Jump to ratings and reviews

Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya

1
baiklah. kujalani saja kutukan ini
akan kutulis seribu perasaan tentangmu
mulai pagi ini hingga kelak
ketika burung-burung itu tak lagi bersarang di rambutmu
saat itulah semua berakhir

1.1

juga diriku: mencair,
menjelma sungai, tak sanggup kauseberangi
menjadi kesedihan, kaukenang sepanjang jalan

1.2
juga dirimu: mencair,
datang tiap musim penghujan
dengan curah yang tetap, tak berubah

1.1.1

perasaan, aku tak ingin berlebihan
tapi pernahkah kita kosong. benar-benar kosong
datar tanpa tekanan. tetap. tak berlebihan. tanpa emosi
tak ada sama sekali, bahkan untuk sebaris puisi

(Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya, 2007).

Gunawan Maryanto.Bergiat sebagai penulis dan sutradara dari Teater Garasi: Laboratorium Penciptaan Teater. Saat ini menetap di Jogja. Karya-karya tulisnya berupa prosa dan puisi serta kritik seni pertunjukan terpublikasikan lewat Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Bernas, BlockNotProse, BlockNotPoetry, On/Off, Jurnal Kolong Budaya, Jurnal Puisi, Jurnal Prosa, Jurnal Cerpen, Jurnal Kalam dan LeBur Theater Quarterly. Bukunya yang telah terbit adalah Waktu Batu (sastra lakon, ditulis bersama Andri Nur Latif dan Ugoran Prasad, IndonesiaTera 2004), Bon Suwung (kumpulan cerpen, InsistPress 2005, Longlist Khatulistiwa Award 2005) dan Galigi (kumpulan cerpen, Penerbit Koekoesan 2007, LongList Khatulistiwa Award 2007). Pada tahun 2004 puisinya yang berjudul Kupanggil Kau Batu mendapat nominasi Anugrah Sih Award dari Jurnal Puisi dan tahun 2007 puisi Jineman Uler Kambang mendapat Anugrah Budaya dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk Media Cetak dan Elektronik katagori puisi. 1 cerpen dan 3 puisinya masuk ke dalam 20 Cerpen Indonesia Terbaik dan 100 Puisi Indonesia Terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana 2008 (PT. Gramedia Pustaka Utama). Juga pernah diundang untuk membacakan karyanya di Bienal Sastra Internasional Utan Kayu 2005 dan Ubud Writers and Readers Festival 2006.

67 pages, Paperback

First published December 20, 2008

Loading...
Loading...

About the author

Gunawan Maryanto

24 books18 followers
Gunawan Maryanto. Bergiat sebagai penulis dan sutradara dari Teater Garasi: Laboratorium Penciptaan Teater. Saat ini menetap di Jogja. Karya-karya tulisnya berupa prosa dan puisi serta kritik seni pertunjukan terpublikasikan lewat Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Bernas, BlockNotProse, BlockNotPoetry, On/Off, Jurnal Kolong Budaya, Jurnal Puisi, Jurnal Prosa, Jurnal Cerpen, Jurnal Kalam dan LeBur Theater Quarterly. Bukunya yang telah terbit adalah Waktu Batu (sastra lakon, ditulis bersama Andri Nur Latif dan Ugoran Prasad, IndonesiaTera 2004), Bon Suwung (kumpulan cerpen, InsistPress 2005, Longlist Khatulistiwa Award 2005) dan Galigi (kumpulan cerpen, Penerbit Koekoesan 2007, LongList Khatulistiwa Award 2007). Pada tahun 2004 puisinya yang berjudul Kupanggil Kau Batu mendapat nominasi Anugrah Sih Award dari Jurnal Puisi dan tahun 2007 puisi Jineman Uler Kambang mendapat Anugrah Budaya dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk Media Cetak dan Elektronik katagori puisi. 1 cerpen dan 3 puisinya masuk ke dalam 20 Cerpen Indonesia Terbaik dan 100 Puisi Indonesia Terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana 2008 (PT. Gramedia Pustaka Utama). Juga pernah diundang untuk membacakan karyanya di Bienal Sastra Internasional Utan Kayu 2005 dan Ubud Writers and Readers Festival 2006.

