dari masa lalu yang tumbuh bersama Ardi, Asep Suwangsa.

Dalam kegamangannya, Ardi mulai surut langkah. Terlebih, usai menerima tawaran Suryo untuk bersama-sama menandatangani persetujuan atas Konsepsi Presiden. Ardi mulai berpolitik tanpa ia sadari. Keadaan ini menyebabkan berbagai kesulitan datang bertubi-tubi menghampirinya. Ardi masih tidak sadar bahwa sebagian kawannya menganggap ia bergabung dengan sayap organisasi partai politik yang saat itu didominasi partai komunis. Ardi kehilangan peluang untuk menyelenggarakan pameran tunggal karena sikap politiknya itu. Lantas, Ardi pun kehilangan pekerjaannya. Tidak ada lagi majalah, tabloid, atau penerbit buku yang meminta ilustrasinya.

Ketika harapan hampir padam, Suryo datang kembali padanya. Menawarinya untuk tetap mengadakan pameran tunggal sekaligus memberi pekerjaan pada suatu majalah bulanan.
Perhelatan pameran tunggal Ardi pun sukses. Pameran tunggalnya banyak mendapat apresiasi dari para seniman penggiat Lekra. Ardi merasa telah mendapat apresiasi yang sepantasnya. Ideologi kesenian yang harus berpihak pada rakyat telah menjadi ciri karya-karya lukisannya.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Tidaklah salah apabila karya Ajip Rosidi ini disebut sebuah roman. Anak Tanah Air dengan jelas menggambarkan detail-detail penceritaan Ajip Rosidi terhadap suatu fenomena tertentu. Masalah utama dari roman ini sudah jelas dapat ditemukan pada paragraf ini:
“Tetapi, apakah seniman harus tetap tak ambil peduli kepada keadaan tanah airnya? Keadaan bangsanya? Apakah seniman harus merasa cukup asal dia dapat mencipta dan mendapat tepuk tangan dari pengagumnya, padahal tanah airnya sendiri menuju jurang kehancuran?” (hal. 285)

Inilah yang menjadikan roman ini istimewa. Setidaknya, sampai menjelang setengah buku, belum nampak persoalan utama. Pembaca digiring untuk menerka-nerka apa yang menjadi subjek utama cerita dalam roman ini. Pengalaman pembaca akan diuji hingga tiga per empat buku terlampaui. Hingga menemukan berbagai persoalan tentang kesenian di masa revolusi pasca kemerdekaan.

Persoalan kebudayaan pada masa revolusi pasca kemerdekaan atau dengan kata lain pada saat Demokrasi Terpimpin mengerucut pada pertikaian dua kelompok besar: Manifes Kebudayaan (Manikebu) dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Mengacu pada MLBL, telah terjadi pembakaran dan pelarangan atas karya-karya seniman Manikebu dan juga penahanan terhadap mereka.
Kesenian pada saat itu hanya menjadi satu peluru bagi perjuangan ideologis belaka. Kesenian menjadi satu alat bagi Presiden Sukarno untuk tetap memantapkan kekuasaannya. Untuk itu, ia tentu membutuhkan segenap dukungan tak terkecuali dari kaum kiri/komunis. Termasuk para seniman yang sepaham dengan jalan perjuangannya yang dituangkan dalam Konsepsi Presiden. Keadaan ini menimbulkan ketidakpuasan dari berbagai kalangan masyarakat yang menuntut Presiden untuk segera membenahi hal-hal mendasar soal kehidupan berbangsa

Relevansi sejarah pun mengatakan demikian. Sukarno yang dengan istilah-istilah besarnya malah tidak berhasil membuat satu kemajuan apapun. Tidak ada kemajuan dalam semua bidang kehidupan. Laju inflasi tidak tertahankan sehingga rakyat pun sangat sulit untuk makan menyebabkan pergolakan-pergolakan paada semua bidang kehidupan. Mengenai hal ini agaknya pembaca yang budiman dapat membuka kembali memoar Mohammad Hatta yang terkumpul dalam buku “Demokrasi Kita”.

Karena saya terlebih dahulu menamatkan Kubah (Ahmad Tohari) dan Mochtar Lubis Bicara Lurus (Ramadhan KH-ed), saya menemukan suatu benang merah atas segala peristiwa yang terjadi saat itu. Bila Kubah membahas persoalan seorang tahanan politik yang ingin kembali ke tengah masyarakat usai komunis dimusnahkan dari bumi pertiwi maka relevansinya dengan MLBL dan roman ini menjadi satu substansi yang saling melengkapi. Latar belakang waktu dalam Kubah dan realitas yang disampaikan Mochtar Lubis dalam bukunya dapat menjadi narasi pendukung bagi roman Anak Tanah Air ini. Bahwa pada suatu tertentu dalam perjalanan sejarah bangsa kita telah terjadi hal yang demikian. Dan itu adalah persoalan kesenian.

