What do you think?


Dari Jawa Menuju Atjeh: Kumpulan Tulisan tentang Politik, Islam, dan Gay
Dari Jawa Menuju Atjeh adalah kumpulan catatan perjalanan, pemikiran, dan kepedulian Linda Christanty (jurnalis dan cerpenis pemenang Khatulistiwa Award) terhadap sejumlah orang dari Jawa sampai Aceh. Dari sejumlah orang itu tercatat nama-nama seperti Pramoedya Ananta Toer, Wiji Thukul, penyair yang sejak 1998 hilang tanpa jejak, Bre Redana, seorang wartawan dan cerpenis, dan Dede Oetomo, tokoh Gaya Nusantara, majalah gay pertama di Indonesia. Tercatat pula Kebo, seorang preman yang mati dibakar massa di Jakarta.
- GenresNonfiction
216 pages, Paperback
First published January 1, 2009
About the author
Linda Christanty
34 books83 followersLinda Christanty adalah sastrawan-cum-wartawan kelahiran Bangka. Pada 1998, tulisannya berjudul “Militerisme dan Kekerasan di Timor Leste” meraih penghargaan esei terbaik hak asasi manusia. Kumpulan cerita pendeknya Kuda Terbang Maria Pinto memperoleh penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2004. Dia sempat bekerja sebagai redaktur majalah kajian media dan jurnalisme Pantau (2000-2003), kemudian menulis drama radio bertema transformasi konflik untuk Common Ground Indonesia (2003-2005). Sejak akhir 2005, dia memimpin kantor feature Pantau Aceh di Banda Aceh.
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 22 of 22 reviews
June 22, 2009
apa yang ditulis linda christanty dalam buku ini adalah bentuk jurnalisme yang 'mahal'. secara 'ilmiah' dikategorikan sebagai jurnalisme sastra. ia seratus persen fakta. tapi ditulis dengan gaya sastra.
saya mengenal istilah jurnalisme sastra ketika masih menjadi mahasiswa di malang dulu. kebetulan, waktu itu dapat kesempatan untuk mendatangkan andreas harsono dalam sebuah workshop jurnalisme sastra di kampus. kira-kira tahun 1998.
menurut andreas, jurnalisme sastra memberi tempat bagi wartawan untuk mengakutalisasikan keberadaan dirinya. sebab, ia menuntut seorang wartawan untuk mampu membuat narasi, ataupun deksripsi yang rinci, hidup, kontekstual, dan relevan. tentu untuk menghasilkan sebuah tulisan seperti itu dibutuhkan riset yang mendalam dan berulangkali verifikasi. hal ini menjadikan sebuah tulisan 'jurnalisme sastra' berongkos mahal.
jurnalisme sastra mendapat tempat ketika kemudian muncul Majalah Pantau pada akhir Desember 2000. dari majalah ini, saya kenal nama linda christanty.
majalah Pantau adalah majalah pemantau media massa yang melulu bicara tentang media dan jurnalisme. ia mendapatkan sokongan dari Ford Foundation 200.000 dollar Amerika. Pantau menerapkan sistem wartawan lepas, sedangkan artikel dihargai 400 rupiah per kata. jumlah kata pada setiap artikel bisa melampaui 10.000 kata.
Pantau adalah proyek idealisme yang mahal. padahal anggarannya hanya mampu membiayai 40 persen biaya produksi per edisi. maka, tak lama, Pantau bubar pada tahun 2003. tidak ada penanam modal yang bersedia membiayai proyek mercusuar ini.
dan saya pikir, buku ini menjadi penting sebagai dokumentasi tulisan jurnalisme sastra karya linda christanty. jurnalisme yang dikemas dalam gaya sastra tentu saja mempunyai kekuatan yang lebih dari sekedar breaking news biasa. ia mampu menukik, meletup, dan merangsang kita untuk terlibat dalam emosi yang dibangun dari deskripsi yang kuat sebuah kejadian. linda christanty berhasil untuk itu.
fyi: salah satu wartawan yang giat menulis jurnalisme sastra di Pantau adalah agus sopian, yang pada tanggal 9 desember 2009 kemarin baru saja meninggal dunia. terakhir dia menjabat sebagai redpel Jurnal Nasional.
