What do you think?


Taiko [10 Part Pocket Books - Indonesian] #6
Taiko 6 - Tahun Tensho Ketujuh 1579
Dalam pergolakan menjelang dekade abad keenam belas, Kekaisaran Jepang menggeliat dalam kekacau-balauan ketika keshogunan tercerai-berai dan panglima-panglima perang musuh berusaha merebut kemenangan. Benteng-benteng dirusak, desa-desa dijarah, ladang-ladang dibakar.
Di tengah-tengah penghancuran ini, muncul tiga orang yang bercita-cita mempersatukan bangsa. Nobunaga yang ekstrem, penuh kharisma, namun brutal. Ieyasu yang tenang, berhati-hati, bijaksana, berani di medan perang, dan dewasa. Namun kunci dari tiga serangkai ini adalah Hideyoshi, si kurus berwajah monyet yang secara tak terduga menjadi juru selamat bagi negeri porak-poranda ini. Ia lahir sebagai anak petani, menghadapu dunia tanpa bekal apapun, namun kecerdasannya berhasil mengubah pelayan yang ragu-ragu menjadi setia, saingan menjadi teman, dan musuh menjadi sekutu. Pengertiannya yang mendalam terhadap sifat dasar manusia telah membuka kunci pintu-pintu gerbang benteng, membuka pikiran orang-orang, dan memikat hati para wanita. Dari seorang pembawa sandal, ia akhirnya menjadi Taiko, penguasa mutlak Kekaisaran Jepang.
Taiko merupakan karya besar Eiji Yoshikawa, penulis bestseller internasional, yang berisi pawai sejarah dan kekerasan, pengkhianatan dan pengorbanan diri, kelembutan dan kekejaman. Sebuah epik yang menggambarkan kebangkitan feodal Jepang secara nyata.
Di tengah-tengah penghancuran ini, muncul tiga orang yang bercita-cita mempersatukan bangsa. Nobunaga yang ekstrem, penuh kharisma, namun brutal. Ieyasu yang tenang, berhati-hati, bijaksana, berani di medan perang, dan dewasa. Namun kunci dari tiga serangkai ini adalah Hideyoshi, si kurus berwajah monyet yang secara tak terduga menjadi juru selamat bagi negeri porak-poranda ini. Ia lahir sebagai anak petani, menghadapu dunia tanpa bekal apapun, namun kecerdasannya berhasil mengubah pelayan yang ragu-ragu menjadi setia, saingan menjadi teman, dan musuh menjadi sekutu. Pengertiannya yang mendalam terhadap sifat dasar manusia telah membuka kunci pintu-pintu gerbang benteng, membuka pikiran orang-orang, dan memikat hati para wanita. Dari seorang pembawa sandal, ia akhirnya menjadi Taiko, penguasa mutlak Kekaisaran Jepang.
Taiko merupakan karya besar Eiji Yoshikawa, penulis bestseller internasional, yang berisi pawai sejarah dan kekerasan, pengkhianatan dan pengorbanan diri, kelembutan dan kekejaman. Sebuah epik yang menggambarkan kebangkitan feodal Jepang secara nyata.
152 pages, Paperback
First published February 1, 1994
About the author
Eiji Yoshikawa
592 books813 followersPen-name of Yoshikawa Hidetsugu. Yoshikawa is well-known for his work as a Japanese historical fiction novelist, and a number of re-makes have been spawned off his work.
In 1960, he received the Order of Cultural Merit.
Eiji Yoshikawa (吉川 英治, August 11, 1892 – September 7, 1962) was a Japanese historical novelist. Among his best-known novels, most are revisions of older classics. He was mainly influenced by classics such as The Tale of the Heike, Tale of Genji, Outlaws of the Marsh, and Romance of the Three Kingdoms, many of which he retold in his own style. As an example, the original manuscript of Taiko is 15 volumes; Yoshikawa took up to retell it in a more accessible tone, and reduced it to only two volumes. His other books also serve similar purposes and, although most of his novels are not original works, he created a huge amount of work and a renewed interest in the past. He was awarded the Cultural Order of Merit in 1960 (the highest award for a man of letters in Japan), the Order of the Sacred Treasure and the Mainichi Art Award just before his death from cancer in 1962. He is cited as one of the best historical novelists in Japan.
In 1960, he received the Order of Cultural Merit.
Eiji Yoshikawa (吉川 英治, August 11, 1892 – September 7, 1962) was a Japanese historical novelist. Among his best-known novels, most are revisions of older classics. He was mainly influenced by classics such as The Tale of the Heike, Tale of Genji, Outlaws of the Marsh, and Romance of the Three Kingdoms, many of which he retold in his own style. As an example, the original manuscript of Taiko is 15 volumes; Yoshikawa took up to retell it in a more accessible tone, and reduced it to only two volumes. His other books also serve similar purposes and, although most of his novels are not original works, he created a huge amount of work and a renewed interest in the past. He was awarded the Cultural Order of Merit in 1960 (the highest award for a man of letters in Japan), the Order of the Sacred Treasure and the Mainichi Art Award just before his death from cancer in 1962. He is cited as one of the best historical novelists in Japan.
