Jump to ratings and reviews
Rate this book

Flucht über den Himalaya. Tibets Kinder auf dem Weg ins Exil

Rate this book
Demi Sekolah, 6 Bocah Tibet Harus Berjuang Menaklukkan Himalaya

Hardcover

First published January 1, 2005

Loading...
Loading...

About the author

Maria Blumencron

8 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
43 (29%)
4 stars
55 (37%)
3 stars
40 (27%)
2 stars
3 (2%)
1 star
4 (2%)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews
Profile Image for Rakyan Iman.
6 reviews
August 20, 2021
Buku non fiksi yg menggambarkan semangat anak anak tibet memperjuangkan masa depannya dari belenggu tirani perintah china kala itu yg menentang Tibet menjadi negara. Dalam permslaahan rezim, enatah politik, sara dll yg paling bnyak menjadi korban adalah anak-nak.
Dlm buku ini masyakat miskin tibet yg berjuang utk hidup dengan kemiskinn yang menghadang harus rela menyebrangkan anak anak mereka untuk meraih masa depan di negara orang yaitu india, karena bagi mereka tibet tanah airny, sdh tidak menjnjikan masa depan yang baik karena terjajah.
Mereka menguatkan hati untuk berpisah dengan anak anaknya demi mendpt pendidikan yang layak dan harapan hidp dipengungsian. Walaupun jaminna itu tidak selamnya baik. Kenyataanya banyak pengungsi yang sudah berhasil melawan kerasnya medan hanya mengelandnag tanpa tujuan hidup.
Kisah nyata ini harus dialaami anak anak tibet yang berbekal seadanya harus mengarungi lautan salju dan kerasnya medan serta kesedihan meninggalkan orng tua dan tanah air untuk hidup yang lebih baik. Bebrapa dari mereka bahkan tidak tau untuk apa tujuan dari perjalanan hidup dan mati mereka.
Dri buku ini, kita dpt mengambil peljarn bahwa berubrungnya kita berad diposisi terbatas saat ini. Msh bnyk manusia dibelahan bumi, yg bersusah payah untuk mendptkan hal sederhna yg kita anggap tidak berharga sekalipun.
55 reviews
August 28, 2025
Dit boek beschrijft de moed en overlevingskracht die kinderen hebben als ze zich in een uitzichtloze situatie bevinden en ze door weer en wind de Himalaya oversteken terwijl de Chinese krijgsheren hun achtervolgen.
Profile Image for Vinca.
219 reviews5 followers
May 19, 2012
Gloria's Crab?

Iya, itulah judul yang aku pilih untuk menggambarkan buku ini walaupun tak ada tokoh bernama Gloria di dalamnya, apalagi seekor kepiting. Bagaimana mungkin di pegunungan salju bisa ada kepiting hehehe. Aku memilih judul itu karena saat membacanya, ingatanku langsung menuju pada Gloria. Dan hamparan pemandangan Teluk Bintuni kembali terhadir dalam ingatanku. Saat itu aku sedang menunggu boat tiba sambil berteduh di warung reot yang menjual makanan ringan yang digantung sana-sini. Sebuah dermaga kayu menjorong ke tepi Teluk Bintuni terlihat seperti satu-satunya titian menuju khayangan. Tepat di sebelahku, seorang gadis kecil mengenakan baju yang kedodoran. Dia mengemasi kepitingnya satu per satu, membersihkan tungkainya, mengelap pasirnya dan menatanya di kardus lapuk. Dan gadis itu adalah Gloria. Seorang gadis kecil papua yang sering aku jumpai saat tugasku ke bumi cenderawasih. Dia selalu membantu mama nya di sela waktu senggangnya untuk berjualan kepiting agar bisa sekolah. Itulah Gloria dalam pupilku saat itu. Dibalik peluhnya terselip tekad yang kuat. Bola matanya sungguh memendam pengharapan yang dalam. Perasaan yang sama yang juga aku rasakan pada anak-anak Tibet dalam buku ini.

Gloria sama nasibnya dengan Pema, Chime, Dolkar, Dhonup, Tamding dan Lakhpa dalam buku ini. Mereka semua adalah anak-anak yang gigih dan punya kemauan kuat untuk sekolah. Jika Gloria "hanya" harus menempuh jarak belasan kilometer untuk sampai ke tempat sekolah nya, lain lagi dengan Pema dkk. Buku ini menceritakan bagaimana perjuangan anak-anak Tibet ini untuk mendapatkan pendidikan yang layak di bawah kekuasaan tiran pemerintah Cina yang menjajah negara mereka.