saya mengenal istilah jurnalisme sastra ketika masih menjadi mahasiswa di malang dulu. kebetulan, waktu itu dapat kesempatan untuk mendatangkan andreas harsono dalam sebuah workshop jurnalisme sastra di kampus. kira-kira tahun 1998.
menurut andreas, jurnalisme sastra memberi tempat bagi wartawan untuk mengakutalisasikan keberadaan dirinya. sebab, ia menuntut seorang wartawan untuk mampu membuat narasi, ataupun deksripsi yang rinci, hidup, kontekstual, dan relevan. tentu untuk menghasilkan sebuah tulisan seperti itu dibutuhkan riset yang mendalam dan berulangkali verifikasi. hal ini menjadikan sebuah tulisan 'jurnalisme sastra' berongkos mahal.
jurnalisme sastra mendapat tempat ketika kemudian muncul Majalah Pantau pada akhir Desember 2000. dari majalah ini, saya kenal nama linda christanty.
majalah Pantau adalah majalah pemantau media massa yang melulu bicara tentang media dan jurnalisme. ia mendapatkan sokongan dari Ford Foundation 200.000 dollar Amerika. Pantau menerapkan sistem wartawan lepas, sedangkan artikel dihargai 400 rupiah per kata. jumlah kata pada setiap artikel bisa melampaui 10.000 kata.
Pantau adalah proyek idealisme yang mahal. padahal anggarannya hanya mampu membiayai 40 persen biaya produksi per edisi. maka, tak lama, Pantau bubar pada tahun 2003. tidak ada penanam modal yang bersedia membiayai proyek mercusuar ini.
dan saya pikir, buku ini menjadi penting sebagai dokumentasi tulisan jurnalisme sastra karya linda christanty. jurnalisme yang dikemas dalam gaya sastra tentu saja mempunyai kekuatan yang lebih dari sekedar breaking news biasa. ia mampu menukik, meletup, dan merangsang kita untuk terlibat dalam emosi yang dibangun dari deskripsi yang kuat sebuah kejadian. linda christanty berhasil untuk itu.
fyi: salah satu wartawan yang giat menulis jurnalisme sastra di Pantau adalah agus sopian, yang pada tanggal 9 desember 2009 kemarin baru saja meninggal dunia. terakhir dia menjabat sebagai redpel Jurnal Nasional.
March 21, 2021
Setelah berkenalan dengan tulisan Linda Januari lalu lewat Seekor Burung Kecil Biru di Naha: Konflik, Tragedi, Rekonsiliasi, Maret ini merasa perlu sekaligus rindu untuk melumat tulisan Linda yang lain. Gayung bersambut, buku ini hadir dari tumpukan koleksi bacaan partnerku.
Setelah ditelusuri, kemungkinan besar ini merupakan kumpulan tulisan Linda pertama yang dibukukan. Periode kepenulisannya antara 2001 - 2007 yang kemudian buku ini rilis pada 2009. Isinya beragam topik reportase hingga feature yang dibawakan secara naratif. Setiap kali menyelesaikan satu tulisan, pertanyaan-pertanyaan bergemuruh: Bagaimana Linda mewawancarai para narasumber itu sampai ia bisa menuliskan segala macam detail seakan-akan seperti deskripsi latar dan waktu pada sebuah karya fiksi?
Aku tidak sengaja menitikkan air mata seusai membaca kisah hidup Wiji Thukul. Sambil mendengarkan musikalisasi puisi "Bunga dan Tembok" dari Merah Bercerita, aku merasakan amarah Wiji melalui paragraf-paragraf yang ditulis Linda. Aku juga begitu semringah berkenalan dengan Dede Oetomo, penggagas majalah GAYa Nusantara, yang sepertinya penuh semangat pada isu yang diperjuangkannya. Itu lagi-lagi dirasakan berkat tulisan Linda.
Selain mengenali para tokoh melalui feature yang disajikan Linda, aku jadi bisa menambah wawasan tentang peristiwa-peristiwa tentang Indonesia: GAM di Aceh, Jaringan Islam Liberal (JIL), Petrus pada pemerintahan Soeharto yang masih berhubungan dengan kriminalitas yang tinggi setelah runtuhnya Orde Baru, hingga tragedi Talangsari di Lampung. Peristiwa-peristiwa penting ini begitu menghanyutkan disampaikan melalui tulisan Linda.
