Menulis karya fiksi tidak bisa diajarkan, tapi bisa dipelajari. Karena itulah tiap sastrawan memiliki cara sendiri-sendiri dalam proses kreatifnya. Dan, tulis Pramoedya Ananta Toer, "... proses kreatif tetap pengalaman pribadi yang sangat pribadi sifatnya. Setiap pengarang akan mempunyai pengalamannya sendiri, sudah terumuskan atau belum."
Sebanyak 12 sastrawan Indonesia terkemuka mengisahkan proses kreatif mereka dalam buku ini - kisah-kisah yang sangat menarik dan inspiratif. Bagaimana Pramoedya menciptakan novel PerburuanKeluarga Gerilya? Bagaimana Umar Kayam melahirkan cerpen "Seribu Kunang-Kunang di Manhattan" dan "Bawuk"? Bagaimana Sapardi Djoko Damono menggubah sajak-sajaknya yang manis dan seolah bercerita? Bagaimana Hamsad Rangkuti merangkai cerpen-cerpennya hingga murid kelas lima sekalipun dapat memahaminya? Itulah sebagian kisah yang menarik kita ikuti.
Daftar Pramoedya Ananta Toer - Perburuan & Keluarga Gerilya Sitor Situmorang - Usaha Rekonstruksi yang Dirundung Ragu (Proses Sajak) Nasjah Djamin - Si Tambi dan Si Buyung Ketek Gerson Poyk - Dari Momen Kunci ke Momen Kunci Umar Kayam - Tentang Proses Penulisan Cerita Saya Satyagraha Hoerip - Bagaimana Mereka Saya Ciptakan? Sori Siregar - Saya Ingin Berdialog Sapardi Djoko Damono - Permainan Makna Danarto - Jelmaan Ruang-Waktu M. Poppy Donggo Huta Galung - Pengarang Liar dan Penyair Enteng Hamsad Rangkuti - Dari Bakat Alam ke Teknik Abdul Hadi W.M. - Catatan-Catatan Seorang Penyair
Pamusuk Eneste, lahir 19 September 1951 di Padang Matinggi, Sumatra Utara. Menyelesaikan studi pada jurusan Sastera Indonesia, FSUI (1977). Pernah menjadi Pemimpin Redaksi majalah kebudayaan umum FSUI Tifan Sastra (1972-1978), redaktur budaya sk Kampus UI Salemba (1976-1978), dosen Bahasa Indonesia pada Akademi Perawatan St. Carolus, Jakarta (1978), dan Lektor Bahasa Indonesia pada semiar fur Indonesische und Sudseesprachen, Universitas Hamburg, Jerman Barat (1978-1981).
Pramoedya Ananta Toer berkisah tentang lahirnya novel Perburuan dan Keluarga Gerilya. Keduanya adalah refleksi dari pengalaman hidupnya. Ia juga bercerita konsep mekanisme kreatif yang ia miliki: gunung, kuil, dan matahari. Gunung adalah segala pengalaman hidup. Kuil adalah sari dari pengalaman itu, bisa berbentuk ilmu, kebijaksanaan. Matahari yang membuat segalanya nampak atau tidak nampak. Matahari adalah sang pribadi dengan integritasnya. Sitor Situmorang menulis apa yang mendasarinya menciptakan sajak pendek berjudul Malam Lebaran yang hanya terdiri dari: bulan di atas kuburan. Sajak pendek itu ternyata punya kesan mendalam. Tapi penjelasan itu hanya sedikit dari sebuah tema yang lebih luas yang diungkap Sitor, yaitu bagaimana ia mengarang. Selain Pram dan Sitor, Gerson Poyk, Umar Kayam, Nasjah Djamin, Sapardi Djoko Damono, Sori Siregar, Danarto, Hamsad Rangkuti, Satyagraha Hoerip, Abdul Hadi W.M., M. Poppy Donggo Huta Galung juga menulis tentang jawaban yang menurut mereka berasal dari pertanyaan paling sulit yang sering dilontarkan kepada mereka: bagaimana proses kreatif mereka. Nasjah Djamin dan cerita tentang alasannya bergelut di bidang sastra. Gerson Poyk dan keinginan kuatnya menjadi sastrawan. Umar Kayam dan kisahnya tentang Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Satyagraha Hoerip menulis artikel berjudul Bagaimana Mereka Saya Ciptakan? Sori Siregar yang ingin berdialog lewat karyanya. Sapardi Djoko Damono tentang keheranannya terhadap dunia nyata dan dunia rekaan. Danarto dengan kebutuhannya menulis cerpen. Poppy yang senang mengarang liar. Hamsad Rangkuti mengungkapkan teknik berkisahnya. Abdul Hadi menguraikan riwayat hidupnya dalam nomor-nomor. Bagi saya pribadi, merupakan hal yang menyenangkan sekaligus inspiratif untuk mengetahui bagaimana seseorang berjuang melahirkan sebuah karya, apapun itu. Buku ini awalnya saya kira akan mengajari saya bagaimana cara menulis. Ternyata saya malah mendapatkan sesuatu yang lebih esensial dari kegiatan menulis. Tentang cara menulis sendiri, saya rasa saya teracuni secara tidak sadar dari nama-nama besar yang ada dalam buku ini. Ah, tak hanya nama-nama yang ada dalam buku ini, toh, semua bacaan pasti telah meracuni saya, mungkin kita. Setelah membaca buku ini saya sampai pada beberapa simpulan. Kedewasaan dan pangalaman berkombinasi mengantarkan kita pada sebuah ide. Ide tak akan menjadi karya apabila tak ada dorongan yang kuat. Rasa takut, rasa minder, dan segala bentuk negatif yang sumbernya berasal dari luar, dari lingkungan, hendaknya ditanggulangi demi sebuah kemajuan.
