Jump to ratings and reviews
Rate this book

Menggelinding 1

Not yet published
Expected 1 Jan 45
Rate this book
Pada awal karirnya sebagai penulis, Pram menghasilkan berbagai bentuk karya tulis: prosa, puisi, cerita pendek, dan esai. Karya-karya tersebut tersebar pada berbagai majalah dan media lainnya, dan baru belakangan in dirangkum oleh Astuti Ananta Toer menjadi buku yang diberi nama Menggelinding. Sebuah buku yang dengan apik menggambarkan perjalanan seorang penulis dalam mencari suara dan pemikirannya sendiri.

548 pages, Paperback

First published January 1, 2004

Loading...
Loading...

About the author

Pramoedya Ananta Toer

83 books3,179 followers
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, the New Order regime of Suharto, he faced extrajudicial punishment. During the many years in which he suffered imprisonment and house arrest, he became a cause célèbre for advocates of freedom of expression and human rights.

Bibliography:
* Kranji-Bekasi Jatuh (1947)
* Perburuan (The Fugitive) (1950)
* Keluarga Gerilya (1950)
* Bukan Pasarmalam (1951)
* Cerita dari Blora (1952)
* Gulat di Jakarta (1953)
* Korupsi (Corruption) (1954)
* Midah - Si Manis Bergigi Emas (1954)
* Cerita Calon Arang (The King, the Witch, and the Priest) (1957)
* Hoakiau di Indonesia (1960)
* Panggil Aku Kartini Saja I & II (1962)
* The Buru Quartet
o Bumi Manusia (This Earth of Mankind) (1980)
o Anak Semua Bangsa (Child of All Nations) (1980)
o Jejak Langkah (Footsteps) (1985)
o Rumah Kaca (House of Glass) (1988)
* Gadis Pantai (The Girl from the Coast) (1982)
* Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (A Mute's Soliloquy) (1995)
* Arus Balik (1995)
* Arok Dedes (1999)
* Mangir (1999)
* Larasati (2000)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
23 (29%)
4 stars
31 (40%)
3 stars
16 (20%)
2 stars
7 (9%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Edy.
273 reviews37 followers
June 2, 2016
Buku ini berisi tulisan-tulisan awal Pramoedya Ananta Toer yang dimuat di bulletin Mimbar Penyiaran DUTA, dan berbagai majalah seperti Mimbar Indonesia, majalah Pemuda, majalah sadar dan lain-lain. Tulisan yang dimuat berasal dari tulisan tahun 1947-1957. Tulisan yang dimuat dalam buku ini sebagian berupa opini, cerpen, reportase dan sajak.

Pram dalam beberapa cerpen menyoroti berbagai perubahan social pada saat revolusi 1945 seperti maraknya tukang catut, pelacuran, pengkhianatan terhadap pergerakan, boss yang korup, dan lain-lain. Sedangkan dalam tulisan opini, Pram banyak mengkritisi peran kesusasteraan dalam menyokong pergerakan dan pembentukan karakter bangsa. Dia mengkritisi tulisan Buya Hamka yang terkesan mengekor Hemingway, mengkritisi HB Jassin yang kritikus sastra, dia mengkritisi dukungan pemerintah yang rendah terhadap kesenian. Pram juga mengkritisi tentang nasib para pengarang yang tidak memperoleh imbalan memadai yang membuat mereka sulit menghasilkan karya sastra yang menawan. Pram berpendapat bahwa kesusasteraan dan kesenian adalah media untuk membangun karakter bangsa dan mengobarkan semangat juang, oleh karenanya kesusasteraan tidak boleh lembek dan mengikuti selera pasar.

