Ketika rencananya untuk menikah dipupus takdir, Lamar Karlsson memutuskan pulang ke Indonesia. Meninggalkan segalanya—termasuk karier sebagai structural engineer—untuk memikirkan dan memetakan kembali masa depannya. Masa depan yang akan dilalui sendiri, tanpa risiko patah hati. Semua akan berjalan sempurna, seandainya Malissa Niharika—seorang environmental scientist—tidak mengetuk pintu rumah Lamar. Kini justru timbul masalah baru; Lamar tidak bisa mengusir Malissa dari pikirannya.
Setelah bangkit dari keterpurukan atas pengkhianatan dan skandal besar yang dilakukan almarhum suaminya, Malissa fokus membesarkan anak kembarnya. Waktu yang tersisa digunakan untuk menyelamatkan lingkungan melalui free store dan food rescue yang dirintisnya, sehingga mencari pasangan hidup tidak menjadi prioritas utama Malissa. Tetapi perkenalan dengan Lamar menyebabkan impian Malissa untuk memiliki pernikahan yang penuh cinta bersemi kembali.
Ini bukan waktu yang tepat untuk jatuh cinta, Lamar meyakinkan dirinya. Masih terlalu cepat. Namun Malissa menunjukkan kepada Lamar bahwa hati memiliki cara kerja sendiri yang tidak bisa diintervensi. Apakah Lamar akan mendengarkan kata hatinya untuk segera memberi kepastian kepada Malissa? Atau tetap bertahan di zona teman, yang aman tapi tanpa kesempatan hidup bahagia selama-lamanya bersama Malissa?
Ika Vihara merupakan lulusan Fakultas Teknologi Elektro dan Komputer Cerdas, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, yang terus berusaha menaikkan romance genre satu level lebih tinggi. Dalam buku-bukunya, Ika Vihara menggabungkan romansa yang manis, romantis, dan realistis; dengan STEM—Science, Technology, Engineering, and Mathematics yang logis dan kesehatan mental.
Pada tahun 2021, novel karya Ika Vihara yang berjudul Sepasang Sepatu Untuk Ava memenangkan kompetisi The Watty’s Award kategori Romance. Dua cerita pendek terbaiknya, Sebaik-baik Pelajaran dan Sebaik-baik Manusia, masing-masing menjadi juara pertama pada Lomba Teman Tulis 2021 dan 2022. Karya-karya Ika Vihara yang telah terbit di antaranya My Bittersweet Marriage, When Love Is Not Enough, The Game of Love, A Wedding Come True, The Perfect Match, The Promise of Forever dan Right Time To Fall In Love.
Selamanya Ika Vihara akan selalu percaya bahawa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua dan akhir yang bahagia. Ingin kenal lebih jauh mengenai Ika Vihara? Atau mendiskusikan apa saja dengannya? Kunjungi, ikuti, baca, dan tinggalkan komentar atau pesan di blog www.ikavihara.com dan Instagram/Facebook/Twitter/Tiktok ikavihara. Koleksi bab ekstra novel-novel Ika Vihara bisa dibaca di karyakarsa.com/ikavihara.
Baru baca sampe halaman 113 tapi trus ilfil sama Malissa. Karakternya gak konsisten. Dia gak mau dianggap sebagai wanita kegatelan, tapi bolak-balik berfantasi nakal tentang Lamar. Bukan cuma sekali, tapi berkali-kali. Untuk saya pribadi bagian itu agak mengganggu. Padahal—menurut saya—romantisme gak harus selalu diwakilkan dengan hal-hal nakal atau passionate kisses berulang kali.
Sayang banget sebenernya, karena background Malissa ini bagus banget. Ide tentang penyelamatan lingkungannya pun keren (ini yang sejak awal jadi alasan utama saya tertarik baca buku ini). Masa lalu Lamar juga sukses bikin hati teriris. Tapi those dirty fantasies merusak mood baca saya. Mungkin saya butuh waktu untuk bisa lanjut baca. Jadi dilema, antara penasaran mau lanjut baca, tapi khawatir makin ilfil.
Maaf kalo ulasan ini bikin Kak Ika kurang berkenan. Mungkin saya aja yang kurang cocok sama si Malissa ini. Keep on writing, Kak. Semoga makin sukses ke depannya.
Karya Ika Vihara dalam Le Mariage selalu sukses membuat perasaanku seperti terombang-ambing di tengah lautan lepas. Paling bisa deh bawain tema pernikahan dengan masalah yang agak ruwet, tapi tetep seru untuk diikuti sampai habis. Tentunya banyak petuah dan pelajaran yang bisa dipetik. KEREN BANGET!