Sangat menarik mengetahui tentang proses kreatif dan apa yang ada di balik karya-karya mereka. Sebuah karya sastra saat ditulis tentu masih snagat subyektif karena dia begitu tergantung pada pengetahuan, pengalaman, situasi, pilihan politis, lingkungan, batin, dan juga bacaan pengarang. Meskipun "penulis sudah mati" ketika karyanya sudah diterbitkan dan dilempar ke pembaca, tidak bisa tidak, masih ada diri penulis di dalam karya tersebut. Mengetahui apa apa yg di balik ini memungkinkan pembaca lebih obyektif dan menyeluruh dalam mengapresiasi sebuah karya (walaupun tidak harus demikian karena membaca ya membaca saja karena sebuah karya harusnya dinilai dari kualitas karya itu sendiri dan bukan siapa yang mengarangnya. Tetapi tetap saja, nama si pengarang masih cukup menentukan).
Buku 1 ini adalah buku seri Bagaimana dan Mengapa Saya Mengarang kedua yang saya baca. Seri langka yang sayangnya sudah susah sekali ditemukan di toko buku pdhl terbit ulang tahun 2009. Saya sangat berharap seri ini diterbitkan kembali karena walaupun tersedia di Gramedia Digital dan Ipusnas, membacanya cukup melelahkan jika lewat gawai. Tulisan-tulisan bagus di seri ini sangat padat dan penuh, hurufnya juga kecil. Mata sampai pedas bacanya, tapi ya karena menarik mau gimana lagi. Padahal isinya sungguh luar biasa karena secara tidak langsung mengajak kita lebih dekat dengan para pengarang nasional sekaligus bisa membangkitkan semangat menulis. Banyak penulis senior bahkan turut membagikan tips mengarang dan mencari Ilham di buku ini.
Seri pertama ini memuat nama-nama yang bisa dikatakan legenda dalam sastra Indonesia modern. Sitor Situmorang, Umar Kayam, Danarto, Hamsad Rangkuti, dan Gerson Poyk adalah nama-nama besar yang menyumbangkan buah pengalaman mereka di buku ini. Yang lebih istimewa, buku ini juga memuat dua nama besar dalam sastra Indonesia: Pramoedya Ananta Toer dan Sapardi Djoko Damono. Sungguh seperti menemukan harta karun ketika membaca buku ini karena seolah kita sedang didongengin langsung oleh para pengarang besar ini terkait proses kreatif mereka dalam mengarang.
Meskipun tiap pengarang memiliki pengalaman dan teknik serta opini yang beraneka ragam terkait mengarang, ada sejumlah persamaan yang bisa kita tarik dari para penulis besar ini:
1. Kecintaan membaca sejak kecil. Rata rata (kalau tidak bisa dibilang semua) pengarang di buku ini sudah akrab dengan kegiatan membaca sejak kecil atau remaja.
2. Segera menulis. Semua pengarang di buku ini selalu menuliskan apa apa yg terbetik dalam pikiran mereka sesegera mungkin. Kecintaan menulis dibuktikan dengan aksi menulis, dan itulah bukti paling kuat dari rasa cinta menulis.
