Susah memang hidup di dunia yang serba materialistis.
Baru aja menguras isi rekening demi mirror bag Louis Vuitton nan lutu, eh besokannya Dolce and Gabbana memajang tas kulit cantik di window display-nya. Dan, aduh... pakai kartu kredit Anu bisa dapat diskon khusus di restoran steak itu. Tapi... tunggu dulu, aih, aih, Jeng Nancy abis dari klinik mana sih? Tampangnya sekarang sepuluh tahun lebih muda. Belum lagi, gosip-gosipnya, ada perawatan kecantikan baru yang bisa bikin bagian kewanitaan kita lebih rapet dan... serasa virgin lagi?! Aih, aih....
Tapi, saya bersedia kok berbagi cerita tentang hal-hal gila-tapi-excited ini dalam buku saya. Penasaran?
Berawal dari blog yang dibuatkan sang suami, nama Amelia Masniari dikenal luas. Tulisannya dijadikan panduan bagi yang ingin jalan-jalan ke luar negeri. Saking dipuja, nama blognya, "Belanja Sampai Mati", kini jadi idiom baku di kalangan shoppaholic.
Ester Sondang
Apa sih, profesi Anda sebenarnya? Tadinya aku adalah distributor pakaian bayi yang memasok ritel-ritel besar. Untuk mendapatkan model yang sesuai dengan keinginan konsumen ritel-ritel high class ini, aku merasa perlu mencari inspirasi sampai ke luar negeri. Ini memang cocok dengan hobiku, travelling.Setelah tak lagi berkecimpung di bisnis pakaian bayi, aku malah jadi Personal Assistant Buyer. Gara-garanya, teman-teman yang mendengar pengalamanku melanglang buana ke berbagai negara, terutama China dan Italia, minta tolong aku membelikan barang-barang bermerek seperti Hermes, Channel, Louis Vuitton, dan lain-lain, yang rata-rata dijual di luar negeri.
Yang berminat menitip belanja bukan cuma 1 atau 2 orang, lho, tapi banyak. Sebagian besar klienku adalah ibu-ibu pejabat. Lama-kelamaan, jasa PAB ini enggak cuma untuk belanja di luar negeri saja, tapi juga dalam negeri. Kebanyakan klienku sih, minta aku belanja langsung di tempat barang branded itu diproduksi. Dari tiap barang aku dapat komisi 10-15%.
Nah, pengalaman travelling sekalian belanja ke berbagai tempat inilah yang kemudian aku bagi pada pembaca blog-ku. Mulai dari cerita tentang makanan, butik, hotel dan segala sesuatu yang unik di sana.
Memang hobi menulis? Semula, aku enggak pede menulis, karena memang tidak punya kemampuan di bidang itu. Tapi, waktu empat tahun yang lalu aku ikut suami, AKBP Reinhard Hutagaol, hijrah ke salah satu kabupaten di Jambi, kegiatan menulis ini dimulai. Gara-garanya aku bosan dengan suasana kota yang sepi.
Karena aku gaptek alias gagap teknologi, suamiku membuatkanku sebuah blog. Tapi, memang dasarnya malas, paling banyak aku menulis satu bulan sekali. Malah pernah juga baru menulis lagi setelah tiga bulan vakum.
Blog Anda www.belanjasampaimati.blogspot.com (BSM). Kok, dinamai demikian? Idenya datang dari istilah shop ‘till you drop, yang artinya belanja sampai bangkrut. Nah, aku enggak mau seperti itu. Aku maunya belanja sampai mati, yang berarti aku berduit terus, jadi enggak ada bangkrut-bangkrutnya. Hahaha.
Enggak disangka-sangka, walau jarang diisi, blog-ku banyak yang baca. Baru tahun pertama saja, pembaca BSM menembus angka 10.000. Dan sejak 8 bulan lalu aku mulai rajin menulis artikel lifestyle untuk wanita middle class usia 30-an ke atas, pembacanya drastis bertambah hingga 40.000.
Lifestyle wanita middle class usia 30-an tahun ke atas itu seperti apa, sih? Yang saya maksud adalah gaya hidup untuk wanita kelas atas yang sudah bersuami, isinya seputar perawatan kecantikan terbaru, pakaian yang lagi up to date, sampai cerita-cerita seputar masalah seks yang jarang terekspos di media.
