Ada banyak pertanyaan mengenai kesehatan mental dalam sudut pandang ajaran Islam.
Misalnya, benarkah muslim dilarang bersedih?
Bagaimana semestinya seorang muslim menyikapi depresi?
Cukupkah nasihat dijadikan obat untuk menyembuhkan gangguan kesehatan mental pada seseorang?
Bagaimana muslim menghadapi kedukaan?
Benarkah muslim dilarang menangisi kematian
seseorang karena akan membuat rohnya diazab?
Buku ini berusaha memberi tambahan pengetahuan dan pencerahan agar kita semua, khususnya komunitas muslim, menjadi komunitas yang lebih melek dan ramah terhadap isu-isu kesehatan mental. Selain itu, semoga buku ini turut membentuk generasi muslim yang lebih sehat secara mental dan pandai berempati terhadap sesama manusia.
Buku teh urfa kali ini makin dibaca tiap halamannya makin relate kenapa ada manusia seperti Nabi Muhammad SAW di bumi. Meski bukan buku shirah nabawiy dan isinya tidak banyak bercerita ttg nabi tapi sedikit dari penjabaran di dalamnya akan membuat kita menyadari ya Rasul tu emang beneran ada dan beneran bisa kita tiru perilakunya. Rasul bukan sesuatu yg abstrak apalagi bunga tidur semata. Bukan pula fairy tale yang eksistensinya sulit digapai manusia. Sikap baik Rasul yang penuh kasih sayang ternyata bisa dipelajari dengan nalar kita, bahwa ada alasan logis yg mendasarinya. Satu simpulan yang paling mungkin untuk menggambarkan isi buku ini adalah bahwa saling berkasih sayang, saling berbuat baik, dan saling belajar berempati adalah obat mujarab bagi kesehatan mental yang harusnya bisa kita akses atau kita bagikan secara gratis di hari-hari yang berat ini. Maaf kalau review ini sama sekali ga menggambarkan isi buku teh urfa karena sesungguhnya buku ini isinya penting semua. Ga bisa dirangkum di kolom terbatas ini. This is like a cup of warm chocolate for a rainy day ☕️
"Kita tidak pernah tahu apa yg ada dalam hati seseorang. Kita juga tak tahu seberat apa hidup yg ia alami. Kita tak tahu pilihan² berat yg harus ia ambil. Kita bukan Tuhan yg berhak menilai mereka. Jangan menyalahgunakan ayat-ayat suci dan sabda Rasul utk menghakimi org lain. Sebab, itu bukan tugas manusia." -hlm.10
Buku ini ditulis dgn format esai yg memuat lima bab bahasan mengenai isu kesehatan mental dan renungan utk membangkitkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental serta perlunya sikap empati yg ditujukan bagi penganut Islam.
Sebagai muslimah, buku ini tu bener² mewakilkan jeritan isi hati sampai² baca 3 bab bagian awalnya bikin aku berkali-kali meneteskan air mata. 😭 Meskipun sejujurnya aku merasa tulisannya ketika dibaca agak ngegas di awal, tapi aku merasa suka aja bacanya karena memberikan banyak pencerahan dan serta membangkitkan kesadaran. Beberapa catatan menarik dan mencerahkan dari buku ini yaitu :
• Islam hadir secara menyeluruh sejak awal kemunculannya, maka seharusnya kita tdk berhenti pd praktek ritual saja namun juga berlanjut ke esensial yaitu berperilaku yg Islami sbg mana akhlaknya Nabi Muhammad SAW. sehingga ketika ada seseorang yg mengalami masalah, sedih, stres, hingga depresi kita tak boleh melabeli seseorang itu kurang iman karena kita bukan Tuhan, dan seharusnya justru menyediakan ruang utk mendengar dan merasakan sudut pandang orang itu.
• Dunia dan akhirat tidaklah berlawanan namun saling berhubungan, apa yg dilakukan di dunia akan memberikan hasil dan dampak pada kehidupan akhirat. Artinya zuhud yg dilakukan bukan dgn meninggalkan perbuatan baik kepada orang di sekitar. Termasuk kepada istri, suami, anak, dan siapa pun tidak dgn berperilaku kasar apalagi sampai menyakiti dan menganiaya hingga membunuh nyawa atau menyebabkan trauma dan luka dalam kpd seseorang. Intinya juga harus memenuhi hak dan kewajiban sbg khalifah bumi (manusia) di kehidupan dunia.