Satu isu yang mungkin menjadi utama dalam buku ini yaitu perihal "jawanisme" yang disebut Linda berkali-kali di beberapa tulisan Linda perihal Aceh. Mentalitas "menjilat ke atas, menginjak ke bawah" yang dipopulerkan juga oleh Pramoedya Ananta Toer ini membuatku sebagai seorang keturunan Jawa semacam dipukul kepalanya untuk sadar. Mentalisme Jawa ini sungguh toxic dan perlu dibicarakan lebih jauh lagi.
Sudah dua buku dan aku bisa menyimpulkan bahwa tulisan-tulisan Linda indah sembari mengonfrontasi. Tulisan Linda menjadikan pembaca lebih kritis. Aku sampai membahas satu topik tentang paham islam ortodoks, fundamental, dan liberal dengan partnerku. Ya ampun, ingin sekali menulis seperti Linda. Ingin sekali menjadi muridnya. Bagaimana caranya, ya?
Tahun ini sepertinya tahunku untuk membaca karya-karya Linda. Dan, tentu saja, tak luput juga dengan karya fiksinya.
Satu kutipan pengingat yang kusuka:
Setelah ditelusuri, kemungkinan besar ini merupakan kumpulan tulisan Linda pertama yang dibukukan. Periode kepenulisannya antara 2001 - 2007 yang kemudian buku ini rilis pada 2009. Isinya beragam topik reportase hingga feature yang dibawakan secara naratif. Setiap kali menyelesaikan satu tulisan, pertanyaan-pertanyaan bergemuruh: Bagaimana Linda mewawancarai para narasumber itu sampai ia bisa menuliskan segala macam detail seakan-akan seperti deskripsi latar dan waktu pada sebuah karya fiksi?
Aku tidak sengaja menitikkan air mata seusai membaca kisah hidup Wiji Thukul. Sambil mendengarkan musikalisasi puisi "Bunga dan Tembok" dari Merah Bercerita, aku merasakan amarah Wiji melalui paragraf-paragraf yang ditulis Linda. Aku juga begitu semringah berkenalan dengan Dede Oetomo, penggagas majalah GAYa Nusantara, yang sepertinya penuh semangat pada isu yang diperjuangkannya. Itu lagi-lagi dirasakan berkat tulisan Linda.
Selain mengenali para tokoh melalui feature yang disajikan Linda, aku jadi bisa menambah wawasan tentang peristiwa-peristiwa tentang Indonesia: GAM di Aceh, Jaringan Islam Liberal (JIL), Petrus pada pemerintahan Soeharto yang masih berhubungan dengan kriminalitas yang tinggi setelah runtuhnya Orde Baru, hingga tragedi Talangsari di Lampung. Peristiwa-peristiwa penting ini begitu menghanyutkan disampaikan melalui tulisan Linda.
Satu isu yang mungkin menjadi utama dalam buku ini yaitu perihal "jawanisme" yang disebut Linda berkali-kali di beberapa tulisan Linda perihal Aceh. Mentalitas "menjilat ke atas, menginjak ke bawah" yang dipopulerkan juga oleh Pramoedya Ananta Toer ini membuatku sebagai seorang keturunan Jawa semacam dipukul kepalanya untuk sadar. Mentalisme Jawa ini sungguh toxic dan perlu dibicarakan lebih jauh lagi.
Sudah dua buku dan aku bisa menyimpulkan bahwa tulisan-tulisan Linda indah sembari mengonfrontasi. Tulisan Linda menjadikan pembaca lebih kritis. Aku sampai membahas satu topik tentang paham islam ortodoks, fundamental, dan liberal dengan partnerku. Ya ampun, ingin sekali menulis seperti Linda. Ingin sekali menjadi muridnya. Bagaimana caranya, ya?
Tahun ini sepertinya tahunku untuk membaca karya-karya Linda. Dan, tentu saja, tak luput juga dengan karya fiksinya.