Membaca buku Pram ini, saya dibuat kagum oleh keluasan pengetahuan beliau. Ternyata pengetahuan beliau yang sangat luas ditopang oleh kerajinan membaca karya-karya sastra maestro dunia maupun buku pengetahuan lainnya. Seperti buku Pram yang lain, membaca buku ini kita dihadapkan pada karya yang padat dan cerdas dalam memilih kata-kata. Meski demikian kita terkadang dituntut untuk mengetahui latar belakang sejarah saat tulisan dimuat, karena artikel opini yang ditulis Pram terkadang merupakan sebuah reaksi terhadap suatu kejadian atau reaksi terhadap opini dari orang lain. Buku ini saya pikir sangat cocok untuk kawan2 yang menyukai belajar tentang filsafat kesusasteraan....
Profile Image for ukuklele.
470 reviews21 followers
February 27, 2025
Mulanya adalah usaha Pram menjadi agen antara pengarang dan penerbit melalui buletin DUTA yang dikirimkannya ke media-media dan perpustakaan. Buletin itu lebih banyak diisi tulisan Pram sendiri. Banyak tulisannya yang kemudian dimuat dalam majalah dan surat kabar. Namun buletin ini berusia singkat, dari awal 1952 sampai 1954. Karena hiruk pikuk 1965 dan buruknya dokumentasi di Indonesia, hanya sebagian dari artikel/buletin itu yang dapat ditemukan. Dalam penelusuran ini, ditemukan pula tulisan-tulisan Pram yang lebih awal yang dimuat dalam majalah Sadar bertahun 1947. Hasil penemuan ini kemudian dibukukan dengan judul Menggelinding 1. Maka isinya berupa himpunan tulisan lepas Pram yang terbit dalam rentang 1947-1957 (di kover belakang sampai 1956 saja), mencakup puisi, fiksi, nonfiksi, dalam beragam tema.

Puisinya hanya tiga biji, diletakkan di awal buku. Fiksi berupa cerpen dan fragmen roman. Nonfiksi yang paling banyak, berbentuk catatan perjalanan, esai, profil, reportase, tinjauan buku, dan lain sebagainya. Ada pula tulisan yang entahkah fiksi atau nonfiksi; gayanya seperti fiksi tetapi isinya jangan-jangan adalah pengalaman nyata dan memang ada beberapa yang mengandung elemen-elemen autobiografis seperti tokoh utama yang berprofesi sebagai pengarang, kehidupan sementara di Belanda, kesulitan keuangan, dan perceraian.

Tulisan diurutkan kurang lebih berdasarkan pada tahun terbit atau latar atau tema. Untuk tahun terbit, sebetulnya rada maju mundur. Misalnya, tulisan-tulisan awal bertahun 1951, kemudian berturut-turut bertahun 1947 dan seterusnya. Dalam periode waktu tertentu ada tema yang tertentu pula. Lebih jelasnya, di sini saya coba mengelompokkan tulisan-tulisan itu.

Tulisan-tulisan awal adalah sajak yaitu "Anak Tumpahdarah", "Kutukan Diri", dan "Huruf", diselingi terjemahan "115 Buah Wasiat Majapahit (beberapa petikan)", yang maju mundur dari 1951 ke 1947. Setelahnya tidak ada lagi sajak dan terjemahan.

Kemudian berturut-turut tulisan bertahun 1947 yang notabene dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Latar tersebut kentara dalam tulisan-tulisan berupa cerpen berikut: "Si Pandir", "Gadis Bekasi", "Karena Korekapi", "Jakarta", "Terondol". "Kalau Mang Karta di Jakarta" seperti cerpen, tapi juga seperti reportase--mungkin satire dari suatu peristiwa nyata menyangkut negara serikat antek Belanda? "Ori di Jakarta" berupa tanya jawab atau wawancara dengan Ir. Sosrohadikoesoemo, Kepala Kantor Pembelian Keperluan Pemerintah, yaitu usaha pemerintah untuk memperbaiki nilai Ori (Oeang Repoeblik Indonesia?). Tulisan ini mengungkit kembali hal yang muncul dalam tulisan-tulisan sebelumnya, yaitu Ori dalam "Karena Korekapi" serta Negara Pasundan dalam "Kalau Mang Karta di Jakarta". Ori juga disebut-sebut dalam buku Pram lainnya yang berlatarkan masa revolusi, Larasati .

"Bingkisan untuk Adikku" entahkah fiksi atau bukan, seperti sebuah ungkapan atau sketsa perasaan. "Keluarga Mbah Rono Jangkung" juga entahkah fiksi atau memoar, mengenai kisah tragis satu keluarga yang ujungnya sebagian besar pada mati.

Memasuki 1952, agaknya belum lama dari sewaktu Pram berhenti menjadi pegawai ("Sepku") dan tinggal di suatu kampung jorok di Prindapan Kebon Jahe, Jakarta, di mana para warga masih pada membuang hajat di got depan rumah ("Kampungku", "Lemari Buku"). "Sepku" dan "Lemari Buku" menyerupai cerpen, sedangkan "Kampungku" sketsa tempat.