Kelaparan dan kemiskinan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Tibet, belum lagi diskriminasi dalam hal pendidikan. Pemerintah Cina memang mengirimkan guru ke sana untuk mengajar, tapi mereka harus mengajar dengan menggunakan bahasa pengantar yaitu bahasa Cina. Setelah kemiskinan dan penderitaan ini, anak-anak Tibet pun harus rela dicap bodoh hanya karena mereka tak mengerti apa yang sedang guru mereka ajarkan. Itulah sebab, mengapa banyak anak-anak Tibet yang dikirim oleh orang tua mereka ke India Utara, tepatnya di Dharamsala. Disana ada sebuah sekolah yang dikelola oleh adik Dalai Lama yang akan memberikan pendidikan yang layak untuk anak-anak ini. Tapi itu artinya, mereka harus menyebrangi pegunungan Himalaya untuk sampai di sana. Melawan dinginnya salju dan bahkan hewan buas. Bahkan tak jarang terjadi, mereka harus meregang nyawa karenanya. Namun segala penderitaan ini tak sebanding apa-apa dengan semangat mereka. If crabs are a witness for Gloria's persistence, then Himalaya would be the witness for these Tibetian children hardwork.

Quote:
It was so hard to walk all the time. I was more afraid of the Chinese than I was of the snow and the wild animals. Together we fought our way over the tall mountains, the steep trails and the deep water. I thought about my mother the whole way." - Chime, 8 years old-



Ini adalah buku non fiksi. Adalah Maria Blumencron yang terobsesi untuk memfilmkan pengungsian anak-anak Tibet itu. Semuanya berawal dari foto-foto anak Tibet yang mati kedinginan di sebuah majalah. Anak-anak itu mati dalam perjalanan menuju masa depan yang lebih baik dan sayangnya tak pernah sampai kesana. Termotivasi oleh foto tragis itu, Maria Blumencron berangkat pada musim dingin tahun 1999 untuk membuat film dokumenter tentang hal itu. Namun, sayang sekali pembuatan film itu gagal, karena Maria tertangkap oleh tentara China yang memergoki Maria berada di daerah terlarang. Namun tekad kuat Maria tidak membuat film tidak surut. Pada tahun 2000 dia kembali lagi dan berhasil mendokumentasikan kisah pengungsian 6 orang anak Tibet yang luar biasa. Keenam anak itu adalah Pema Kecil, Chime, Dolker, Dhondup, Tamding dan Lhakpa.

Namun sayangnya ada beberapa gangguan yang sedikit membuat dahiku berkerut. Yang pertama adalah ukuran font yang tidak sama, sangat mengganggu dalam kenyamanan membaca, karena dibanyak halaman tiba-tiba huruf mengecil dan merapat di tengah-tengah alinea. Lalu yang kedua, terjadi kesalahan pengetikan pada halaman 222. Kejadian yang seharusnya terjadi pada Nepal, 11 April 2000 tertulis : Nepal, 1 April 2000. Karena dari awal, penulis buku ini menceritakan semuanya dalam pengurutan waktu yang ketat, maka kesalahan penulisan tanggal cukup terasa. Yang ketiga adalah Inkonsistensi. Di awal disebutkan bahwa Sotsi adalah "kakak ipar" dari Pema Besar (hal xii), namun di belakang disebutkan bahwa Sotsi adalah "sepupu" dari Pema Besar (hal. 116), kemudian pada semua cerita disebutkan bahwa Chime adalah kakak dari Dolker, namun tiba-tiba pada halaman 298 dituliskan : "..... dan Chime bersama dengan kakaknya Dolker." Yang sangat mencolok adalah ketidaksamaan data (yang aku yakin karena kesalahan pengetikan) antara yang tertulis dalam buku dengan sinopsis yang ada dalam cover belakang buku dimana terdapat perbedaan data tentang nama Dolker dan Dhondup serta usia Dolker.