• Berperan-lah sebagai manusia, bukan Tuhan. Sebagai manusia sungguh adl fitrahnya merasakan berbagai emosi, baik emosi positif atau pun emosi negatif seperti sedih, kecewa, marah, dan kehilangan. Setiap emosi hadir sbg alarm alamiah, yg nantinya akan menuntut diri berpikir dan memecahkan masalah, maka sudah seharusnya berbagai perasaan itu, terkhusus emosi negatif itu diterima dgn dirasakan dan juga dibicarakan, bukan disembunyikan apalagi dipaksa utk hilang karena Islam hadir bukan utk membuat kita menjadi robot atau pun malaikat.
• Hikmah dan renungan yg penulis bagikan tentang surah Ad-Duha menjadi catatan penting bahwa sikap empati perlu dibangun dan dibiasakan, selain itu menyadarkan bahwa Islam melalui surah Ad-Duha juga hadir dan berkonstribusi mengurusi kesehatan mental manusia. (bukan dgn menghakimi dan juga memberikan label).
• Masih banyak lagi sih, yg pd intinya menyadarkan dan mengajak pembaca muslim utk berperilaku dan mencerminkan Agama Islam yg Rahmatan lil'alamin. 💚💚💚
Recommended 🌻🌻🌻
This entire review has been hidden because of spoilers.
Terkait kesehatan mental, seseorang yang meyakini agama sebagai jalan keluar satu-satunya masalah, sering kali menihilkan emosi. Agama adalah solusi, itu benar, namun kebanyakan dari kita salah dalam memahami pun meletakkan beberapa ajaran agama. Ambillah contoh,
"kamu itu depresi karena kurang ibadah, kurang bersyukur"
"Jangan nangis, jangan bersedih, itu tanda kamu ga percaya takdir"
Mungkin nasihat di atas cocok untuk beberapa orang, namun tidak menutup kemungkinan justru nasihat tersebut makin membuat orang terpuruk dan makin dihantui rasa bersalah. Itulah mengapa, sebelum menasihati, kenali lawan bicaramu terlebih dahulu. Dengarkan dan validasi emosinya. Nah di buku ini mengulas bagaimana memahami pengalaman emosi. Adanya emosi inilah yang membedakan manusia dengan robot. Emosi ini adalah sebuah alarm alamiah, yang perlu kita cari tahu sebabnya. Mengenali emosi terkait erat dengan ekspresi, jika tak mengenal emosi kemungkinan ekspresi bisa keliru. Penjelasan emosi di buku ini jadi lebih membuatku bisa memahami makna it's okay to not be okay.
Membaca buku ini, aku jadi lebih memahami, mengapa orang bisa berubah 180 derajat, mengapa orang memilih menarik diri dari kehidupan sosial, mengapa orang depresi tidak bisa melihat sisi positif, mengapa ada orang yang mati rasa, mengapa ada orang yang menyebalkan, mengapa inferior bikin memandang apapun jadi lebih sinis dan suudhon.
Lewat buku ini, penulis berusaha membalikkan prinsip-prinsip mapan yang diyakini kebanyakan orang sampai mengakar kuat hingga terbitlah "tirani positif". Apa saja prinsip itu? diantaranya tentang, ikhlas, syukur, nasihat, menangis, toxic positivity, toxic parents, dll. Penjabaran penulis di buku ini adalah sebuah upaya untuk memecah gelembung sebagian dari kita yang mengaku muslim tapi tak melek realita dan kurang tepat menempatkan suatu dalil. Pekalah, luaskan perspektif, jangan mudah menghakimi, pahami konteks, bersimpati dan berempatilah.
Buku ini membantuku melihat lagi cahaya dengan menelusuri emosi yang kurasakan. Membantuku untuk membangun kesadaran diri kembali. Makasih rekomendasinya ya @kanjaahn 🥰
Pernah nggak, nangis pas lagi sedih-sedihnya, eh malah dikatain cengeng dan lemah?
--
Baca buku ini jadi makin membuatku sadar akan pentingnya memahami kesehatan mental diri sendiri maupun orang lain. Penyakit mental ini memang nggak kelihatan ya, padahal dia sama kayak penyakit fisik, yang butuh diperhatikan dan disupport untuk sembuh.
Namun nyatanya, diluar sana masih banyak sekali golongan yang menganggap penderita depresi contohnya, sebagai akibat kebanyakan mikir dan kurang dzikir. Padahal nggak gitu juga konsepnya.