Beberapa tulisan berikutnya yaitu "Angkatan dan Dunianya" (1953), "Tentang Angkatan" (1952), "Kesusastraan dan Perjuangan" (1952) nonfiksi menyangkut kesusastraan beserta angkatan-angkatannya.

Antara Mei - Desember 1953, Pram beserta keluarga tinggal di Amsterdam, Belanda, sehingga tulisan-tulisan berikutnya bersangkutan dengan negara tersebut, dimulai dengan catatan perjalanan menumpang kapal Oldenbarnevelt dalam "Kapal Gersang", laporan tentang simposion kesusatraan Indonesia modern di Amsterdam pada 26 Juni 1953 dalam "Mencari Sebab-sebab: Kemunduran Kesusastraan Indonesia Modern Dewasa Ini" dan kelanjutan acara tersebut dalam "Ada Humanisme di Oranje Nassaulan-5 dan: Komunisme Telah Mati Bersama Lenin", liputan mengenai kehidupan difabel di Belanda dalam "Famili Tanus yang Buta", kewirausahaan mahasiswa Belanda dalam "Perusahaan-perusahaan Mahasiswa Belanda", pusat kesenian yang disokong toko buku tangan-kedua dalam "Galerie Le Canard: Sebuah Gelanggang Kesenian yang Menarik", serta kunjungan Pak Kasur berikut profilnya dalam "Pak Kasur: Algojo Film yang Garang, Gembala Bocah yang Manis, Juga di Negeri Belanda Memperoleh Kemenangan", hingga soal emansipasi wanita yang kebablasan berikut pengalaman digoda janda Belanda dalam "Tentang Emansipasi Buaya".

Rangkaian tulisan mengenai kejadian-kejadian di Belanda ini diselingi tulisan-tulisan yang tidak mesti berhubungan langsung dengan negeri tersebut tapi masih menyoal kesusastraan yaitu kritik terhadap HB Jassin dalam "Offensif Kesusastraan", "Definisi dan Keindahan dalam Kesusastraan", profil mengenai Utuy Tatang Sontani" dalam "Berkenalan dengan Utuy T. Sontani", sorotan terhadap isu ketuhanan dalam beberapa karya sastra Indonesia dan lainnya dalam "Masalah Tuhan dalam Kesusastraan", tanggapan terhadap persoalan Hamka yang merasa bagai Pak Turut dalam "Sumber Cipta dalam Kesenian", "Kesusastraan sebagai Alat", "45 Indonesia dalam Sejarah Kesusastraan", "Perkembangan Prosa Indonesia Titik Pangkal dalam Kesusastraan Indonesia", menyambung ke masalah bahasa dalam "Roman dan Romance" dan "Prof. Dr. Werheim tentang Kesusastraan Indonesia Modern: Kegagalan Kesusastraan Indonesia Modern: Kegagalan Revolusi".

Tulisan bertahun 1954 dan seterusnya ada yang masih menyangkut Belanda, yaitu "Perjalanan Sesobekan Lengkap dari Buku Catatan (disiarkan sebagai kenangan buat lorong empat)" yang kiranya adalah catatan perjalanan pulang dari Belanda menggunakan pesawat serta "Suatu Pojok di Suatu Dunia" menceritakan perpisahan dengan anak-istri yang pulang duluan karena si bungsu tidak kuat udara dingin. Selebihnya ada ulasan buku terjemahan karya Paul de Kruif oleh Taufik Salim mengenai upaya manusia mengatasi kuman dalam "Daya Khayal, Ketekunan, Keperwiraan, dan Ilmu", serta masih soal-soal kesusastraan dan bahasa: "Perjuangan Kesusastraan Indonesia yang Lalu dan yang Akan Datang", "Bicara tentang Bahasa Indonesia", dan "Kesusastraan Kristen di Indonesia: Mengajak Mempertimbangkan Suatu 'Persoalan yang Tak Pernah Terdengar di Indonesia': untuk Kawan Tatengkeng".