Satu kutipan pengingat yang kusuka:
"Pelanggaran hak asasi yang pertama itu yang sering terjadi dalam keluarga malahan. Makanya saya katakan, kamu berprestasilah, punya banyak uang,karir sukses. Karena kalau dia sukses semua keluarga, orangtua, kakak, adik, semua tertuju ke dia. Jadi dia bisa punya power di situ," kata Joned. (tulisan 'Gaya Nusantara', halaman 111.)
September 17, 2009
One of a few books that I care to finish once I start reading. The (real life) stories are compelling, the storytelling is more than adequate - it's Linda's strength, actually - though her writing style reminds me a lot to Ayu Utami.
The book is actually a compilation of Linda's articles in various publications. The main theme is her personal experience, because they practically covers a lot of issues: from the 'wartawan bodrex' phenomenon, to Wiji Thukul (bless his soul), to the shariah law in Aceh, all written in blunt words. Linda doesn't even try to create nicknames or initials of the journalists whose stories has been chosen as examples of the "envelope phenomenon". I'm not a journalist, so I can't comment on any etiquette matter here. I suppose the subjects have been notified about this in advance.
One story, "Batalion Terakhir", grab my attention for the way Linda describes her encounter with a group of (low rank) army officers. Given her political background, one will expect a picture of harsh brats. On the contrary, the military people were portrayed from a sympathetic angle.
Despite a few disturbing things, I must say the book is inspiring.
The book is actually a compilation of Linda's articles in various publications. The main theme is her personal experience, because they practically covers a lot of issues: from the 'wartawan bodrex' phenomenon, to Wiji Thukul (bless his soul), to the shariah law in Aceh, all written in blunt words. Linda doesn't even try to create nicknames or initials of the journalists whose stories has been chosen as examples of the "envelope phenomenon". I'm not a journalist, so I can't comment on any etiquette matter here. I suppose the subjects have been notified about this in advance.
One story, "Batalion Terakhir", grab my attention for the way Linda describes her encounter with a group of (low rank) army officers. Given her political background, one will expect a picture of harsh brats. On the contrary, the military people were portrayed from a sympathetic angle.
Despite a few disturbing things, I must say the book is inspiring.
February 21, 2015
Ini ya yang dinamakan Jurnalisme Sastrawi.. Hemmm.
Bisa dibilang, saya lebih menikmati tulisan2 di buku ini ketimbang beberapa cerpennya dalam buku lain, lebih asyik dicerna dan menambah banyak pengetahuan.
Seolah saya berada di garis batas antara fiksi dan nonfiksi, tempat yang nyaman dengan bau sedap ilmu pemikiran.
Bisa dibilang, saya lebih menikmati tulisan2 di buku ini ketimbang beberapa cerpennya dalam buku lain, lebih asyik dicerna dan menambah banyak pengetahuan.
Seolah saya berada di garis batas antara fiksi dan nonfiksi, tempat yang nyaman dengan bau sedap ilmu pemikiran.
July 27, 2020
Saya senang tipikal tulisan macam gini. Essai yang tak sekedar opini tpi menyelidik dan memberi celah untuk mengoreksi.
Bermula dari Jawa berakhir pada harapan untuk Aceh
Bermula dari Jawa berakhir pada harapan untuk Aceh
August 16, 2022
Selalu ada yang baru ketika membaca ulang tulisan-tulisan di dalam buku ini.
September 15, 2022
Cara Linda mewarisi jurnalisme sastrawi selalu dalam dan 'mematikan'. Buku ini menarik, hanya jangan sampai terkecoh judulnya.
March 28, 2014
Mari saya ambilkan contoh bagaimana Linda memotret persoalan-persoalan sensitif dan ‘besar’ namun dalam sudut pandang personal dan akrab di mata kita. Hikayat Kebo (lihat halaman 34-55) adalah potret bagaimana problematika kehidupan urban tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan politik Indonesia. Kisah kematian Kebo yang tragis pada medio 2001 kiranya masih aktual untuk kita resapi. Kebo bukan publik figur yang bisa setiap hari memenuhi headline di media cetak dan elektronik. Kebo hanyalah preman kota yang hidup dengan caranya sendiri. Menghabiskan waktu untuk berjudi, mabuk, dan main perempuan dan tidak peduli esok mau makan apa. Hidup santai a la Kebo mungkin menyenangkan, tapi juga penuh risiko. Nah, peristiwa Kebo adalah contoh kompleks untuk melihat karakter masyarakat Indonesia yang kini dikuasai oleh kekerasan kerumunan.