Lalu? Saat pengunjung blog-ku menembus angka 50.000, beberapa majalah tertarik membeli tulisanku yang ada di blog. Lain waktu, mereka juga minta aku menulis artikel mengenai satu tema tertentu. Jadilah aku kini dapat profesi baru, yakni Fashion Consultant. Di sinilah aku baru merasa bahwa pekerjaan ini made money.
Suami pun sangat bangga terhadapku. Dan melihat blog-ku punya prospek bagus di masa datang, ia kemudian membuatkanku milis (mailing list) BSM. Tujuannya supaya aku dan para pembaca BSM bisa interaksi langsung.
Belakangan, banyak anggota milis yang mengaku penasaran ingin ke negara-negara yang pernah kukunjungi. Sering mereka merencanakan travelling ke China atau negara lainnya bersama-sama. Beberapakali aku juga diajak serta untuk jadi guide mereka selama di sana. Tentu saja mereka yang membayari semua biaya perjalananku.
Banyak pengalaman seru selama jadi guide? Lumayan. Dulu, saat ke China, salah seorang temanku yang adalah istri pejabat, minta dibelikan obat asam urat buatan asli China untuk suaminya. Jika masalah hotel, butik, dan res
Di Jakarta, jika ada diskon Bottega Venetta di Senayan City, meski harganya sampai 40 juta per biji, jualan tetap aja laris manis tanjung kimpul. Jika dulu pembelinya hanya dari Jakarta, kini didominasi oleh orang-orang berlogat Jawa Timur, Medan dan Palembang. Cukup banyak remaja Indonesia, SMU atau kuliahan, sering weekend ke Singapura hanya untuk belanja. Mereka selalu bergerombol dan masing-masing selalu membeli tak hanya 1 item tapi banyak. Seorang Beauty Assistant di butik terkenal Amrik mampu menyebut dengan fasih nama-nama pelanggan Indonesia-nya yang umumnya pejabat atau mantan pejabat, beserta nama-nama keluarganya. Butik Aigner di Jerman pernah dibuat heboh oleh seorang Nyonya mantan pejabat Indonesia yang membeli 80 tas hanya untuk ‘oleh-oleh keluarga di kampung’ dimana harga paling murah tas di butik tersebut senilai 6 juta rupiah, maka si Nyonya menghabiskan sekitar 640 juta rupiah hanya untuk oleh-oleh. Belum lagi sebelumnya si Nyonya telah membeli sebanyak 40 tas Hermes. Di kamar pribadi seorang Nyokap Indonesia, yang rumahnya bigos –oh big sekali-, terpajang lemari khusus tas-tas koleksinya, sepanjang 10 meter, tinggi 3 meter, sebanyak 5 tingkat. Isinya berbagai tas merek ternama, paling sedikit 200 tas. Semua warna di semua model, ada. Dari yang klasik sampai limited edition, she’s got all. Hebatnya lagi, semua tas-tas mewah itu tidak pernah dipakai, hanya dipandangi kagum, dilap-lap, dielus-elus. Lainnya, menurut pengakuan Sales Attendant di Hermes, salah satu kolektor terlengkap tas Hermes adalah seorang ibu mantan pejabat setingkat menteri di Indonesia, sedikitnya beliau memiliki 30 pcs, sementara harga tasnya bisa 50 juta/pcs. Jadi nilai investasinya mencapai 1,5 milyar! Ckckckck…
Inilah yang dipaparkan Mrs Amelia Masniari dalam bukunya, Miss Jinjing – Belanja Sampai Mati. Saya meminjamnya dari seorang teman, Menik, Sabtu kemarin. Judulnya cukup unik. Begitu juga covernya. Seorang perempuan yang tengah ngelirik ke atas dengan timbunan bermacam tas belanja di sekelilingnya, yang jika timbunan tas itu dibuka, masih terdapat aneka tas belanja di baliknya. Saya pikir buku ini mungkin akan selucu Becky Blomwood, si shopaholic dari London karakter khayalan my favorite writer, Sophie Kinsella. Nyatanya sama sekali tidak selucu dan semenarik Blomwood, karena buku ini bahkan bukanlah novel, isinya hanya berbagai pengalaman belanja seorang Amelia dan teman-temannya. Bagaimana orang Indonesia memang benar-benar gila belanja. Yang tidak hanya eksis di kawasan belanja Asia, tapi juga Amrik dan Eropa. Dan inilah yang membuat saya terheran-heran sampai terjijik-jijik sendiri. Maaf. Bukannya saya anti-kemapanan, saya toh sangat menikmati kenyamanan, tapi dalam level berbeda. 6 juta rupiah bagi saya lebih bagus dipake buat travelling ke luar negeri, hunting konsernya Pearl Jam. 50 juta rupiah bagi saya lebih baik untuk memulai bisnis. 640 juta rupiah bagi saya lebih potensial diinvestasikan ke rumah atau tanah, dan 1,5 milyar? Hmm… mungkin saya hanya menyimpannya di bank, sampai ada kebutuhan yang masuk akal memerlukannya.