Hidup Malissa tidak bisa dikatakan mudah setelah menikah. Suaminya yang merupakan dokter terkenal ternyata tidak pernah mencintainya dengan tulus. Belum lagi ia ditinggalkan dalam kondisi mengurus 2 anak yang masih kecil dan kenyataan bahwa (mantan) suaminya berselingkuh. Dalam satu kejadian, ia menemukan dompet milik seseorang dan seperti takdir (dalam cerita), pertemuan itu mengenalkannya pada sosok Lamar, lelaki yang juga memiliki luka masa lalu.
Aku bingung harus mulai reviu dari mana. Awalnya mau dnf karena banyak banget lubang di cerita ini, feel-nya ambyar, dan karakternya nggak konsisten serta annoying. I felt sorry for the author. Buku pertamanya yang kubaca malah nggak kasih kesan oke sama sekali.
Pertama, info dumping di awal bab. Kalau dibilang nggak banyak tapi ya nggak sedikit, kalau dibilang sedikit tapi ya lumayan. Intinya banyak banget hasil2 riset yang entah mengapa terasa mentah, seolah-olah dituang langsung dengan sentuhan (yang diharapkan bisa meresap ke) fiksi. Terus aku merasa karakternya sengaja dibuat pintar atau bahkan jenius buat alasan kuat agar pemikiran cerdasnya bisa ngajarin pembaca. Well, aku nggak benci kok sama karakter yang jenius, tapi agak kurang suka aja kalo merasa digurui.
Kedua, masih berhubungan soal digurui, kali ini narasinya terlalu banyak mengulang. Jika si karakter sakit hati, maka ada pembanding sakit hati di masa lalunya dengan orang lama. Begitu terus sampai berulang-ulang. Terlalu apa ya, repetitif. So sorry, aku harus skip hampir semua narasi di sebagian buku ini. Aku bukannya benci buku dengan banyak narasi, sih, kadang memang merasa membosankan, tapi kupikir itu wajar, kan? Di sini yang aku rasain bukan perasaan bisa betah begitu, justru jengah. Terlalu sering diulang, terlalu sering membandingkan dengan masa lalu. Terus begitu sampai lama2 kupikir nggak perlu dibaca lagi narasinya.
Ketiga, banyak detail nggak penting yang tercantum. Sayang sekali beberapa bagian nggak di-cut dan malah menambah kesan kepengin baca atau kepengin ngerasain apa yang both Lamar dan Lissa rasakan. Jujur, aku sedih banget, beberapa kali harus narik napas pelan karena ya ini, alih2 dikasih detail yang nggak penting2 banget ke alur, kenapa nggak fokus apa yang bisa terjadi selanjutnya?
Keempat, emosi karakter. Yep, aku rewel kalo soal emosi. Bagiku semua karakternya harus jelas. Setidaknya nggak ambigu ini lagi sedih atau kecewa. Sayangnya emosi karakter tertutup dengan banyaknya detail nggak penting. Seolah penulis lebih senang beralih ke penjelasan lain alih2 dengan ... well, tindakan tokoh (?). Lamar baru kehilangan tunangan, tapi yang terasa malah bukan begitu. Terus apa yang dia pikirkan nggak seperti lelaki yang baru ditinggal mati kekasih hatinya. Kalau nggak disebut-sebut terus sama penulis di setiap kesempatan kayaknya aku bakal lupa Lamar pindah ke Indonesia demi menyembuhkan luka hatinya. Bahkan ini sih, kalau Lamar blm bisa membuka hati itu wajar banget dan yang kutahu biasanya cenderung menutup diri lalu luluh ketika mendapati kehadiran wanita lain yang menarik perhatiannya. Mereka awalnya berteman, kan? Nah, kenapa nggak manfaatin momen itu dulu? Agak aneh kalo Lamar ini cinta mati sama mantan tunangannya dan hancur pas ditinggal pergi, tapi bisa bayangin ciuman sama wanita lain dalam jangka waktu yang ... well, singkat.
Kelima, bagian Lamar ngajak makan malam terus ditolak sama Lissa, habis itu (out of nowhere) dia bilang nggak bisa menjanjikan apa2. Kayak, lu kenapa, Bang? 😭 sumpah ini bagian absurd banget. Oiya, aku nggak suka sama si Lamar ini. Kukira dia biasa aja (nggak berpikiran plin-plan kayak Lissa), eh ternyata malah lebih buruk. Alasan dia nuduh Lissa tuh enggak banget. Pake ngatain manipulatif, egois, pembohong pula. Iya tau dia posisinya kayak ditipu, tapi hey ngomongnya direm, donggg. Udah gitu pas minta maaf pakai pembelaan lagi. Ya Allah, niat kagak sih lu? Idk, baru kali ini rasanya pengin slaps ML di cerita. Lamar justru yang manipulatif tau. Astaga, masih kesel kalo ingat kelakuannya.