Dulu, jika negara handal dalam menghilangkan nyawa seseorang yang berseberangan dengan paradigma sentralistiknya, kini, keahlian semacam itu tidak memerlukan spesifikasi khusus lagi. Kekerasan datang dari segala penjuru, bisa datang dari etnisitas, agama atau keyakinan tertentu (lihat kisah Adakah Pelangi dalam Islam; halaman 88 – 100), pendukung partai politik, atau orang biasa yang tiba-tiba memiliki kuasa untuk melakukan kekerasan dan menghilangkan nyawa seseorang, bahkan dengan alasan yang sepele sekali pun. Aksi main hakim sendiri hingga merenggut nyawa Kebo, problematika khas kekotaan seperti kemiskinan struktural, ketiadaan akses tempat tinggal bagi orang miskin, ketiadaan akses ekonomi, penggusuran, kekerasan dalam rumah tangga yang dialami Muah (istri Kebo) adalah penggalan-penggalan drama yang tidak bersandar pada skenario fiksi karena di masa lampau negara telah mempertontonkan sebuah pertunjukan kolosal, berdurasi panjang dan bertemakan kekerasan. Sebuah ironi yang masih terus membayangi.
Kita tentu tidak menyangka ketika kebebasan digegap-gempitakan, dirayakan, disukacitakan di seluruh pelosok tanah air, namun diam-diam kekerasan tengah berkembangbiak, menyusup di mana-mana dengan kembali menunggalkan bentuk kebenaran dan menyingkirkan mereka yang dianggap berbeda. Kisah petrus (baca: penembakan misterius), kasus penculikan dan rentetan kekerasan/pelanggaran HAM masa lalu adalah kisah yang sejatinya tidak boleh kita lupakan. Kisah-kisah semacam ini bisa terulang jika kita tidak pernah belajar dari apa yang telah dialami oleh para martir terdahulu. Wiji Thukul misalnya, kisah hidup orang hilang yang turut dituturkan dalam buku ini menjadi simbol abadi atas perjuangan kaum urakan yang lebih bisa memaknai hidup ketimbang para penguasa yang memimpin negeri ini.
Kisah pinggiran lain yang juga dinarasikan dalam prosanya berjudul Gaya Nusantara (baca halaman: 101 – 122). Kisah ini mengangkat pengalaman Dede Oetomo yang akhirnya memutuskan untuk melakukan coming out dengan status dan orientasi seksualnya. Sekali lagi, dengan gaya tutur subtil dan detail, Linda mengajak para pembaca untuk mengenal lebih dekat kehidupan komunitas LGBT Indonesia (lesbian, gay, transeksual, biseksual), melepaskan semua sekat pakewuh dan mendudukkan mereka sederajat dengan manusia lainnya tanpa tabir diskriminasi maupun hal-hal lainnya yang bisa menurunkan derajat dari prinsip kemanusiaan itu sendiri.
Namun, di sisi yang lain Linda juga menghadirkan sosok-sosok lain yang selama ini berada di garis batas yang sering berseberangan. Mereka yang mengabdi kepada negara, menjadi serdadu untuk terus mengisi periuk nasi. kisah Batalion Terakhir (baca halaman: 135-138) adalah kisah yang menceritakan kehidupan tentara yang ditempatkan di pos penjagaan Ulee Lheue, Aceh. Mereka yang berada dalam kesatuan Yonif 400/Raider menjadi kesatuan pamungkas di Bumi Serambi Mekkah itu selama sepuluh bulan terakhir. Susunan kalimat yang menggelitik dilontarkan oleh Iqbal, fotografer dari jakarta yang menemani Linda di sana, “Jangan-jangan setelah perang ini mereka malah mempertanyakan kenapa harus ada perang, merasa sia-sia jadi tentara.” Dalam tulisan ini, Linda berusaha mendudukkan kembali konsep cinta kasih pada sesama dengan tidak memberikan perbedaan status yang disandangnya dengan para serdadu itu.