Oke, level saya mungkin baru mencapai kebutuhan sekunder, dan orang-orang Indonesia gila belanja itu mungkin sudah mencapai level tersier, atau mungkin beberapa belum karena mereka memang umumnya di luar kesadaran saat melihat tulisan SALE, sementara begitu buanyak orang Indonesia lainnya masih merangkak untuk mencapai level primer, yaitu makan apa hari ini, jadi patut dimaklumi segila apapun tingkah orang-orang yang diceritakan dalam buku ini, apalagi itu uang-uang mereka juga, ngapain diambil ribet, ya kan? Kalo saya yang ditanya begitu, pastinya saya jawab, ya enggaklah, ini penting dibikin polemik. Nilai investasi katanya. Bah! Memangnya bener-bener ada orang gila barang mewah yang rela melepas barang-barang pujaannya suatu hari nanti, bahkan setelah barang-barang itu nggak muat lagi atau saat dia bangkrut? Hmm mungkinkah orang-orang ini bangkrut? Kayaknya dengan lakunya kapitalisme, yang ada juga orang kaya makin kaya, orang miskin makin miskin. Mungkin hanya Becky Blomwood yang akan melakukannya, menjualnya saat bangkrut, itu juga karena Becky bukanlah orang kaya, dia hanya orang bergaji biasa-biasa aja yang juga gila belanja dan tersesat dalam penggunaan kartu kredit, daaan ia tidak nyata. Sementara orang-orang kaya yang gila belanja barang mewah ini? Nggak mungkin barang-barang itu dijual lagi. Paling hanya dijadikan pajangan di rumahnya, dibikin lemari khusus, mungkin lima tingkat, hanya dipandangi, dilap-lap, dielus-elus. Mestinya orang-orang Indonesia gila barang-barang mewah itu bisa disadarkan, entah gimana caranya, mungkin dengan menaikkan pajak barang mewah? Meski Indonesia sudah merupakan negara dengan pajak barang mewah tertinggi di dunia, saya sangat setuju jika harganya dinaikkan lagi. Sori, guys, maybe I agree with communist, tapi saya lebih mengagumi Gandhi dengan ajakan hidup sederhana dan cinta buatan negeri sendirinya.
Si penulis sendiri, Mrs Amelia Masniari, berasal dari keluarga sangat berkecukupan, nenek buyutnya seorang anak residen di Jawa, ayahnya seorang dokter bedah, ia seorang lulusan S2 UI, dan suaminya, dia tidak sekalipun menceritakan pekerjaannya, tapi ia sering bepergian jauh dan lama, dan mampu menghidupinya dengan sering berjalan-jalan keluar negeri serta mengunjungi SALE dimanapun, Eropa, Amrik, dan yang paling sering Asia. Ia memuja sepatu, ia punya perancang favorit, Edo Hutabarat, Ghea dan Oscar, sementara ibu dan saudara perempuannya lebih suka baju rancangan Biyan. Jadi sebagian besar baju-baju dalam lemarinya adalah hasil tangan para perancang terkenal Indonesia tersebut. Favoritnya warna hijau dan anehnya, ia anti kartu kredit. Ia memiliki tiga anak kecil –cowok- yang cukup sering dibawanya shopping ke luar negeri dan punya blog jauh sebelum bukunya terbit dengan judul sama http://belanja-sampai-mati.blogspot.com.
Bagi anda yang identitasnya shopper sejati, buku ini jelas untuk anda. Selain cerita-cerita di atas, ia juga membahas jadwal musim sale di seluruh dunia, bagaimana membedakan barang imitasi dengan aslinya, tempat penyelundupan berlian di Jakarta, warehouse tas premium palsu, berbagai tips sampai tips shopping di Guangzhou, China, membahas kehidupan kaum gay, karena notabene ia hidup dekat dengan mereka, serta sejumlah jalan keluar berongkos ribuan dolar gimana caranya agar tetap disayang suami.