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (20%)
4 stars
29 (38%)
3 stars
29 (38%)
2 stars
1 (1%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for Hippo dari Hongkong.
357 reviews208 followers
April 2, 2009
ripyu dari orang yang tak punya "perasaan" tentang puisi

puisi...
bagaimana cara membaca sebuah puisi?
bagaimana cara menafsirkan sebuah puisi?
bagaimana caranya untuk mengapresiasi puisi?
tuluuuuuuuuuuuuuuung...

jadi begini ceritanya. beberapa minggu yang lalu ada kiriman paket, pas dibuka kaget juga. waks! buku puisi. gak salah nih? bukan apa-apa sih, puisi merupakan tulisan yang selalu gue "hindari" selama ini. entah kenapa, setiap berhadapan dengan puisi rasanya IQ gue ngedrop ampe satu digit aja rasanya, hehehe.

tapi buku kecil ini mampu mengusik rasa penasaran tentang sebuah puisi sehingga gue memutuskan untuk membacanya. gue ngerasa sudah waktunya untuk menjajal sebuah buku puisi. alhasil buku ini karena kecil selalu gue bawa ke mana-mana selama beberapa minggu terakhir ini. tiap ada kesempatan dimana saja ini buku selalu pelototin. sampe temen2 komen gak salah? baca puisi? sambil terheran-heran. gue cuek aja. maksudnya gimana mau mengapresiasi sebuah puisi kalo gak nyoba untuk membacanya? yang penting baca dulu deh, masalah ngerti ato kagak urusan belakangan, hehehe.

dulu (sebelum dapet buku ini) sempet "diskusi" kecil2an disuatu tengah malam dengan seorang rekan durjanawan tentang "ketidakberdayaan" gue bila berhadapan dengan puisi. gw sempet nanya, kalo buku2 gibran termasuk puisi gak? (gue termasuk lumayan suka dengan tulisan2 gibran gara2 adik gue nyimpen buku "the treasure writing of kahlil gibran" yang segede gaban di rumah). tulisan gibran itu puisi berbentuk prosa gitu jawaban si durjanawan. setelah itu dia sepertinya menganjurkan untuk membaca dulu puisi2 karya jokpin karena puisinya lumayan lucu. beberapa hari kemudian maen ke gramedia dan nyari dan neu buku itu. kumpulan buku2 puisi jokpin kalo gak salah. setelah ditimang-timang sejenak itu buku disimpen lagi ke rak. prasaan itu buku "kegedean" buat gue, hehehe.

oke setelah mengerutkan kening baca buku ini sampai selesai ada beberapa puisi yang katakanlah bisa gue "apresiasi" dengan kata lain minimal gue "paham" dengan apa yang ingin disampaikan penulisnya. Puisinya yaitu yang judulnya Surtikanti, Banowati, Bagong, Aswatama, Gandari Memasuki Kegelapan dan Gandari di Puncak Kegelapan. bisa liat benang merahnya? yep, itu puisi tentang tentang tokoh2 pewayangan semuanya. disini gw sebenernya belom puas. maksudnya belom puas? karena gw termasuk suka dengan dunia pewayangan jadi katakanlah gue bisa "paham" dengan isi puisinya (jangan jauh2 ke "apresiasi" dulu deh). gak puasnya karena gw merasa telah berbuat "curang" dengan mengetahui dulu dunia wayang sebelum gunmar menulisnya jadi puisi.

sekali lagi, buku ini "sukses" memaksa gue selama berhari2 ngobrak-ngabrik rak buku temen2 di gudrid dan juga mebaca puisi yang mereka tulis di "my writing" tiap tengah malam. gue jadi tau kalo kalo seorang roos, amang dan nanto punya ato udah baca sekitar 30 buku puisi di raknya. kinu lebih "parah" lagi dia dah menjajal lebih dari 60 buku puisi ato jenderal james yang memuja karya2nya amir hamzah.