Melalui roman ini, Ajip Rosidi mencoba mengungkapkan kembali segala peristiwa penting yang terjadi pada masa Revolusi Kemerdekaan. Ajip Rosidi mengangkat kembali persoalan kehidupan seniman-utamanya pelukis- serta hubungannya dengan situasi dan kondisi politik di Indonesia pada tahun-tahun itu. Ajip Rosidi meninggalkan penanda bagi kita, generasi penerus bangsa, untuk tetap membaca dan mengkaji sejarah republik demi masa depan kesatuan dan keutuhan bangsa.
Profile Image for Rei.
366 reviews40 followers
October 18, 2021
Anak Tanahair; Secercah Kisah oleh Ajip Rosidi.

“’Apakah yang dapat memberikan kesenangan pada manusia? Tidak hanya hal-hal yang indah dipandang oleh mata kepala, melainkan yang memperkaya mata batin. Dan kekayaan mata batin dapat ditambah dengan melihat kenyataan-kenyataan hidup yang benar – betapa terasa pahitnya pun itu! kewajiban senimanlah yang mengungkapkan kenyataan itu, agar manusia lain melihatnya, karena hanya kalau manusia melihat kenyataan yang telanjang itu sajalah maka ia akan lebih arif menerima kebenaran hidup.’” -hal. 68.

“Apa salahnya makan bersama dengan orang komunis? Bukankah mereka pun manusia juga seperti yang lain-lain? Apakah perbedaan pandangan politik harus sedemikian rupa sehingga dalam segala hal kita tak boleh hidup bersama?” -hal. 167.

“Ataukah memang pada akhirnya kemerdekaan yang diperjuangkan oleh seluruh bangsa itu hanya akan dinikmati oleh orang-orang tertentu saja?” -hal. 217.

“…pada dasarnya kesenian itu harus bebas, seperti manusia juga pada dasarnya harus bebas. Bebas dalam arti merdeka untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan kodratnya.” -hal.241.

Ardi, seorang anak yang baru saja menginjak masa remaja, pergi ke Jakarta untuk menuntut ilmu dengan penuh harapan. Betapa kecewanya ia karena ibukota yang selama ini dalam bayangannya begitu gemerlapan ternyata hanyalah sebuah rumah petak kumuh di pinggir kali. Namun ia menemukan rumah di komunitas seni sekolahnya, Taman Siswa. Ia mulai mengikuti sanggar melukis dan bergaul dengan para kakak kelas yang tak segan untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengannya.

Seiring berkembangnya kemampuan melukis Ardi dan semakin dewasanya ia, matanya mulai lebih mengamati dengan cermat kondisi di negerinya saat itu. Ayahnya sendiri hilang, kemungkinan ditangkap oleh Belanda pada masa perang revolusi dan ibunya harus membanting tulang untuk membesarkan Ardi. Berbagai ketidakadilan dan semrawut politik pada masa itu (pertengahan 1960-an) meninggalkan kesan yang mendalam dan entah disadarinya atau tidak, membuat Ardi memiliki pandangan sendiri. Kendati ngotot tidak berpihak pada partai manapun, namun Ardi menerima uluran tangan Lekra pada saat keadaannya sedang sangat terjepit.

Buku ini sangat berkesan untukku karena mengingatkan pada guru sejarahku di SMP dulu. Gaya beliau bercerita tentang situasi politik pada tahun 1960an itu rasanya mirip dengan gaya Ajip Rosidi. Seperti dongeng yang melenakan tapi pelajaran yang disampaikan tertanam kuat.

Membaca buku-buku yang berlatar tahun 1960an (yang berujung pada Tragedi 1965) selalu membuatku menyadari kalau sejarah sangatlah tidak hitam putih. Orang-orang di Indonesia tidak terbagi menjadi PKI dan bukan PKI. Seperti Ardi, yang batinnya bergolak ingin menuntut keadilan. Ia, anak seorang pahlawan revolusi, dibiarkan berjuang sendirian tak dipedulikan oleh negara. Malah Lekra yang akhirnya mengulurkan bantuan dan Ardi tak lagi peduli apakah ada motif tertentu di balik bantuan mereka.