Terakhir, karakter2nya nggak ada yang konsisten. Atau memang karakterisasinya nggak detail. Lissa ini parah juga, dari awal kupikir wanita mandiri dan nggak gampang goyah, apa ya istilahnya ... nggak terlalu kepengaruh cinta mendadak? Yah, begitulah. Eh, setelah ketemu Lamar yang dipikirin cuma ciuman (bahkan sampe mikir bisa bercinta). Sigh. Sori, aku cuma ngerasain ilfeel, alih2 simpati.
Sebenarnya tuh, banyak yang bisa diperbaiki di sini. Ide soal penyelamatan lingkungan itu juga bagus, tapi semua kerasa mentah aja. Bahkan alur cerita berasa mentah gitu. Proses jatuh cintanya terlalu cepat dan lompat2 sampai aku nggak berharap lagi akan ada adegan yang bikin jder!
Semua ini murni pendapat pribadi dan aku nggak berniat/bermaksud memengaruhi siapa pun. As Le Mariage's book, RTTFIL cukup kasih gambaran rumah tangga seorang single parent.
Apa aku bakal baca karya penulis yang lain? Hmm, maybe? Karena kesan pertamanya nggak begitu baik, mungkin kalau mood baiknya berlebih bisa baca yang lain.
Cukup lumayan untuk dibaca namun lumayan cape juga mengikuti kisah tokoh utamanya. Sikap yang tidak konsisten di kedua tokoh. Aku beri rating 3/5 bintang
Akhirnya bisa baca juga cerita si bungsu Lamar Kaarlsson. Sebelumnya aku sudah jatuh cinta sama ceritanya kakak sulung, Elmar, di A Wedding Come True dan cerita Halmar yang menguras air mata. Malissa di Right Time To Fall In Love adalah tokoh favoritku. Ibu tunggal dengan dua anak kembar cowok dan cewek, punya pendidikan Ph.D tapi keluar dari pekerjaan sebagai dosen karena gangguan kesehatan mental, lalu mendirikan sebuat toko istimewa, free store. Wow, aku sebagai orang dari jurusan yang sama kayak Malissa di teknik lingkungan terpukau sama pemikiran Malissa. Nggak heran kalau Lamar jatuh cinta sama Malissa. Ini yang paling kusukai. Tokoh-tokoh pria di novel Ika termasuk Lamar, nggak pernah mencari wanita yang cerdas dan berpendidikan tinggi supaya nanti jadi ibu yang baik buat anak mereka. Lamar simply jatuh cinta karena cara pandang dan cara berpikir Malissa juga passion Malissa dalam menyelamatkan lingkungan sekaligus membahagiakan para lansia di lingkungannya. Kerena banget. Walaupun banyak bagian-bagian manis dan romantis yang bikin salah tingkah, tapi Right Time To Fall In Love ini realistis. Kita dibuat percaya bahwa Malissa dan Lamar berada satu dimensi dengan kita. Cerita cinta yang indah seperti punya mereka sangat bisa kita miliki. Sangat bisa terjadi pada kita. Secara keseluruhan, cerita ini sangat menarik untuk dibaca dan bikin melek semalaman.
Covernya romantis banget. Ceritanya juga seromantis covernya. Setelah baca cerita kakaknya, Elmar, lalu Halmar, aku sudah menunggu banget cerita Lamar di Right Time To Fall In Love. Seperti dulu-dulu tiap nunggu cerita Ika, kesabaran berbuah manis. Tiap ceritanya pasti di dalam dunia yang berbeda-beda. Kali ini kita diajak ke dunia Malissa, seorang envromental scientist, punya gelas Ph.D dan single parent dengan dua anak kembar cewek dan cowok. Malissa sudah resign dari pekerjaannya sebagai dosen di universitas ternama dan membuka free store untuk menampung surplus barang dan menyalurkan kepada yang nggak bisa membelinya. Aku belajar banyak tentang lingkungan dan cara kecil menyelamatkan lingkungan yang bisa kulakukan. Aku juga terdorong mengurangi perilaku konsumtif, supaya aku nggak nyampah. Anyway, dari sisi cerita, romansa di novel ini dapat banget. Chemistry Lamar dan Malissa sangat kuat, sampai aku yakin mereka berdua berjodoh. Tapi hidup nggak semudah itu. Mereka berdua harus menghadapi banyak ujian untuk membuktikan kuatnya cinta mereka. Ada bikin sebelnya juga Lamar ini, walaupun tetap suamiable. Lamar nyanyi lagu cinta dan masak makanan Swedia buat Malissa, tapi kok aku yang blushing sendiri. Suka banget sama cerita ini dan pasti bakal diulang terus.