Perjalanan malam nyambangin puisi yang dibikin temen2 terus berlanjut. maen ke tempat roos baca puisi yang dibikin waktu di klinik (lagi sakit gigi yah? hehe) ato puisi yang dibikin ketika nonton MU menang lawan Newcastle dan puisi yng dibikin gara2 gagal nonton fil spidy 2 (segitu sedihnya ape dijadiin puisi, hehe) sepotong aja di pajang disini yah..
Senja ini aku masih disini
Terpekur diam membisu
Berkecamuk dalam pikiran
Dirimu, entah dimana?


maen ke rumah si mia yang yang bikin puisi gara2 the reds menang gede terus ahir2 ini (siap2 lawan chelsea yah ntar). maen ke rumah kakak palsay yang sepertinya lagi jengkel ama seekor nyamuk

Kau tak ubahnya seekor nyamuk yang menjengkelkan,
Berputar-putar di telinga lalu menghisap darahku
Lalu hendak kau sebut itu kemenangan?
Bila akhirnya akulah yang menepukmu ditempat kauhisap darahku?

Ya, kujadikan kau daki dikulitku
Sekarang rasakan itu olehmu


gebuk terus nyamuknya, pal! :D

maen ke rumah si barbie nemu puisi tentang baca buku kek gini

Aku ingin bercumbu dengan buku
Bercinta dengan kata
Bersenggama dengan aksara
Hingga tiada batasan antara aku dan alam raya


aaawwww...
jadi inget, dulu kalo gak salah barbiegirl ini pernah "perang" puisi ama tuhan di sebuah tret. "god vs barbie" hehehe. tentang masalah gender kalo gak salah, lupa lagi gue. gak ikutan ngasi komen sih cuman nonton aja. lumayan seru meski pusing juga bacanya, hehe.
ada beberapa temen yang gue golongkan sebagai kelompok para apresiator puisi tapi mereka tidak menuliskan puisi di my writing nya masing2. durjanawan, ronny, andri, pra, tomo adalah nama2 yang gue masukan dalam golongan tsb (sotoy mode on)

perjalanan "curang" dalam rangka memahami sebuah puisi terus berlanjut. maen ke rumah jenderal james dan gue langsung suka ama puisi zombie nya. ya, sekali lagi gue berbuat "curang" karena meski gak kenal secara pribadi, gue tau betul kalo seorang james ini sangat "mencintai" sosok mengerikan mahluk pemakan daging mentah yang disebut zombie ini sehingga sampai menulis puisi tentang mahluk kesayangannya ini, hahaha. maen lagi ke rumah po, dan gue suka puisi tentang catatan rumah sakitnya. mungkin karena gue tau (sedikit banyak) tentang "latar belakangnya" jadi rasanya nonjok aja itu puisinya *big hug buat po*. yah, sekali lagi "curang". gue kena batunya ketika berkunjung ke rumah tuhan. ada 22 serial puisi "buncah". serasa nabrak tembok ampe berdarah-darah bacanya karena gak ngerti *garuk2 pala*

pernahkah gue mencoba bikin puisi? sepertinya pernah sih. gak niat dan gue gak nganggap itu puisi sebenernya. satu2 puisi yang pernah dibikin dan di posting lah. ceritanya si durjanawan ngasi tau kalo abah eman lagi sakit dan gue disuruh "menghibur" beliau. entah kenapa timbul ide untuk bikin "puisi" buat abah *mungkin gara2 dulu masih jadi si bencong merah itu, hahaha* gak langsung jadi puisinya. gw inget jungkir balik sehari semalam dalam usaha bikin itu puisi dengan disertai tetesan darah, keringat dan air mata *lebay mode on* dan setelah bekerja keras jadilah puisi "mahakarya" gue yang pertama yang langsung diketawain dan diledek ama si durjanawan. dia bilang, "coba suruh gieb bacain itu puisi di depan rumah abah, biar lebih berjiwa." HAHAHAHA...