Walaupun banyak kekurangan di mana-mana, buku ini amat sangat layak untuk dibaca. Setiap halaman dari buku ini sungguh-sungguh menyayat batin. Aku bahkan sulit meletakkan buku ini kembali di kasur. Kisah ini hampir menyamai Sky Burial dalam kemampuannya memaksa pembaca meneteskan air mata.

Jangan menyerah sampai kapanpun, apapun yang terjadi jangan menyerah! Setiap Impian selalu membutuhkan pengorbanan dan kerja keras untuk menggapainya, tidak ada sebuah perjuangan yang sia-sia meskipun kita harus mempertaruhkan nyawa kita sekalipun. Itu mungkin semangat yang ingin ditularkan anak-anak Tibet dan Gloria kepada kita yang terduduk di sini. Kita yang hidup dengan segala fasilitas yang ada, yang juga dapat memperoleh pendidikan dengan mudah dan penghidupan yang layak. Kehidupan kita yang sudah terang dengan listrik bahkan jaringan internet dimana-mana ini seharusnya malu kepada mereka jika suatu hari kita memutuskan untuk menyerah atas segala persoalan hidup.

Berkacalah pada mereka kawan..
Profile Image for Helena Nahirna.
202 reviews5 followers
April 6, 2026
Są takie książki które poprostu musi każdy przeczytać. Nie dla oceny a wyłącznie dla wiedzy co się dzieje w innych krajach. Bo z tego składa się życie. Każdy ma swój los i historii. A w całości to łączy nas w coś jedyne...
Profile Image for Masela Pratiwi.
7 reviews
February 26, 2023
Based on true story and very touching. Tibetan children who have to separate from their parents to get an education in Dharamsala. They have take a long and dangerous journey
43 reviews2 followers
March 2, 2012
Well, sebenarnya saya bukan seseorang yang ahli menulis, maupun membuat review atau resensi. Apalagi saya baru baca satu kali dan saya bukan tipe orang yang bisa mengerti dalam 1 kali baca . Tapi kali ini saya hanya ingin menyampaikan kesan saya terhadap buku karangan orang Eropa ini :)


Awalnya saya pergi ke salah satu toko buku di Bukittinggi untuk mencari novel incaran saya: Ilana Tan - Sunshine Becomes You. Tapi ternyata setelah terbit satu bulan, novel itu masih belum ada di sana. Karena sudah muak dengan usaha yang telah gagal berkali-kali, akhirnya saya bersedia melupakan novel itu. No more Sunshine Becomes You in my wishlist. Akhirnya, saya hanya berputar-putar di sekitar bagian novel berusaha mencari novel lain yang menarik. Dan pilihan awal saya sebenarnya jatuh pada The Adventure of Tom Sawyer. Saya juga sudah lama mengincar novel ini. Tapi, hati saya yang terdalam berkata pada buku itu: NOT NOW! Oke. Tom Sawyer, lain kali aja ya. Lalu saya tertarik lagi pada novel Taj yang bercerita tentang cinta abadi sehingga terbentuk Taj Mahal. Saya sebenarnya sudah punya versi digibook-nya, tapi sampai sekarang belum terbaca. Saya tertarik untuk membeli karena saya sendiri tidak berminat membaca dari komputer. Sakit mata! Tapi setelah ditimbang-timbang, ga jadi deh. Duit saya waktu itu juga nggak cukup, hehe... Oke Taj, kamu ga saya beli kali ini. Soalnya saya melihat novel lain yang tak kalah menarik: Fuurin Kazan! Waw! Selain Musashi, Fuurin Kazan adalah novel sejarah yang saya incar! Kenapa saya tertarik dengan novel ini? Soalnya nih novel udah dijadiin drama taiga di Jepang sono. Dan tebak siapa yang jadi Uesugi Kenshin! It's Gackt, you know? My Lovely vampire! Tapi, dandanan mas Gackt kurang asik, jadi ga pernah saya tonton ^^ Lalu, saya berputar-putar lagi liat novel lain. Sampailah saya menemukan ini... Jreng jreng jreng.........


Escape Over The Himalayas
By Maria Blumencron

Siapapun yang melihat covernya saja pasti setuju bahwa ini adalah buku yang bagus. Dan belakangan saya tahu buku ini pernah ada di Kick Andy Show.