Satu lagi novel dari Queen of Romance yang menyenangkan buat dibaca. Novel Ika selalu bisa mengajakku buat berpikir positif. Setelah selesai baca bawaannya optimis. Hati juga hangat, karena semua elemen yang penting dalam hidup ini ada di sana. Asmara, keluarga dan persahabatan. Punya satu atau lebih dari ketiganya, harus disyukuri. Tokoh-tokoh utamanya bukan mereka yang kebelet menikah atau nggak tahan jomblo. Mereka fokus pada apa yang mereka punya saat itu. Malissa pada anak-anaknya dan karier hasil pivotnya, dari dosen dengan gelar Ph.D menjadi founder toko istimewa yaitu free store. Sedangkan Lamar fokus menyembuhkan hatinya yang baru saja patah karena ditinggal mati calon istrinya. Tapi cinta datang di saat dan tempat yang tidak terduga. Di sanalah kisah mereka berdua dimulai. Dengan perjalanan yang nggak mudah, kita akan melihat mereka tumbuh bersama-sama sebagai satu kesatuan, saling menguatkan dan saling menyembuhkan. Konfliknya sih yang nggak kuduga. Kok bisa penulis bikin konflik seperti itu, aku belum pernah baca sebebelumnya. Romansa di antara Lamar dan Malissa sangat memuaskan dan itu bikin ketagihan. Mau baca lagi yang rpmantis dari Ika. Semoga buku selanjutnya cepert ada.
Suka banget dengan cerita-cerita di mana tokoh utama wanita nggak terobsesi mencari pangeran berkuda putih, tapi fokus membahagiakan diri sendiri, mewujudkan cita-cita, dan berusaha berkontribusi untuk lingkungan dan orang banyak. Laki-laki yang tepat untuknya akan datang di saat yang tepat. Tokoh utama laki-laki yang nggak mencari wanita cantik dan berpendidikan tinggi buat memperbaiki keturunan atau biar punya ibu yang baik untuk anak-anaknya. Novel ini memenuhi semua yang kucari. Pemikiran-pemikiran dan pendapat penulis yang dituangkan di sini membuka pikiranku banget. Aku jadi banyak memandang hidup dan cinta dari kacamata berbeda. Kisah cinta Lamar dan Malissa, sejak pertemuan pertama, sampai akhir sangat menghangatkan hati. Anna dan Andre, dua anak kembar Malissa, juga lucu dan memberi warna di sini. Kekurangan bukunya satu, cepat habis. Semoga segera ada buku baru lagi dari Ika.
Terobsesi sama Right Time To Fall In Love. Nggak bisa berhenti baca sejak aku memegang novel ini. Malissa menunjukkan dia adalah wanita yang kuat, saat dia berada di titik terendah hidupnya dia ambil waktu untuk fokus mencintai diri sendiri, lalu setelah dia merasa lebih baik, dia mengubah kesedihannya menjadi sebuah gerakan positif melalui free store yang didirikannya. Baru pertama ketemu Malissa dan mengobrol, Lamar langsung jatuh cinta. Walaupun karena baru kehilangan calon istri, Lamar jadi nggak lepas dalam memperjuangkan perasaannya. Perjalanan Lamar dan Malissa menyenangkan untuk dinikmati. Nggak kerasa cepat sekali habis padahal aku masih ingin melihat mereka bersama lebih lama.
Sesuai dengan covernya yang sangat manis, ceritanya pun juga sama. Lamar dan Malissa adalah pasangan favoritku saat ini. Dengan masa lalu yang masih baru, belum jauh di belakang, Lamar dan Malissa dihadapkan pada kesempatan untuk menemukan cinta baru di antara mereka. Bagaimana mereka saling memahami, saling menguatkan, dan sebagainya membuat mereka menjadi calon pasangan yang sangat cocok. Ada banyak topik juga dalam novel ini yang menarik untuk kita ketahui dan kita telaah. Cerita romance yang bagus banget, karena nggak cuma romantis tapi juga realistis.
Right Time To Fall In Love is a definition of a page turner and a hard to put down. Cerita Malissa dan Lamar menyenangkan untuk dinikmati. Komposisi yang tepat untuk sebuah novel romance. Kehidupan pribadi dua tokoh utama dipadu dengan kehidpan mereka yang bersinggungan diceritakan dengan porsi pas. Persabatan dan keluarga juga menambah hangat. Novel yang bagus dan aku sedih saat sudah sampai halaman terakhir.