kesimpulannya? jadi pemahaman puisi buat gw Mungkin masih sebatas apa yang tersurat dalam sebuah puisi. kalo untuk menafsirkan makna yang tersirat dalam suatu puisi sepertinya masih belum mampu. sepertinya tafsiran orang tentang sebuah puisi memang berbeda-beda ya? jadi inget si andri yang membuat tafsiran puisi gunmar di tret diskusi buku ini :D jadi inget lagi kata2 sang durjanawan tentang puisi yang mengatakan masalah puisi itu sebenernya sederhana saja. lo suka ato tidak? itu saja. pertanyaannya: gue suka ato kagak? only time will tell. yang penting baca dulu deh, hehehe

jadi gimana cara mengapresiasi sebuah puisi?
tuluuuuuuuuuuuuuuuuung...

*ealah.. balik dia lagi ke soal itu*
Profile Image for gieb.
222 reviews78 followers
February 27, 2009
agaknya puisi sudah menjadi 'gaya hidup' bagi sebagian orang untuk membagi letupan-letupan pengalaman personal hidupnya. -termasuk saya, tentu-. gambaran puisi dengan beberapa larik kalimat menjadi media paling jitu untuk 'menelanjangi' diri sendiri. sialnya, pengemasan ikhtiar jujur ini selalu diselipi dengan idiom-idiom 'munafik'. dalam arti tidak langsung merujuk kepada obyek yang ditulisnya. untuk meratapi nasib sebuah kisah percintaan yang miris. gunmar (gunawan maryanto) memakai tokoh banowati. demikian seterusnya. beberapa puisi gunmar berhasil memindahkan yang personal menjadi sebuah gagasan yang menemu ruang puitis untuk selanjutnya merdeka untuk ditafsir.

saya kira, keunggulan puisi gunmar adalah kesederhanaan dia dalam mengungkapkan gagasan besar yang melingkungi kehidupan personalnya. pilihan gunmar untuk memakai kata-kata yang mudah diingat dan akrab, tapi tetap terasa puitis, adalah keniscayaan bagi sebagian besar penyair negeri ini. hal ini, bagi saya, bisa menjadi titik lemah bagi proses kepenyairan gunmar. gunmar hanya terkesan repetitif atas para pendahulu puisi 'jenis' seperti ini. tidak ada inovasi baru untuk sebuah kemapanan puisi puitis. tapi, selebihnya, gunmar harus diacungi jempol dengan penguasaan dia terhadap ide-ide yang juga tak baru dalam dunia puisi. yang beda, gunmar bercerita dengan citarasa tafsirnya sendiri.

sudah kelewat malam
separuh kursi tetap tak berpenghuni
adegan cinta berlalu begitu saja
terlalu dingin untuk bisa menggetarkanmu


dari sekian puisi dalam buku ini, saya paling 'ngeh' dengan puisi yang berjudul banowati. puisi ini seperti menggetarkan saya akan sebuah ingatan tentang sebuah keputusan.

ini cinta atau alpa
ini cinta atau apa


selebihnya, menjadi rahasia saya sendiri jika puisi ini mengingatkan akan sebuah sosok. sebuah banowati. sebuah jumpa. sebuah tikungan. sebuah pelik. sebuah debar. sebuah jalan. sebuah tangan. sebuah bandung. sebuah gerimis. sebuah langit. sebuah hujan. sebuah rumah. sebuah telaga. sebuah perempuan. sebuah waktu. sebuah beku. sebuah jeda. sebuah lekat. sebuah hening. sebuah sepi. sebuah perasaan yang menyusun sendiri petualangannya.

saran saya: baca dan belilah buku ini jika anda percaya bahwa puisi adalah sebuah ikhtiar paling jujur yang dimiliki seorang manusia untuk menggenapkan perasaannya. kira-kira begitu.