Selepasnya, kita akan menyimak kisah kisah standar terkait dunia kepengarangan meskipun yg standar ini tetap menarik juga jika para pengarang yang bercerita
12 orang sastrawan Indonesia "era lampau" (seperti Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, Umar Kayam, Sapardi Djoko Damono, dan Nasjah Djamin) bercerita tentang proses keterlibatan mereka dengan sastra dan/atau proses kreatif mereka dalam berkarya. Masing-masing memiliki proses yang berbeda-beda, meski ternyata sebagian di antara mereka memiliki bacaan dan lingkaran pergaulan yang serupa.
Pram, misalnya, mengungkapkan: "... menulis merupakan terjemahan dari keadaan bahwa kehadiranku masih ada gunanya bagi kehidupan."
Sitor Situmorang bilang: "Ia, si penyair, bukan membuat sesuatu dari yang tiada. Sajak adalah jadi-jadian, lewat kemampuan menggunakan segala faktor budaya yang dicerap, dimiliki, dan dibina oleh si penyair."
Kata Umar Kayam: "Menulis, pada mulanya, ternyata adalah masalah kemauan yang pribadi sekali. Masalah determinasi. Selanjutnya, ternyata, boleh apa saja ikut terjadi...."
Sapardi Djoko Damono berucap: "Ia [sajak] masuk akal karena berada di dunia kata, dan menjadi tak masuk akal kalau kita berusaha mengembalikannya ke dunia nyata."
Dan menurut Nasjah Djamin: "... satu hal yang jadi keyakinan saya: kerja melukis dan kerja menulis adalah kerja diri pribadi, bersekelibut berseorang diri dalam kesunyian, dan harus diselesaikan berseorang diri pula!"
dari buku inilah saya tahu kalo pram tidak menulis bumi manusia tapi "menceritakannya" kepada para sesama penghuni tahanan.
bukan belajar bagaimana menulis, tapi berproses untuk menulis. seperti inilah buku yang dibutuhkan orang2 yang ingin jadi penulis. bukan diajari menyusun kata2 menjadi kalimat yang luarbiasa, tapi membaca setiap peristiwa dan bermain makna dari setiap kejadian untuk dituliskan. dituturkan langsung oleh penulis mengenai latar belakang sebuah ceita arau prosa yang mereka tulis. inspiratif sekaligus menggugah rasa lapar kita untuk ikut menulis.
Dari buku inilah kita dapat belajar bagaimana "kegelisahan" telah menjadi proses istidraj (penderajatan) bagi orang-orang hebat macam Umar Kayam, Nasjah Djamin.
Singkatnya "Kegelisahan" yang istiqamah adalah bagian dari proses kreatif mereka.
Buku keren bagi mereka yang merasa bahwa proses kreatif dalam dunia kepenulisan ternyata begitu menguji kesabaran setiap penulis. Apalagi yang sedang memulai. :)
Baru selesai setelah baca dari september tahun lalu, kenapa? Karena ada penjelasan dari beberapa penulis yang terbaca amat sulit dan ribet dicerna, bikin mandek.
Namun kebanyakan yang lain, asyik2 juga cerita ttg bagaimana kisah kepengarangan mereka dan bagaimana mereka mengarang. Hamsad Rangkuti, Sapardi, Danarto, khususnya.
Lalu saya tertarik pada bu Poppy Donggo Hutagalung, puisi2nya yang dicantumkan enak-enak dibacanya. Pengen baca buku beliau.
Kepincut untuk memiliki buku ini karena ada ulasan proses kreatif dua satrawan yang saya sukai: Pramoedya Ananta Toer dan Sapardi Djoko Damono. Senang bisa beli buku bagus ini dengan harga sangat miring. Semoga "Proses Kreatif Jilid 1" bisa memecut semangat saya untuk belajar menulis lebih baik lagi :)
Tertarik membeli dan membaca buku ini karena ada proses kreatof dua orang yang saya sukai karyanya, yaitu Sapardi Djoko Damono dan Umar Kayam. Bisa ditebak, saya tak berminat lagi untuk membeli jilid duanya...:D
Saya suka proses kreatif Hamsad Rangkuti dalam menuliskan cerpen. Dengan mengandalkan imajinasinya yang liar, peristiwa sederhana yang ia jumpai sehari-hari bisa diubah menjadi sebuah cerita yang luar biasa
Masih belum terbaca semua. Tapi sejauh ini bagus meski terasa kurang panjang bahasannya.
Para penulis di sini hanya memberikan salah satu contoh dalam proses kreatifnya. Meskipun masih terlihat malu-malu karena hanya menceritakan sebagian, saya cukup mendapat pencerahan.
lumayan buat bahan bacaan sambil belajar dari sastrawan indonesia yang sudah menjadi empunya sastra di indonesia ...masak gak kenal sastrawan negri sendiri?hoho