Tulisan-tulisan belakangan, mulai 1956, sepertinya mulai dipengaruhi oleh kesulitan pribadi Pram dalam menjalankan rumah tangga sebagai seorang pengarang yang penghasilannya tak menentu, tampak dalam "Lembaga Kehidupan Telah Hancur Sebuah Lagi", "Sunyi Senyap di Siang Hidup", dan "Jalan yang Amat Panjang".

Tulisan-tulisan berikut ini sampai akhir buku yang jelas-jelas nonfiksi, yaitu "Sebaran BMKN: Hasil Kegiatan Jiwa Tuan Diserobot? Inilah Jawabnya: Biro Konsultasi Hakcipta", "Tendensi Kerakyatan", "Tentang Mata Pelajaran Kesusastraan di Sekolah", "Keadaan Sosial Para Pengarang Indonesia", serta "Kehidupan dan Percintaan", memang masih menyangkut kesusastraan, tapi suaranya kuat memperjuangkan hak ekonomi pengarang. Dalam cerpen "Kalil Si Opas Kantor" serta "Kesempatan yang Kesekian: fragmen dari roman sosial dalam persiapan", tokoh-tokohnya pun tampak sedang timbang-timbang, atau terombang-ambing dalam pergerakan kiri.

Di sela-sela tulisan yang diduga makin autobiografis ini, terdapat cerpen horor "Sekali di Bulan Purnama", saduran "Suatu Kerajaan yang Runtuh Karena Rajukan Permaisuri", percintaan yang menyedihkan "Demam", satire "Yang Cantik dan yang Sakit", serta kritik dan masukan terhadap isu perkotaan "Mari Mengubah Wajah Jakarta".

Antara Pramoedya Ananta Toer dan Ajip Rosidi

Mengetahui bahwa Pram banyak menulis tentang kesusastraan dan bahasa Indonesia, membahas soal angkatan, mengkritik sana-sini--salah satunya HB Jassin--juga mengangkat kembali karya-karya lama lewat terjemahan dan saduran, serta mengarang karya fiksi realis yang bernuansa autobiografis, saya pun ingat bahwa topik-topik ini pulalah yang ditulis oleh Pak Ajip dalam buku-bukunya--yang belakangan saya bacai demi mengikuti agenda klub buku. Bukan hanya itu, baik Pram maupun Pak Ajip sama-sama pengarang yang hidup di Jakarta sekitar tahun '50-an dan seterusnya dengan segenap kekumuhannya, yang terekam dalam tulisan-tulisan mereka. Maka dalam membaca buku ini, saya kerap membandingkan antara Pram dan Pak Ajip.

Ada kemiripan-kemiripan, ada pula perbedaan-perbedaan.

Bila Pram mengampanyekan bahasa Indonesia yang mula-mula bahasa resmi agar lama-lama jadi bahasa keluarga (dalam "Prof. Dr. Wertheim tentang Kesusastraan Indonesia Modern ..."), Pak Ajip memiliki sentimen kedaerahan yang berbeda sehingga di samping menjunjung pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar, juga menyuarakan pentingnya melestarikan bahasa daerah.

Perbedaan lain adalah kendati sama-sama ada perhatian terhadap kesusastraan, serta amat produktif menulis sepanjang hayat menghasilkan karya-karya yang mengalir lagi enak dibaca, tampak Pram lebih intens pada fiksi, sedangkan Pak Ajip selanjutnya lebih banyak berkiprah dalam nonfiksi, di samping melakoni pekerjaan-pekerjaan lain di antaranya memimpin organisasi dan menjalankan penerbitan. Mungkin boleh dibilang Pram mewakili sisi introver dan individualis dengan dunianya sendiri yang menghanyutkan, sedang Pak Ajip sisi ekstrover dan organisator yang senang bergaul dengan banyak kalangan.

.... Kalau engkau hendak ikut serta, aku akan merasa senang.

Di lingkungan orang-orang yang tak kukenal itu!

Kak, engkau harus belajar bergaul.