Nasib Ardi sudah bisa ditebak. Satu lagi ketidakadilan yang dialaminya, sekali lagi ia diabaikan begitu saja.
Profile Image for Henny Sari.
Author 8 books11 followers
December 11, 2017
Sepertinya ada perubahan yang signifikan dibandingkan cetakan pertama (cover warna coklat) pada sekitar paruh akhir '80-an. Saya juga membaca cetakan kedua, yang sekarang ini (yang cover-nya merah-putih ini).
Nah, catatan saya untuk cetakan pertama:

inilah buku yang pertama kali membuat guncangan terhadap orientasi ke-Tuhan-an saya saat saya masih berwujud 'anak alay', berumur sekitar 15 tahun. buku ini saya baca dari perpustakaan sekolah SMA 39 Jakarta. sampai kapan pun tidak bisa lupa isinya (meski kalau sekarang baca lagi, tidak menghasilkan efek yang sama seperti dulu saat pertama kali membacanya). :). terimakasih Pak Ajip Rosidi. Anda salah seorang dan buku Anda adalah salah satu sumber yang menjadikan saya seperti ini sekarang ini. :D

Catatan saya untuk cetakan sekarang (cover merah-putih):
ANTIKLIMAKS!
Di bab2 terakhir malah berisi wejangan dan nasehat dalam bentuk surat2 utuh dari sahabat si tokoh utama. Ini benar2 menjenuhkan dan terkesan menggurui. Selain itu pembaca yang telah simpati pada cetakan lama, setelah membaca versi baru ini, jadi skeptis dan curiga kepada pengarang bahwa dirinya pun tak ubahnya 'seniman partai' yang dikisahkannya dalam buku ini, dengan kata lain: membuat karya sesuai 'pesanan'.
Tak saya temukan kalimat2 yang paling membekas di benak saya ketika membaca cetakan pertama dulu sewaktu saya remaja. Kira2 begini kalimatnya: "Bagaimana kalau Tuhan memang benar-benar tidak ada? Tuhan tidak ada. Tuhan tidak ada. Tidak Ada...."
Dan kalimat itu membuat saya semakin dalam mempelajari spiritualitas dan ilmu2 kebijaksanaan, setelah ilmu2 filsafat. Bagus sekali efeknya terhadap saya dan banyak pembaca lain saya pikir. Tetapi, dalam cetakan sekarang kok tidak saya temukan ya hingga bab2 terakhir ini?

Demikianlah.
Sungguh, sayang sekali, Pak Ajip. Lebih bagus cetakan lama. Untuk cetakan lama saya beri bintang 4. Kalo yang cetakan baru ini 2 saja akhirnya.... Ah, andai tak ada surat2 Hasan yang berisi wejangan penulis.
Profile Image for ukuklele.
462 reviews20 followers
November 5, 2023
Saya baca di Ipusnas, latar kovernya ala Twister merah putih seperti yang terpajang di Goodreads ini. Edisi elektronik, 2018. ISBN 978-979-419-544-4 (PDF).

Novel ini terdiri dari tiga bagian. Tiap bagian cara penyampaiannya berbeda. Bagian pertama menceritakan tokoh Ardi pada usia remaja dengan sudut pandang orang ketiga. Bagian kedua Ardi telah cukup dewasa (lulus setingkat SMA) dengan sudut pandang orang pertama. Bagian ketiga berupa surat-surat yang ditulis oleh tokoh Hasan, kawan Ardi.

Bagian pertama adalah yang paling berkesan buat saya. Saya merasa penulis dapat membawakan kepolosan pandangan seorang remaja secara meyakinkan, khususnya tabiat baru kenal dunia tapi merasa tahu segalanya haus akan wawasan baru dalam perspektif yang masih terbatas. Padahal saat menggarap karya ini usia penulis sudah 40-an tahun. Detailnya hidup, bikin takjub. Penulis tampak suka menghambur-hamburkan kata. Sepertinya beliau pengamat dan pengingat yang baik. (Ada masanya sih saya juga getol mencatat setiap pengalaman, cuma belakangan sudah merasa itu tidak penting lagi dan biarlah lewat kesan-kesan dunia yang fana ini heuheuheu~)

Karena sebelum ini sudah menamatkan kumpulan esai penulis tentang korupsi dan kebudayaan, serta mulai membaca autobiografinya yang setebal 1300-an halaman itu, saya menduga dalam novel ini beliau banyak memasukkan pengalamannya sendiri berikut pandangan kritisnya mengenai berbagai fenomena kebudayaan di sekitarnya. Sebagai contoh, di halaman 19, disorot mengenai risinya Ardi dalam bergaul dengan anak-anak pejabat yang rapi jali rambut diminyaki bahasanya pun halus kemudian dikaitkan dengan persoalan undak usuk basa di sekolah yang secara tidak langsung mengajarkan tentang strata sosial di masyarakat. Kemudian ada fenomena catut-mencatut tiket kereta di bab dua.