Tapi nyatanya ada juga yang saya suka dalam buku ini. Ia sempat menyinggung bisnis garmen China dan kebanggaannya akan karya Indonesia . Delapan tahun lalu, saat garmen/tekstil China belum menguasai market dunia, garmen Indonesia ternyata jadi primadona buyer asing karena kehalusan pembuatannya. Tahun 1999-2003, yaitu saat krisis moneter, garmen Indonesia sempat nampang di departemen2 store terkenal Amrik, Paris, Amsterdam, Milan dll. Tapi di tahun 2003 kita nyaris tidak bisa lagi berkompetisi dengan China dalam hal harga, konsistensi dan produk massal. Jadi satu persatu order tersebut pindah ke tangan China. Di Mangga Dua bursa baju anak-anak bahkan 100% buatan China, kecuali baju muslim. Industri baju kelas menengah ke bawah sudah mati dan tidak sanggup bersaing dengan China. Berbeda halnya dengan sandal atau sepatu, buatan Indonesia lebih enak dipakai, meski harga yang paling murah sekalipun. Selain merajai industri garmen, China juga menguasai industri aksesoris – semua aksesoris jam tangan dan kacamata di Mangga Dua adalah buatan China – juga tas-tas mewah buatan desainer dunia dengan cara membajaknya. Mereka membeli tas-tas tersebut dari desainer aslinya, mempretelinya satu-satu dan membuat copy-paste-nya. Sering juga desainer-desainer top Eropa menyewa pengrajin China, terutama Guangzhou, karena upah mereka jauh lebih murah dan hasil kerjanya pun halus. Mereka dikontrak per musim, dan saat mereka tidak sedang dikontrak, mereka membuat tembakannya. Jenius, kan? Hahahaha.
P.S : Ada satu lagi. Ceritanya dia pelanggan setia La Mer Mousterizer Gel Cream (katanya ini pelembab terbaik di dunia, harganya USD 230). Satu kali dia sempat pacaran dengan seorang pilot Qantas, dan saat si pilot membelikannya, si pilot nanya2 kenapa itu cream kok bisa semahal itu, saat itu juga si Mrs Amelia ngerasa ilfil dan memutuskannya. Laki-laki kok pelit banget, katanya. Huahahaha. Kasihan juga ya cewek2 manja itu, berpikir bahwa hidup sejatinya adalah La Mer Mouisterizer dan Hermes, c’mon girls, wake up!
Iseng pengen baca buku ini dan agak2 penasaran juga, dan selesai dlm sekejap. Bukan, ini bukan bacaan lucu dan seru macam Shopaholicnya Sophie Kinsella. Ini pengalaman pribadi dari penulisnya yang sebelumnya hanya ditulis di dalam blognya Belanja Sampai Mati. Jujur, kalau buat saya pribadi ga jelas apa manfaatnya membaca buku ini. Isinya cuma gaya hidup jetset yang jauh bener dari kehidupan orang kebanyakan (baca : saya). But eniwei, lumayanlah nambah2in RC yg lambatnya udah kek keong 😄
Miss Jinjing bukanlah novel seru seperti Shopaholic. Miss Jinjing adalah catatan pribadi seorang tukang belanja kelas berat yang juga berprofesi sebagai private buyer (indahnya punya profesi yang sesuai passion, hehe..) yang sebelumnya ditulis di blog http://belanja-sampai-mati.blogspot.com . Dialah Amelia Masniari alias Amy.
Dalam buku ini Amy berkisah dengan banyak hal. Tentang dirinya yang pernah belanja dari pagi sampai malam, dan kembali ke hotel dengan menenteng sejumlah belanjaan sampai badannya miring2. Tentang keluarganya yang ternyata juga fashionable. Sampai tentang Top 20 barang2 impiannya dan tips2 berbelanja. Namanya juga blog, bisa ngalor ngidul. Yang jelas benang merahnya adalah: belanja dan/atau fun.