Cerita yang romantis, penulis tahu apa yang dibutuhkan genre-nya. Di dalamnya penulis juga memasukkan topik-topik penting seperti kerusakan/penyelematan lingkungan, kesehatan mental, dan lain-lain. Membaca novel ini pembaca akan mendapatkan paket yang komplit antara hiburan dan pengetahuan. Sangat wajib dibaca.
Tentang dua orang yg bertemu di saat yg tepat. Lamar, yg baru kehilangan tunangannya sesaat sebelum pernikahan mereka. Malissa, single parent dr anak kembar. Suaminya tewas dalam kecelakaan saat sedang berselingkuh, saat Malissa melahirkan si kembar. Mereka bertemu karena Malissa menemukan dompet Lamar yg terjatuh, kemudian mengembalikannya langsung ke rumah Lamar. Cinta pada pandangan pertama karena sama2 tertarik secara fisik satu sama lain ditambah bumbu cinta tarik-ulur karena Lamar merasa belum waktunya move on sedangkan Malissa menginginkan pernikahan.
.
Aku setuju dg review yg mengatakan karakter Malissa ini nggak konsisten. Dia nggak mau dianggap kegatelan tapi memang benar dia trs berfantasi kotor ttg Lamar. Lamar pun begitu, plin-plan dan penilaianku ttg betapa green flag-nya dia hancur lebur saat Malissa-Lamar bertengkar karena Malissa menyebut punya anak. Buatku alasan Lamar tuh terlalu dibuat2.
Kedua, narasinya yg terlalu berbelit2, didramatisasi. Misalnya saat ada dialog pertanyaan dari salah satu tokoh. Tokoh kedua bukannya jawab, malah diselipi narasi yg menurutku nggak perlu. Saat dialog tokoh kedua muncul berupa jawaban pertanyaan, aku sudah lupa tadi tokoh sebelumnya ngasih pertanyaan apa jd aku harus baca ulang pertanyaannya. Ini mengganggu. Apalagi saat tokohnya sedang sedih, dia bakal flashback dan itu panjang sekali shg aku harus skip2 narasi sampai ketemu dialog.
Aku juga terganggu dg bucinnya Lamar shg jadi terkesan cringe. Kurasa mereka kurang chemistry-nya. Pertemuan pertama langsung jatuh cinta karena suka sama fisiknya. Pertemuan kedua jadi makin cinta karena pekerjaan Malissa.
Di sisi lain, aku suka jalan ceritanya yg nagih ini. Aku baca dalam 2x duduk, 2 hari. Yaa, meski sering skip2 narasi. Pekerjaan Malissa dan misinya dalam menyelamatkan lingkungan menurutku keren banget dan sangat menginspirasi. Aku juga suka dg tokohnya yg terasa hidup, khususnya Malissa dan gaya parentingnya. Pekerjaan Malissa tuh terasa real, sedangkan pekerjaan Lamar terasa tempelan dari riset penulis yg dituang apa adanya.
Bagus kok, nagih, page turner, tapi bukan jenis cerita yg bakal aku ingat sampai lama, bukan yg membekas gitu, atau membuatku memburu karya lain dari penulis.
Novel dengan trope Friends to lover. Membahas issue kesehatan mental NPD (Narcissistic Personality Disorder) yang diduga diidap mantan suami malissa, Post Natal Depression yang dialami Malissa pasca melahirkan anak kembarnya, disini dibahas juga tentang toxic masculinity, issue tentang lingkungan hidup dan cara parenting ala malissa.
Menceritakan perjuangan Malissa sebagai single parent yang membesarkan anak kembarnya. Sempat mengalami depresi pasca melahirkan sampai dirinya resign sebagai dosen.
Dan kemudian memilih mendirikan toko 'kita bersaudara'. Bukan sembarang toko karena toko yang dijalankannya berkonsep 'free store' dimana toko ini menyalurkan donasi barang² atau bahan makanan yang sudah tidak terpakai tapi masih layak kepada pihak yang membutuhkan.
Singkat cerita Malissa bertemu dengan Lamar seorang pria yang mempunyai trauma dengan pernikahan karena calon istrinya meninggal dlm kecelakaan pesawat. Dan ternyata lamar juga trauma menjalin hubungan dengan single parent.
Lalu apakah Malissa dan lamar bisa melepaskan kan masa lalu nya masing² ?
ak suka banget karakter Malissa bukan tipe yang menye, punya high value. Mandiri,cerdas, dan dewasa.