selamat berpuisi.

tabik,
gieb.

ps: buku ini selesai saya baca selama perjalanan berangkat ke luar kota beberapa hari yang lalu. dan terimakasih buat roos atas bukunya.
Profile Image for Mel.
111 reviews
February 28, 2009
ini kali pertama saya menulis 'kesan' --tidak merasa ini review-- terhadap buku puisi.

saya merasa awam sekali soal puisi. bikin puisi pun merasa tidak terlalu minat apalagi berbakat. jadi jelas saya tidak bisa mengulas urusan teknis atau teori-teori seputar berpuisi atau puisi itu sendiri.

saya telah membaca beberapa review teman di sini tentang buku gunmar satu ini. secara keseluruhan, saya memang menyukai puisi-puisi yang disajikan gunmar kali ini. mungkin karena kosa katanya masih bisa saya mengerti. mungkin juga karena tema yang dipilih tidak membuat saya harus berpikir lama untuk ikut mengerti, ikut merasakan, atau ikut mengenang akan apa yang pernah saya alami sendiri. seperti terwakili. jika metafora berhasil menyederhanakan kerumitan perasaan atau kondisi yang ada ke dalam bentuk sekian kalimat, puisi juga demikian rasanya. bagi saya tentunya. mengambil contoh yang lebih bisa dimengerti. lebih bisa dipahami. dengan keseharian.

di sisi lain, tulisan juga jadi bentuk 'pelarian' tersendiri. jika fiksi bisa jadi sarana untuk itu, menuliskan hal-hal yang bisa jadi malah jauh dari keseharian, dari kenyataan atau kondisi penulis yang sebenarnya, apa puisi juga bisa demikian? ya jelas bisa. dan karenanya, membayangkan puisi-puisi yang lebih 'njelimet', saya hanya berpikir bahwa itu seperti sarana diri untuk 'keluar' dari habitat tertentu juga. masih bisa dinikmati. memberi petualangan tersendiri, masuk ke dalam area yang asing dan tidak saya kuasai.

akhir kata, saya penikmat puisi juga -- meski akan berpikir berulang kali jika diminta untuk menulis puisi -- dan buku puisi satu ini, cukup saya nikmati.


kelupaan. saya beri tambahan rating karena saya juga kebetulan suka cover dan judulnya.
Profile Image for mahatmanto.
545 reviews38 followers
January 13, 2009
dalam buku ini tertebar puisi-puisi bikinan tahun 2005-2008. malah kebanyakan adalah yang masih fresh, bikinan 2008.

dan sebagai orang yang hidup dari dunia pertunjukan, bisa dipahami bila banyak puisi berangkat dari pengalamannya akan panggung, akan wayang dan tokoh-tokohnya...

sulit mengelakkan bayangan GM [gunawan maryanto:] ini dari GM yang lain [gunawan mohamad:]. pembacaan ulangnya atas kisah-kisah wayang dan tokoh-tokohnya tidak membawa tafsiran yang radikal. masih seperti yang saya kenal lewat tafsiran para dalang.
tapi lumayan, saya masih bisa mengikutinya. tidak seperti penyair lain yang terlalu jauh metaforanya...
gak nyampek akuu...
Profile Image for elrisa .
5 reviews1 follower
April 7, 2023
merupakan kali pertamaku membaca karyanya (alm.) mas Cindil melalui buku ini. kumpulan puisi yang menarik, yang cantik, yang membuat jatuh cinta bahkan sejak kalimat pertama di setiap puisinya. mungkin agak berlebihan, tapi ini memang penilaian subjektif. buku ini sebagaimana judulnya, aku rasa mampu mengajak siapa pun yang membaca untuk bertualang menyusuri setiap perasaan yang ada. banyak perasaan yang muncul saat membaca buku ini, tersebab si penulis juga menggambarkan tentang banyak perasaan; rupa-rupa perasaan. perasaan-perasaan itu memiliki wajahnya masing-masing, tapi sudahkah kita mampu mengenali perasaan-perasaan yang ada itu (?).
jika belum, sepertinya kamu perlu untuk membaca buku ini :)

salah satu kutipan puisi favorit :

"perasaan, aku tak ingin berlebihan
tapi pernahkah kita kosong. benar-benar kosong
datar tanpa tekanan. tetap. tak berlebihan. tanpa emosi
tak ada sama sekali, bahkan untuk sebaris puisi."