Dulu, jika negara handal dalam menghilangkan nyawa seseorang yang berseberangan dengan paradigma sentralistiknya, kini, keahlian semacam itu tidak memerlukan spesifikasi khusus lagi. Kekerasan datang dari segala penjuru, bisa datang dari etnisitas, agama atau keyakinan tertentu (lihat kisah Adakah Pelangi dalam Islam; halaman 88 – 100), pendukung partai politik, atau orang biasa yang tiba-tiba memiliki kuasa untuk melakukan kekerasan dan menghilangkan nyawa seseorang, bahkan dengan alasan yang sepele sekali pun. Aksi main hakim sendiri hingga merenggut nyawa Kebo, problematika khas kekotaan seperti kemiskinan struktural, ketiadaan akses tempat tinggal bagi orang miskin, ketiadaan akses ekonomi, penggusuran, kekerasan dalam rumah tangga yang dialami Muah (istri Kebo) adalah penggalan-penggalan drama yang tidak bersandar pada skenario fiksi karena di masa lampau negara telah mempertontonkan sebuah pertunjukan kolosal, berdurasi panjang dan bertemakan kekerasan. Sebuah ironi yang masih terus membayangi.
Kita tentu tidak menyangka ketika kebebasan digegap-gempitakan, dirayakan, disukacitakan di seluruh pelosok tanah air, namun diam-diam kekerasan tengah berkembangbiak, menyusup di mana-mana dengan kembali menunggalkan bentuk kebenaran dan menyingkirkan mereka yang dianggap berbeda. Kisah petrus (baca: penembakan misterius), kasus penculikan dan rentetan kekerasan/pelanggaran HAM masa lalu adalah kisah yang sejatinya tidak boleh kita lupakan. Kisah-kisah semacam ini bisa terulang jika kita tidak pernah belajar dari apa yang telah dialami oleh para martir terdahulu. Wiji Thukul misalnya, kisah hidup orang hilang yang turut dituturkan dalam buku ini menjadi simbol abadi atas perjuangan kaum urakan yang lebih bisa memaknai hidup ketimbang para penguasa yang memimpin negeri ini.
Kisah pinggiran lain yang juga dinarasikan dalam prosanya berjudul Gaya Nusantara (baca halaman: 101 – 122). Kisah ini mengangkat pengalaman Dede Oetomo yang akhirnya memutuskan untuk melakukan coming out dengan status dan orientasi seksualnya. Sekali lagi, dengan gaya tutur subtil dan detail, Linda mengajak para pembaca untuk mengenal lebih dekat kehidupan komunitas LGBT Indonesia (lesbian, gay, transeksual, biseksual), melepaskan semua sekat pakewuh dan mendudukkan mereka sederajat dengan manusia lainnya tanpa tabir diskriminasi maupun hal-hal lainnya yang bisa menurunkan derajat dari prinsip kemanusiaan itu sendiri.
Namun, di sisi yang lain Linda juga menghadirkan sosok-sosok lain yang selama ini berada di garis batas yang sering berseberangan. Mereka yang mengabdi kepada negara, menjadi serdadu untuk terus mengisi periuk nasi. kisah Batalion Terakhir (baca halaman: 135-138) adalah kisah yang menceritakan kehidupan tentara yang ditempatkan di pos penjagaan Ulee Lheue, Aceh. Mereka yang berada dalam kesatuan Yonif 400/Raider menjadi kesatuan pamungkas di Bumi Serambi Mekkah itu selama sepuluh bulan terakhir. Susunan kalimat yang menggelitik dilontarkan oleh Iqbal, fotografer dari jakarta yang menemani Linda di sana, “Jangan-jangan setelah perang ini mereka malah mempertanyakan kenapa harus ada perang, merasa sia-sia jadi tentara.” Dalam tulisan ini, Linda berusaha mendudukkan kembali konsep cinta kasih pada sesama dengan tidak memberikan perbedaan status yang disandangnya dengan para serdadu itu.
July 12, 2010
Awalnya, Buku ini terkesan berat. Semuanya berisi catatan Peliputan Mba Linda sebagai Jurnalis. Tapi sebetulnya buku ini sangat menarik untuk dibaca. Mba Linda terbiasa memakai kalimat yang luar biasa, setiap saya membaca tulisannya, di waktu - waktu yang serius ternyata disisipkan cletukan yang menggelitik seperti berfungsi untuk me-refresh otak saya.