Walaupun kadang kelewat narsis dalam menceritakan diri dan keluarganya, dan kadang lucunya maksa alias garing, tapi ada juga beberapa cerita yang genuinely menarik. Misalnya cerita tentang Lastri, asisten rumah tangga Amy yang cerdas, terampil, dan ketagihan pergi ke Singapura. Atau tips berbelanja di Mangga Dua. Atau cerita tentang kenapa Amy nggak lagi punya kartu kredit, keuntungan plus kerugiannya. Dan kalau kamu berniat berbelanja di Guangzhou, buku Amy ini layak jadi acuan utama.
Buku ini seakan mensahkan pandangan bahwa dunia ini serba materialistis dan hedonis. Jadi bacalah dengan niat just for fun. Daripada iri dengan bagaimana mudahnya Amy berbelanja barang bermerk, lebih baik tertawa bersama melihat usahanya menguruskan diri lewat akupunktur jarum panas. Dengan begitu saya masih bisa bersyukur, karena walaupun tak semampu Amy secara finansial, ternyata saya lebih top dalam urusan berat badan. HURRA!!!
Ceritanya lebih banyak ke pengalaman pribadi yang menaikkan imej sebagai "Miss Jinjing". Membaca buku ini seperti melihat dunia dalam kacamata orang-orang kelas atas, jet-set. Dimana ada pakem-pakem yang "standar" buat diikuti, kalau enggak diikuti rasanya bakalan hidup sengsara kuadrat/sulit. Padahal semuanya bisa jadi hanya delusi yang terjadi pada sebuah masyarakat pembelanja kelas atas (dan kelas-kelas lain yang sejajar ditarik garis horizontal, garis vertikal ada tapi cuma yang garis migrasi keatas). Tidak semua seperti itu, tetapi yang tidak seperti itu tidak akan dimunculkan, karena merupakan dunia yang berbeda dan tidak bisa dipahami oleh kaum shopaholic. Istilahnya, beda aliran, beda agama.
Kisah ini juga banyak bumbunya. Wajar, kalau nggak pakai bumbu, mungkin nggak bakal ada yang beli, karena nilai jual nya adalah pada hal-hal yang diluar kenyataan sehari-hari. Asal jangan kebanyakan.
Kesimpulan, bacaan ringan saja sekedar tahu. Cuma jangan ditelan mentah-mentah. Karena bumbu itu. Cermati mana yang bumbu, mana yang benar-benar hidangan mentah yang murni apa adanya dan bermanfaat bagi pengetahuan pembaca.
Banyak buku yang ditulis berdasarkan blog yang laris manis. Mungkin salah satunya adalah buku ini. Saya tergelitik bacanya gara2 judulnya "miss jinjing". Pertama yang terlinta di benak saya waktu ngeliat cover dan isinya adalah pertobatan seseorang dari hobi belanja dan kartu kredit.
Dan tebak sodara-sodara .... saya SALAH BESAR. Buku ini lebih berisi pengalaman seorang private buyer, personal shopper or whatever you name it belanja di butik-butik internasional dengan harga yang mencekik leher. Pernah kebayang gak beli sebuah tas hermes berkin seharga 5000 USD? ato beli tas Louis Vuitton limited edition dengan harga ribuan USD?.
Di sini, sang penulis cuma pamer perjalanan belanja dia, kenalan dia dari golongan mentereng dan koleksi barang-barang mahal yang dia miliki. Stiletto lah, clutch lah, gaun, aksesoris, dkk. Buku ini gak berguna bagi saya. Sukurnya saya hanya baca buku ini di toko buku terdekat sambil berdiri, dan setelah baca ... saya menyakinkan diri saya tidak akan menghabiskan uang untuk buku seperti ini.
Buku ini berisi pengalaman Amelia yg sangat gila belanja sampai akhirnya ia mendalami profesi 'personal/private buyer' dan meng-organize overseas shopping trip. Di buku ini terlihat bahwa ternyata ortu Amie ini mendukung (atau setidaknya tidak antipati) thdp hobby putrinya ini (aww, so nice to have such a supportive parents like her...and have the $ to support, of course!). Buku ini memperlihatkan bagaimana gilanya para shopaholic Indonesia demi mendapatkan barang yg mrk inginkan dan membuka jendela baru bagi para shopaholic di Indonesia. Bbrp tips belanja disajikan Amelia disini. Jd, baca buku ini asik kok, sayangnya kurang tebel.. Mbak Amie, more n more experience to share yaa..
