MOHD. NATSIR (1)
“He was attired in one of the most mended shirts I’d seen on any official in a govermnet where simplicity of dress was the norm.” ─catatan George Mc Turnan Kahin, sosiolog Cornell University, mengenai kunjungan ke Menteri Penerangan RI tahun 1948
SEDIKIT terlupa. Mungkin terlambat mengacuhkan dia yang wafat 6 Februari 1993: enam belas tahun yang lalu, kurang lebih. Tak ada alasan pragmatis, kenapa kita merasa harus mengenangnya. Apalagi mengenang suratan kematian orang baik orde lalu yang kata seorang penyair “mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian”.
Tak mengenangnya pun sebenarnya bukan hal yang terlalu buruk. Karena kenangan kebanyakan bukan ‘desakan yang memaksa’ untuk hadir. Ia secara tak sadar seakan memercik begitu saja. Tanpa ijin dari sang pemilik ingatan. Tanpa sambutan dan gebyar kata perpisahan.
Namun, kenangan gerakan perubahan biasanya memastikan memoar untuk berpartisipasi serupa keadaan. Ia catatan-catatan pikiran di balik pikiran yang terawetkan dalam ‘ruang yang penting’ untuk peneguhan langkah hari ini. Semacam retorika deliberatif, selayak apa ‘kehadiran’ kita mendapatkan ‘tempat’ hari ini. Dan itulah, mungkin, yang kita cari.
Mohd. Natsir –begitu tertulis di pintu depan rumahnya, lahir ketika Republik ini masih dalam pencariannya akan kosakata “merdeka” dalam kamus kolonial. Ia muda saat apa yang paling mendasar yang kiranya terbaik untuk ‘calon’ bangsa yang –akhirnya bernama Indonesia sedang gencar dalam polemik. Dan, tentu kita tahu –dan mungkin setuju apa yang diperjuangkannnya: Islam sebagai dasar negara, tanpa menolak mentah-mentah Pancasila.
Bersekolah dengan latar pendidikan Barat –di HIS (Hollandsch Indlandshe School) dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), tak lantas membuatnya kehilangan identitas naluri perlawanan terhadap penjajah negerinya. Jiwa yang dimiliki tumbuh bersepakat dengan pekik Pramoedya: Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan, di mana pun ada yang mulia dan jahat. Dan Natsir pun –nampaknya memegang bahwa “yang kolonial selalu iblis”.
Saat kelas 5 Algemene Middelbare School –setara dengan kelas 2 SMA, timbul keberaniannya menggebrak arus imperialis. Sang guru, yang seorang Belanda lengkap dengan jubah dan segala atribut anti-gerakan kebangsaan, menantang muridnya membahas pabrik gula di Jawa. Dan Natsir bergolak: dua minggu setelah itu ia membacakan tulisannya. Empat puluh menit. Seisi kelas diam. Mimik guru Belanda itu muram menyaksikan kejujuran tak gentar seorang anak bertanah air Indonesia yang belum merdeka: mengecam pabrik gula yang menguntungkan kapitalis Belanda dan menekan rakyat dengan keji. Jelasnya, tak ada yang kolonial pernah mengindahkan kepentingan bangsa jajahannya.
Lulus AMS, gelar Mister in de Rechten (sarjana hukum) sudah tidak menarik minat. Cita-cita setelahnya tertuju pada memperjuangkan Islam dalam koridor kebangsaan. Natsir menjadi penulis di beberapa media: majalah Pembela Islam, Al Manaar, Panji Islam, dan Pedoman Masyarakat; aktif dalam Jong Islamieten Bond; dan pada tahun 1945 mendirikan Masjumi. Geraknya adalah ikhlas, nafasnya adalah kebaikan Islam. Tak seorang sejarawan pun meragukan.
Masih muda ketika ia menguasai bahasa Belanda, Prancis, Latin, dan Arab, belum genap 30 tahun. Selama tiga tahun pasca proklamasi didaulat menjadi Menteri Penerangan RI, dan melalui “mosi integral” yang memikat semua politikus republik ia menjadi sponsor utama kembalinya negara –yang pasca KMB terpecah menjadi negara-negara bagian dalam bentuk NKRI. Dan jadilah Soekarno memilihnya menjadi perdana menteri pertama NKRI. Empat puluh dua tahun usia Natsir ketika itu.
Sibuk ia memperjuangkan Islam sebagai dasar negara di majelis Dewan Konstituante –tentu dengan Masjuminya. Tapi masalah dan ruang dan waktu seringkali hal yang beda. Berdebat sengit dengan Soekarno –yang nasionalis sekuler-, dan Aidit –yang komunis- dalam Majelis, tak membuatnya jauh dari ramah: sesudah berdebat ia makan sate ayam dan ngopi bersama Aidit; juga ngobrol akrab bareng Kasimo –ketua Partai Katolik yang bahu membahu bersama menentang keberadaan PKI dalam kekuasaan penyelenggaraan negara. Sebuah courtesy of the holy soul, sikap santun dari batin yang suci.
Mudah menemuinya meski saat menjabat sebagai menteri. Tak ada pengawal, tak ada protokol kenegaraan. Sejarah –yang berharap terulang seakan berkata, datang saja dan bicaralah dengannya, kau akan menemukan kecocokan ucapan Agus Salim suatu hari: “He won’t be dressed like a minister, but he is very able man, and he is absolutely honest.”
Tak usah berharap menemukan rumah megah dengan halaman yang bisa menampung berjubel mobil serta taman yang meriah untuk merebut kekaguman para tamu. Cukup dengan perabot klasik ia menyederhanakan pandangan tamu-tamu yang berkunjung. Satu rumah dengan dua ruangan saja –satu ruangan untuk tidur dan menerima tamu, satu ruangan untuk dapur- lama ditinggali berdua bersama istri tercinta.
Apa itu pantas untuk ukuran mantan seorang perdana menteri NKRI? Mungkin pertanyaan ini sendiri hanya akan dijawab Natsir dengan senyuman khas seorang guru bangsa yang menenangkan.
Sebuah hidup tak harus bergebyar materi. Tak pernah ada kemewahan, karena, ia bisa kekal. Atau mungkin, Natsir sudah cukup merasa berat dengan tanggung jawab sebagai pemimpin, usahlah menambah beban akhirat dengan harta yang bisa ‘mencincang’ pemiliknya. Saya tak tahu, tapi yakin, kedua hal tersebut masuk hitungannya jika berbincang harta dunia.
12.10, 6 Februari 1993, malaikat menegakkan titah-Nya atas seorang ‘pahlawan syari’at’ yang ideologinya tak pernah punah. Natsir sudah “tidak bisa berkata Merdeka dan angkat senjata lagi”. Langit mungkin menangisi. Hari-hari akan berbeda. Rumah sakit Cipto Mangunkusuma harusnya merasa terhormat ‘mengiringi’ sang patriot. Dan “di karet, di karet (daerahku y.a.d.) sampai juga deru dingin”.
Sejarah, sedikit kenangan, berharap akan membuat kita mengamini doa Taufik Ismail dalam sebuah pengantar mengenang 100 tahun Natsir: Rabbana, jangan biarkan kami menunggu seratus tahun lagi, untuk tibanya pemimpin-pemimpin bangsa, yang mencerahkan dan bercahaya kilau-kemilau, serupa beliau.