Saya sungguh penasaran bagaimana Mba Linda melakukan peliputan - peliputan tersebut. Mulai dari meliput Hikayat Kebo ( preman yang dibakar hidup - hidup ), sampai rasa penasaran saya ketika Mba Linda mengunjungi Pramodya Ananta T. Sayangnya saya sampai sekarang tidak menemukan buku pertama Mba Linda "Kuda Terbang Maria Pinto".
Tapi saya agak heran kenapa Mba Linda juga perduli dengan Kehidupan Kaum pecinta sesama jenis ( LGBT ). Setau saya, di Buku Kuda Terbang Maria Pinto, Mba Linda membahas LGBT dalam "Lubang Hitam", Buku Dari Jawa Menutju Aceh pun demikian ( saya lupa judulnya ), dan terakhir Buku Rahasia Selma dalam "Mercusuar" ( kisah 2 orang lesbian dengan pertemuan pertama mereka ). Bahkan hingga detik ini saya mencari Cerpen "Lubang Hitam" tp tdk juga ketemu.Apapun alasan Mb Linda membahasnya, saya salut dengan Linda Christanty.
Saya sungguh penasaran bagaimana Mba Linda melakukan peliputan - peliputan tersebut. Mulai dari meliput Hikayat Kebo ( preman yang dibakar hidup - hidup ), sampai rasa penasaran saya ketika Mba Linda mengunjungi Pramodya Ananta T. Sayangnya saya sampai sekarang tidak menemukan buku pertama Mba Linda "Kuda Terbang Maria Pinto".
Tapi saya agak heran kenapa Mba Linda juga perduli dengan Kehidupan Kaum pecinta sesama jenis ( LGBT ). Setau saya, di Buku Kuda Terbang Maria Pinto, Mba Linda membahas LGBT dalam "Lubang Hitam", Buku Dari Jawa Menutju Aceh pun demikian ( saya lupa judulnya ), dan terakhir Buku Rahasia Selma dalam "Mercusuar" ( kisah 2 orang lesbian dengan pertemuan pertama mereka ). Bahkan hingga detik ini saya mencari Cerpen "Lubang Hitam" tp tdk juga ketemu.Apapun alasan Mb Linda membahasnya, saya salut dengan Linda Christanty.
March 4, 2012
alasan utama saya menyelesaikan buku ini adalah karena saya merasa tulisan saya sudah terlalu kaku. membaca kalimat-kalimat dalam laporan tugas akhir, yang sedang saya kerjakan dan belum juga selesai, ini seperti menelan lemper lengkap dengan daun pisangnya. pasti susah menelannya :)
alasan kedua adalah karena dalam waktu dekat ini, seperti yang saya baca di twitter mbak Linda, buku kumpulan esai beliau akan diterbitkan. oleh sebab itu saya rasa saya perlu dengan segera menyelesaikan membaca buku ini.
membaca tulisan mbak Linda, baik itu cerpen atau esai, bisa diibaratkan seperti sedang belajar bahasa indonesia dengan cara yang lebih menyenangkan. bagaimana cara menyusun paragraf yang baik, bagaimana cara menjaga ritme kalimat, bagaimana cara mengemukakan masalah yang sebenarnya "berat" dengan kalimat sederhana, dll dapat kita pelajari saat membaca tulisan beliau.
saya rasa tidak salah apa bila saya menyarankan mahasiswa tingkat akhir, dari jurusan apa saja, untuk meluangkan waktunya sejenak membaca buku ini sehingga laporan tugas akhir atau skripsi, yang ditulis menggunakan bahasa indonesia yang formal itu, masih tetap enak dibaca.
alasan kedua adalah karena dalam waktu dekat ini, seperti yang saya baca di twitter mbak Linda, buku kumpulan esai beliau akan diterbitkan. oleh sebab itu saya rasa saya perlu dengan segera menyelesaikan membaca buku ini.
membaca tulisan mbak Linda, baik itu cerpen atau esai, bisa diibaratkan seperti sedang belajar bahasa indonesia dengan cara yang lebih menyenangkan. bagaimana cara menyusun paragraf yang baik, bagaimana cara menjaga ritme kalimat, bagaimana cara mengemukakan masalah yang sebenarnya "berat" dengan kalimat sederhana, dll dapat kita pelajari saat membaca tulisan beliau.
saya rasa tidak salah apa bila saya menyarankan mahasiswa tingkat akhir, dari jurusan apa saja, untuk meluangkan waktunya sejenak membaca buku ini sehingga laporan tugas akhir atau skripsi, yang ditulis menggunakan bahasa indonesia yang formal itu, masih tetap enak dibaca.
