Kesadaran pertama yang datang selagi baca buku ini adalah kenyataan bahwa Bung Sjahrir, Bung Hatta, Dokter Tjipto, dan segudang pahlawan serta pejuang kemerdekaan merelakan bertahun-tahun hidup dalam pengasingan sebagai "hukuman" karena berani menentang pemerintah kolonial. Keyakinan mereka yang ingin sekali merdeka, berdikari, dan lepas dari bayang-bayang ketidakadilan sangat bertentangan dengan kondisi Indonesia di masa sekarang. Perjuangan di masa penjajahan bangsa asing tidak lebih baik daripada saat ini, rakyat sedang melawan jajahan pemerintahannya sendiri.
Basically, buku ini mengisahkan Bung Sjahrir di tanah pengasingan. Berawal dari perpisahan paksa dengan istri tercinta Maria, lalu "dibuang" ke Digul, lalu berakhir di Banda Naira. Sebuah semi-autobiografi(?) yang apik. No words. Apa yang dituangkan di sini sukses bikin semua tombol emosiku menyala. Pengalaman pahit, manis, sampai miris yang dialami Bung Sjahrir serta Bung Hatta di tanah pengasingan membuka mata lebar-lebar. Semua keraguan akan rasa cinta tanah air langsung sirna. Seperti perkataan akhir-akhir ini yang populer, "aku cinta negara ini, tapi tidak dengan pemerintahannya", apa yang ada di negara ini mungkin bakal mengalami perjuangan sekali lagi. Hanya berbeda sumber yang harus dihadapi, dan ini sangat sulit.
Buku ini rekomen banget dibaca, setidaknya sekali seumur hidup. Bagus banget. Pengemasan sejarah dalam bentuk novel, ditambah "aksen" khas novel yang diselipkan penulis bikin makin seru. Juga deskripsi mengenai Banda Neira yang meskipun digambarkan kecil, tapi indah tak terkira. You'll love this one.