Aku tidak bisa!
(halaman 399, "SUNYI SENYAP DI SIANG HIDUP")


Dari segi latar kehidupan, tampak yang dialami Pram lebih memedihkan, dengan perceraian, kesulitan keuangan, keluar masuk penjara, keterlibatan dengan organisasi kiri sehingga karya-karyanya diberangus, sampai sinis terhadap agama, yang jangan-jangan justru menjadi bahan bakarnya untuk terus mengarang fiksi dengan segenap emosi, sedang alur Pak Ajip tidaklah sedramatis itu: mampu memasuki lapangan-lapangan pekerjaan selain mengarang, pernikahannya awet, kekritisan terhadap agama hanyalah gejolak jiwa remaja sebelum menjadi pemeluk teguh sepanjang sisa hidupnya. Jangan-jangan, untuk menjadi pengarang hebat, diperlukan kombinasi antara pengalaman dahsyat dan bakat; sedangkan yang hidupnya relatif lancar dan baik-baik saja, tetapi tetap ada perhatian pada kesusastraan, dapat menjadi suporter misalnya sebagai penerbit, pengajar, pengritik, atau pembaca :v

Melihat Pak Ajip lebih muda kurang lebih 13 tahun daripada Pram, mungkin saja Pak Ajip pernah "berguru" kepada Pram, entahkah lewat tulisan-tulisannya ataupun bergaul langsung, sebelum kemudian mengembangkan jalannya sendiri. Sesekali bersinggungan dalam lingkungan kesusastraan, keduanya menempuh jalur yang berbeda untuk pada akhirnya sama-sama menjadi tokoh kenamaan dengan kemampuan untuk membeli sebuah rumah buat hari tua. Jelasnya, dalam "Offensif Kesusastraan", 1953, Pram menyinggung pengarang yang mencemarkan diri dengan menulis buku pemeliharaan baca-tulis (halaman 166), yang justru dilakukan oleh tokoh pengarang dalam cerpen Pak Ajip, "Sebuah Rumah buat Hari Tua", 1955. Mungkinkah Pak Ajip terinspirasi dari pernyataan Pram dalam tulisan itu? Dalam tulisan itu pula Pram mengkritik HB Jassin, yang kemudian jadi sasaran Pak Ajip juga sampai beberapa tulisan seperti yang termuat dalam Masalah Angkatan dan Periodisasi Sejarah Sastera Indonesia . Entar benar atau tidak, toh wajar saja jika Pak Ajip kala masih junior terinspirasi oleh Pram, pengarang yang lebih dulu mengemuka. Lagian, siapa sih yang tidak terinspirasi oleh Pram?

Pram menjadi tokoh pertama yang ditampilkan dalam buku kumpulan obituari oleh Ajip Rosidi, Mengenang Hidup Orang Lain . Pram meninggal dunia pada 30 April 2006, obituarinya oleh Pak Ajip bertanggal 3 Mei 2006 dan dimuat di Horison, Agustus 2006. Dalam obituari ini terdapat kesesuaian-kesesuaian dengan tulisan-tulisan di Menggelinding 1.

Disebutkan bahwa pada 1947, karangan Pram mulai dimuat di majalah-majalah. Keluar dari penjara pada 1950, Pram bekerja sebagai pegawai Balai Pustaka tetapi tidak betah. Ditunjang kesuksesan penerbitan roman-romannya yang ditulis selama di penjara, Pram keluar dari Balai Pustaka dan mendirikan Mimbar Penyiaran Duta.

Dalam pengantar oleh Koesalah Soebagya Toer dalam Menggelinding 1, disebutkan bahwa sambutan terhadap DUTA bisa dikatakan meriah terbukti dari dimuatnya artikel-artikel Pram di media, tetapi menurut Pak Ajip justru kurang memuaskan sehingga kebanyakan berisi tulisan Pram sendiri dan hanya bertahan dua tahun, yang berakibat pada krisis rumah tangga. Dalam waktu ini, Pram sempat menerjemahkan cerita anak untuk penerbit Kristen (barangkali ada hubungannya dengan judul "Kesusastraan Kristen di Indonesia ....").

Pada pertengahan 1954, rumah tangga Pram tidak dapat dipertahankan, tapi segera saja ada penggantinya, dan dalam tiga bulan terjadi pernikahan dengan istri yang kedua. Pak Ajip mengonfirmasikan bahwa perceraian dengan istri yang pertama dan perkenalan dengan istri yang kedua itu yang mendasari cerpen "Sunyi Senyap di Siang Hidup" dengan istri yang kedua menjelma dalam tokoh Dini.