4⭐
Profile Image for Tyo Mokoagow.
16 reviews
March 14, 2022
Karya Mas Cindil yang rasanya masih hijau. Sebagai pembaca puisi yang sebenarnya masih hijau juga, saya tidak menemukan sesuatu yang istimewa, selain upaya menyampaikan perasaan sereflektif mungkin, yang dalam banyak bagian begitu prosaik.

Namun tetap saja menyenangkan bisa bagaimana kualitas puisi almarhum Mas Cindil bermetamorfosis sebab saya pernah membaca beberapa puisi-puisi terakhirnya.

Rhyme in Peace, Mas.
Profile Image for Zain Nabil.
14 reviews
May 21, 2025
Gunawan Maryanto melepaskan dirinya dari tradisi naratif yang utuh. Ia menggunakan fragmen, kalimat-kalimat terputus, dan struktur yang lebih dekat pada dunia mimpi atau meditasi dibanding logika cerita.
Perasaan dalam judul bukan sekadar tema, melainkan subjek aktif—seperti tokoh yang beraksi, memilih jalan, bahkan memberontak terhadap keutuhan naratif. Ada semacam anti-plot di sini, sebuah keberanian untuk membiarkan puisi tidak melayani pembaca, tetapi menantangnya..
Profile Image for Lidia.
91 reviews
October 19, 2021
Puisi-puisi ini terbagi atas pengalaman pribadi penulis, dan pemahaman terhadap adat jawa(pewayangan). Menariknya puisi ini karena pembaca diajak memahami pewayangan sebagai suatu keunikan kita yang beragam suku dan budaya.

Diksinya tak serumit penyair2 lain, jadi saya sebagai pembaca cukup menikmati puisi2nya.
Profile Image for diandk.
11 reviews
February 3, 2020
perasaan-perasaan yg menyusun sendiri petualangannya 1.1.1 mungkin menjadi poin di tengah perjalanan dalam menyusun perasaan, dan gandari di puncak kegelapan menjadi poin akhir dari petualangan tersebut.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Randa Muhammad.
96 reviews4 followers
August 15, 2021
membaca buku ini mengingatkanmu dgn masa lalu. ingatan tetap, debar yg bertambah.

puisi2 yg berhubungan dgn budaya jawa sama sekali gak aku mengerti. tapi tetap aja dibaca, penulis mau menceritakan apa.
Profile Image for Boyke Rahardian.
371 reviews24 followers
February 23, 2020
jarak hanya bisa membuatmu melihat
jangan harap bisa terlibat
kebahagiaan-kesedihan berlangsung di kejauhan—tak lagi mendebarkan

di tempat ini kau tak perlu jam tangan
hanya ingatan. sedikit ingatan

(jarak)
Profile Image for Dimas Anggada.
62 reviews
December 19, 2024
Banyak hal yang saya dapat setelah baca puisi-puisi Gunawan Maryanto ini. Salah satunya—hanya ini yang akan saya sebut: kesederhanaan.
Profile Image for ayu amaradipta.
69 reviews18 followers
January 15, 2025
Penyampaian, bahasa, dan pendekatannya sederhana.
Diawali puisi-puisi perasaan dan pengalaman personal, diakhiri puisi pewayangan, di mana buat saya paling menarik.
Profile Image for Roos.
391 reviews
January 13, 2009
Oke, siap mereview...hehehehehe. Setelah menunggu beberapa hari akhirnya beberapa review bermunculan untuk memberikan kesan dan pesan...*halah*...membaca bareng buku puisi pertama GunMar.