❝Ibuku pernah bilang untuk berprasangka baik, bersikap baik kepada setiap orang yang kutemui. Mau orang itu marah kepadaku, menghinaku, atau apapun. Karena aku nggak pernah tahu perjuangan apa yang sedang mereka hadapi.❞ —hlm. 80
❝Jalani hidupmu dengan mendengarkan apa keinginanmu. Mendengar kan suara hatimu. Tutup telingamu, supaya apa yang ang dikatakan oranglain tidak terdengar. Ingat, tiap orang memerlukan waktu yang berbeda untuk berduka. Sebentar atau lama, itu tidak ada hubungannya dengan besarnya cinta.❞ —hlm. 93-94
❝Sulit untuk berkompetisi dengan musuh yang tidak ada wujudnya. Perlu tenaga ekstra untuk bertarung melawan kenangan❞ —hlm.100
❝Kamu tidak perlu mengikuti jalan yang sudah dilewati orang lain atau jalan yang dipercaya orang lain harus kamu lewati. When you feel the time is right, take the next step.❞ —hlm. 105
This entire review has been hidden because of spoilers.
Judul: Right time to fall in love Penulis: Ika Vihara Penerbit: Elex Media Komputindo Dimensi: 331 hal, cetakan pertama 2022, edisi digital ipusnas ISBN: 9786230036347
Kapankah waktu yang tepat untuk jatuh cinta, bagi seorang single mother dengan anak kembar seperti Malissa? Kapan waktu yang tepat untuk jatuh cinta, bagi Lamar Karlson yang baru ditinggal mati calon istrinya? Sebulan? 6 bulan? Setahun? 5 tahun? Rasanya tak ada waktu yang tepat dalam ukuran manusia. Bagi Malissa, setahun cukup untuk sebuah hubungan dan harus segera diikrarkan dalam pernikahan. Sebab sudah bukan waktunya untuk bermain-main. Ada anak yang harus dipikirkan. Bagi Lamar, 3 tahun mungkin baru bisa berlanjut ke pernikahan, sebab masih ada Thalia di hatinya dan ia merasa bagai pengkhianat bila begitu cepat melupakan. Takdir Lamar dan Malissa berpilin dan belum menemukan jalan tengah. Sementara, dalam proses pendekatan, mereka belum jujur tentang semua luka atau status yang mereka miliki.
Ini karya kedua penulis yang saya baca, ternyata merupakan buku ketujuh. Beberapa tokoh yang disebut pun ternyata memiliki kisah di buku lainnya. Membuat saya penasaran dan ingin membaca 5 karya sebelumnya. Saya suka dengan concern penulis terhadap lingkungan melalui tokoh Malissa. Apa saja gerakan dan contoh kegiatan zero waste sehari-hari yang diterapkan. Juga latar belakang Malissa dan Lamar yang berpendidikan tinggi namun humble dan memiliki isu kesehatan mental terkait trauma masing-masing. Sayangnya di beberapa part terasa terlalu lama dan berputar di konflik batin sehingga agak saya percepat.
Cocok dibaca untuk kamu yang concern dengan lingkungan/perubahan iklim dikemas dalam versi romance, ada bumbu strugglenya single mother dan isu kesehatan mental.
Cerita Ika selalu penuh kejutan. Yang nggak terbaca dari blurbnya. Aku sangat mengagumi Malissa tokoh wanita dalam cerita ini. Dia membuka mataku dan membesarkan hatiku, menunjukkan bahwa nggak ada satu pun manusia di bumi ini yang punya kehidupan sempurna. Meski orang itu cantik, orang itu kaya, dan lain-lain, pasti mereka punya ujiannya masing-masing. Di mata orang mungkin ujiannya mudah, tapi dari sisi yang menjalani belum tentu. Malissa juga menunjukkan gimana caranya mengubah rasa sakit itu menjadi tindakan nyata yang positif, supaya bisa keluar dari badan kita dan menyembuhkan. Perjalanan cintanya dengan Lamar nggak mulus, karena Lamar masih berduka setelah calon istrinya meninggal. Tapi Malissa mau berkompromi supaya mereka berdua bisa bareng-bareng menyiapkan diri. Setelah itu ada kejutan besar dari penulis buat Lamar dan Malissa sehingga mereka harus kembali saling memamahi dan memaafkan. Nggak tahu lagi harus bilang apa, aku puas dengan jalan ceritanya, interkasi Malissa dan Lamar, si kembar Anna dan Andre, topik-topik yang diangkat di novel ini, sampai endingnya bikin puas.
"Tidak ada pilihan lain selain berpura-pura menjadi kuat, terus berpura-pura, hingga suatu hari nanti dia akan lupa bahwa dirinya sedang berpura-pura." - Pg. 274
Selesai! Dan seperti pendahulunya, aku menyukai kisah si bungsu keluarga Karlsson ini.