Bab tiga dalam bagian ini mungkin dapat dijadikan contoh narasi yang mengandung eskalasi kontras bertahap-tahap melalui suasana batin tokohnya. Dalam bab ini, ibunya Ardi datang ke Jakarta karena mau menengok Ardi sekalian Paman Joko yang adalah adik kandung ayah Ardi. Setelah beberapa lama tinggal di Jakarta, Ardi mulai menyadari adanya kesenjangan antara gaya hidupnya sekarang dan gaya hidup lama di kota kabupaten yang tampak pada ibunya. Ada keprihatinan pada upaya yang mungkin ditempuh ibunya agar ia mendapatkan uang pembeli sepeda, begitu pula dengan keadaan rumah Pak Rahim (induk semang Ardi) disandingkan dengan gaya hidup Paman Joko yang walau menumpang juga tapi di lingkungan yang lebih baik (Menteng).

Tak cukup sekali-dua, tak cukup lima-enam kali--entah sudah berapa kali ia menelitinya dan setiap kali berjam-jam dia merenungi garis-garis, paduan warna, komposisi keseluruhannya. Tak pernah merasa puas. Garis-garis itu begitu spontan, begitu berani. Meskipun warna-warna lukisan itu kusam--entah karena kualitas catnya entah karena apa--tetapi dalam mencengkam. Ada sesuatu yang membetot hatinya untuk terus menatap lukisan itu. (halaman 89, detail pengamatan pelukis aspiran Ardi terhadap karya pelukis senior terkemuka Affandi; selanjutnya mengidentifikasikan diri dengan pelukis yang dikaguminya itu, dan memposisikan diri sebagai yang bersangkutan apabila menghadapi persoalan sehingga tanpa sadar ketika bekerja garis-garis dan komposisinya mengikuti.)


Dalam bab enam, penulis menggambarkan kawasan lokalisasi pelancuran secara mendetail tapi seperti menghindar untuk frontal sehingga tetap terasa sensasi penasaran dan semacamnya tanpa harus ada detail pembangkit syahwat (tidak seperti novel-novel Haruki Murakami -_-), masih santun.

Bab tujuh menggetarkan dan mengharukan, sampai saya menitikkan air mata. Walau tidak mau pelacur, Ardi tidak melihat ada kaitan antara moral dan agama (Islam). Di samping kesenjangan-kesenjangan intelektual dsb yang dia rasakan setelah bertahun-tahun sekolah di Jakarta dengan penduduk kampungnya, ia mulai tidak berpuasa pada liburan Ramadan itu. Ia main ke rumah teman "kos"-nya, Rusmin, di Garut. Namun di sana pada waktu itu lagi ada pemberontakan DI vs TNI. Orang tua Rusmin kena sehingga ia jadi sebatang kara dan mau ke pamannya di Tasikmalaya, sehingga Ardi yang baru dua-tiga hari di situ mesti sudah pulang lagi. Namun Ardi makin terguncang karena DI itu kemasannya Islam tapi tega sama orang tua Rusmin yang padahal sama-sama muslim dan sudah baik kepadanya.

Sementara membaca bab sembilan yang mengangkat tentang fenomena kebakaran rumah rakyat di Jakarta (yang entahkah berdasarkan pada peristiwa nyata atau tidak), saya terpikir akan suatu cara menulis menggunakan latar historis. Buat kerangka semacam kaleidoskop, merunut ada fenomena atau kejadian menarik/peristiwa besar apa sajakah dalam kurun waktu yang akan digunakan sebagai latar lalu sangkut-pautkan dengan kehidupan tokoh.

Yang mengemuka di bagian kedua adalah kisah antara Ardi dan Hermin yang mana terdapat kesenjangan sosial ekonomi, lengkap dengan adegan french kiss rasa rambutan Aceh (bab lima) dan XXX segala (bab tujuh). Dalam memasukkan konten dewasa itu, penulis seperti sadar diri dengan secara tidak langsung menyiratkan di bab berikutnya (bab delapan) bahwa pergi bersama wanita bukan mahram merupakan perbuatan nirakhlak. Selain itu, diceritakan pula awal karier Ardi sebagai seniman lukis/ilustrator majalah/tukang gambar hingga terseret ke dalam permainan politik.