March 12, 2010
Linda Christanty menuangkan catatan perjalanannya selama menapak tanah Jawa (20 tahun) dan Aceh (sejak September 2005) dalam buku ini. Buah pikiran dan sulur kepeduliannya, terbaca kokoh. Dunia politik dan jurnalis yang digelutinya sekian tahun, membuat Linda mampu dengan lancar menulis liku kejadian yang pernah menjadi sorotan masyarakat kita pada masa itu. Membaca buku ini, berarti Anda siap terkaget-kaget mengecap pahitnya rangkaian 'cerita di balik layar' dari insiden-insiden heboh, namun tetap terbungkam hingga kini.
Kisah yang paling menarik bagi saya adalah: Jurnalisme dalam Sepotong Amplop, Wiji Thukul dan Orang Hilang, Gaya Nusantara, Adakah Pelangi dalam Islam?, Pelajaran tentang Keberanian, dan Aceh dalam Sepiring Rujak.
Semua tulisan Linda yang termaktub dalam buku Dari Jawa Menuju Atjeh, sudah pernah dimuat di media massa.
Kisah yang paling menarik bagi saya adalah: Jurnalisme dalam Sepotong Amplop, Wiji Thukul dan Orang Hilang, Gaya Nusantara, Adakah Pelangi dalam Islam?, Pelajaran tentang Keberanian, dan Aceh dalam Sepiring Rujak.
Semua tulisan Linda yang termaktub dalam buku Dari Jawa Menuju Atjeh, sudah pernah dimuat di media massa.
September 15, 2009
Kenapa yaaa...
kenapa yaaa...
kenapa yaaa...
agak ga nyambung dengan buku ini? Karena saya punya pengalaman yang sedikit sama kali yah dengan sang penulis buku, tapi dengan sudut pandang berbeda???
kenapa yaaa...
kenapa yaaa...
agak ga nyambung dengan buku ini? Karena saya punya pengalaman yang sedikit sama kali yah dengan sang penulis buku, tapi dengan sudut pandang berbeda???
February 17, 2015
Bacaan yg cukup berat bagi saya dan butuh waktu yg cukup lama bagi saya untuk selesai membaca buku ini. hehe. Tetapi secara keseluruhan saya suka. Terutama tulisan yg berjudul "Ketika Pertama ke Aceh" dan "Hikayat Kebo".
August 4, 2016
judulnya menarik perhatian pembaca, begitu juga isinya. gaya tulisannya yang naratif membuat materi pembahasannya yang berat menjadi lebih mudah dicerna tanpa menghilangkan sisi cerdas penulisannya. dan saya pun mencoba memahami opini orang luar mengenai Aceh melalui buku ini.
June 6, 2009
niatnya mau diskimming di kereta. Skimming batal karena kedinginan, eh malah nyaris ketlingsut dan ketinggalan di kereta.
Dapat satu bab sih, yang ttg Pram.
Dapat satu bab sih, yang ttg Pram.
September 7, 2010
selalu terpukau oleh keindahan bahasa Mbak Linda dan ketajaman observasinya. Bravo, Mbak!
August 6, 2013
Sebuah kumpulan tulisan yang memang sangat menarik untuk dibaca! Recommended book!
August 28, 2013
Sastra marah-marah. Meh
October 24, 2013
705 - 2013
November 8, 2014
Good! is very goooood
December 29, 2015
Well written essays about sad yet rich realities occurred in Indonesia which are oftenly hidden or untold by media conglomerates.
May 2, 2017
Nice but sad. Ini buku pinjeman dan saya nggak sempat baca. Jadi belum tuntas nyelesain buku ini kudu dibalikin. HVFT.
Displaying 1 - 22 of 22 reviews





















