Tidak bisa bersuara keras secara politis, lalu mengalihkan perhatiannya pada empati publik yang kalah sebagai kontras dari ketentraman politis dan ideologis yang dipropagandakan pemerintah kala itu. Mungkin hal inilah yang dimaksud dengan “perlawanan dalam diam” di kalangan sastra. Hampir seluruh dari ke-55 cerpen ini a-politis dan a-ideologis, dalam arti tiadanya gugatan-gugatan – tersembunyi atau tidak – pada kenyataan politik dan ideologi (Orde Baru pada masa itu) yang sangat menekan. Begitulah isi dari sebagian kumpulan cerpen buah tangan A.A. Navis, Danarto, Emha Ainun Nadjib, Hamsad Rangkuti, begitu juga Radhar Panca Dahana “Riwayat Negeri yang Haru”.
Ali Akbar Navis was a journalist and potential writer. He was a full time writer for Sripo and writes so many stories.
His famous books was “Robohnya Surau Kami” which became a monumental work for Indonesian literature. His last work is "Simarandang" a social-culture journal which been published on April 2003.
Kumpulan cerpen Kompas yang satu ini tak rugi untuk dikoleksi. Cerpen favorit saya adalah karya Pak Bondan Winarno (yang Mak Nyuss itu..), berjudul "Pada Sebuah Beranda". Kisah cinta yang indah, walau getir :)
Kumcer yg "padat", baik dari segi halaman, penulis dan tema. Beberapa memorable, tapi sebagian besar lewat gitu aja. Nggak heran ada yg bosen bacanya....
Beda dgn yg part I, yg part I (dua kelamin bagi midin) lebih ke cerita2 realita dan kesedihan orang2 kismin, yg ini mah ceritanya ada yg kismin ada yg kaya Tapi ya gitu banyak problem2 yang diangkat mulai dari suke duke di keluarga, isu yg berkembang saat itu, persyintaan remajah, sampe ke cerita tai (tai yg bener2 tai) juga diangkat. Pokoknya bagus banget dah ini kereennnn omegot
Melawan dalam Diam. 55 Cerpen yang terbit di era kejayaan Orde Baru yg gemar membungkam kebebasan berekspresi ini dengan keras membahas banyak isu, baik ketimpangan sosial, penyalahgunaan kekuasaan, kenangan yg menyesakkan, isu emansipasi dan banyak lagi a-politis dan a-ideologis lainnya.
Buku ini bukan sekadar bacaan santai yang bisa saya telan sambil rebahan tanpa mikir. Ini semacam tamparan halus… yang sebenarnya tidak halus sama sekali.
Pertama, soal tema besar: kemunafikan sosial. Penulis seperti punya hobi menguliti wajah masyarakat Indonesia—bukan yang jelek, tapi yang sok kelihatan suci. Ia dengan dingin menunjukkan bagaimana orang-orang gemar berlagak bermoral, religius, atau beradab, tapi di balik itu penuh kepentingan, ego, dan kepalsuan. Ironisnya, saya sering merasa “ini bukan tentang saya,” padahal justru itulah jebakannya. Penulis menulis seolah-olah sedang menunjuk orang lain, padahal diam-diam menunjuk saya juga.
Kedua, cerita-ceritanya terasa realistis, tapi kalau dipikir lebih dalam, situasinya sering absurd—dan bukan absurd yang lucu, tapi yang bikin getir. Seolah penulis ingin bilang: “Ini loh, kehidupan kalian. Kacau, tapi kalian anggap normal.” Tokoh-tokohnya sering terjebak dalam sistem sosial yang mereka sendiri pelihara, lalu heran kenapa hidup mereka berantakan. Ya, seperti orang yang menggali lubang, jatuh sendiri, lalu menyalahkan tanah.
Ketiga, kritik terhadap moralitas yang dangkal. Penulis tampaknya punya alergi terhadap moral yang hanya berhenti di permukaan. Ia mempertanyakan: apa gunanya terlihat baik kalau sebenarnya busuk di dalam? Dalam banyak cerita, “orang baik” justru tampil sebagai sosok paling problematis—bukan karena mereka jahat terang-terangan, tapi karena mereka merasa sudah cukup baik sehingga berhenti berpikir. Dan di situlah bahaya sebenarnya.
Terakhir, ada nada pesimisme yang konsisten. Bukan pesimisme murahan yang cuma mengeluh, tapi yang tajam dan sadar diri. Navis seperti berkata, “Beginilah manusia—dan jangan berharap terlalu banyak.” Bukunya tidak menawarkan solusi, tidak memberi harapan manis, dan jelas tidak peduli apakah pembaca merasa nyaman atau tidak. Kalau kamu berharap cerita yang menghangatkan hati, buku ini lebih cocok disebut pendingin realitas.
Buku ini seperti cermin—tapi bukan cermin Instagram dengan filter, melainkan cermin jujur yang menunjukkan jerawat sosial yang selama ini kita tutupi. Dan kalau terasa nyelekit? Ya, mungkin karena memang kena.
Cerita ini buku milik Indah T Lestari yang masuk dalam dus buku sumbangan. Saat sedang merapikan dan mendata buku2 sumbangan sebelum dikirim, saya menemukan buku ini. Jadi tergoda untung numpang baca.
Buku ini memuat cerpen lilihan yang pernah dimuat di Kompas pada hari Minggu sejak tahun 1981 hingga 1990. Beberapa nama muncul sebagai penulis yang produktif.
Ada karya Emha Ainun Nadhib; Y.B Mangunwijaya; Yudhistira ANM Massardi; Danarto; Leila S. Chudori; Seno Gumira Ajidarma; Danato; dan lainnya.
Saya bersemangat ketika menemukan ada karya Eyang Nh Dini pada cerpen terpilih tahun 1988 dengan judul Bedug.
Cerpen terpilih dari tahun 1984 berjudul Kepala dari Bakti Soemanto di halaman 166-172, membuat saya teringat pada kisah Bahagia Tanpa Kepala.
Walaupun bercerita soal 3 dekade lalu, masih banyak kisah yg relatable, khususnya menyangkut manusia dan isi pikiran, jiwa dan hatinya. Bagaimana hubungan manusia dg manusia, manusia dg lingkungan, dan sebaliknya. Namun tidak ada cerita yg spesifik nusuk hati, atau punya poin yang cukup kuat. Atau, emang saya saja yg belum nangkep
Bukunya padat sekali, ada 56 cerpen di dalamnya. Agak bingung juga mau kasih bintang berapa, antara 3 atau 4, karena ada yang saya anggap bagus, ada yang biasa saja, dan ada juga yang membosankan dan kurang saya pahami, jadi saya bacanya skip-skip saja.