Saya merasa Ardi merupakan contoh karakter yang bulat. Walau rasa keadilannya sangat tinggi, sewaktu-waktu ada sisi angkuhnya juga. Ia cenderung pro dengan golongannya saja yang sepemikiran, sedangkan dengan kerabatnya dari kampung yang notabene akar dari kebudayaannya justru renggang karena sudah beda alam. Betapa ironis! Lain dengan karakterisasi pamannya yang walau sudah lebih lama hidup di kota, tapi tetap memedulikan para kerabat kampung (bab 3). Bisa dibilang ia seorang snob yang menjadikan standar Eropa atau Barat sebagai tolak ukur dalam berkesenian, padahal lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya--tiap daerah boleh punya cara yang berbeda-beda (bab enam).

Dia tidak pernah melihat kepada orang-orang yang lebih tinggi, yang dapat membuatnya iri hati--bahkan ia sendiri nampaknya tidak mempunyai perasaan seperti itu--melainkan selalu memperhatikan orang-orang lebih rendah yang dapat dibantunya. (halaman 176, tentang Abdulmanan paman Ardi.)


Bagian ketiga seperti memaparkan proses hijrah yang dialami Hasan, sedangkan Ardi seperti sekadar menumpang lewat memupus rasa ingin tahu pembaca akan kelanjutan nasibnya yang berujung tak jelas. Mencuat wacana-wacana seperti Islam vs kominsme, kesenian dan Islam (apakah bertolak belakang atau yang satu dapat mendukung yang lain?), politik sebagai upaya memecah-belah umat, Islam sebagai sumber ilham dalam berkesenian, dst. Macam gagasan-gagasan untuk esai atau opini yang dibungkus dalam bentuk surat. Bagi yang sepandangan, it's fine. Kalau tidak, entah bagaimana kesannya.

Pembagian dalam novel ini seperti menggambarkan tahapan-tahapan dalam kehidupan. Di bagian satu (masa remaja) ada banyak peristiwa berkesan, mengguncang perasaan dan membentuk pemikiran. Bagian dua (masa dewasa muda) tetap ada peristiwa-peristiwa mulai dari gelora syahwat hingga kesulitan ekonomi, tapi kesannya tidak sekuat yang pertama. Bagian ketiga (masa dewasa menengah) masih ada kesulitan ekonomi (hiks) yang sebetulnya tergantung pada mau berpihak ke lembaga tertentu atau tidak, tapi ada pendalaman spiritual sehingga banyak perenungan dan semacamnya. Sepertinya novel ini boleh disebut sebagai contoh karya coming of age.

Melalui novel ini, pembaca tidak hanya mendapatkan cerita, tapi juga sambil belajar sejarah bangsa seputar tahun kemerdekaan sampai peristiwa G30S serta fenomena-fenomena budaya yang meskipun beda zaman mungkin masih relevan sampai sekarang. Terkandung muatan dakwah sekaligus kritik terhadap perilaku penganut Islam yang dapat mencemari citra agamanya sendiri. Di sana-sini diselipi opini si ini dan si itu, perdebatan, pertanyaan, pergulatan, pemikiran, dan semacamnya bahan overthinking lah, yang sejujurnya saya sudah tidak begitu peduli sih meski kadang-kadang bisa relate.

Saya menduga tokoh Ardi seusia dengan penulis yang lahir pada 1938. Pada tahun 1945, usia Ardi 7 tahun jalan 8. Jangan-jangan ... Ardi itu dari Ajip RosiDI? Kalau Ardi berkecimpung dalam dunia lukis, Ajip Rosidi dalam tulis-menulis. Namun keduanya sama-sama bagian dari seni. Bagaimanapun juga, memang jalan hidup penulis lain dengan nasib tokohnya ini :D
63 reviews4 followers
September 30, 2014
Ardi sebagai tokoh utama yang usianya masih belia sudah mengalami pergolakan pemikiran antara dogma-dogma kebiasaan yang sudah mengakar dengan keraguaannya terhadap realitas yang disaksikannya sendiri dari lingkungan sekitarnya.

Roman yang sarat dengan berbagai muatan sejarah perkembangan kesusasteraan dan kesenian serta kaitannya dengan dinamika politik yang terjadi pada kurun waktu 1950-an sampai 1965.
Displaying 1 - 8 of 8 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.