Sudah pasti, dari segi peningkatan kualitas ibadah sangat penting dalam proses penyembuhan diri. Namun, sebagai manusia yang perlu ikhtiar, juga tidak ada salahnya meminta bantuan kepada ahlinya untuk menangani apa yang dia tak mampu lakukan sendiri. Keduanya perlu seimbang.
Nah, hal-hal begini ini yang dibahas di buku ini. Banyak stigma yang masih bercokol di masyarakat sekitar kita, yang perlu didobrak dengan pemikiran yang luas dan terbuka, nah buku yang ditulis oleh seorang Psikolog ini cukup membantu secara gamblang.
Aku senang baca buku ini, karena pembahasannya lengkap dan menyeluruh. Apalagi di bagian tadabbur surat Ad-Dhuha, penulis menerangkan tentang pesan-pesan kesehatan mental yang ada dalam surat Ad-Dhuha. Dapet bangeet maknanya.
Aku juga dapat pelajaran tentang prinsip 'connection before correction', kalau mau ngasih motivasi kepada orang lain, kuatkan dulu hubungannya, ikat hatinya. Sebab, hubungan naik, empati, dan welas asih yang kita jalin dengan orang tersebut, bisa memunculkan motivasi dalam dirinya sehingga ia mau mengubah dirinya sendiri.
Hanya saja, konsep buku ini ditulis seperti esai. Jadi ya kadang aku merasa sedikit bosan aja sih. Hehe. Overall, buku ini bisa jadi salah satu rujukan kalau kedepannya butuh cari referensi tentang kesehatan mental.
Fix banget buku ini jadi salah satu buku self-help favorit aku sih.
Ada beberapa pertanyaan terkait mental health dalam pandangan islam yang sering aku pertanyakan dan ternyata ada jawabannya di buku ini, terutama soal emosi negatif yang selalu dianggap "buruk" ketika aku tunjukin di depan orang lain khususnya orang tua. Karena terbiasa mendem emosi dan jarang bisa mengkomunikasikan hal-hal yang aku rasain, akhirnya aku tumbuh jadi orang yang ngga bisa mengidentifikasi emosi yang aku rasain sehari-hari terutama yang sifatnya negatif. Tapi di buku ini dijelasin kalau emosi itu justru salah satu rezeki yang Allah kasih buat setiap manusia. Coba deh bayangin kalau manusia ngga punya emosi, ngga ada bedanya sama robot ngga sih?
Dan aku juga suka banget sama bahasan soal empati yang jadi persoalan utama di buku ini. Rasanya semakin ke sini semakin sering ngeliat permasalahan di dunia nyata maupun di dunia maya yang berkaitan sama minimnya empati. Nah di buku ini ada beberapa bahasan terkait hal-hal tersebut dari segi agama, sekaligus meluruskan beberapa statement yang berkaitan sama ajaran islam yang sebenarnya kurang tepat tapi udah "mengakar" terutama yang berkaitan sama emosi itu tadi.
Sepanjang buku tuh ada banyak hal yang terasa relate banget dan lagi aku rasain juga belakangan ini. Penyampaian penulis juga bentuknya lebih ke sharing soal yang pernah penulis alamin, jadi bikin ngga ngerasa sendiri dan cara penulis meremindernya tuh heart warming gitu bikin aku ngerasa deket sama penulisnya walaupun cuma baca bukunya aja. Selain itu juga nambah insight baru, apalagi pas baca buku ini rasanya kayak baca buku psikologi tapi ada sentuhan-sentuhan islaminya jadi rasanya kayak sekalian belajar agama juga.
Buku tersebut kumpulan esai yang menengahi dialog antara psikologi modern dan ajaran Islam dalam menyikapi kesedihan, emosi, dan kesehatan mental. Penulis membuka diskusi sulit seperti depresi, duka, dan stigma "iman lemah" dengan argumen ilmiah dan referensi agama yang seimbang . Disajikan dalam bahasa ringan dan penuh empati, buku ini membuat pembaca merasa didengar, bukan dihakimi. Urfa Qurrota 'Ainy berhasil menjembatani psikologi dan teologi, menghadirkan wawasan yang dibutuhkan komunitas Muslim agar lebih inklusif dan peduli terhadap kesehatan mental. Gaya tulisnya ringan, personal, dan mudah dipahami—buku nonfiksi yang bisa dibaca berulang tanpa merasa berat dan menyentuh hati pembaca yang selama ini mungkin pernah merasa kesepian atau dihakimi; buku ini memberi ruang untuk merasa dan pulih dengan layak.