Novel ini bercerita tentang enam orang anak-anak Tibet yang berjuang menempuh kejamnya geografi Himalaya demi mendapatkan pendidikan yang layak di sekolah Dalai Lama di India. Ke-enam anak-anak ini memiliki kisah mereka masing-masing yang membuat mereka harus keluar dari Tibet. Dan yang paling berkesan bagi saya adalah kisah Pema Kecil yang terpaksa dikirim ibunya ke India untuk menghindari perlakuan kasar ayahnya. Serta Tamding yang bersedia keluar dari Tibet karena dia adalah anak ke-tiga. Berhubung pemerintah China memberikan pajak yang sangat tinggi untuk keluarga yang memiliki anak lebih dari dua orang. Mereka pergi ke sana tidak hanya ber-enam. Tentu diiringi beberapa orang dewasa. Dan perjuangan mulai tampak saat mereka mulai melakukan perjalanan. Mulai dari razia bus oleh tentara China, dinginnya cuaca, konflik ke-egoisan dan lain sebagainya.

Sang penulis sendiri adalah seorang aktris di negaranya Austria. Ia juga seorang pembuat film dokumenter. Dia mulai tergerak untuk membuat film ini karena ia pernah melihat berita tentang seorang anak Tibet yang mati di tengah salju Himalaya dalam upaya keluar dari sana. Maria Blumencron mulai mengatur perjalanan untuk bertemu dengan kelompok pengungsi. Usaha awalnya gagal karena ia tertangkap oleh tentara China. namun usaha keduanya berhasil dan mempertemukannya dengan kelompok pengungsi ini.

Agak susah mereviewnya karena Maria menulis dari sudut pandang anak-anak yang berbeda dengan cukup detil. Dan ia menggabungkan perjalanan anak-anak itu dengan perjalanannya. Di satu bab sudut pandangnya sebagai orang ketiga serba tahu, di bab lain tiba-tiba saja sudut pandangnya menjadi orang pertama. Jadi, di sana agak membingungkan. butuh dibaca lagi :)

Dan, saya suka sekali dengan kutipan-kutipan dalam novel ini, salah satunya:

Orang bisa saja merebut roda-roda doa dari tangan mereka, tapi harapan-harapan teguh tidak akan bisa direnggut dari hati mereka. Orang bisa saja memutar jam mereka menjadi tiga jam lebih awal, tapi mereka tidak bisa mengelak bahwa bagaimanapun juga matahari akan muncul kembali di horizon. (halaman 12-13)

Dan kutipan satu ini:

Tetapi alam bisa membalas kapan saja, kalau orang menyakitinya. (halaman 13)

Dan maaaaasih banyak kutipan bagus yang menginspirasi dan memotivasi dalam buku ini. Buku ini sangat layak baca ^^
Profile Image for kaylanurul.
61 reviews5 followers
May 13, 2013
It is always heartbreaking to learn that children always constitute a significant number among the refugee population. Their parent often made tough choice just to put them in safe, far from war or violence. What's more heartbreaking about the tibetan children is that they seek for refuge to Dharamsala, through the mountain of himalaya, one of the purpose is for them to be able to learn and grow up in their mother tongue. How sad..
Profile Image for maringan wahyudianto.
5 reviews3 followers
March 18, 2014
sebenernya di buku "3cup of tea" jg qt bs baca prjuangan anak-anak himalaya. nah, apa yg jd kelebihan inni buku dibandingkn dgn "leaving d'microsoft 2 change d'world", "3cup of tea", "laskar pelangi" dan "sakola rimba"

Profile Image for Fabian Mahendra.
3 reviews3 followers
February 1, 2015
Sebuah kisah nyata yang menyedihkan. Karena keterpaksaan, banyak anak-anak Tibet harus menghadapi medan Himalaya yang sangat berat demi mendapatkan masa depan yang lebih baik dengan mengungsi ke tempat Dalai Lama yang berada di India.
Profile Image for Bert.
5 reviews
March 10, 2013
A real story about how strong children can be in one of the most isolated places in this world. Mind blowing! How relative our own obstacles in life can be...
22 reviews
August 22, 2014
Zeer indrukwekkend verhaal over de wanhopige poging op een betere toekomst voor (jonge) kinderen die vanuit Tibet vluchten over de Himalaya naar veilig gebied.
Profile Image for Hilde.
50 reviews5 followers
June 18, 2010
why do these children need to make this voyage? questions and hartbreaking situations.
Displaying 1 - 17 of 17 reviews