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
May 31, 2009
580 - 2014
#Program BUBU
Pertama kali dibeli dan dibaca pada tahun 1994.
Hideyoshi akhirnya berhasil menyelamatkan Kanbei, dan pembiaran Hanbei atas perintah Nobunaga yang cepat curiga pun dimaafkan. Tapi Kanbei cacat karena lututnya cedera saat melarikan diri dari benteng Murashige, sedangkan kesahatan Hanbei yang selama ini kurang baik pun semakin memburuk.
Hanbei pun wafat. Tapi sebelumnya, ia memberikan amanat luar biasa pada Hideyoshi:
"Setelah mengamati tuanku dengan saksama, hamba tak dapat menemukan ambisi untuk menjadi penguasa seluruh negeri. Sampai sekarang, ini suatu kelebihan dan sebagian dari watak tuanku. Sesungguhnya, tak patut hamba menyinggungnya, tetapi ketika tuanku menjadi pembawa sandal Yang Mulia Nobunaga, tuanku melaksanakan tugas itu dengan segenap hati. Setelah mencapai kedudukan samurai, tuanku mengerahkan seluruh kemampuan untuk menjalankan tugas-tugas samurai. Tak sekalipun tuanku menoleh ke atas dan berusaha mencapai kedudukan yang lebih tinggi lagi. Yang hamba khawatirkan sekarang--sesuai dengan sifat tuanku ini--tuanku akan menyelesaikan tugas tuanku di provinsi-provinsi Barat, atau melaksanakan tugas yang diembankan Yang Mulia Nobunaga, atau menundukkan benteng Miki tanpa memperhatikan perkembangan dunia maupun mencari jalan untuk menonjolkan diri."
"Tetapi, kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk memegang kendali di zaman seperti ini merupakan anugerah para dewa. Para panglima perang saling bersaing memperebutkan kekuasaan, masing-masing mengaku bahwa hanya dia sendiri yang sanggup membawa fajar baru ke dunia yang dilanda kekacauan, dan menyelamatkan rakyat dari kesusahan. Tetapi Kenshin, yang begitu hebat, telah menemui ajal; Shingen dari Kai telah tiada; Motonari dari provinsi-provinsi Barat meninggalkan dunia dengan pesan agar penerusnya melindungi warisan mereka dengan mengenali kemampuan mereka; dan di samping itu, baik marga asakura maupun marga Asai telah tertimpa bencana akibat kesalahan sendiri. Siapa yang akan membaca pemecahan untuk masalah ini? Siapa yang memiliki kemampuan membentuk budaya baru untuk era berikut, dan diterima oleh rakyat? Orang seperti itu lebih sedikit dari jari sebelah tangan."
"Hamba maklum, tuanku tentu bingung mendengar ucapan hamba, sebab kini tuanku mengabdi pada Yang Mulia Nobunaga. Hamba memahami perasaan tuanku. Tuanku dan Yang Mulia Ieyasu tidak mempunyai semangat yang diperlukan untuk mendobrak situasi saat ini, maupun keyakinan untuk mengatasi segala persoalan yang timbul sampai sekarang. Siapa, selain Yang Mulia Nobunaga, yang sanggup memimpin negeri sejauh ini melalui kekacauan zaman? Tetapi ini tidak berarti bahwa dunia telah diperbaharui melalui sepak terjang beliau. Hanya dengan menundukkan provinsi-provinsi Barat, menyerang Kyushu, dan berdamai dengan Shikoku, bangsa ini belum tentu memperoleh kedamaian, keempat golongan rakyat belum tentu hidup berdampingan secara harmonis, budaya baru belum tentu terbentuk, dan landasan untuk kesejahteraaan generasi-generasi berikut pun belum tentu terwujud."
Well said.
Omong-omong tentang calon pemimpin di masa depan, sepertinya pada pilpres Indonesia tahun ini, ada sih capres yang roman muka dan karakternya rada mirip dengan Hideyoshi yang digambarkan Eiji Yoshikawa. Apakah takdirnya juga akan mirip, mencapai tampuk kekuasaan tertinggi dan membawa bangsanya pada masa keemasan? Tapi, ada tapinya nih, apakah setelah masanya berakhir, saingan politik terberatnya akan menghancurkan keluarga dan semua pengikutnya, lantas mendirikan dinasti yang akan berkuasa ratusan tahun?
Siapa ya kira-kira politisi di Indonesia yang karakternya mirip Tokugawa Ieyasu, sabar memendam ambisi yang menyala-nyala, demi merebut kekuasaan di tikungan terakhir lantas berkuasa tujuh turunan?