Menggunakan sudut pandang bergantian antara Lamar dan Malissa membuat kita bisa memahami dan mengetahui bagaimana pergulatan batin masing-masing tokoh.
Aku suka dengan cara kak Ika menuliskan tentang Lamar dan Malissa yang masing-masing berjuang demi kebahagiaan mereka. Malissa yang berjuang keras membesarkan si kembar, berusaha lepas dari trauma yang ia derita pasca keburukan alm. Suaminya terungkap. Juga Lamar yang mau menyadari kalau ia bisa mencintai dengan cara yang berbeda.
Di buku ini, kak Ika juga mengangkat tentang mental health issue juga gerakan untuk menyelamatkan bumi lewat toko kita bersaudara yang dirintis oleh Malissa. Lewat author's notenya, kak Ika juga menuliskan pentingnya menjaga bumi untuk masa depan kita.
Rekomen bagi kamu pecinta genre romansa. Seperti biasa, tulisan kak Ika itu tipe page turner banget deh!
Jujur terlalu bingung setelah menyelesaikan ini. Kaya gue suka bgt pls??? Tapi, tapinya banyak bangettt.
Cerita ini sejalan dengan keinginan penulis. Realistis. Cinta yang vulnerable dan ga bisa dipungkiri memang ada seseorang di masa lalu yang mungkin memengaruhi cara pandang kita pada hubungan di masa depan.
Cara mereka pdkt juga natural banget dan perihal fantasi antar tokoh, buatku masuk akal aja karena memang kadang manusia bisa seliar itu ga sih pikirannya…
Hanya saja, aku merasa something wrooong and not soooo right ketika perdebatan mereka perihal anak. Terlalu apa ya kaya oke gue mengerti sisi Lamar, gue mengerti Malissa. Cuman kaya terlalu jahat dan naif aja gitu dan penyelesaiannya yang udah gitu aja. Ga puas banget😭
Chemistry Malissa dengan anak-anaknya juga 0 besar sih buat aku, kaya mereka cuman hadir buat alur aja, nothing special.
Akhir kata cerita ini seruu dan cukup giving spark. Beberapa scene juga membuat kita memandang cinta dalam perspektif yang lebih tulus dan bijaksana, tapi dengan alur yang cukup banyak adegan manis dan beberapa kerasa cheesy-nya. Menurutku ini cukup membosankan (i’m sorrry kakk…) but please give it a try!
Bab pertama sudah menjanjikan kalau cerita ini akan mengandung emotional roller-coaster. Ada bagian yang bikin tersenyum sendiri, tertawa bahkan, tapi ada juga yang bikin marah dan bikin nangis. Lamar dan Malissa sama-sama terluka karena cinta, akibat kejadian yang berbeda. Pada saat mereka bertemu, Malissa sudah siap membuka hati lagi sedangkan Lamar baru saja kehilangan calon istrinya. Cerita berkembang dengan menarik. Malissa tegas tidak mau menjalin hubungan tanpa tujuan yang pasti. Lamar ragu-ragu memberi kepastian. Interaksi di antara mereka benar-benar natural. Pertemuan demi pertemuan yang membangun perasaan dalam di antara mereka mengalir dengan alami. Nggak ada bagian yang dipaksakan. Romantis dan manisnya pas. Walaupun sempurna bersama, tapi kedua tokohnya tidak sempurna. Kekurangan dan kelebihan dijalin untuk saling melengkapi. Tema-tema dalam cerita juga membuat pembaca jadi mengetahui banyak hal baru, terutama mengenai tindakan konsumtif dan dampaknya terhadap lingkungan. Cerita ini wajib banget dibaca, kalau ingin merasakan kisah roman yang lain daripada yang lain.
Buku ini mengakhiri reading slump-ku. Ditulis dengan cerdas dan bernas, Right To Fall In Love membangkitkan gairahku untuk membaca lagi. Ika tidak pernah takut untuk memasukkan beragam tema di dalam genre romance yang menjadi rumahnya. Di Right Time To Fall In Love, ada narcisistic personality disorder(walaupun bukan tokoh utama yang memilikinya, tapi Malissa terdampak ini dari almarhum suaminya), anti mubazir, dan career pivoting. Pengetahuan-pengetahuan di dalamnya juga fresh untukku. Semua apik diselipkan di dalam cerita yang sangat romantis. Lamar bahkan lebih romantis daripada dua kakaknya di dua buku sebelumnya. Bagus banget. Nggak kerasa kalau otak kita juga diajak belajar, padahal rasanya sedang menikmati manisnya cinta Malissa dan Lamar.