Seperti kebanyakan teman yang lain, saya juga langsung jatuh cinta pada puisi-puisi dibuku ini,bisa dibilang jatuh cinta pada pandangan pertama. Pertamanya disini adalah dari Judulnya bukan pada panjangnya yang bahkan di covernya sampai 3 baris, tapi pada kata Perasaan dan Petualangan. Menurut saya kedua kata tersebut mempunyai arti yang mendalam. Pemilihan judul ini cocok sekali karena memang hampir semua puisi-puisi disini memiliki berbagai macam sensasi rasa dan asa. Kesederhanaan kata dan makna-makna yang mudah dipahami membuat buku puisi

Puisi pertama, Rumah Baru langsung terasa petualangannya,...jalan rahasia menuju sesuatu yang hanya miliknya,petualangan menemukan rahasia gelap menuju rumah baru, seperti ada yang dilihat dirumah baru tersebut yang tak kasat mata,ehhmmm dan perasaan yang dihadirkan disitu adalah gelap dan misterius. Terus petualangan ke candi-candi pada Batu 1, Batu 2, Batu 3, petualangan di Kebun atau Beranda bahkan petualangan Pulang Kampung ataupun petualangan Gandari di Kegelapan, menghadirkan perasaan terpukau, romantis, sedih, nglangut, kecewa dan gembira atau senang.

Yang jelas saya sangat menyukai puisi Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya dan puisi Cinta yang Mencurigakan. Entahlah, seperti ada sensasi tersendiri pada kedua puisi tersebut, sensasi yang hanya bisa dirasakan sendiri tanpa bisa dibagi ke orang lain.

Ohya, berbagai perasaan yang bermunculan saat salah satu puisi di buku ini Banowati dibacakan oleh Gus Gieb waktu itu di Galeri Cipta II TIM adalah saya merasa puisi ini kok seperti kurang ruh-nya, padahal saya tahu Banowati menjadi puisi favorit Gus Gieb yang membacanya dengan penuh perasaan dan mungkin sambil membayang kepada siapa puisi ini ditujukan...*memulai kesotoy-an*, mungkin ini disebakan oleh puisi tersebut bukan puisi bikinan Gus Gieb sendiri, sepertinya puisi itu akan ada ruh-nya kalo yang menulis yang membacakannya. Dan saya lebih suka Gus Gieb membaca puisi hasil tulisannya sendiri, seperti mimpi saya melihat GunMar membaca puisi Perasaan-perasaan yang menyusun Sendiri Petualangannya. Kapan yah???
*mulai bermimpi*

Dan saya memang telah jatuh cinta...jatuh cinta pada puisi-puisi GunMar tentunya.
Profile Image for kinu triatmojo.
288 reviews3 followers
January 13, 2009
tak terlalu sukar memahami sajak-sajak gunmar, tak ada yang gelap, bahasanya terang benderang seperti lampu hemat energi 18watt. ia banyak menggunakan metafora-metafora domestik; di sekitar rumah dan lingkungannya. ada metafora atau aforisma penyair-penyair tua yang diulangnya, tapi ia mengucapkannya dengan caranya sendiri. (bersambung)
Profile Image for Nana.
62 reviews
March 2, 2009
bagi aku membaca puisi itu mengasikkan,ya walaupun kadang ada beberapa puisi yang maknanya tidak bisa ku pahami,maklumlah bukan penyair(^_^)
tapi jujur kumpulan puisi di buku ini cara penyampaiannya sangat baik sekali,mudah aku pahami isinya..
jadi pingin punya bukunya=)..next time aku mau beli untuk koleksi deh..
Profile Image for Nanto.
702 reviews104 followers
Want to Read
April 5, 2009
terima dari mia kemaren pas di salihara.

thx mia dan roos yang udah nganterin dan beliin.

roos, bukunya berapaan?
Displaying 1 - 21 of 21 reviews