Suka! Hahaha. Sebagai seorang perempuan, saya amat sangat sangat menyukai sesuatu yang membahas tentang belanja dan barang-barang bermerk, mulai dari tas krim la mer sampai berlian bling bling dan tas hermes birkin. Bahasanya emang nggak baku seluruhnya sih, tapi ini kan buku tentang lifestyle, jadi saya rasa nggak masalah. Oh ya, kalau otak lagi sepet, baca buku ini bikin otak saya jadi seger sendiri, walaupun saya tau sampe lebaran kapan juga nggak akan bisa beli hermes birkin handbag, kecuali jual ginjal+paru2+hati+otak
Haduh, baca nih buku rasanya dunia kayak nggak akan berakhir yak? Apalagi baca "20 Fashions Items You Should Buy Before Die", butett dah... harga barang2nya bisa buat 10 kali naek haji tuh. Nggak gue banged dah!
Eh eh, masak sih, nggak gue banged? *ada suara protes* Bukannya dikau miss jinjing juga? Belanja buku ampe mao pingsan dan dompet terkuras.
Jawab sayah: Tapi itu kan buku... *bela diri* hahaha
Ceritanya ringan, lucu dan menghibur. Menguak kebiasaan para shopaholic sejati plus ada trik-trik, tips-tips dan berbagai informasi buat cerdik berbelanja. Para compulsive buyers seperti yang ada di cerita ini rela aja menghabiskan duit berpuluh-puluh sampe beratus-ratusan juta buat beli sepatu, baju atau tas branded. Kalo saya sih... mendingan buat beli buku dan rumah dengan perpustakaan yang gede.. Hehe...
sangat cocok untuk yang hobi belanja , apalagi yg gila barang branded . wowow ! saya aja baru tau kalo ternyata tas merk LV itu ga pernah diskon yg aslinya .. dan sluruh tas branded asli tu ga ada yg harga ny d bawah 5juta . wah wah .. KW super nya aja berjuta juga .. hmmmm .. bc blog nya Amelia Masniari aja biar lbh lengkap .. yg d buku ga selengkap d blog .. (yaiyalah..)
This entire review has been hidden because of spoilers.
jadi tau, ternyata bagi sebagian orang merk itu penting. Kalau mutu, aku bisa ngerti, tapi merk? yah akhirnya ngerti juga setelah baca buku2 semacam ini..;)
Anyway aku suka sama sosok mba amy ini..apalagi keputusan menggunting 4 kartu kredit 8 tahun lalu, that was a brave move for a die-hard shopper like her!
setelah baca review orang-orang, kok rasanya jadi males bacanya ya.. ada yang bilang kesannya show off, pamer belanjaannya di luar negeri.. gw pikir bakalan kaya confession of a shopaholic.. cuma kan gw emang belom baca ya, jadi ga boleh ngejudge dulu sih. tapi males bacanya, gimana dong? baca gak ya? baca gak?
Buku ini meramaikan ProResensi tanggal 4 Januari 2009. Amy, penulis buku ini datang dan berbagi beberapa tips termasuk bagaimana caranya membedakan barang asli dan barang palsu dan tempat belanja yang asik.
karna bukunya menceritakan kegiatan berbelanja ria, tergoda juga beli bukunya. Dengan berbagai cerita yang disajikan bener2 bikin gw ngiler membayangkan berbagai macam barang2 branded yang harganya selangit, mungkin enak ya? jadi pesonal shopper seperti mbak Amy hehe:)
negative : a Soul-less book i've ever read Positive : well, she mentioned about Indonesia Product and Indonesia Designer (Which is her friend?or her family favourite designer or her bla bla bla.. this women had some issue with herself!!)but its good actually for light read
Untunglah aku cuma bookaholic. Henshin jadi shopaholic dan Miss Jinjing-nya kalau ada pameran/bursa/obral buku saja. Sialnya, selama 5 tahun berdomisili di Jakarta, yang namanya pameran/bursa/obral buku itu mbok ya kok sering sekali deh...
Buku ini GILA! The first I was, "OH MY GOD! She's so rich!" and at the end I was like, "HELL! SHE ENJOYS IT!" Keren! Gaya nulismu, mbak Amel, keren! Four thumbs up! And I won't mind if you share a little luck :)
oke oke.. lumayan bikin iri.. haha mahasiswa tongpes begini.. dengan membaca ini, secara ga langsung mengajak orang untuk belanja secara 'sehat' beli yg bermutu, walaupun harga lebih mahal, asal awet, why not? :D