Terima kasih untuk sebuah cerita yang nggak cuma manis, tapi juga memberikan banyak pelajaran untukku. Aku jadi memahami isu lingkungan terkait sampah makanan dan upaya yang bisa kulakukan buat ikut menguranginya. Malissa juga menginspirasi aku untuk selalu optimis. Saat nggak bisa memikirkan masa depan karena terlalu gelap, aku mau mengikuti jurusnya Malissa, yaitu menjalani hidup satu langkah demi satu langkah, meletakkan satu kaki di depan kaki sebelumnya. Lamar masuk dalam daftar teratas kekasih fiksionalku, karena dia sangat manusiawai. Laki-laki yang nggak takut menunjukkan sisi rapuhnya, tanpa takut dianggap nggak macho. Sisi rapuhnya yang membuat dia tambah keren. Kedua tokoh utama benar-benar mencuri hatiku. I like them so much.
Sama seperti novel lain yang juga ditulis oleh pengarang yang sama, romansa cinta selalu menempati porsi yang manis dan melegakan. Malissa dan Lamar Karlsson dipertemukan oleh takdir dengan sepaket kegalauan dan suka cita. Keduanya sangat kontradiktif namun justru disitulah nyawa dari cerita ini berjalan.
Saking terlalu nyaman, saya sampai mengira ini tidak akan ada konflik. Dan ternyata konflik yang muncul betul-betul memukul telak keduanya. Untuk sebagai bacaan, novel ini punya ciri khas yakni selalu menggabungkan romansa dengan isu yang serius seperti NPD, sampah dan peduli lingkungan. Sesungguhnya novel ini menarik kalau tidak terlalu sering ada narasi pertentangan batin yang berkepanjangan dari keduanya.
Cerita yang sangat menyenangkan buat dibaca. Sangat masuk akal dan relate dengan kita semua. Manusia itu tugasnya bukan cuma cari jodoh, tapi juga bekerja mencari nafkah, berteman/bersahabat, menghabiskan waktu dengan keluarga, dan lain-lain. Dalam cerita ini juga sama. Malissa dan Lamar tidak terus-terusan menghabiskan waktu berdua. Tidak terus-terusan yang-yangan. Mereka punya pekerjaan, punya teman, ada orangtua/keluarga, kegiatan lain. Semua diceritakan dengan pas, tidak berlebihan. Jadi nggak bikin eneg. Nggak juga ada bucin-bucinan. Nggak ada menye-menye. Manis dan romantisnya terukur. Masuk akal.
Jatuh cinta sama semua yang ada di novel ini. Malissa mengagumkan. Cara berpikirnya, passionnya, cintanya, dan semuanya. Yang membuat relate, Malissa pernah membuat kesalahan besar dan dia harus membayar mahal. Dia wanita yang kuat karena dia tahu kapan dia harus menyerah. Menyerah itu nggak memalukan, karena bisa saja membawa kita keluar dari kesia-siaan dan membawa kita masuk ke hal hebat berikutnya. Dia dan Lamar sama-sama sedang terluka dan setelah bertemu, saling menyembuhkan tanpa mereka sadari. Novel yang romantis ini harus banget dibaca.
things i don't like : ● these two characters, annoyed me so much. Plin plan dan nggak konsisten ● narasinya panjang banget, bertele-tele, aku jadi mudah bosan bacanya
things i like : ● background masa lalu mereka yang diceritakan dengan baik dan detail ● pekerjaan Malissa sbg food rescue yang membuat aku sangat mengaguminya. semoga lebih banyak lagi orang-orang seperti dia di dunia nyata
Cerita yang manis. Dengan konflik-konflik yang di beberapa titik dan konflik besar di sepertiga akhir cerita. Karena sebuah novel pasti perlu drama. Hanya saja drama di novel ini sangat believable dan relatable, nggak dibuat-buat hanya untuk menggugurkan kewajiban. Tetapi memang dinamikan cinta dan hubungan dua manusia seperti Lamar dan Malissa nggak akan lepas dari itu. a wonderful read. Buku-buku sebelumnya dari universe yang sama juga nggak kalah bagusnya.
Sepertinya hanya di beberapa buku saja, aku ngebaca author note-nya dari awal sampe akhir, dan ini salah satu buku yang author note-nya aku baca sampe akhir, karena akan masuk gitu ke ceritanya. Bukunya oke sih, aku suka part di anak-anaknya Melissa sama yang tokonya dia. Agak greget karena mereka baikannya ternyata nggak lama, untuk ukuran pertengkaran yang sangat besar, aku kira akan ada momen mereka sendiri yang agak lama baru balikan, tapi ternyata tidak