#Program BUBU
Pertama kali dibeli dan dibaca pada tahun 1994.
Hideyoshi akhirnya berhasil menyelamatkan Kanbei, dan pembiaran Hanbei atas perintah Nobunaga yang cepat curiga pun dimaafkan. Tapi Kanbei cacat karena lututnya cedera saat melarikan diri dari benteng Murashige, sedangkan kesahatan Hanbei yang selama ini kurang baik pun semakin memburuk.
Hanbei pun wafat. Tapi sebelumnya, ia memberikan amanat luar biasa pada Hideyoshi:
"Setelah mengamati tuanku dengan saksama, hamba tak dapat menemukan ambisi untuk menjadi penguasa seluruh negeri. Sampai sekarang, ini suatu kelebihan dan sebagian dari watak tuanku. Sesungguhnya, tak patut hamba menyinggungnya, tetapi ketika tuanku menjadi pembawa sandal Yang Mulia Nobunaga, tuanku melaksanakan tugas itu dengan segenap hati. Setelah mencapai kedudukan samurai, tuanku mengerahkan seluruh kemampuan untuk menjalankan tugas-tugas samurai. Tak sekalipun tuanku menoleh ke atas dan berusaha mencapai kedudukan yang lebih tinggi lagi. Yang hamba khawatirkan sekarang--sesuai dengan sifat tuanku ini--tuanku akan menyelesaikan tugas tuanku di provinsi-provinsi Barat, atau melaksanakan tugas yang diembankan Yang Mulia Nobunaga, atau menundukkan benteng Miki tanpa memperhatikan perkembangan dunia maupun mencari jalan untuk menonjolkan diri."
"Tetapi, kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk memegang kendali di zaman seperti ini merupakan anugerah para dewa. Para panglima perang saling bersaing memperebutkan kekuasaan, masing-masing mengaku bahwa hanya dia sendiri yang sanggup membawa fajar baru ke dunia yang dilanda kekacauan, dan menyelamatkan rakyat dari kesusahan. Tetapi Kenshin, yang begitu hebat, telah menemui ajal; Shingen dari Kai telah tiada; Motonari dari provinsi-provinsi Barat meninggalkan dunia dengan pesan agar penerusnya melindungi warisan mereka dengan mengenali kemampuan mereka; dan di samping itu, baik marga asakura maupun marga Asai telah tertimpa bencana akibat kesalahan sendiri. Siapa yang akan membaca pemecahan untuk masalah ini? Siapa yang memiliki kemampuan membentuk budaya baru untuk era berikut, dan diterima oleh rakyat? Orang seperti itu lebih sedikit dari jari sebelah tangan."
"Hamba maklum, tuanku tentu bingung mendengar ucapan hamba, sebab kini tuanku mengabdi pada Yang Mulia Nobunaga. Hamba memahami perasaan tuanku. Tuanku dan Yang Mulia Ieyasu tidak mempunyai semangat yang diperlukan untuk mendobrak situasi saat ini, maupun keyakinan untuk mengatasi segala persoalan yang timbul sampai sekarang. Siapa, selain Yang Mulia Nobunaga, yang sanggup memimpin negeri sejauh ini melalui kekacauan zaman? Tetapi ini tidak berarti bahwa dunia telah diperbaharui melalui sepak terjang beliau. Hanya dengan menundukkan provinsi-provinsi Barat, menyerang Kyushu, dan berdamai dengan Shikoku, bangsa ini belum tentu memperoleh kedamaian, keempat golongan rakyat belum tentu hidup berdampingan secara harmonis, budaya baru belum tentu terbentuk, dan landasan untuk kesejahteraaan generasi-generasi berikut pun belum tentu terwujud."
Well said.
Omong-omong tentang calon pemimpin di masa depan, sepertinya pada pilpres Indonesia tahun ini, ada sih capres yang roman muka dan karakternya rada mirip dengan Hideyoshi yang digambarkan Eiji Yoshikawa. Apakah takdirnya juga akan mirip, mencapai tampuk kekuasaan tertinggi dan membawa bangsanya pada masa keemasan? Tapi, ada tapinya nih, apakah setelah masanya berakhir, saingan politik terberatnya akan menghancurkan keluarga dan semua pengikutnya, lantas mendirikan dinasti yang akan berkuasa ratusan tahun?
Siapa ya kira-kira politisi di Indonesia yang karakternya mirip Tokugawa Ieyasu, sabar memendam ambisi yang menyala-nyala, demi merebut kekuasaan di tikungan terakhir lantas berkuasa tujuh turunan?
August 26, 2010
Kesetiaan sebagai seorang Samurai di atas segalanya...
Displaying 1 - 2 of 2 reviews



