What do you think?
Rate this book


378 pages, Paperback
First published January 1, 2008
Tak cukup sekali-dua, tak cukup lima-enam kali--entah sudah berapa kali ia menelitinya dan setiap kali berjam-jam dia merenungi garis-garis, paduan warna, komposisi keseluruhannya. Tak pernah merasa puas. Garis-garis itu begitu spontan, begitu berani. Meskipun warna-warna lukisan itu kusam--entah karena kualitas catnya entah karena apa--tetapi dalam mencengkam. Ada sesuatu yang membetot hatinya untuk terus menatap lukisan itu. (halaman 89, detail pengamatan pelukis aspiran Ardi terhadap karya pelukis senior terkemuka Affandi; selanjutnya mengidentifikasikan diri dengan pelukis yang dikaguminya itu, dan memposisikan diri sebagai yang bersangkutan apabila menghadapi persoalan sehingga tanpa sadar ketika bekerja garis-garis dan komposisinya mengikuti.)
Dia tidak pernah melihat kepada orang-orang yang lebih tinggi, yang dapat membuatnya iri hati--bahkan ia sendiri nampaknya tidak mempunyai perasaan seperti itu--melainkan selalu memperhatikan orang-orang lebih rendah yang dapat dibantunya. (halaman 176, tentang Abdulmanan paman Ardi.)