Seterusnya mengenai kebijakan Moh. Yamin yang merugikan (disinggung dalam "Keadaan Sosial Para Pengarang Indonesia") hingga ditolong pihak kiri sementara dalam kesulitan keuangan, juga diterangkan dalam obituari oleh Pak Ajip.

Terbukti pula pernyataan Pak Ajip bahwa dalam karangan-karangan Pram tidak ada tokohnya yang menang (halaman 8), sehingga Pram bukanlah termasuk penulis realisme sosialis. Padahal menurut paham realisme sosialis, tokoh utama haruslah pejuang yang gigih dan gagah berani merebut kemenangan, berakhir dengan keunggulan. Memang demikianlah yang terdapat dalam cerpen-cerpen di Menggelinding 1 ini. Sebagian cerpennya dari yang awal seperti "Gadis Bekasi", "Jakarta", "Terondol", sampai yang belakangan yaitu "Sekali di Bulan Purnama", "Demam", termasuk "Yang Cantik dan yang Sakit", menyuguhkan perhubungan yang kandas, patah hati, kasih tak sampai, semacam itu.

Maka tulisan-tulisan dalam Menggelinding 1 seperti data pendukung dalam obituari karangan Pak Ajip, atau jangan-jangan memang Pak Ajip menyusun obituari tersebut menurut tulisan-tulisan dalam buku ini yang cetakan pertamanya terbit pada 2004--dua tahun sebelum Pram tiada?

Pram sebagai Pahlawan Bahasa Indonesia

Menurut "Pengantar" dalam Menggelinding 1, tulisan-tulisan awal Pram ini merupakan sumbangannya dalam memperkaya bahasa Indonesia sehingga mampu menjadi alat ekspresi sastra. Membaca tulisan-tulisan Pram sendiri mengenai persoalan bahasa, mafhumlah bahwa pada masanya, bahasa Indonesia masih dalam perkembangan, belum dipakai secara luas dalam pergaulan sehari-hari sebagaimana sekarang. Dalam usaha memperkaya bahasa Indonesia menjadi alat ekspresi sastra itu, terdapat ungkapan-ungkapan seperti "ketololan keliling", "toko buku tangan kedua", "cerpena dan cerpeni", "kucerpen", "royalty atau honoraria", dan "anak kota", yang mana pembaca zaman sekarang agaknya lebih familier dengan istilah "SDM rendah", "toko buku preloved, "cerpenis","kumcer", "royalti atau beli putus", dan "kota satelit".

Bagaimanapun, dengan jasanya itu, apakah para pengarang setelah Sumpah Pemuda yang menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia, terutama sekali dengan jiwa nasionalis yang menggebu-gebu seperti Pram, tak sepantasnya dianggap sebagai pahlawan? Namun, sebagaimana guru yang dijuluki "pahlawan tanpa tanda jasa", Pram (dan banyak lagi para sejawatnya sesama pengarang) sebagai pahlawan bahasa sempat tak memperoleh penghargaan selayaknya hingga nyaring tuntutannya dalam tulisan-tulisan terakhir di buku ini, sampai mesti terlibat dengan kiri berikut konsekuensi-konsekuensinya. Mengetahui kelanjutan hidup Pram dari sumber-sumber selain buku ini, pembaca bisa merasa lega bahwa tampak di ujung hayatnya pahlawan satu ini meraih happy ending.
Profile Image for Yessica.
49 reviews
Read
February 1, 2017
Couldn't finished it. Awalnya benar-benar menikmati cerita-cerita pendek di buku ini, tapi semakin lama semakin yakin kalau saya memang sedang tidak ingin membaca kumpulan cerita pendek hingga 546 halaman. Mungkin lain kali.
Profile Image for Fathoni Arief Fath.
4 reviews2 followers
March 26, 2008
Pram sewaktu masih awal belajar menulis..inilah mungkin rekamannya..bagaimana seorang muda dengan tulisan yang begitu bertenaga dan penuh imajinasi di jamannya..
8 reviews1 follower
June 28, 2013
saya paling suka di bagian
Lemari Buku dan Emansipasi Buaya. Puisi Huruf juga sangat tajam ditulis oleh Pram.
Selebihnya Pram banyak menulis tentang esai-esai tentang kesusastraan. Menarik.
Displaying 1 - 7 of 7 reviews